Monday, April 24, 2006

a step to Rinjani






"Jalur Torean longsor, nggak yakin deh bisa dilewati saat ini." Itu komentar penduduk dan para porter-porter yang kami tanya sore itu di Sembalun. “Medannya beraaaaaaat!!!”



Apa boleh buat, terpaksa keinginan itu kami pendam dalam-dalam. Berharap ada satu keajaiban. Tentu dengan seizin-Nya kami dapat turun ke sana. Bila tidak, mudah-mudahan suatu waktu, kami akan dipertemukan kembali.



Hati masih ragu sekaligus penasaran. Bukit penyesalan kami lewati. Plawangan sembalun kami habiskan sambil duduk termangu di sore hari. Puncak kami sapa sejak setengah dua subuh dari camp plawangan. Hingga akhirnya kami terdiam di tepi danau sembari menatap pelangi.



Setiap dari kami, diam. Sibuk bercakap dengan dirinya masing-masing,  sibuk meyakinkan hati masing-masing. Sibuk meredakan rindu pada air dan hutan.



Sementara pendaki lainnya, datang dan pergi menuju Senaru. Sisanya melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun.



Dan kami masih di danau. Hingga akhirnya bertemu dengan porter yang baru saja turun dari Senaru dan hendak melanjutkan perjalanan menuju Torean.



"Memang, banyak yang pasang dan longsor akibat hujan waktu lalu. Jalur putus nyambung, tapi masih aman untuk dilewati.”



Wajah dari kami diam-diam melayangkan senyum.  Dan kami saling berpandang-pandangan…..



 Akhirnyaaaaa…….. J



 



(terutama untuk teman seperjalananku kali ini, Joe dan Ivan. Thanks guys! Sekeping bayangan untuk trip Rinjani 11-15 April 2006)



 



Yang pengen tahu rencana awalnya, silakan lihat disini : susur pantai ke ujung kulon ..(luooh?)atau pengen denger theme songnya? hehe... Kembang Padang Ilalang

Friday, April 21, 2006

pendaki superhero vs pendaki kemping ceria


 


“Ini Bang Daniel, bukan?” tanya Joko harap-harap cemas. *kalo ini acara reality show H2C seperti yang ada di sta. TV swasta itu waaah, dijamin kalah jauh deh* HT baru saja dikeluarkan. Frekuensi disesuaikan. Sedikit berharap dan mencoba keberuntungan. Semoga saja, ia sedang ada di ‘udara’ *maap maap deh, bukan burung loooh!*


 


Kecemasan Joko cukup beralasan. Pasalnya, waktu kami naik empat hari yang lalu, Bang Daniel tidak ada di pos 1 Harimau Campo, di tempat biasanya ia mangkal. Menurut warga desa Pinaga yang kami temui sebelum pendakian  “Lagi pulang kampuang!”


 


Tak lama kemudian.


 


“iya. Ini Daniel” suaranya jernih menyejukkan.


 


Kami semua menarik nafas lega. Saat itu hampir menjelang tengah malam. Salah kami juga sih. Terlalu siang turun dari pos Bumi Sarasah.  Heri sedang mengigit-gigit kuku, duduk berhimpitan dengan kerir 100 liternya di tengah semak belukar.


 


Ika masih berdiri dengan gagahnya, walau tadi dengan kerir besar segede kulkas dua pintu, berusaha mencari stringline yang kemaren kami pasang dan terus berjalan nyaris mencapai tepian air terjun yang ada di dekat pos Harimau Campo. Kalau saja tidak segera di kejar oleh Joko.


 


Sedang aku, duduk terdiam, sedikit diatas mereka. Memakai raincoat basah, dan duduk dengan pasrah di kelilingi pacet-pacet yang siap *dan sudah* menghampiri. Waktu turun, mata kananku terus berlinang airmata, berdenyut-denyut tiada henti dan kepala pusing luar biasa hebatnya. Dengan kata lain…. Tewas dengan suksesnya. Nggak bisa apa-apa boow!


 


“Kami hampir mencapai pos nih Bang Daniel. Cuma, kelihatannya terlalu melambung ke kanan .. mendekati air terjun, turun terus……… daaaaannn akhirnya” suara Joko semakin meninggi...


 


” …Guooooooool!”


 


Hihihihi..maaf nih pembaca, waktu itu saya lagi error. Dalam imajinasi saya sih begitu pendengarannya. Tapi sebenarnya, Mbakyu Djoko sedang berkomunikasi dengan Bang Daniel untuk kembali ke jalur yang benar *halah!*


 


Jadi inget kejadian kemaren malem. Waktu kami ngecamp di Pos Pondok Sarasah.


 


“Kagak salah nih Mbakyu? besok summit attack naek serebu meter?” tanyaku dengan takjubnya.


 


Joko nyengir.


 


“SERIBU METER???!!!” ulangku lagi masih dengan nada tidak percaya.


 


Heri menundukkan kepalanya dalam-dalam. Silent mode on dan masih sibuk check body. Apalagi kalo bukan terhadap pacet. Ika sudah rapi jali dan sedang mengupas bawang.  Malam itu kami sudah ngebase di Pos Pondok Sarasah. Melihat itinerary yang sudah kami buat sebelumnya. Whuuahahaahahaa……….. behind schedule semuaaaaa!


 


“Yaaah… gimana lagi. Mengingat, ada yang kepengen berfoto dibawah jam gadang!” jawab Joko sambil menyikut halus perut Heri dan melirik kepada Ika dengan penuh arti.


 


Huuuuuuuuu!!!! Aku tahu nih. Ini konspirasi! Sebenernya yang punya tekad kuat untuk berfoto dibawah jam gadang itu adalah diriku seorang.


 


“Puncak Talamau bukan tujuan utama. Berfoto dibawah jam gadang. Itu yang utama”  lanjut Mbakyu Djoko dengan mantap. Deu! gayanya udah kayak pejabat teras aja nih.


 


Bener juga sih. Setelah mereview perjalanan kami tiga hari terakhir. Jalurnya berat banget. IMHO nih. Kalo diklat, cocoknya emang disini. Dan yang ..ehem.. cukup jelas, managemen waktu kami yang buruk. Lengkaplah sudah.


 



Maka, setelah menimbang dan memutuskan, cukup beralasan juga bagi kami untuk summit attack keesokan harinya, langsung ke puncak. Dari Pos Bumi Sarasah 1865 mdpl ke Puncak Trimartha 2912 mdpl. Busyet daaaah!


 


Maka malam itu, daypack disiapkan berikut kamera dan tripod.  Ini sudah hari ketiga. Dapatkah kami terus menjaga semangat untuk terus maju?  Hehehe.. mengejutkan. Ternyataaaaaaaaa……


 



“Mhuaaannnaa ekspresi looooe?”


 


Seru mbakyu Djoko kepada kami bertiga. Gayanya udah kayak iklan di TV aja deh. Saat itu pukul setengah empat sore. Sesi foto-foto Maaan! Kami berdiri dengan rapi, tertawa bahagia, tepat dibawah kubah kecil yang berdiri solo diatas puncak Gunung Talamau. Thanks god. Walau kabut dan matahari hanya setengah detik nongol dibalik awan.


 


Nggak tahu kaaan kalo tadi kami berempat sempat bertangis-tangisan saking terharunya. *ceileeee.. cengeng bangeeeet*


 


Perjuangannya itu lho. Bro Heri saja nyaris patah semangat dan berniat untuk menuinggu kami di tepian telaga. Sementara aku, letih lesu tak bersemangat sepanjang perjalanan. Padahal kami semua nyaris tanpa beban, udah kagak pake kerir lagi. Tapi rasanya, perjalanan kali ini tiada berkesudahan. Lama banget!


 


Sambil menggelar trangia, sementara para banci foto : catat : Ika, Heri dan Mbakyu Djoko sibuk jeprat jepret disana sini *bencih akuuuh!* Aku ngebut masak teh+kopi hangat, mie+laukkan. Bukannya apa-apa Broer! Laper!!! Ritual makan siang yang tertunda seharusnya sudah sejak tadi kami lakukan.  Target hari itu tidak muluk-muluh deh. Segera turun kembali ke Pos Bumi Sarasah dan ngecamp semalam lagi.


 


Selepas Pos Paninjauan [2575 mdpl] tadi kabut tebal dan angin kencang selalu mengikuti pendakian kami. Padang Siranjano [2764 mdpl] Basecamp Rajawali [2782 mdpl] kami lalui dengan perlahan. Hanya sempat jeprat-jepret sebentar di tepi Talaga Si Untuang Sudah dan Telaga Puti Sangka Bulan. Hmmmm… what a journey …


 


“Ries!.. yuuuuks! Kita jalan lagi.” Kata Joko memecah lamunan. Ika dan Heri sudah siap di depan. Rupanya Bang Daniel yang baik hati itu berinisiatif menjemput kami.  Dibantu tongkat milik mbakyu Djoko, tersaruk-saruk aku melangkah. Lima menit kemudian kami sudah tiba di Pos Harimau Campo.  Senangnya melihat pos yang kering dan terang benderang itu. Warnanya kekuning-kuningan dan hangat sekali. Rupanya genset sudah dinyalakan.


 


Sambil memicingkan mata, aku kembali menoleh pada kegelapan hutan di belakang sana *sumpah, sebenernya kagak bisa ngeliat apa-apa J* Sampai ketemu lagi Talamau. Sungguh… tidak heran, banyak sekali yang penasaran untuk menyapamu !!


 


Sambil menundukkan kepala dan nyengir sendiri aku kembali berucap “ dan hehehehe.. Jam Gadang… I’m comiiiiiing!”


 




 


Tengkyu somad buat :




  • terutama buat R. Joko Sutias, Ika Dewi Kartika dan Heri Supriyanto ... temen seperjalanan kali ini.


  • Para nara sumber yang kami ‘teror’ baik via telpon, sms maupun email ..hehehe..: Mas Hendri, Ronny Kang di Bandung, Tammy, Alex… makasih yaaa!


  • Bang Daniel di pos harimau Campo atas keramahtamahannya dan bantuannya yang tanpa pamrih


  • Tukang ojek yang siap menjemput kami di tengah malam buta, walau sungguh kami tahu, setelah 6 jam hujan, jalanan licin. Masih harus mengangkut kami+kerir yang beratnya segede gaban


  • Warung di pos ds. Pinaga, untuk mie hangat+kopi+teh manis dan tumpangan untuk mandi


  • Temen-temen yang terus memantau kami, Jenny, Bro Kris, Aditya, Joe, Elly, dan temen2 lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!


 


foto-fotonya juga ada disini, monggoooo : mohon jangan goda pacar-pacar saya


ataaau ada juga disini : suatu pagi di depan jam gadang


 


t'shirt terkait  : KKC tshirt [limited edition]

Thursday, April 20, 2006

suatu pagi di depan jam gadang




sebenernya ini obsesi lama ingin berfoto lagi di bawah jam Gadang. Hampir sepuluh tahun yang lalu aku pernah datang kesini, tapi tidak begitu banyak perubahannya. Suasananya masih sama seperti dulu. Masih dingin!! dan pada saat yang bersamaan terasa hangat dan ramah... hmmmm... kapan ya bisa kesana lagi?

*catatan kecil. Bukit Tinggi 3 April 2006*

 schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!

mohon jangan goda pacar-pacar saya




itu adalah judul salah satu tulisan pada surat kabar setempat, yang ditempel pada dinding bilik pondok di Pos Harimau Campo. Pos pertama sebelum pendakian ke Gunung Talamau. Tempat dimana Bang Daniel bermukim beberapa tahun terakhir. Tempat dimana, ia mencatat satu demi satu pendaki yang ingin berkunjung kesana.



Begitu cintanya ia pada Talamau.



Itulah sebabnya... betapa berat rasanya perjalanan kami kesana. Betapa jauhnya.



Tapi derasnya hujan selama perjalanan menuju Bumi Sarasah sempat membuat kami ragu. Tapi pekatnya kabut di Padang Siranjano membuat kami 'lupa'. Tapi dinginnya angin di tepian Telaga Puti Sangga Bulan membuat kami 'lengah'.



"Sungguh Bang Daniel... kami tidak akan menggoda pacar-pacarmu"



*catatan kecil pendakian gn.Talamau 2982 mdpl, , 29 maret-3 april 2006 Pasaman, Sumatera Barat bersama temen-temen dari Klub Kemping Ceria :Joko, Ika dan Heri... I love u all!

schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!


spin offnya sih [hehehe...] please refer to this : suatu pagi di depan jam gadang


 
;