“Mbak…!” panggilnya. Di kamar depan, Cecep duduk bersimpuh memunggungi pintu. Berkutat dengan komputernya. Disamping, ada Ivana yang memandang saya penuh harap. Mereka ingin saya melihat sesuatu. Malam itu di salah satu rumah, di utara kota Jogja.
“Ada apa Cep?” Saya baru selesai mandi. Dan saya yakin ia pun sebenarnya sedang diburu waktu. Jam tujuh nanti ada janji dengan teman-temannya dan kemudian ia akan pulang ke rumah ayahnya di Gunung Kidul.
Saya duduk diantara mereka. Tiga kepala serius menghadap monitor. Slide show foto rupanya. “Tadi kami kesana.” “Ooooo…” “Sayang kalian mbatalin acara ke tamansari sore tadi. Padahal kalo iya. Bisa dapet moment bagus nih.”
Ihiks! Betul juga. Fotonya bagus Cep. Modelnya juga keren -sambil melirik Ivana
“Maaf ya Cep. Tadi kami batalkan acara kesini. Gara-gara sebel waktu ke Borobudur tadi siang. Rame banget kayak cendol. Jadi kupikir, sama aja dengan Tamansari. Maklum toh. Soalnya lagi liburan. Pasti banyak turisnya”
Masih sambil menyesali diri melihat hasil jepretan Cecep. Saya bertanya-tanya, apa saya masih bisa kesini lagi? Cecep mengangkat bahu. Nyengir dan segera berlalu ke belakang. Mandi.
Jogja, 24 September 2009
(tapi ternyata keesokan harinya, pagi-pagi sekali dalam perjalanan kami kembali ke Jakarta, kami sempat mampir kesini. Penasaran
info lainnya silakan lihat disini :
taman sari istana air
taman sari

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact