Tapi ia menyanyi untuk beberapa bibit pohon cemara yang ia bawa. Untuk bintang-bintang yang entah bagaimana nampak riang di malam yang cerah itu. Dan juga menyanyi untuk pohon-pohon yang ada disana. Yang dalam imajinasi saya, sedang merunduk dan menyentuh bahu Abah melalui lengan rantingnya.
Malam itu, adalah malam puncak bagi seluruh peserta Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) batch II Pertamina. Kebetulan saya dikontrak untuk merekam kegiatan mereka selama seminggu penuh. Tiga hari pertama di dispsi AU, Halim, Jakarta dan tiga malam berikutnya di Tanakita , di Situgunung, Sukabumi.
Katanya, setiap kali ia pergi ke suatu tempat, selalu saja ada yang meledak-ledak dan ingin ia bagikan. Semacam catatan perjalanan. Semacam curhat pribadi. Dan dengan lagu itu ia sampaikan.
Saya seperti mendapat insight. Bener juga. Saya bisa rasakan itu. Semacam kegelisahan yang ingin segera saya keluarkan. Bedanya saya lebih suka menulis atau saya lebih suka menjepretnya dalam bentuk gambar. Tentang pohon, tentang hujan dan tentang kucing
Paling tidak saya ingin seperti dia. Dapat membaginya kepada orang-orang (minimal yang ada) disekitar saya. Melalui blog ini salah satunya.
Dan malam semakin larut. Melati dari Jayagiri segera disusul dengan lagu Akar, kemudian Burung Camar dan tiba-tiba saja, saya sudah ikut bergumam bersama penonton menyanyikan Mentari. *aih…ingat jaman ospek dulu*
“Abah, boleh foto bersama?”
hahaha…. Dan dengan hangat ia memberikan senyuman yang meneduhkan itu ke hadapan kamera. Dan maaf Aki .. saya catut nama Aki agar bisa kenalan dengan Abah Iwan
Tanakita, 3 Mei 2009
Selengkapnya mengenai Abah Iwan
catatan seorang”sahabat” tentang Iwan Abdul Rachman
kegiatannya saat ini
Lagu-lagunya ada disini
and my fave song is : Seribu mil lebih sedepa

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact