Thursday, February 11, 2010

kucing juga (suka) olahraga




Rasanya dulu saya pernah baca kalau kucing juga perlu olahraga. Aneh juga. Kucing kok harus olahraga. Tapi kalau dipikir-pikir ya ada betulnya juga. Nggak hanya anjing yang harus diajak jalan setiap pagi dan sore, kucing juga perlu, apalagi ini kucing rumahan. Saya nggak mau kucing-kucing saya obesitas gara-gara kerjanya hanya makan dan tidur  Saya kan pengen juga lihat kucing jantan kami berbodi sekseh dan berdada six pax kayak kucing-kucing garong itu lho.

Sebenarnya sejak kami tinggal di BSD dulu si meong ini rajin ikut olah raga. Saya lupa gimana awalnya. Yang jelas waktu itu kami –saya dan suami- hanya ingin jalan subuh saja di taman lingkungan yang ada di depan rumah. 

Awalnya Pippy lalu Joni .. dan akhirnya semua kucing turut berjalan kaki alias berlari-lari kecil mengikuti kami. Sayang barisannya nggak pernah rapi. Pasukan kami akhirnya tersebar dimana-mana. Ada yang nyangkut di rumah tetangga, ada yang pup dulu dibawah pohon taman, ada yang mogok jalan dan lebih suka menunggu kami selesai satu putaran dan ada juga yang meong-meong melolong panjang minta di rescue. Halah!

Nah, begitu kami pindah ke Bekasi. Kebiasaan itu tak pernah kami tinggalkan. Biasanya –ini kalau kami nggak males dan nggak hujan- seusai sholat subuh, kami berdua pergi ke blok belakang rumah kami. Blok di belakang masih banyak bangunan dan tanah kosong, jadi relatif sepi.

Kelima ekor kucing kami tanpa diperintah lagi sudah berjalan atau berlari-lari kecil mengikuti kami. Yang paling tabah sih Pippy dan Joni. Dengan setia mengikuti kemana kami pergi. Malih sering tergoda untuk terjun ke dalam semak-semak. Atau kalau dia letih, dari posisi lari langsung tidur berguling di tengah jalan.

Ucup kadang-kadang ikut. Itupun kalau subuh-subuh itu dia ada di rumah. Tapi hebatnya, dia tahu aja kalau kami serombongan ini sedang jalan pagi di blok belakang. Tiba-tiba Ucup sudah berlari kencang menyusul kami. Tapi lain lagi dengan Koko si mpus manja dan cupu itu. Duh.. baru jalan sebentar sudah miau-miau minta di gendong. Capek deeeh!


BTR 12 Februari 2010, 10.47

Wednesday, February 10, 2010

KOKO hilang (lagi)

Koko hilang (lagi). Kalau dihitung sejak ia kecil dulu. Ini kali ketiga dia hilang dari rumah. Padahal minggu malam lalu dia masih berlari-lari kecil sambil nyengir gembira (ini menurut saya lho) menyambut kami -saya dan suami- pulang. Waktu itu memang agak larut kami  pulang. Seharian pergi keluar rumah, yang kami inginkan  hanyalah segera mandi dan rebah di kasur! Uh.. lelah sekali.

Maka, sementara saya memberi makan kelima ekor kucing kami. Suami saya mengeluarkan barang-barang dari mobil.

Tapi, esoknya Koko melewatkan sarapannya.

“Mana si Koko?"
 “Ah.. paling lagi asyik main dan lupa pulang” kata suami saya.

Ini diluar kebiasaan Koko batin saya khawatir. Hingga siang berlalu dan kemudian malam, Koko belum juga pulang. Wah, pasti Koko main terlalu jauh nih. Kalau hanya di komplek ini, saya yakin dia bisa pulang. Dia hapal kok jalan pulang. Malam itu hati saya tak tenang, kemana ya? Ini sudah lebih dari 24 jam. Sudah bisa dilaporkan ke polisi. 

Hingga keesokan paginya, ketika semua kucing dan kami selesai sarapan.

“Koko kemana ya?” tanya saya sendu.
“Nanti malem kita cari ya” bujuk suami saya sambil mendorong motornya keluar rumah dan bersiap untuk berangkat kerja.

Saya sedih deh. Kasihan Koko, dia pasti kelaparan. Saya mencoba mengingat-ngingat terakhir kali melihatnya.Lalu wajah saya mendadak tegang.

“Apa dia ikut masuk ke dalam mobil ya?”

dan kami berdua saling berpandangan. Sedetik kemudian saya melompat dan mengambil kunci mobil. Saya lari menuju mobil. Begitu saya buka pintu mobil, ada suara miau-miau lemah namun gembira.

Aduuuh.. itu Koko!!!

Kontan ia melompat ke dalam pelukan saya lalu mengendus-endus wajah saya. dengan nikmatnya. Sepertinya dia ingin mengadu. Tak terkira senangnya saya. Kami pun masuk ke dalam rumah. Setelah itu Koko minum dan makan tanpa henti.  Balas dendam rupanya dia. Dan nggak mau pergi jauh-jauh dari saya. Koko trauma. Koko.. maafkan saya ya.

Moral of the story : kalau kucing kalian hilang, coba periksa mobil deh. Siapa tau si mpus terkunci didalamnya. Apalagi mobil kami itu termasuk tipe mobil sabtu minggu. Yang hanya keluar rumah kalau hari libur tiba  saya nggak bisa bayangkan kalau Koko terkurung selama itu. Padahal hari itu saya bolak-balik keluar rumah untuk menjemur pakaian. Mungkin suaranya sudah serak memanggil saya tapi saya tak mendengarnya. Duh.. rasanya berdosa sekali. Maafkan saya ya Koko.

Gara-gara Koko terkurung di dalam mobil ini saya jadi ingat acara Opray Show di TV beberapa waktu lalu. Saya nggak ingat apa judulnya tapi ini kisah nyata tentang super-MOM. Ibu-ibu super yang harus multitasking dan sempurna. Ya kerja ya ngurus rumah juga. Dia menjadi staf salah satu sekolah tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ah..di musim panas itu, tahun ajaran baru saja dimulai. Maka pagi itu dia sibuk membangunkan si sulung, menyiapkan sarapan, menyiapkan ini itu, menyiapkan si bungsu yang akan dititipkan di tempat penitipan balita, berbagi tugas dengan suaminya yang akan berangkat kerja dan segera berangkat ke sekolah tempatnya kerja.

Ini hari pertama. Hari itu berjalan seperti biasa. Dia amat bersemangat di sekolahnya. Membagikan donat dan kopi yang sempat ia beli sebelum tiba di sekolah. Menyapa semua rekan kerjanya dan sibuk mengerjakan pekerjaan hari itu.

Lalu malapetaka itu terjadi. Ketika salah seorang rekan kerjanya bilang kalau dia melihat anak bungsunya ada di dalam mobil.  Maka berlarilah ia ke halaman parkir.

Sambil menangis ia membuka pintu belakang mobil. Anak bungsunya sudah tewas. Dehidrasi. Hari itu panas sekali.Dia lupa, kalau hari itu tugasnya membawa anak bungsu ke tempat penitipan. Terlalu banyak yang dia pikirkan dan kerjakan. Dia kira ia sempat mengantar si bungsu sebelum berangkat ke kantor. Tapi dia lupa.

Saya nggak ingat juga gimana endingnya. Apa dia masuk penjara karena lalai. Atau pengadilan disana justru membebaskannya karena alasan supermom itu. Suaminya memaafkannya. Dia tahu betul istrinya. Istrinya itu adalah tipe ibu yang amat mengasihi anak-anak mereka.

Tapi yang saya ingat adalah matanya. Iya. Matanya memancarkan rasa penyesalan yang mendalam. dan saya yakin akan terus begitu selama sisa hidupnya. Ini hanya satu kisah.


BTR, 9 Februari 2010*walau setelah itu saya harus kerja bakti membersihkan mobil. Maklumlah, 36 jam terkurung di dalam mobil. Koko ya sudah pasti pup n pis di dalam mobil. Nggak apa-apa kok Koko. Saya nggak marah kok.Seharusnya saya periksa dan periksa lagi ketika akan mengunci pintu mobil. Saya janji, nggak akan terulang lagi!

Friday, February 05, 2010

jadi kribo

(lagi nelpon suami tercinta yang lagi ngantor)

“halo?”

“Iya Hany?”
 “Saya nggak mau ke salon itu lagi”

“Kenapa?”
“rambutnya jadi kribo”

Senyap. Lalu.


“…buhuahahahahaha!!”
“Udah ya. Lagi sebel nih”
“ya deh”

(Klik! Tuuuuut..tuuuuuut….)



Namanya juga baru pindah rumah. Masih perlu orientasi. Ke salon salah satunya. Nggak rutin sih. Tapi saya seneng aja kalau setelah creambath, rambutnya akan di blow catok. Rambutnya jadi lurus gitu lho. Maklumlah, rambut saya kan keriting tak terkendali. Biasanya berhari-hari setelah nyalon, saya seneng banget bisa punya penampilan sedikit beda. Tapi tidak kali ini. Kayaknya tukang salonnya lulusan tahun 80-an deh.

Huh! Harus cari lagi deh..!


BTR, akhir Desember 2009

Wednesday, February 03, 2010

untukmu Ceto, seribu tahun lagi




Saya datang lagi…. Bisik saya dalam hati. Rasanya sudah lama sekali. ketika terakhir kali saya ada disini. Semua masih sama ……..Dan (saya rasa) akan tetap sama untuk seribu tahun lamanya. Semoga…




(trip tour de Solo, setelah lebaran 23 September 2009 lalu, bareng suami tercinta dan si Malih) selengkapnya mengenai candi Ceto disini)

Terletak di ketinggian 1400 mdpl di lereng barat Gunung Lawu, Candi yang dibangun sekitar enam abad silam di akhir masa kejayaan Majapahit dibangun memanjang dari barat ke timur, terus keatas dan mengarah ke puncak gunung Lawu. Dulu ketika ditemukan, bangunan ini hanya berupa reruntuhan batu dalam empat belas dataran bertingkat namun pemugaran yang dilakukan hanya pada sembilan tingkatan berundak saja.

Terakhir, pemugaran yang dilakukan pada akhir tahun 70-an mengubah banyak struktur asli candi dan menuai kritik oleh pakar arkeologi karena dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru itu diantaranya gapura megah yang ada di muka candi, bangunan kayu tempat pertapaan, tambahan patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus  dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Malah untuk semakin meningkatkan suasana keagaamaan Hindu disini, Bupati Karanganyar menempatkan arca Dewi Saraswati di bagian timur kompleks candi. Hingga saat ini candi ini masih digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu dan tempat pertapaan bagi kalangan penganut Kejawen.
 
;