Saturday, August 12, 2006

Shahdag episode : saya cinta kamu


"Aries, Saya tinta kamo. Saya tinta kamo.... Saya tinta kamoooooo!!!!!!" jerit sember dan ngebass milik Maryam Doustdar Fashtake tiba-tiba nongol memenuhi gendang telingaku *Inget suaranya pengasuh fungkeh di film The Nanny? Remember? Itulah dia J*


 


Earphone yang nangkring ditelinga, segera kulepas. *lagi killing time,denger musik*


 


"Aku cinta kamu. A-ku....Cin-ta ....ka-mu !!" ucapku pelan-pelan "With C,Maryam.. With C .. not tinta, but C-i-n-t-a"


 


Wheladalah *pak Raden Style*. Sulit banget nih cewek Iran buat ngikutin lidah melayu. Tapi salut juga buat usahanya. Sejak hari pertama, getol banget belajar bahasa Indonesia dan tanya ini itu.


 


"Oooh... I see. Aku cinta kamo" katanya mengulang. Meminjam mp3player-ku *nah lo?* dan tersenyum girang mendengar lagu-lagu berbahasa Indonesia yang kebetulan kubawa.


 


"Pake gih sono, dan ingat Maryam, ngomongnya ke cowok dong, jangan ke cewek!"


 


"What?"


 


Aku nyengir. Jelas dia nggak ngerti. Siang itu jam dua belas. Yang biasanya cerah, sudah dua hari ini hujan dan berselimut kabut tebal. Kami sedang dalam perjalanan pulang kembali dari pendakian gunung Shahdag. Gunung ini terletak pada rangkaian pengunungan Kaukasia yang membentang mulai dari timur laut Rusia, barat laut Georgia, di selatan Iran, dan sebagian Turki. Sementara Sungai Aras mengalir dari utara hingga ke sungan Kura di selatan pegunungan ini dan berakhir di laut Kaspi.


 


Akibat hujan yang turun semalaman, jalan luar biasanya becek dan licin. Tidak berani menanggung resiko, maka kami semua turun dari truk dan berjalan turun. Sementara beberapa dari kami, memadatkan jalan dengan menimbunnya dengan tanah.


 


Sengaja aku berjalan mendahuluinya. Aku mau ngobrol dengan temen-temen yang dari Azerbaijan. Beda truk sih. Jadi susah komunikasinya. Nah kesempatan deh.


 


Walau bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa Internasional, selain team Iran, mereka minim sekali penguasaan bahasa Inggris dan hanya paham bahasa Russia.


 


*Buhuhuuuu... me too! Bahasa Inggrisku juga nggak bagus-bagus amat. Kalo bahasa Russia ? yaaah itu sih ............ blank bangeeeett! L ; jadinyesel*


 


Tapi semua itu bukan menjadi masyalah. Karena kenapa saudara-saudara? Yaaak! ada satu bahasa baru yang tercipta akibat situasi saat itu, yaitu dengan ……bahasa tarzaaaaan, pake bahasa isyarat ajaaaaa J


 


Ajaibnya, dengan bahasa kayak gitu, kami bisa ketawa cekikikan kalo sudah ngobrol dan saling mengumpat mumpung kagak ngarti hahahaha.


 


Tiba-tiba, Inara, cewek dari Azerbaijan berjalan menyusulku. Beriringan dengan Maryam *the nanny. Masih inget?* mereka berdua asyik mendengarkan walkman dan bergoyang. *uh dasar!* dan terus menghapalkan kalimat : Aku tinta kamooo...aku tinta kamooo...aku tinta kamooo"


 


Hingga suara mereka sayup-sayup menghilang. Giliran aku yang terdiam disini.


Meresapi pemandangan sekeliling yang mulai terkuak dari kabut. Padang rumput dimana-mana. Sesekali terdengar suara gonggongan anjing penggembala dari kejauhan.


 


Hmmmmm...... indahnya!


 


  


Serpong, 6 September 2005


 


fotonya silakan nyambung kesini :Suatu tempat di Azerbaijan

3 comments:

Toto ' said...

Indahnya persahabatan..dengan bahasa tubuhpun gak masalah :))

deni dotten said...

bahasa tubuh yg mana maksud lu to ? :P

*wekss... bu aries nih udh melanglang kmn2 ternyata *envy

a riesnawaty said...

xixixi.. baru kesono doang kok Den. Mungkin once in a lifetime kaleeeeee.....

 
;