Tuesday, December 15, 2009

Joni hilang!

Baru seminggu kami tinggal disini……Hiks! Joni hilang.

Padahal dia sudah lulus MOK – artinya
- Masa Orientasi Kucing … thanks to Cahyo untuk istilah barunya  - Malah prosesnya jauh lebih cepat dari yang saya duga. Di hari keempat, Joni dan Pippy sudah bisa saya lepas main keluar rumah. Koko, Malih dan Ucup juga menyusul di hari berikutnya.

Mereka sudah bisa main sesuka hati deh. Koko dan Joni loncat tembok ke blok belakang dan bisa balik kembali ke rumah. Malih pergi main ke tanah kosong di ujung blok dan kembali dengan selamat. Hebat kan? 

Nah, Sabtu pagi lalu saya gelisah karena Joni nggak pulang untuk sarapan. Ini diluar kebiasaan Joni. Padahal, malamnya dia sempat tidur di kasur Joni di sudut kamar kami. Tapi kemudian bangun dan mengikuti suami saya yang keluar mengunci motor dan pintu pagar.

Apa Joni kejauhan main hingga nggak tahu jalan pulang? Atau mengikuti kucing garong ke kampung belakang ? Apa dia mencari jalan pulang ke rumah kami yang lama? Itu kan jauh sekaliiiii…. Apa Joni bisa
? Atau …. Apa ada orang yang menculik Joni ya? Huhuhuhu…

Berhari-hari kami keliling komplek. Hingga ke kampung sekitar yang radiusnya lebih dari 5 km. Melongok rumah dan kapling kosong. Bahkan mengendus hingga kolong got. Sambil berlinang airmata saya memanggil-manggil Joni di setiap tempat yang saya curigai akan menjadi tempat persinggahannya.

Berkali-kali salah lihat kucing. Dan kecewa karena itu bukan Joni. Oh…saya sedih sekali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kami berdua jalan kaki mengelilingi komplek tempat kami tinggal. Suami saya malah sudah mengadakan sayembara. –kepada satpam dan tukang sampah di komplek perumahan kami- ada hadiah deeeh kalau bisa menemukan Joni.

Tetangga kanan kiri turut prihatin. “oh.. pasti pulang kok!” kata Kakek sebelah rumah.  “Paling ngejar (kucing) cewek” lanjutnya lagi.

Yang paling kehilangan justru anak-anak tetangga. “Joni hilang ya Tante?” Joni sudah jadi idola mereka semua. Kucing-kucing kami yang lain sudah saya kerahkan untuk mencari Joni.

“Pippy… kalau ketemu Joni.. suruh dia pulang yaaaa”
“urff.. urf…”

Hari keempat saya sudah mulai pasrah dan mengikhlaskan kepergian Joni. Rasanya sulit berharap Joni akan kembali pulang. Belum lagi waktu hujan deras kemarin. Joni lagi ngapain ya? Sambil menangis saya bertanya-tanya. Semoga Joni bisa cari tempat untuk berteduh. Apalagi waktu saya lihat kucing liar mengorek-ngorek tempat sampah. Hiks!

Apa Joni juga sedang mencari makan seperti itu? Somewhere out there… ada kucing hitam yang miau-miau merindukan saya, sedang mencari saya. Dan disini.. saya juga miau-miau ..-ehm.. versi manusia tentunya- mencari Joni.

Malamnya… Sudah tengah malam dan kami sudah terlelap sedari tadi. Kami kelelahan mencari Joni. Tapi kok barusan ada yang menggaruk-garuk pintu kamar. Biasanya sih Koko atau Malih ingin masuk dan tidur di kamar atau Joni waktu dia masih ada disini. Jadi dengan mata setengah terpejam saya buka pintu.

“auuuuu..auuuuuu”

Aah.. rasanya saya kenal dengkingan manja itu. Kucing itu menggelayut manja pada saya. Astagaaaa… Badannya kurus, Luka-luka disana sini dan bulunya nampak layu. Tapi matanya bersinar gembira.

“Joniiii? Ini Joni bukaaan?” aaaaah… saya bangunkan suami saya.

“Ini bukan mimpi kan?”

huhuuuuy!!!! Joni is baaaack…!!!! Tuuuh kaaaan…. Joni pasti tahu jalan pulang.

 Joniiii..Joniiiii!!!! Dan kami bertiga melompat-lompat gembira.  

BTR ini kisah 14 Nov 09 lalu. Menurut kami berdua, Joni itu termasuk kucing yang cerdas. Udah keliatan sejak ia kecil. Coba deh baca kisah Joni waktu ia masih kecil dulu. Disini.
tangga monyet untuk mpus Joni

Wednesday, December 02, 2009

the power of emak-emak

Pagi-pagi sekali, sudah ada tetangga yang datang. Kebetulan, suami saya yang buka pintu.

“Ada bu Joko?”

Wah, tumben nyari saya. Ibu yang tinggal di ujung jalan itu menyorongkan kertas. Saya penasaran.

Rupanya itu petisi dari ibu-ibu di RT kami yang menolak keras tambahan iuran RT untuk bulan depan. Nama saya ada di urutan nomor satu


Iuran rutin RT ditarik bendahara RT tiap bulannya. Kisarannya 50 ribu rupiah. Iuran ini sudah termasuk biaya kebersihan, dan keamanan.

Nah, rupanya bulan depan (lagi-lagi) pak RT -dan bapak-bapak ‘pemalas’ itu - punya ide cemerlang, untuk kerja bakti membersihkan got dan membersihkan  ilalang di rumah-rumah kosong yang belum ditempati, tanpa harus mengeluarkan tenaga dan keringat.


Yup! Yaitu dengan menambah iuran 50 ribu rupiah lagi dan mengupah orang untuk mengerjakannya.

“Lha..iyalah..! dari pada saya sakit pinggang” dalih suami saya.

Hehehe… dasar!

Sebenarnya saya nggak masalah kok mengeluarkan biaya sebesar itu. Saya kan tergabung dalam Ikatan Istri Sayang Suami. Hihihihi…

Toh uang itu akan dipotong dari anggaran bulanan yang diberikan suami untuk saya.  dengan catatan saya harus pandai-pandai mengatur uang belanja. Kalau nggak mau tekor  ketika akhir bulan tiba.


Tapi sebagai sesama ‘menteri keuangan’ saya mengerti betul kegelisahan emak-emak ini.  Maka kali ini saya dukung penuh petisinya. lagipula suami saya perlu berolahraga sekali-sekali. Biar pipinya nggak terlalu chubby seperti saat ini.

Jadi tanpa ragu, langsung saya bubuhkan tanda tangan saya disana. Dan tetangga saya berlalu dengan senang.

Go emak-emak… Go!!!!


Tumben kali ini saya akur dengan tingkah ibu-ibu di RT ini.

BTR, 27 November 2009 (hari raya idul adha. Lagi nyuci baju, semua mpus pada molooooor ..termasuk si chubby yang lagi libur kantor )

Tuesday, December 01, 2009

di tempat kami ada poskamling DUGEM lho

“Whaaaat? Pos kamling?”

Ini kejadian sebulan sebelum kami pindah kesini. 

Waktu kami datang menengok rumah, Pak RT datang menyodorkan proposal. Lagi-lagi ini ide Pak RT kami tercinta. 

Proposal untuk membangun poskamling di ujung jalan. Juga daftar saweran dengan nama suami saya salah satunya.

“Untuk apa pak RT?” sahut saya bengis. (hihihi.. sebel sih)
 
“Kan udah ada satpam komplek?” kata saya, si warga yang nggak gaul dan individualis itu 

“Yaaah.. untuk bapak-bapaknya nongkrong lah buuuuu…” sahutnya dengan logat Bataknya yang kental itu. Dan kemudian meneruskan obrolan dengan suami saya. (catat: suami saya dan pak RT ini satu kantor beda divisi) dan for the sake of ‘nggak enak hati’ dia setujui proposalnya. Uh..! pantes.

“gggggrrrrrrhhh!!!” keluh saya dalam hati. (chicken mode on)

Dulu waktu kami pilih rumah ini, sengaja kami cari rumah yang agak di ujung jalan. Biar nggak terlalu ramai. 

Ada juga sepetak tanah kosong persis di ujungnya. Kata si developer, itu akan dijadikan taman kecil atau median jalan. 

Agenda tak resmi saya, sepetak tanah kosong itu sih.. untuk tempat mpus main dan puppy.. hihihi..

Maka musnahlah angan-angan saya. Saya sudah terlanjur memilih rumah no 32 ini.

Saya yakin ini bukan murni idenya. Pasti ini ide kolektif dari bapak-bapak RT kami yang hobinya gaul. Dan betul juga. Begitu kami pindah kesini, saya nyaris pingsan melihatnya.

Pos permanen, dengan dinding bercat oranye ngejreng, lantai keramik tinggi 30 cm, atap asbes miring 30 derajat. Oh.. jangan lupa, ada untaian lampu kelap-kelip yang nyala waktu malam hari. Satu kandang burung perkutut milik pak RT. Satu keran air+pompa di sudut yang lain. Dan satu lagi…..

Ada tulisan POS BHINNEKA TUNGGAL IKA di temboknya.

Kali ini saya benar-benar pingsan!


BTR 1 Des 09 (saya yang lagi ‘pingsan’ )
 
;