Tuesday, October 25, 2011

hatiku tertinggal di baiturrahman




Saya ingat, tepat sebulan setelah Tsunami. Di sela-sela kegiatan kami waktu itu, tak diduga, kami ditawarkan untuk sholat subuh di tempat ini.Hanya berdua dengan teman perempuan saya yang dari Jogja, sesama relawan.  

Kami  masuk dari pintu utama. Ada jam besar disana. Dinding putihnya sedikit kotor dan menara selatan terlihat retakan. Halamannya sudah bersih dari puing. Tapi daerah di samping kanan, kiri, depan dan belakang mesjid masih penuh dengan tumpukan kayu, seng, tembok dan perabot rumah. 

Tapi anehnya. Mesjid ini terasa agung seolah tak tersentuh hiruk pikuk di luar akibat bencana. Kami sholat tahiyattul masjid dan sholat subuh disana. Dan yang paling saya ingat. Banyak burung yang terbang mondar-mandir di langit-langit mesjid. 

Dan ketika kemarin saya kembali kesana. Rasanya masih tetap sama. Masih terasa agung dan membuat saya ingin terus kembali dan kembali lagi. Hanya sayang, burungnya sudah tak ada lagi disana. Mungkin dulu, korban tsunami juga yang sedang mengungsi kesana.

hmm.. baru saya sadari. Rasanya sih begitu.

Bandaaceh, 4 September 2011 (ditulis hari ini, oktober 25 2011, 10:20)  

8 comments:

DhaVe Dhanang said...

cihuy..sedapnyo

DhaVe Dhanang said...

aih keren abis pisan euyy..

DhaVe Dhanang said...

asyiik mommentnya

DhaVe Dhanang said...

asyik framingnya

DhaVe Dhanang said...

barang bukti

a riesnawaty said...

selalu mas dhanang.. selalu ada barbuk.

a riesnawaty said...

sulit dapet momen-nya. hari lebaran ke sekian. terlalu ramai. banyak orang yg wisata kesini.

a riesnawaty said...

nyuri2 dari shaft cewek... hehehe..
makasih dah mampir mas..

 
;