Showing posts with label galunggung. Show all posts
Showing posts with label galunggung. Show all posts

Thursday, September 03, 2009

satu (untuk) Indonesia




Pada suatu hari yang cerah, di lamandau, kebayoran baru, Jakarta pertengahan bulan lalu.
Mr. B : “gue nggak suka biker”
Saya : “kenapa?”
Mr. B : “berisik!”
Saya : *nyengir*

Memang berisik. Apalagi kalau sudah ngumpul. Tapi ada satu yang belum dilakukannya. Dia kan belum pernah ngumpul sama bro-bro yang badannya kayak beruang itu kan? Siap-siap aja sakit perut karena nggak kuat menahan tawa.  Tapi yang saya tidak suka adalah jam karetnya. Ampuuuuun deh. Janji jam 7 pagi. Baru ngumpul jam 10 siang. Apalagi kalau sudah dalam rombongan besar. Ihiks!

Itu sebabnya di hari kedua, kami memilih untuk pulang terlebih dahulu. Padahal saya ingin sekali mampir ke Kampung Naga. Mungkin belum berjodoh aja.

(touring Merdeka MiLYS 2009, 15-17 Agustus 2009 Gn. Galunggung & Kampung Naga, Tasikmalaya; Jadi boncenger ngikutin suami yang gabung di salah satu klub motor scorpio. Kayaknya sih lebih dari 60 motor yang ngumpul di Tasikmalaya hari itu. Beberapa teman dari Bandung, dari Garut dan dari Tasikmalaya turut datang merapat.  Menanam pohon di sekitar Gunung Galunggung dan berkunjung ke Kampung Naga menyalurkan bantuan minyak tanah. Selengkapnya mengenai  Mailing List Yamaha Scorpio

Thursday, April 23, 2009

Bulu Matamu: Padang Ilalang




Bulu matamu: padang ilalang.
Di tengahnya: sebuah sendang.

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

Bulu matamu: padang ilalang.

Joko Pinurbo (1989)

puisi nan cantik ini saya pinjam dari : Joko Pinurbo ; ribuan puisi lainnya juga dapat dilihat disini : Celanasenjajokpin

tour de galunggung 10 April 2009 with my hubby, MJ with our dearest friends : Kukuh and Riam

Friday, September 05, 2008

galunggung, katakan padaku yang sebenarnya kau mau




“Ada yang aneh dengan danau ini, Win”
“Apa mbak?”
“Danaunnya terlalu tenang.” “Mencurigakan”

Dan kemudian hening, mengikuti denyut nadi sang danau yang pendiam itu. Dibalik rupamu yang murung dan sendu itu, kami sepakat, tempat ini adalah salah satu tempat terindah yang pernah kami lihat. Dan pada suatu hari nanti, kami pasti kembali.

Galunggung, 30-31 Agustus 2008


Catatan : judul dipetik dari lirik lagu katakan sebenarnya by Dewiq. (satu lagu yang terngiang terus sepanjang perjalanan hari itu)

Makasih juga buat temen-temen kempingku kali ini : nice trip guys!

Saturday, August 12, 2006

Galunggung Episode : "Hari mbolos sedunia”


Gn. Galunggung [2167 mdpl] 26-27 Juni 2005 


 


Prends,


Perjalanan ini terinspirasi *cailaaa* dari perjalanan Ical dan Hanif ke Talaga Bodas sebelumnya. Setiap ketemu, setiap japri, mereka selalu bilang : "Kapan mau kesana? Ditemenin deh!"


 


bulan berganti bulan, tahun berganti tahun *errrr.. belum ding!* waktunya nggak pernah cocok. Hingga akhirnya, akhir bulan lalu, kami berlima: saya, Ika, Joe, Joko dan Tuti berangkat kesana. Kempiiiiiiing!


 


Catper berikut bukan mengenai Talaga Bodas siy, tapi trip lanjutan untuk kemping ke gn. Galunggung, yang kebetulan nggak jauh dari situ. Ika pernah kesini sebelumnya. *but, It was long long time ago* Masih inget letusan hebat sekitar April 1982 ? Generasi yang lahir sebelum tahun 80an pasti inget dong. Gelap dan hujan abu pada mobil, rumput, pohon, atap rumah. Semua!


 


"Ika! Banguuuun!" kata Joko perlahan. "Mau lihat matahari terbit atau matahari tengah bolong?"


 


"Kweks!! Matahari tengah bolong?" pikir Ika. Panik mode : ON, mendadak ia duduk dan bangun.


 


"Tenaaaang! Tenaaaaang, Mbakyu. Jangan gunakan kekerasan." Buru-buru ia melipat sleeping bag dan bersiap.


 


Aku yang tidur disebelahnya, malah berbalik dan kembali ke posisi tidur seperti semula. Malesss bangeeeeettt! Masih gelap. Dari balik celah sleeping bag, aku melihat puncak Galunggung bertabur bintang dan sedikit kabut dibawahnya. Tangga menuju puncak, tidak terlihat dari sini tapi atap lapak yang ada di tepi rim crater, samar terlihat. Matahari yang ditunggu-tunggu, belum juga muncul.


 


Setelah turun dari Talaga Bodas, semalam kami tiba disini dengan angkot carteran dari Rajapolah dan lanjut menuju entry point kawasan wisata gn.Galunggung yaitu melalui Indihiang, ancer-ancernya sih dari jalan utama Bandung-Tasikmalaya, sekitar 4 km sebelum kota Tasikmalaya.


 


Rencananya sih mau ngecamp di tepi danau di kawah Galunggung. Tapi udah gelap euy! Capek pula, dan ide untuk ngecamp di lapak kosong yang banyak berjajar di dekat lapangan parkir cukup menggoda. Hasilnya? Satu lapak yang kami 'bajak' untuk tempat tinggal sementara kami.


 


"Capek sekali saya!" kata Joko berulang-ulang. Kami semua memandangnya dengan iba.


 


"Wajar aja, Mbakyu. Profesi ganda sih. Dari Joko Darwis *sang photographer* Joko Chaerudin *si jurumasak* hingga Djoko Djangkaru di embat jugaaa!" jawab kami bersahut-sahutan.


 


Di meja saji kini sudah tergelar 2 sleeping bag milikku dan Ika. Meja dapur, sekarang menjadi tempat persediaan makanan kami berikut kompor trangia. Bangku panjang di sisi timur, dan selatan digunakan sebagai tempat tidur Tuti, Joko dan Joe.


 


Senin pagi itu *hmmm... hari bolos sedunia* gayanya sih mau summit attack. Tapi baru jam setengah enam pagi Joko, Ika dan Tuti bergegas menuju tangga [catat : jalur wisata; 620 anak tangga, dari area parkir kawah gunung].


 


Berhubung barang-barang nggak ada yang jaga, akhirnya yg mau muncak dibagi menjadi dua kloter. Mereka bertiga pergi duluan, sedang aku dan Joe rencananya baru naik setelah mereka turun.


 


Aku berbalik lagi. [masih posisi ngulet kayak ulet bulu hehehe]. Kali ini menghadap belakang lapak yang terbuka. Sebenernya, nongkrong disini asyik juga. Semalem, malah bisa lihat kerlip cahaya lampu kota Tasikmalaya. Sementara kabut dibawah mulai naik. Matahari mulai muncul. Hangatnya!


 


'Neng ! Bangun Neeeeng !"


 


idiiiih. Jadi malu deh. Rupanya, pemilik lapak sebelah, lagi bebenah membuka warung. Tak lama kemudian ia datang membawa dua gelas kopi+gorengan pesanan Joe. Kami berdua, sarapan dulu dong! *aku dan Joe maksudnya, hehehe... bukan sama pemilik warung sebelah*


 


 


Jam 8 pagi, rupanya Tuti turun duluan.


 


"Huaaaa!!! Belum bebenah nih!" Wong aku masih duduk berselimut sleeping bag. Rambut masih acak-acakan. Buru-buru aku menelan sisa potongan pisang, meneguk kopi dan menoleh ke arah Joe.


 


"Lanjut ?"


 


Joe nyengir. racun mode : ON


 


Soalnyaaaa, sepagian tadi banyak sekali orang yang lalu lalang di depan lapak kami *hmm... maksudnya lapak pinjamaaaann* waktu kami tanya, mereka bilang mau mancing di danau. Rupanya ada jalur pendaki, short cut langsung menuju danau tektonik yang berjarak sekitar 2 km dari puncak kawah.


 


Setelah Tuti siap untuk ganti shift, dan aku sudah rapi jali. Akhirnya kami berdua berjalan pelan-pelan mencoba jalur tersebut. Entrynya persis di depan mesjid di ujung lapangan parkir kawah. Jalur naik berupa pasir melipir kearah utara dan tidak terlalu terjal. Setelah memotong punggungan kawah, jalur berganti turun hingga tepi danau. Kurang lebih setengah jam perjalanan


kami sudah tiba di dasar kawah. Pada dataran luas di sisi utara danau. Aku memutar badan pelan-pelan 360 derajat. *maap maap deh, yang merasa dirinya komidi putar*


 


'Huuaaaaaaaa!!!!!"


 


Speechless! Bagus banget!


 


Kawah Gn. Galunggung memiliki bentuk seperti tapal kuda yang terbuka kearah tenggara. Aku berada pada kawah yang dilingkungi oleh tebing [lebih dari 3684 tebing, terkenal dengan sebutan sepuluhribu tebing, menurut info yang kubaca, cmmiw] akibat hebatnya erupsi pada gunung ini. Di satu sisi, malah aku melihat beberapa aliran air terjun. Wuih! Tinggi amat! Dan alirannya membentuk sungai kecil dan mengalir langsung ke danau.


 


Sementara itu di sisi barat, di seberang danau, nampak tangga semen yang langsung turun hingga tepi danau. Di sisi barat lautnya, nampak jelas jalur berpasir naik menuju tepi kawah berbentuk huruf Z. Nhaaah ...... dijalur zorro itu deh, kami melihat 'dua sejoli' berbaju merah dan hitam sedang berusaha keras untuk naik.


 


Siapa lagi kalau bukan Joko dan Ika. Beberapa jam kemudian, Ika berkomentar kepadaku waktu kami ngumpul di basecamp :


 


"Bayangin Ries. Duaaaaa jamm! Hanya untuk di tanjakan itu. Baru jalan sebentar udah dibilang Stop Ika, foto duluuu! Huahahahaha"


 


Joko tak mau kalah, dan menyahut :


"Sebenernya, kapasitas memorycard udah abis. Mulai deh, mendelete foto dan pilih-pilih. Yang ini Ika, boleh di hapus? Setelah acc, fotooo lagiiii......hihihihi"


 


*Uh, dasar!*  Setelah beryuhuuuu-yuhuuu sejenak dengan kedua sejoli itu, akhirnya kami lanjutkan perjalanan mengitari danau. Melewati lautan batu, melompati aliran sungai dan berjalan menuju pintu gerbang masjid. Masjid? Masjid ?


 


Iya! Ada masjid kecil disini.


 


Tepat di sisi barat danau. Tepat dibawah tebing yang mulai menghijau oleh pakis. Dari gerbang hingga mesjid, ada jalan setapak yang telah diperkeras oleh batu dan semen. Mesjidnya sendiri mirip seperti pendopo. Terbuka di ketiga sisinya. Didepannya ada kolam setinggi pinggang untuk tempat wudhu. Ada ornamen vertikal seperti daun-daunan di tengah kolam. Sumber airnya, kelihatannya sih dari mata air langsung. Menggelegak terus mengisi kolam tersebut.


 


Hampir sejam aku dan Joe duduk disana. Suasananya agung sekali. Begitu tenangnya!


 


"Lagi mikir apa Joe?"


 


Bahkan seorang Joe pun hanya bisa tersenyum.


 


 


Serpong, Rabu 6 Juni 2005


 


[Waktu balik, dari jalan setapak semen menuju gerbang mesjid, ada jalur tanah ke arah kanan. Jalurnya jelas sekali. Melipir punggungan dan langsung menanjak. Yang paling menderita sih, waktu lewat tanjakan zorro itu deh! Hihi... Maju selangkah, mundurnya 5 langkah :) Jam setengah dua belas siang pula! Hiks! ]


 


 


tambahan :


galunggung-terminal bis tasikmalaya [carter angkot] total Rp65,000 bakso+teh botol di terminal bis Tasikmalaya untuk 5 orang total Rp28,500 bis AC Tasikmalaya-Jakarta via tol Cipularang @Rp40,000


 


foto-foto silakan nyambung ke sini yaa Galunggung…. How the winds are laughing

Friday, August 11, 2006

Galunggung .....How the winds are laughing




Senin pagi itu *hmmm... hari bolos sedunia* gayanya sih mau summit attack. Tapi baru jam setengah enam pagi Joko, Ika dan Tuti bergegas menuju tangga [catat : jalur wisata; 620 anak tangga, dari area parkir kawah gunung].


Berhubung barang-barang nggak ada yang jaga, akhirnya yg mau muncak dibagi menjadi dua kloter. Mereka bertiga pergi duluan, sedang aku dan Joe rencananya baru naik setelah mereka turun.


Aku berbalik lagi. [masih posisi ngulet kayak ulet bulu hehehe]. Kali ini menghadap belakang lapak yang terbuka. Sebenernya, nongkrong disini asyik juga. Semalem, malah bisa lihat kerlip cahaya lampu kota Tasikmalaya. Sementara kabut dibawah mulai naik. Matahari mulai muncul. Hangatnya!


'Neng ! Bangun Neeeeng !"


Idiiiih. Jadi malu deh. Rupanya, pemilik lapak sebelah, lagi bebenah membuka warung. Tak lama kemudian ia datang membawa dua gelas kopi+gorengan pesanan Joe. Kami berdua, sarapan dulu dong!  *aku dan Joe maksudnya, hehehe... bukan sama pemilik warung sebelah*


Jam 8 pagi, rupanya Tuti turun duluan.


"Huaaaa!!! Belum bebenah nih!"  Wong aku masih duduk berselimut sleeping bag.  Rambut masih acak-acakan. Buru-buru aku menelan sisa potongan pisang, meneguk kopi dan menoleh ke arah Joe.


"Lanjut ?"


Joe nyengir. racun mode : ON


Selengkapnya .. silakan nyambung kesini : Hari Mbolos Sedunia


(trip lanjutan dari Talaga Bodas (Reloaded), nyambung langsung ke Galunggung 26 - 27 Juni 2005)


 
 
;