Wednesday, March 01, 2006

Sumbing 3371 mdpl 19-21 November 2005; jalur dusun Cepit - Parakan; episode pantangan

From: "Ariesnawaty, Aries" Date: Thu Dec 1, 2005 1:10 pm Subject: Sumbing 3371 mdpl 19-21 November 2005; jalur dusun Cepit - Parakan; episode pantangan
ariesnawaty Offline Send Email
Buat temen-temen yang pengen tahu kondisi Sumbing mid November lalu, silakan
intip :
<http://photos.yahoo.com/ariesnawaty> http://photos.yahoo.com/ariesnawaty
day one, Dusun Cepit, Parakan
"Ingat ya, kalo mau naek, ada dua pantangan" Seru pak Imbuh, kades setempat.
Rambut masih acak-acakan [catat : baru bangun tidur] dengan tubuh yang over
subur :-), kacamata minus bertengger kikuk dihidungnya. Kami berempat saling
melirik.
Di pagi yang cerah itu, kami duduk di ruang tamunya yang adem. Tipikal rumah
jawa. Dengan teras depan yang lebar tempat nangkring keril dan sepatu-sepatu
kami. Furniture ala tahun 60-an. Ada dua set meja kursi di sayap kiri dan kanan
ruang tamu yang memanjang itu. Di dindingnya ada dua foto puncak gunung Sumbing.
"Satu. Tidak boleh pakai baju warna hijau." Wajahnya menatap garang. Kontan kami
berusaha keras mengingat-ingat isi backpack. Ada nggak ya baju yang berwarna
hijau "Ada juga orange!" pikir Simon. "Kaos hijau kermit-ku kebawa nggak ya?"
pikirku. Heri lain lagi "Ah.. saya mah .. nggak ganti2 baju lagi" sambil nyengir
sendiri "Hitam forever!!!!"
"logikanya!" seru pak Kades menggelegar. Lamunan kami buyar satu persatu" Kalo
hijau, sama dengan pohon dooooong! Hihihi..." Kami saling melirik lagi, Ih.. pak
Kades kalo ketawa. "Huahahaha... kalo hilang kan susah nyarinya!!!" Untuk
kesopanan, kami ikut tertawa. Garing amat sih :-)
"Yang kedua!" Serunya lagi. Kami serius menyimak. "tidak boleh mengeluh!"
Yeeeeee...dimana-mana juga gitu. Kalo kebanyakan ngeluh kan capeeek!
Tapi, memang bener apa kata orang tua. Dimana kita berpijak, disitu langit
dijunjung. Setiap daerah tentunya punya adat masing-masing. Kisah pun mengalir
dengan lancar. Termasuk kisah-kisah dari 'dunia lain'. [Yah, ada baiknya kami
simpan untuk konsumsi pribadi :-)] The bottom line is hati-hati dimanapun kita
berada. Selain itu hot gossip, apalagi kalau bukan berita tentang ngaburnya
teroris ke desa Bulu, di kaki gunung Sumbing.
Don't get me wrong, aparat sudah bekerja sedemikian kerasnya. Kemaren malah,
inspektur meninjau langsung ke lapangan. "Saya sampe pesen organ tunggal lho!"
ujar pak Imbuh dengan bangga.
Nyaris tersembur tawaku. Kalau saja tidak kulihat alis Simon yang mulai
terangkat. Beberapa menit obrolan, baru deh nyadar, ini memang salah satu cara
ampuh untuk menarik perhatian massa. Organ tunggal. Massa ngumpul. Setelah itu
gampang banget untuk memberikan penyuluhan. Minimal pasang mata deh, kalau-kalau
para buronan itu nongol dan bertandang ke dusun mereka. Cool!
Dusun Cepit [sekitar 1100 mdpl, CMIIW] adalah salah satu dari empat dusun yang
tergabung dalam desa Pagar Gunung yang terletak di sekitar kaki Gunung Sumbing.
Dusun ini terletak paling tinggi diantara dusun-dusun yang lain. Salah satu
Entry point terdekat menuju gunung Sumbing adalah dari kota Parakan. Dilihat
dari kota ini, dusun Cepit hampir terletak di seperempat tinggi gunung itu.
Sudah ada jalan aspal hingga ujung perkebunan. Konon, pernah dicanangkan oleh
Bupati sebelumnya demi meningkatkan sektor pariwisata di gunung Sumbing, akan
dibuat trap hingga puncak. Tapi sayang, terhenti akibat sudah tidak menjabat
lagi.
Kami mulai trekking jam 10 pagi. Dari rumah Pak Imbuh, kami dicarikan ojek,
harga Rp 10.000 per orang sampe ujung aspal. Atau kalo mau jalan kaki :-)
sekitar 2 km hingga pos pemantau di daerah perkebunan. Kami melewati jalan aspal
satu jalur yang meliuk-liuk melewati perkebunan penduduk dan terus naik hingga
ketinggian 1700 an mdpl. Cuaca masih sangat cerah. Rasanya sayang bila tidak
diisi dengan kegiatan yang bermanfaat [duuh .. daleeeeeemmm!] dan untuk
membuktikannya para pembaca, inilah salah satunya :-), apalagi kalau bukan
ngobrol dan saling bertukar info antara aku dan tukang ojek.
Tukang ojek [semula ragu-ragu untukmebuka percakapan]: "'Mbaaaakkk! Saya anter
aja. Mau?"
Saya [berpikir keras, rayuan pulau kelapa nih] : "Lha? Kenapa Mas?"
Tukang ojek [menyuruh saya turun, motor mogok] : "Ini kerilnya kok berat amat
yak!"
Saya [cengiran lebar] : "lha? Kenapa Mas?"
Tukang ojek : "!$@^%##@%%lii!*#^"
Saya [lagi bego] : "emang biayanya berapa, Mas?"
Tukang ojek [ tersipu-sipu malu]: "seratus ribu perhari deh Mbak"
Saya [juga tersipu-sipu... deeeu..mahal amat!] :
"..............."[gubraaaakkkkss]
Tidak jauh dari gardu pemantau ini, kami naik beberapa meter hingga camping
ground. [sebenernya bukan berupa lapangan luas tempat kemping, tapi semacam
pendopo berlantai keramik yang cukup luas]
Dari camping ground kami teruskan perjalanan. Jalur menuju ke puncak cukup
jelas. Total sekitar 4,5 km [kata Pak Imbuh, pernah ada yg ngukur, "iyaaa! Sampe
bawa meteran segala lho!"] Untuk penduduk local, katanya sih hanya 2-3 jam
saja. [gubraaaaaksss!] tapi normalnya sih antara 6-7 jam. Biasanya, pendaki
setempat suka naek malem dan tiba dipuncak pas sunrise. Tapi kalo ukuran sesepuh
seperti kami ini ..hahahaha... bisa nambah 3-4 jam lagi deh.
Hmm.. dengan segala suka duka tadi, efektif baru jam 11 pagi kami start. "Wah
siang banget! Entar lagi juga makan siang!" ucapku dengan bahagia.
Sanggupkah kami menyelesaikan perjalanan hari itu ?
Serpong 1 Desember 2005; 12.57
[lagi hujan gueeedeee!]
Eit, ntar dulu,ada sms masuk nih!
19.11.2005 2005 15:03
Kartika, Ika Dewi
Thx update nya
Madam,ntar
phone me pas di
puncak
yaaa...hati2...sala
m bt yg laen.

No comments:

 
;