Wednesday, March 20, 2013

gunung dan si kecil


tadi siang, saya mengajak beberapa teman untuk pergi ke gunung. Beberapa langsung setuju. Sisanya masih pikir-pikir dulu. Dan yang satu curcol karena diultimatum oleh sang ayah untuk menikah terlebih dahulu :P . 

Tapi ada seorang teman yang langsung berucap. 

“Gue akan bawa anak gue. Mohon bantuan ya”

Sebelum saya iyakan, tentu harus saya uji dulu kelayakannya. Yang saya tahu, anak perempuannya belumlah genap berusia lima tahun.  Fit and proper test lah. Pertanyaan yang paling sederhana adalah :

“Apakah dia sudah pernah naik gunung sebelumnya?”

Dan saya rasa ini adalah pertanyaan saya pula jika ada teman yang belum saya kenal, ingin ikut serta naik gunung. Tentu saja akan saya sambut dengan tangan terbuka. Tapi biasanya saya selidiki terlebih dahulu.

Saya ingat dua tahun lalu, ada seorang teman yang baru pertama kali naik gunung. Sebagai kepala rombongan, tentu tak saya lepaskan sedetikpun dari pengawasan saya. Bahkan beberapa bulan sebelum kami pergi, saya cukup rewel mengingatkannya untuk rajin olahraga.

Nah, kembali ke topik diatas. bolehkah mengajak anak naik gunung? Saya rasa tidak ada masalah jika ingin mengenalkan gunung pada anak-anak. Bahkan pada seorang balita sekalipun. Tak ada ukuran untuk umur berapa dia siap untuk naik gunung. Tapi menurut saya, jawablah dulu pertanyaan dibawah ini sebelum mengajak si kecil naik gunung.

Apakah secara fisik cukup sehat untuk diajak pergi?  Apakah dia mampu? Apakah dia senang? Apakah dia nyaman? Apakah dia cukup sabar untuk melakukan perjalanan yang lama?

Dan saya rasa, pertanyaan yang sama akan saya tanyakan juga pada anda.

Apakah anda senang? Apakah anda nyaman? Apakah secara fisik anda cukup mampu untuk menggendong anak anda jika mereka lelah? Apakah anda cukup sabar menghadapi dan membujuk anak anda jika ia rewel dan bosan? Apa anda juga mampu membawa beban perlengkapan anda dan anak anda sekaligus? (bayangkan jika tak ada porter)

Ingat lho, mendaki gunung itu adalah kegiatan yang memerlukan persiapan fisik yang matang, mental yang kuat, perlengkapan yang cukup dan berat pula untuk dibawa.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Saya rasa yang harus dilakukan adalah mengenalkan kegiatan ini secara bertahap. Tidak langsung naik ke puncak gunung sih. Tapi mungkin trekking ringan di kaki gunung. Kemping ceria di kaki gunung, bersama ibunya atau teman-teman sebaya. Lalu, barulah dinaikkan tingkat kesulitannya. Mungkin naik gunung hingga pos satu lalu turun kembali. Begitu seterusnya.

Saya punya seorang teman yang kebetulan suami istri dan memiliki hobi naik gunung. Mereka bercita-cita untuk mengenalkan kegiatan ini pada putrinya sejak dini. Tentu tak langsung naik gunung apalagi langsung ke puncak gunung. Tapi secara perlahan mengenalkannya pada anak mereka yang masih balita itu. (selengkapnya bisa dilihat disini (http://sereleaungu.blogspot.com/2012/12/mengapa-mendaki-gunung.html)

Dan untuk trip ke gunung dipersiapkan dengan serius. Membawa porter khusus untuk si kecil, membawa pakaian yang super hangat, membawa makanan dan minuman yang sehat untuk si kecil dan masih banyak lagi.



Ah, saya jadi ingat trip kami akhir tahun lalu. Saya baru berkenalan dengan keluarga kecil ini. Ayah, ibu dan anak perempuannya yang masih kelas satu SD. Awalnya saya ragu. Bukannya apa-apa, saya khawatir saja. Untuk ukuran orang dewasa, pergi ke gunung ini cukup ekstrim dan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Tapi yang saya khawatirkan tidak terjadi. Rupanya persiapan kedua orang tuanya juga cukup matang. Mulai dari perlengkapan hingga logistik untuk si kecil. Bahkan si ayah cukup sabar untuk menggendong putrinya yang mulai rewel karena mengantuk.

Tapi yang paling menakjubkan adalah ketika si kecil ini berjalan dengan backpacknya yang  berbentuk lebah ,berjalan dengan penuh semangat di depan saya.

Ah.. hilang deh lelah saya. Haha!


BTR 20 Maret 2012; 11;34 (after chit-chat with tigor n special for Siwa family)
 
;