Showing posts with label btr. Show all posts
Showing posts with label btr. Show all posts

Friday, April 16, 2010

Kemalingan!

Pagi tadi komplek kami gempar. Dua rumah di RT 8 kebobolan maling. Saya tahu juga dengan tidak sengaja.

Pagi tadi saya jalan pagi. Rute-nya sih rute express. Dari blok rumah kami ke blok 10 yang ada di ujung terjauh komplek ini. Tentu ditemani sepasukan kecil kucing-kucing peliharaan saya.

Nah.. .. dari jauh saya melihat orang ramai berkumpul. Tumben! Kali kedua saya lewat lagi. Luwoooh! Kok ada satpam komplek disana?Wah..wah…Karena penasaran akhirnya saya hampiri mereka.

“Ada apa bu?”
“Maling!”
“Lho? Rumah siapa?”
“Rumah sayaaaaa…!!! Huhuhuhu”

Tadi subuh ketika ibu itu bangun. Betapa kagetnya dia melihat jendela sudah tak berteralis lagi. Dan teriakannya pula yang membangunkan orang-orang di blok itu. Memang benar. Teralis jendelanya sudah dilepas pencuri. Ujung kaca jendelanya pecah. Dan pintu terbuka lebar. Hmmm.. cerdik sekali si pencurinya.

Tapi rupanya si pencuri tak berhasil meneruskan aksinya. Setiap malam si empu rumah punya ritual untuk mengunci setiap pintu kamar. Si pencuri hanya berhasil kerja bakti membuka teralis jendela depan tanpa sempat membawa kabur TV atau barang berharga lainnya. Sedang rumah lainnya, sempat disapu bersih oleh pencuri. Dompet, HP dan PlayStation pun disabetnya.

Duh.. sungguh tak aman tempat ini. Kami lengah karena  tinggal di komplek yang bentuknya cluster –komplek dengan satu pintu, jadi orang yang keluar dan masuk kawasan ini dapat diawasi dengan ketat-Kami lalai karena membebankan keamanan komplek ini hanya kepada satpam .

Maka para komentator itu–asli deh, belum pada mandi dan masih pakai piyama- mulai menganalisa. Mereka bergerombol di depan rumah ibu yang malang itu. Saya-si orang asing dari RT sebelah ikut-ikutan ada diantara mereka-

“Disirep kali. Jam dua subuh gitu lho” *Saya membatin, kok bisa tahu kejadiannya jam 2 subuh?*

“Mungkin tukang bangunan. Dulu waktu bangun tempat ini, tukang-tukangnya nggak di seleksi siiih” *Saya tersenyum dalam hati, diaudisi aja kali buuuuu*

“Pasti penduduk kampung belakang. Pagar tembok komplek ini kan gampang di lompati” *hmmm.. kening saya berkerut. Memang gampang sih cari kambing hitam*

“Konspirasi. Mungkin pembantu pulang hari –pembantu pulang hari itu istilah untuk pembantu yang kerjanya dari pagi dan pulang sore. Yang dikerjakan kerjaan domestik. Biasanya mereka orang yang rumahnya tidak jauh dari rumah majikan- yang jadi  mata-mata” *senyum saya makin lebar, ini pasti sering nonton film*

“Pedagang yang sering masuk komplek ini, pasti!” *saya mulai berkhayal. Pedagang berkeliling sambil membawa radio telekomunikasi dan GPS dan kamera digital dalam gerobak sayurnya. Hmmm.. keren deh!*

Tapi bayangan saya buyar ketika sayup-sayup saya dengar suara Koko yang miau-miau mencari saya. Hihihi… saya lupa dengan pasukan kecil saya. Maka saya pamit sambil menggiring pasukan saya kembali pulang ke rumah.

Suami yang saya ceritakan dengan penuh semangat hanya berdehem tanpa ekspresi. Tumben. Dia kan orangnya gaul dan selalu ingin tahu. 

Sambil menyiapkan sarapan, saya berpikir lagi. Harus ditingkatkan nih keamanan rumah ini. Eh.. tapi siapa tuh yang ngomong sendirian di depan? Sambil mengintip melalui jendela, saya melihat suami saya sedang membriefing para kucing:

“Joni.. kamu menjadi kepala satpam di rumah ini ya”
“Miauuuu!” 
jawab Joni yang memang sudah dari lahir berbulu hitam ala seragam satpam.

“Pippy.. kalau ada yang berani masuk rumah. Cakar saja mereka”
“Miauuuuu!”
sahut Pippy yang memang terkenal paling galak di rumah ini. Sama kucing lain saja galak. Apalagi sama manusia.

“Malih!.. tugas kamu menjadi lucu saja “ “miiiiuuuu” jawab Malih yang memang kucing terlucu di rumah ini.

Hahaha… dia mulai kehabisan ide.


BTR 16 April 2010, 13.48 WIB mendung, dan angin kencang. Atap seng di balik tembok sana, nyaris lepas di tiup angin.

Thursday, February 11, 2010

kucing juga (suka) olahraga




Rasanya dulu saya pernah baca kalau kucing juga perlu olahraga. Aneh juga. Kucing kok harus olahraga. Tapi kalau dipikir-pikir ya ada betulnya juga. Nggak hanya anjing yang harus diajak jalan setiap pagi dan sore, kucing juga perlu, apalagi ini kucing rumahan. Saya nggak mau kucing-kucing saya obesitas gara-gara kerjanya hanya makan dan tidur  Saya kan pengen juga lihat kucing jantan kami berbodi sekseh dan berdada six pax kayak kucing-kucing garong itu lho.

Sebenarnya sejak kami tinggal di BSD dulu si meong ini rajin ikut olah raga. Saya lupa gimana awalnya. Yang jelas waktu itu kami –saya dan suami- hanya ingin jalan subuh saja di taman lingkungan yang ada di depan rumah. 

Awalnya Pippy lalu Joni .. dan akhirnya semua kucing turut berjalan kaki alias berlari-lari kecil mengikuti kami. Sayang barisannya nggak pernah rapi. Pasukan kami akhirnya tersebar dimana-mana. Ada yang nyangkut di rumah tetangga, ada yang pup dulu dibawah pohon taman, ada yang mogok jalan dan lebih suka menunggu kami selesai satu putaran dan ada juga yang meong-meong melolong panjang minta di rescue. Halah!

Nah, begitu kami pindah ke Bekasi. Kebiasaan itu tak pernah kami tinggalkan. Biasanya –ini kalau kami nggak males dan nggak hujan- seusai sholat subuh, kami berdua pergi ke blok belakang rumah kami. Blok di belakang masih banyak bangunan dan tanah kosong, jadi relatif sepi.

Kelima ekor kucing kami tanpa diperintah lagi sudah berjalan atau berlari-lari kecil mengikuti kami. Yang paling tabah sih Pippy dan Joni. Dengan setia mengikuti kemana kami pergi. Malih sering tergoda untuk terjun ke dalam semak-semak. Atau kalau dia letih, dari posisi lari langsung tidur berguling di tengah jalan.

Ucup kadang-kadang ikut. Itupun kalau subuh-subuh itu dia ada di rumah. Tapi hebatnya, dia tahu aja kalau kami serombongan ini sedang jalan pagi di blok belakang. Tiba-tiba Ucup sudah berlari kencang menyusul kami. Tapi lain lagi dengan Koko si mpus manja dan cupu itu. Duh.. baru jalan sebentar sudah miau-miau minta di gendong. Capek deeeh!


BTR 12 Februari 2010, 10.47

Wednesday, February 10, 2010

KOKO hilang (lagi)

Koko hilang (lagi). Kalau dihitung sejak ia kecil dulu. Ini kali ketiga dia hilang dari rumah. Padahal minggu malam lalu dia masih berlari-lari kecil sambil nyengir gembira (ini menurut saya lho) menyambut kami -saya dan suami- pulang. Waktu itu memang agak larut kami  pulang. Seharian pergi keluar rumah, yang kami inginkan  hanyalah segera mandi dan rebah di kasur! Uh.. lelah sekali.

Maka, sementara saya memberi makan kelima ekor kucing kami. Suami saya mengeluarkan barang-barang dari mobil.

Tapi, esoknya Koko melewatkan sarapannya.

“Mana si Koko?"
 “Ah.. paling lagi asyik main dan lupa pulang” kata suami saya.

Ini diluar kebiasaan Koko batin saya khawatir. Hingga siang berlalu dan kemudian malam, Koko belum juga pulang. Wah, pasti Koko main terlalu jauh nih. Kalau hanya di komplek ini, saya yakin dia bisa pulang. Dia hapal kok jalan pulang. Malam itu hati saya tak tenang, kemana ya? Ini sudah lebih dari 24 jam. Sudah bisa dilaporkan ke polisi. 

Hingga keesokan paginya, ketika semua kucing dan kami selesai sarapan.

“Koko kemana ya?” tanya saya sendu.
“Nanti malem kita cari ya” bujuk suami saya sambil mendorong motornya keluar rumah dan bersiap untuk berangkat kerja.

Saya sedih deh. Kasihan Koko, dia pasti kelaparan. Saya mencoba mengingat-ngingat terakhir kali melihatnya.Lalu wajah saya mendadak tegang.

“Apa dia ikut masuk ke dalam mobil ya?”

dan kami berdua saling berpandangan. Sedetik kemudian saya melompat dan mengambil kunci mobil. Saya lari menuju mobil. Begitu saya buka pintu mobil, ada suara miau-miau lemah namun gembira.

Aduuuh.. itu Koko!!!

Kontan ia melompat ke dalam pelukan saya lalu mengendus-endus wajah saya. dengan nikmatnya. Sepertinya dia ingin mengadu. Tak terkira senangnya saya. Kami pun masuk ke dalam rumah. Setelah itu Koko minum dan makan tanpa henti.  Balas dendam rupanya dia. Dan nggak mau pergi jauh-jauh dari saya. Koko trauma. Koko.. maafkan saya ya.

Moral of the story : kalau kucing kalian hilang, coba periksa mobil deh. Siapa tau si mpus terkunci didalamnya. Apalagi mobil kami itu termasuk tipe mobil sabtu minggu. Yang hanya keluar rumah kalau hari libur tiba  saya nggak bisa bayangkan kalau Koko terkurung selama itu. Padahal hari itu saya bolak-balik keluar rumah untuk menjemur pakaian. Mungkin suaranya sudah serak memanggil saya tapi saya tak mendengarnya. Duh.. rasanya berdosa sekali. Maafkan saya ya Koko.

Gara-gara Koko terkurung di dalam mobil ini saya jadi ingat acara Opray Show di TV beberapa waktu lalu. Saya nggak ingat apa judulnya tapi ini kisah nyata tentang super-MOM. Ibu-ibu super yang harus multitasking dan sempurna. Ya kerja ya ngurus rumah juga. Dia menjadi staf salah satu sekolah tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ah..di musim panas itu, tahun ajaran baru saja dimulai. Maka pagi itu dia sibuk membangunkan si sulung, menyiapkan sarapan, menyiapkan ini itu, menyiapkan si bungsu yang akan dititipkan di tempat penitipan balita, berbagi tugas dengan suaminya yang akan berangkat kerja dan segera berangkat ke sekolah tempatnya kerja.

Ini hari pertama. Hari itu berjalan seperti biasa. Dia amat bersemangat di sekolahnya. Membagikan donat dan kopi yang sempat ia beli sebelum tiba di sekolah. Menyapa semua rekan kerjanya dan sibuk mengerjakan pekerjaan hari itu.

Lalu malapetaka itu terjadi. Ketika salah seorang rekan kerjanya bilang kalau dia melihat anak bungsunya ada di dalam mobil.  Maka berlarilah ia ke halaman parkir.

Sambil menangis ia membuka pintu belakang mobil. Anak bungsunya sudah tewas. Dehidrasi. Hari itu panas sekali.Dia lupa, kalau hari itu tugasnya membawa anak bungsu ke tempat penitipan. Terlalu banyak yang dia pikirkan dan kerjakan. Dia kira ia sempat mengantar si bungsu sebelum berangkat ke kantor. Tapi dia lupa.

Saya nggak ingat juga gimana endingnya. Apa dia masuk penjara karena lalai. Atau pengadilan disana justru membebaskannya karena alasan supermom itu. Suaminya memaafkannya. Dia tahu betul istrinya. Istrinya itu adalah tipe ibu yang amat mengasihi anak-anak mereka.

Tapi yang saya ingat adalah matanya. Iya. Matanya memancarkan rasa penyesalan yang mendalam. dan saya yakin akan terus begitu selama sisa hidupnya. Ini hanya satu kisah.


BTR, 9 Februari 2010*walau setelah itu saya harus kerja bakti membersihkan mobil. Maklumlah, 36 jam terkurung di dalam mobil. Koko ya sudah pasti pup n pis di dalam mobil. Nggak apa-apa kok Koko. Saya nggak marah kok.Seharusnya saya periksa dan periksa lagi ketika akan mengunci pintu mobil. Saya janji, nggak akan terulang lagi!

Friday, February 05, 2010

jadi kribo

(lagi nelpon suami tercinta yang lagi ngantor)

“halo?”

“Iya Hany?”
 “Saya nggak mau ke salon itu lagi”

“Kenapa?”
“rambutnya jadi kribo”

Senyap. Lalu.


“…buhuahahahahaha!!”
“Udah ya. Lagi sebel nih”
“ya deh”

(Klik! Tuuuuut..tuuuuuut….)



Namanya juga baru pindah rumah. Masih perlu orientasi. Ke salon salah satunya. Nggak rutin sih. Tapi saya seneng aja kalau setelah creambath, rambutnya akan di blow catok. Rambutnya jadi lurus gitu lho. Maklumlah, rambut saya kan keriting tak terkendali. Biasanya berhari-hari setelah nyalon, saya seneng banget bisa punya penampilan sedikit beda. Tapi tidak kali ini. Kayaknya tukang salonnya lulusan tahun 80-an deh.

Huh! Harus cari lagi deh..!


BTR, akhir Desember 2009

Tuesday, December 15, 2009

Joni hilang!

Baru seminggu kami tinggal disini……Hiks! Joni hilang.

Padahal dia sudah lulus MOK – artinya
- Masa Orientasi Kucing … thanks to Cahyo untuk istilah barunya  - Malah prosesnya jauh lebih cepat dari yang saya duga. Di hari keempat, Joni dan Pippy sudah bisa saya lepas main keluar rumah. Koko, Malih dan Ucup juga menyusul di hari berikutnya.

Mereka sudah bisa main sesuka hati deh. Koko dan Joni loncat tembok ke blok belakang dan bisa balik kembali ke rumah. Malih pergi main ke tanah kosong di ujung blok dan kembali dengan selamat. Hebat kan? 

Nah, Sabtu pagi lalu saya gelisah karena Joni nggak pulang untuk sarapan. Ini diluar kebiasaan Joni. Padahal, malamnya dia sempat tidur di kasur Joni di sudut kamar kami. Tapi kemudian bangun dan mengikuti suami saya yang keluar mengunci motor dan pintu pagar.

Apa Joni kejauhan main hingga nggak tahu jalan pulang? Atau mengikuti kucing garong ke kampung belakang ? Apa dia mencari jalan pulang ke rumah kami yang lama? Itu kan jauh sekaliiiii…. Apa Joni bisa
? Atau …. Apa ada orang yang menculik Joni ya? Huhuhuhu…

Berhari-hari kami keliling komplek. Hingga ke kampung sekitar yang radiusnya lebih dari 5 km. Melongok rumah dan kapling kosong. Bahkan mengendus hingga kolong got. Sambil berlinang airmata saya memanggil-manggil Joni di setiap tempat yang saya curigai akan menjadi tempat persinggahannya.

Berkali-kali salah lihat kucing. Dan kecewa karena itu bukan Joni. Oh…saya sedih sekali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kami berdua jalan kaki mengelilingi komplek tempat kami tinggal. Suami saya malah sudah mengadakan sayembara. –kepada satpam dan tukang sampah di komplek perumahan kami- ada hadiah deeeh kalau bisa menemukan Joni.

Tetangga kanan kiri turut prihatin. “oh.. pasti pulang kok!” kata Kakek sebelah rumah.  “Paling ngejar (kucing) cewek” lanjutnya lagi.

Yang paling kehilangan justru anak-anak tetangga. “Joni hilang ya Tante?” Joni sudah jadi idola mereka semua. Kucing-kucing kami yang lain sudah saya kerahkan untuk mencari Joni.

“Pippy… kalau ketemu Joni.. suruh dia pulang yaaaa”
“urff.. urf…”

Hari keempat saya sudah mulai pasrah dan mengikhlaskan kepergian Joni. Rasanya sulit berharap Joni akan kembali pulang. Belum lagi waktu hujan deras kemarin. Joni lagi ngapain ya? Sambil menangis saya bertanya-tanya. Semoga Joni bisa cari tempat untuk berteduh. Apalagi waktu saya lihat kucing liar mengorek-ngorek tempat sampah. Hiks!

Apa Joni juga sedang mencari makan seperti itu? Somewhere out there… ada kucing hitam yang miau-miau merindukan saya, sedang mencari saya. Dan disini.. saya juga miau-miau ..-ehm.. versi manusia tentunya- mencari Joni.

Malamnya… Sudah tengah malam dan kami sudah terlelap sedari tadi. Kami kelelahan mencari Joni. Tapi kok barusan ada yang menggaruk-garuk pintu kamar. Biasanya sih Koko atau Malih ingin masuk dan tidur di kamar atau Joni waktu dia masih ada disini. Jadi dengan mata setengah terpejam saya buka pintu.

“auuuuu..auuuuuu”

Aah.. rasanya saya kenal dengkingan manja itu. Kucing itu menggelayut manja pada saya. Astagaaaa… Badannya kurus, Luka-luka disana sini dan bulunya nampak layu. Tapi matanya bersinar gembira.

“Joniiii? Ini Joni bukaaan?” aaaaah… saya bangunkan suami saya.

“Ini bukan mimpi kan?”

huhuuuuy!!!! Joni is baaaack…!!!! Tuuuh kaaaan…. Joni pasti tahu jalan pulang.

 Joniiii..Joniiiii!!!! Dan kami bertiga melompat-lompat gembira.  

BTR ini kisah 14 Nov 09 lalu. Menurut kami berdua, Joni itu termasuk kucing yang cerdas. Udah keliatan sejak ia kecil. Coba deh baca kisah Joni waktu ia masih kecil dulu. Disini.
tangga monyet untuk mpus Joni

Wednesday, December 02, 2009

the power of emak-emak

Pagi-pagi sekali, sudah ada tetangga yang datang. Kebetulan, suami saya yang buka pintu.

“Ada bu Joko?”

Wah, tumben nyari saya. Ibu yang tinggal di ujung jalan itu menyorongkan kertas. Saya penasaran.

Rupanya itu petisi dari ibu-ibu di RT kami yang menolak keras tambahan iuran RT untuk bulan depan. Nama saya ada di urutan nomor satu


Iuran rutin RT ditarik bendahara RT tiap bulannya. Kisarannya 50 ribu rupiah. Iuran ini sudah termasuk biaya kebersihan, dan keamanan.

Nah, rupanya bulan depan (lagi-lagi) pak RT -dan bapak-bapak ‘pemalas’ itu - punya ide cemerlang, untuk kerja bakti membersihkan got dan membersihkan  ilalang di rumah-rumah kosong yang belum ditempati, tanpa harus mengeluarkan tenaga dan keringat.


Yup! Yaitu dengan menambah iuran 50 ribu rupiah lagi dan mengupah orang untuk mengerjakannya.

“Lha..iyalah..! dari pada saya sakit pinggang” dalih suami saya.

Hehehe… dasar!

Sebenarnya saya nggak masalah kok mengeluarkan biaya sebesar itu. Saya kan tergabung dalam Ikatan Istri Sayang Suami. Hihihihi…

Toh uang itu akan dipotong dari anggaran bulanan yang diberikan suami untuk saya.  dengan catatan saya harus pandai-pandai mengatur uang belanja. Kalau nggak mau tekor  ketika akhir bulan tiba.


Tapi sebagai sesama ‘menteri keuangan’ saya mengerti betul kegelisahan emak-emak ini.  Maka kali ini saya dukung penuh petisinya. lagipula suami saya perlu berolahraga sekali-sekali. Biar pipinya nggak terlalu chubby seperti saat ini.

Jadi tanpa ragu, langsung saya bubuhkan tanda tangan saya disana. Dan tetangga saya berlalu dengan senang.

Go emak-emak… Go!!!!


Tumben kali ini saya akur dengan tingkah ibu-ibu di RT ini.

BTR, 27 November 2009 (hari raya idul adha. Lagi nyuci baju, semua mpus pada molooooor ..termasuk si chubby yang lagi libur kantor )

Tuesday, December 01, 2009

di tempat kami ada poskamling DUGEM lho

“Whaaaat? Pos kamling?”

Ini kejadian sebulan sebelum kami pindah kesini. 

Waktu kami datang menengok rumah, Pak RT datang menyodorkan proposal. Lagi-lagi ini ide Pak RT kami tercinta. 

Proposal untuk membangun poskamling di ujung jalan. Juga daftar saweran dengan nama suami saya salah satunya.

“Untuk apa pak RT?” sahut saya bengis. (hihihi.. sebel sih)
 
“Kan udah ada satpam komplek?” kata saya, si warga yang nggak gaul dan individualis itu 

“Yaaah.. untuk bapak-bapaknya nongkrong lah buuuuu…” sahutnya dengan logat Bataknya yang kental itu. Dan kemudian meneruskan obrolan dengan suami saya. (catat: suami saya dan pak RT ini satu kantor beda divisi) dan for the sake of ‘nggak enak hati’ dia setujui proposalnya. Uh..! pantes.

“gggggrrrrrrhhh!!!” keluh saya dalam hati. (chicken mode on)

Dulu waktu kami pilih rumah ini, sengaja kami cari rumah yang agak di ujung jalan. Biar nggak terlalu ramai. 

Ada juga sepetak tanah kosong persis di ujungnya. Kata si developer, itu akan dijadikan taman kecil atau median jalan. 

Agenda tak resmi saya, sepetak tanah kosong itu sih.. untuk tempat mpus main dan puppy.. hihihi..

Maka musnahlah angan-angan saya. Saya sudah terlanjur memilih rumah no 32 ini.

Saya yakin ini bukan murni idenya. Pasti ini ide kolektif dari bapak-bapak RT kami yang hobinya gaul. Dan betul juga. Begitu kami pindah kesini, saya nyaris pingsan melihatnya.

Pos permanen, dengan dinding bercat oranye ngejreng, lantai keramik tinggi 30 cm, atap asbes miring 30 derajat. Oh.. jangan lupa, ada untaian lampu kelap-kelip yang nyala waktu malam hari. Satu kandang burung perkutut milik pak RT. Satu keran air+pompa di sudut yang lain. Dan satu lagi…..

Ada tulisan POS BHINNEKA TUNGGAL IKA di temboknya.

Kali ini saya benar-benar pingsan!


BTR 1 Des 09 (saya yang lagi ‘pingsan’ )

Monday, November 30, 2009

antara lampu dan pelanggaran HAM

sore itu di ruang depan. Sambil memandang sepetak halaman depan. Ini obrolan saya dengan suami tersayang.

"Apa? Wajib pake lampu taman? Harus seragam pula?" dengus saya, huh aturan yang aneh.

“Udah ketetapan dari pak RT, Hany. Udah kesepakatan bersama" kayak anggota DPR aja.

“Kalau nggak mau gimana?" saya, masih ngeyel.

"Hus! Udah ah... Ikutin aja. Nggak enak sama warga yang lain" kemudian dia ngeloyor pergi.

Hari gini harus seragam? Saya bener-bener nggak setuju. Sejelek-jeleknya rumah, saya nggak ingin disamakan dengan orang lain.

Karena setiap orang itu unik bukan? Lihat aja rumah di ujung jalan itu, pagarnya dicat ungu. Atau rumah nomor 35, langsung berubah hijau warna cat dindingnya.

Saya rasa sih, pasti ada beberapa orang yang nggak sreg dengan lampu jelek ini :D tapi tak kuasa untuk berkata TIDAK. Maaf pak RT, lampunya sih sebenernya nggak jelek-jelek amat. Tapi saya udah terlanjur sebel.

Dan saya pun manyun di pojokan.

Berhari-hari selalu saya pasang tampang PROTES BERAT jika masalah lampu ini disinggung lagi olehnya. Bersama kelima kucing saya, nyaris kami membuat spanduk untuk demo.

Tapi tanpa sepengetahuan saya, rupanya sudah ia setorkan iuran la
mpu ini pada pak RT. Tinggal tunggu waktu pasang lampunya saja.

Uh…rasanya tak berdaya.

disela-sela kegiatan saya mencuci baju, meyiram tanaman dan mengepel lantai. Ide-ide anarkis saya muncul  seperti :

1.    Pura-pura tidak ada dirumah jika nanti ada orang yang datang untuk pasang lampu

2.    Memotong kabelnya kalau sudah terlanjur dipasang

3.    Menggergaji batang besi penopang lampu 

4.    Secara ajaib bohlam lampu  hilang dari tempatnya

5.    dan pura-pura tidak tahu kalau ditanya …(haha!)

Ah.. ide barusan tidak akan menyelesaikan masalah. Batin saya bergelut. Intinya bukan itu. Protes saya ini harus saya sampaikan kepada khalayak ramai.

Seminggu kemudian.

Lampu taman itu sudah dipasang. Dan sudah menyala seperti lampu-lampu taman di rumah tetangga kami yang lain. Apa saya pasrah dan menerima kenyataan ini? Hohooo…. Anda salah besar.

Ada yang beda kali ini.

Cahaya lampu kami warnanya kuning hangat. Satu-satunya lampu yang terangnya seperti itu. Warna kuning di tengah-tengah kepungan lampu taman tetangga yang sinarnya putih menyilaukan.

Haha… rasakan pak RT! Ini bentuk protes saya!!!

BTR, 25 November 2009 ; 22:02 *lagi nunggu yayangnya pulang kopdar, hanya ada Ucup n Pippy di rumah

Wednesday, November 11, 2009

Masa Orientasi Kucing (MOK)

Sebelum pindah rumah, saya sempat tanya kepada teman-teman di mailing list Indonesian Cat Rescue (ICR) dan milis Pecinta Kucing mengenai tips jika si meong ikut pindah rumah.

Terutama kucing stray –istilah ini mungkin lebih dikenal dengan sebutan kucing kampung, kucing jalanan atau kucing liar- yang nggak biasa dikurung di rumah apalagi di dalam kandang. Saya tanyakan juga apa tipsnya agar si mpus nggak stress dan malah hilang ketika kami semua pindah ke tempat yang baru.

Saya senang karena banyak yang menanggapi. Saran mereka cukup beragam lho. Mbak Dini salah satunya. Mbak dini ini dari milis ICR (Indonesian cat rescue) bercerita, si Tiger kucing jantannya, sempat kabur di minggu pertama dan pulang ke rumah yang lama.

 “Untung masih satu komplek. Jadi gampang nyarinya” Mbak Dini ini baru saja pindah 4 bulan lalu. Kucingnya ada 7 ekor.

“Tapi setelah sebulan dia sudah nyaman dan ngga pernah keluar rumah lagi.” Tambahnya lagi.

Atau saran dari mbak Lala Lavita dari milis Pecinta Kucing, Pamannya meninggal dunia karena sakit dan kucingnya, -kucing kampung- tak ada yang merawat.

“Karena kasihan, kucing yang saya beri nama Kipli itu, akhirnya saya bawa pulang ke rumah saya.”

Ini tipsnya :
1.    Minggu pertama : dikurung di sebuah ruangan dalam rumah, bisa dalam kamar atau halaman belakang yang tertutup (jangan ada celah untuk kabur), ada naungan untuk berteduh, makan minum di tempat tersebut, dan biarkan mereka BAB & BAK disana.
2.    Minggu kedua : kucing baru dikeluarkan dari ruangan tersebut, namun masih dalam lingkungan dalam rumah
3.    minggu ketiga : baru boleh berkeliaran diluar rumah, biasanya mereka mulai hafal dengan bau dan letak rumah, jadi kalaupun kelayapan keluar rumah, mereka pasti balik lagi kok dan tidak nyasar...
 
Tapi yang sedikit nyentrik justru saran dari mbak Lucky.  Mbak Lucky yang tergabung dalam milis Pecinta Kucing ini punya pengalaman yang sama dengan saya. Pindah rumah.

Jadi sebelum semua barang masuk ke dalam rumah baru, kucing-kucingnya ia lepaskan dulu didalam rumah. Mereka biarkan kucing jantan untuk menandai area dan mengendus-endus isi rumah.

“Baru deh…. Semua barang kami masukkan”

“oooo..”

“Tapi ada satu tradisi yang biasa kami lakukan untuk membuat kucing baru merasa hommy”

“Caranya?”

“Caranya adalah dengan memutarnya di bawah kaki meja sebanyak 7 kali” oh ya? Saya baru dengar tuh.

“Memang agak unik sih. Tapi biasanya manjur loh..” bisa saya bayangkan mbak Lucky tersenyum senang. Dan tambahnya kemudian,
 
“Oiya, biasanya dua minggu pertama, si meong masih berasa asing di rumahnya yang baru. Jadi harus sering dibelai dan diajak main ya…...Semoga pada betah di rumah yg baru..  “

“Hahaha.. siaaaap mbak Lucky!”

Kalau mbak Agil lain lagi. Tipsnya adalah dengan menyibukkan si meong dengan mengolesi seluruh kaki depannya dengan mentega. 

“Lakukan sekitar 3 hari terus menerus.” Sahutnya dengan yakin.

“Nanti kalau ada yang berusaha untuk celingukan cari jalan pulang, olesi lagi mentega lebih banyak. Itu resep nenek.” 

Wah.. saya bisa bayangkan Pippy lupa makan gara-gara seharian sibuk menjilati kakinya. 

Terlepas benar atau tidak, menurut saya sih layak untuk diuji. Penasaran juga saya dibuatnya.

“Semoga berhasil ya, mbak”  Lanjutnya. Ho oh!
 
Nah.. di tengah kesibukan saya membenahi barang-barang untuk pindah. Ibu saya telpon dan bilang :
“Pindah nanti.. nggak usah bawa kucing banyak-banyak. Satu atau dua ekor aja cukuuuup” huuuuuuu… ibu yang sangat saya cintai ini. Dari dulu memang nggak pernah setuju kalau saya pelihara kucing. Huhuuuu….

Tapi ayah saya kemudian bilang, “papa.. udah 18 kali lho pindah rumah” *secara dia veteran sering pindah rumah * dia juga rupanya sepakat dengan ibu saya. Dan membagi sedikit tips cara cepat merapikan rumah dalam waktu 3 bulan. Kwak..kwaaaaw…

Hati saya makin tak menentu. Bahkan sambil mengangkat kardus-kardus berisi buku. Benak saya sibuk membuat rencana detail untuk kucing-kucing ini nanti. Ada satu tips menarik nih dari Mbak Endah dari milis ICR. Yang menyahuti kegundahan hati saya.

Saya dan mungkin ribuan orang diluar sana –hehehe.. terlalu lebay ya- bisa jadi terlalu fokus ketika hari pindah.  Dan luput mengenai persiapan mereka sebelum pindah.

Ini tipsnya, “Jauh-jauh hari sebelum pindah, mpus-mpus itu diungsikan dulu. Bisa dititipkan di tempat penitipan atau di rumah teman”

Karena biasanya kucing itu punya feeling yang tajam tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Atau jika ada 'kesibukan' yang lain dari biasanya. Dan itu membuat mereka kabur dari rumah dan menunggu situasi kembali aman seperti semula. Dan akibatnya, malah pada ketinggalan nggak ikut pindah.

Hiks! Jadi ingat Mimin yang dua minggu sebelum kami pindah, pergi entah kemana.

“Dan perihal outdoor yang nggak biasa dikurung, mau nggak mau, nggak ada cara lain deh kayaknya selain memaksa mereka 'dipenjara' dulu.”

“Duh.. saya jadi raja tega dong ya?”

“Iya.., pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah terima nasib. Ngamuk sih... memang, pastinya stress, tapi setidaknya mereka aman dan nggak hilang”

“Hiks!”

Moga-moga pada keangkut semua ya...ntar deh kalo nemu artikelnya dimana, diupdate lagi.” Iya mbak Endah. Makasih lho.

Tapi kayaknya yang paling mendekati kenyataan sih sarannya dari mbak Okti. Dia bilang kucing outdoor, kalau dibawa pindah jangan langsung dilepas, paling tidak dikurung beberapa hari dulu.

Sediakan makanan. Karena makanan merupakan faktor yang sangat menentukan. Kucing tergantung dari makanan yang kita berikan. Lambat laun kucing juga akan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. kalau itu sudah dipenuhi, nggak usah khawatir kalau kucing-kucing tidak akan kembali, kecuali kalau mereka ditangkap orang lain.

Waaah.. mbak  Okti.. semoga nggak kejadian deh kayak gitu.

eniwey…makasih ya semua… berkat saran dari teman-teman semua, masa orientasi kucing kami sudah berhasil kami laksanakan. Sekarang sudah menginjak minggu kedua. Dan kucing-kucing kami sudah bebas bermain seperti di rumah yang dulu.

(cerita berikutnya : MOK tahap dua episode Joni Hilang!)

-lagi mati lampu, 19:29 ...pippy lagi nongkrong deket jendela-
 

Friday, November 06, 2009

rumah itu bernomor tigapuluh dua




yup! besok tepat seminggu kami tinggal disini. Setelah berminggu-minggu mengepak, mengelompokkan dan memilah-milah barang, stress mengenai pembagian tugas dengan suami, menyimpan logistik untuk berminggu-minggu, membetulkan keran air dan lampu serta membujuk kucing-kucing di rumah agar mau ikut pindah. Akhirnya kami pindah juga.......

Ke rumah mungil tipe 36/72 di salah satu komplek pemukiman yang ada di Bekasi. Masih gersang karena baru dibuka oleh developer. Tapi saya lihat tetangga kiri kanan sudah menanam pohon mangga di depan rumahnya.. ah... sabar.... sabaaar....

bekasi timur, 6 november 2009; 16.00
-yang sedang rindu dengan keteduhan pohon, untung hari ini mendung, dan mpus-mpus lagi bobo ciyang semua-
 
;