Showing posts with label touring. Show all posts
Showing posts with label touring. Show all posts

Tuesday, November 01, 2011

belum 'haji' kalau belum ke km.0




Bagi para biker, mencapai titik nol kilometer di kota sabang, pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam, bagaikan pergi ke Mekah. Belum dianggap ‘haji’ kalau belum pergi kesana.  

Setelah lebaran lalu, suami saya bersama teman-teman klub motornya di Mailing List Yamaha Scorpio pergi kesana. Biasanya saya selalu mbonceng kemanapun mereka pergi. Tapi kali ini, saya dan beberapa teman, mencegat mereka di Medan.  dan singkat kata, dari sana barulah kami membonceng hingga Sabang.

Karena baru H+3 lebaran Idul Fitri, baik dari Pelabuhan Ulee Lheue maupun Pelabuhan Balohan di pulau Weh, penuh sangat dengan orang yang ingin menyeberang. Yang biasanya ada dua kali penyeberangan, kali ini ada tiga kali penyeberangan. Tiketnya Rp 17,000 untuk penumpang ekonomi atau tiket driver+kendaraan motor gol II Rp 21,000. 

Uniknya, kendaraan bermotor yang ingin menyeberang, sudah ada yang mengantri dari semalam. Yang tidak masuk quota, harus gigit jari karena menunggu antrian berikut. Yang bisa jadi baru berangkat keesokan harinya.  Bisa juga sih pakai kapal cepat. Tapi selain harga tiketnya lumayan, motor kan  nggak bisa ikut? 

Karena keterbatasan waktu pula, team motor ini hanya sempat mampir ke tugu GPS kilometer O di sisi barat-utara pulau ini. Sekitar 45 menit perjalanan dari Pelabuhan Balohan. Sayang banget, padahal banyak sekali tempat yang 'wajib' dikunjungi di pulau ini seperti pantai ibong, pulau rubiah atau danau aneuk laot *sigh* 

Tapi.. paling tidak, saya nggak penasaran lagi. Memang harus kesini lagi sepertinya. Bukan sebagai anak motor.. tapi sebagai anak pantai lah yaaa….. hahaha..!

Faktanya : monumen ini sebenarnya bukan titik paling barat dari Indonesia. Pulau Rondo adalah pulau yang terletak paling barat, tapi karena sulitnya mencapai pulau ini, maka monumen di bangun di tempat ini. 

Sabang, Trip to KM.0 (4-5 Sept 2011)

yang lain mengenai Milys goes to Atjeh juga ada disini eko probo : milys jelajah bumi andalas

Friday, June 11, 2010

tour de Palembang, 27-30 mei 2010 : EPISODE KETEMU MBAK KUNTI

dalam kisah sebelumnya (EPISODE ADA BOX TERBANG) diceritakan mengenai kisah duka yang menimpa black cupu –ini nama motornya Hendraz- yang dalam semalam, arm relaynya jebol dua kali. Tidak hanya itu ada pula tambahan bonus : di tengah perjalanan box motornya terbang dan nyaris nyemplung ke dalam sungai. Sebagian foto-foto juga ada disini 1236 km

Minggu 30 Mei 2009, Jam 3 subuh, somewhere around hutan karet di Mesuji, Sumatera Selatan

Dan di dalam gelap, sosok berwarna putih itu bergerak cepat maju mundur diantara rimbun pepohonan tak jauh dari tempatnya berdiri. 

Maka meledaklah tangis Fanny –ini boncengernya Thomas- Thomas tak mampu berbuat apa-apa. (semoga sedang membaca doa). Tak jauh dari sana saya lihat Reza hanya mampu terpaku sambil tersenyum kecut  (saya : mungkin ada mbak Kunti yang sedang berdiri disamping Reza dan bilang “Tolong dibantu yaaaaaaa….” Hahaha….)

Sayang kejadian itu luput dari perhatian kami semua. Kami terlalu sibuk dengan si ceper yang kini ada di tengah jalan. Tanpa diperintah, sebagian dari kami mengambil posisi di kedua ujung jalan. Kami akan memberlakukan sistem buka tutup. Truk-truk besar dengan kecepatan tinggi tentu akan melintas disini. Di ujung jalan ada Thomas dan Fanny –ini boncengernya Thomas- Reza dan beberapa orang lagi. Begitu juga di ujung lainnya. Nah… sisanya bergerombol di sekitar TKP dan memandang Hendraz dengan gemas.

Hendraz berkeras untuk tinggal disini. Dia ingin menemani black cupu kesayangannya.

Walaupun ingin J nggak mungkinlah meninggalkan mereka disini. Setengah iba, setengah jengkel, setengah ingin melempar motornya dan menjualnya pada orang madura J. Akhirnya kami putuskan untuk mencegat truk kosong yang lewat.

Beberapa kali terjadi miskomunikasi dengan pick up dan truk yang lewat. Ketika Adnan hentikan, mereka malah ngibrit lari tunggang langgang. Mungkin kami dikira perampok kali ya… atau tampang kami semua terlalu keren di pagi buta seperti itu. Hihihi…

Hingga akhirnya ada juga satu truk kosong yang dengan sukarela berhenti di dekat kami. Mereka dalam perjalanan menuju Lampung.

Sekarang, motor sekaligus bikernya langsung kami ‘kirim’ ke Lampung. Agak sulit juga memindahkan si ceper yang berat itu naik ke atas truk. Sementara tiga orang naik ke atas truk, sisanya melepas box belakang. Tangki bensin menyusul kemudian. Lalu beramai-ramai mengangkat si cupu. Dua box givi milik Fanny Sombah pun tak luput dari incaran kami.  Sejak dua hari lalu, motornya pun bermasalah. Shock-nya jebol. Kami tak mau ambil resiko ia akan menyusul si cupu karena beban dan medan yang berat.

Ah.. ngomongin soal shock jebol ini saya jadi ingat kejadian dua hari lalu.

Jum’at 28 Mei 2010; 15:20 sore (masih di tengah jalan di daerah Mesuji)

Sore itu, Eko Probo memberi isyarat pada kami. Ia perlambat laju pio-nya lalu berhenti di tepi jalan. 

Setengah tak rela Zico, Bismo, Hendraz, Sontry, AndyBrod, Gojali, Hendry Tobing, Mulyadi, Adit dan eMJe -suami saya tentunya- merapat. Jalan yang kami lalui sekarang amatlah mulus tanpa lubang. Setelah didera jalan penuh lubang hampir seharian tadi, gatal rasanya ingin memacu kendaraan sekencang-kencangnya.

 

“ Rombongan di depan tak terkejar ya” ucapnya tak percaya “Padahal udah gaspol abeees” nyengir.

Rasanya selepas mengisi bensin di Menggala tadi barisan cukup rapi. Dengan dikumendani oleh Adnan selaku vorrijder, kami semua tak ragu menarik gas dalam-dalam. Tapi mungkin karena kombinasi jalan aspal yang mulai mulus, barisan yang terlalu panjang dan akibat terhambat truk di beberapa titik. Maka pasukan pun terpisah dengan suksesnya. Terutama kami yang (mengangkut beruang-beruang itu) ada di barisan paling belakang.

Jadi inilah kami, sebelas motor yang kebingungan di tengah jalan.

“Coba hubungi mereka” saya lupa siapa yang memberi perintah. Tapi saya ingat Adit mengeluarkan HP-nya dan menghubungi mereka.  Tak lama kemudian ia menutup telponnya. Kami sungguh mati penasaran.

 “Mereka… nyasar!!!!”

“Dan sekarang masih ada di belakang kita.”

Sedetik dua detik senyap. Lalu…..

“Buhuahahahahaha…!!!!” tawa kami pun pecah. Jadi selama ini kami mengejar siapa?

Kenapa bisa begitu? Hmmm.. alkisah di tengah perjalanan. Saking asyiknya pak kumendan di depan, ia tak memperhatikan rambu jalan. Di salah satu kelokan mereka malah menikung kembali menuju bakaheuni, Lampung. Aw..aw..aw…

SPBU pematang panggang, 16.20 sore

 Akhirnya kami bertemu lagi ketika melihat rombongan Adnan datang merapat. Mereka datang tanpa Tommy, Qosyim, Micky dan Rina –boncengernya Micky-  Mereka masih tertinggal di belakang. Ada masalah pada motor-nya Micky. Entah apa yang terjadi pada mereka. Tapi saya yakin saat itu Tommy yang penasaran masih sibuk membongkar motor.

Sementara disini, Adnan juga masih berkutat dengan motor Fanny Sombah. Kali ini shockbreaker-nya bocor. Semua menuding beban motornya yang terlalu berat. Selain membawa boncenger, motornya pun mengangkut tiga (yup! TIGA BUAH) box givi yang dipasang di tengah dan di samping kanan kirinya.

“Berat tiga box itu hampir sama dengan satu motor bebek lho!” bisik Hendraz pada saya.

“ooooo…” saya menatap takjub.

Sementara hari semakin senja. Target mencapai Palembang pukul enam sore kini hanya angan-angan saja. Apa yang terjadi dengan motornya Micky ya?

NEXT : motornya Micky kena ‘santet’

Thursday, June 10, 2010

catper tour de palembang 27-30 mei 2010 : EPISODE ADA BOX TERBANG

Minggu 30 Mei 2009, Jam 3 subuh, somewhere around hutan karet di Mesuji, 

Sumatera Selatan

Ini penggalan kisah ketika saya membonceng suami tercinta yang ikut touring de Palembang 27-30 mei 201o lalu bersama MiLYS ; foto-foto ada disini 1236km 

Si malih –ini nama motor suami saya- terbirit-birit menyusul barisan di depan. 

Tadi di jembatan, rombongan sempat terpecah dua. Ada yang terlanjur belok ke kiri dan melewati aspal rusak di jembatan lama. 

Tapi ada juga yang cukup pintar menumpang jembatan baru yang letaknya ada di sebelah jembatan lama. Sambil memandang iri pada beberapa motor yang ada disana, saya sempat berpikir.

 Kenapa barisan depan masih ada disini ya?

BOX TERBANG

Kemudian baru saya tahu dari Adit. Hahaha…tadi ada box terbang !  

“Box siapa?”

“Hendraz” ucapnya dengan sebal.  “Untung nggak jatuh di sungai. Bayangin kalo iya,  bakal gue suruh dia nyemplung juga ke sungai” hahaha.. dongkol banget kayaknya J

Setelah itu barisan rapi kembali. Walau hanya 2 jam sempat terlelap di salah satu SPBU dan setelah semalamam melewati jalanan rusak nan penuh lubang itu. Angin pagi ini cukup membuat kami semua bersemangat.  Kini kami bergegas memacu kendaraan. Jalanan lumayan mulus walau kadang berpasir di sisi kanan kirinya.

Gelap sekali. Kami harus waspada tingkat tinggi nih. Seringkali truk besar tiba-tiba muncul dari kelokan jalan. Namun kami dapat berkelit dengan lincahnya. Tidak hanya itu, kalau tidak hati-hati kadang-kadang mata ini kurang awas ketika berhadapan dengan lubang besar yang menganga persis di kelokan jalan.

 Sudah beberapa kali motor-motor ini menghantam jebakan batman itu.

Ini sudah belokan yang kesekian. Adit sudah berteriak-teriak mengingatkan Hendraz. Nggak usah pake gaya riding sambil berdiri gitu deh. Nggak usah ngebut juga. Lalu kami melihat cahaya yang terang benderang.

Rupanya barisan di depan terhenti di tepi jalan dengan posisi yang aneh sekali. Kami pun mendekat. Beberapa menepikan motornya. “Apalagi sekarang?” cetus saya dalam hati dan turun dari boncengan.

Hendraz nampak sedih. Di malam yang sama, ini untuk kedua kalinya si black cupu –ini nama motornya- berubah ceper seperti ini.  Arm relay-nya patah lagi. “Tadi sudah gua bilang. Nggak usah banyak gaya deeeeeh. Ini jalan banyak jebakannya” omel Adit sambil berjalan mondar-mandir.

Dan ketika barisan belakang datang menyusul. Adnan yang muncul pertama kali, tak dapat menahan kekesalannya. 

“Hendraz lagi???!!!”  matanya membelalak ingin menelannya bulat-bulat.  (saya : hmmm.. kayaknya sulit Bro. Beratnya udah lewat 100K lhooo…J ) ada rumor yang berkembang jika Hendraz baru men-service motornya hanya ketika akan touring saja. (saya lagi : sori ya Ndraz.... kalau yang ini belum teruji kebenarannya)

Dengan semua mata tertuju padanya, Hendraz mulai panik dan emosi. Mungkin kesal. Mungkin juga tidak enak hati karena sudah merepotkan banyak orang. Lalu dengan nada pelan ia berkata :

”Gue ditinggal disini  aja Bro. Kalo ada warung, biar gua nunggu disitu.  Nunggu anak timur aja” Memang sih, masih ada kloter terakhir. Rombongan Milys chapter Timur, saat itu masih ada di Palembang. Yang saya dengar, mereka baru akan berangkat hari minggu pagi. Jadi idenya adalah mengontak anak timur –minta dicarikan cadangan arm relay- lalu menunggu rombongan itu lewat.   

Ah.. saya jadi ingat kejadian semalam. Bonus kami bisa tidur di SPBU itu juga akibat si Black Cupu juga.  Sekitar 20 km menjelang SPBU tempat kami rehat semalam, Black cupu  -milik Hendraz-, si blekih –ini nama motor Sontry- dan si Sexybomber-motornya AndyBrod- berturut-turut menghantam lubang dalam. Bergantian masuk ke dalam jebakan batman itu tanpa sempat menghindar. Tidak hanya sekali tapi tiga kali.

Untunglah semua aman terkendali. Masih beruntung Hendraz tidak terjerembab jatuh. Tapi si cupu mendadak ceper, arm relaynya patah.

Maka saya dapat memahami kejengkelan Adnan yang berjam-jam mencoba mengganti arm relay-nya si Cupu. (catatan : AR cadangan yang dibawa Hendraz, tidak pas dengan dudukannya. Duuuuh.. ada-ada aja. Lalu solusi terakhirpun diambil :  tukar pasang AR dengan thompelica-nya Tommy)

Ngomongin soal jalan yang luar biasa buruk ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jalannya hanya mulus jika akan musim lebaran tiba. (proyek telah tiba style) Malah ada yang berseloroh kalau kami ini bak bermain congklak di jalan lintas timur ini. Lubang semuaaaa…..hohohoho!!!

Saya memandang berkeliling. Hanya pepohonan di kejauhan dan bekas galian pasir. Gelap sekali. Warung terdekat jauhnya berkilo-kilo meter dari sini. Itupun SPBU yang sudah tutup tempat kami menumpang tidur tadi. Hmmm….

 

Next : ADA MBAK KUNTI…HIIIIY!

Wednesday, June 09, 2010

1236 KM




agak sulit juga memilih beberapa dari 'ratusan' rekaman gambar yang saya jepret sepanjang perjalanan saya membonceng suami bersama klub motornya. Total ada sekitar 44 motor yang berangkat menuju kota Palembang via lintas timur. Saya baru tahu kalau jalannya kayak congklak hahaha... soalnya lubangnya merata di sepanjang jalan, bro!

Catpernya menyusul ya. Normalnya Jakarta-Palembang via motor sekitar 10-12 jam, tapi entah mengapa waktu itu kami tempuh dalam waktu 29 jam. rekor deh.. pegel-pegel dan ngantuk sudah pasti. tapi terobati juga sih waktu foto-foto (tepat) di bawah jembatan ampera. oiya... catpernya ada disini ADA BOX TERBANG

BTR, 8 Juni 2010; 19.26 (lagi nunggu yayangnya pulang kantor)

Saturday, January 30, 2010

this lonely view *




Motret sambil mbonceng motor itu ada seni-nya tersendiri. Nggak mudah memang. Saya nggak  bisa mengincar sasaran atau mencari sudut pandang yang saya suka. Tapi yang saya lihat sepanjang jalan, sayang sekali kalau saya lewatkan. Melihat jembatan (lagi), truk-truk (lagi) bahkan bangunan tua yang hanya lewat sekelebat saja, saya nggak pernah bosan. Nah… ini dia sebagian yang terekam selama perjalanan akhir tahun lalu ke Madura. (* inspired by road trippin' RHCP)

What a journey!


kisah selengkapnya disini

Thursday, January 14, 2010

suramadu yang semanis madu




masih dalam rangkaian tour de Madura kemaren. Foto-fotonya diambil dalam dua kesempatan. Ketika tengah hari bolong waktu pertama kali kami melintasi jembatan ini dan waktu pagi hari dalam perjalanan pulang ke Jakarta.Jembatan Suramadu –Surabaya Madura-  panjang  5.438 meter, lebar 30 meter, tinggi 146 meter, mulai dibangun tahun 2003, selesai juni 2009 lalu dan merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.

Jembatan ini terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge)- Causeway sisi Surabaya 1.458 m, Causeway sisi Madura 1.818 m. Bentang tengah panjang keseluruhan mencapai 2.162 m terdiri dari dua Approach Bridge masing-masing 672 m dan Main Bridge sepanjang 818 m. Panjang jalan pendekat di sisi Surabaya mencapai 4,35 km dan di sisi Madura 11,50 km.

Jalur mobil dan motor dipisah. Biaya tol untuk motor Rp 3,000 sedangkan mobil Rp 30,000, jalur motor ada disisi terluar ruas jalan.

Selengkapnya lihat disini :

jembatan nasional suramadu
suramadu
jangan lupa juga baca catpernya di : tour de Madura

Tuesday, January 12, 2010

(tips dari) saya seorang boncenger

Trip panjang membonceng dengan motor ke Madura akhir tahun lalu, mengingatkan saya untuk membagi tips bagi teman-teman. Ini tips saya selaku boncenger

Jangan lupa bawa Ipod atau yang sejenisnya. Kemaren saya sempet update ipod saya. Dengan 4136 lagu, shuffle mode. perjalanan saya tidak membosannya. Mulai dari lagu dangdut, rock, slow.. semua ada… Gaaaan!

bawa sepatu cadangan, percayalah, sering hujan turun dengan hebatnya dan kadang-kadang kalau dalam rombongan besar, sang road captain ‘lupa’ untuk berhenti. Maka sepatu pun basah karena luput dari perhatian. Oiya jangan lupa kalau lagi break panjang untuk makan siang, sepatu yang basah boleh lah dijemur di samping si pio.

bawa peta, sebagai navigator perlu juga di bawa. Siap selalu membaca petunjuk dan rambu jalan. Kadang-kadang, saya yang sotoy ini, ikut juga memberi rambu dan tanda bagi pengendara di belakang kami.

HP yang punya koneksi internet unlimited, lumayan untuk hilangkan Bete karena harus nunggu. Seperti di bengkel, @ break point, atau kalau lagi sowan ke klub lain. Bisa juga untuk update status dan mencari informasi tambahan mengenai daerah yang akan kita kunjungi.

Syal tebal. Terutama malam hari. Walau membonceng di belakang, tapi jika motor melaju dengan kecepatan 60-80 kpj, tetap saja terasa dingin. Syal ini saya pakai untuk menutup celah antara jaket dan helm. Oiya, kalau mau lebih afdol, selain jaket, pakai juga raincoat+celananya. Dijamin badan tetap hangat dan stamina tidak cepat turun.

Celana kain. Jeans memang keren. Tapi saya nggak mau lagi memakai jeans ketika touring. Selain berat, bahannya yang tebal membuat paha bagian bawah gatal-gatal karena lembab.

Rajin-rajin pergi ke toko outdoor deh. Disana sering dijual celana trekking yang bahannya ringan, kuat, dan gampang dicuci. Kemaren waktu transit di Lasem, pernah saya cuci dan dikeringkan dengan kipas angin semalaman atau kalau masih setengah kering, pakai saja. Toh nantinya akan kering sendiri di jalan. 

Peralatan lenong; hehe.. ini istilah saya saja untuk seperangkat alat make up yang diperlukan selama perjalanan. Tapi sering diprotes suami karena dinilai tidak perlu-perlu amat.

Sebaliknya, bagi saya amat penting. Bedak talk contohnya, untuk mengantisipasi gatal-gatal akibat lembab tadi. Sunscreen yang wajib dipakai ketika akan beraktifitas, deodorant biar badan nggak bau dan juga lipgloss agar bibir nggak pecah-pecah. 

obat-obatan pribadi. Jangan lupa bawa obat tetes mata, lotion anti pegal, lotion anti nyamuk, obat pusing dan obat tidur (perlu untuk orang yang susah tidur), obat diare (siapa tahu nggak cocok makanannya), obat luka, dan ponstan. Misal, karena terkilir, jatuh, atau sakit gigi  karena si pain  killer membantu sekali sampai kita ketemu dokter atau tukang urut.

Jarum dan benang. Nggak makan tempat kan? Bisa diselipkan di peralatan lenong anda. Memang sih, udah banyak toko 24 jam. Alfamart atau indomart sepanjang jalan. Tapi seperti biasa, mereka dibutuhkan pada saat yang selalu tidak tepat. Kalau dicari, nggak ada. Kalau nggak dicari, ternyata ada.

Kacamata hitam. Sarung tangan, slyer penutup hidung dan kaos kaki cadangan. Biasakan ganti satu kali sehari. Nggak mau kan, kakinya bau gara-gara jamur?



Pakaian ganti. Nah, untuk trip jarak jauh seperti ini saya biasanya membawa :
  1. membawa 2 celana panjang kain (satu di pakai, satu untuk pulang)
  2. tshirt tipis secukupnya (misal untuk 6 hari perjalanan, saya biasanya bawa 6 pcs)
  3. satu set pakaian tidur (tshirt dan celana pendek) celana pendek ini bisa dipakai untuk emergency. Misal. Semua celana kain kotor/ basah. Triknya celana pendek di tambah dengan celana raincoat. Sudah bisa tuh dipakai untuk perjalanan. 
  4. Underwear secukupnya. Saya biasanya bawa panty liner. Daripada side a side b? hihihihi… Dulu pernah coba pakai cd disposable. Tapi ternyata nggak cocok.

Handuk+perlengkapan mandi. Semua dipack dalam satu tas kecil. 
  1. Sikat gigi lipat+odol kecil
  2. Sabun sekaligus shampoo, ada kok, saya dapet dari adik saya. sabun yang bisa dipakai untuk shampoo juga
  3. Handuk. Saya nggak pernah lagi bawa-bawa handuk. Selain volumenya besar, juga rawan lembab karena tidak pernah ada kesempatan untuk menjemurnya. Cari deh kanebo atau yang sejenisnya. Yang agak lebar dan halus permukaannya. Nah, bisa digunakan sebagai handuk tuh. Cara pakainya sih.. hehehe.. sama seperti kalau kita mau ngelap body mobil ..hahaha…
Body protector, banyak kok dijual di toko-toko perlengkapan motor. Pelindung siku dan lutut. Karena kedua tempat ini sangat riskan jika terjadi benturan. Ini baru saya sadari setelah jatuh dari motor di Pamanukan kemarin.

Jangan lupa untuk selalu minum. Tanpa kita sadari, tahu-tahu sudah dehidrasi. Kekurangan cairan dalam tubuh.

Jadi, sebelum itu terjadi rajin-rajinlah minum. Di side bag si malih – ini nama motor kami- ada kantung di depan dan belakang yang bisa saya selipkan botol minum, peta atau malah tempat kacamata.

Permen dan cemilan ringan. Permen bisa jadi selingan juga lho biar nggak ngantuk. Terutama untuk pengemudi. Sering jadi asisten untuk membuka bungkus permen dan menyuapinya dari belakang. Permen asem, pedes, kopi bisa dicoba.

Charger. Semua charger. HP, ipod. Begitu ada kesempatan segera charger peralatan elektronik anda. untungnya di setiap rumah makan, break point di SPBU dan penginapan, selalu ada tempat untuk ngecharge. Oiya, jangan lupa bawa konektor T. biar nggak berebut dengan biker lainnya .

Jam tangan+itinerary+buku catatan. Buat saya, jauh lebih menyenangkan jika bisa tahu sedang ada dimana saat ini. Saya juga juga jadi time keeper perjalanan. Kapan berangkat, sudah berapa lama, berapa kilometer jarak antar kota dan kapan harus berhenti. Biasanya sih sinyal untuk berhenti datang dari perut yang keroncongan atau pinggul yang mulai pegal

Kalau sudah mulai pegal. Coba deh jurus ini. Dalam posisi membonceng, gerak-gerakkan pergelangan kaki ke depan dan ke belakang. Lakukan beberapa set. Begitu juga dengan punggung. Lakukan gerakan duduk siaga dan duduk santai. (duduk siaga itu seperti duduk dengan posisi tegap, agar tulang belakang lurus) oiya pindahkan juga titik berat badan. Bergantian duduk di pinggul kanan atau di pinggul kiri. Perhatikan juga kalau si rider tidak terlalu nge gass, kita bisa ubah posisi dengan duduk bersandar di box belakang.. uenaaak tenaaaaan broooo!

Jangan sia-siakan waktu istirahat. Biasanya waktu kami berhenti seperti isi bensin dan ke toilet di SPBU, sholat di mesjid atau berhenti di tepi jalan. Saya lebih suka berjalan bolak-balik untuk melemaskan kaki dan badan. Ini yang saya lihat sering dilupakan oleh para biker karena umumnya mereka hanya ingin duduk, ngobrol atau rebahan dan tidur.

Segera berhenti cukup lama ketika waktu makan siang. Selain memang waktunya cukup panjang, ini juga trik untuk mensiasati matahari yang sedang lucu-lucunya.

Pernah kemaren, karena tanggung, suami saya terus melarikan si malih. Padahal sudah pukul dua siang. Kelopak mata saya perih karena sunburn. Padahal saya sudah memakai kacamata hitam dan helm full tertutup. Jadi begitu kami berhenti di salah satu rumah makan, saya buru-buru mengompresnya dengan saputangan yang saya basahi dengan air. Nggak lagi-lagi deh kejadian seperti ini lagi. Saya protes berat!

Gimana kalo ngantuk? (tengkyu sis Melly, ini saya tambahin tips dan dalam list) kalo ngantuk, biasanya saya beritahu sopir di depan aka suami yang lagi sibuk mengendarai pionya  bahwa saya ngantuk dan pengen bobo bentar. Nggak tidur beneran sih, karena saya tidak terbiasa tidur seperti itu.

Mungkin tepatnya tidur setengah siaga kali ya. Memberitahukan partner ini perlu lho. Biar dia juga bisa berjaga-jaga seandainya pegangan tangan kita yang sedang melingkar di perutnya mulai melemah.  Pernah tahun lalu, karena memaksakan diri berjalan lewat tengah malam, saya nyaris jatuh dari motor karena tertidur di jalan. Ini berbahaya.  Saya memang tidak pernah setuju kalau ada yang bilang jalan malam hari lebih baik daripada siang hari. Jadi kalau sudah begini memang segera berhenti dan cepat cari penginapan.

Paketkan barang yang sudah tidak dipakai. Seperti pakaian kotor misalnya. Sebelum perjalanan kembali pulang, barang itu sudah saya paketkan. Lumayan, si malih jadi tidak terlalu berat dan bisa diisi oleh-oleh juga ..hehehe…..

Dan kamera. Buat saya menarik sekali mengamati kota-kota dan desa-desa kecil yang kami lewati. Saya sudah bisa menilai mana kota yang penduduknya terlihat makmur, kumuh, miskin.  Sering saya berpikir, alangkah tenangnya hidup di kota kecil seperti ini. Mau usul pada suami ah… untuk masa pensiun nanti.

Jadi, kalau ada yang bilang, jadi boncenger itu membosankan. Aaah…Itu salah besar. asyik-asyik aja tuh!

Saturday, May 16, 2009

kebun hujan (di Papandayan)




(1)

Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman.
Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angin
dan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.
Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan
berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan.
(2)

Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujan
dan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan.
Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan.
Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan
dan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan.

(2001; salam untuk cerpen “Hujan” Sutardji)

terimakasih untuk puisi cantik ini (yang juga) saya pinjam dari : Joko Pinurbo ; Celanasenja dan jokpin

this is the other story from our trip to gn. Papandayan, Garut, Jawa Barat. Our election day touring last month with my hubby, MJ  along with our dearest friends : Kukuh and Riam. Previous story are here and here

Thursday, April 23, 2009

Bulu Matamu: Padang Ilalang




Bulu matamu: padang ilalang.
Di tengahnya: sebuah sendang.

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

Bulu matamu: padang ilalang.

Joko Pinurbo (1989)

puisi nan cantik ini saya pinjam dari : Joko Pinurbo ; ribuan puisi lainnya juga dapat dilihat disini : Celanasenjajokpin

tour de galunggung 10 April 2009 with my hubby, MJ with our dearest friends : Kukuh and Riam

Wednesday, April 22, 2009

namanya juga setan keder...hihihi....

“jangan-jangan, kita lagi diputerin sama setan keder nih” keluh Kukuh. Hihihihi… aku dan Joko, suamiku, tak dapat menahan tawa.

Barangkali dia sudah lelah dan bete. Sama Kuh! Aku juga begitu. Rasanya tujuan kami masih jauuuuuuh sekali. Mana jalannya tidak rata pula. Dan berlubang di sana-sini. Menjadi boncenger dan duduk manis dibelakang, bukanlah suatu posisi yang menyenangkan saat itu. Pegel bangeeet ooooooi…!

Apalagi motor kami penuh dengan beban. Box belakang dan kiri-kanan penuh dengan perlengkapan. Nah, apalagi kalau sudah menanjak. Kami berdua bahkan sudah membungkuk ala pemain motoGP. Berharap agar motor tidak terjungkal ke belakang.

Mana sempat saya motret. Walau tangan ini gatal rasanya ingin menjepret. Tapi sungguh, alam bumi priangan ini indah sekali. Sejauh mata memandang, bentangan sawah yang menghijau. Kelokan sungai di lembah sana. Tebing yang rimbun dengan pepohonan dan kadang *kalau beruntung* curahan air terjun di kelokan jalan. Bagaimana nggak indah?

“Coba deh perhatikan, setelah turunan (curam) ketemu dengan tanjakan (curam). Pasti ketemu rumah yang sama. Ada bengkelnya. Ada warungnya pula. persis sama, catnya putih!”

Hihihihi… dia frustasi. Sebagai forrijjder, aib besar bila salah jalan  Dia pinjam peta yang kubawa. Ditelusurinya lagi jalan yang kami tempuh barusan. Riam, teman seperjalanan kami yang lain, mengikutinya. “Gue nggak siap!” curhatnya. “Nggak nyangka bakal ketemu tanjakan dan turunan seperti ini”

Beberapa menit yang lalu, kami baru tiba di Bungbulang. Jauh di selatan kabupaten Garut. Seharusnya tadi, begitu melipir Gunung Papandayan kami berbelok ke utara, menuju Arjuna baru ke Santosa dan bukannya malah terus ke selatan dan mengitari gunung Kancana. Ke Cisewu dan baru ke utara menuju Pangalengan. So, here we are. In the middle of nowhere. Berhenti sejenak di salah satu warung yang buka.


“Huaaaaa!!!!”  Kukuh tak dapat menahan kekesalannya.

“yah, kalo nggak gitu, mana kita tahu tempat ini, Kuh” hiburku “Namanya juga petualangan” cieee.. hiburan ala si bolang.hihihi...

Kamis 9 april 2009 “‘the election day”

Jadi inget dua hari lalu. Kamis siang setelah nyontreng. Kami berempat berangkat dari meeting point di salah satu pom bensin di Cibubur Junction.  Jalanan masih sepi. Mungkin masih sibuk di TPS masing-masing. Mungkin juga karena ini hari libur nasional. Dan yang curi start untuk liburan sudah berangkat sejak tadi malam.

Alih-alih lewat puncak, kami pilih lewat Jonggol. Kukuh dan scorpio setannya (pssst… itu nama  motornya ya ) memimpin di depan. me, my hubby and si Malih, ini nama motor kesayangan kami, ada tengah, Sedang bro Riam dan si buluk (haiiyyyyaaah..) merapat di belakang.

(serius amat mbacanyaaa.. bersambuuuuuung yaaa)
sebagian kisahnya ada disini bulu matamu padang ilalang

Wednesday, January 21, 2009

a lone biker




sekarang saya tahu rasanya jadi boncenger :) ngikutin suami yang touring bareng klub motornya : mailing list yamaha scorpio -MiLYS- akhir tahun lalu. Trip ke Bali 27 des - 4 januari 2009

Tuesday, August 12, 2008

moment of brotherhood, bogor 2-3 agustus 2008


salah satu perlengkapan yang 'wajib' hukumnya.

gaya juga ...

inget film "Wild Hogs" nggak? empat sahabat dari Cincinnati yang sedang dilanda krisis middle-aged dan bener-bener bosen dengan kehidupan sehari-hari mereka. Saya sih nggak akan membahas filmnya ya tapi yang singgung disini adalah setting yang diambil film itu. Walau dibungkus komedi. Tapi saya bisa menangkap pesannya kok. brotherhoodnya itu lho. disamping style para biker, motor yang ditungganginya... dan cewek-cewek biker tentunya.

Nah.. minggu lalu, ada acara kenduri nasional motor scorpio yang diadakan di Bogor. Saya sudah jelas bukan anak motor. Saya kebetulan hanya sebagai boncengers yang nebeng suami saya yang hadir disana bersama teman-teman MILYS mailing list Yamaha Scorpio.

Acara dua hari itu diselenggarakan di GOR Pajajaran Bogor. Dibuka oleh walikota Bogor. Dan dimeriahkan para rider dari seluruh penjuru. Suasananya hangat sekali. Terasa sekali rasa persaudaraannya. Ada temen-temen yang datang dari Aceh, Medan, Pekanbaru, Lampung, Jogja, Semarang.

ah... saya jadi inget film itu lagi...


*serpong 12 agustus 2008, 15:27*
 
;