Monday, May 23, 2011

catatan perjalanan : kerintji episode TERJEBAK !!!

 “Takut ketinggian?”

Ihiks!

Lia mengangguk sedih.

What should I do? Nggak ada di buku-buku panduan. J

Hanya naluri saya mengatakan bahwa kami harus berhenti sejenak.

 Saya biarkan dia duduk.

Senyap.

“Mbak…?”

“apa?”

“aku mau muntah”

“kwaks!”

 “Ya muntahkan saja.”

Mountain sickness nih. Ya.. muntahkan saja Lia. Jawab saya lagi, sambil memegang sepotong coklat dalam saku jaket. 

Setelah muntah, perutnya harus diisi lagi, ini rencana saya.  

Sayang saya nggak bawa termos air panas seperti biasanya –saya lupa- kalau bawa, pasti sangat membantu deh.

Mata saya berkeliling. Wajar bila Lia takut sedemikian rupa. Ini pendakian perdana-nya. Langsung ke 3805 meter pula.

Kami berdua begitu sendirian ditengah kemiringan lautan batu dan pasir. 

Tahu tangga bambu? Coba bayangkan deh kalau tangga itu sedang bersandar di tembok, untuk naik tentu harus dipanjat kan? Begitulah kira-kira ilustrasinya.

Nah, tadi kami merayap naik.

Kembali diam. Nampaknya Lia tidak jadi memuntahkan isi perutnya.

Nampaknya juga, ia sedang mengumpulkan keberaniannya.

Saya sengaja tidak memberikan komentar.


Saya biarkan dia berdamai dengan rasa takutnya.  Ini ‘pertempuran’yang harus dihadapinya sendiri.

Saya H2C –harap-harap cemas- jangan-jangan.. dia minta turun L

 “yuk!”

“hah?”

“ayo.. kita lanjut, mbak!”

Horeeeeee…!!!!! Sorak saya dalam hati –sayang kostum cheerleader saya ketinggalan di pos 2 J -

 

WAKTU ITU PUKUL DELAPAN LEWAT 17 MENIT

 

Sementara itu pada saat yang bersamaan, pak John telah menyentuh gigir kawah. Dia sudah tiba di puncak gunung. 

Alamak.. cepat sangaaaat !!!! 

Bahkan kami yang masih tersaruk-saruk di belakang, baru tiba di pos tugu Yudha –ini adalah nama pos sebelum ke puncak- sejam kemudian. 

And you know what? Pak John sudah turun dari puncak dan menunggu kami disana. 

 

Tepat rasanya disebut Pos tugu Yudha. 

Ada sebuah memoriam -Adi Permana, pendaki dari Jakarta yang wafat di gunung ini- Tepat di sebuah dataran yang luas.

Terasa begitu agung ketika berdiri disini. Sambil memandang puncak yang kabutnya datang dan pergi silih berganti.

Nun di dataran sisi barat sana, nampak batu-batu kecil bersusun membentuk nama. Ini pasti ulah pendaki.


–yang beberapa jam kemudian akan saya syukuri karena pernah melihat sebelumnya-

Tak jauh dari memoriam, Cecep dan Ivana merebus air. Saya diberi segelas kopi jahe –atau teh jahe ya? Sori, lupa-   

Uh.. hangaat! 

Sementara itu Lia merebahkan tubuhnya disamping Emma. 

Dan Wangsa .. ahay.. dia sudah mulai naik menuju Puncak.

Kami istirahat sejenak.



“Saya turun dulu ya, Ries!” pamit Pak John. 

“Kasihan Joko nggak ada temennya.”

Ihiks!

Saya tahu. Pak John memang tipe solo trekker –disamping tipe atlet itu tentunya, masih inget kan?-. 

Saya percaya Pak John mampu turun sendiri.

Tapi …… kita kan satu team, Pak John. L

Terlaluuuu.. *Rhoma Irama style*


Harapan saya sih, naik bareng …….turun juga bareng dong ya. Gimana kalau terjadi sesuatu di jalan?  

Kami kan bukan wanita perkasa  -tanpa bermaksud mengecilkan peran cecep dan wangsa lho ya- J wkwkwkwk….

Tapi ah.. sudahlah.

Saya lebih suka melihat awan yang beriring di depan mata. Keren sekali!



Setengah jam kemudian, kami naik menyusul Wangsa. Satu persatu merayap naik. 

Ivana, Cecep, Emma, Lia dan terakhir barulah saya menyusul.

Mungkin karena melihat kami tersendat-sendat di belakang. Cecep akhirnya mengambil posisi di belakang menemani Lia.




Rasanya waktu lama sekali. Kami terus merayap. Sesekali terendus bau belerang dari kawah. Menyengat. Mungkin terbawa angin.

Sementara itu langit berwarna biru dan matahari bersinar dengan hangatnya.

 

MENCAPAI PUNCAK

10.08 wib

 

Akhirnya saya mencapai bibir kawah. Saya sudah tiba.

Ah… inilah saat yang selalu saya rindukan. Saat-saat yang sekaligus membuat hati saya gentar -dan kaki gemetar tentunya J-

saat-saat dimana saya ingin menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan –bingung kan?-

Kali ini saya tak tahu kata yang tepat untuk menggambarkannya. 


Hmmm… sepertinya kalian harus merasakan sendiri kali yaaaa…

Tak ingin kehilangan momen, saya keluarkan kamera dan merekam lukisan kawah gunung itu. 

–yang kemudian akan disesali Emma karena luput mengabadikannya. Karena beberapa menit sesudahnya, kawah tertutup kabut. Selamanya-

Di gigiran kawah sebelah barat nampak Wangsa, Emma dan Ivana.

Sepertinya ada tugu triangulasi disana.


Saya berjalan meniti tepian kawah mendekati mereka.  Ketika saya tiba, kami saling bersalaman dan berpelukan ala teletubbies.

Akhirnya …. Kami sampai juga ya. Syukurlah…!

 Namun pada saat yang bersamaan tanpa kami sadari, kawah benar-benar putih tertutup kabut. Ihiks!

Beberapa menit kemudian Lia datang sembari dituntun Cecep. 

Wajahnya pucat pasi. Tak sanggup berdiri, ia rebah di dekat kami. Masih takut akan ketinggian rupanya.


Tadi ketika tiba di gigir kawah, tanpa sengaja matanya tertumbuk pada air kawah hijau yang asapnya mengepul dan letaknya yang super dalam itu.

Oh.. betapa menakutkan.

Tapi itu hanya sebentar ya Lia? ;) 


Karena tak lama kemudian, dia sudah ramai berkicau mengimbangi kami 

–ibubil ..ibu-ibu labil ini- yang tak henti-hentinya berpose di sekitar tugu triangulasi. 


Mumpung sudah sampai disini, harus ditambah dokumentasinya dooooong…hahaha..

 

KABUT !!!!

11.15 wib

Kami lengah. Berlama-lama di puncak dan mengira kabut sebentar lagi akan tersibak. L

Ya .. kami benar-benar lengah. Saya lupa siapa yang mengajak, tapi akhirnya kami turun.

Dipimpin Cecep kami mengikuti dari belakang. Ivana, Saya, Emma, Lia dan terakhir Wangsa.



Ya Tuhan... kabutnya tebal sekali. Padahal Ivana hanya beberapa langkah di depan. Cecep malah lepas dari pandangan.

Lalu saya menoleh ke belakang. Emma dan Lia rapat tak jauh dari saya. 

Tapi Wangsa yang ada di belakang mereka.. hanya sebentuk figur yang redup oleh kabut.

Menyeramkan sekali.

“ke kiri Ceeeep! .. ke kiriiiiiii!” teriak Lia.

“Rasanya tadi kita nggak turun disini deh!” Emma menambahkan.

Hmm… 


whaduh.. gimana dong ya? mau tahu sambungannya? besok lagi yaaa... mau makan siyang duluuuu... 

*BTR, 23 mei 2011, 14.27 wib. sedang kipas2 kepanasan*


16 comments:

DhaVe Dhanang said...

mantab catpernya....
jadi inget...aku ya hampir semaput ntuh ndaki bukit pasir eh kerikil campur batu heheh....e
selamat...................

a riesnawaty said...

memang berat jalurnya, mas Dhanang. akyu aja udah semaput duluan.. :P

Agam Fatchurrochman said...

Foto yg latar belakang awan itu kerennnnn seperti Nobita dan Doraemon saja, main dengan awan

Lia Bloomy said...

aduh, aku mau nangis jadinya, inget betapa aku berjuang mengalahkan takut ketinggian itu, huhuuu... rasanya pengen turun sajaa, tapi nggak berani nengok ke belakang. pilihannya cuma naik terus!

a riesnawaty said...

baling-baling bambu doooong..

a riesnawaty said...

nggak ada pilihan

cahyo adi said...

naisssss....

a riesnawaty said...

tengs lhoooo..

Iyan Damai said...

Wah sudah lama ga baca cerita mba ariesna. . . makin seru ajah. . . :D

lanjutkan mbaa, aku tunggu sambunganya. . .

M.G. AQUINO said...

i like the scene with
the steam coming out.
wow amazing
how God works.
thnx 4 sharing...@-@

Emma ɐɯɯǝ said...

selalu seruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

vyara wurjanta said...

eh, kalo gak salah, kerinci punya danau ya? danau gunung tujuh ya namanya? yang konon katanya danau di dataran tertinggi di asia tenggara... ada fotonya? *curious*

a riesnawaty said...

hehehe... lanjuuuuut...!!!

a riesnawaty said...

seru selaluuuuuuuuuuuuuuuuuuuu *huruf u-nya diusahakan sama...*

a riesnawaty said...

sure...glad to share

bagus hu said...

beruntung cerah ya. gue dulu tertutup asap blerang. tapi kawahnya serem. dindingnya hampir tegak lurus. kyknya dengkul gak sanggup melalui selokan2 itu lagi deh :))

 
;