Showing posts with label mpus. Show all posts
Showing posts with label mpus. Show all posts

Friday, April 16, 2010

Kemalingan!

Pagi tadi komplek kami gempar. Dua rumah di RT 8 kebobolan maling. Saya tahu juga dengan tidak sengaja.

Pagi tadi saya jalan pagi. Rute-nya sih rute express. Dari blok rumah kami ke blok 10 yang ada di ujung terjauh komplek ini. Tentu ditemani sepasukan kecil kucing-kucing peliharaan saya.

Nah.. .. dari jauh saya melihat orang ramai berkumpul. Tumben! Kali kedua saya lewat lagi. Luwoooh! Kok ada satpam komplek disana?Wah..wah…Karena penasaran akhirnya saya hampiri mereka.

“Ada apa bu?”
“Maling!”
“Lho? Rumah siapa?”
“Rumah sayaaaaa…!!! Huhuhuhu”

Tadi subuh ketika ibu itu bangun. Betapa kagetnya dia melihat jendela sudah tak berteralis lagi. Dan teriakannya pula yang membangunkan orang-orang di blok itu. Memang benar. Teralis jendelanya sudah dilepas pencuri. Ujung kaca jendelanya pecah. Dan pintu terbuka lebar. Hmmm.. cerdik sekali si pencurinya.

Tapi rupanya si pencuri tak berhasil meneruskan aksinya. Setiap malam si empu rumah punya ritual untuk mengunci setiap pintu kamar. Si pencuri hanya berhasil kerja bakti membuka teralis jendela depan tanpa sempat membawa kabur TV atau barang berharga lainnya. Sedang rumah lainnya, sempat disapu bersih oleh pencuri. Dompet, HP dan PlayStation pun disabetnya.

Duh.. sungguh tak aman tempat ini. Kami lengah karena  tinggal di komplek yang bentuknya cluster –komplek dengan satu pintu, jadi orang yang keluar dan masuk kawasan ini dapat diawasi dengan ketat-Kami lalai karena membebankan keamanan komplek ini hanya kepada satpam .

Maka para komentator itu–asli deh, belum pada mandi dan masih pakai piyama- mulai menganalisa. Mereka bergerombol di depan rumah ibu yang malang itu. Saya-si orang asing dari RT sebelah ikut-ikutan ada diantara mereka-

“Disirep kali. Jam dua subuh gitu lho” *Saya membatin, kok bisa tahu kejadiannya jam 2 subuh?*

“Mungkin tukang bangunan. Dulu waktu bangun tempat ini, tukang-tukangnya nggak di seleksi siiih” *Saya tersenyum dalam hati, diaudisi aja kali buuuuu*

“Pasti penduduk kampung belakang. Pagar tembok komplek ini kan gampang di lompati” *hmmm.. kening saya berkerut. Memang gampang sih cari kambing hitam*

“Konspirasi. Mungkin pembantu pulang hari –pembantu pulang hari itu istilah untuk pembantu yang kerjanya dari pagi dan pulang sore. Yang dikerjakan kerjaan domestik. Biasanya mereka orang yang rumahnya tidak jauh dari rumah majikan- yang jadi  mata-mata” *senyum saya makin lebar, ini pasti sering nonton film*

“Pedagang yang sering masuk komplek ini, pasti!” *saya mulai berkhayal. Pedagang berkeliling sambil membawa radio telekomunikasi dan GPS dan kamera digital dalam gerobak sayurnya. Hmmm.. keren deh!*

Tapi bayangan saya buyar ketika sayup-sayup saya dengar suara Koko yang miau-miau mencari saya. Hihihi… saya lupa dengan pasukan kecil saya. Maka saya pamit sambil menggiring pasukan saya kembali pulang ke rumah.

Suami yang saya ceritakan dengan penuh semangat hanya berdehem tanpa ekspresi. Tumben. Dia kan orangnya gaul dan selalu ingin tahu. 

Sambil menyiapkan sarapan, saya berpikir lagi. Harus ditingkatkan nih keamanan rumah ini. Eh.. tapi siapa tuh yang ngomong sendirian di depan? Sambil mengintip melalui jendela, saya melihat suami saya sedang membriefing para kucing:

“Joni.. kamu menjadi kepala satpam di rumah ini ya”
“Miauuuu!” 
jawab Joni yang memang sudah dari lahir berbulu hitam ala seragam satpam.

“Pippy.. kalau ada yang berani masuk rumah. Cakar saja mereka”
“Miauuuuu!”
sahut Pippy yang memang terkenal paling galak di rumah ini. Sama kucing lain saja galak. Apalagi sama manusia.

“Malih!.. tugas kamu menjadi lucu saja “ “miiiiuuuu” jawab Malih yang memang kucing terlucu di rumah ini.

Hahaha… dia mulai kehabisan ide.


BTR 16 April 2010, 13.48 WIB mendung, dan angin kencang. Atap seng di balik tembok sana, nyaris lepas di tiup angin.

Thursday, February 11, 2010

kucing juga (suka) olahraga




Rasanya dulu saya pernah baca kalau kucing juga perlu olahraga. Aneh juga. Kucing kok harus olahraga. Tapi kalau dipikir-pikir ya ada betulnya juga. Nggak hanya anjing yang harus diajak jalan setiap pagi dan sore, kucing juga perlu, apalagi ini kucing rumahan. Saya nggak mau kucing-kucing saya obesitas gara-gara kerjanya hanya makan dan tidur  Saya kan pengen juga lihat kucing jantan kami berbodi sekseh dan berdada six pax kayak kucing-kucing garong itu lho.

Sebenarnya sejak kami tinggal di BSD dulu si meong ini rajin ikut olah raga. Saya lupa gimana awalnya. Yang jelas waktu itu kami –saya dan suami- hanya ingin jalan subuh saja di taman lingkungan yang ada di depan rumah. 

Awalnya Pippy lalu Joni .. dan akhirnya semua kucing turut berjalan kaki alias berlari-lari kecil mengikuti kami. Sayang barisannya nggak pernah rapi. Pasukan kami akhirnya tersebar dimana-mana. Ada yang nyangkut di rumah tetangga, ada yang pup dulu dibawah pohon taman, ada yang mogok jalan dan lebih suka menunggu kami selesai satu putaran dan ada juga yang meong-meong melolong panjang minta di rescue. Halah!

Nah, begitu kami pindah ke Bekasi. Kebiasaan itu tak pernah kami tinggalkan. Biasanya –ini kalau kami nggak males dan nggak hujan- seusai sholat subuh, kami berdua pergi ke blok belakang rumah kami. Blok di belakang masih banyak bangunan dan tanah kosong, jadi relatif sepi.

Kelima ekor kucing kami tanpa diperintah lagi sudah berjalan atau berlari-lari kecil mengikuti kami. Yang paling tabah sih Pippy dan Joni. Dengan setia mengikuti kemana kami pergi. Malih sering tergoda untuk terjun ke dalam semak-semak. Atau kalau dia letih, dari posisi lari langsung tidur berguling di tengah jalan.

Ucup kadang-kadang ikut. Itupun kalau subuh-subuh itu dia ada di rumah. Tapi hebatnya, dia tahu aja kalau kami serombongan ini sedang jalan pagi di blok belakang. Tiba-tiba Ucup sudah berlari kencang menyusul kami. Tapi lain lagi dengan Koko si mpus manja dan cupu itu. Duh.. baru jalan sebentar sudah miau-miau minta di gendong. Capek deeeh!


BTR 12 Februari 2010, 10.47

Tuesday, December 15, 2009

Joni hilang!

Baru seminggu kami tinggal disini……Hiks! Joni hilang.

Padahal dia sudah lulus MOK – artinya
- Masa Orientasi Kucing … thanks to Cahyo untuk istilah barunya  - Malah prosesnya jauh lebih cepat dari yang saya duga. Di hari keempat, Joni dan Pippy sudah bisa saya lepas main keluar rumah. Koko, Malih dan Ucup juga menyusul di hari berikutnya.

Mereka sudah bisa main sesuka hati deh. Koko dan Joni loncat tembok ke blok belakang dan bisa balik kembali ke rumah. Malih pergi main ke tanah kosong di ujung blok dan kembali dengan selamat. Hebat kan? 

Nah, Sabtu pagi lalu saya gelisah karena Joni nggak pulang untuk sarapan. Ini diluar kebiasaan Joni. Padahal, malamnya dia sempat tidur di kasur Joni di sudut kamar kami. Tapi kemudian bangun dan mengikuti suami saya yang keluar mengunci motor dan pintu pagar.

Apa Joni kejauhan main hingga nggak tahu jalan pulang? Atau mengikuti kucing garong ke kampung belakang ? Apa dia mencari jalan pulang ke rumah kami yang lama? Itu kan jauh sekaliiiii…. Apa Joni bisa
? Atau …. Apa ada orang yang menculik Joni ya? Huhuhuhu…

Berhari-hari kami keliling komplek. Hingga ke kampung sekitar yang radiusnya lebih dari 5 km. Melongok rumah dan kapling kosong. Bahkan mengendus hingga kolong got. Sambil berlinang airmata saya memanggil-manggil Joni di setiap tempat yang saya curigai akan menjadi tempat persinggahannya.

Berkali-kali salah lihat kucing. Dan kecewa karena itu bukan Joni. Oh…saya sedih sekali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kami berdua jalan kaki mengelilingi komplek tempat kami tinggal. Suami saya malah sudah mengadakan sayembara. –kepada satpam dan tukang sampah di komplek perumahan kami- ada hadiah deeeh kalau bisa menemukan Joni.

Tetangga kanan kiri turut prihatin. “oh.. pasti pulang kok!” kata Kakek sebelah rumah.  “Paling ngejar (kucing) cewek” lanjutnya lagi.

Yang paling kehilangan justru anak-anak tetangga. “Joni hilang ya Tante?” Joni sudah jadi idola mereka semua. Kucing-kucing kami yang lain sudah saya kerahkan untuk mencari Joni.

“Pippy… kalau ketemu Joni.. suruh dia pulang yaaaa”
“urff.. urf…”

Hari keempat saya sudah mulai pasrah dan mengikhlaskan kepergian Joni. Rasanya sulit berharap Joni akan kembali pulang. Belum lagi waktu hujan deras kemarin. Joni lagi ngapain ya? Sambil menangis saya bertanya-tanya. Semoga Joni bisa cari tempat untuk berteduh. Apalagi waktu saya lihat kucing liar mengorek-ngorek tempat sampah. Hiks!

Apa Joni juga sedang mencari makan seperti itu? Somewhere out there… ada kucing hitam yang miau-miau merindukan saya, sedang mencari saya. Dan disini.. saya juga miau-miau ..-ehm.. versi manusia tentunya- mencari Joni.

Malamnya… Sudah tengah malam dan kami sudah terlelap sedari tadi. Kami kelelahan mencari Joni. Tapi kok barusan ada yang menggaruk-garuk pintu kamar. Biasanya sih Koko atau Malih ingin masuk dan tidur di kamar atau Joni waktu dia masih ada disini. Jadi dengan mata setengah terpejam saya buka pintu.

“auuuuu..auuuuuu”

Aah.. rasanya saya kenal dengkingan manja itu. Kucing itu menggelayut manja pada saya. Astagaaaa… Badannya kurus, Luka-luka disana sini dan bulunya nampak layu. Tapi matanya bersinar gembira.

“Joniiii? Ini Joni bukaaan?” aaaaah… saya bangunkan suami saya.

“Ini bukan mimpi kan?”

huhuuuuy!!!! Joni is baaaack…!!!! Tuuuh kaaaan…. Joni pasti tahu jalan pulang.

 Joniiii..Joniiiii!!!! Dan kami bertiga melompat-lompat gembira.  

BTR ini kisah 14 Nov 09 lalu. Menurut kami berdua, Joni itu termasuk kucing yang cerdas. Udah keliatan sejak ia kecil. Coba deh baca kisah Joni waktu ia masih kecil dulu. Disini.
tangga monyet untuk mpus Joni

Wednesday, November 11, 2009

Masa Orientasi Kucing (MOK)

Sebelum pindah rumah, saya sempat tanya kepada teman-teman di mailing list Indonesian Cat Rescue (ICR) dan milis Pecinta Kucing mengenai tips jika si meong ikut pindah rumah.

Terutama kucing stray –istilah ini mungkin lebih dikenal dengan sebutan kucing kampung, kucing jalanan atau kucing liar- yang nggak biasa dikurung di rumah apalagi di dalam kandang. Saya tanyakan juga apa tipsnya agar si mpus nggak stress dan malah hilang ketika kami semua pindah ke tempat yang baru.

Saya senang karena banyak yang menanggapi. Saran mereka cukup beragam lho. Mbak Dini salah satunya. Mbak dini ini dari milis ICR (Indonesian cat rescue) bercerita, si Tiger kucing jantannya, sempat kabur di minggu pertama dan pulang ke rumah yang lama.

 “Untung masih satu komplek. Jadi gampang nyarinya” Mbak Dini ini baru saja pindah 4 bulan lalu. Kucingnya ada 7 ekor.

“Tapi setelah sebulan dia sudah nyaman dan ngga pernah keluar rumah lagi.” Tambahnya lagi.

Atau saran dari mbak Lala Lavita dari milis Pecinta Kucing, Pamannya meninggal dunia karena sakit dan kucingnya, -kucing kampung- tak ada yang merawat.

“Karena kasihan, kucing yang saya beri nama Kipli itu, akhirnya saya bawa pulang ke rumah saya.”

Ini tipsnya :
1.    Minggu pertama : dikurung di sebuah ruangan dalam rumah, bisa dalam kamar atau halaman belakang yang tertutup (jangan ada celah untuk kabur), ada naungan untuk berteduh, makan minum di tempat tersebut, dan biarkan mereka BAB & BAK disana.
2.    Minggu kedua : kucing baru dikeluarkan dari ruangan tersebut, namun masih dalam lingkungan dalam rumah
3.    minggu ketiga : baru boleh berkeliaran diluar rumah, biasanya mereka mulai hafal dengan bau dan letak rumah, jadi kalaupun kelayapan keluar rumah, mereka pasti balik lagi kok dan tidak nyasar...
 
Tapi yang sedikit nyentrik justru saran dari mbak Lucky.  Mbak Lucky yang tergabung dalam milis Pecinta Kucing ini punya pengalaman yang sama dengan saya. Pindah rumah.

Jadi sebelum semua barang masuk ke dalam rumah baru, kucing-kucingnya ia lepaskan dulu didalam rumah. Mereka biarkan kucing jantan untuk menandai area dan mengendus-endus isi rumah.

“Baru deh…. Semua barang kami masukkan”

“oooo..”

“Tapi ada satu tradisi yang biasa kami lakukan untuk membuat kucing baru merasa hommy”

“Caranya?”

“Caranya adalah dengan memutarnya di bawah kaki meja sebanyak 7 kali” oh ya? Saya baru dengar tuh.

“Memang agak unik sih. Tapi biasanya manjur loh..” bisa saya bayangkan mbak Lucky tersenyum senang. Dan tambahnya kemudian,
 
“Oiya, biasanya dua minggu pertama, si meong masih berasa asing di rumahnya yang baru. Jadi harus sering dibelai dan diajak main ya…...Semoga pada betah di rumah yg baru..  “

“Hahaha.. siaaaap mbak Lucky!”

Kalau mbak Agil lain lagi. Tipsnya adalah dengan menyibukkan si meong dengan mengolesi seluruh kaki depannya dengan mentega. 

“Lakukan sekitar 3 hari terus menerus.” Sahutnya dengan yakin.

“Nanti kalau ada yang berusaha untuk celingukan cari jalan pulang, olesi lagi mentega lebih banyak. Itu resep nenek.” 

Wah.. saya bisa bayangkan Pippy lupa makan gara-gara seharian sibuk menjilati kakinya. 

Terlepas benar atau tidak, menurut saya sih layak untuk diuji. Penasaran juga saya dibuatnya.

“Semoga berhasil ya, mbak”  Lanjutnya. Ho oh!
 
Nah.. di tengah kesibukan saya membenahi barang-barang untuk pindah. Ibu saya telpon dan bilang :
“Pindah nanti.. nggak usah bawa kucing banyak-banyak. Satu atau dua ekor aja cukuuuup” huuuuuuu… ibu yang sangat saya cintai ini. Dari dulu memang nggak pernah setuju kalau saya pelihara kucing. Huhuuuu….

Tapi ayah saya kemudian bilang, “papa.. udah 18 kali lho pindah rumah” *secara dia veteran sering pindah rumah * dia juga rupanya sepakat dengan ibu saya. Dan membagi sedikit tips cara cepat merapikan rumah dalam waktu 3 bulan. Kwak..kwaaaaw…

Hati saya makin tak menentu. Bahkan sambil mengangkat kardus-kardus berisi buku. Benak saya sibuk membuat rencana detail untuk kucing-kucing ini nanti. Ada satu tips menarik nih dari Mbak Endah dari milis ICR. Yang menyahuti kegundahan hati saya.

Saya dan mungkin ribuan orang diluar sana –hehehe.. terlalu lebay ya- bisa jadi terlalu fokus ketika hari pindah.  Dan luput mengenai persiapan mereka sebelum pindah.

Ini tipsnya, “Jauh-jauh hari sebelum pindah, mpus-mpus itu diungsikan dulu. Bisa dititipkan di tempat penitipan atau di rumah teman”

Karena biasanya kucing itu punya feeling yang tajam tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Atau jika ada 'kesibukan' yang lain dari biasanya. Dan itu membuat mereka kabur dari rumah dan menunggu situasi kembali aman seperti semula. Dan akibatnya, malah pada ketinggalan nggak ikut pindah.

Hiks! Jadi ingat Mimin yang dua minggu sebelum kami pindah, pergi entah kemana.

“Dan perihal outdoor yang nggak biasa dikurung, mau nggak mau, nggak ada cara lain deh kayaknya selain memaksa mereka 'dipenjara' dulu.”

“Duh.. saya jadi raja tega dong ya?”

“Iya.., pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah terima nasib. Ngamuk sih... memang, pastinya stress, tapi setidaknya mereka aman dan nggak hilang”

“Hiks!”

Moga-moga pada keangkut semua ya...ntar deh kalo nemu artikelnya dimana, diupdate lagi.” Iya mbak Endah. Makasih lho.

Tapi kayaknya yang paling mendekati kenyataan sih sarannya dari mbak Okti. Dia bilang kucing outdoor, kalau dibawa pindah jangan langsung dilepas, paling tidak dikurung beberapa hari dulu.

Sediakan makanan. Karena makanan merupakan faktor yang sangat menentukan. Kucing tergantung dari makanan yang kita berikan. Lambat laun kucing juga akan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. kalau itu sudah dipenuhi, nggak usah khawatir kalau kucing-kucing tidak akan kembali, kecuali kalau mereka ditangkap orang lain.

Waaah.. mbak  Okti.. semoga nggak kejadian deh kayak gitu.

eniwey…makasih ya semua… berkat saran dari teman-teman semua, masa orientasi kucing kami sudah berhasil kami laksanakan. Sekarang sudah menginjak minggu kedua. Dan kucing-kucing kami sudah bebas bermain seperti di rumah yang dulu.

(cerita berikutnya : MOK tahap dua episode Joni Hilang!)

-lagi mati lampu, 19:29 ...pippy lagi nongkrong deket jendela-
 

Thursday, November 05, 2009

lost in time square




barangkali Ucup -belang putih kuning- bobby -putih- dan kunyit -kuning garfield- adalah tiga kucing jantan yang sempat dipertemukan oleh takdir. Ucup dan Bobby dilahirkan Mboy di kapling kosong  belakang rumah, diantara bedeng-bedeng tukang yang sedang mengerjakan rumah. Sedang Kunyit, saya temukan miau-miau crying for help di got taman depan rumah. umur mereka baru sebulan saat itu.

Ketika saya letakkan Kunyit diantara Ucup dan Bobby yang sedang menyusu, Mboy tak merasa terganggu dengan tambahan satu ekor anak lagi. Malah kasih sayang yang ia berikan sama besarnya seperti yang ia berikan pada Ucup dan Bobby.

Beberapa kali mereka –mboy dan anak-anak- pindah rumah. Tapi akhirnya kembali lagi ke rumah ini. Lalu kemudian Bobby hilang. Raib lenyap entah kemana. hanya tinggal Ucup dan Kunyit. Kedua bocah ini menjalin persahabatan. Main bareng, tidur bareng, dan tetap bermanja-manja pada Mboy seorang … eh .. seekor. 

Tapi kemudian virus itu datang lagi. Hanya 2 hari Kunyit bertahan dan kemudian mati.

Kami menguburnya di taman depan. Dan dua hari pula Ucup berkeliling rumah mencari Kunyit. Sahabat tersayangnya. Sedih saya melihatnya, tapi ini cerita lama. 

(edisi nostalgia  6 November 2009; 11.03)

Friday, October 23, 2009

Mimin kamu ada dimana? hiks!

Sudah hari kelima. Dan Mimin belum juga pulang. Terakhir kali saya lihat dia malam minggu lalu. Ketika kami –saya dan suami- baru tiba di rumah.

Saya lihat Mimin sudah makan dan sedang tidur di sofa ruang tamu. Hari itu memang saya titipkan semua kucing pada Mbak Nia –orang yang biasa datang dan membantu saya jika cukup lama kami pergi meninggalkan rumah-


Mimin juga tidak muncul keesokan harinya. Ketika pukul setengah tujuh pagi saya membuatkan sarapan untuk mereka. Tidak biasanya ia melewatkan waktu makannya.

Apa ada yang menculik Mimin ya? Setahu saya, kucing hitam ini tidak begitu jinak pada orang asing. Dia juga bukan tipe kucing yang suka berlama-lama dipeluk dan digendong.  Lalu kalau tidak diculik, apa dia kabur dari rumah ya?

Padahal menjelang kepindahan kami ke Bekasi dan disela-sela hiruk pikuk saya mengemasi barang-barang di rumah, semua kucing ini juga tak luput dari masa sosialisasi mengenai pindah rumah  saya nggak peduli apakah mereka mengerti bahasa manusia. Tapi dengan intonasi yang lemah lembut dan ekspresif. saya rasa sih mereka mengerti  .

Seperti pagi ini misalnya. Kebetulan si Koko sedang beraksi dan bergelayut di betis saya. Sambil saya gendong berkeliling rumah, lalu kami ‘bercakap-cakap’.

“Koko, minggu depan kita pindah rumah lho”

“Miaau ?

“Koko nggak usah khawatir. Koko pasti ikut kok. Semua mpus pasti ngikuuuut!!!”

“Miaaaau!” -pasti artinya Horeeeeee!!! Hehehe-

“Kopernya mpus Koko sudah siap belum?”

“hihihihihi!!!” –kalau yang ini, suami saya. Kebetulan dia lewat di belakang kami.-

Baju bulunya jangan lupa dibawa ya …mpuuuuuuzzzz” -sambil ngeloyor pergi-

“huahahahaha…!!!” –laaah? Ada yang tertawa terpingkal-pingkal nih  -

Tidak hanya Koko. Semua kucing di rumah ini juga mendapat perlakuan yang sama. Pippy saya ingatkan untuk tidak lupa membawa kardus kesayangannya. Joni dengan selimut tidurnya. Malih dengan shampoo anti ketombenya.

Semua saya ingatkan. Dan saya selalu bilang kalau mereka semua pasti ikut pindah ke rumah yang baru. Saya awasi juga jadual main mereka setiap harinya. Terutama Joni, Kiki dan Mboy yang hobinya main keluar.

Tapi Mimin? Hiks! Kamu ada dimana mpooooez?

Ah, kalau itu Kiki atau Mboy, saya tidak sekhawatir ini. Pernah berhari-hari mereka meninggalkan rumah atau sering melewatkan waktu sarapan karena malamnya terlalu jauh bermain dan kemudian datang tergopoh-gopoh karena ketiduran di luar sana. Saya sih tenang-tenang saja. Mereka berdua memang hobi main. Dan pasti survive diluar sana.

Tapi tidak dengan Mimin. Mimin itu kucing yang selalu on time pulang ke rumah. Paling disiplin kalau sudah berurusan dengan makan. Tidak heran kalau sekarang perawakannya hampir menyamai Pippy –maaf ya Pippy rekormu sebagai kucing tergendut di rumah ini, hampir di pecahkan oleh Mimin-

Mimin juga kucing yang paling manja pada Pippy. Walau kadang-kadang jika Pippy lagi PMS dan ingin 'bunuh orang'  maka sedetik kemudian sudah ditampolnya Mimin dengan cakar miaunya. Hebatnya, Mimin tak pernah merasa sakit hati. Dia akan kembali menggelayut di depan Pippy, dan minta dijilat kupingnya.

Ah.. Mimin yang manis.

Hingga hari ini, saya sudah berkali-kali mencari Mimin. Bahkan hingga ke blok sebelah yang saya curigai tempat Mimin bermain. Membonceng motor suami saya ketika ia pulang kantorpun sudah saya lakukan. Dan berkeliling komplek sambil berseru-seru memanggil Mimin –sudah tentu dibumbui pandangan ‘kasiandehloe’ dari tetangga yang kami lewati-, tetap saja Mimin tak kami temukan.

Oh Mimin.. Mimiiiiiin…  

Serpong 23 Oktober 2009, 15.17, Joni lagi ‘pingsan’ dan tidur terlentang di depan pintu..hihihi.. capek begadang ya mPus?

-saya yang lagi sedih, andaikan Mimin membaca postingan ini. Hiks! Mimin.. pulang yaaa.. kamu nggak akan ditinggal. Kamu pasti ikutan pindah kok- atau andaikan si penculik Mimin membaca postingan ini, please..please deh, kembalikan Mimin kepada kami. Huhuhu…

Tuesday, June 09, 2009

koko dan ucup




ini dia kalo Koko dan Ucup lagi bobo siang. Koko -warna tabby, mata cokelat dan hidung merah tua- adalah kakak Ucup generasi kedua. Umurnya sudah satu tahun empat bulan. Sedangkan Ucup -warna putih dan merah- baru saja menginjak umur 9 bulan. Keduanya sama-sama kucing cowok yang amat cupu dan paling manja di rumah ini. Tadi siang, Koko datang bergabung. Melihat Ucup yang tidurnya nyenyak. Tak tahan dia untuk segera bergelung disamping Ucup.


serpong 9 juni 2009, 15.43

Monday, May 18, 2009

“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

“Grusak! Grusukkkk!”

Disusul suara gedebuk dan jeritan memilukan menyelinap melalui jendela kamar kami. Jendela kami memang menghadap halaman kecil yang ada di belakang. Dan ..oooh…suara itu terdengar jelas sekali di malam buta seperti ini. *ya, sebenernya sih nggak sepi-sepi amat. Wong suami saya sedang maen PS *

Kami saling berpandangan.

“Coba kuintip deh” saya membuka pintu kamar.

Daaaan…. Hiyaaaaaa…!!!!!

Kami berdua menjerit ketakutan. Terasa ada hawa dingin menyelinap masuk. Gelap sekali disana. Sementara TV menyala-nyala tanpa suara. Kami berdua saling berpegangan tangan.

Sedetik kemudian, makhluk itu lewat di depan pintu kamar kami.

Jeritan kami bertambah keras.

“Aaaaarrrrgh!!!”

Makhluk itu menyeringai. Sekaligus heran melihat kami berdua. Kemudian ia berhenti di depan pintu kamar.  Jeritan saya makin keras dan saya nyaris pingsan.

Tak lama kemudian.

“Aaaaaah!!! KOKOOOOO!!!! omel saya pada makhluk itu.“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

Dan Koko mengangkat sebelah alis matanya *hehehe.. maab, sedikit hiperbol.* Dia heran. Kenapa harus takut?

“Hus! Hus! Ayoh.. maenannya bawa keluar”

“ah…Kokoooo..” sahut suami saya dari balik bahu saya. Ngintip. Lega.

Dan kami berdua kembali ngumpet di dalam kamar. Siapa yang berani keluar kamar? Ih, serem.

Memang sudah berhari-hari ini Koko ogah tidur di dalam rumah. *atau keluar malam seperti biasa* Dia lebih suka nongkrong di halaman belakang dan baru miau-miau minta masuk ketika subuh saya buka pintu belakang. 

Nah, tadi waktu kami makan malam di dapur belakang. Koko memang tak mau beranjak dari pojok halaman. Duduk siaga menghadap tembok belakang.

“Koko lagi dinas ya?” goda suami saya pada Koko. Dan Koko tetap diam tak bergeming. Cueks mode on. Diam mematung memperhatikan tembok. Sementara Ucup, Malih dan Joni sibuk berputar-putar di sekita betis suami saya. Apalagi kalau bukan mengemis sisa ikan.

Rupanya dia sedang menanti makhluk malang itu muncul dari sarangnya. Malam ini hari tersial baginya.






Malang benar nasibmu, Mick!  *baca: si Micky*



Serpong 18 mei 2009l 19.43 (lagi di kamar, nungguin yayangnya pulang, ditemenin Joni yang lagi ‘pingsan’ di sebelah saya, oiya Koko sudah stand by di belakang. Nunggu mangsa berikutnya hehehe.... Met kerja ya, Ko!)

Friday, April 03, 2009

Imuuuut.....! Please deeeeh!!

Masih inget si Imut kan? Itu lho kucing Pak RT tetangga sebelah rumah kami.

Nah, akhir-akhir ini dia benar-benar menguji kesabaran dan ketabahan saya. Sejak yang bersangkutan

*caila.. gaya
nya udah kayak pejabat aja* nggak di kasih makan lagi sama bu RT. Kerjaannya tiap hari kelayapan ke rumah-rumah tetangga. Termasuk rumah saya. Apalagi disini ada mangkuk mpus yang stand by 24 jam penuh.

Tapi kan itu untuk kucing di rumah ini. Mpus Imuuuuut! Yang notabene gaya makannya seperti putri keraton. Jatah makan pagi aja, bisa dimakan dalam 2 atau 3 kali kesempatan. termasuk si Pippy, yang jam 10 pagi sudah duduk manis menghadap lemari hitam, minta jatah cemilan sehatnya 

Saya kan harus berhitung. Mana si Imut rakus sekali. Whaduh, kalau dibiarkan terus, uang belanja bulanan bisa tekor deh.

Padahal Imut tahu betul, kehadirannya disini, tak di restui. Si Mimin contohnya. Setiap kepala imut nongol di pintu pagar, tanpa ampun langsung di kejarnya.

Dan saya lelah sekali karena harus mengubah kebiasaan di rumah ini. Setiap kali kucing-kucing selesai makan, mangkuk sisanya harus saya simpan agar tidak di makan imut. Kan kasihan, si Koko atau Kiki nggak bisa makan lagi.

Yang ajaib sih begitu jam makan tiba. Entah darimana, kok si Imut tau aja. Dia sudah nongkrong di pintu belakang, berharap dapat jatah makan.

Ah.. sebenarnya saya kasihan. Tapi kata suami saya, nggak boleh dibiasakan. Nanti, dia akan terus makan disini. Saya juga nggak mau. Apalagi kalau ingat, betapa mudahnya bu RT menghentikan jatah makannya si Imut.

“Herannya lagi Bu. Sejak saya nggak pernah kasih makan lagi, si Imut bisa keliling sendiri kok cari makanan” kata Bu RT,  waktu pagi-pagi kami ngobrol sambil belanja di tukang sayur yang lewat.

“oh.. begitu ya Bu” sahut saya hambar.

Iya, dan cari makannya di rumah saya, Buuuuu. Please deh! Jerit saya dalam hati.

Oh… kalau saya tidak ingat bahwa dulu saya pernah berhutang budi pada Bu RT, pasti sudah saya buat permohonan tertulis rangkap tiga. Meminta dengan sangat agar dia menjaga kelakuan kucingnya itu.

Arrrgh!.. saya memang pengecut… tok..tok..tok..petoooooook….

Serpong, 3 Apri 2009; 09.04 (tau deh.. mpus-mpus pada kemanah)

Menurut saya, punya hewan peliharaan di rumah itu juga suatu komitmen. Mereka juga berhak mendapat makanan, perlindungan dan kasih sayang. Dan bukan berarti begitu mereka bosan atau tak sanggup memberi makan, lalu dicuekin begitu aja.  Ihiks! Malang benar nasibmu Imuuuut!

Wednesday, April 01, 2009

walau matamu seperti buto ijo, dan tampangmu kayak cakil, aku tetap cinta kamu Joni

Joni itu kucing yang cerdas. Saya tahu itu. Dari kecilnya aja, saya nggak pernah kerepotan mengajarinya untuk pup dan pis di luar, menyuruhnya naik tangga Joni, ketika ia nyemplung ke kapling belakang atau duduk manis saat makan tiba dan bahkan menggaruk-garuk pintu karena ingin masuk kamar.

Semua kode yang ia berikan, saya pahami. Semua miaunya saya mengerti. 

Kadang saya nggak habis pikir, Joni itu kucing atau anjing sih? Kok ekornya kerap bergoyang jika saya panggil namanya. Barangkali dia tahu kalau namanya Joni. Dan dia juga tahu kalau saya sedang sedih. Entah dari mana, tiba-tiba dia datang menemani. Dia juga tahu kalau saya sedang sakit. Datang dan tidur di ujung kasur, menunggui saya.

Dan sayalah yang akan menangis jika ia sakit. Pernah suatu malam, ia tak mampu bergerak. Terlentang di lantai. Hanya ekornya saja yang bergerak lemah waktu saya panggil namanya. Pernah berhari-hari  nggak nafsu makan. Badannya lemas, bulunya kusam. Saat itu yang saya ingat hanyalah :

“Kamu nggak boleh menyerah mpus. Kita berdua tidak akan menyerah”

Rasanya cukup saya melihat kematian mpus Ndut, Mpus Tommy, Uci dan Kunyit di rumah ini.

Tapi kali ini, saya sedih luar biasa. Tak sanggup lagi membendung air mata. Jum’at malam itu, seperti biasa, setelah makan malam, Joni nongkrong di kolong si biru. Entah darimana, tiba-tiba sudah terdengar suara kucing yang heboh bertengkar dan masuk ke dalam rumah.

Yang saya ingat, saya keluar kamar dan mengejar si kucing garong hingga keluar rumah. Sayang tidak terkejar. Pintu pagar sudah di gembok pula. Sudah lama si garong ini mengincar Kiki. Tapi yang saya temukan di rumah hanya tetesan darah. Duh!

Tidak ada Kiki. Hanya ada Joni yang meringkuk di atas box laundry dekat kamar mandi. Nafasnya pendek-pendek. Mulutnya mengaga, karena tak dapat bernafas dari hidung. Hidungnya tersumbat karena terus menerus mengeluarkan darah. Mata kanannya bengkak, selaput matanya tergores. Dagunya luka. Dan yang paling parah, rahangnya bergeser ke kiri.

 Oh Joniiiii…..

Saya benci si kucing garong itu. Mungkin karena Joni sudah di steril, jadi dia kalah telak dari si kucing garong. Joni itu kucing rumahan.

Tiga hari pertama, tak ada satupun makanan yang nyangkut di lambungnya.  Kalau tidak saya paksa minum susu dan bubur bayi yang saya campur dengan obat. Kerjanya hanya tidur. Bulunya kusam. Matanya tak bercahaya. Saya khawatir dia sudah nggak punya semangat untuk hidup lagi.

Hari berikutnya, dia sudah mau turun dari tempat tidurnya. Ikut datang ke dapur belakang ketika waktu makan tiba. Joni sudah mulai mau makan. Walau masih mengecap dari telapak tangan saya. Dan satu lagi, Joni jadi manja sekali. Kalau malam, dia pasti tidur melingkar dekat lengan kanan saya dan tak terbangun hingga pagi hari.

Dan kemudian  luka-lukanya mulai mengering. Rajin saya bersihkan biar nggak infeksi. Bulunya juga saya lap setiap hari. Tapi mata kanannya masih keruh dan bengkak. Kelopak matanya masih sulit ditutup. Rahangnya bergeser kekiri. Gigi taringnya tidak sejajar lagi.

“Mungkin joni harus pake kawat gigi, Hany” kata suami saya.

“huhuhuhuhu..!” masih aja dia bercanda. Ini kan situasi genting.

Mungkin dia akan cacat seumur hidup. Tapi walau matamu seperti buto ijo, dan tampangmu seperti cakil. Aku tetap cinta kamu Joni.

Serpong, 1 april 2009, 14:44 (sekarang, sudah 15 hari setelah kejadian itu. Walau badannya sedikit kurus, matanya cacat dan tampangnya seperti cakil, Joni sudah sehat kok, foto diatas, foto sebelum kejadian)

dilarang buang kucing disini

Masih inget si Malih? Anak kucing yang dibuang orang dan ditinggalkan orang di depan rumah kami minggu lalu?

Nah, kemarin waktu saya selesai belanja di abang sayur yang lewat depan rumah. Abim dan sepupunya, Aceng, anak tetangga yang semula ikut ibunya belanja sayur, akhirnya datang dan main ke rumah.

Rupanya mereka senang melihat ada kucing kecil berbulu gondrong (baca: si malih) yang lagi berjemur panas pagi di lengan sofa dekat jendela depan.

“ih.. ada kucing angora” kata Abim.
“kucing darimana sih tante?” tanya Aceng.

Sambil meletakkan belanjaan di kulkas dan membawa ikan mentah untuk dibersihkan di dapur, maka berkisahlah saya mengenai kucing kecil malang yang kami temukan di depan rumah.

Tiba-tiba Aceng bilang.

“itu kan kucing yang kak Anggi dan kak Billa bawa kemaren. Mereka kok yang naruh kucing itu di depan rumah tante” *Anggi dan Billa itu kakak perempuan mereka*

Saya diam dan balik bertanya.

“lho? Kalo gitu apa maksudnya?” dan mulailah mulut saya yang bawel ini tak dapat dihentikan. Saya esmosi saudara-saudara.

“it’s not fair!” *for me maksudnya* “Kalo Anggi dan Billa yang nemuin kucing, ya mereka dong yang pelihara. Itu nggak bertanggung jawab namanya. Jadi kalo bosen, dan nggak mau pelihara, semua kucing ditaruh di depan rumah tante? Begitu?” Nada suara saya mulai tinggi.

Aceng terdiam. Memang untuk ukuran bocah, saya lihat dia jauh lebih dewasa dari usianya. Sedang Abim, seakan tak peduli. Dia lebih asyik bermain dan mengejar kucing-kucing saya yang lain.

Setelah itu, saya tinggalkan saja mereka di ruang tamu. Saya pergi ke belakang untuk mengolah ikan yang baru dibeli tadi.

Saya masih kesel tauuuuu. Mungkin sudah waktunya saya pasang pengumuman : dilarang buang kucing disini.


Tapi lama-lama, saya jadi malu sendiri. Untuk apa marah-marah sama mereka berdua. Toh, mereka nggak salah apa-apa. Cuma kebetulan aja ‘ketiban sial’ akibat pagi ini datang ke rumah dan membocorkan rahasia perihal asal muasal kucing kecil ini.

Tiba-tiba sayup-sayup saya dengar kedua anak itu pamit.

“pulang dulu ya Tanteeee”

Saya buru-buru keluar dan mengantar mereka hingga pagar depan. Saya nggak marah lagi. Sambil nyengir saya bilang.

“iyaaaaa… makasih ya udah mampiiiiir”

Hahaha.. duuuh.. dasar. Ibu-ibu ganjen.. hahaha…

*serpong, 16 maret 2009; 19.39*

Tuesday, March 31, 2009

Steril itu pilihan

Steril itu pilihan. Itu kata saya lho. Ah… mungkin saya sedang cari pembenaran  Tapi, sungguh. Ketika jumlah kucing peliharaanmu mulai bertambah dari waktu ke waktu, dan kamu mulai  kerepotan, mulai kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka satu persatu. Hmmm… menurut saya sih, sudah waktunya.


Buat saya, untuk ambil langkah itu, diperlukan kemauan untuk membuka pikiran. Open mind. Berani mencoba menerima perubahan. Masih ingat program pemerintah era Soeharto? Program KB itu lho. Dulu untuk menghimbau orang untuk ber-KB rasanya susahnya luar biasa. Betul nggak? Tapi lihat sekarang.

Atauuuuuu….. yang baru-baru ini deh. Program pemerintah untuk beralih dari minyak tanah ke gas? Whaduuuuh.. kok ya rasanya susah mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Padahal itu membuat hidup jauh lebih mudah. Memang butuh waktu sih.


Ngomongin hidup lebih mudah, saya jadi ingat ibu saya. Dulu ia nggak mau pakai mesin cuci.”Cucian nggak bersih!” katanya. Mendingan cara tradisional. Rendam, sikat dan bilas. Tapi saya, si manusia keren era millennium ini , keturunan satu generasi dibawahnya, lebih suka pakai mesin cuci.

Alasannya sederhana, karena cepat dan praktis.  Walau pada kenyataannya, sekarang ibu saya masih menggunakan kombinasi keduanya. Mesin cuci dan cuci ala tradisional itu. Saya mau bilang apa. Namanya juga pilihan. Ya nggak? Terserah masing-masing deh.


Kembali ke persoalan steril. Teman saya nggak setuju waktu saya cerita akan mensteril semua kucing peliharaan saya. Katanya, saya menentang mother nature. Mengebiri hak asasi binatang untuk bereproduksi. Tidak berperikekucingan. Dan semua kata-kata mutiara lainnya. Semua saya telan dengan cengiran.

Argumen saya, dianggap tak masuk akal. Ingin menekan populasi kucing? “Huh.. mulia sekali anda.  katanya. Padahal, apa dia mau pelihara tiga ekor anak kucing sekaligus? Apa dia mau pelihara delapan kucing sekaligus?  Atau dia mau mengadopsi setiap anak kucing yang berkeliaran di jalan?

Yang menyedihkan sih, komentar ayah saya. Alkisah, bulan lalu saya pulang ke rumah. Waktu itu saya pamer foto-foto kucing saya di rumah. Begitu ia melihat  foto si mpus pasca operasi steril, mendadak ia kehilangan gairah untuk meneruskannya. Dan bilang “pantes aja. Barangkali kamu kena karma. Belum bisa punya anak karena kucing-kucingmu disteril semua”

“Wuuuuuihhhh… deeeeeeepp!” sahut saya dalam hati. Tapi lagi-lagi si anak bengal ini penasaran. Suara hati harus disampaikan toh. Maka, kembalilah teori-teori mengenai kucing yang terus bertambah.

Tidak berhasil.

Maka, “apa setiap anak kucing yang lahir harus dibuang?”
“ya.. pilih kucing cowok dong”
“dan yang cewek dibuang?”
“eeee……”
ayolah Paaa…. Open mind sedikit deh. *hihihi.. ni anak sotoy banget ya*
“ya enggak… “
“terus?”

Ayah saya diam. Dan kalau dia sudah diam. That’s it. End of conversation. Tapi saya diam aja. Mungkin dia sedang mikir. Sekali lagi. Memang butuh waktu. Sama seperti ibu saya dan mesin cucinya.  Tapi saya nggak tahu dengan teman saya yang satu ini. Padahal, dia juga pelihara seekor kucing lho.

 “Ya dibuang aja, Ries!”
“Lah? Apa dasarnya?”
“Toh ada teori survival. Siapa yang bertahan, dia yang akan terus hidup.”
“Dengan membuang kucing di pasar?”
“Iya”
“aku nggak tega”

Bukannya sama aja. Terori survival yang saya maksud adalah dengan menekan populasinya. Populasi yang cukup laaaah. Supaya jumlah orang yang mau pelihara kucing dan jumlah makanan yang tersedia bagi  mereka tetap seimbang. *ceileeeee… tingkat tinggi nih*

Dengan mensteril kucingku, aku nggak perlu repot mencari orang untuk adopsi kucing, atau repot-repot harus membuang kucing ke pasar kan? Atau gini aja deh. Sebagai manusia yang berakal, aku mewakili kucingku untuk mengambil keputusan untuk mereka. Demi kesejahteraan mereka *analogi yang rada maksa sih sebenernya*

“pokoknya kamu orang yang kejam, Ries”
“maksud lo?”
“tidak berperikekucingan”

Ah.. sutra lah… buat saya, steril itu pilihan. Mana tega saya membuang anak kucing yang baru lahir. Lebih baik saya steril saja induknya. Populasi kucing di rumah tetap tidak bertambah. Dan konsentrasi saya tentu bisa full untuk kucing-kucing tersayang.

Saya harap, orang juga mulai berpikir begitu. Kasihan kan ngeliat anak kucing yang dibuang di pasar, atau di jalan yang meong-meong kelaparan? Kasihan juga kan ngeliat banyak kucing tua yang sakit di tepi jalan karena nggak mampu mencari makan. Atau kucing yang mati karena ditabrak mobil di tengah jalan?


Apa kamu tega?


Serpong 30 maret 2009; 14.16 (sebenernya topic tentang steril kucing ini udah mengendap sejak setahun lalu. Baru bisa ditulis hari ini deh)

 
;