Wednesday, May 27, 2009

pagi itu di kampung Cibeo




Lalu saya duduk bersimpuh di lantai dapur yang hangat itu. Mengupas bawang merah, mengiris timun, mengiris petai dan mengocok telur untuk sarapan. Ditemani Saba (4 tahun) dan Salman (2 tahun) bocah laki-laki putera bungsu pak Aldi yang memandang tingkah laku saya dengan penuh minat.

Cengiran terlebar yang saya miliki, saya persembahkan bagi kedua bocah yang duduk di hadapan.  Sambil meracik bumbu, saya berusaha keras mendendangkan "lupa lupa ingat" milik grup Band Kuburan yang lagi naik daun itu pada mereka

Di tengah rasa putus asa *karena saya tak kunjung hapal syairnya * Suwasti, Emma dan Susan datang bergabung. Mereka sudah selesai berkemas dan berdandan rupanya. Maka dengan ini  dapur umum dinyatakan resmi dibuka. Kedua tungku sudah menyala-nyala. Salah satunya sedang menjerang air rupanya. Emma menggoreng dendeng ikan dan telur dadar. Susan menyiapkan kopi hangat bagi semua. Dan terakhir, saya membantu Suwasti  membuat nasi goreng ala chef Suwasti yang terkenal ituuuuh…

Dan inilah kami, duduk berkumpul bersama keluarga Pak Aldi, dan beberapa tamu yang hadir.  Melahap nasi goreng beralas daun pisang sembari menyesap kopi yang hangat.

Pagi itu di kampung Cibeo, Baduy dalam.  




Monday, May 18, 2009

“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

“Grusak! Grusukkkk!”

Disusul suara gedebuk dan jeritan memilukan menyelinap melalui jendela kamar kami. Jendela kami memang menghadap halaman kecil yang ada di belakang. Dan ..oooh…suara itu terdengar jelas sekali di malam buta seperti ini. *ya, sebenernya sih nggak sepi-sepi amat. Wong suami saya sedang maen PS *

Kami saling berpandangan.

“Coba kuintip deh” saya membuka pintu kamar.

Daaaan…. Hiyaaaaaa…!!!!!

Kami berdua menjerit ketakutan. Terasa ada hawa dingin menyelinap masuk. Gelap sekali disana. Sementara TV menyala-nyala tanpa suara. Kami berdua saling berpegangan tangan.

Sedetik kemudian, makhluk itu lewat di depan pintu kamar kami.

Jeritan kami bertambah keras.

“Aaaaarrrrgh!!!”

Makhluk itu menyeringai. Sekaligus heran melihat kami berdua. Kemudian ia berhenti di depan pintu kamar.  Jeritan saya makin keras dan saya nyaris pingsan.

Tak lama kemudian.

“Aaaaaah!!! KOKOOOOO!!!! omel saya pada makhluk itu.“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

Dan Koko mengangkat sebelah alis matanya *hehehe.. maab, sedikit hiperbol.* Dia heran. Kenapa harus takut?

“Hus! Hus! Ayoh.. maenannya bawa keluar”

“ah…Kokoooo..” sahut suami saya dari balik bahu saya. Ngintip. Lega.

Dan kami berdua kembali ngumpet di dalam kamar. Siapa yang berani keluar kamar? Ih, serem.

Memang sudah berhari-hari ini Koko ogah tidur di dalam rumah. *atau keluar malam seperti biasa* Dia lebih suka nongkrong di halaman belakang dan baru miau-miau minta masuk ketika subuh saya buka pintu belakang. 

Nah, tadi waktu kami makan malam di dapur belakang. Koko memang tak mau beranjak dari pojok halaman. Duduk siaga menghadap tembok belakang.

“Koko lagi dinas ya?” goda suami saya pada Koko. Dan Koko tetap diam tak bergeming. Cueks mode on. Diam mematung memperhatikan tembok. Sementara Ucup, Malih dan Joni sibuk berputar-putar di sekita betis suami saya. Apalagi kalau bukan mengemis sisa ikan.

Rupanya dia sedang menanti makhluk malang itu muncul dari sarangnya. Malam ini hari tersial baginya.






Malang benar nasibmu, Mick!  *baca: si Micky*



Serpong 18 mei 2009l 19.43 (lagi di kamar, nungguin yayangnya pulang, ditemenin Joni yang lagi ‘pingsan’ di sebelah saya, oiya Koko sudah stand by di belakang. Nunggu mangsa berikutnya hehehe.... Met kerja ya, Ko!)

Saturday, May 16, 2009

kebun hujan (di Papandayan)




(1)

Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman.
Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angin
dan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.
Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan
berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan.
(2)

Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujan
dan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan.
Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan.
Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan
dan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan.

(2001; salam untuk cerpen “Hujan” Sutardji)

terimakasih untuk puisi cantik ini (yang juga) saya pinjam dari : Joko Pinurbo ; Celanasenja dan jokpin

this is the other story from our trip to gn. Papandayan, Garut, Jawa Barat. Our election day touring last month with my hubby, MJ  along with our dearest friends : Kukuh and Riam. Previous story are here and here

Wednesday, May 13, 2009

haruskah saya tinggalkan area nyaman saya?

Mungkin saya sudah terlalu lama ada didalam area nyaman yang saya ciptakan sendiri. Nggak bagus sih, tapi apa daya, saya sudah terlanjur amat sangat nyaman di dalamnya. Itu juga yang sebenarnya membuat saya ragu ketika ada tawaran untuk motret kegiatan salah satu perusahaan pemerintah minggu lalu. Soalnya, satu minggu lamanya saya harus nongkrong bareng mereka.

Wah… saya ragu meninggalkan rumah.  Meninggalkan kucing-kucing saya. Berpisah seminggu lamanya dengan cintakuh … *my hubby off course * Siapa nanti yang menyiapkan sarapan untuknya? Siapa yang nanti mencucikan bajunya? Memasak makan malam untuknya, menunggunya pulang kerja.

Atau mengejar kucing garong yang sering mengganggu Kiki? Menggendong Koko yang selalu manja ingin diperhatikan? Dan meninggalkan momen mengamati si Malih yang sedang tumbuh besar? *catatan: Kiki, Koko dan Malih itu tiga dari delapan ekor kucing yang menghuni rumah ini yaaa…*

Tapi yang sering membuat saya sebal adalah ketika saya pulang, keadaan rumah pasti bak kapal pecah. Saya tahu, suami saya sudah mati-matian berusaha menjaga kerapian rumah kami. Tapi selalu saja ada cucian kotor menumpuk di box, dan kadang ia lupa untuk menyapu lantai di kamar atau mencuci piring bekas ia makan. Ah… 

Tapi melihat puncak acaranya ada kehadiran Abah Iwan .Ihiks! Saya tak ragu lagi untuk bilang :

Yups! Take me on board! Hahaha…..


Ketika saya telpon suami untuk minta ijin. Laaaah.. dia malah bilang :

“Pergi aja Hany. Nggak usah pusing soal rumah. Rumah dan mpus biar saya yang urus” katanya dengan bangga.

“beuuuu!” *saya manyun dot kom. *masih mikir cucian numpuk itu lho *

“Sebenarnya saya iri, Hany” lanjutnya lagi.

“luwoh? Kok iri?”

“ini kan kerjaan yang kamu suka sebenarnya.”

“suka gimana?”

“Iya. Bisa motret sekaligus jalan-jalan”

Ah.. bener juga. Lagipula, saya udah kangen pengen naik gunung dan susur sungai. Saya jadi inget saran sahabat saya sebulan lalu. Sudah waktunya kamu keluar rumah dan gaul *halah!*  Uh! Kok rasanya berat sekali ya?

“iya, berat. Tapi bukan berarti harus tinggalkan area nyaman yang sudah ada, nggak ada yang salah dengan comfort zone. Hanya… mungkin areanya sekarang dibuat sedikit lebih luas dari sebelumnya.”


 Hmmm.. betul juga. *wondering mode on dan siap-siap packing untuk seminggu*

Serpong, 13 mei 2009

Thursday, May 07, 2009

kecewa




Kecewa Tentang Kamu Bunga C.Lestari Unduh
 
;