Thursday, July 10, 2008

TOUR DE KAMPOENG *Huh...! Kejaaam*

kisah yang lalu : episode : MAKAN SIRIH BARENG (it’s very-very dangerous. Do not try this at home)

pagi itu disela-sela acara tour de kampung.

Saya *si anak manja ituh * : “Tapi Swas.. aku pengen pipis nih”

Suwasti *dengan tampang sebal* : “Ya pipis ajah disini”

Huh kejam! Dia sih enak. Udah pup di seberang kali. Diantara semak belukar pula.

Lah diriku? Yang ditinggalkannya merana sendirian di seberang kali. Mengamati ibu-ibu mencuci pakaian, remaja putri yang mencuci piring gelas. Dan bocah kecil yang mengambil air dalam batang bambu.

Kemudian ekor mataku melihat gadis remaja yang baru datang. Menarik sedikit kainnya. Dan duduk berjongkok di tengah aliran sungai.
 
Suwasti *lagih* : “kayak gitu tuh”

Aku nyengir.

Seperti penjelasan Suwasti kemudian. *sekarang kami sudah gencatan senjata* untuk urusan MCK, mereka menganut sistem zoning, pembagian wilayah. Untuk para lelaki, MCK mereka ada  di sekitar jembatan, nah …cewek sedikit di hilir.  Nggak boleh pake bahan kimia. Jadi, nggak ada sabun, odol and the gank.

Gelasnya pun dari buluh bambu. Piring dan mangkuk yang mereka pakai dari keramik. Antik banget. Jangan-jangan ada peninggalan kaisar Ming disini. *wondering*

Pakaian mereka hanya ada dua warna. Putih dan hitam.  Pakaian untuk kaum pria  *termasuk anak-anak kecil-nya ya* pasti memakai ikat kepala berwarna putih. Baju kurung lengan panjang jahitan tangan. Warnanya hitam, putih atau kombinasi keduanya -putih dengan lengan hitam- wah.. trendy juga.

Bawahannya nggak dijahit seperti celana, tapi berupa kain hitam bergaris yang disarungkan diatas lutut. Lengkap dengan golok baduy yang tersampir di pinggang masing-masing.  Sayang nggak bisa dipotret.













Nah.. sekarang mengenai para wanita. Bentuk dan warna bajunya sama, baju kurung hasil jahitan tangan yang amat rapi. Dikombinasikan dengan kain kain hitam panjang. Untuk ibu-ibu dan gadis remaja rambutnya biasanya digelung. Pake make up pula. Cantik sekali. *saya nggak tau mereka pake make up apa. Soalnya, tiap dideketin pasti mereka ngumpet, atau malu-malu kuciang gitu deh*

Dan baik laki-laki dan perempuan menambah asesories gelang dan kalung manik-manik berwarna warni. Kereeeen…!

Orientasi rumahnya juga searah *kalo  nggak salah utara selatan yaa.. kalo salah maaab* ada jalan utama, ada jalan sekunder. Jalan selebar 1-2 meter yang diberi paving potongan batu alam.

Di ujung kampung, ada tanah luas yang kusebut alun-alun.

Bentuknya persegi panjang, persis kayak lapangan bola. Di sisi terpendeknya terdapat rumah puun kampung cibeo.

Di sisi terpanjang  alun-alun ini, berderet beberapa rumah tinggal.

Salah satunya milik jaro. *tangan kanannya pu'un* dan jauh diseberang rumah pu'un di ujung lapangan ini, ada tempat menumbuk padi dan bale pertemuan. Bangunan beratap tanpa dinding. Aku dan Suwasti sempet lihat ibu-ibu numbuk padi pagi itu. Dan tak jauh dibelakangnya mengalir sungai yang tadi kami datangi itu.


“akhirnya datang juga!”

Seru Sondang dan Hanum bersamaan. *kayak acara di TV itu lho* sementara di dapur, Taufan sedang sibuk memasak nasi goreng untuk kami semua. Oh. Ada tambahan bubur kacang hijau pula. Wheeeeh.. syedaaaap…!


Kami sarapan tak sendiri. Pasti ada deh, satu atau dua orang baduy yang datang berkunjung dan menemani. Juga anak-anak kecil yang ‘diteror’ Hanum untuk makan bubur kacang hijau.

“Program perbaikan gizi, mbak”

Buktinya mereka doyan tuh.

Setuju Hanum!

Sayang kami harus segera pulang. Kalo nggak mau ketinggalan kereta.

Pagi-pagi sekali kami harus mulai bergerak meninggalkan kampung Cibeo.  Jalur pulang kami tidaklah sama dengan kemarin. Kali ini kami menuju Ciboleger. Sebenernya Ciboleger ini adalah pintu masuk resmi bila ingin berkunjung ke kawasan Baduy.

Pak Sardi melepas kepergian kami.  Ada dua orang yang ingin menemani kami hingga Ciboleger. Ada satu bapak juga yang pengen ikut.

“Pengen jalan-jalan aja katanya”  jawab Suwasti ketika aku tanya kenapa.

Kami berlima berjalan  meninggalkan rumah pak Sardi. Menjemput Taufan di rumah tetangga. Lah? Mbawa apa dia? Di kerir 45 liternya sudah menggantung dua tempat air yang terbuat dari labu. Bentuknya jadi seperti bebek gitu deh. Warnanya abu-abu kehitaman. Dan ketika aku pegang.

“Duh.. fragile banget sih Faaan!”

Aku ragu kendi itu akan bertahan hingga Jakarta. *dan berharap pecah di jalan.. huehehe…maab paaak.. ampuuun*

*and you know what? Akibatnya aku dikutuk untuk terus memangku kendi itu sepanjang perjalanan dari Rangkas menuju Jakarta. Terus waspada mode on sepanjang jalan.  Takut pecah boooo! Duduk berhimpitan diantara penumpang lain dan pedagang asongan yang terus-menerus lewat di dalam kereta. Hiks! Dunia memang kejaaaaaaaam…*

Nah.. kembali ke perjalanan menuju Ciboleger. Jam setengah sembilan tepatnya kami baru melangkah meninggalkan Cibeo. Mulanya melewati jembatan bambu. Dan dimulailah petualangan never ending tanjakan yang terkenal itu. 

Daypack Suwasti dibawakan oleh salah satu penduduk Baduy yang menemani kami hari itu.

“sok luuuu”

“katanya pendakiiiih”

“halaaah.. pake malu-malu segalaaaa”

Itu kata-kata bijak kami pagi itu padanya.


Dan Suwasti tersenyum malu.  Sebenarnya, kami berlima yang baik hati dan tidak sombong ini   tahu kalo bahu kiri Suwasti sempat cidera waktu maen sepeda awal bulan lalu. 



Nggak pengen dong, cideranya bertambah parah. Apalagi kemaren kaki kanannya sempat terkilir pula. Waaah.. banyak amat sih bu?

Formasi barisan, tetap seperti kemarin. Di depan teman baduy kami sebagai penunjuk jalan. Taufan, Hanum, Sondang, Aya, Suwasti dan aku beriringan di belakang.

Jalur yang kami lalui ini tidak melalui Gajeboh yang harus naik turun bukit dan menuruni lembah yang panjang itu.  Tapi memotong jalan.

Mendaki sedikit dan tetap berada di pucuk-pucuk bukit *hihihi.. susah juga nih istilahnya* dan masuk ke hutan lindung.

Untuk menyusur gigiran pasir. Sayang nggak bisa motret. Padahal hutannya indah sekali.  Katanya, ntar di ujung hutan. Udah bisa motret. Udah masuk baduy luar.

Aku *pengen tahu* : “udah bisa motret belum, Kang?”

“Belum”


Sempet ketemu monyet. *dari jarak jauh tentunya* melihat jebakan burung *bentuknya batang bambu yang dipasang vertikal dengan tali layangan -seperti kerekan tiang bendera- kemudian dipasang jaring diujungnya dan secara berkala di periksa. Siapa tahu, ada yang terjerat*. Juga tangga bambu untuk memetik buah aren. Berupa satu batang bambu yang di beri tukikan setiap 30 cm untuk pijakan kaki. Nah. Batang itu diikatkan di pohon aren. Dan.. voila.. jadi deh.. tangga buat naek ke atas.

Aku *lagi-lagi iseng tanya* : “udah bisa motret belum?”

“Beluuuuuuum”  kali ini beberapa orang turut menjerit.

Aku nyengir lagi.


Catatan : foto ilustrasi yang digunakan dalam catper ini adalah foto-foto selama di baduy luar. Pada dasarnya gambaran yang diberikan kurang lebih sama antara baduy luar dan baduy dalam.


selanjutnya episode : who scrathes at the blue sky

Wednesday, July 09, 2008

tangga monyet untuk mpus joni

Kemaren sore saya dengar ada orang yang sedang menebas alang-alang di kapling belakang. Di mulai dari ujung kapling hingga batas tembok belakang rumah kami.

Sempat saya intip sih. Orangnya nggak keliatan, tapi pagar seng kapling yang biasanya digembok, sudah terbuka sebagian.  

Saya tahu, saya tak punya kuasa atas kapling kosong itu. Tapi boleh lah saya terus berharap, semoga kaplingnya tetep kosong untuk selamanya. Hehehe… jangan sampai dibangun rumah deh.  

Saya masih seneng dengan angin cepoi-cepoi di siang hari yang nyelonong dari belakang. Saya masih cinta dengan suara burung yang bersarang di pohon papaya di belakang sana. Kadang-kadang, saya rindukan juga suara tokek yang sesekali unjuk gigi atau capung dan kupu-kupu yang nyasar hingga dapur saya.  

Seluruh kucing di rumah rupanya sama ingin tahunya seperti saya. KIKI-MIMIN-KOKO nongkrong di tembok belakang, mengamati. Tumben mereka betah berlama-lama disana. 

 Entah pukul berapa orang itu selesai bertugas. Mungkin sekitar magrib karena hari mulai gelap. Mulailah jendela saya tutup dan lampu dinyalakan. Setelah ini selesai, mpus-mpus akan makan malam. Tapi kenapa ada suara miau-miau memilukan dari belakang sana ya? 


 Sambil menyeret kursi dan menempelkannya dekat tembok belakang, saya mengintip melihat ke belakang. Sudah gelap disana. Alang-alang belakang sudah rebah semua.  Dan seekor kucing mungil yang panik berat karena tidak bisa naik kembali ke atas tembok.

Huh.. siapa lagi kalau bukan Joni. Si bungsu ini sepertinya tadi mengikuti kakak-kakaknya *MIMIN-KIKI-KOKO* terjun bebas dan bermain di kapling belakang.  

Seingat saya, ada tangga Joni deh disana *hehehe.. ini istilah saya aja. Sebuah papan kayu bekas yang ditemukan di tanah belakang rumah. Ditumpangkan dengan sudut tertentu, sehingga kucing centil ini bisa memanjat sendiri ke tembok pagar belakang rumah kami* 

 Ah.. Joni.mengulang kembali kisah beberapa minggu lalu rupanya. Ketika suami saya yang tubuhnya lumayan sekseh itu   *“Kamu yakin?” saya sempat ragu dan memegang kuat-kuat tangga yang dipakainya* harus meniti tembok belakang dan melompati teralis besi setinggi 2 meter untuk menyelamatkan si Joni ini.  

Proses SAR kucing kecil ini selesai sudah. Dan bonusnya, tangga Joni dipasang disana. 

 “Arghhhhh…” saya mengeluh panjang. Tangga Joni sudah hilang. Mungkin orang yang menebas alang-alang tadi ikut menyapu bersih papan kayu ini. Duh.. Joni, maafkan saya ya.

 Saya sudah berpikir untuk melompat saja ke belakang. Atau pergi ke rumah tetangga di ujung jalan sana *yang katanya pemilik baru tanah kosong itu* untuk memohon dan menghiba meminjam kunci gemboknya.  

Oiya, konsultasi dengan  suami dulu ah *yang masih ada di kantor*siapa tau dia punya ide.

  “huhuhuu…Joni ada di belakang lagi. Nggak bisa naek” tangis saya.

   “tangganya?”  

“diambil oraaaaang….” “gimana duuun?”

  “………….” “pake kain” 

 “hah?” lagi tolol mode on, definitely bukan meniru gaya Artalita dalam kasusnya dengan Jaksa Urip.  

“Oh.. okeee..” Saya ikuti petunjuknya.  

Kain panjang  milik saya,  saya ikatkan ke salah satu batang teralis. Kemudian, saya lemparkan ke dekat Joni.

Sempat terpikir sih, membuat simpul-simpul untuk pijakan kaki. *inget cerita di film-film itu lho*

tapi kucing kan punya cakar miau untuk berpengangan toh. *duh.. ini pasti efek Artalita dan Jaksa Urip itu lagi *  



Saya kira prosesnya tak akan semudah itu. Salah besar rupanya. Rupanya si Joni secepat kilat berpegang *dengan cakar miau tentunya* pada ujung kain. Sisanya saya hanya menariknya ke atas, persis seperti menimba air. Dan olalaaaa… wajah Joni yang pucat pasi itu muncul deh dari kegelapan.  

Jadi, kalau kalian kebetulan mampir ke rumah, dan melihat selembar kain tergantung pasrah di tembok belakang rumah. Jangan heran dan jangan ragu.   Itulah tangga monyet untuk mpus Joni.       


Serpong 9 juli 2008 15:38 (si centil itu lagi nggangguin mpus KIKI yang lagi bobo siyang)

Tuesday, July 08, 2008

episode : MAKAN SIRIH BARENG (it’s very-very dangerous. Do not try this at home :D)

lanjutan kisah trip baduy 14-15 juni lalu. kisah sebelumnya :kereta tiba pukul berapa?

 

 

Nggak lama kemudian, kami sudah tiba di Cibeo. Jam setengah enam sore saat itu.  

 

 

kami duduk di salah satu beranda rumah penduduk Cibeo.  Sementara Suwasti terlihat tertawa bahagia berjumpa dengan teman-teman baduy-nya.  Aku duduk dan menyerap energi yang ada.

 

 

*ah.. istilahnya terlalu keren kali ya* Maksudku, dalam situasi seperti ini, aku lebih suka diam. Merasakan denyut nadi kampung ini. Apalagi menjelang pergantian hari. Suasana magrib menjelang malam.

 

 

Hmm… gimana njelasinnya yah. Begini contohnya : momen seperti mendengar gaung riuh orang yang mengobrol, ketipak kaki anak-anak yang berjalan kesana kemari. Ibu-ibu yang baru pulang dari mandi di sungai.

 

 

Dan kemudian …. *suara tangan dijentikkan.. J* Tiba-tiba sepi. Tiba-tiba gelap. Dan suara jangkrik mulai mengambil alih. Semua orang masuk ke rumah masing-masing.

 

 

Satu jam kemudian.

 

 

“yaaah… tereliminasi deh dia”

 

 

Hanum bergegas beranjak dari duduknya. Dan keluar rumah. Meludah. Sementara aku, Sondang, Suwasti, Aya  dan Pak Sardi *orang Cibeo, yang rumahnya kami inapi* terkekeh-kekeh karena geli.

 

 

Oiya. Ada juga beberapa penduduk Cibeo yang duduk di hadapan kami. The smiling face salah satunya. *ini sih, nama baru pemberian Sondang buat salah satu penduduk Cibeo yang hobinya selalu tersenyum itu. Keren aja. Seperti punya nama Indian*

 

 

Dalam ruangan yang hanya diterangi lampu minyak. Aku nyaris menjerit melihat rupa teman-temanku yang nyengir dengan gigi dan lidah bersimbah warna merah darah.

 

 

*ehm.. termasuk aku sih sebenernya. Tapi kan nggak mungkin toh pinjem kaca hanya untuk ngeliat tampangku saat itu.. J ini pernyataan penting nggak seeh?*

 

 

Oh.. belum nyambung yah? Ini lho. Kami lagi adu nyali makan daun sirih.

 

 

 Yang meraciknya sih pak Sardi. Jadi, daun sirih di oles dengan kapur *sudah dibuat seperti pasta* di taburi gambir *sudah berbentuk powder padat batangan. warnanya orange* dan diberi potongan pinang.

 

 

Pada prinsipnya sih, sama seperti ritual nenek-nenek kita dulu makan sirih. Jadi kami terapkan aja disini. Sambil nyirih dan sambil ngegossip tentunya. Huehehehe…..sambil bersosialita getuuuuh…

 

 

Setelah mandi di pancuran *ada tempat private di seberang jembatan* Semula sih pengen mandi di sungai. Tapi ternyata rame beneeeeer… ada 50 anak sma yang juga bermalam disini. Doh!

 

 

Kami mulai memasak. Malam itu, master cheef kami *jeng Suwasti* menggelar menu andalannya : tumis cumi asin cabe hijau, sayur sop lengkap, tempe goreng tepung dan tentunya nasi hangat mengepul dari hasil panen sawah Pak Sardi.

 

 

Sekitar pukul 10 kami sudah berbaris rapi tidur di rumah pak Sardi. Tipologi rumah baduy, didalamnya hanya ada 2 ruangan. Satu ruang utama, dan satu ruang kecil tempat tungku kayu untuk memasak. Biasanya sih, mereka tidur disini. Karena ruangannya relatif hangat akibat bara api yang ditinggalkan bekas masak.

 

 

Aku, suwasti, Aya, Sondang dan Hanum menggelar sleeping bag dan sarung bag masing-masing. Taufan menginap di rumah lain yang ada di ujung kampung, dekat alun–alun cibeo *nggak inget dimana. Masuk ke salah satu gang kayaknya*

 

Malam itu kami tertidur pulas.. las.. lassss… hanya sekali aku terbangun jam tiga subuh. Itu karena menggigil kedinginan. *buru-buru pake jaket* eh.. satu lagi ding. Gara-gara suwasti yang tidur disampingku rupanya mimpi jadi pemain silat.

 

 

 

Akibatnya, ketika pagi hari, tubuhku yang sekseh ini sudah ditemukan pasrah terlentang  seperti cicak-cicak  di dinding  J

 

 

Kasian amat ya jadi cicak. Terus gimana selanjutnya? Besok deeh..

 

serpong 8 juli 08 (udah masaak..)


kisah selanjutnya silakan klik aja disini : TOUR De KAMPOENG Huh...kejaaam

Saturday, July 05, 2008

NENEK SAYA CANTIK SEKALI

Ibu saya asli Sumedang. Ia lahir, tinggal dan besar disana. Kata ibu, dulu almarhum kakek adalah seorang kontraktor. Mbangun apa aja. Gedung, jalan. Apa aja deh. Sedangkan nenek saya adalah tipe ibu rumah tangga sejati .

Dan kalau kalian perhatikan foto-foto disini, nenek saya cantik sekali ya? Manis jika mengenakan kebaya. Chick sekali. Orang nggak bakal percaya kalau anaknya sudah lima orang.

Rumah mereka nggak berubah. Letaknya ada di gang Sitet, di belakang bioskop Dian *almarhum* . Seingat saya, dulu waktu saya kecil pernah diungsikan ke rumah ini. Kerennya sih di 'indekost'in di rumah kakek-nenek.

Lupa gimana detailnya. Kayaknya ayah-ibu saya lagi pendidikan dan nggak ada 'supervisor' yang dipercaya untuk mengasuh saya. Saya sih seneng-seneng aja. Ada sepupu saya juga disana yang bernasib sama

Ibu saya anak kedua dari lima bersaudara. Satu kakak perempuan dan tiga adik laki-laki. (di samping kiri ada foto keluarga. minus ibu saya. Lokasinya  ada di depan rumah)

Kisah heroik yang sering saya dengar dari ibu adalah romantika ketika pergi ke sekolah, manakala hanya ada sepasang sepatu  kebesaran untuk ia dan kakak perempuannya.

Untungnya sang kakak giliran sekolah pagi, dan ibu saya sekolah siang. Jadi ketika salah satu pulang sekolah, buru-buru deh estafet gantian sepatu

Kisah lainnya sih, ketika ibu dan kakak perempuannya jadi penggali sumur di belakang rumah. *Beneran nih? interupsi saya tak percaya.*

Yang nggali sih, kakek. Tapi tugas mereka nggak ringan lho, mbantuin ngangkut tanah. Oooo…..

Almarhum Nenek di mata saya adalah  tipe wanita yang amat sangat mandiri, keras kepala dan nggak mau nyusahin orang lain.

Di usia tuanya saja masih rajin menengok anak dan cucu-cucunya yang waktu itu tersebar di seputar Bandung dan Jakarta. Naek bis dan angkot. Sendirian pula.

Dan penganan yang dibawa untuk cucu-cucu tercinta, hmmm.. saya ingat betul, ranginang, tape ketan item dan kue kering buatan sendiri.

 Wuiiih.. sedep banget daaah!

Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih sering ziarah ke makam leluhur yang kebanyakan ada di gunung. Ia punya partner in crime lho untuk sowan ke tempat-tempat itu. Mungkin itu juga sebabnya kenapa saya suka banget menyambangi gunung. Warisan nenek saya?

Hmmm…hmmm…..


Serpong 25 juni 2008 16:00

ranginang = penganan yang terbuat dari nasi sisa, yang diberi sedikit bumbu, di jemur hingga kering dan kemudian digoreng kerupuk

Friday, July 04, 2008

Untuk keseribu kalinya : pake helm-muuuu!!!!

ilustrasi di’pinjem’ dari sini : www.motoxoutlet.com

 Semalam kami ada di Ciledug. Kami, saya dan suami,  dalam perjalanan pulang menuju rumah. 

Jalur dua arah macet. Mobil-mobil bergerak lambat. Motor meliuk ke kanan dan kekiri mencari celah. Untuk ukuran jam sebelas malam rasanya terlalu berlebihan. 

 
Awalnya saya bingung. kenapa banyak orang berkerumun di depan sana?

 
Perlahan motor kami melintas. Seperti gerakan slow motion mata saya melirik jalur sebelah.

 
Ada satu motor yang diparkir dengan arah yang aneh sekali *mungkin sudah ditegakkan seseorang* ada satu orang yang tersenyum panik dan berusaha mengatur jalan.  Beberapa orang menonton dari sisi jalan.  Beberapa motor berhenti *untuk menonton* dan penumpang mobil yang lewat , melongok dari jendela masing-masing.

Pengen tau.

Termasuk saya.

 
“Ya  Allaaaaah..!! Kenapa diem aja? Kenapa nggak ditolong sih?”

 
Saya hanya bisa berucap.

Tak jauh dari motor itu, ada seorang pemuda tergeletak. Wajahnya tertekuk aneh menengadah keatas, badannya terlentang, kedua tangan terbuka disamping kepala dan darah tergenang diatas aspal.

Saya masih terus menoleh.  Dan tak sengaja menatap wajahnya.

Mendadak perut saya mual.

 Saya palingkan wajah. Motor kami terus bergerak. Kini pandangan saya beralih ke pengemudi motor yang ada di samping kanan kami. Ia juga melihat kejadian. Ia menoleh dan menatap saya. Sepertinya ia bisa membaca pikiran. Dan kemudian bilang :

 “Mati!”

 Dan kemudian menambah kecepatan motornya.

Meninggalkan kami.

 

Serpong, jumat  siang 4 juli 2008

 
Ini sering jadi obrolan kami berdua. Kenapa ya, masih banyak orang yang ogah memakai helm. Terutama di tangerang sekitar *secara kami sering mblusuk-mblusuk sampe ke pedalaman* apa susahnya sih tinggal pake helm doang. Kan itu buat keamanan mereka sendiri.

  Sedih rasanya.

kereta tiba pukul berapa? (ke baduy via nanggerang)

Kisah sebelumnya : ya tuhaaaan... salah keretaaa...

Kereta tiba di Stasiun Rangkasbitung pukul 10.30 pagi. Di dekat stasiun itu ada pasar dan terminal angkot. Jadi kalo ingin nambah perbekalan bisa dibeli disini.

Oiya, ada pasar modernnya juga lho. Ada beberapa warung makan. Dan ada warung soto yang enak sekali. Murah meriah. Semangkuk soto, satu piring nasi, plus asessories tempe goreng, tambahan perkedel jagung dan es teh manis hanya seharga Rp 10,000 saja. *lupa.. 10 rb atau 15 rb yah?* gampang ditemukan. Lihat aja kalo ada tempat makan yang ramai pembelinya. Nah, itu dia.

 Suwasti dan Hanum pergi ke pasar. Suwasti pengen masak di Cibeo nanti. Sebenernya sih, kami nggak pengen merepotkan tuan rumah. Kalo kami numpang masak disana, kan sekalian masak untuk tuan rumah dan keluarga. Sekaligus untuk menjamu tamu yang pasti datang berkunjung. Pasti semua hepi.

 Sondang masih merasa kenyang. Aku, Taufan dan Aya. pilih makan dong.

 Dasar turis, pasti ada aja yang tahu kalo kami mau ke Baduy. Setiap lima menit pasti ada utusan yang dikirim calo atau sopir untuk datang dan bertanya.

 “mau carter nggak?”

 Duh. 

 Tapi orangnya sopan-sopan kok. Nggak kayak calo di terminal bus.

 Entah gimana ceritanya, mungkin karena kekenyangan. Atau mungkin kami sudah terlalu males untuk pergi ke terminal. Atau rayuan maut calo angkot yang membuat kami setuju.  Harga sewa 175 ribu langsung menuju Simpang Koranji.

 Sekitar jam dua belas kami berangkat. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan terus naik. Hampir sepertiganya rusak berat. dan satu setengah jam kemudian baru kami tiba di persimpangan Koranji.

 Sang sopir stress berat. ternyata dia belum pernah jalan sejauh ini dan melewati jalanan rusak pula. Dia minta tambahan. Kami beri, tapi dengan syarat besok harus siap menjemput kami di Ciboleger.  Dia bilang OK. Besok jam satu siang sudah ada di Ciboleger.


Persimpangan Koranji ini hanya nama tempat aja. Karena disini ada belokan jalan menuju daerah Nanggerang, salah satu entry point menuju kampung Baduy dalem.

 Belokannya sama seperti belokan biasa. Seperti belokan menuju ke salah satu kampung. Aku nggak yakin deh bakal inget kalo kesini lagi.

 Ojek-ojek mulai datang mendekat. Mereka minta Rp 25,000 per orang.

 Suwasti nyaris pingsan. Awal tahun lalu aja masih Rp 8,000 ongkosnya. Apa karena BBM naik ya? Mungkin juga,  disini bensin harganya Rp 7,000 perliter.  

 Walau belum sepakat dengan harga sewa. Mereka sih udah pede memanggul daypack kami *daypack.. dipanggul .. hehehe* dan meletakkannya di motor masing-masing.

 Taufan sang negosiator.  Sepakat Rp 15,000 per orang untuk mencapai Nanggerang. Ah.. daripada jalan kaki melintas jalan makadam, naik turun bukit selama sejam.  Aku sih memilih naik ojek.

 “Wastiiiiii!!!” jerit ibu Hanna.

 Yang punya warung persis di belakang pintu gerbang masuk wilayah baduy. Maklum, Suwasti kan selebritis disini *buuuk!!!! Aku ditimpuk pisang oleh suwasti dan aku melotot memandang Suwasti. Emang monyet?*

 Kami ngopi-ngopi sebentar, menumpang sholat. Dan mulai berjalan pelan menuju Cibeo.

 Jam 3 sore deh kayaknya baru jalan. Sempet gerimis turun. Tapi berhenti begitu kami memutuskan untuk mulai jalan. *hehe.. hebat nggak tuh*

 Rasanya ini perjalanan tersulit bagiku. Udah 3 bulan ini nggak pernah jalan lagi. Dan nggak pernah olahraga. Beban daypack-ku ada sekitar 10 kilo beratnya. dus sepatu running shoes yang gigitan sol sepatunya amat sangat diragukan.

“gedebuuuuuk”

 Korban pertama. Hihihi…

 Taufan dan Hanum memimpin di depan. Sondang, Aya, Suwasti dan aku di belakang. Ah.. aku jadi sweaper aja dalihku…. Hehehe…aku juga pengen motret tentunya.

  Penunjuk jalannya sudah tentu ibu Suwasti yang manis itu. Kami keluar masuk kampung.

 Melewati leuit-leuit. *leuit = lumbung padi*  Melatih keseimbangan di titian tiga batang bambu.

 Naik turun bukit. Yang tanahnya licin. Yang berbatu-batu. Yang tanjakannya never ending story dan yang turunannya licin bak perosotan di TK sebelah.

 Menyeberang sungai dan melatih ilmu meringankan tubuh masing-masing. Kami melompat dari satu batu ke batu yang lain.

Kayaknya juga, ini lagi musim mbangun rumah deh. Atau renovasi rumah. Hampir di setiap kampung, selalu aja ada penduduk yang lagi gotong royong membangun rumah.

 “Cantik ya, Jeng” kata Taufan kepadaku. *Stop press. Bukan aku yang dimaksud yah.* tapi gadis-gadis baduy luar yang diam-diam mengintip dari balik pintu. Atau yang sedang duduk-duduk di beranda rumah memperhatikan kami.

 “Arah jam tiga, Fan” jawabku mengamini.

 Aaah.. tau ajaaah… Secara kami * aku, Taufan dan Suwasti.* adalah para tukang potret keliling.  Pasti mata nanar kesana kemari mencari object jepretan.


Tiap kami berhenti di salah satu kampung. Tentulah amat sangat dan impossible sekali untuk berjalan diam-diam tanpa diketahui.

Anak-anak akan muncul dari balik pintu. Ibu-ibu akan segera menutup pintu. *kok kebalik? Hehehe* Bapak-bapaknya akan bertanya : dari mana mau kemana.

 Masuk kampung lagi. Lewat jembatan lagi. Hingga kami tiba di sebuah jembatan bambu yang besar dan panjang.

*Wah..  Konstruksi bambunya kereeeeeen sekali lho!!*


Kata Suwasti, ini batas baduy luar dan baduy dalam.  Maka kami menyimpan semua kamera. Tugasnya, hanya sampai disini.


Nah.. apa kami bisa tiba di Cibeo sebelum gelap? Nantikan kisah selanjutnya yah. Next on : makan sirih bareng

Serpong 4 juli 08 (ultah mpus Joni yang ke 3 bulan) Oiya, futu-futunya udah diupload kok. Ada disini siapa yang menggores di langit biru

Thursday, July 03, 2008

YA TUHAAAAN…, SALAH KERETA …. :( (sebuah episode trip baduy 14-15 juni 08)

Kereta baru saja meninggalkan stasiun Sudimara. Sambil menempelkan HP di telinga kiri dan berusaha memasang kuda-kuda agar kaki lebih stabil.

Ini kisah sedihku di sabtu pagi, teman

Saya *super pede walo nggak dapet tempat duduk* :“Buuuuu…! Aku udah di dalem kereta nih. Kamu ada di gerbong sebelah manaaaaaah?”

 Suwasti *suaranya kresek-kresek, keliatannya sih so far away* : “lah? masih di kebayoran ”

(masih) saya *yang kini panik berat* : “Ya tuhaaaan, salah keretaaaaa… ”

 
Seluruh penumpang yang ada di gerbong, menatapku dengan penuh rasa iba. Beberapa menepuk-nepuk pundakku.  Pedagang asongan yang lewat berhenti sejenak untuk menyatakan duka cita. *halah!*

Saya *menoleh ke kanan dan bertanya, seorang bapak yang juga sedang berjuang mempertahankan keseimbangan* : “Tapi ini betul kan mau ke Rangkas?”

Si bapak : “iya”

Saya *masih histeris tak percaya* : “kok bisa salah kereta?”

Si bapak *dengan pandangan kasian deh loooo* : “ini yang patas .. diiik. Di belakang, masih ada yang lungsum”

catatan : patas dan lungsum hanya istilah saja. Tampilan keretanya sebelas dua belas. Keduanya sama-sama kereta ekonomi. Sama-sama penuh sesak. Dan sama-sama bertiket Rp 4,000 sekali jalan.

Sejuta topan badai.

Maka turunlah aku di stasiun berikut. Duduk manis menanti kereta berikut.

Dan akhirnya, pertemuan mengharukan itu terjadi sudah.

Aku masuk. Suwasti berdiri merentangkan tangannya. Menyisakan tempat di sisi kanannya. Aku nyengir tanda lega.

Di sebelah kanan Suwasti duduk Hanum dan Taufan. Di sisi kirinya ada Sondang yang sedang mbaca buku. *eh.. Taufan juga lagi baca buku kok* Sedang Aya, duduk di seberang kami. Bengong. Bawaan mereka, daypack, tas kain dan kerir 45 literan diletakkan didepan kaki masing-masing.

Kursi yang ada di gerbong ini memanjang di sisi samping gerbong. Jadi, duduknya hadap-hadapan. Sementara yang nggak kebagian tempat duduk. Hanya ada 2 pilihan. Berdiri sampe Stat. Rangkas *yang tentunya akan dihindari oleh semua orang yang berakal sehat*

Atau duduk bersimpuh saja di lantai gerbong. *dengan resiko harus bergeser dari tempat semula, merubah posisi, dan memandang dengan sebal terhadap para asongan, pengemis, pengamen –dan mungkin juga pencopet- yang dengan semangatnya mondar-mandir selama durasi 2,5 jam tersebut, tanpa henti.

Sabtu itu, kami berencana pergi menuju Cibeo. Salah satu kampung yang ada di baduy dalam yang berada di Kanekes, Ciboleger, Rangkasbitung.

Kami mau silaturahmi. Sebenernya sih Suwasti yang mau silaturahmi. Kami hanya penggembira aja 

*ah.. enggak juga. Kayaknya setiap peserta punya alasan tersendiri kok buat mampir kesana, seperti aku misalnya. Tapi entar aja yah, aku certain di kisah berikut*.

 Total trip kali ini ada enam orang. Aku kenal Suwasti dan Taufan. Pernah beberapa kali jalan bareng. Tapi Hanum, Sondang dan Aya, baru kukenal di kereta.

 Tadi sudah diceritakan, karena tinggalku di Serpong. Maka, aku nyegat dari stasiun terdekat. Sebenarnya sih bisa aja kalau mau menumpang bis dari Jakarta. Tapi, waktu tempuhnya jauh lebih lama.

 *Catatan : stasiun Sudimara atau stat. Serpong, kalau Sta. Rawabuntu terlalu kecil. Jangan ambil resiko, karena kereta nggak tentu mampir disini*

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta dari Stasiun JakartaKota yang berangkat pukul 07.50 pagi. Harga tiketnya (per juni 2008) Rp 4,000 per orang. Kereta penuh sesak. Dan baru sedikit lega ketika berhenti di stat. Parung Panjang. Jangan ditanya berapa stasiun yang kami lewati. Namanya juga kereta ekonomi. Pasti berhenti di setiap stasiun.

 Ya udah. Ceritanya segitu dulu. Nanti diteruskan lagi deh….

 *seluruh ilustrasi foto pada catper ini diambil di stasiun kereta api Serpong, Tangerang.

Wednesday, July 02, 2008

siapa yang menggores di langit biru ?




Ah.. kalau saja ada yang bertanya, siapa yang menggores di langit biru* terus terang, saya nggak tahu. Tapi siang itu,diam-diam saya mencuri pandang dan menatap langit.  Ada warna biru disana.

Ada rasa perih disana.


Ciboleger 15 juni 2008

(makasih buat teman-teman saya yang manis ituuuh : Suwasti Dewi Anitasari, Taufan Hidayat, Fitri Hanum, Irena Sondang Sidabutar dan Soraya Rusli… “kapan kita lulumpatan dan makan sirih bareng lagi di Cibeo …”)

 

*dikutip dari puisi sdd, sonnet X

selengkapnya mengenai baduy :

wikipedia : orang kanekes
studi ethnografibaduy



dan setahun kemudian pagi itu di kampung Cibeo
 
;