Saturday, January 30, 2010

this lonely view *




Motret sambil mbonceng motor itu ada seni-nya tersendiri. Nggak mudah memang. Saya nggak  bisa mengincar sasaran atau mencari sudut pandang yang saya suka. Tapi yang saya lihat sepanjang jalan, sayang sekali kalau saya lewatkan. Melihat jembatan (lagi), truk-truk (lagi) bahkan bangunan tua yang hanya lewat sekelebat saja, saya nggak pernah bosan. Nah… ini dia sebagian yang terekam selama perjalanan akhir tahun lalu ke Madura. (* inspired by road trippin' RHCP)

What a journey!


kisah selengkapnya disini

Friday, January 29, 2010

tour de Madura episode insiden di Pamanukan (TAMAT)

Hari keenam Minggu, 3 Januari 2010; insiden di Pamanukan

“Lho? Kok nasi gorengnya nggak dihabiskan?” tanyanya.

Ini sudah pertanyaan kedua. Beberapa menit berselang, istrinya juga menanyakan hal yang sama.  Kami senyam-senyum dan saling lirik. Nah lho. Hasim dimarahin bapak dan ibu penjual nasi di warung sebelah bengkel. Hasim salah tingkah.

“Nggak enak ya?” tanyanya lagi sambil mengangkat piring Hasim.

“Enak paaaak” jawabnya patuh.

“Dia nggak biasa sarapan pagi. Perutnya begah” jelas Vera –Vera ini istrinya Hasim- pada kami semua.

“Ooooooo….”

Warung ini ternyata sering dikunjungi. Masakannya juga enak. Kalau malam minggu, mereka memasok rupa-rupa nasi dan lauk-pauk untuk para biker yang nongkrong di Jalan Pemuda.

Pssst.. alm. Sophan Sophian juga pelanggan tetapnya. Jadi kalau sempat, mampirlah disini. Tempat singgah makan Busonoriz “Zahra” menunya yang terkenal :

gulai kambing, cumi cabe ijo, Rica belut, rica cabe Ijo. Bahan-bahannya fresh dari TPA terdekat. Tidak dibekukan, tapi langsung dimasak. 024-7623694

Kenapa tiba-tiba kami terdampar di tepi pantai.. eh… di warung sebelah bengkel ini sih?

Nah.. begini ceritanya.Tadi pagi, setelah menjemur raincoat, memanaskan si Malih n the gank, minum kopi dan teh yang disediakan sambil memandang gunung Merbabu di hadapan.

Jam setengah delapan, kami teruskan perjalanan. Jarak sejauh 30 km melalui Salatiga-Bawen-Ungaran-Semarang kami tempuh dalam waktu sejam, Cirebon lebih jauh lagi. Jaraknya sekitar 251 km lagi dari sini. Apalagi Jakarta, masih harus kami jalani sejauh lebih dari 523 km.

Setelah menembus kota Semarang kami terus mengarah ke jalur utara. Lalu kami berhenti di bengkel pertama yang kami lihat. Di Jalan Raya Jrakah yang saya baru sadari mobil, bus, motor yang bolak-balik di depannya, gemar sekali menyalakan klaksonnya. Berisik!

Saat itu posisi Hanz dan Hendrix ada di Sragen. Jam 3 subuh mereka berhenti dan menginap disana.

“Nggak kuat Bro!”

Jadi sambil menunggu mereka, kami juga memperbaiki pio-nya Fajar. Begitu juga dengan ban belakangnya Scozzy –motornya Hasim- yang dirasa tidak stabil, juga di betulkan posisinya.

Pukul sepuluh pagi. Ahirnya full team juga. Hendrix dan Hanz. (Lulu sempat tanya, yang namanya Hanz yang mana Sis?”) keduanya sama-sama bertubuh besar, memakai kaos lengan panjang, mengenakan bandana merah dan memakai jaket Milys. Biker banget daaaah! 

Masih ngantuk dan dekil. Tapi wajah mereka menyiratkan rasa syukur karena berhasil menyusul kami. Motor Hanz –oiya, pio-nya Hanz belum punya nama tuh. Kalau ada usul silakan lho- segera masuk kamar operasi. CR-nya ditukar dengan CR si Malih. Cukup lama juga kami menunggu. Karena ada sparepart yang harus dicari dulu.

Jam dua belas kurang limabelas menit, enam motor+8 orang perlahan-lahan meninggalkan Semarang. Si Malih masih di depan, diikuti Hasim+Vera, Lulu, Fajar, Hendrix dan Hanz.

Kami belok ke jalur alternatif dan tiba-tiba sudah ada Cepiring. Yang paling saya ingat dari tempat ini adalah Pabrik Gula Cepiring, persis ada di tepi jalan.

Jangan ditanya cuaca hari itu. Panas terik.  Dua kali barisan sempat berhenti. Pertama waktu Hanz menyusul dan bilang. 

“Gua nggak bisa ngikutin flow loe, Jeh”

“Apa kamu mau di depan?” tanya suami saya.

“Nggak ah..! Gue tarik ulur aja. Kalo ngantuk jalan pelan-pelan. Kalo udah seger, gua gaspol nyusul barisan.”

Maka, sejak saat itu, hingga malam nanti ketika insiden Pamanukan itu terjadi, Hanz akan selalu dalam posisi buncit dan tarik ulur. Jam satu siang, sedang Jakarta masih 350 km lagi.

Dan kedua ketika pukul setengah tiga sore, Hendrix juga menyusul ke depan, Dengan bahasa isyarat (seperti sedang menyuap makanan ) itu tandanya dia lapar dan tanya

“Kapan berhentinya bro?”

Maka akhirnya kami berhenti di salah satu warung sate dan tongseng di daerah Brebes. Dan kemudian istirahat panjang di SPBU tak jauh dari situ. Pukul 5 sore kami berangkat lagi. Langit terllihat berat dan gelap.

Wah.. kami bakal kejar-kejaran dengan hujan nih.

Saya lupa tepatnya jam berapa tapi setelah itu kami masih sempat mengisi bensin, melewatkan magrib di jalan dn sejam kemudian berhenti lagi di tengah jalan. Somewhere in pantura. Box belakang si Scozzy jatuh.

Untunglah masih ada bengkel las yang buka malam itu. Sambil menunggu bracketnya di las kembali, kami nongkrong lagi di salah satu warung tak jauh dari situ. Gembira menemukan sakelar listrik, Hendrix langsung membuka notebooknya. Hanz yang tidak bisa diam, mondar-mandir dengan pio-nya di sepanjang jalan. –Hmmmm… hari yang aneh 

Tragedi di Pamanukan dan Rit Celurit Sampeyan!

Dalam gelap, tahu-tahu saya sudah tergeletak di tengah jalan.

Di sebelah, suami saya terguling meringis menahan sakit. Si Malih –ini nama motor kami- juga terbalik di hadapan.

Kami sudah berbalik arah, duduk dan menatap sorot lampu truk tronton yang berdecit tak jauh di depan hidung kami.

Untunglah motor yang dikemudikan Hasim, Hendrix, Lulu dan Fajar cepat bermanuver menghindari kami.  Dan kemudian merapat di sekeliling dan bergerak cepat memblokir jalan melindungi kami.

Kami bertiga bagai penyanyi yang sedang disorot dengan lampu ribuan watt. Lalulintas terhenti saat itu juga.

Bagai ribuan slide foto yang bergantian di pelupuk mata saya. Berganti-ganti seperti di film-film itu lho.

Selasa lalu di Pamanukan, hujan-hujanan mencari penginapan. Kamis tertawa riang foto-foto di jembatan Suramadu.
Berlompatan di pantai Lombang. Keluar masuk pabrik kerupuk di Magetan.
Terkantuk-kantuk menuju kamar diantara ABG Salatiga yang sedang tipsi.

Jangan-jangan ini akhir dari hidup saya….hiks!

Mata saya menyipit melihat silaunya lampu truk dan motor mereka. Saya beruntung pada saat itu tidak panik. Kalo dipikir kok bisa ya? Saya ingat betul, waktu itu saya sempat memeriksa diri saya dulu. Apa ada yang luka atau patah. Dan menoleh pada belahan jiwa saya, menanyakan hal yang sama. Dia bilang kaki kirinya sakit.

“Oke… masih bisa jalan kan?” saat itu dalam pikiran saya adalah segera pindah ke bahu jalan. Ke tempat yang lebih aman.

Bergandengan kami menyingkir ke tepi jalan. Ada warung yang sudah tutup. Suami saya duduk di bale bambu. Saya berselonjor di teras tanah di dekatnya. Kami berdua masih shock. Ada yang datang (lupa, Hasim atau Hendrix ya?)

“(Saya) minta minum Hany!” pintanya. Wajahnya pucat.

“Air.. air.. minta air!” seru saya. Kini saya mulai panik. Aduuuuuh… saya nggak mau lagi naik motor..hiks! hiks!

Lalu kami diajak Hendrix (atau Hasim ya?) kami pindah ke tempat yang lebih terang, Ada rumah tanpa pagar, yang terasnya kami pakai untuk duduk. Saya masih sempat melihat si Malih digotong oleh Fajar dan Lulu. –sedih saya melihatnya tak berdaya- Motor-motor yang lain rupanya sudah diparkir di halaman rumah ini.

Dan jalan pantura di depan kami kembali normal seperti biasa.

Saya melirik jam tangan. Jam sepuluh malam saat itu. Suami saya rebah di teras. Dan dengan keras kepala tidak mau saya lihat kakinya. –huh!- Sambil mengeluarkan tas mungil obat-obatan, saya periksa kakinya. Sejauh ini sih tidak ada yang patah hanya tulang keringnya memar, lututnya juga.

Hanya dia mendadak rewel saja karena saya tahu perasaannya tidak enak hati karena merepotkan orang banyak.

Hasim datang lagi dengan wajah cemas.

“Nggak apa-apa Jeh?” *which is means.. are you OK?*

“ta’ rit clurit sampeyaaaaan”

“Hahahaha…” my hubby is baaaaack!

Fajar dengan cekatan mengganti CR si Malih. Yup! Betul. CR abal-abal (hasil tukar guling dengan CR-nya Hanz waktu di Semarang tadi) patah dengan suksesnya. Kemudian baru saya tahu kalau itu CR cadangan yang didapat dari Hasim. Dan sehari kemudian baru kami sadari, body lampu depan si Malih pecah, berikut windshieldnya.

Tapi yang menyelamatkan kami berdua adalah (ini analisa kami) side bag yang isinya penuh dengan pakaian itu yang berperan sebagai buffer. Sehingga kaki kami tidak terjepit si Malih dan kami tidak langsung jatuh menghantam aspal.

Dan lubang di jalanlah penyebabnya, juga kesalahan mengambil keputusan di sepersekian detik terakhir.

Sambil mengelap tangan dan wajah penuh peluh Fajar menjelaskan pada saya. Mungkin karena posisinya agak jauh di belakang, jadi bisa melihat rekaman kejadiannya dengan jelas. Ini juga yang masih saya ingat.

Jalur pantura itu gelap sekali. Tidak ada lampu jalannya (mungkin lampunya mati?) Ada dua jalur yang mengarah ke Jakarta, dua jalur pula yang menuju Surabaya dan sebuah median jalan di tengahnya. Jalur ini umum digunakan untuk jalur distribusi. Dan malam hari adalah waktu terbaik bagi truk-truk besar pengangkut itu mondar-mandir diatasnya.

Barisan kami cukup rapi malam itu. Ada lima motor yang beriringan  -seperti yang sudah diceritakan di awal kisah ini, Hanz memang sedang jauh di belakang- Kelima motor itu meliuk-liuk menyusup dan melewati truk-truk itu.

Nah…ketika si Malih hendak menyalip ke jalur kanan, suami saya tidak mengira akan menemui lubang. Dan keputusan harus segera diambil, apa lubang itu dihajar terus atau dengan reflek membuang kearah kanan? Yang bisa jadi membahayakan pengemudi lain.

Dilema juga sih. Maka inilah keputusan sepersekian detik itu.  lubang itupun dilibasnya.

Mendadak saya merasa pendek. –ini akibat CR yang patah. Body belakang pio langsung amblas dan rata dengan ban- Suami saya masih berusaha keras memperlambat si malih, dia memegang stang motor yang mendadak tidak terkendali ke kanan dan ke kiri. Lalu kami menghantam lubang lagi. Dan menghantam lubang lainnya. 

Lalu kami jatuh.

-TAMAT-

(BTR, selesai ditulis 28 januari 2010 jam 10 pagi. Selamat ulang tahun Milys.!!)

Terimakasih pada Allah SWT, teman-teman seperjalanan kami, Lulu, Hasim+Vera, Fajar, Hendrix dan Hanz; mbak Eri yang bertugas memberi makan kucing-kucing kami selama kami pergi  ; Bro Amir, mas Eko Probo yang terus memantau pergerakan team, Gondrong dan keluarga besar SADIS di Semarang untuk hahahihi dan jamuannya selama di Semarang; kenalan baru kami dari teman-teman TSC –Tegal Scorpio Club-; David dan Adit yang mengantar hingga Madura; Toni, Umam, Wawan, Teguh dan keluarga besar BSR –Bangkalan Scorpio Rider-  yang dengan tulus menyambut, menemani dan menghibur kami selama di Madura; mas Anto dan keluarga besarnya, teman-teman dari Mascord –Madiun Scorpio Rider- untuk tempat persinggahannya yang luar biasa; Boyke dan Eddy –dari ASOKA- yang barengan menuju Semarang, juga teman-teman ASOKA yang subuh naas itu merapat, membantu dan mengawal kami hingga Karawang- teman-teman dari SAB bandung, Andy Brod, Tommy, Melly, Mario Ovan, Rahboy, bro Purwanto, dan semua yang waktu itu memantau kejadian via BBM; terimakasih. Kami tak kuasa membalasnya, semoga Allah melimpahkan balasan yang sebesar-besarnya untuk kalian semua.

Dan sisa hari itu terasa panjang sekali. Kami tiba di rumah jam setengah enam pagi. Lulu memisahkan diri menuju Pondok Gede, sisanya terus ke selatan ke arah Cibubur untuk kemudian menembus Parung. Beberapa harus segera mandi dan berkemas. Hari itu sudah waktunya masuk kerja.Suami saya nggak ngantor hari itu –ya iya laaaaah- pupus sudah resolusi tahun 2010 yang tidak mau absen satu hari pun-  saya nggak tahu gimana dengan yang lain tapi Lulu sempat ditegur si bos karena tertidur di meja kantor.  thanks anyway Lu, untuk menjadi wingman kami dan  selalu ceria selama di perjalanan.

Wednesday, January 27, 2010

pabrik kerupuk ABC




Saya tertinggal di pabrik ini. Gedung tanpa plafon yang suram tempat pabrik kerupuk itu berada. Sibuk motret sih.  Kegiatan saya rupanya ditangkap oleh ayahnya mas Anto. Maka jadilah kami berdua ngobrol di belakang.

Putranya tiga, laki-laki semua. Hanya si sulung yang kelihatannya punya bakat untuk meneruskan usaha keluarga. Dulu pernah mburuh di Tasik.  “Buat kerupuk juga Pak?” “Iya, lama-lama saya mikir. Kenapa nggak buka usaha sendiri. Akhirnya saya pulang dan buka pabrik kerupuk. Nggak langsung berhasil. Dua kali saya gagal. Sempat jual donat dan jual apa saja.”

Tapi akhirnya kembali lagi ke kerupuk. Modalnya terus diputar, hingga dalam waktu empat tahun ia sudah dapat membeli sebidang tanah dan membangun rumah diatasnya. Walau kini keuntungan tak lagi seperti dulu. “Sudah banyak saingan!”

Ah….saya yakin ia tak bakal menyerah. Sama seperti dulu.

(Proses pembuatan kerupuk ini cukup rumit. Kalau musim hujan seperti ini, adonan kerupuk yang telah direbus dan dipotong-potong harus di steam dan di keringkan dengan mesin. Ada mesin press bertekanan, oven dan beberapa alat penggorengan. Bahan bakarnya sekam kayu, dipasok dari sisa pemotongan kayu di sekitar situ. Begitu kerupuk sudah digoreng dan dimasukkan dalam karung besar lalu dioper ke tetangga sekitar, untuk dibungkus menjadi kemasan kecil dan siap untuk dijual)

Sabtu, 2 Januari 2010; Magetan, dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta (selengkapnya :
tour de madura ada perusahaan kerupuk ABC di Magetan; Terimakasih untuk keluarga besar bro Anto; kalau ingat tadi hanya ingin mampir setengah jam saja disini, saya jadi malu

Tuesday, January 26, 2010

tour de Madura episode ada Mascord dan perusahaan kerupuk ABC di magetan

Hari kelima Sabtu, 2 Januari 2010; ada Mascord dan perusahaan kerupuk ABC di magetan

Walau kami sudah siap sejak pukul tujuh dan kekenyangan setelah sarapan nasi Serpang yang terkenal itu. (makanan khas Madura nasi dengan kombinasi lauk : telur asin, peyek udang, mie, udang/jangkang, tahu, den
deng, daging, tongkol, sambal). Tapi Toni kelihatannya berat melepas kepergian kami (ceileeee…) jadi baru satu jam kemudian kami dapat pergi. Diantar Wawan hingga ujung jalan menuju Suramadu.

Lima belas menit kemudian, setelah berjabat tangan ala biker, kami pun meninggalkan Madura. Ah.. belum apa-apa, rasanya sudah kangen ingin kembali lagi.

Sementara itu, rombongan Milys chapter Tangerang yang pergi ke Bali, juga dalam perjalanan pulang. Sebagian masih ada di Bali. Dan sisanya sudah ada di Situbondo. Seharusnya sih kami janjian hari ini untuk pulang sama-sama ke Jakarta.

Entah apa yang terjadi. Yang kami dengar ada masalah dengan motornya Hanz. Jadi H
anz dan Hendrix masih ada di Bali. Sedang Hasim+Vera dan Fajar akhirnya berangkat terlebih dahulu jum’at sore kemarin.

Kami sih tetap bergerak terus ke arah barat. Jakarta masih jauh. Sedang kami masih ada di ujung pulau Jawa. My hubby dan Lulu pun harus ngantor senin depan. Kalau saya lain lagi motivasinya, saya hanya nggak mau jalan subuh lagi seperti kejadian tahun lalu.

Pukul sebelas pagi kami minum kopi dan ngemil kacang di rehat area SPBU Jombang, Suami saya masih telpon-telponan dengan Hasim. Mereka juga sudah bergerak gaspol –bagi teman-teman yang belum tahum ini istilah saja di dunia motor. Motor akan di-gas terus dengan kecepatan tinggi dan nggak berhenti-berhenti- tadi pagi dan ada di Ponorogo saat ini.  Hendrix dan Hanz juga baru merapat di Ketapang. Super gaspol ingin menyusul dua rombongan di depan. Halah!

Maka kini ada tiga rombongan di tiga tempat yang berbeda. Berpacu dengan waktu bergerak menuju Jakarta.  Cuaca sedang cerah secerah-cerahnya. Jadi kami ngadem cukup lama disini. Buying time juga sih menunggu rombongan di belakang. Suami saya dan Lulu sempat tidur. Dan baru pukul satu kami bergerak lagi.

Sejam kemudian kami berhenti untuk makan siang. A
da satu rumah makan di daerah Magetan yang penuh dengan kendaraan yang sedang parkir. Boleh juga nih. Kami pesan ikan gurame goreng, cah kangkung dan jus tomat. Sedang Lulu pesan bebek goreng favoritnya. Hmmm….nyam..nyaaaam…

Entah kenapa, di tempat makan inipun kami malah leyeh-leyeh lagi. Hmmm.. nggak produktif deh. Mungkin karena merasa stop point kami (hari ini rencana menginap di Solo atau Jogja)
sudah dekat atau juga karena yakin sebentar lagi rombongan Hasim akan merapat. Sementara itu Bro Anto Mascord –Madiun Scorpio Rider, ini klub motor scorpio yang ada di Madiun area- yang sesiang tadi kami kontak, baru membalas telpon kami.

“Ah.. ntar enam jam lagi kayak di Semarang” protes saya. Ini kan sudah sore, perjalanan masih jauh. Kalau mampir lagi, mau sampai jam berapa? Sampai tengah malam lagi? Hiks! Hiks!

Lulu pun menyiratkan ekspresi yang sama.

Maka inilah kami. Demi sebuah janji, pukul setengah lima sore, ada tiga orang aneh bersama dua motor pio dekil yang sedang narsis foto-foto di depan kereta loko di depan Pabrik Gula Purwodadi, di Magetan.

Keren deh, baru kali ini ada yang jemput seorang emak-emak . Kami dijemput Mbak Ika, istrinya mas Anto dan putri (putri kedua mereka yang baru berumur 4 tahun).

“Lagi goreng kerupuk!” sahutnya ketika kami tanya, kok malah simbak yang njemput kami.

“???…!”

Baru kami tahu ketika kami masuk ke halaman rumah yang luas itu. Mereka punya pabrik kecil-kecilan di belakang rumahnya. Perusahaan kerupuk ABC Magetan. Perusahaan keluarga.

Si Malih dan si Rohman kami kanopi samping lapangan badminton sekaligus tempat untuk menjemur kerupuk. Kami diajak terus ke belakang. Bro Anto sedang menggoreng kerupuk dibantu dua orang karyawannya.

Dan tak lama kemudian rampunglah pekerjaan hari itu. Kemudian mengajak suami saya dan Lulu ngobrol di teras depan. Saya tertinggal disini, di gedung tanpa plafon yang suram tempat pabrik kerupuk itu berada. Sibuk motret sih.  Kegiatan saya rupanya ditangkap oleh ayahnya mas Anto. Maka jadilah kami berdua ngobrol di belakang.

Keramahan keluarga besar Anto tidak bisa kami tolak begitu saja. Nyata sekali kalau mereka senang didatangi teman-teman biker dari segala penjuru daerah. Kalau ingat tadi hanya ingin mampir setengah jam saja disini, saya jadi malu. 

Akhirnya Hasim+Vera dan Fajar datang juga. Keadaan team cukup baik walau Hasim mengeluh matanya tidak awas kalau sudah malam hari. Dan dengan cengiran lemah menyambut uluran tangan kami. Lega rasanya, team dua sudah merapat. Barusan mereka dijemput teman-teman dari Mascord.

Hari sudah gelap saat itu, Semua basah kuyup karena hujan deras sepanjang jalan. Kasihan juga melihatnya. Kontras sekali dengan kami yang masih segar, sudah mandi dan sedang leyeh-leyeh minum kopi di teras rumah Bro Anto.

Ngomongin teman-teman dari Mascord ini, hanya bro Anto yang paling senior , dia memang 001-nya Mascord –Madiun scorpio Rider- sedang membernya kebanyakan masih ABG yang lagi seneng-senengnya gabung dengan klub motor. Posisi mereka juga strategis. Rata-rata klub motor yang lewat jalur selatan juga mampir kesini.

Nah… ngomongin perilaku klub motor yang ada disini, berikut ini seperti yang kemudian dikisahkan Hasim kepada kami.

“Beda sih kalo R1 dan R2 mau dateng” kat
a Hasim *sombooooong *

“Kenapa bro?” Lulu *cupu mode on*

“Sampe mau masuk gang aja masih aja di blok jalannya” *Sementara di Jakarta, ngeblok jalan dan menggebrah kendaraan lain dengan kaki sudah mulai ditinggalkan.*

"Hihihihi”


“Herannya, orang-orang kok nurut aja dan kasih jalan.”

“Ah.. kamu belum tahu aja anak-anak Tasik. Iya kan Hany?” lanjut suami saya meminta pembenaran. Dan dia mulai dengan gerakan menendang tinggi-tinggi dengan salah satu kakinya.

“Gaya taekwondo, Bro! ”

“Haiyaaaah!!!” Hasim, Lulu dan Fajar sampai
memegang perut saking gelinya. Membayangkan menggebrah bis gede dengan gerakan kaki seperti itu.

Nah setelah mereka mandi dan istirahat sebentar, kami semua makan malam bersama. Menunya luar biasa deh, disiapkan dengan penuh citarasa oleh keluarganya bro Anto. Lalu suami saya berikan pilihan kepada Hasim n the gank.
 
(1) nginep disini dan besok pagi lanjut lagi atau
(2) bergerak semampunya (pengennya sih sampe Salatiga) dan besok bergerak dari sana; paling tidak sudah mendekati Jakarta (halah!)

Hasim memilih untuk terus. Maka di bawah
rintik hujan, kami lanjutkan perjalanan. Sudah setengah Sembilan malam saat itu. Ada empat pio yang terengah-engah membelah jalan. Malih ada di depan, diikuti si scozzy (Hasim+vera), kemudian Fajar dan Lulu di belakang. Kami tahu, mereka lelah sekali dan saya yakin deep down inside, mereka ingin sekali tinggal di rumah ini. 

Rupanya jalur alternatif yang dipilih si Malih. Ada jalan kecil melambung naik turun bukit dan melewati Solo menuju Salatiga. Jaraknya sekitar 115 km. Jalannya sepi, nyaris kami tak bertemu dengan kendaraan lain apalagi truk dan bus.

Hasim kelihatannya sudah putus asa. Saya apalagi. Rasanya jalannya tidak sejauh ini deh. Tapi mungkin itu karena efek sudah capek saja. Fajar sempat tertinggal di belakang. Sejak dari Bali oli seal shocknya bocor. Jadi nggak imbang antara kanan dan kiri. No probs kalau jalan lurus. Tapi serem kalau jalan menikung. 

Sementara itu posisi Hendrix dan Hanz masih ada di Probolinggo saat itu. Waaah.. still long way to go tuh! Pasti mereka gaspol terus dan lupa ngerem 

Agak kesulitan juga mencari penginapan ketika tengah malam kami tiba di Salatiga. Dua kali masuk hotel jam-jam an yang isinya om-om dan beberapa escord berpakaian seksi yang sedang dugem.

Kami terbawa nyaris ke Kopeng hingga akhirnya -karena sudah ngantuk dan nggak ada pilihan lagi- menginap di wisma bhakti 2 yang malam itu penuh dengan ABG salatiga yang sedang tipsi 

Menariknya, si penjaga wisma nggak bisa menjamin keselamatan para pio kami, walaupun wisma ini persis  ada di depan kantor polisi. maka, jadilah  kami buka tiga kamar standard Rp 50,000 yang salah satunya kami sewa dan kosongkan  hanya untuk keempat pio kami menginap.

Ah... Yg penting bisa istirahaaaat...

Foto2 selengkapnya :
pabrik kerupuk ABC magetan
Next : insiden di pamanukan

Friday, January 22, 2010

tour de Madura episode ada ramuan madura di Keraton Sumenep

Hari keempat , Jum’at ; 1 Januari 2010; DARI API ABADI HINGGA AIR TERJUN TOROAN (yang nggak kesampean)

Kisah sebelumnya : si ganteng itu namanya La Ya La

“Jadi ya bu… nanti malem, sebelum bertanding …” Si pemandu tak jadi meneruskan kalimatnya. Semua yang ada dalam ruangan itu terpingkal-pingkal karena geli.

“Buhuahahahaha…. “

Kami masih saja tergelak. Terutama suami saya–kalau yang pernah ketemu .. pasti tahu, kalau dia udah ketawa, pasti bikin orang iri. - Dan wanita paruh baya itu, pasti bersumpah ingin ngumpet sejauh-jauhnya.

Ramuan madura memang terkenal sekali. Tadi dia sedang beli obat sari rapet dan obat yang bisa bikin perawan lagi  Nggak hanya itu, ada juga obat kuat untuk laki-laki dan dan obat untuk segala macam penyakit. Rupa-rupa kok bentuknya dan dikemas dalam botol kecil.

Museum dan Keraton Sumenep terletak di belakang alun-alun kota Sumenep; tiket masuknya Rp 1000/ orang dan setiap pengunjung yang datang wajib didampingi oleh pemandu. Nah, kebetulan ada serombongan orang juga yang ingin keliling keraton. Maka kami bergabung dengan mereka.

Tapi sejak masuk museum dan berputar di sekitar istana. Saya merasa seperti dikejar anjing. Cepet banget jalannya.Hehe..mungkin pemandunya bosan karena harus mengulang-ngulang hal yang sama.

Walau dalam posisi ‘dikejar anjing’  saya masih ingat kalau kompleks ini terdiri atas 3 bangunan yang difungsikan sebagai museum. Diantaranya berupa koleksi kereta kencana, tempat tidur raja dan beberapa foto raja.

Di sisi lain ada bangunan yang seluruh temboknya di cat kuning. Kemudian baru saya tahu kalau ini disebut dengan Kantor Koneng. Kemudian di sisi utara, ada rumah tinggal yang juga dijadikan museum. Konon rumah ini dipakai raja untuk menyepi, karenanya rumah itu disebut dengan Romah Panyepen.

Nah yang menarik adalah bangunan pendopo untuk pertemuan. Pendoponya luas dan masih terawat dengan baik. Sama seperti keraton di Jogja dan Solo. Lalu ada juga pohon beringin di sampingnya.

Di sebelah timurnya ada kolam pemandian yang dikenal dengan nama Taman Sare yang dalam Bahasa Indonesia berarti kolam yang asri, indah atau menyenangkan. Psst….air kolamnya konon mempunyai khasiat menjadikan orang awet muda. 

Walau kini Keraton Sumenep tidak lagi dihuni seorang raja beserta para abdinya. Namun bangunan yang berumur lebih dari 200 tahun dan merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa, Arab, dan China itu masih tetap terjaga.

JALUR UTARA MADURA

Sebenarnya suami saya agak ragu lewat jalur ini. Yang ia dengar, jalur utara pulau Madura buruk sekali. Sebaliknya, saya justru penasaran. Kalau tidak sekarang kapan lagi merambah jalur utara yang jarang dilewati orang itu. Mumpung hari masih terang toh?

Dan benar saja. Jalannya nggak rusak kok. Hanya memang tidak semulus aspal di jalur selatan, tapi cukup baik. Empat motor masih bisa beriringan meyusur pantai yang  ada di kanan kami. Sedang di kirinya, berganti-ganti kami dimanjakan oleh hutan, perkampungan, muara sungai dan bukit batu diantara padang rumput dan kuburan.

Iya.. kuburan banyak sekali. Saya jadi ingat film-film highlander gitu deh, yang settingnya di New Zealand atau Inggris Raya.

Namanya juga edisi jalan-jalan, nggak lengkap dong kalau tidak berhenti di tepi pantai dan foto-foto dengan pio masing-masing. Sayang tidak sempat mampir ke air terjun Toroan. Katanya airnya langsung terjun ke laut. Ah.. sayang banget 

Tapi rasa kecewa itu sedikit terobati. Dalam perjalanan pulang, mampirlah kami di rumah teman Toni di Sampang. Kami ditraktir nasi campur khas Madura yang terkenal itu. Isinya, seingat saya, adalah nasi dengan lauk rupa-rupa ikan laut, udang, cumi yang diberi bumbu khas madura. Rasanya asin, manis dan pedas…… serba seafood deh. Dan yang pasti ... uenaaaak tenaaaaannn broooo!

Setelah sholat magrib, kami pun pamit dan meluncur menuju Bangkalan.

TOKO NUSA INDAH, OLEH-OLEH KHAS MADURA

Mau beli oleh-oleh? Nggak usah khawatir. Di pusat kota Bangkalan ada satu toko oleh-oleh. Namanya toko Nusa Indah. Toko ini ada di jalan KH.  Moh Kholil 105 telp 031-3091608. Nggak jauh dari basecamp BSR.

Kalau teman-teman pernah belanja toko oleh-oleh di Sidoarjo. Nah… disini tempatnya kurang lebih sama seperti toko oleh-oleh khas Jawa Timuran itu.. Bisa dipesan atau dibuat paket yang dikemas dalam dus kecil yang isinya silakan pilih sendiri.

Walau tidak begitu luas, tokonya penuh sesak dengan pembeli. Di dindingnya penuh dengan rak-rak isi keripik, kerupuk dan cemilan, rupa-rupa terasi, bumbu dapur yang kalau saya lihat dari label kemasannya berasal dari berbagai penjuru Madura. 

Nggak hanya makanan, mereka juga jual batik Madura (harganya berkisar 100-200ribuan), tshirt gambar Jembatan Suramadu, Karapan Sapi dan baju loreng merah putih ala tukang sate itu lho. Harganya 50 rupiah sadja. Oiya sudah pasti ada satu rak isi ramuan Madura tentunya ada disana. Super lengkap!

Akhinya kami nggak jadi nyebrang malam itu. Kami kelelahan padahal baru jam 9 malam. Maka setelah kenyang online sepuasnya di warnet BSR (tengkyu Waaan!) dan puas belanja oleh-oleh.  Malam itu juga kami bergerak menuju rumah Toni. Kami numpang nginap ya Ton  Wawan dan Yaya ikut nginap juga. Wah.. jadi rame deh.

Rumah toni ini agak di luar kota Bangkalan. Ke arah menara suar rupanya. Walau hati sedikit gentar karena kami harus lewat jalan nan panjang dan sepi, dibawah temaram lampu jalanan, diantara rinai hujan, yang di kanan-kirinya penuh dengan pohon kamboja yang semerbak mewangi.Dan sudah pasti penuh dengan kuburan 

“Jangan-jangan besok kita bangun, ada di atas kuburan” Cetus suami saya *kebanyakan nonton film horor*

“dan baru tahu kalau kita habis makan daun” saya menambah bumbu. Hahaha….

Setelah mandi saya langsung tidur. Tapi sayup-sayup saya masih dengar para pria ini ngobrol ngalor ngidul meng-update gossip-gosip lokal


Next : ada Mascord dan perusahaan kerupuk ABC di Magetan

 
;