Showing posts with label gunung. Show all posts
Showing posts with label gunung. Show all posts
Thursday, October 31, 2013
Wednesday, May 01, 2013
di cikuray : ketika desau udara melintas cakrawala
Banyak yang bilang, dalam kondisi lelah dan tertekan akan nampak
sifat aslinya. Juga ada yang bilang kalau kita berharap terlalu banyak, lalu
tak sesuai dengan keinginan, akan
kecewa pada akhirnya. Tapi memang ada yang tak perlu diucapkan terlalu keras.
Perlahan saja akan lebih elok rasanya. (maka saya rasa) Pengertian akan timbul dengan sendirinya.
20-21 april 2013, cikuray 2821 mdpl, garut, jawa barat (along with my hubby, nyunyun, mia+macan, triyuli+dian, Ivana+cecep, Dodo+zee, tigor, toots, shiwa)
brief
cecep
@ backstage
a bunch of shoes
BTR mayday mayday 2013 13.02 *thanks god mpus2 tak demo menuntut UMK (upah minimum kucing) hari ini :p
another pics : juga ada disini.
another pics : juga ada disini.
Wednesday, March 20, 2013
gunung dan si kecil
tadi siang, saya mengajak beberapa teman untuk pergi ke gunung. Beberapa langsung setuju. Sisanya masih pikir-pikir dulu. Dan yang satu curcol karena diultimatum oleh sang ayah untuk menikah terlebih dahulu :P .
Tapi ada seorang teman yang langsung berucap.
“Gue akan bawa anak gue. Mohon bantuan ya”
Sebelum saya iyakan, tentu harus
saya uji dulu kelayakannya. Yang saya tahu, anak perempuannya belumlah genap
berusia lima tahun. Fit and proper test
lah. Pertanyaan yang paling sederhana adalah :
“Apakah dia sudah pernah naik gunung sebelumnya?”
“Apakah dia sudah pernah naik gunung sebelumnya?”
Dan saya rasa ini adalah
pertanyaan saya pula jika ada teman yang belum saya kenal, ingin ikut serta
naik gunung. Tentu saja akan saya sambut dengan tangan terbuka. Tapi biasanya
saya selidiki terlebih dahulu.
Saya ingat dua tahun lalu, ada seorang teman yang baru pertama kali naik gunung. Sebagai kepala rombongan, tentu tak saya lepaskan sedetikpun dari pengawasan saya. Bahkan beberapa bulan sebelum kami pergi, saya cukup rewel mengingatkannya untuk rajin olahraga.
Saya ingat dua tahun lalu, ada seorang teman yang baru pertama kali naik gunung. Sebagai kepala rombongan, tentu tak saya lepaskan sedetikpun dari pengawasan saya. Bahkan beberapa bulan sebelum kami pergi, saya cukup rewel mengingatkannya untuk rajin olahraga.
Nah, kembali ke topik diatas. bolehkah
mengajak anak naik gunung? Saya rasa tidak ada masalah jika ingin mengenalkan
gunung pada anak-anak. Bahkan pada seorang balita sekalipun. Tak ada ukuran
untuk umur berapa dia siap untuk naik gunung. Tapi menurut saya, jawablah dulu
pertanyaan dibawah ini sebelum mengajak si kecil naik gunung.
Apakah secara fisik cukup sehat
untuk diajak pergi? Apakah dia mampu?
Apakah dia senang? Apakah dia nyaman? Apakah dia cukup sabar untuk melakukan
perjalanan yang lama?
Dan saya rasa, pertanyaan yang
sama akan saya tanyakan juga pada anda.
Apakah anda senang? Apakah anda nyaman? Apakah secara fisik anda cukup mampu untuk menggendong anak anda jika mereka lelah? Apakah anda cukup sabar menghadapi dan membujuk anak anda jika ia rewel dan bosan? Apa anda juga mampu membawa beban perlengkapan anda dan anak anda sekaligus? (bayangkan jika tak ada porter)
Apakah anda senang? Apakah anda nyaman? Apakah secara fisik anda cukup mampu untuk menggendong anak anda jika mereka lelah? Apakah anda cukup sabar menghadapi dan membujuk anak anda jika ia rewel dan bosan? Apa anda juga mampu membawa beban perlengkapan anda dan anak anda sekaligus? (bayangkan jika tak ada porter)
Ingat lho, mendaki gunung itu adalah kegiatan yang memerlukan persiapan
fisik yang matang, mental yang kuat, perlengkapan yang cukup dan berat pula untuk
dibawa.
Lalu
apa yang harus dilakukan?
Saya rasa
yang harus dilakukan adalah mengenalkan kegiatan ini secara bertahap. Tidak
langsung naik ke puncak gunung sih. Tapi mungkin trekking ringan di kaki
gunung. Kemping ceria di kaki gunung, bersama ibunya atau teman-teman sebaya. Lalu,
barulah dinaikkan tingkat kesulitannya. Mungkin naik gunung hingga pos satu
lalu turun kembali. Begitu seterusnya.
Saya
punya seorang teman yang kebetulan suami istri dan memiliki hobi naik gunung.
Mereka bercita-cita untuk mengenalkan kegiatan ini pada putrinya sejak dini. Tentu
tak langsung naik gunung apalagi langsung ke puncak gunung. Tapi secara
perlahan mengenalkannya pada anak mereka yang masih balita itu. (selengkapnya bisa dilihat disini (http://sereleaungu.blogspot.com/2012/12/mengapa-mendaki-gunung.html)
Dan untuk trip ke gunung dipersiapkan dengan serius. Membawa porter khusus untuk si kecil, membawa pakaian yang super hangat, membawa makanan dan minuman yang sehat untuk si kecil dan masih banyak lagi.
Dan untuk trip ke gunung dipersiapkan dengan serius. Membawa porter khusus untuk si kecil, membawa pakaian yang super hangat, membawa makanan dan minuman yang sehat untuk si kecil dan masih banyak lagi.
Tapi yang saya khawatirkan tidak terjadi. Rupanya persiapan kedua orang tuanya juga cukup matang. Mulai dari perlengkapan hingga logistik untuk si kecil. Bahkan si ayah cukup sabar untuk menggendong putrinya yang mulai rewel karena mengantuk.
Tapi
yang paling menakjubkan adalah ketika si kecil ini berjalan dengan backpacknya
yang berbentuk lebah ,berjalan dengan
penuh semangat di depan saya.
Ah..
hilang deh lelah saya. Haha!
BTR 20 Maret 2012;
11;34 (after chit-chat with tigor n special for Siwa family)
Thursday, January 10, 2013
once upon a time at Ranu Kumbolo
Kali ini tak ingin ke puncak mahameru, hanya ingin kemping di ranu kumbolo dan bermain-main di sekitar oro ombo. Tahun ini danau ramai sekali. Mungkin karena libur panjang dan banyak yang ingin merayakan tahun barunya di gunung.
Apapun itu... selamat tahun baru ya!
BTR, 9 Januari 2013; 20.04 (ketika mpus bokir maen sendirian)
-total 15 orang termasuk dua anak es de, dengan dua mobil berangkat dari jakarta, dua orang menyusul dengan pesawat, satu datang dari surabaya dan satu lagi merapat dari banyuwangi. Btw, danaunya penuh kayak cendol.
rame bangeeeeeeed.. :(( *nangis di pojokan*-trip 28 des -3 januari 2013
another pics : ada disini nih..
another pics : ada disini nih..
Sunday, June 03, 2012
papandayan si hutan gunung
Pantas saja kenapa sore itu Tegal Alun terasa lengang. Hanya ada kami dan pucuk-pucuk edelweis yang bergerak perlahan karena disapa kabut.
"It's like our private backyard" seru kami. Hanya saja tempat seluas ini hanya ada di ketinggian 2500 meter. Sementara puluhan pendaki lainnya memilih tinggal di bawah, di Pondok Salada. Entah kenapa. Mungkin daya tarik tempat itu membuat mereka malas untuk terus keatas. Tanah nan lapang, sumber air dan pemandangan indah ke arah kawah mati. Itu sudah cukup.
Walau ketika malam ada sekelompok ABG yang baru datang dan membangun tenda tak jauh dari tempat kami dan rasanya ada serombongan babi hutan yang turun minum di kubangan air di sisi barat lapangan ini. Tapi lapangan seluas ini tetap saja terasa sunyi.
(trip to Papandayan +2665, Garut, Jawa Barat ;19-20 Mei 2012 bersama rombongan lenong seperti biasa ;P Saya, my hubby :Joko, Emma, Nyunyun, Tootsie, Dodo, Aang dan Tetu)
oiya ketika turun baru tahu kalau tidak boleh ngecamp di Tegal Alun. :D kalau nggak salah denger sih karena sedang peremajaan pepuunan yang ada disana. ongkos bus jakarta-garut Rp 35,000, angkot hingga Cisurupan Rp 7,000, pick up dari Cisurupan hingga lapangan parkir (pos lapor Papandayan) Rp 10,000/orang (minimal quota 10 org untuk satu pick up); retribusi pendakian (sukarela) logistik bisa ditambah di terminal Garut atau di Cisurupan. Lama pendakian sekitar 3 s.d 5 jam. Tapi kalo ditambah motret-motret sih.. bisa 8 jam seperti kami kemaren.. hehehe...
info tentang gunung papandayan bisa dilihat disini : Papandayan dan disini wisata-gunung-papandayan
Wednesday, March 21, 2012
rakutak +1867 bukan gunung biasa
another pics of rakutak
Ternyata saya bukan satu-satunya orang yang tidak familiar dengan nama gunung ini. Rakutak……ra….ku…tak… Ra-ku-tak. Hmm.. nama yang aneh. Dimana? Iya.. di belahan bumi mana gunung ini berada? Lalu saya diperlihatkan sebuah foto.
Aiiiiih.. Cantik sekali. Ada tiga puncak dan gigiran tipis diantaranya. Walau masih dibawah 2000 meter. Tapi dijamin betis pegal-pegal karena jalurnya terus menanjak dan tak pernah ada tempat datar untuk beristirahat. Kalau dilihat di peta, posisinya ada di desa Sukarame, Kecamatan Pacet. Tak jauh dari kota Ciparay yang ada di selatan kota Bandung.
Nah.. kalau di perhatikan lagi, gunung ini sebelah menyebelah dengan gunung Malabar dan gunung Guntur. Lho? Berarti sudah di perbatasan dengan daerah Garut dong ya? Ya.. tentu. Bahkan gunung Cikuray pun terlihat jelas dari sini. Dalam perjalanan kami dari puncak 2 menuju puncak 3.
Apa saya ingin kembali lagi kesini? Hmm.. rasanya begitu. Penasaran dengan jalur lain yang menuju danau Ciharus. Tapi belum tahu kapan. *sigh*
Trip 18-19 Februari 2012 Gunung Rakutak (1867 mdpl) (with Suwasti, Cecep, Ivana, Tootsie, Nyunyun, Faisal, Kukuh, Tetu dan Kodir)
guntur, a poem lovely as a tree.
another pics, please follow this : guntur, a poem lovely as tree
I THINK that I shall never see
A poem lovely as a tree.
A tree whose hungry mouth is prest
Against the sweet earth's flowing breast;
A tree that looks at God all day,
And lifts her leafy arms to pray;
A tree that may in summer wear
A nest of robins in her hair;
Upon whose bosom snow has lain;
Who intimately lives with rain.
Poems are made by fools like me,
But only God can make a tree.
(Trees, Joyce Kilmer. 1886–1918) reposting edition to Guntur, Garut 16-17 2011)
Friday, December 16, 2011
burangrang yang artinya bukit dan rangrang (rangrang=ranting)
Dalam pencarian saya mengenai gunung-gunung yang ada di tatar sunda, pada akhirnya membawa saya ke tempat ini. Ini kisah tentang Dayang Sumbi yang meminta Sangkuriang untuk membendung sungai CITARUM. Membuat sebuah PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam.
Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR. Lalu tunggul pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL. Dan rantingnya ditumpuk di sebelah BARAT dan menjelma menjadi gunung BURANGRANG.
Namun ketika bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Agar fajar segera terbit, Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG -kain putih hasil tenunannya-.
Sangkuriang pun gusar. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU.
Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG).
Apakah kisahnya berakhir begitu saja? Tentu tidak lah ya. ;) Ini baru Burangrang. Masih banyak lagi yang (sungguh mati saya penasaran) ingin saya datangi. Bersama teman-teman tentunya.
(Trip to Burangrang +2064; 10-11 Desember 2011 bareng Dwinovianto Arya Saloka, Emma Kusumaningsih, Kentat Wong, Rossy Prasetyo dan Restu Sumanjaya. Kapan-kapan trekking bareng lagi yaaa…oiya
(kisah diatas dikutip dari : www.sundanet.com; begitu tiba di rumah, Sondang ‘yang protes bakar diri di depan istana’ tak tertolong lagi :( tapi Nunun Darajatun tertangkap KPK)
Wednesday, February 23, 2011
gunung Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "Paparazzi "
Semua menoleh kepada Ika. Kamera analognya sedang melakukan ritual rutin. Menggulung film secara otomatis begitu sudah mencapai nomor 36.Serentak kami semua terkekeh geli.
Sementara itu matahari kembali tertutup awan. Yanto murung mengingat gagal usahanya. Hanya mendapat satu frame akibat butuh waktu untukmenukar lensa kameranya dengan lensa pinjaman *milik Kris* Semuamenepuk-nepuk pundak Yanto. Turut berduka cita.
Hingga jam setengah tujuh malem, kami masih setia menanti. Tapi apadaya. Emang cuaca nggak bisa di prediksi. Begitulah, kami para sunsethunter berjalan lunglai, beriringan kembali ke tenda.
“Besok pagiiii!!! Jangan lupa! Para paparazzi. Kita berkumpul lagi.Sunriseeee!.. Sunriseeee!!! Jam 5 subuh udah stand by! Okeh ??!!!”kataku mengingatkan.
Jam 10 malam. Barbeque time!!!
Sudah pada rapi jali. Udah makan malem. Udah kenalan sama tetangga, yang lagi rame ngegitar dan nyanyi lagu-lagu top forty. Angin menderu-deru datang dari kawah di lembah.
*jadi kepikiran, orang yang pada ngecamp dikawah. Lebih dingin lagi kali ya?*Sedang kami berdelapan, duduk menunggu jatah. Kris sedang membuat dendeng panggang di atas api unggun *kayu bakar, di sumbang sama tetangga sebelah*
Sementara Yanto, yang rencananya mau bikin buku kumpulan puisi, sibuk mencatat semua kata-kata mutiara yang kami lontarkan di sela-sela obrolan dan kunyahan dendeng panggang kami.
“bunga mawar bunga melati”
“terus?”
“buah mangga buah kedondong”
“terus?”
“kagak nyambung dong!”
"enak juga ya dendeng-nya?"
"????!!!"
“Cateeeeeet!”
Sesekali aku masih melihat kerlip lampu dari dusun di bawah sana. Juga senter yang disorotkan dari temen-temen yang ngecamp di kawah.
Bulan cukup terang. Kerlip bintang menemaninya. Sementara angin, terus menerus naik dan berputar disini.
Ngantuk!
Heri sudah menghilang dari tadi, alasannya Cuma satu :
“angin kan lagi gede. Biar tenda nggak terbang kebawa angin, makanyaharus dikasih beban. Yaaa…badan gue!”
*huuuuu…..bisa aja cari alasan*
Satu persatu mulai undur diri ke dalam tenda. Istirahat dulu.
Minggu, 23 Januari 2005Jam ½ 6 subuh
“Ries! Bangun!” Ida yang tidur di sebelah sudah menepuk-nepuk lututku.
“Katanya mau nunggu sunrise?”
“hah? Angin gede begini?“
jawabku setengah mengantuk. Angin cukup kencang. Menampar-nampar tenda. Mengguncang tenda. Untung terpasak cukup kuat. Kalo enggak, udah terbang tuh! Serem juga sih. Didalem tenda aja kayak gini. Apalagi diluar.
“liat aja dulu.” Kata Ida.
Melihat jam. Udah jam setengah enam pagi. Wah, kalo mau ngejar sunrise,udah kesiangan nih. Mengintip keluar, uh ..kabut!!! Ida kami utus untuk keluar. He..he.. perwakilan.
Mengingat kondisi alam seperti ini. Jangan harap deh bisa lihat matahari. Tunggu punya tunggu, Ida rupanya nyangkut di tenda tetangga yang udah masak air dan minum teh. Aku dan Ika pelan-pelan keluar dari sleeping bag. Shalat subuh.
Kemudian Ika menyiapkan trangia. Kami sarapan dulu deh.Begitu keluar tenda. Kenalan dulu dengan Iyat, Rudy dan Agus. (tigatemen Faisal yang beryuhuuu yuhuuu itu lho. Masih inget kan?) Mengamati Kris yang sedang memasak. Sementara Faisal dan Yanto terengah-engah*koreksi : Yanto yang terengah-engah itu ..* membawa beberapa botol agua berisi air.
“ambil air? Dari mana?” tanyaku.
*sambil membungkuk menarik nafas, Yanto berkata
“ kira-kira 100 meterdari sini turun. Ada cerukan berisi air. Ada 2 selang kecil. Air diambildari selang tsb.”
Penasaran. Pengen liat. Dianter Faisal, Rudi, Agus dan Iyat.*rombongan!!* aku, Ika dan Ida turun. Jalur turun ada disisi selatan.Turun beberapa puluh meter. Nggak sampe 3 menit. Sumber air ada di sisi kanan jalur. Persis seperti yang digambarkan Yanto.
Sambil menunggu giliran. Ida pergi untuk ritual pagi. Faisal ngobrol sejenak dengan trio Iyat, Rudi dan Agus. *Catch up! menyamakan persepsi*
Iyat : “ini pertama kalinya saya lewat jalur tengah itu” *catatan :merambah tebing di sisi timur kawah* (Agus dan Rudi cuma nyengir)
Iyat : “ ketemu cewek. Di tinggalin ama temennya. Bener-bener deh.”
*maksudnya keterlaluan gitu*
“yaa.. terpaksa. Saya temenin dulu” (Agusdan Rudi tersipu malu)
Faisal : “ Oh ..jadi gara-gara nungguin cewek itu. Lo sendiri jadinyaninggalin temen loe?” (Agus dan Rudi lagi-lagi tersipu malu, catatan :ditinggal Iyat di jalan)
Sementara aku menatap takjub pada sumber air itu. Persis ada diantara akar kayu. Membentuk suatu ceruk kecil. Saking kreatifnya, anak-anak disini membuat dua selang kecil.
Sempet ngobrol dengan pendaki yang ada disana. Katanya kalo musim kemarau, air tetap mengalir. Cuma karena sumbernya resapan hujan dan dari akar pohon, jam 6 pagi nampung air jam 9 pagi baru terisi satu botol kecil aqua.
Setengah jam kemudian balik lagi ke markas besar. Rada ringan nih!Kayaknya ilmu meringankan tubuhnya sudah tinggi *jelasss.. nggak pakebeban*Suasana di markas sudah jauh lebih ceria. Masakan sudah jadi. Nasi plus goreng dendeng dan ketan goreng *hasil jarahan dari kos-nya Faisal*olahan brother Kris memang lezat. Ditambah pepsi blue milik Faisal dan rujak mangga yang diracik oleh Ida.
Kami semua ber toast!!!
Sementara tetanggga kiri kanan sudah bersiap dan pamit hendak turun.Kami masih berkutat dengan acara foto-foto *agaiiiiinnn!!!* Ika masih membuat pas foto kami masing-masing di puncak.
Jam 10 pagi
Kami sudah siap packing. Tenda sudah dibongkar, sampah sudah dikumpulkan. Sudah dandan. Dan bersiap turun. Thanks God! Buatperjalanan yang seru dan indah ini.
Tamat
Serpong, 3 Februari 2005
dibuang sayang :
Priiiittt!!
Lagi-lagi suara sempritan Ika.
“kagak liat apa’ kita lagi ngapain?” tanya Kris.
(catatan : dalamperjalanan turun. keril 85 liter. Berusaha turun. Tangan meraba-rabamencari pegangan. Kaki menggapai mencari pijakan.)
“iyaa.. emang kita lagi ngapain?” tanyaku kemudian. (catatan : kakimenginjak batu, salah posisi. Juga Mengapai-gapai mencari pijakan.Memindahkan kaki.)
catatan :
§ Tiket masuk terminal luar kota Kp. Rambutan @ Rp 200
§ Tiket bis Kp. Rambutan – Merak : @ AC (Rp 15.000) AC 2 – 3 (Rp12.000) non AC (Rp 10.000)
§ L-300 Terminal Serang – Gorda @ Rp 2.000
§ Toilet di terminal (Serang dan Kp. Rambutan) @ Rp 1.000
§ Carter angkot dari Gorda ke Cilentung total Rp 120.000
§ Ojek dari ds. Cilentung s.d entry pendakian @ Rp 2000
§ Tiket masuk gn. Pulosari @ Ro. 1500
§ Carter angkot dari Cilentung ke Terminal Serang Rp 80.000
§ Sarapan + kopi di Cilentung (untuk 8 orang) total Rp 14.500
§ Nasi bungkus+telor ceplok+garem+cabe (untuk 8 orang) total Rp15.000
§ Pisang goreng di Curug Putri @ Rp 500
§ Kopi di curug putri @ Rp 2000
§ Angkot dari terminal Serang jurusan Labuan; turun di Mengger @Rp 5.000
§ Angkot dari Mengger ke Desa Cilentung @ Rp 4.000 s.d. 5.000Kalo dari terminal serang, naek angkot jurusan labuan. Turun di Mengger.(ongkos @ Rp. 5000) Terus ganti angkot yang ke arah cilentung (ongkosRp. 4000 s.d Rp 5000) di ds. Cilentung menuju entry pendakian bisalanjut pake ojek (ongkos @ Rp 2000) atau jalan kaki (kl. 15 menit) danbayar retribusi pendakian ke pulosari @ Rp 1500
Info pos :
cilentung (+- 150 m dpl) - curug putri 1 s.d 1,5 jam
curug putri - kawah 1 s.d 1,5 jam
kawah - puncak bayangan1 s.d 1,5 jam
puncak bayangan - puncak 15 menit
Info jalur :
Cilentung - curug putri : entry point di sebelah warung, ada papanpenunjuk arah; jalur cukup landai, kebun penduduk; sebelum curug akanbertemu dengan pondok, ada parit di sisi kiri, lewati aja
Curug putri - kawah : di curug ada pondok, jalur ke puncak ada di depanpondok, melewati parit. jalur cukup landai, sesekali tanjakan, kebundan sawah tadah hujan; bisa buat ngecamp,
Jalur dari kawah menujupuncak, ada di sebelah kanan kawah (arah selatan); jalur terjal, batu,akar dan tanah licin. vegetasi rapatKawah - puncak bayangan : puncak bayangan berupa dataran sempit, openarea. Selanjutnya ada percabangan dan batu penanda km. Belok ke kiri; ;jalur terjal, batu, akar dan tanah licin. vegetasi rapat
Puncak : bisa buat ngecamp, berupa dataran sempit memanjang arah utaraselatan; beberapa pohon dan semak ; ada menara sensor dan pemancar gempaInfo sumber air:Di curug :banyak!!!di kawah:ada aliran air. Kecil; di sisi kanan kawah, rasanya sedikitasam Di puncak : ada di sisi selatan. Turun kl 50 meteran. Ke arah jalurSeketi.; sumber air berupa cerukan sebesar 50 x 50 cm; dibawah pohon,berupa resapan air. Tidak disarankan bila musim kemarau.
PULOSARI - BANTENGEOLOGYThe Quaternary G.Pulosari volcano lies 15 km south of the caldera atDanau Danu, NW Java Island, and about 120 km west of Jakarta. G.Pulosariis one of four volcanoes which erupted after the caldera collapse atDanau Danu and from their morphologies only G.Karang had youngervolcanic activity. Refer also to the geology sections in the Danau Danuand G.Karang prospects.A solfatara filed occurs in the summit crater of G. Pulosari and thesteam is escaping in this area at temperatures up to 121°C. A smallamount of sulphur is being sublimated. Low flow, acid springs are alsopresent with temperatures of 93 - 95 °C. However one spring in thiscrater is 25°C. An increase in activity at the crater was reported in1939 when the maximum temperature found was 93°C. Slightly acid, warmsprings (51°C maximum) emerge from the NW and SW fluks of the volcano.NW-SE and NE-SW structural trends are again dominant at Pulosari as theyare in the adjacent Danau Danu and G. Karang prospect. The summit craterand solfatara field are situated close to the intersection of faultswith the above trends. The springs to the NW lie on a NW-SE fault, andthe summit and SW springs are aligned parallel to the NE-SW trendingfaults.The geological evidence suggests that a geothermal resource of limitedpotential exists in this area. It appears to be associated with theandesitic volcanism at G. Pulosari.GEOCHEMISTRYThe region labelled the Banten geothermal area covers an approximatearea of 1200 km2. Three major topographic features dominate it :G.Pulosari to the south, G.Karang to the NE of G.Pulosari, and the DanauDanu lake to the north of both of these features. The lake lies within acaldera in the G.Gurang complex of altered ground. Groups of geothermalfeatures appear to be associated with each topographic feature.Close to the summit of G.Pulosari (1045 m.a.s.l.) there are two hotsprings and one cold spring, containing steam heated and/or local groundwaters. A steam vent with vapour at 121°C is also present. To thesouth-west of G.Pulosari (on its lower slopes) lie the Kadupaiongsulphate-bicarbonate springs which are possibly a mixture of an outflowfrom the Pulosari system with local ground water. The springs at highand low altitude are all of low flow (<0.5 kg/s).Only one full spring analysis is available on the Kadupaiong springs andestimates of the prospect potential are unreliable even thoughtemperatures are probably high. This prospect may have a small tomoderate power potential.GEOPHYSICSA considerable amount of geophysical exploration has been carried out inthe Banten area. This is partly due to the lack of clear surfaceevidence of a geothermal reservoir at depth, and broad areas of very lowresistivity which cannot be obviously related to the existing thermalmanifestations. Three phases of M.T. surveying have been carried ouit :BEICIP (1979), GEOCO (1983) and GEOCO (1986). The last survey is stillbeing interpreted. Various Schlumberger resistivity surveys have alsobeen made, the last of which are still being interpreted at the time ofwriting. A gravity survey is also still being interpreted.The earlier exploration work was concentrated in the south of theprospect, around G.Pulosari, which has the hottest thermal features(120°C fumarole in its crater), and on the southern flanks of G.Karang(80-94°C solfatara near its summit and 60°C springs at Citaman about 7km further south). As a result of this work, a deep well, BTN-1, wasdrilled about 5 km south of the summit of G.Karang. The total depth was2.3 km, and the maximum temperature was at the well bottom, with aninferred temperature of around 140°C. A stable temperature profile(since drilling) has not yet been measured.Subsequent exploration has concentrated on the northern flanks ofG.Pulosari and G.Karang, and in the vicinity of the caldera Danau-Danu,and G.Merek further north. There are several locations of warm-hotsprings (max. temp. 60°C) in this area, some with flows of up to 20kg/s.Because the geophysical interpretation of this northern area is not yetcompleted, a preliminary interpretation using only the 1983 and 1986GEOCO M.T. data has been made for this evaluation. The results for thetwo surveys were combined by compiling an apparent resistivity map fromthe T=3 second data. The combination of the two M.T. surveys isessential so that the results of the well can assist interpretation ofthe whole exploration area.A feature of the apparent resistivity map is the very low resistivity ofover large areas. There are broad anomalies with an apparent resistivityless than 2 ohm-m on the southern flank of G.Pulosari (>50 km2), aroundthe west of D.Danu (>75 km2) and north of G.Karang (possibly >50 km2).In all 3 areas, the low resistivity anomalies appear to extend beyondthe edge of the survey data. It seems most unlikely that such largeareas of uniformly low resistivity are due to hot, conductive fluid.Tertiary sediments are known to underlie the volcanics in this area, andin the BEICIP geological report a theoretical vertical section, whichsuggests marls should be common below about 1 km depth, implies lowresistivity. South of Pulosari these sediments apparently outcrop.In the deep well BTN-1, the dominant lithology was simply logged asargillic-altered, andesite and tuff breccia. The 3-second apparentresistivity in the vicinity of this well is 3-5 ohm-m. Since thetemperature below 1 km depth is of the order of 100°C, and the chloridelevel measured in the drilling fluid was the order of 1000 ppm, the lowresistivity is probably a consequence of all 3 factors (elevatedtemperature, pore fluid conductivity and matrix conductivity). Ratherthan indicating higher temperature or more conductive pore fluid, thebroad areas of even lower resistivity (1-3 ohm-m) are probably caused byan increased clay content in the rock (because of the absence of activethermal features here suggests the low resistivity does not have athermal origin). Whether the increased clay content reflects a change inrock type (i.e. sediment) or increased alteration, cannot be ascertainedfrom the available data.In the vicinity of D.Danu, the thermal springs of Batukuwung, Cipirut,Citasuk, Citiis, Jumpari, and Jumungkal are all in areas of slightlyincreased resistivity (2-10 ohm-m). Similarly the fossil alterationzones at Wangun and Garung are also in areas of increased apparentresistivity (3 and 10-15 ohm-m respectively). The case of G.Garung, verylow resistivities occur at short periods (0.1 s) which are consistentwith a shallow, localised zone of alteration. D.Danu caldera has astrong gravity expression (amplitude maximum of -15 mgal). Many of thethermal features in the area are situated in the region of steep gravityaround the flanks of the caldera.A consensus based on all the M.T. data, the results of BTN-1, and thetype of thermal activity in the area suggests that no large, hightemperature reservoirs are present. Local, high temperature zones may bepresent beneath the summit areas of G.Karang and G.Pulosari. Few, if anyof the springs in the Banten area are now precipitating silica; thesprings are predominantly bicarbonate in character, and judging from thefossil of solfataras, and an old sinter sheet in the vicinity of Wangun,thermal activity was much more intense in the past. The broad areas oflow resistivity, presumably due to rock with a high clay content, meansthat the resistivity method is not very sensitive to lateral temperaturevariations at depth in this area. Both active solfatara areas arerelatively inaccessible, and neither appears to have a major outflow.There may be a minor outflow from G.Karang beneath its eastern flank.There was probably once a very active geothermal system in theBatukuwung-Wangun area, but there is little evidence to indicate whetheror not high temperatures still exist at depth. The local gravity high(~10 mgal) which extends west from the zone of thermal activity nearBatukuwung could be a consequence of densification as a result of thepast outflow of thermal fluids. The available data does not appear tosupport a further deep well in this area. However if there is a highdemand for electricity generation in the Banten area, then anintermediate depth well could be considered. This will have a higherthan normal risk of failure, and if acceptable, the well should eitherbe located on top of, or on the east flanks of, G.Karang (around GEOCOM.T. station 137). The well should not be deeper than 1000 m, and shouldbe aimed at detecting a deep temperature gradient which may be able tobe extrapolated to greater depth.REFERENCESAlhamid,I., O.Razali,U., Pekar, L., 1975. Geophysical Report on Banten.Pertamina Report.BEICEP, 1979. Geothermal Study, Banten area. Report for Pertamina.Ganda, S.A., and Suroto, 1981. Pendugaan daerah prospek panasbumi daerahCitaman - Banten. Unpublished Report, Divisi Geotermal, Pertamina Pusat,Jakarta.GEOCO, 1983. Magnetotelluric Survey for geothermal exploration in GunungPulosari Area (West Java-Indonesia). Report for Pertamina.GEOCO, 1986. M.T. Study in preparation. Report for Pertamina.Idrus Alhamid, 1981 , Laporan Penyelidikan Panas-Bumi Survai TahananJenis daerah Citaman-Pulosari, Banten. Pertamina Report.Kyushu Electric Power Co.Inc., 1975. Reports on Banten GeothermalSurvey. Parts I, II. Report for Pertamina.Mulyadi, 1985. The geophysical Investigation of Banten Thermal Area,West Java. Proc. 7th N.Z. Geothermal Workshop, 1985.P.T.Geoservices, 1985. Pengamatan gempa mikro di daerah Pandeglang(Banten), Jawa Barat.Gunung Pulosari - Pusat Peradaban Masa Lalu BantenGUNUNG Pulosari telah lama dikenal. Dalam sejarah Banten dikatakan SunanGunung Jati dan Hasanuddin melakukan perjalanan dengan tujuan ke GunungPulosari yang menurut Sunan Gunung Jati merupakan wilayah BrahmanaKandali. Di atas gunung itu hidup delapan ratus ajar-ajar yang dipimpinPucuk Umun. Hasanuddin diberitakan konon tinggal bersama mereka selamasepuluh tahun lebih.Keberadaan Gunung Pulosari yang dipercaya sebagaisalah satu gunung keramat diperkirakan telah muncul jauh sebelumberdirinya Kerajaan Banten Girang yaitu kerajaan yang bercorakHindu/Buddha sebelum berdirinya Kesultanan Banten Islam. Berita-beritadari beberapa pakar kepurbakalaan seperti Pleyte mengisahkanSanghyangdengdek berdasarkan sumber cerita Ahmad Djayadiningrat padatahun 1913 dan NJ Krom dalam Rapporten van der Oudheikundingen Diens inNederlandsch Indie tahun 1914 menyatakan pula bahwa di seputar KabupatenPandeglang ada peninggalan arkeologi berupa arca nenek moyang. Salahsatu arca yang dimaksud adalah patung tipe polinesia di Tenjo(Sanghyangdengdek). Gambaran Gunung Pulosari sebagai gunung keramatdiperoleh pula dari keterangan Claude Guillot bahwa di DesaSanghyangdengdek, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang terdapatpemujaan lama yang menyandang nama dewa. Tempat pemujaan tersebut sudahlama dikenal berupa batu berdiri yang tingginya kira-kira satu meter danpuncaknya dipahat sederhana dan kasar berbentuk kepala, mata bulat,mulutnya hanya berupa goresan, telinganya dibuat hanya tipis sederhanadan hidung tidak nyata, lengan-lengan dan kelamin lelaki kelihatan pula,tetapi hampir tidak menonjol. Tidak hanya itu. Keberadaan GunungPulosari yang dikenal sebagai gunung keramat dapat dikatakan sebagaisalah satu pusat peradaban masa lalu di daerah Banten. Pernyataan initentunya didukung bukti-bukti peninggalannya. Kira-kira empat kilometerdari Sanghyangdengdek di atas bukit Kaduguling tepatnya di perbatasanDesa Sukasari dan Desa Bongkaslandeuh, Kecamatan Menes, KabupatenPandeglang terdapat kompleks megalitik berlanjut yang disebut BatuGoong-Citaman. Hasil penggambaran Direktorat Purbakala tahun 1999,tampak situs Batu Goong adalah punden berundak yang merekayasa bentukanalam. Bukit Kaduguling sebagai bukit tertinggi di seputar situs,posisinya tepat berada pada garis lurus ke Sanghyangdengdek berorientasike puncak Gunung Pulosari dibentuk pelataran-pelataran bertrap-trapmakin ke timur makin tinggi menjadikan bentuk memusat ke belakang. Ditempat tertinggi itulah ditempatkan Batu Goong bersama menhir. Menhirini berdiri di tengah-tengah sebagai pusat dikelilingi oleh batu-batuyang berbentuk gamelan seperti gong dan batu pelinggih. Formasi semacamini lazim disebut formasi "temu gelang". Di tempat lain dapatdiperbandingkan dengan peninggalan megalitik di Matesih, Jawa Tengah,dan di situs Pugungraharjo di Lampung Timur.***SITUS Batu Goong dilengkapi kolam megalitik berukuran cukup besar, yangdikenal dengan situs Cataman. Cataman berada di sebelah barat Batu Goongjaraknya kira-kira 450 m, dan posisinya berada lebih rendah. Berdasarkanhasil pendataan Suaka Peninggalan sejarah dan Purbakala Serang,menunjukkan dahulu situs Batu Goong dan Citaman merupakan satu kesatuan,satu kompleks budaya dan satu periode. Di Citaman terdapat batu-batuberlubang, batu datar, batu dakon dan batu bergore. Disamping itu disitus Batu Goong-Citaman ditemukan pecahan keramik, diantaranya keramikSung putih berasal dari akhir abad ke-10 M yang paling tua, dan keramikYuan dari abad ke-14 M yang lebih muda.***SATU hal menarik dan menjadi perhatian adalah bila ditarik garis lurusbarat-timur, antara Batu Goong dengan Sanghyangdengdek akan berakhir dipuncak Gunung Pulosari sebagai kiblat persembahan tempat roh nenekmoyang sekaligus menganggap Gunung Pulosari itu sendiri sebagai gunungkeramat. Anggapan ini tidak berlebihan mengingat Babad Banten yangmerupakan produk masa Islam masih menyebutkan Gunung Pulosari adalahgunung keramat. Berdasarkan penuturan Babad Banten kendatipun GunungKarang dan Gunung Haseupan juga banyak disebut-sebut tempat kegiatanasal mula pendukung/masyarakat Banten, namun Gunung Pulosari dinyatakanlebih penting ditinjau dari segi kekeramatannya. Hal ini mungkin karenaGunung Pulosari sejak zaman prasejarah ditunjuk sebagai gunung sucitempat para arwah leluhur. Pada tahun 1993 Ny Sawinah, penduduk DesaSukasari, pernah menemukan potongan kaki arca dari masa klasik disebelah barat situs Batu Goong. Hal ini berarti situs Batu Goong-Citamanmerupakan situs megalitik berkelanjutan. Peninggalan-peninggalan diseputar Gunung Pulosari jauh lebih lengkap, lebih banyak dan artefaknyadapat ditelusuri hingga ke masa klasik. Bahkan banyak sarjana kenamaantelah memiliki bukti awal yang menunjukkan di Gunung Pulosari pada abadke-7 atau ke-9 telah berdiri bangunan candi, khususnya dari agama Hindu.Data atau buktinya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta berupakoleksi beberapa buah patung arca Hindu seperti arca Brahma, arca Siwa,arca Agastya, arca Ganesha, arca Durga, dan lapik arca dari GunungPulosari. Masih di seputar Gunung Pulosari, tepatnya di lerengselatannya, di Kampung Baturanjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanukditemukan sebuah dolmen. Dolmen di Baturanjang tergolong telah majukarena meja batunya telah dikerjakan secara halus. Dibandingkan dengandolmen-dolmen yang ditemukan di Sumatera bagian selatan, dolmenBaturanjang amat menarik karena terbuat dari batu andesit yang tergolongmaju. Dolmen dibuat secara halus dan permukaannya rata, disangga empatbatu dan dikerjakan sangat rapi dengan pahatan pelipit melingkar. Dibawahnya terdapat pondasi dari batu kali untuk menahan agar batupenyangga tidak terbenam ke dalam. Di sebelah timur dolmen terdapat batulumpang atau batu berlubang. Bentuk dolmen Baturanjang ini mengingatkanpada batu dolmen dari Sumba yang digunakan sebagai tempat penguburanraja-raja. Namun, secara pasti fungsi dolmen Baturanjang belum diketahuiapakah sebagai kuburan atau media pemujaan arwah leluhur, mengingatbelum pernah dilakukan penelitian dalam bentuk ekskavasi arkeologis.***MASIH di seputar Gunung Pulosari, di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar,Kecamatan Cimanuk, ditemukan batu monolit megalitik yang ternyata batubergores. Bentuk goresannya sangat berlainan dari batu-batu bergores ditempat lain. Batu bergores Cidaresi berbentuk segi tiga dengan lubang ditengah-tengah sehingga menyerupai kemaluan wanita. Karena itu, penduduksetempat menamakannya "batu tumbung" yang berarti kemaluan wanita.Diduga batu Cidaresi ini menggambarkan simbol kesuburan, atau sebagailambang kesucian wanita. Demikian beberapa gambaran temuan kepurbakalaandi seputar Gunung Pulosari yang diduga sebagai salah satu pusatperadaban Banten pada masa lalu. Di era otonomi daerah dewasa inipeninggalan tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah untuktetap melindunginya dan menjaga kelestariannya bahkan kemudian dapatdimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata budaya. (Juliadi, tenagateknis di Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang, Banten)
gunung Pulosari (1346 m dpl) 21 – 23 Januari 2005 episode : “Thompson berkata : Tepatnyaaaaa”
“Missster!!! Foto dong!”
*idih! Kagak salah tuh. Masak dipanggil mister. Tapi demi profesionalisme *betul nggak brother Kris dan brotherYanto?* Aku foto juga deh makhluk itu.
Eh.. masih belum nyambung ya? Makhluk mungil yang lucu itu ternyata ABG setempat yang lagi JeJe eS bareng temen-temen sekampungnya. Sedang memakai masker belerang yang berwarna hijau untuk perawatan wajah akibat jerawat yang mulai muncul pada masa pubernya.
Sambil berdecak kagum atas prestasinya. Aku mengedarkan pandang. KawahGn. Pulosari ini sangat indah. *sekaligus was-was .. * inget literatur yang dikirim Ika dan sempet aku baca sebelum pendakian.
(terjemahin sendiri yaaa….. A solfatara filed occurs in the summitcrater of G. Pulosari and the steam is escaping in this area attemperatures up to 121°C. A small amount of sulphur is being sublimated.Low flow, acid springs are also present with temperatures of 93 - 95 °C.However one spring in this crater is 25°C. An increase in activity atthe crater was reported in 1939 when the maximum temperature found was93°C. Slightly acid, warm springs (51°C maximum) emerge from the NW andSW fluks of the volcano)
Luas kawah kurang lebih sebesar lapangan bola. Kawah sedikit menanjak kearah timur dan terus dihadang tebing tinggi punggungan gunung. Nun jauh diatasnya, terlihat satu titik kecil menara pemancar. Itulah puncaknya!!
*satu dua detik hilang dari peredaran. Duh… tinggi sekali ya?*
Tak berapa lama, Kris dan Yanto menyusul. Ida sudah sedari tadi nongkrong di atas batu. Mengamati para ABG yang sedang memasak nasidengan memanfaatkan panas air belerang yang ngebul di sela-sela batu dikawah. Yang lain meremas isi mie instant, mengikatnya di satu sisi. Memasang tali rafia, dan mulailah acara memancing supermie di atas air belerang.
Setelah selesai sesi foto-foto dan wawancara. Kami kembali ke marka besar.
Makan siaaangg!!
Yanto sudah mengeluarkan satu set alat masaknya. Menjerang air. Dibantu Kris, mereka mulai menyiapkan minuman hangat bagi kami semua.Bekal nasi plus telor ceplok serta bonus garam+cabe merah dibagikan.
Makan siang kami ditutup dengan …. Semangka!
Hue..hue… masih inget kan?
Faisal dengan semangatnya, selalu menawarkan kami untuk membelah semangka. Dengan golok di tangan, lengkaplah sudah makan siang kami kali ini. Sebelah semangka di simpan untuk di puncak nanti.
Jam 14.30 Aku, Ika dan Ida bergantian sholat di dataran kecil di dekat aliran air di sisi kanan pondok. Berwudhu. Merasakan air yang sedikit asam.
Jam 15.00 Lanjuuutttt!!!
Jalur Tidak seseram yang aku bayangkan *walau ternyata .. tetep ajaserem* Maklum, tadi imajinasi berkembang dengan pesatnya. Demi melihat tebing tinggi dan menara pemancar, aku kira .. jalurnya merambah tebing di sisi timur kawah.
Rupanya, setelah melompati aliran air. Kami berbelok ke sebelah kanan kawah, ke arah selatan. Dan langsung di hajar jalur licin, akar pohon, plus batu dengan kemiringan hampir 80 derajat.Uh, harus ekstra hati-hati.
Tangan dan kaki semua digunakan untuk memanjat. Mencari pijakan aman.Rasanya tidak habis-habisnya, terus menanjak, sama sekali tidak ada bonus. Di kira-kanan jalur tertutup rapat oleh pepohonan.
Kadang-kadangaja sih ada bonus….. bonus liat kawah dan pemandangan di sela-sela pohon!!!! he..he…
Jam 17.00
Aku, Ika dan Yanto ada di barisan terakhir. (kemudian ditambah dengan Kris) Sayup-sayup terdengar obrolan di atas sana. Apalagi ditambah dengan terang langit yang sudah terlihat jelas. Dan rimbun pohon yang sudah mulai terbuka.
Kami bertiga, menebak-nebak buah manggis.
“Puncak nih! Puncak!” kata Yanto. Aku udah senyum-senyum aja sendiri. Berharap. Cepet juga ya? *yangbiasanya selalu malem kalo nyampe puncak. Atau kadang-kadang sering nggak nyampe dan ngecamp di jalan*
Kami tiba. Di suatu tempat datar.Terbuka. Kurang lebih 2 x 2 meter luasnya. “Yang bener aja. Mana menara pemancarnya? Mana bisa buat ngecamp!
”Protes! Proteeeeesss!!!"
Ika cuma bisa manyun sambil berkata :
“Kalo gitu, anda kurang beruntung!Hi..hi…”
Faisal, Ida dan Heri masih nongkrong dan nunggu disana cuma nyengir. Kris menambahkan dengan gaya ala Thompson (dengan P)
“tepatnya: kurang beruntung”
Faisal dan Toto pergi dahulu untuk booking tempat di puncak.
“Nggak jauh kok. Cuma turun sedikit, terus naek lagi dikiiiittt”
Dari sini, kami sudah melihat batu km dengan percabangan. Ke kiri : ke puncak Manik. Kekanan : jalur turun via seketi.
Rupanya kami tiba di puncak bayangan. Dan langit cerah sekali. Kami dapat memandang Gn. Aseupan, matahari di barat, sebagian punggungan gn.Pulosari. Pemukiman penduduk di bawah sana.
Serta …….. lauuutttt!!!!!Uhhhhh!!! Indahnya.
Tempat terbuka dan sempit ini menampung kami berenam. Berdesak-desakan. Diantara kamera-kamera yang sudah dikeluarkan. Memandang laut, pulau, matahari yang sebentar lagi akan tengggelam.
Kadang-kadang awan dan kabut berarak menutup pandang. No problemo! Kami sabar menanti kok.
Jam 17.15 Kami mulai bergerak. Kami ambil yang ke arah kiri. Jalur cukup jelas.Mungkin karena banyak orang yang sering yang lewat dari sini. Sementara jalur ke kanan, sedikit tertutup semak dan bambu. Jalur kembali gelap dan rimbun oleh pepohonan. Jalur sempit dan rawan longsor. Turun sejenak, untuk kemudian naik kembali. Beberapa kali terjadi.
Jam 17.30
Cuma 15 menit. Rupanya sudah tiba di gigiran puncak. Melewati gundukkan.Sedikit berbelok ke kanan. Di kiri, tebing curam berikut kawah terlihat jelas nun jauh di bawah sana.
Puncak Manik, Gn. Pulosari sendiri berupa dataran sempit memanjang dari selatan ke utara. Hampir semua tempat dapat dipakai buat ngecamp. Di ujung utara, ada menara sensor dan pemancar gempa.
Kami ngecamp tidak jauh dari menara. Beberapa tempat sudah ada tenda kelompok lain.
Jam 17.45
Selesai pasang tenda. Berjejer 3 tenda. Sementara yang lain masih berbenah. Aku dan Ika sudah mencari posisi di ujung puncak untuk mengabadikan sunset. Tripod sudah di gelar. Membawa air dan cemilan.Kami berdua ngobrol sambil menunggu matahari. Langit sudah mulai kemerahan.
Tak lama kemudian, Ida, Kris dan Yanto datang menyusul.Kini, praktis ada 5 orang yang berdiri berjajar menanti moment. Dengan kamera di tangan masing-masing dan pandangan tak lepas ke arah barat.Layak dinantikan.
Cuaca mulai berubah. Kabut mulai datang beriring menutup pandangan.
“waaaaaaaa…..” penonton kecewa.
Lamaaaaaa banget, sampe akhirnya matahari sedikit mengintip dari balik awan. Momen sepersekian detik. Suasana cukup tegang. Kami semua menahan nafas.
*yaaa.. serius amat sih bacanya… nafasnya nggak ditahanterus-terusan donk* Begitu matahari muncul. Bergantian suara rollershutter disana sini. Hingga tiba-tiba …. ada suara nyaring membelahkesunyian.
“krek …. Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……………..!”
“apaan sih?”
(kira-kira bunyi apa ya? Kok semuanya menoleh ke arah yang sama. Kaloada yang buang gas .. maap ..maap nih … *sebagai orang yang malang melintang di dunia persilatan* kayaknya bukan begitu deh suaranya …besok deeeh.. besok lanjutannya…..)
Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "profesional dalam bekerja
Tantangannya ternyata disambut Faisal. Demi sebuah semangka, ia rela menukar daypack (yg rencananya mau dipake besok) menjadi backpack.Sukses dengan Semangka, kini Ika yang tergerak hatinya untuk membeli mangga. Dan kemudian menatap Faisal dalam-dalam.Faisal hanya menarik nafas panjang :
“iya deeh… gue bawa.”
Briefing singkat di tempat Faisal. Berikut hadirnya temen Faisal sebagai bintang tamu yang menjajakan sepatu. Maklum deket pabrik. Adaaaa aja barang reject yang jatuh-jatuhnya murah punya. *sales style, kota style*
Mobil carteran sudah di beritahu. Kapiten Ika putuskan :
“besok kita berangkat jam 5 subuh!”
Semua bebenah. Mandi. Istirahat. Sementara Faisal dan Toto bermain badminton. Bermain ganda dengan tetangga sebelah
“kunjunganpersahabataaaan!!!” serunya riang.
di bangku supporter, nampak duo Yanto dan Kris yang sedang serius diskusi mengenai profesionalisme. *beraat euy!!* kesimpulan diskusi panjang mereka adalah :
“Walaupun dia tukang sapu. Menyapulah dengan professional!”
Sementara diujung lain, beberapa penghuni kos sedang berkumpul di sekitar sumur, cuci baju!!!
Sabtu 22 Januari 2005
Jam setengah enam sudah siap di dalam angkot carteran. Dengan mata setengah terkatup. Dilepas pandangan seekor kucing yang menoleh panjang dari kanan ke kiri mengamati kepergian kami.
Sejam kemudian kami sudah mencapai kota Pandeglang. Dan terus dilanjutkan kearah Labuan. Di daerah Mengger (sebelum Labuan) kami berbelok ke arah ds. Cilentung.
Jam 8 pagi kami tiba di ds. Cilentung. Rencana mau sarapan di warteg langganan urung karena tutup. Akhirnya nangkring warung rokok yang berada tepat di depan warteg. Bernego sebentar. Hasilnya didapat beberapa mangkok mie panas dan kopi hangat.
Sarapan dulu aaaahh…
Desa ini tidak terlalu besar. Beberapa rumah dan beberapa warung. Selebihnya sawah dan jalan aspal yang membelah desa. Dengan pandangan lepas ke arah gunung Pulosari di kejauhan sana. Pucak samar tertutup kabut. Uh! Serem …
Karena masih suasana hari raya. Warung pada tutup. Berikut pos lapor.Jadi, kami nggak bayar retribusi. Aku dan Ika, sempet ke rumah tetangga untuk memesan nasi plus lauknya. Ngobrol sebentar dengan ibu yang baik hati menyediakan nasi untuk kami.
Jam 09.00 pagi
Berdoa bersama serta berfoto keluarga *huhuy .. teteeeeepp!* Kami berdelapan (tiga lainnya menyusul nanti malam) berjalan kaki menuju entry pendakian. Melalui jalur aspal sempit cukup untuk 2 mobil *bila berusaha keras* berpapasan. Jaraknya kurang dari lima menit naek ojeklah.
Selama perjalanan ini, kami disuguhi pemandangan Gunung Pulosari yang puncaknya sedikit tertutup kabut.Gentar! Itu yang selalu aku rasakan setiap melihat puncak gunung.
Bisakah aku datang berkunjung? Kupandangi Ida, Heri, Faisal dan Totok yang sudah melaju di tanjakan depan. Sementara Kris sudah nyungsep disawah di sisi kiri jalan. Apalagi kalau bukan untuk menjepret gunung Pulosari.
lalu tiba-tiba :
“Priiiiiiiiiiittttttt!!!!!!!!!!!”
Semua menoleh kearah suara. Berusaha menginterpretasikan arti suara sempritan berikut. Sawah = suara burung. Suara sempritan? Tidak match.Sempritan = polantas nah .. itu baru match. *Tapi ada polisi di jalanaspal kecil ini?* Yang udah duluan nun jauh disana, panik. Menghentikan
langkah dan menoleh kebelakang.Kapiten Ika nyengir. Memegang sempritan orange.
“Sori Maaaan… Cuma ngetest. Biar jij tau posisi kalian”
Setelah melewati sawah dan hutan bambu akhirnya kami tiba juga dikawasan permukiman penduduk. Rumah penduduk di sisi kanan dan kiri jalur jalan.
Di sebelah warung ternyata merupakan jalur naik. Entry nya berupa plang bertuliskan curug putri, kawah dan puncak manik. Nyelip diantara dua rumah penduduk. Sedikit menanjak. Kami ber hos hos berjalan melewati rimbunnya kebun.
Jalan setapak berupa tanah dan bebatuan. Tidak begitu curam. Nggak ada yang bawa altimeter. Tapi berdasarkan informasi kami start naik dari ketinggian 150 meter. Lima menit perjalanan sebelum tiba di Curuq Putri, kami temui sebuah pondok yang cukup besar.
Jalan setapak yang kami lalui membelah melewati pos tersebut. Melompati parit yang adadi sisi kiri depan pondok. Sudah terdengar deru air terjun. Sedikit menanjak dan kami tiba di Curuq Putri.
Jam 10.30 pagi
Ada sebuah pondok yang cukup besar. Tepat di depan aliran air terjun.Air nya jernih sekali. Suasana sedikit mendung. Sedikit ke atas, ada sebuah bak penampungan air yang dibeton. Sedikit menanjak ke atas. Air terjun setinggi kurang lebih 10 meter mengalir dengan derasnya.
Rupanya untuk menghindari pemakaian air untuk mandi. Penduduk setempat memberi pagar kayu. Plang bertuliskan …………………….. sengaja dipasang.
Air tersebut dimanfaatkan penduduk di desa Cilentung untuk keperluan air minum.Wajar.Aku dan Ika dan Heri tiba terlebih dahulu. Sementara kami jeprat-jepretdi sekitar air terjun. Heri sudah nangkring di salah satu aliran Air.Merendam kepala dan mencuci muka. Suegeeeerrr!!!!
Lumayan lama sih kami disana. Faisal, Toto dan Heri malah sudahberjuntai kaki duduk di atas atap bak beton. Sementara portergrapherlainnya *catat juga ya.. portergrapher .. bukannya fotographer..he..he..* tak habis-habisnya mengabadikan moment Curuq Putri diantaramendung dan sinar matahari yang kadang muncul menyelinap di sela-seladaun.
Jam 12.00 siang!
Sebenernya dari setengah jam yang lalu kami semua sudah bersiap untukmelanjutkan perjalanan. Tapi hujan turun. Tidak begitu besar. Tapilumayan. Memakai raincoat. Tapi masih berat rasanya untuk melanjutkanperjalanan. Mau makan siang? Uh ! Masih kenyang euy….Hingga hujan benar-benar berhenti. Melepas raincoat.
Dan kini kami mulai pendakian menuju kawah. Jalur jelas terlihat dari depan pondok.Melompati parit aliran air terjun. Dan langsung menanjak. Karena habis hujan. Kami harus hati-hati melewati jalur yang cukup licin. Melewati akar pohon dan sesekali bebatuan.Jalan terus. Naik terus. Sesekali kami temukan bonus berupa tanah datar.Lumayan untuk sejenak menarik nafas panjang. Jalur sangat jelas.
Seringkami temui ladang dan sawah tadah hujan milik penduduk.
Jam 13.30
Begitu aku tiba, Faisal dan Heri sudah menunggu di pondok pertama yangkami jumpai. Pondok kecil. Tanpa atap. Hanya rangkanya saja. Merekaberdua sedang leyeh-leyeh dan menganyam mata *tidur maksudnya*.
Dari pondok ini, sudah terlihat sepotong kawah berwarna putih, dengan asap belerang (yang juga berwarna putih) ngebul bergerak-gerak ditiupangin.
Nun jauh disana, beberapa kelompok ABG sedang berpiknik diseputar kawah .Meletakkan keril. Dan segera menyusul Ika yang sudah terlebih dahulu berada di kawah sedang mengatur barisan anak-anak ABG.. apalagi kalaubukan untuk difoto.
Nggak mau kalah, aku segera menghampiri Ika. *ehmmlumayaaann .. mudah-mudahan ikut kefoto*
tapi ternyata tidak semudah itu saudara-saudara. Sesosok makhluk menghadangku. Tubuhnya kecil. Wajahnya berwarna hijau lumut.*Alien? Emang ada UFO disini?* otakku berpikir keras.
Hijau = Alien …….match!!!!!
Huaaaaaaa ……..Apa yang terjadi kemudian? Lagi-lagi …. harus sabar menanti. Jawaban ..sudah pasti ada pada catper berikut.
Subscribe to:
Posts (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact