Saturday, October 10, 2009

Mas gondrong pemuda dari tamansari




Barangkali tampang kami yang sedikit ‘gagap’ menarik perhatiannya. Begitu motor kami hampir putus asa, berderum perlahan mencari tempat parkir.

Ia duduk di dekat pagar dan memperhatikan kami. Memakai tshirt hitam bergambar kamera dengan sebatang rokok terselip ditangan yang tak kunjung dibakarnya.

Sementara itu si Malih –ini nama motor kami- akhirnya kami parkir di dekat pintu masuk. Tempat parkir motor berkanopi yang letaknya persis di depan loket yang belum juga buka. Padahal sudah pukul setengah sembilan pagi.  Hmm…

Ia segera menarik minat saya. Rambutnya panjang, berminyak dan diikat satu. Matanya redup. Mungkin semalam tidak tidur. Ketika saya tanya namanya, ia hanya bilang :”Panggil saya Gondrong”

Melihat gelagatnya, saya sih sudah menduga. Dia pasti salah satu pemandu tempat ini. Saya sebenarnya nggak begitu suka jalan ditemani guide. Entah mengapa. Mungkin saya nggak begitu suka menjelajah ditemani orang lain. Rasanya imajinasi saya tidak bisa berkembang  tapi ternyata saya salah duga.

Kemudian kami diajak menembus pagar tembok. Merunduk melewati lubang setinggi 1,5 meter. Memutar menembus pemukiman di luar pagar tembok tamansari. Sempat berhenti di warung –mas gondrong mau beli rokok- kami turun menuju lorong bawah tanah. Melewati lorong-lorong sempit, meniti atap dan akhirnya tiba di mesjid yang bentuknya aneh sekali.

Karena terlalu asyik memotret, kadang saya tertinggal di belakang. Ia melirik kamera yang saya tenteng. Dan tiba-tiba saja kamera sudah berpindah tangan. “Kamu berdiri disana!” perintahnya. Hihihi… ini pemandu atau satpam sih?

Padahal, saya bukan tipe orang yang pandai bergaya di depan kamera. Sama seperti ribuan ‘tukang potret’ diluar sana ‘yang pandai memotret tapi tidak pandai untuk dipotret. 

Begitu juga suami saya. Kami pasrah saja mengikuti instruksinya. Tanpa saya sadari saya sudah memanjat tembok tinggi dan melompati pagar demi mendapat angle yang menarik. Baru kali ini saya bertemu pemandu yang juga jago motret.

Tidak saya sangka hasilnya akan seindah ini. Ah… saya harus banyak belajar lagi. Maka dengan segala kerendahan hati, tulisan ini saya tujukan untuk Mas Gondrong.
“Potretmu… kereeeennn sekali Mas  !!!!”

tamansari, jogja 25 september 2009 (salah satu kisah edisi trip tour de Solo akhir September lalu, fotonya mau dicetak ukuran besar dan dipasang di dinding rumah ah..

Thursday, September 10, 2009

Pengumuman : dikontrakan rumah di BSD

Rasanya berat meninggalkan rumah ini. Saya sudah terlanjur cinta. Rumah mungil tempat saya, suami dan kedelapan ekor kucing kami berteduh. Rumah mungil yang ada di daerah yang tidak terlalu ramai dan yang masih sejuk udaranya.

Tapi saya lebih cinta kepada belahan jiwa saya. Sedih rasanya melihatnya kelelahan karena harus berangkat pagi dan pulang larut malam. Jadi tahun ini kami berdua memutuskan  pindah rumah. Tentunya ke tempat yang lebih dekat dengan kantor suami. Semoga di tempat kami yang baru nanti juga akan sedamai rumah ini.

Rumah ini ada di Nusaloka, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Akses dekat sekali dengan jalan tol Bintaro-TB Simatupang. Jika dengan kendaraan umum, banyak moda transportasi yang dapat digunakan. Bus trans bsd dan kereta api contohnya.

Luas bangunan 36 meter persegi dan luas tanahnya 72 meter persegi.  Letaknya persis di depan taman lingkungan.

Dua kamar dan satu kamar mandi. Satu dapur, carport untuk parkir mobil. dan taman mungil yang ada di depan dan belakang rumah.

Furnished. Sudah tersedia lemari pakaian, rak buku, rak pembatas ruang, dan kitchen set serta meja makan kecil di dapur.









Kawasan aman karena hanya ada satu portal masuk dengan penjagaan ketat.


Tidak jauh dari Indomaret, dokter 24 jam, rumah makan padang, ayam kremes, bubur ayam dan bakso… hmmm…nyam..nyam….

Jadi, bagi yang berminat silakan hubungi saya, rumah ini kami sewakan. Cocok deh buat pasangan baru atau keluarga kecil yang ingin mandiri.

makasih yaaa....

serpong, 10 september 2009; 12;23

Saturday, September 05, 2009

si mimin dan bendera merah putih

Dan ketika pintu depan saya buka. Mendadak saya ingin menangis dibuatnya. Tampak tiang bendera kami melintang di halaman. Benderanya tergeletak di lantai carport. Ya Tuhaaaan! Cobaan apa lagi yang kau berikan pada kami? Huhuhuhu…

Oh.. tidak hanya itu saudara-saudara. Cobaan itu diperindah dengan mpus Mimin yang sedang bermain perang-perangan dengan mpus Koko. Dengan ekor bergoyang-goyang, bersembunyi di dalam lipatan bendera. Menunggu kesempatan menangkap Koko yang sedang mandi kucing.

“Mimiiiiiin!” duh!

Dan Mimin pergi sambil mengomel. Kesenangannya pagi itu musnahlah sudah. Sambil menoleh kanan-kiri saya betulkan kembali tiang bendera itu. Mengikatnya kuat-kuat pada pagar depan rumah kami. Saya mengadu pada suami yang sedang mendorong motornya keluar pagar.

“Untung nggak ketahuan pak RT. Bisa diomelin deh kita semua”

“Hahaha…” gelak suami saya “ Mimin lagi main perang kemerdekaan ya?”

“huh!”

Dibalik tragedi Mimin yang sedang berlatih perang kemerdekaan itu, perayaan 17 agustus bulan lalu selalu menyisakan kisah menarik buat kami. Ketika jalan di depan rumah dipercantik dengan umbul-umbul dan untaian bendera kertas merah putih silang menyilang. Saya sudah siapkan buluh bambu lalu bendera yang sudah dicuci-setrika-wangi dikeluarkan dari lemari. Kemudia dengan hati-hati saya ikat pada pagar rumah.

Tapi ada satu hal yang saya lupa. Pagar depan juga dipakai oleh mpus Koko, Ucup dan Mimin untuk bermain dan berlalu lalang. Iseng aja. Dari ujung kiri, ke ujung kanan. Dari tembok tetangga di sebelah kanan, meniti pagar dan hup! Melompat ke pagar tetangga di sebelah kiri rumah kami.

Saya kira hidup kami akan damai sentosa hingga akhir seperti dalam dongeng-dongeng itu lho  Ah..

Keesokan harinya. Pagi-pagi setelah urusan rumah selesai, saya pergi ke pasar. Belanja. Dan tak lama kemudian ketika saya kembali dan membuka pagar rumah.

Hmmm… ada yang aneh disini. Kenapa rumah terasa lengang? Kenapa tidak ada kucing yang melompat keluar dari jendela dan menyambut saya seperti biasa?

Mata saya berkeliling menyelidik. Dan ketika tiba pada bendera kesayangan kami. “Huaaaaaaaa…!” belanjaan di kiri dan kanan tangan terlepas dari pegangan. Bendera kami sudah berubah menjadi putih merah. Ihiks!

Kembali saya ingin menangis dibuatnya. Pasti Mimin deh tersangka utamanya. Mimin itu tipe kucing yang selalu ingin tahu. Saya curiga dia bermain-main lagi di pagar depan rumah, menarik benderanya dan hup! Putus deh ikatannya. Nggak heran sekarang sudah berubah warna.
“Duuuuh..! Mimiiiiin..Mimiiiiiin!”

Serpong 5 september 2009 20.02 (yang diomongin lagi maen ke rumah di ujung jalan)

Brondong next door itu bernama Anggy Giriawan

Dan mata saya menangkapnya. Anak ABG kurus kering bermata sayu. Memakai sandal jepit dan jaket tipis dengan bordir Consina di dada kiri. Entah bagaimana, bagai tersihir, saya pasrahkan si hitam manis –nama kamera saya- padanya.

Sore itu matahari sedang bersiap untuk tenggelam. Sayang rasanya kami lewati. Sayang juga kalau moment itu tidak kami abadikan, dengan kami-kami ini sebagai latar depannya. Ah..ini penyakit narsis tingkat tinggi rupanya. 

Lalu Emma sibuk memberi pengarahan kepada si jangkung, dan Suwasti mematut-matut kameranya pada si gempal. Tapi Anggy nampak nyaman dengan si hitam manis saya. Saya tak perlu berkomentar lagi. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Sabtu 8 agustus 2009, 17.15
Alhamdulillah, kami tiba di puncak. Daerah terbuka dan semak belukar disana-sini. Dataran tak terlalu luas namun dengan kelegaan sejauh mata memandang. Dan bangunan mungil bekas tower diatasnya. Menaranya sudah hilang. Hanya bangunan tembok berbentuk kubus bercat putih penuh graffiti. Tanpa daun pintu. Menjadi tempat bernaung anak-anak ABG itu. Yang tawa dan candanya jauh terdengar puluhan meter sebelum kami menjejakkan kaki di puncak itu. Yang kemudian kami tahu adalah anak-anak ABG dari  Cikajang. Jalur yang muncul dari arah barat.

Syukurlah, tidak sepi-sepi amat. Minimal kami ada teman disini. Menurunkan kerir dan dengan sukacita kami menjelajah di sekitar puncak di ketinggian 2821 meter.  Mematut-matut diri dengan langit yang sudah kemerahan.

Anggy naik dari Cikajang. Dia memang tinggal disana. Dari pertanyaan yang saya ajukan padanya, ia dan teman-teman mainnya memang sengaja datang kesini. Sayang tak membawa kamera. Seperti halnya pemuda desa setempat. Hanya dengan modal peralatan seadanya. Sarung, selimut, plastik terpal untuk alas tidur, panci emak di rumah, beras sekantung besar, dan kayu bakar yang saya tak tahu mereka dapat darimana. Memilih Cikuray untuk dikunjungi. Minggu depan libur panjang 17-an. Mungkin mereka berpikiran sama seperti kami. Minggu depan pasti penuh sekali dengan pendaki.

Dan malam itu kami memasang tenda  sedikit dibawah puncak, terlindung oleh semak-semak. Berganti pakaian. Memakai jaket tebal. Menyesap kopi hangat dan mulai menyantap makan malam kami. Malam itu cerah sekali. Terang bulan dan bintang di sekitar. Tiga ratus enam puluh derajat. Indahnya.

Minggu 9 agustus 2009, 06.00
Sudah terlambat sebenarnya jika ingin menantikan fajar. Semalam tubuh ini lelah luar biasa. Namun dengan perut terisi dalam tenda yang hangat, terobati sudah. Pagi itu saya keluar tenda. Menyerukan nama Suwasti dan Emma. Menyuruh mereka bangun. Saya bergegas kembali keatas. Anak-anak ABG itu sudah bangun rupanya.

“Pagiiiiiii!”

“Pagiiii Teeeeh” (catatan : teteh; bahasa sunda artinya kakak perempuan)

“Gimana tidurnya semalem? Kayaknya subuh-subuh sudah pada bangun ya?”

“Nggak bisa tidur Teh. Kedinginan”

Saya melongok sebentar ke bangunan itu. Iya. Pastinya. Berlindung di tempat terbuka. Diatas lantai dingin hanya beralas plastik. Tapi saya percaya, tubuh-tubuh mereka sudah terbiasa. Saya melirik Anggy. Tak seperti ketujuh temannya yang tak henti-hentinya berbicara. Ia berbeda, Tak lama kemudian Suwasti dan Emma datang bergabung. Kami merayakan pagi disini. Diatas awan.

Satu jam kemudian
Kami kembali ke tenda. Sarapan dan bersiap untuk turun. Rencana turun bersama mereka melalui Cikajang kami amini untuk dicoba lain kali saja. Kami sudah terlanjur berjanji dengan tukang ojek yang akan menjemput kami di pemancar TV sore nanti. Kami turun di jalur yang sama dengan jalur naik kami kemarin.

Dan Anggy turun menghampiri tenda. Ia pamit. Perlahan dan tanpa ekspresi berkata pada saya,

“Kalau boleh, minta foto untuk dipasang di facebook.”

“Lho? Kamu punya facebook?” Emma takjub. Segera dicatat alamatnya.

Saya nyengir “Saya nggak punya facebook, Nggy.  tapi saya janji, saya akan kirim cd isi foto-foto kalian”

Dan saya mengiringi langkahnya kembali ke atas. Misi saya kali ini, saya ingin memotretnya di puncak gunung. Sebagai ucapan terimakasih atas bantuannya kemarin sore. Dan setelah itu, mereka turun melalui jalur Cikajang.

Sayang saya nggak sempat ngobrol banyak dengannya. Melihat hasil jepretannya, saya yakin ia pernah belajar fotografi. Punya kamera, atau dia memang punya bakat terpendam. Ini diskusi kami bertiga. Hasil jepretannya bagus sekali. Angle yang dia ambil juga tidak biasa.

Kemudian kami melanjutkan sarapan. Sebentar lagi kami akan packing dan mulai turun. Kembali ke peradaban. Ah... belum turun pun saya sudah terlanjur rindu ingin kembali lagi kesini.

Foto-foto selengkapnya : cikuray ... anthem of the broken hearted

Serpong 5 september 2009; 15:45
(ntar malem sahurber KKC di rumahnya wangsa)

Thursday, September 03, 2009

satu (untuk) Indonesia




Pada suatu hari yang cerah, di lamandau, kebayoran baru, Jakarta pertengahan bulan lalu.
Mr. B : “gue nggak suka biker”
Saya : “kenapa?”
Mr. B : “berisik!”
Saya : *nyengir*

Memang berisik. Apalagi kalau sudah ngumpul. Tapi ada satu yang belum dilakukannya. Dia kan belum pernah ngumpul sama bro-bro yang badannya kayak beruang itu kan? Siap-siap aja sakit perut karena nggak kuat menahan tawa.  Tapi yang saya tidak suka adalah jam karetnya. Ampuuuuun deh. Janji jam 7 pagi. Baru ngumpul jam 10 siang. Apalagi kalau sudah dalam rombongan besar. Ihiks!

Itu sebabnya di hari kedua, kami memilih untuk pulang terlebih dahulu. Padahal saya ingin sekali mampir ke Kampung Naga. Mungkin belum berjodoh aja.

(touring Merdeka MiLYS 2009, 15-17 Agustus 2009 Gn. Galunggung & Kampung Naga, Tasikmalaya; Jadi boncenger ngikutin suami yang gabung di salah satu klub motor scorpio. Kayaknya sih lebih dari 60 motor yang ngumpul di Tasikmalaya hari itu. Beberapa teman dari Bandung, dari Garut dan dari Tasikmalaya turut datang merapat.  Menanam pohon di sekitar Gunung Galunggung dan berkunjung ke Kampung Naga menyalurkan bantuan minyak tanah. Selengkapnya mengenai  Mailing List Yamaha Scorpio

Tuesday, August 25, 2009

telur dadar with love

Apa menu buka puasa kami hari ini?

Hanya telur. Tapi tetap saja dibuat dengan penuh cinta. 

Sejengkel-jengkelnya saya, tetap saja saya membuatnya dengan sepenuh hati.

Ini dia namanya telur dadar with luuuuuv. Kocokan telurnya saya tambah dengan irisan bawang, daun bawang, sedikit parutan keju, garam dan merica secukupnya.

Lalu kenapa bisa begitu?

Nah, ini semua gara-gara tadi subuh waktu kami sahur. Suami saya kok nggak berselera makan. Padahal sejak pukul setengah empat saya sudah berkutat di dapur. Ingin menyiapkan nasi goreng ala chef hany yang terkenal itu. Lengkap dengan garnishnya yang cukup menggoda. Wortel, tomat dan buncis yang nyes nyes itu.

“Maaf ya Hany”

“huh! Gpp!”

“banyak ranjaunya” maksudnya cabe dan bawang merah.

“huh! Alasan!”

Padahal sejak hari pertama puasa sudah saya kerahkan seluruh daya upaya untuk menyiapkan ‘soto ayam cak Hany’ yang terkenal itu. Waktu berbuka di hari kedua, tangan saya sigap meracik cumi ungkep mentega yang hmmmm.. yummy, rasanya luar biasa. Di hari ketiga, ayam goreng berbumbu renyah ditambah dengan tumis brokoli yang manis asin begitu.

Huh.. saya kecewa. Dan di hari keempat bulan puasa ini saya (minta ijin untuk) mogok masak. 

Interogasi pun dimulai. Ternyata dikantornya, setiap waktu buka puasa. Ia dan teman-teman satu divisinya menyulap salah satu ruang meeting menjadi tempat mereka buka puasa. Membeli cemilan dua kantong plastik penuh. Membeli berjenis-jenis minuman segar. Dan mulai mengunyah hingga perut kekenyangan. Hmm.. pantes…

Ya sudah, demi menjaga mutu kualitas dan kemampuan memasak saya kali ini. Saya break dulu. Biarlah telur dadar cinta ini sebagai wakilnya. Tapi kalian pasti bertanya-tanya, “Gimana caranya?”

Ini sih gara-gara rajin jalan-jalan di supermarket dan nemu obralan barang-barang produk Jepang.

Hah? Jepang? Wah, saya jadi penasaran.

Sambil melihat-lihat dan mengaduk-aduk barang. Saya jadi berpikir. Kok kepikiran ya untuk membuat produk seperti ini?

Satu hal yang saya kagumi dari orang-orang Jepang ini adalah mereka itu amat sangat detail. Hingga yang saya anggap remeh temeh pun tetap mereka pikirkan . Hingga yang sekecil-kecilnya. 

Contohnya ya cetakan telor ceplok seperti ini. Yang lainnya? Hmmm… coba saya ingat-ingat. Ada saringan teh berbentuk bandul hati. Cetakan nasi kepal berbentuk rumah, mobil, ikan atau panda. *ini cocok juga untuk membujuk anak kecil supaya mau makan*

jaring untuk menyimpan pakaian, cup untuk mengikat kabel, rupa-rupa tuperware plastic untuk menyimpan makanan hingga pencetak es berbentuk bulat seperti kelereng. atau berbentuk tabung mungil sehingga bisa dimasukkan ke dalam botol minuman plastik kita. Bayangin, minum frestea dingin. Dengan es batu di dalamnya.

Widiiiih..

Dan coba saja perhatikan rumah mereka. Rapi, mungil dan multifungsi. Tatami bisa menjadi alas tidur. Lemari geser yang menyerupai dinding. Halaman rumah yang bahkan hingga ke ujung sudutnya sudah diperhitungkan dengan matang. Selalu rapi dan bersih. Dan orangnya nggak bisa diem. Inget kan banyak yang usianya tua hingga ratusan tahun?

Resepnya hanya satu. Gaya hidup sehat dan nggak stress. Artinya hingga setua itu, tubuh dan pikiran terus bergerak. Nggak pernah ada satupun waktu luang.

Walau sebenarnya saya juga ngeri. Etos kerja mereka gila-gilaan.  Saya sering dengar berita banyak yang bunuh diri karena di PHK atau karena tidak masuk universitas favorit.

Ah… saya sih lebih memilih melahap telur dadar with love ini deh. Bareng suami tercinta tentunya hehehehe…
 
Selamat berbuka puasa teman-teman :D
Serpong 24 agustus 2009 ; 19.49 (tumben mpus KIKI ada di rumah)
 

Monday, August 24, 2009

cikuray .. anthem of the broken hearted




Seingat saya, terakhir kali ke Cikuray sudah lebih dari 5 tahun lalu. Tapi rasa sendu itu tetaplah sama. Saya nggak tahu kenapa. Tapi begitu mencapai puncak dan memandang matahari yang bersiap untuk tenggelam. Rasanya saya tahu. Rasa sendu yang saya rasakan sejak tadi, mendadak hilang bersama redupnya matahari.  Mungkin perjalanan ini memang sudah ditakdirkan begitu dan saya nggak perlu bertanya lagi. Karena ada saatnya bertemu sama halnya dengan saat berpisah. Ini nyanyian saya untukNya.

Cikuray, 2821 mdpl 8-9 august 2009 along with my dearest sista 
Emma K.N.  and Suwasti and this trip also was inspired by Anthem For The Broken from Slank, peace bro!! turun dari Cikuray ternyata ada penangkapan "Noordin M. Top" ihiks! Nggak nonton TV :(

Bis AC ekonomi Jakarta-Garut @Rp 35,000; angkot 06 Garut-Cilawu (turun di Dayeuhmanggung) @Rp 4,000, ojek Dayeuhmanggung-pemancar @ Rp 30,000; bungkus nasi @ terminal Guntur, Garut @ Rp 10,000; jalur dari pemancar hingga puncak cukup jelas nyaris tanpa bonus dan terus menanjak, waktu tempuh antara 7-8 jam. Sulit mencari air, jadi disarankan bawa air yang banyak ya. Jika banyak pendaki, tidak banyak lokasi untuk ngecamp di sekitar puncak

Tuesday, June 09, 2009

koko dan ucup




ini dia kalo Koko dan Ucup lagi bobo siang. Koko -warna tabby, mata cokelat dan hidung merah tua- adalah kakak Ucup generasi kedua. Umurnya sudah satu tahun empat bulan. Sedangkan Ucup -warna putih dan merah- baru saja menginjak umur 9 bulan. Keduanya sama-sama kucing cowok yang amat cupu dan paling manja di rumah ini. Tadi siang, Koko datang bergabung. Melihat Ucup yang tidurnya nyenyak. Tak tahan dia untuk segera bergelung disamping Ucup.


serpong 9 juni 2009, 15.43

Monday, June 01, 2009

ketika jangkrik bernyanyi untuk Abah Iwan

Jujur. Saya iri pada serombongan jangkrik yang entah ngumpet dimana. Yang suaranya ramai ber-krik-krik-krik. … menimpali petikan gitar Abah Iwan malam itu. Menurut saya, malam itu Abah tidak bernyanyi untuk kami. Seratus lima puluh orang yang duduk diatas bangku kayu. Yang menggigil kedinginan tapi enggan untuk pergi.

Tapi ia menyanyi untuk beberapa bibit pohon cemara yang ia bawa. Untuk bintang-bintang yang entah bagaimana nampak riang di malam yang cerah itu. Dan juga menyanyi untuk pohon-pohon yang ada disana. Yang dalam imajinasi saya, sedang merunduk dan menyentuh bahu Abah melalui lengan rantingnya.

Malam itu, adalah malam puncak bagi seluruh peserta Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) batch II Pertamina. Kebetulan saya dikontrak untuk merekam kegiatan mereka selama seminggu penuh. Tiga hari pertama di dispsi AU, Halim, Jakarta dan tiga malam berikutnya di Tanakita , di Situgunung, Sukabumi.

Saya sampai ‘lupa’ kalau malam itu harus bekerja  dan hanya duduk di sayap kanan barisan depan. Dengan kamera tergantung di belakang, kedua tangan di saku jaket dan kaki membeku karena hanya memakai sandal.  Benar-benar lupa. Saya tersihir oleh senandung dan petikan gitarnya.

Katanya, setiap kali ia pergi ke suatu tempat, selalu saja ada yang meledak-ledak dan ingin ia bagikan. Semacam catatan perjalanan. Semacam curhat pribadi. Dan dengan lagu itu ia sampaikan.

Saya seperti mendapat insight. Bener juga. Saya bisa rasakan itu. Semacam kegelisahan yang ingin segera saya keluarkan. Bedanya saya lebih suka menulis atau saya lebih suka menjepretnya dalam bentuk gambar.  Tentang pohon, tentang hujan dan tentang kucing 

Paling tidak saya ingin seperti dia. Dapat membaginya kepada orang-orang (minimal yang ada) disekitar saya.  Melalui blog ini salah satunya.

Dan malam semakin larut. Melati dari Jayagiri segera disusul dengan lagu Akar, kemudian Burung Camar dan tiba-tiba saja, saya sudah ikut bergumam bersama penonton menyanyikan Mentari. *aih…ingat jaman ospek dulu*

Ah… yang saya ingat, seusai acara, dengan noraknya saya menghampiri Abah Iwan.

“Abah, boleh foto bersama?”

hahaha…. Dan dengan hangat ia memberikan senyuman yang meneduhkan itu ke hadapan kamera. Dan maaf Aki .. saya catut nama Aki agar bisa kenalan dengan Abah Iwan

Tanakita, 3 Mei 2009

Selengkapnya mengenai Abah Iwan
catatan seorang”sahabat” tentang Iwan Abdul Rachman
kegiatannya saat ini
Lagu-lagunya ada disini

and my fave song is :
Seribu mil lebih sedepa

Wednesday, May 27, 2009

pagi itu di kampung Cibeo




Lalu saya duduk bersimpuh di lantai dapur yang hangat itu. Mengupas bawang merah, mengiris timun, mengiris petai dan mengocok telur untuk sarapan. Ditemani Saba (4 tahun) dan Salman (2 tahun) bocah laki-laki putera bungsu pak Aldi yang memandang tingkah laku saya dengan penuh minat.

Cengiran terlebar yang saya miliki, saya persembahkan bagi kedua bocah yang duduk di hadapan.  Sambil meracik bumbu, saya berusaha keras mendendangkan "lupa lupa ingat" milik grup Band Kuburan yang lagi naik daun itu pada mereka

Di tengah rasa putus asa *karena saya tak kunjung hapal syairnya * Suwasti, Emma dan Susan datang bergabung. Mereka sudah selesai berkemas dan berdandan rupanya. Maka dengan ini  dapur umum dinyatakan resmi dibuka. Kedua tungku sudah menyala-nyala. Salah satunya sedang menjerang air rupanya. Emma menggoreng dendeng ikan dan telur dadar. Susan menyiapkan kopi hangat bagi semua. Dan terakhir, saya membantu Suwasti  membuat nasi goreng ala chef Suwasti yang terkenal ituuuuh…

Dan inilah kami, duduk berkumpul bersama keluarga Pak Aldi, dan beberapa tamu yang hadir.  Melahap nasi goreng beralas daun pisang sembari menyesap kopi yang hangat.

Pagi itu di kampung Cibeo, Baduy dalam.  




Monday, May 18, 2009

“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

“Grusak! Grusukkkk!”

Disusul suara gedebuk dan jeritan memilukan menyelinap melalui jendela kamar kami. Jendela kami memang menghadap halaman kecil yang ada di belakang. Dan ..oooh…suara itu terdengar jelas sekali di malam buta seperti ini. *ya, sebenernya sih nggak sepi-sepi amat. Wong suami saya sedang maen PS *

Kami saling berpandangan.

“Coba kuintip deh” saya membuka pintu kamar.

Daaaan…. Hiyaaaaaa…!!!!!

Kami berdua menjerit ketakutan. Terasa ada hawa dingin menyelinap masuk. Gelap sekali disana. Sementara TV menyala-nyala tanpa suara. Kami berdua saling berpegangan tangan.

Sedetik kemudian, makhluk itu lewat di depan pintu kamar kami.

Jeritan kami bertambah keras.

“Aaaaarrrrgh!!!”

Makhluk itu menyeringai. Sekaligus heran melihat kami berdua. Kemudian ia berhenti di depan pintu kamar.  Jeritan saya makin keras dan saya nyaris pingsan.

Tak lama kemudian.

“Aaaaaah!!! KOKOOOOO!!!! omel saya pada makhluk itu.“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

Dan Koko mengangkat sebelah alis matanya *hehehe.. maab, sedikit hiperbol.* Dia heran. Kenapa harus takut?

“Hus! Hus! Ayoh.. maenannya bawa keluar”

“ah…Kokoooo..” sahut suami saya dari balik bahu saya. Ngintip. Lega.

Dan kami berdua kembali ngumpet di dalam kamar. Siapa yang berani keluar kamar? Ih, serem.

Memang sudah berhari-hari ini Koko ogah tidur di dalam rumah. *atau keluar malam seperti biasa* Dia lebih suka nongkrong di halaman belakang dan baru miau-miau minta masuk ketika subuh saya buka pintu belakang. 

Nah, tadi waktu kami makan malam di dapur belakang. Koko memang tak mau beranjak dari pojok halaman. Duduk siaga menghadap tembok belakang.

“Koko lagi dinas ya?” goda suami saya pada Koko. Dan Koko tetap diam tak bergeming. Cueks mode on. Diam mematung memperhatikan tembok. Sementara Ucup, Malih dan Joni sibuk berputar-putar di sekita betis suami saya. Apalagi kalau bukan mengemis sisa ikan.

Rupanya dia sedang menanti makhluk malang itu muncul dari sarangnya. Malam ini hari tersial baginya.






Malang benar nasibmu, Mick!  *baca: si Micky*



Serpong 18 mei 2009l 19.43 (lagi di kamar, nungguin yayangnya pulang, ditemenin Joni yang lagi ‘pingsan’ di sebelah saya, oiya Koko sudah stand by di belakang. Nunggu mangsa berikutnya hehehe.... Met kerja ya, Ko!)

Saturday, May 16, 2009

kebun hujan (di Papandayan)




(1)

Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman.
Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angin
dan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.
Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan
berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan.
(2)

Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujan
dan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan.
Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan.
Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan
dan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan.

(2001; salam untuk cerpen “Hujan” Sutardji)

terimakasih untuk puisi cantik ini (yang juga) saya pinjam dari : Joko Pinurbo ; Celanasenja dan jokpin

this is the other story from our trip to gn. Papandayan, Garut, Jawa Barat. Our election day touring last month with my hubby, MJ  along with our dearest friends : Kukuh and Riam. Previous story are here and here

Wednesday, May 13, 2009

haruskah saya tinggalkan area nyaman saya?

Mungkin saya sudah terlalu lama ada didalam area nyaman yang saya ciptakan sendiri. Nggak bagus sih, tapi apa daya, saya sudah terlanjur amat sangat nyaman di dalamnya. Itu juga yang sebenarnya membuat saya ragu ketika ada tawaran untuk motret kegiatan salah satu perusahaan pemerintah minggu lalu. Soalnya, satu minggu lamanya saya harus nongkrong bareng mereka.

Wah… saya ragu meninggalkan rumah.  Meninggalkan kucing-kucing saya. Berpisah seminggu lamanya dengan cintakuh … *my hubby off course * Siapa nanti yang menyiapkan sarapan untuknya? Siapa yang nanti mencucikan bajunya? Memasak makan malam untuknya, menunggunya pulang kerja.

Atau mengejar kucing garong yang sering mengganggu Kiki? Menggendong Koko yang selalu manja ingin diperhatikan? Dan meninggalkan momen mengamati si Malih yang sedang tumbuh besar? *catatan: Kiki, Koko dan Malih itu tiga dari delapan ekor kucing yang menghuni rumah ini yaaa…*

Tapi yang sering membuat saya sebal adalah ketika saya pulang, keadaan rumah pasti bak kapal pecah. Saya tahu, suami saya sudah mati-matian berusaha menjaga kerapian rumah kami. Tapi selalu saja ada cucian kotor menumpuk di box, dan kadang ia lupa untuk menyapu lantai di kamar atau mencuci piring bekas ia makan. Ah… 

Tapi melihat puncak acaranya ada kehadiran Abah Iwan .Ihiks! Saya tak ragu lagi untuk bilang :

Yups! Take me on board! Hahaha…..


Ketika saya telpon suami untuk minta ijin. Laaaah.. dia malah bilang :

“Pergi aja Hany. Nggak usah pusing soal rumah. Rumah dan mpus biar saya yang urus” katanya dengan bangga.

“beuuuu!” *saya manyun dot kom. *masih mikir cucian numpuk itu lho *

“Sebenarnya saya iri, Hany” lanjutnya lagi.

“luwoh? Kok iri?”

“ini kan kerjaan yang kamu suka sebenarnya.”

“suka gimana?”

“Iya. Bisa motret sekaligus jalan-jalan”

Ah.. bener juga. Lagipula, saya udah kangen pengen naik gunung dan susur sungai. Saya jadi inget saran sahabat saya sebulan lalu. Sudah waktunya kamu keluar rumah dan gaul *halah!*  Uh! Kok rasanya berat sekali ya?

“iya, berat. Tapi bukan berarti harus tinggalkan area nyaman yang sudah ada, nggak ada yang salah dengan comfort zone. Hanya… mungkin areanya sekarang dibuat sedikit lebih luas dari sebelumnya.”


 Hmmm.. betul juga. *wondering mode on dan siap-siap packing untuk seminggu*

Serpong, 13 mei 2009

Thursday, May 07, 2009

kecewa




Kecewa Tentang Kamu Bunga C.Lestari Unduh
 
;