Showing posts with label milys. Show all posts
Showing posts with label milys. Show all posts

Wednesday, April 11, 2012

tjukang taneuh jang poenya arti si djembatan tanah

another pics please follow this :  tjukang taneuh

Bagi saya tujuan tidaklah penting, tapi perjalanannya itu sendiri yang bermakna. Apa enaknya jalan buru-buru lalu setelah tiba di tujuan, buru-buru juga untuk pulang. :p Maaf ya, saya tidak tergabung dalam aliran tektok'ers. Begitu sampai langsung pulang. Buat saya, perjalanan itu haruslah dinikmati. Pelan-pelan seperti mengunyah makanan. 

Lalu apa hubungannya dengan jembatan tanah? Ya.....ini ada kaitannya dengan kepergian saya akhir bulan lalu. Kali kesekian saya membonceng suami yang berangkat bersama teman-teman MiLYS chapter Tangerang. Tugas saya sederhana, merekam kegiatan mereka selama perjalanan. Kali ini Pangandaran tujuannya. 

Yang menarik adalah perjalanan ini juga bersama teman-teman baru. Membonceng motor dari tengah malam hingga terang matahari. Terjebak macet dari Bandung hingga Malangbong. Berhenti di tengah jalan karena kelaparan. Dan memilih-milih tempat dimana kami akan berhenti. Tapi saya tak tertarik mampir ke Pantai Pangandaran. Saya malah penasaran dengan Cukang Taneuh, 31 km dari Pangandaran. Walau penuh sesak dengan wisatawan. Ah.. kami sih enjoy aja. Sekali-sekalilah turun dari motor dan naik perahu. Betul tidak?

(trip 23-25 Maret 2012, oiya.. Cukang Taneuh artinya jembatan tanah. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka)

yang lain tentang cukang taneh :
wisata ciamis

Tuesday, November 01, 2011

belum 'haji' kalau belum ke km.0




Bagi para biker, mencapai titik nol kilometer di kota sabang, pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam, bagaikan pergi ke Mekah. Belum dianggap ‘haji’ kalau belum pergi kesana.  

Setelah lebaran lalu, suami saya bersama teman-teman klub motornya di Mailing List Yamaha Scorpio pergi kesana. Biasanya saya selalu mbonceng kemanapun mereka pergi. Tapi kali ini, saya dan beberapa teman, mencegat mereka di Medan.  dan singkat kata, dari sana barulah kami membonceng hingga Sabang.

Karena baru H+3 lebaran Idul Fitri, baik dari Pelabuhan Ulee Lheue maupun Pelabuhan Balohan di pulau Weh, penuh sangat dengan orang yang ingin menyeberang. Yang biasanya ada dua kali penyeberangan, kali ini ada tiga kali penyeberangan. Tiketnya Rp 17,000 untuk penumpang ekonomi atau tiket driver+kendaraan motor gol II Rp 21,000. 

Uniknya, kendaraan bermotor yang ingin menyeberang, sudah ada yang mengantri dari semalam. Yang tidak masuk quota, harus gigit jari karena menunggu antrian berikut. Yang bisa jadi baru berangkat keesokan harinya.  Bisa juga sih pakai kapal cepat. Tapi selain harga tiketnya lumayan, motor kan  nggak bisa ikut? 

Karena keterbatasan waktu pula, team motor ini hanya sempat mampir ke tugu GPS kilometer O di sisi barat-utara pulau ini. Sekitar 45 menit perjalanan dari Pelabuhan Balohan. Sayang banget, padahal banyak sekali tempat yang 'wajib' dikunjungi di pulau ini seperti pantai ibong, pulau rubiah atau danau aneuk laot *sigh* 

Tapi.. paling tidak, saya nggak penasaran lagi. Memang harus kesini lagi sepertinya. Bukan sebagai anak motor.. tapi sebagai anak pantai lah yaaa….. hahaha..!

Faktanya : monumen ini sebenarnya bukan titik paling barat dari Indonesia. Pulau Rondo adalah pulau yang terletak paling barat, tapi karena sulitnya mencapai pulau ini, maka monumen di bangun di tempat ini. 

Sabang, Trip to KM.0 (4-5 Sept 2011)

yang lain mengenai Milys goes to Atjeh juga ada disini eko probo : milys jelajah bumi andalas

Wednesday, February 16, 2011

‘MET JALAN, MEL…. DOA KAMI BERSAMAMU


There are in the end 
3 things that last :

Faith, hope and love

And the greatest of these 
is

 LOVE





Kalau tak salah ingat, terakhir ketemu kamu itu sekitar nopember tahun lalu, ya Mel. Saat itu kamu minta tolong untuk dibuatkan foto prewed. Aaah… pernikahan sudah dekat? Sambil nyengir kamu bilang “Iya.. tapi dirahasiakan dulu ya, Hany .. “ 

Kalo diperhatikan nih, Mel.. waktu itu bobot tubuhmu sedikit berisi. Ada juga sih  jerawat beberapa. Hahaha…“Stres ngurusin nikahan!” 

Ali juga nggak jauh beda. Agak lebih putih dan perut mulai maju ke depan.  Ini pasti akibat kantor dan rumah terlalu dekat jaraknya, jadi jarang olahraga. 

Karena rencana pernikahannya juga dadakan. Ide untuk dibuatkan foto prewednya pun juga dadakan. “Gue pengen foto di pantai” ah.. gampang Mel. Bisa diatur. Lalu kami  bertukar email dan telpon. Tapi seperti nggak kenal Melly aja. Semua dia kerjakan sendiri.  Susah sangaaaaaaat mengatur waktu untuk pergi bareng dan memotret kalian.

Saya dan suami kenal dekat dengan pasangan ini. Yah.. sekitar 2 tahun terakhir lah. Temen maen. Temen satu klub motor juga.  Begitu Ali pindah kerja ke Purwakarta. Melly pun menyusul dan pindah kesana. Agak lama juga saya tak mendengar kabar mereka. Sesekali aja saya intip facebooknya. Ahaaa.. sudah mulai kredit rumah disana. 

Tapi kemudian kamu batalkan acara foto prewedmu. “Nanti aja deh Hany. Foto post wed aja mungkin lebih asyik. Bisa lebih mesra” itu obrolan terakhir kita via ym. 

Lalu saya bertemu lagi dengan kamu seminggu lalu. Sayangnya, saat itu saya hanya melihatmu telah diselimuti kain kafan dan diturunkan ke dalam liang lahat. Mendadak sekali Mel. Banyak sekali yang datang. Saya nggak kenal semuanya. Tapi yang jelas di sudut saya hanya melihat Ali menangis berulang kali. 

Ah… Saya nggak tahu harus berkata apa. Saya nyesel nggak bisa hadir di acara pernikahanmu, Mel. Tapi saya bersyukur bisa mengantarmu hingga peristirahatan terakhirmu. 

Selamat jalan Mel. 

Doa kami bersamamu. 

BTR... 16 feb 2011 11.05 pagi. Hujan. 


Baru semalam saya dengar berita Adji meninggal dan melihat beritanya di TV. Melihat Anggie menangis dan tak mau jauh dari jenazah almarhum. Lalu esoknya. Saya dengar berita kepergian kamu Mel. Lalu saya melihat Ali. Menangis di hadapan saya. Begitu nyata. Saya kehabisan kata-kata, Mel. Saya hanya sanggup menepuk punggung dan memeluknya. 

Saya seperti diingatkan. Betapa berharganya setiap detik bersama pasangan kita. Bersyukur masih bisa membuatkan minum untuknya, membuatkan sarapan untuknya, memijat punggungnya karena lelah bekerja seharian. Saya bersyukur masih bisa memeluknya dan mengantarkan hingga pagar depan. 

Karena kematian begitu dekat. Karena kita tak pernah tahu apa rencana Tuhan untuk kita. Dan saya yakin, Mel. Banyak yang ingin kamu sampaikan untuk Ali. Tapi tak sempat.  

Jadi teman-teman….jangan pernah ragu untuk menunjukkan rasa sayangmu pada pasanganmu. 

Dimulai dari sekarang …….

Ps : Mel.. salam buat Adji Massaid yah..

yang lainnya :
melanie parmawatie

Friday, June 11, 2010

tour de Palembang, 27-30 mei 2010 : EPISODE KETEMU MBAK KUNTI

dalam kisah sebelumnya (EPISODE ADA BOX TERBANG) diceritakan mengenai kisah duka yang menimpa black cupu –ini nama motornya Hendraz- yang dalam semalam, arm relaynya jebol dua kali. Tidak hanya itu ada pula tambahan bonus : di tengah perjalanan box motornya terbang dan nyaris nyemplung ke dalam sungai. Sebagian foto-foto juga ada disini 1236 km

Minggu 30 Mei 2009, Jam 3 subuh, somewhere around hutan karet di Mesuji, Sumatera Selatan

Dan di dalam gelap, sosok berwarna putih itu bergerak cepat maju mundur diantara rimbun pepohonan tak jauh dari tempatnya berdiri. 

Maka meledaklah tangis Fanny –ini boncengernya Thomas- Thomas tak mampu berbuat apa-apa. (semoga sedang membaca doa). Tak jauh dari sana saya lihat Reza hanya mampu terpaku sambil tersenyum kecut  (saya : mungkin ada mbak Kunti yang sedang berdiri disamping Reza dan bilang “Tolong dibantu yaaaaaaa….” Hahaha….)

Sayang kejadian itu luput dari perhatian kami semua. Kami terlalu sibuk dengan si ceper yang kini ada di tengah jalan. Tanpa diperintah, sebagian dari kami mengambil posisi di kedua ujung jalan. Kami akan memberlakukan sistem buka tutup. Truk-truk besar dengan kecepatan tinggi tentu akan melintas disini. Di ujung jalan ada Thomas dan Fanny –ini boncengernya Thomas- Reza dan beberapa orang lagi. Begitu juga di ujung lainnya. Nah… sisanya bergerombol di sekitar TKP dan memandang Hendraz dengan gemas.

Hendraz berkeras untuk tinggal disini. Dia ingin menemani black cupu kesayangannya.

Walaupun ingin J nggak mungkinlah meninggalkan mereka disini. Setengah iba, setengah jengkel, setengah ingin melempar motornya dan menjualnya pada orang madura J. Akhirnya kami putuskan untuk mencegat truk kosong yang lewat.

Beberapa kali terjadi miskomunikasi dengan pick up dan truk yang lewat. Ketika Adnan hentikan, mereka malah ngibrit lari tunggang langgang. Mungkin kami dikira perampok kali ya… atau tampang kami semua terlalu keren di pagi buta seperti itu. Hihihi…

Hingga akhirnya ada juga satu truk kosong yang dengan sukarela berhenti di dekat kami. Mereka dalam perjalanan menuju Lampung.

Sekarang, motor sekaligus bikernya langsung kami ‘kirim’ ke Lampung. Agak sulit juga memindahkan si ceper yang berat itu naik ke atas truk. Sementara tiga orang naik ke atas truk, sisanya melepas box belakang. Tangki bensin menyusul kemudian. Lalu beramai-ramai mengangkat si cupu. Dua box givi milik Fanny Sombah pun tak luput dari incaran kami.  Sejak dua hari lalu, motornya pun bermasalah. Shock-nya jebol. Kami tak mau ambil resiko ia akan menyusul si cupu karena beban dan medan yang berat.

Ah.. ngomongin soal shock jebol ini saya jadi ingat kejadian dua hari lalu.

Jum’at 28 Mei 2010; 15:20 sore (masih di tengah jalan di daerah Mesuji)

Sore itu, Eko Probo memberi isyarat pada kami. Ia perlambat laju pio-nya lalu berhenti di tepi jalan. 

Setengah tak rela Zico, Bismo, Hendraz, Sontry, AndyBrod, Gojali, Hendry Tobing, Mulyadi, Adit dan eMJe -suami saya tentunya- merapat. Jalan yang kami lalui sekarang amatlah mulus tanpa lubang. Setelah didera jalan penuh lubang hampir seharian tadi, gatal rasanya ingin memacu kendaraan sekencang-kencangnya.

 

“ Rombongan di depan tak terkejar ya” ucapnya tak percaya “Padahal udah gaspol abeees” nyengir.

Rasanya selepas mengisi bensin di Menggala tadi barisan cukup rapi. Dengan dikumendani oleh Adnan selaku vorrijder, kami semua tak ragu menarik gas dalam-dalam. Tapi mungkin karena kombinasi jalan aspal yang mulai mulus, barisan yang terlalu panjang dan akibat terhambat truk di beberapa titik. Maka pasukan pun terpisah dengan suksesnya. Terutama kami yang (mengangkut beruang-beruang itu) ada di barisan paling belakang.

Jadi inilah kami, sebelas motor yang kebingungan di tengah jalan.

“Coba hubungi mereka” saya lupa siapa yang memberi perintah. Tapi saya ingat Adit mengeluarkan HP-nya dan menghubungi mereka.  Tak lama kemudian ia menutup telponnya. Kami sungguh mati penasaran.

 “Mereka… nyasar!!!!”

“Dan sekarang masih ada di belakang kita.”

Sedetik dua detik senyap. Lalu…..

“Buhuahahahahaha…!!!!” tawa kami pun pecah. Jadi selama ini kami mengejar siapa?

Kenapa bisa begitu? Hmmm.. alkisah di tengah perjalanan. Saking asyiknya pak kumendan di depan, ia tak memperhatikan rambu jalan. Di salah satu kelokan mereka malah menikung kembali menuju bakaheuni, Lampung. Aw..aw..aw…

SPBU pematang panggang, 16.20 sore

 Akhirnya kami bertemu lagi ketika melihat rombongan Adnan datang merapat. Mereka datang tanpa Tommy, Qosyim, Micky dan Rina –boncengernya Micky-  Mereka masih tertinggal di belakang. Ada masalah pada motor-nya Micky. Entah apa yang terjadi pada mereka. Tapi saya yakin saat itu Tommy yang penasaran masih sibuk membongkar motor.

Sementara disini, Adnan juga masih berkutat dengan motor Fanny Sombah. Kali ini shockbreaker-nya bocor. Semua menuding beban motornya yang terlalu berat. Selain membawa boncenger, motornya pun mengangkut tiga (yup! TIGA BUAH) box givi yang dipasang di tengah dan di samping kanan kirinya.

“Berat tiga box itu hampir sama dengan satu motor bebek lho!” bisik Hendraz pada saya.

“ooooo…” saya menatap takjub.

Sementara hari semakin senja. Target mencapai Palembang pukul enam sore kini hanya angan-angan saja. Apa yang terjadi dengan motornya Micky ya?

NEXT : motornya Micky kena ‘santet’

Thursday, June 10, 2010

catper tour de palembang 27-30 mei 2010 : EPISODE ADA BOX TERBANG

Minggu 30 Mei 2009, Jam 3 subuh, somewhere around hutan karet di Mesuji, 

Sumatera Selatan

Ini penggalan kisah ketika saya membonceng suami tercinta yang ikut touring de Palembang 27-30 mei 201o lalu bersama MiLYS ; foto-foto ada disini 1236km 

Si malih –ini nama motor suami saya- terbirit-birit menyusul barisan di depan. 

Tadi di jembatan, rombongan sempat terpecah dua. Ada yang terlanjur belok ke kiri dan melewati aspal rusak di jembatan lama. 

Tapi ada juga yang cukup pintar menumpang jembatan baru yang letaknya ada di sebelah jembatan lama. Sambil memandang iri pada beberapa motor yang ada disana, saya sempat berpikir.

 Kenapa barisan depan masih ada disini ya?

BOX TERBANG

Kemudian baru saya tahu dari Adit. Hahaha…tadi ada box terbang !  

“Box siapa?”

“Hendraz” ucapnya dengan sebal.  “Untung nggak jatuh di sungai. Bayangin kalo iya,  bakal gue suruh dia nyemplung juga ke sungai” hahaha.. dongkol banget kayaknya J

Setelah itu barisan rapi kembali. Walau hanya 2 jam sempat terlelap di salah satu SPBU dan setelah semalamam melewati jalanan rusak nan penuh lubang itu. Angin pagi ini cukup membuat kami semua bersemangat.  Kini kami bergegas memacu kendaraan. Jalanan lumayan mulus walau kadang berpasir di sisi kanan kirinya.

Gelap sekali. Kami harus waspada tingkat tinggi nih. Seringkali truk besar tiba-tiba muncul dari kelokan jalan. Namun kami dapat berkelit dengan lincahnya. Tidak hanya itu, kalau tidak hati-hati kadang-kadang mata ini kurang awas ketika berhadapan dengan lubang besar yang menganga persis di kelokan jalan.

 Sudah beberapa kali motor-motor ini menghantam jebakan batman itu.

Ini sudah belokan yang kesekian. Adit sudah berteriak-teriak mengingatkan Hendraz. Nggak usah pake gaya riding sambil berdiri gitu deh. Nggak usah ngebut juga. Lalu kami melihat cahaya yang terang benderang.

Rupanya barisan di depan terhenti di tepi jalan dengan posisi yang aneh sekali. Kami pun mendekat. Beberapa menepikan motornya. “Apalagi sekarang?” cetus saya dalam hati dan turun dari boncengan.

Hendraz nampak sedih. Di malam yang sama, ini untuk kedua kalinya si black cupu –ini nama motornya- berubah ceper seperti ini.  Arm relay-nya patah lagi. “Tadi sudah gua bilang. Nggak usah banyak gaya deeeeeh. Ini jalan banyak jebakannya” omel Adit sambil berjalan mondar-mandir.

Dan ketika barisan belakang datang menyusul. Adnan yang muncul pertama kali, tak dapat menahan kekesalannya. 

“Hendraz lagi???!!!”  matanya membelalak ingin menelannya bulat-bulat.  (saya : hmmm.. kayaknya sulit Bro. Beratnya udah lewat 100K lhooo…J ) ada rumor yang berkembang jika Hendraz baru men-service motornya hanya ketika akan touring saja. (saya lagi : sori ya Ndraz.... kalau yang ini belum teruji kebenarannya)

Dengan semua mata tertuju padanya, Hendraz mulai panik dan emosi. Mungkin kesal. Mungkin juga tidak enak hati karena sudah merepotkan banyak orang. Lalu dengan nada pelan ia berkata :

”Gue ditinggal disini  aja Bro. Kalo ada warung, biar gua nunggu disitu.  Nunggu anak timur aja” Memang sih, masih ada kloter terakhir. Rombongan Milys chapter Timur, saat itu masih ada di Palembang. Yang saya dengar, mereka baru akan berangkat hari minggu pagi. Jadi idenya adalah mengontak anak timur –minta dicarikan cadangan arm relay- lalu menunggu rombongan itu lewat.   

Ah.. saya jadi ingat kejadian semalam. Bonus kami bisa tidur di SPBU itu juga akibat si Black Cupu juga.  Sekitar 20 km menjelang SPBU tempat kami rehat semalam, Black cupu  -milik Hendraz-, si blekih –ini nama motor Sontry- dan si Sexybomber-motornya AndyBrod- berturut-turut menghantam lubang dalam. Bergantian masuk ke dalam jebakan batman itu tanpa sempat menghindar. Tidak hanya sekali tapi tiga kali.

Untunglah semua aman terkendali. Masih beruntung Hendraz tidak terjerembab jatuh. Tapi si cupu mendadak ceper, arm relaynya patah.

Maka saya dapat memahami kejengkelan Adnan yang berjam-jam mencoba mengganti arm relay-nya si Cupu. (catatan : AR cadangan yang dibawa Hendraz, tidak pas dengan dudukannya. Duuuuh.. ada-ada aja. Lalu solusi terakhirpun diambil :  tukar pasang AR dengan thompelica-nya Tommy)

Ngomongin soal jalan yang luar biasa buruk ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jalannya hanya mulus jika akan musim lebaran tiba. (proyek telah tiba style) Malah ada yang berseloroh kalau kami ini bak bermain congklak di jalan lintas timur ini. Lubang semuaaaa…..hohohoho!!!

Saya memandang berkeliling. Hanya pepohonan di kejauhan dan bekas galian pasir. Gelap sekali. Warung terdekat jauhnya berkilo-kilo meter dari sini. Itupun SPBU yang sudah tutup tempat kami menumpang tidur tadi. Hmmm….

 

Next : ADA MBAK KUNTI…HIIIIY!

Wednesday, June 09, 2010

1236 KM




agak sulit juga memilih beberapa dari 'ratusan' rekaman gambar yang saya jepret sepanjang perjalanan saya membonceng suami bersama klub motornya. Total ada sekitar 44 motor yang berangkat menuju kota Palembang via lintas timur. Saya baru tahu kalau jalannya kayak congklak hahaha... soalnya lubangnya merata di sepanjang jalan, bro!

Catpernya menyusul ya. Normalnya Jakarta-Palembang via motor sekitar 10-12 jam, tapi entah mengapa waktu itu kami tempuh dalam waktu 29 jam. rekor deh.. pegel-pegel dan ngantuk sudah pasti. tapi terobati juga sih waktu foto-foto (tepat) di bawah jembatan ampera. oiya... catpernya ada disini ADA BOX TERBANG

BTR, 8 Juni 2010; 19.26 (lagi nunggu yayangnya pulang kantor)

Saturday, January 30, 2010

this lonely view *




Motret sambil mbonceng motor itu ada seni-nya tersendiri. Nggak mudah memang. Saya nggak  bisa mengincar sasaran atau mencari sudut pandang yang saya suka. Tapi yang saya lihat sepanjang jalan, sayang sekali kalau saya lewatkan. Melihat jembatan (lagi), truk-truk (lagi) bahkan bangunan tua yang hanya lewat sekelebat saja, saya nggak pernah bosan. Nah… ini dia sebagian yang terekam selama perjalanan akhir tahun lalu ke Madura. (* inspired by road trippin' RHCP)

What a journey!


kisah selengkapnya disini

Friday, January 29, 2010

tour de Madura episode insiden di Pamanukan (TAMAT)

Hari keenam Minggu, 3 Januari 2010; insiden di Pamanukan

“Lho? Kok nasi gorengnya nggak dihabiskan?” tanyanya.

Ini sudah pertanyaan kedua. Beberapa menit berselang, istrinya juga menanyakan hal yang sama.  Kami senyam-senyum dan saling lirik. Nah lho. Hasim dimarahin bapak dan ibu penjual nasi di warung sebelah bengkel. Hasim salah tingkah.

“Nggak enak ya?” tanyanya lagi sambil mengangkat piring Hasim.

“Enak paaaak” jawabnya patuh.

“Dia nggak biasa sarapan pagi. Perutnya begah” jelas Vera –Vera ini istrinya Hasim- pada kami semua.

“Ooooooo….”

Warung ini ternyata sering dikunjungi. Masakannya juga enak. Kalau malam minggu, mereka memasok rupa-rupa nasi dan lauk-pauk untuk para biker yang nongkrong di Jalan Pemuda.

Pssst.. alm. Sophan Sophian juga pelanggan tetapnya. Jadi kalau sempat, mampirlah disini. Tempat singgah makan Busonoriz “Zahra” menunya yang terkenal :

gulai kambing, cumi cabe ijo, Rica belut, rica cabe Ijo. Bahan-bahannya fresh dari TPA terdekat. Tidak dibekukan, tapi langsung dimasak. 024-7623694

Kenapa tiba-tiba kami terdampar di tepi pantai.. eh… di warung sebelah bengkel ini sih?

Nah.. begini ceritanya.Tadi pagi, setelah menjemur raincoat, memanaskan si Malih n the gank, minum kopi dan teh yang disediakan sambil memandang gunung Merbabu di hadapan.

Jam setengah delapan, kami teruskan perjalanan. Jarak sejauh 30 km melalui Salatiga-Bawen-Ungaran-Semarang kami tempuh dalam waktu sejam, Cirebon lebih jauh lagi. Jaraknya sekitar 251 km lagi dari sini. Apalagi Jakarta, masih harus kami jalani sejauh lebih dari 523 km.

Setelah menembus kota Semarang kami terus mengarah ke jalur utara. Lalu kami berhenti di bengkel pertama yang kami lihat. Di Jalan Raya Jrakah yang saya baru sadari mobil, bus, motor yang bolak-balik di depannya, gemar sekali menyalakan klaksonnya. Berisik!

Saat itu posisi Hanz dan Hendrix ada di Sragen. Jam 3 subuh mereka berhenti dan menginap disana.

“Nggak kuat Bro!”

Jadi sambil menunggu mereka, kami juga memperbaiki pio-nya Fajar. Begitu juga dengan ban belakangnya Scozzy –motornya Hasim- yang dirasa tidak stabil, juga di betulkan posisinya.

Pukul sepuluh pagi. Ahirnya full team juga. Hendrix dan Hanz. (Lulu sempat tanya, yang namanya Hanz yang mana Sis?”) keduanya sama-sama bertubuh besar, memakai kaos lengan panjang, mengenakan bandana merah dan memakai jaket Milys. Biker banget daaaah! 

Masih ngantuk dan dekil. Tapi wajah mereka menyiratkan rasa syukur karena berhasil menyusul kami. Motor Hanz –oiya, pio-nya Hanz belum punya nama tuh. Kalau ada usul silakan lho- segera masuk kamar operasi. CR-nya ditukar dengan CR si Malih. Cukup lama juga kami menunggu. Karena ada sparepart yang harus dicari dulu.

Jam dua belas kurang limabelas menit, enam motor+8 orang perlahan-lahan meninggalkan Semarang. Si Malih masih di depan, diikuti Hasim+Vera, Lulu, Fajar, Hendrix dan Hanz.

Kami belok ke jalur alternatif dan tiba-tiba sudah ada Cepiring. Yang paling saya ingat dari tempat ini adalah Pabrik Gula Cepiring, persis ada di tepi jalan.

Jangan ditanya cuaca hari itu. Panas terik.  Dua kali barisan sempat berhenti. Pertama waktu Hanz menyusul dan bilang. 

“Gua nggak bisa ngikutin flow loe, Jeh”

“Apa kamu mau di depan?” tanya suami saya.

“Nggak ah..! Gue tarik ulur aja. Kalo ngantuk jalan pelan-pelan. Kalo udah seger, gua gaspol nyusul barisan.”

Maka, sejak saat itu, hingga malam nanti ketika insiden Pamanukan itu terjadi, Hanz akan selalu dalam posisi buncit dan tarik ulur. Jam satu siang, sedang Jakarta masih 350 km lagi.

Dan kedua ketika pukul setengah tiga sore, Hendrix juga menyusul ke depan, Dengan bahasa isyarat (seperti sedang menyuap makanan ) itu tandanya dia lapar dan tanya

“Kapan berhentinya bro?”

Maka akhirnya kami berhenti di salah satu warung sate dan tongseng di daerah Brebes. Dan kemudian istirahat panjang di SPBU tak jauh dari situ. Pukul 5 sore kami berangkat lagi. Langit terllihat berat dan gelap.

Wah.. kami bakal kejar-kejaran dengan hujan nih.

Saya lupa tepatnya jam berapa tapi setelah itu kami masih sempat mengisi bensin, melewatkan magrib di jalan dn sejam kemudian berhenti lagi di tengah jalan. Somewhere in pantura. Box belakang si Scozzy jatuh.

Untunglah masih ada bengkel las yang buka malam itu. Sambil menunggu bracketnya di las kembali, kami nongkrong lagi di salah satu warung tak jauh dari situ. Gembira menemukan sakelar listrik, Hendrix langsung membuka notebooknya. Hanz yang tidak bisa diam, mondar-mandir dengan pio-nya di sepanjang jalan. –Hmmmm… hari yang aneh 

Tragedi di Pamanukan dan Rit Celurit Sampeyan!

Dalam gelap, tahu-tahu saya sudah tergeletak di tengah jalan.

Di sebelah, suami saya terguling meringis menahan sakit. Si Malih –ini nama motor kami- juga terbalik di hadapan.

Kami sudah berbalik arah, duduk dan menatap sorot lampu truk tronton yang berdecit tak jauh di depan hidung kami.

Untunglah motor yang dikemudikan Hasim, Hendrix, Lulu dan Fajar cepat bermanuver menghindari kami.  Dan kemudian merapat di sekeliling dan bergerak cepat memblokir jalan melindungi kami.

Kami bertiga bagai penyanyi yang sedang disorot dengan lampu ribuan watt. Lalulintas terhenti saat itu juga.

Bagai ribuan slide foto yang bergantian di pelupuk mata saya. Berganti-ganti seperti di film-film itu lho.

Selasa lalu di Pamanukan, hujan-hujanan mencari penginapan. Kamis tertawa riang foto-foto di jembatan Suramadu.
Berlompatan di pantai Lombang. Keluar masuk pabrik kerupuk di Magetan.
Terkantuk-kantuk menuju kamar diantara ABG Salatiga yang sedang tipsi.

Jangan-jangan ini akhir dari hidup saya….hiks!

Mata saya menyipit melihat silaunya lampu truk dan motor mereka. Saya beruntung pada saat itu tidak panik. Kalo dipikir kok bisa ya? Saya ingat betul, waktu itu saya sempat memeriksa diri saya dulu. Apa ada yang luka atau patah. Dan menoleh pada belahan jiwa saya, menanyakan hal yang sama. Dia bilang kaki kirinya sakit.

“Oke… masih bisa jalan kan?” saat itu dalam pikiran saya adalah segera pindah ke bahu jalan. Ke tempat yang lebih aman.

Bergandengan kami menyingkir ke tepi jalan. Ada warung yang sudah tutup. Suami saya duduk di bale bambu. Saya berselonjor di teras tanah di dekatnya. Kami berdua masih shock. Ada yang datang (lupa, Hasim atau Hendrix ya?)

“(Saya) minta minum Hany!” pintanya. Wajahnya pucat.

“Air.. air.. minta air!” seru saya. Kini saya mulai panik. Aduuuuuh… saya nggak mau lagi naik motor..hiks! hiks!

Lalu kami diajak Hendrix (atau Hasim ya?) kami pindah ke tempat yang lebih terang, Ada rumah tanpa pagar, yang terasnya kami pakai untuk duduk. Saya masih sempat melihat si Malih digotong oleh Fajar dan Lulu. –sedih saya melihatnya tak berdaya- Motor-motor yang lain rupanya sudah diparkir di halaman rumah ini.

Dan jalan pantura di depan kami kembali normal seperti biasa.

Saya melirik jam tangan. Jam sepuluh malam saat itu. Suami saya rebah di teras. Dan dengan keras kepala tidak mau saya lihat kakinya. –huh!- Sambil mengeluarkan tas mungil obat-obatan, saya periksa kakinya. Sejauh ini sih tidak ada yang patah hanya tulang keringnya memar, lututnya juga.

Hanya dia mendadak rewel saja karena saya tahu perasaannya tidak enak hati karena merepotkan orang banyak.

Hasim datang lagi dengan wajah cemas.

“Nggak apa-apa Jeh?” *which is means.. are you OK?*

“ta’ rit clurit sampeyaaaaan”

“Hahahaha…” my hubby is baaaaack!

Fajar dengan cekatan mengganti CR si Malih. Yup! Betul. CR abal-abal (hasil tukar guling dengan CR-nya Hanz waktu di Semarang tadi) patah dengan suksesnya. Kemudian baru saya tahu kalau itu CR cadangan yang didapat dari Hasim. Dan sehari kemudian baru kami sadari, body lampu depan si Malih pecah, berikut windshieldnya.

Tapi yang menyelamatkan kami berdua adalah (ini analisa kami) side bag yang isinya penuh dengan pakaian itu yang berperan sebagai buffer. Sehingga kaki kami tidak terjepit si Malih dan kami tidak langsung jatuh menghantam aspal.

Dan lubang di jalanlah penyebabnya, juga kesalahan mengambil keputusan di sepersekian detik terakhir.

Sambil mengelap tangan dan wajah penuh peluh Fajar menjelaskan pada saya. Mungkin karena posisinya agak jauh di belakang, jadi bisa melihat rekaman kejadiannya dengan jelas. Ini juga yang masih saya ingat.

Jalur pantura itu gelap sekali. Tidak ada lampu jalannya (mungkin lampunya mati?) Ada dua jalur yang mengarah ke Jakarta, dua jalur pula yang menuju Surabaya dan sebuah median jalan di tengahnya. Jalur ini umum digunakan untuk jalur distribusi. Dan malam hari adalah waktu terbaik bagi truk-truk besar pengangkut itu mondar-mandir diatasnya.

Barisan kami cukup rapi malam itu. Ada lima motor yang beriringan  -seperti yang sudah diceritakan di awal kisah ini, Hanz memang sedang jauh di belakang- Kelima motor itu meliuk-liuk menyusup dan melewati truk-truk itu.

Nah…ketika si Malih hendak menyalip ke jalur kanan, suami saya tidak mengira akan menemui lubang. Dan keputusan harus segera diambil, apa lubang itu dihajar terus atau dengan reflek membuang kearah kanan? Yang bisa jadi membahayakan pengemudi lain.

Dilema juga sih. Maka inilah keputusan sepersekian detik itu.  lubang itupun dilibasnya.

Mendadak saya merasa pendek. –ini akibat CR yang patah. Body belakang pio langsung amblas dan rata dengan ban- Suami saya masih berusaha keras memperlambat si malih, dia memegang stang motor yang mendadak tidak terkendali ke kanan dan ke kiri. Lalu kami menghantam lubang lagi. Dan menghantam lubang lainnya. 

Lalu kami jatuh.

-TAMAT-

(BTR, selesai ditulis 28 januari 2010 jam 10 pagi. Selamat ulang tahun Milys.!!)

Terimakasih pada Allah SWT, teman-teman seperjalanan kami, Lulu, Hasim+Vera, Fajar, Hendrix dan Hanz; mbak Eri yang bertugas memberi makan kucing-kucing kami selama kami pergi  ; Bro Amir, mas Eko Probo yang terus memantau pergerakan team, Gondrong dan keluarga besar SADIS di Semarang untuk hahahihi dan jamuannya selama di Semarang; kenalan baru kami dari teman-teman TSC –Tegal Scorpio Club-; David dan Adit yang mengantar hingga Madura; Toni, Umam, Wawan, Teguh dan keluarga besar BSR –Bangkalan Scorpio Rider-  yang dengan tulus menyambut, menemani dan menghibur kami selama di Madura; mas Anto dan keluarga besarnya, teman-teman dari Mascord –Madiun Scorpio Rider- untuk tempat persinggahannya yang luar biasa; Boyke dan Eddy –dari ASOKA- yang barengan menuju Semarang, juga teman-teman ASOKA yang subuh naas itu merapat, membantu dan mengawal kami hingga Karawang- teman-teman dari SAB bandung, Andy Brod, Tommy, Melly, Mario Ovan, Rahboy, bro Purwanto, dan semua yang waktu itu memantau kejadian via BBM; terimakasih. Kami tak kuasa membalasnya, semoga Allah melimpahkan balasan yang sebesar-besarnya untuk kalian semua.

Dan sisa hari itu terasa panjang sekali. Kami tiba di rumah jam setengah enam pagi. Lulu memisahkan diri menuju Pondok Gede, sisanya terus ke selatan ke arah Cibubur untuk kemudian menembus Parung. Beberapa harus segera mandi dan berkemas. Hari itu sudah waktunya masuk kerja.Suami saya nggak ngantor hari itu –ya iya laaaaah- pupus sudah resolusi tahun 2010 yang tidak mau absen satu hari pun-  saya nggak tahu gimana dengan yang lain tapi Lulu sempat ditegur si bos karena tertidur di meja kantor.  thanks anyway Lu, untuk menjadi wingman kami dan  selalu ceria selama di perjalanan.

Thursday, January 21, 2010

pantai lombang tempatnya si cemara udang




Jam setengah satu kami sudah ada di tepi pantai, tigapuluh kilometer jauhnya dari Sumenep. Sayang, langit sedang tidak bersahabat. Hujan seperti ditumpahkan dari langit. Saya sudah kehilangan selera. Apalagi  tempat parkir dan pantai penuh dengan orang.

Ah… namanya juga hari libur  saya memang tidak punya pilihan.

Tapi pantainya memang cantik. Pasirnya putih kemerahan. Dan cemara udang, membingkai pantai dengan indahnya. Dan langit kembali terang. Awan mulai datang beriringan. Suasana hati saya terbawa perubahan ini.

Maka jadilah kami foto-foto di tepi pantai. Toni punya seribu ide yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Semua kami coba dengan ceria. Aiiiih…saya jadi nggak sedih lagi.

*Pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang (Casuarina equesetifolia)

Kisah selengkapnya : 
tour de madura eps. Si ganteng itu namanya La Ya La

Pantai Lombang, Madura 1 Januari 2010 (rangkaian tour de Madura awal bulan lalu, waktu itu saya, suami saya dan Lulu berangkat dari Jakarta. Di sini kami ditemani teman baru kami :Toni, Umang dan Nani… Makasih yaaaa!)

Wednesday, January 20, 2010

tour de Madura episode si ganteng itu namanya LA YA LA

Kisah sebelumnya : a little town called LASEM

Pernah melihat sapi karapan dari dekat? Maksud saya benar-benar ada di dekatnya. Menyentuh kupingnya, menepuk-nepuk pundaknya dan merasakan dengus nafasnya? Ah.. kami beruntung sekali. Gara-gara kami tunda pergi ke Sumenep sore itu, kami jadi mampir ke rumah Teguh.

Teguh ini salah satu anggota Bangkalan Scorpio Riders (BSR). kami kira dia hanya berkelakar waktu bilang ada sapi karapan disini.

Kami bertiga –saya, suami saya dan Loeloe- menjerit bagai orang yang belum melihat sapi.

Ini karena Toni bilang mau menemani kami ke Sumenep.

“Tapi, malam ya… setelah acara tahun baruan bareng BSR”

Karena itulah selepas memandikan si Malih dan si Rohman dan makan siang (sebenernya sih udah jam empat sore), kami mampir ke basecampnya BSR, sebuah warnet di jalan KH. Moh. Kholil yang ada di jantung kota Bangkalan. –saya jadi inget basecampnya YSC Garut-

Nah, dari basecamp inilah persinggahan kami berujung ke rumah Teguh, untuk istirahat dan numpang mandi. Dan berkenalan dengan si ganteng La Ya La. 

Agak sulit juga mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Teguh bilang La Ya La itu artinya si pembuat onar atau si pembuat kegaduhan. Di rumah (mertuanya) yang besar itu, di salah satu garasi mobil, ada bilik tempat sapi ini bermukim.

Dan si pembuat onar itu –yang sempat ditawar orang 80 juta rupiah- sedang melahap cemilan sorenya. Satu baskom besar berisi jamu, telur dan rumput yang diaduk menjadi satu. Ehmmm.. nikmat sekali kelihatannya.

Dia bila
ng  tiap dua minggu sekali pasti diajak olahraga. La Ya La rajin ikut kompetisi. Pialanya banyak berjajar di dalam rumah. Di pertandingan yang lalu hadiahnya malah sebuah sepeda motor. Waaaaa…. Maaaauuuuu… jangan-jangan motor scorpio ya?

Hahaha…nah kalau ingin nonton the real karapan sapi (bukan yang sengaja dibuat hanya untuk konsumsi turis) silakan mampir ke pulau ini antara bulan agustus-september-oktober (kalau nggak salah denger ) karena tiap tahun selalu ada kompetisi mulai dari tingkat kecamatan hingga antar kabupaten.

Cukup lama juga kami disana. Kami sempat mandi, tidur dan nonton TV. Toni datang menjemput. Dan baru pukul sembilan malam kami beriringan menuju rumah Zaenal. Kalau kalian masih ingat, Zaenal ini juga salah satu member BSR. Uniknya, tempat tinggal mereka masih di situ-situ juga. Masih satu komplek. Kalau dipikir enak juga kalau mau kopdar. Mungkin nama klubnya diganti aja jadi TSR, Tetangga Scorpio Riders.. hihihi….


Sampai disana, sudah banyak yang datang. Ada Wawan dan boncengernya. Toni, Yaya, Teguh –yang mondar-mandir kayak setrikaan-

“Ada acara tahun baruan juga di rumah” repot ya Guh kalo jadi selebritis.. kwkwkwkwk..

dan juga ada Umam aka Umang. Dia adiknya Toni. Zaenal ini punya warung di rumahnya. Anak laki-lakinya ada dua orang. Tiga ekor bebek dipotong dan dia sendiri yang memasak bebek bumbu rica favoritnya.

Senang melihatnya multitasking, mengawasi warung, mengasuh anak dan mengaduk-ngaduk masakan –kompor minyaknya sengaja di bawa keluar- sementara kami duduk beralas tikar di dekatnya.


Hari keempat , Jum’at ; 1 Januari 2010; DARI API ABADI HINGGA AIR TERJUN TOROAN
(yang nggak kesampean)

API YANG TAK KUNJUNG PADAM

Pukul sebelas malam. Dengan wajah puas karena kekenyangan, kami pun pamit menuju Sumenep. Toni, Umang+Nani (boncenger) turut menemani. Full gear, lengkap dengan pelindung lutut. Hujan rintik menemani dan tanpa kami sadari, ternyata kami melewati pergantian tahun dalam perjalanan dari Bangkalan menuju Sampang.

Selamat tahun baruuuuuu yaaaa …..!!!!


Jarak Bangkalan-Tanahmerah-Blega sekitar 41 km, kemudian Blega-Sampang  22 km jauhnya, Dari Sampang-Tianakan-Pamekasan sejauh 25 kilometer. Yang agak jauh sih dari Pamekasan-Galis-bluto-Sumenep, sekitar 59 kilometer.Toni bilang, sekitar 2-3 jam deh. Hiks..! hiks! Subuh doooong? 

Sekitar 15 menit sebelum masuk kota Sampang, kami mampir ke desa Larangan tokol di kecamatan Tlanakan, Orang-orang disini menyebutnya dhangka atau api abadi. Konon dulu pernah diambil apinya untuk api PON tahun 1992.

Dari penduduk yang berjaga di jalan masuk desa, kami dikutip Rp 3000 per motor. Sudah pukul satu dinihari dan masih ada juga ABG-ABG Sampang yang nongkrong di sekitar api ini.

Api ini muncul begitu saja dari tanah. Ada beberapa titik api yang kemudian dibuatkan pagar pembatas di sekelilingnya. Di sekitar tempat ini juga ada kios-kios yang menjual souvenir khas Madura, warung kopi dan beberapa toilet umum. 

Kami bersalaman saling mengucap selamat tahun baru. Lulu penasaran ingin membakar pisang dengan salah satu api abadi ini. Suami saya kelelahan (dan juga ngantuk) jadi nggak begitu mood waktu saya minta untuk jadi model foto.

Toni menawari kami kopi. Saya sih nggak pernah nolak  tapi kopi item yang saya pesan, rasanya aneh. Bubuk kopinya ditumbuk kasar, dan gulanya … astaga.. ini sih kolak kopi. Manis banget! Hehehe…

MONUMEN ARE’ LANCOR

Hanya setengah jam kami di api abadi itu. Setengah jam kemudian kami sudah masuk kota Pamekasan. Sudah pukul dua subuh. Ada satu monumen yang sayang untuk dilewatkan ketika ada di Pamekasan. Monumen Are’ Lancor namanya. Are' dalam bahasa madura berarti clurit.

Monumen ini ada di depan Masjid Agung Asyuhada. Mungkin karena ini malam tahun baru, masih banyak ABG-ABG Pamekasan yang sedang nongkrong di alun-alun dan di pinggir jalan. Malah ada yang menyeret speaker segede gaban dan bergoyang di depannya. Ayoo goyaaang!



SUMENEP, TANAH PARA RAJA


Tadi kami tiba pukul tiga subuh. Sempat berputar-putar mencari penginapan. Dari info yang saya googling sebelum kesini, ada beberapa sih yang direkomendasikan. Tapi akhirnya kami tiba di hotel Wijaya II yang ada di jalan Wahid hasyim. Kami pilih kelas ekonomi, harganya Rp 40,000 semalam, double bed, dapat kipas angin, teh manis/ kopi walau kamar mandinya ada di luar. Tapi cukup bersih kok. Kamarnya juga bersih, 

Tapi suami saya dan toni tidak langsung tidur. Malah duduk dan ngobrol di depan TV yang ada di ruang depan. Saya cukup paham tipe orang seperti ini. Kalau lelah, mereka nggak bisa langsung tidur. Sebaliknya, Lulu dan saya. Kami segera beres-beres, mandi dan langsung tidur.

Bagaimana Umang dan Nani?

Waktu pagi baru saya tahu. Kepalang tanggung menjelang subuh, mereka pergi sholat di mesjid tidak jauh dari penginapan. Dan sepatu Nani hilang. Ah.. jadilah pagi itu mereka keliling sebentar untuk beli sepatu baru.


Jadi praktis baru pukul sebelas siang kami meninggalkan hotel. Trip hari ini disesuaikan dengan waktu yang kami punya deh. Makan siang dulu, ke keraton Sumenep, ke pantai Lombang dan pulang ke Bangkalan melalui jalur utara. Walau sebenarnya saya kecewa karena masih banyak sekali objek menarik disini. Semoga saya bisa datang lagi kesini.

PANTAI LOMBANG TEMPATNYA CEMARA UDANG


Pernah lihat pohon cemara udang? Penasaran kan? Ah.. ini  yang selalu terbayang sejak saya di Jakarta. Seperti apa ya? Cemara biasanya ada di gunung atau tempat yang dingin. Tapi ini ada di pantai? , pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di Indonesia (yang lainnya ada di Cina) yang ditumbuhi pohon cemara udang.

J
am setengah satu kami sudah ada di tepi pantai. Pantai Lombang ini berada di desa Lombang, di kecamatan Batang-Batang, jaraknya 30 km timur laut dari Sumenep. Sayangnya langit sedang tidak bersahabat. Hujan seperti ditumpahkan dari langit. Walau tidak terlalu lama, kami berteduh sebentar. Saya sudah kehilangan selera untuk motret. Apalagi ditambah tempat parkir dan pantai yang penuh dengan orang.

Ah… namanya juga hari libur  saya memang tidak punya pilihan. Tapi pantainya memang cantik. Pasirnya putih kemerahan. Dan Pohon cemara udangnya membingkai pantai dengan indahnya. Dan langit kembali terang. Awan mulai datang beriringan. Suasana hati saya terbawa perubahan ini.

Maka jadilah kami berfoto lulumpatan. Toni punya seribu ide yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Lulumpatan ala pesilat dan ala pemain terjun bebas pun kami jajal dengan ceria. Aiiiih…saya jadi nggak sedih lagi.

Next : ADA RAMUAN MADURA DI KERATON SUMENEP
 
;