Showing posts with label bsd. Show all posts
Showing posts with label bsd. Show all posts

Thursday, November 05, 2009

lost in time square




barangkali Ucup -belang putih kuning- bobby -putih- dan kunyit -kuning garfield- adalah tiga kucing jantan yang sempat dipertemukan oleh takdir. Ucup dan Bobby dilahirkan Mboy di kapling kosong  belakang rumah, diantara bedeng-bedeng tukang yang sedang mengerjakan rumah. Sedang Kunyit, saya temukan miau-miau crying for help di got taman depan rumah. umur mereka baru sebulan saat itu.

Ketika saya letakkan Kunyit diantara Ucup dan Bobby yang sedang menyusu, Mboy tak merasa terganggu dengan tambahan satu ekor anak lagi. Malah kasih sayang yang ia berikan sama besarnya seperti yang ia berikan pada Ucup dan Bobby.

Beberapa kali mereka –mboy dan anak-anak- pindah rumah. Tapi akhirnya kembali lagi ke rumah ini. Lalu kemudian Bobby hilang. Raib lenyap entah kemana. hanya tinggal Ucup dan Kunyit. Kedua bocah ini menjalin persahabatan. Main bareng, tidur bareng, dan tetap bermanja-manja pada Mboy seorang … eh .. seekor. 

Tapi kemudian virus itu datang lagi. Hanya 2 hari Kunyit bertahan dan kemudian mati.

Kami menguburnya di taman depan. Dan dua hari pula Ucup berkeliling rumah mencari Kunyit. Sahabat tersayangnya. Sedih saya melihatnya, tapi ini cerita lama. 

(edisi nostalgia  6 November 2009; 11.03)

Friday, October 23, 2009

Mimin kamu ada dimana? hiks!

Sudah hari kelima. Dan Mimin belum juga pulang. Terakhir kali saya lihat dia malam minggu lalu. Ketika kami –saya dan suami- baru tiba di rumah.

Saya lihat Mimin sudah makan dan sedang tidur di sofa ruang tamu. Hari itu memang saya titipkan semua kucing pada Mbak Nia –orang yang biasa datang dan membantu saya jika cukup lama kami pergi meninggalkan rumah-


Mimin juga tidak muncul keesokan harinya. Ketika pukul setengah tujuh pagi saya membuatkan sarapan untuk mereka. Tidak biasanya ia melewatkan waktu makannya.

Apa ada yang menculik Mimin ya? Setahu saya, kucing hitam ini tidak begitu jinak pada orang asing. Dia juga bukan tipe kucing yang suka berlama-lama dipeluk dan digendong.  Lalu kalau tidak diculik, apa dia kabur dari rumah ya?

Padahal menjelang kepindahan kami ke Bekasi dan disela-sela hiruk pikuk saya mengemasi barang-barang di rumah, semua kucing ini juga tak luput dari masa sosialisasi mengenai pindah rumah  saya nggak peduli apakah mereka mengerti bahasa manusia. Tapi dengan intonasi yang lemah lembut dan ekspresif. saya rasa sih mereka mengerti  .

Seperti pagi ini misalnya. Kebetulan si Koko sedang beraksi dan bergelayut di betis saya. Sambil saya gendong berkeliling rumah, lalu kami ‘bercakap-cakap’.

“Koko, minggu depan kita pindah rumah lho”

“Miaau ?”

“Koko nggak usah khawatir. Koko pasti ikut kok. Semua mpus pasti ngikuuuut!!!”

“Miaaaau!” -pasti artinya Horeeeeee!!! Hehehe-

“Kopernya mpus Koko sudah siap belum?”

“hihihihihi!!!” –kalau yang ini, suami saya. Kebetulan dia lewat di belakang kami.-

“Baju bulunya jangan lupa dibawa ya …mpuuuuuuzzzz” -sambil ngeloyor pergi-

“huahahahaha…!!!” –laaah? Ada yang tertawa terpingkal-pingkal nih  -

Tidak hanya Koko. Semua kucing di rumah ini juga mendapat perlakuan yang sama. Pippy saya ingatkan untuk tidak lupa membawa kardus kesayangannya. Joni dengan selimut tidurnya. Malih dengan shampoo anti ketombenya.

Semua saya ingatkan. Dan saya selalu bilang kalau mereka semua pasti ikut pindah ke rumah yang baru. Saya awasi juga jadual main mereka setiap harinya. Terutama Joni, Kiki dan Mboy yang hobinya main keluar.

Tapi Mimin? Hiks! Kamu ada dimana mpooooez?

Ah, kalau itu Kiki atau Mboy, saya tidak sekhawatir ini. Pernah berhari-hari mereka meninggalkan rumah atau sering melewatkan waktu sarapan karena malamnya terlalu jauh bermain dan kemudian datang tergopoh-gopoh karena ketiduran di luar sana. Saya sih tenang-tenang saja. Mereka berdua memang hobi main. Dan pasti survive diluar sana.

Tapi tidak dengan Mimin. Mimin itu kucing yang selalu on time pulang ke rumah. Paling disiplin kalau sudah berurusan dengan makan. Tidak heran kalau sekarang perawakannya hampir menyamai Pippy –maaf ya Pippy rekormu sebagai kucing tergendut di rumah ini, hampir di pecahkan oleh Mimin-

Mimin juga kucing yang paling manja pada Pippy. Walau kadang-kadang jika Pippy lagi PMS dan ingin 'bunuh orang'  maka sedetik kemudian sudah ditampolnya Mimin dengan cakar miaunya. Hebatnya, Mimin tak pernah merasa sakit hati. Dia akan kembali menggelayut di depan Pippy, dan minta dijilat kupingnya.

Ah.. Mimin yang manis.

Hingga hari ini, saya sudah berkali-kali mencari Mimin. Bahkan hingga ke blok sebelah yang saya curigai tempat Mimin bermain. Membonceng motor suami saya ketika ia pulang kantorpun sudah saya lakukan. Dan berkeliling komplek sambil berseru-seru memanggil Mimin –sudah tentu dibumbui pandangan ‘kasiandehloe’ dari tetangga yang kami lewati-, tetap saja Mimin tak kami temukan.

Oh Mimin.. Mimiiiiiin…  

Serpong 23 Oktober 2009, 15.17, Joni lagi ‘pingsan’ dan tidur terlentang di depan pintu..hihihi.. capek begadang ya mPus?

-saya yang lagi sedih, andaikan Mimin membaca postingan ini. Hiks! Mimin.. pulang yaaa.. kamu nggak akan ditinggal. Kamu pasti ikutan pindah kok- atau andaikan si penculik Mimin membaca postingan ini, please..please deh, kembalikan Mimin kepada kami. Huhuhu…

Thursday, September 10, 2009

Pengumuman : dikontrakan rumah di BSD

Rasanya berat meninggalkan rumah ini. Saya sudah terlanjur cinta. Rumah mungil tempat saya, suami dan kedelapan ekor kucing kami berteduh. Rumah mungil yang ada di daerah yang tidak terlalu ramai dan yang masih sejuk udaranya.

Tapi saya lebih cinta kepada belahan jiwa saya. Sedih rasanya melihatnya kelelahan karena harus berangkat pagi dan pulang larut malam. Jadi tahun ini kami berdua memutuskan  pindah rumah. Tentunya ke tempat yang lebih dekat dengan kantor suami. Semoga di tempat kami yang baru nanti juga akan sedamai rumah ini.

Rumah ini ada di Nusaloka, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Akses dekat sekali dengan jalan tol Bintaro-TB Simatupang. Jika dengan kendaraan umum, banyak moda transportasi yang dapat digunakan. Bus trans bsd dan kereta api contohnya.

Luas bangunan 36 meter persegi dan luas tanahnya 72 meter persegi.  Letaknya persis di depan taman lingkungan.

Dua kamar dan satu kamar mandi. Satu dapur, carport untuk parkir mobil. dan taman mungil yang ada di depan dan belakang rumah.

Furnished. Sudah tersedia lemari pakaian, rak buku, rak pembatas ruang, dan kitchen set serta meja makan kecil di dapur.









Kawasan aman karena hanya ada satu portal masuk dengan penjagaan ketat.


Tidak jauh dari Indomaret, dokter 24 jam, rumah makan padang, ayam kremes, bubur ayam dan bakso… hmmm…nyam..nyam….

Jadi, bagi yang berminat silakan hubungi saya, rumah ini kami sewakan. Cocok deh buat pasangan baru atau keluarga kecil yang ingin mandiri.

makasih yaaa....

serpong, 10 september 2009; 12;23

Saturday, September 05, 2009

si mimin dan bendera merah putih

Dan ketika pintu depan saya buka. Mendadak saya ingin menangis dibuatnya. Tampak tiang bendera kami melintang di halaman. Benderanya tergeletak di lantai carport. Ya Tuhaaaan! Cobaan apa lagi yang kau berikan pada kami? Huhuhuhu…

Oh.. tidak hanya itu saudara-saudara. Cobaan itu diperindah dengan mpus Mimin yang sedang bermain perang-perangan dengan mpus Koko. Dengan ekor bergoyang-goyang, bersembunyi di dalam lipatan bendera. Menunggu kesempatan menangkap Koko yang sedang mandi kucing.

“Mimiiiiiin!” duh!

Dan Mimin pergi sambil mengomel. Kesenangannya pagi itu musnahlah sudah. Sambil menoleh kanan-kiri saya betulkan kembali tiang bendera itu. Mengikatnya kuat-kuat pada pagar depan rumah kami. Saya mengadu pada suami yang sedang mendorong motornya keluar pagar.

“Untung nggak ketahuan pak RT. Bisa diomelin deh kita semua”

“Hahaha…” gelak suami saya “ Mimin lagi main perang kemerdekaan ya?”

“huh!”

Dibalik tragedi Mimin yang sedang berlatih perang kemerdekaan itu, perayaan 17 agustus bulan lalu selalu menyisakan kisah menarik buat kami. Ketika jalan di depan rumah dipercantik dengan umbul-umbul dan untaian bendera kertas merah putih silang menyilang. Saya sudah siapkan buluh bambu lalu bendera yang sudah dicuci-setrika-wangi dikeluarkan dari lemari. Kemudia dengan hati-hati saya ikat pada pagar rumah.

Tapi ada satu hal yang saya lupa. Pagar depan juga dipakai oleh mpus Koko, Ucup dan Mimin untuk bermain dan berlalu lalang. Iseng aja. Dari ujung kiri, ke ujung kanan. Dari tembok tetangga di sebelah kanan, meniti pagar dan hup! Melompat ke pagar tetangga di sebelah kiri rumah kami.

Saya kira hidup kami akan damai sentosa hingga akhir seperti dalam dongeng-dongeng itu lho  Ah..

Keesokan harinya. Pagi-pagi setelah urusan rumah selesai, saya pergi ke pasar. Belanja. Dan tak lama kemudian ketika saya kembali dan membuka pagar rumah.

Hmmm… ada yang aneh disini. Kenapa rumah terasa lengang? Kenapa tidak ada kucing yang melompat keluar dari jendela dan menyambut saya seperti biasa?

Mata saya berkeliling menyelidik. Dan ketika tiba pada bendera kesayangan kami. “Huaaaaaaaa…!” belanjaan di kiri dan kanan tangan terlepas dari pegangan. Bendera kami sudah berubah menjadi putih merah. Ihiks!

Kembali saya ingin menangis dibuatnya. Pasti Mimin deh tersangka utamanya. Mimin itu tipe kucing yang selalu ingin tahu. Saya curiga dia bermain-main lagi di pagar depan rumah, menarik benderanya dan hup! Putus deh ikatannya. Nggak heran sekarang sudah berubah warna.
“Duuuuh..! Mimiiiiin..Mimiiiiiin!”

Serpong 5 september 2009 20.02 (yang diomongin lagi maen ke rumah di ujung jalan)

Tuesday, August 25, 2009

telur dadar with love

Apa menu buka puasa kami hari ini?

Hanya telur. Tapi tetap saja dibuat dengan penuh cinta. 

Sejengkel-jengkelnya saya, tetap saja saya membuatnya dengan sepenuh hati.

Ini dia namanya telur dadar with luuuuuv. Kocokan telurnya saya tambah dengan irisan bawang, daun bawang, sedikit parutan keju, garam dan merica secukupnya.

Lalu kenapa bisa begitu?

Nah, ini semua gara-gara tadi subuh waktu kami sahur. Suami saya kok nggak berselera makan. Padahal sejak pukul setengah empat saya sudah berkutat di dapur. Ingin menyiapkan nasi goreng ala chef hany yang terkenal itu. Lengkap dengan garnishnya yang cukup menggoda. Wortel, tomat dan buncis yang nyes nyes itu.

“Maaf ya Hany”

“huh! Gpp!”

“banyak ranjaunya” maksudnya cabe dan bawang merah.

“huh! Alasan!”

Padahal sejak hari pertama puasa sudah saya kerahkan seluruh daya upaya untuk menyiapkan ‘soto ayam cak Hany’ yang terkenal itu. Waktu berbuka di hari kedua, tangan saya sigap meracik cumi ungkep mentega yang hmmmm.. yummy, rasanya luar biasa. Di hari ketiga, ayam goreng berbumbu renyah ditambah dengan tumis brokoli yang manis asin begitu.

Huh.. saya kecewa. Dan di hari keempat bulan puasa ini saya (minta ijin untuk) mogok masak. 

Interogasi pun dimulai. Ternyata dikantornya, setiap waktu buka puasa. Ia dan teman-teman satu divisinya menyulap salah satu ruang meeting menjadi tempat mereka buka puasa. Membeli cemilan dua kantong plastik penuh. Membeli berjenis-jenis minuman segar. Dan mulai mengunyah hingga perut kekenyangan. Hmm.. pantes…

Ya sudah, demi menjaga mutu kualitas dan kemampuan memasak saya kali ini. Saya break dulu. Biarlah telur dadar cinta ini sebagai wakilnya. Tapi kalian pasti bertanya-tanya, “Gimana caranya?”

Ini sih gara-gara rajin jalan-jalan di supermarket dan nemu obralan barang-barang produk Jepang.

Hah? Jepang? Wah, saya jadi penasaran.

Sambil melihat-lihat dan mengaduk-aduk barang. Saya jadi berpikir. Kok kepikiran ya untuk membuat produk seperti ini?

Satu hal yang saya kagumi dari orang-orang Jepang ini adalah mereka itu amat sangat detail. Hingga yang saya anggap remeh temeh pun tetap mereka pikirkan . Hingga yang sekecil-kecilnya. 

Contohnya ya cetakan telor ceplok seperti ini. Yang lainnya? Hmmm… coba saya ingat-ingat. Ada saringan teh berbentuk bandul hati. Cetakan nasi kepal berbentuk rumah, mobil, ikan atau panda. *ini cocok juga untuk membujuk anak kecil supaya mau makan*

jaring untuk menyimpan pakaian, cup untuk mengikat kabel, rupa-rupa tuperware plastic untuk menyimpan makanan hingga pencetak es berbentuk bulat seperti kelereng. atau berbentuk tabung mungil sehingga bisa dimasukkan ke dalam botol minuman plastik kita. Bayangin, minum frestea dingin. Dengan es batu di dalamnya.

Widiiiih..

Dan coba saja perhatikan rumah mereka. Rapi, mungil dan multifungsi. Tatami bisa menjadi alas tidur. Lemari geser yang menyerupai dinding. Halaman rumah yang bahkan hingga ke ujung sudutnya sudah diperhitungkan dengan matang. Selalu rapi dan bersih. Dan orangnya nggak bisa diem. Inget kan banyak yang usianya tua hingga ratusan tahun?

Resepnya hanya satu. Gaya hidup sehat dan nggak stress. Artinya hingga setua itu, tubuh dan pikiran terus bergerak. Nggak pernah ada satupun waktu luang.

Walau sebenarnya saya juga ngeri. Etos kerja mereka gila-gilaan.  Saya sering dengar berita banyak yang bunuh diri karena di PHK atau karena tidak masuk universitas favorit.

Ah… saya sih lebih memilih melahap telur dadar with love ini deh. Bareng suami tercinta tentunya hehehehe…
 
Selamat berbuka puasa teman-teman :D
Serpong 24 agustus 2009 ; 19.49 (tumben mpus KIKI ada di rumah)
 

Tuesday, June 09, 2009

koko dan ucup




ini dia kalo Koko dan Ucup lagi bobo siang. Koko -warna tabby, mata cokelat dan hidung merah tua- adalah kakak Ucup generasi kedua. Umurnya sudah satu tahun empat bulan. Sedangkan Ucup -warna putih dan merah- baru saja menginjak umur 9 bulan. Keduanya sama-sama kucing cowok yang amat cupu dan paling manja di rumah ini. Tadi siang, Koko datang bergabung. Melihat Ucup yang tidurnya nyenyak. Tak tahan dia untuk segera bergelung disamping Ucup.


serpong 9 juni 2009, 15.43

Monday, May 18, 2009

“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

“Grusak! Grusukkkk!”

Disusul suara gedebuk dan jeritan memilukan menyelinap melalui jendela kamar kami. Jendela kami memang menghadap halaman kecil yang ada di belakang. Dan ..oooh…suara itu terdengar jelas sekali di malam buta seperti ini. *ya, sebenernya sih nggak sepi-sepi amat. Wong suami saya sedang maen PS *

Kami saling berpandangan.

“Coba kuintip deh” saya membuka pintu kamar.

Daaaan…. Hiyaaaaaa…!!!!!

Kami berdua menjerit ketakutan. Terasa ada hawa dingin menyelinap masuk. Gelap sekali disana. Sementara TV menyala-nyala tanpa suara. Kami berdua saling berpegangan tangan.

Sedetik kemudian, makhluk itu lewat di depan pintu kamar kami.

Jeritan kami bertambah keras.

“Aaaaarrrrgh!!!”

Makhluk itu menyeringai. Sekaligus heran melihat kami berdua. Kemudian ia berhenti di depan pintu kamar.  Jeritan saya makin keras dan saya nyaris pingsan.

Tak lama kemudian.

“Aaaaaah!!! KOKOOOOO!!!!” omel saya pada makhluk itu.“Kalau bawa upeti jangan dibawa kesini dong!”

Dan Koko mengangkat sebelah alis matanya *hehehe.. maab, sedikit hiperbol.* Dia heran. Kenapa harus takut?

“Hus! Hus! Ayoh.. maenannya bawa keluar”

“ah…Kokoooo..” sahut suami saya dari balik bahu saya. Ngintip. Lega.

Dan kami berdua kembali ngumpet di dalam kamar. Siapa yang berani keluar kamar? Ih, serem.

Memang sudah berhari-hari ini Koko ogah tidur di dalam rumah. *atau keluar malam seperti biasa* Dia lebih suka nongkrong di halaman belakang dan baru miau-miau minta masuk ketika subuh saya buka pintu belakang. 

Nah, tadi waktu kami makan malam di dapur belakang. Koko memang tak mau beranjak dari pojok halaman. Duduk siaga menghadap tembok belakang.

“Koko lagi dinas ya?” goda suami saya pada Koko. Dan Koko tetap diam tak bergeming. Cueks mode on. Diam mematung memperhatikan tembok. Sementara Ucup, Malih dan Joni sibuk berputar-putar di sekita betis suami saya. Apalagi kalau bukan mengemis sisa ikan.

Rupanya dia sedang menanti makhluk malang itu muncul dari sarangnya. Malam ini hari tersial baginya.






Malang benar nasibmu, Mick!  *baca: si Micky*



Serpong 18 mei 2009l 19.43 (lagi di kamar, nungguin yayangnya pulang, ditemenin Joni yang lagi ‘pingsan’ di sebelah saya, oiya Koko sudah stand by di belakang. Nunggu mangsa berikutnya hehehe.... Met kerja ya, Ko!)

Friday, April 03, 2009

Imuuuut.....! Please deeeeh!!

Masih inget si Imut kan? Itu lho kucing Pak RT tetangga sebelah rumah kami.

Nah, akhir-akhir ini dia benar-benar menguji kesabaran dan ketabahan saya. Sejak yang bersangkutan

*caila.. gaya
nya udah kayak pejabat aja* nggak di kasih makan lagi sama bu RT. Kerjaannya tiap hari kelayapan ke rumah-rumah tetangga. Termasuk rumah saya. Apalagi disini ada mangkuk mpus yang stand by 24 jam penuh.

Tapi kan itu untuk kucing di rumah ini. Mpus Imuuuuut! Yang notabene gaya makannya seperti putri keraton. Jatah makan pagi aja, bisa dimakan dalam 2 atau 3 kali kesempatan. termasuk si Pippy, yang jam 10 pagi sudah duduk manis menghadap lemari hitam, minta jatah cemilan sehatnya 

Saya kan harus berhitung. Mana si Imut rakus sekali. Whaduh, kalau dibiarkan terus, uang belanja bulanan bisa tekor deh.

Padahal Imut tahu betul, kehadirannya disini, tak di restui. Si Mimin contohnya. Setiap kepala imut nongol di pintu pagar, tanpa ampun langsung di kejarnya.

Dan saya lelah sekali karena harus mengubah kebiasaan di rumah ini. Setiap kali kucing-kucing selesai makan, mangkuk sisanya harus saya simpan agar tidak di makan imut. Kan kasihan, si Koko atau Kiki nggak bisa makan lagi.

Yang ajaib sih begitu jam makan tiba. Entah darimana, kok si Imut tau aja. Dia sudah nongkrong di pintu belakang, berharap dapat jatah makan.

Ah.. sebenarnya saya kasihan. Tapi kata suami saya, nggak boleh dibiasakan. Nanti, dia akan terus makan disini. Saya juga nggak mau. Apalagi kalau ingat, betapa mudahnya bu RT menghentikan jatah makannya si Imut.

“Herannya lagi Bu. Sejak saya nggak pernah kasih makan lagi, si Imut bisa keliling sendiri kok cari makanan” kata Bu RT,  waktu pagi-pagi kami ngobrol sambil belanja di tukang sayur yang lewat.

“oh.. begitu ya Bu” sahut saya hambar.

Iya, dan cari makannya di rumah saya, Buuuuu. Please deh! Jerit saya dalam hati.

Oh… kalau saya tidak ingat bahwa dulu saya pernah berhutang budi pada Bu RT, pasti sudah saya buat permohonan tertulis rangkap tiga. Meminta dengan sangat agar dia menjaga kelakuan kucingnya itu.

Arrrgh!.. saya memang pengecut… tok..tok..tok..petoooooook….

Serpong, 3 Apri 2009; 09.04 (tau deh.. mpus-mpus pada kemanah)

Menurut saya, punya hewan peliharaan di rumah itu juga suatu komitmen. Mereka juga berhak mendapat makanan, perlindungan dan kasih sayang. Dan bukan berarti begitu mereka bosan atau tak sanggup memberi makan, lalu dicuekin begitu aja.  Ihiks! Malang benar nasibmu Imuuuut!

Wednesday, April 01, 2009

walau matamu seperti buto ijo, dan tampangmu kayak cakil, aku tetap cinta kamu Joni

Joni itu kucing yang cerdas. Saya tahu itu. Dari kecilnya aja, saya nggak pernah kerepotan mengajarinya untuk pup dan pis di luar, menyuruhnya naik tangga Joni, ketika ia nyemplung ke kapling belakang atau duduk manis saat makan tiba dan bahkan menggaruk-garuk pintu karena ingin masuk kamar.

Semua kode yang ia berikan, saya pahami. Semua miaunya saya mengerti. 

Kadang saya nggak habis pikir, Joni itu kucing atau anjing sih? Kok ekornya kerap bergoyang jika saya panggil namanya. Barangkali dia tahu kalau namanya Joni. Dan dia juga tahu kalau saya sedang sedih. Entah dari mana, tiba-tiba dia datang menemani. Dia juga tahu kalau saya sedang sakit. Datang dan tidur di ujung kasur, menunggui saya.

Dan sayalah yang akan menangis jika ia sakit. Pernah suatu malam, ia tak mampu bergerak. Terlentang di lantai. Hanya ekornya saja yang bergerak lemah waktu saya panggil namanya. Pernah berhari-hari  nggak nafsu makan. Badannya lemas, bulunya kusam. Saat itu yang saya ingat hanyalah :

“Kamu nggak boleh menyerah mpus. Kita berdua tidak akan menyerah”

Rasanya cukup saya melihat kematian mpus Ndut, Mpus Tommy, Uci dan Kunyit di rumah ini.

Tapi kali ini, saya sedih luar biasa. Tak sanggup lagi membendung air mata. Jum’at malam itu, seperti biasa, setelah makan malam, Joni nongkrong di kolong si biru. Entah darimana, tiba-tiba sudah terdengar suara kucing yang heboh bertengkar dan masuk ke dalam rumah.

Yang saya ingat, saya keluar kamar dan mengejar si kucing garong hingga keluar rumah. Sayang tidak terkejar. Pintu pagar sudah di gembok pula. Sudah lama si garong ini mengincar Kiki. Tapi yang saya temukan di rumah hanya tetesan darah. Duh!

Tidak ada Kiki. Hanya ada Joni yang meringkuk di atas box laundry dekat kamar mandi. Nafasnya pendek-pendek. Mulutnya mengaga, karena tak dapat bernafas dari hidung. Hidungnya tersumbat karena terus menerus mengeluarkan darah. Mata kanannya bengkak, selaput matanya tergores. Dagunya luka. Dan yang paling parah, rahangnya bergeser ke kiri.

 Oh Joniiiii…..

Saya benci si kucing garong itu. Mungkin karena Joni sudah di steril, jadi dia kalah telak dari si kucing garong. Joni itu kucing rumahan.

Tiga hari pertama, tak ada satupun makanan yang nyangkut di lambungnya.  Kalau tidak saya paksa minum susu dan bubur bayi yang saya campur dengan obat. Kerjanya hanya tidur. Bulunya kusam. Matanya tak bercahaya. Saya khawatir dia sudah nggak punya semangat untuk hidup lagi.

Hari berikutnya, dia sudah mau turun dari tempat tidurnya. Ikut datang ke dapur belakang ketika waktu makan tiba. Joni sudah mulai mau makan. Walau masih mengecap dari telapak tangan saya. Dan satu lagi, Joni jadi manja sekali. Kalau malam, dia pasti tidur melingkar dekat lengan kanan saya dan tak terbangun hingga pagi hari.

Dan kemudian  luka-lukanya mulai mengering. Rajin saya bersihkan biar nggak infeksi. Bulunya juga saya lap setiap hari. Tapi mata kanannya masih keruh dan bengkak. Kelopak matanya masih sulit ditutup. Rahangnya bergeser kekiri. Gigi taringnya tidak sejajar lagi.

“Mungkin joni harus pake kawat gigi, Hany” kata suami saya.

“huhuhuhuhu..!” masih aja dia bercanda. Ini kan situasi genting.

Mungkin dia akan cacat seumur hidup. Tapi walau matamu seperti buto ijo, dan tampangmu seperti cakil. Aku tetap cinta kamu Joni.

Serpong, 1 april 2009, 14:44 (sekarang, sudah 15 hari setelah kejadian itu. Walau badannya sedikit kurus, matanya cacat dan tampangnya seperti cakil, Joni sudah sehat kok, foto diatas, foto sebelum kejadian)

dilarang buang kucing disini

Masih inget si Malih? Anak kucing yang dibuang orang dan ditinggalkan orang di depan rumah kami minggu lalu?

Nah, kemarin waktu saya selesai belanja di abang sayur yang lewat depan rumah. Abim dan sepupunya, Aceng, anak tetangga yang semula ikut ibunya belanja sayur, akhirnya datang dan main ke rumah.

Rupanya mereka senang melihat ada kucing kecil berbulu gondrong (baca: si malih) yang lagi berjemur panas pagi di lengan sofa dekat jendela depan.

“ih.. ada kucing angora” kata Abim.
“kucing darimana sih tante?” tanya Aceng.

Sambil meletakkan belanjaan di kulkas dan membawa ikan mentah untuk dibersihkan di dapur, maka berkisahlah saya mengenai kucing kecil malang yang kami temukan di depan rumah.

Tiba-tiba Aceng bilang.

“itu kan kucing yang kak Anggi dan kak Billa bawa kemaren. Mereka kok yang naruh kucing itu di depan rumah tante” *Anggi dan Billa itu kakak perempuan mereka*

Saya diam dan balik bertanya.

“lho? Kalo gitu apa maksudnya?” dan mulailah mulut saya yang bawel ini tak dapat dihentikan. Saya esmosi saudara-saudara.

“it’s not fair!” *for me maksudnya* “Kalo Anggi dan Billa yang nemuin kucing, ya mereka dong yang pelihara. Itu nggak bertanggung jawab namanya. Jadi kalo bosen, dan nggak mau pelihara, semua kucing ditaruh di depan rumah tante? Begitu?” Nada suara saya mulai tinggi.

Aceng terdiam. Memang untuk ukuran bocah, saya lihat dia jauh lebih dewasa dari usianya. Sedang Abim, seakan tak peduli. Dia lebih asyik bermain dan mengejar kucing-kucing saya yang lain.

Setelah itu, saya tinggalkan saja mereka di ruang tamu. Saya pergi ke belakang untuk mengolah ikan yang baru dibeli tadi.

Saya masih kesel tauuuuu. Mungkin sudah waktunya saya pasang pengumuman : dilarang buang kucing disini.


Tapi lama-lama, saya jadi malu sendiri. Untuk apa marah-marah sama mereka berdua. Toh, mereka nggak salah apa-apa. Cuma kebetulan aja ‘ketiban sial’ akibat pagi ini datang ke rumah dan membocorkan rahasia perihal asal muasal kucing kecil ini.

Tiba-tiba sayup-sayup saya dengar kedua anak itu pamit.

“pulang dulu ya Tanteeee”

Saya buru-buru keluar dan mengantar mereka hingga pagar depan. Saya nggak marah lagi. Sambil nyengir saya bilang.

“iyaaaaa… makasih ya udah mampiiiiir”

Hahaha.. duuuh.. dasar. Ibu-ibu ganjen.. hahaha…

*serpong, 16 maret 2009; 19.39*

Tuesday, March 31, 2009

Steril itu pilihan

Steril itu pilihan. Itu kata saya lho. Ah… mungkin saya sedang cari pembenaran  Tapi, sungguh. Ketika jumlah kucing peliharaanmu mulai bertambah dari waktu ke waktu, dan kamu mulai  kerepotan, mulai kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka satu persatu. Hmmm… menurut saya sih, sudah waktunya.


Buat saya, untuk ambil langkah itu, diperlukan kemauan untuk membuka pikiran. Open mind. Berani mencoba menerima perubahan. Masih ingat program pemerintah era Soeharto? Program KB itu lho. Dulu untuk menghimbau orang untuk ber-KB rasanya susahnya luar biasa. Betul nggak? Tapi lihat sekarang.

Atauuuuuu….. yang baru-baru ini deh. Program pemerintah untuk beralih dari minyak tanah ke gas? Whaduuuuh.. kok ya rasanya susah mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Padahal itu membuat hidup jauh lebih mudah. Memang butuh waktu sih.


Ngomongin hidup lebih mudah, saya jadi ingat ibu saya. Dulu ia nggak mau pakai mesin cuci.”Cucian nggak bersih!” katanya. Mendingan cara tradisional. Rendam, sikat dan bilas. Tapi saya, si manusia keren era millennium ini , keturunan satu generasi dibawahnya, lebih suka pakai mesin cuci.

Alasannya sederhana, karena cepat dan praktis.  Walau pada kenyataannya, sekarang ibu saya masih menggunakan kombinasi keduanya. Mesin cuci dan cuci ala tradisional itu. Saya mau bilang apa. Namanya juga pilihan. Ya nggak? Terserah masing-masing deh.


Kembali ke persoalan steril. Teman saya nggak setuju waktu saya cerita akan mensteril semua kucing peliharaan saya. Katanya, saya menentang mother nature. Mengebiri hak asasi binatang untuk bereproduksi. Tidak berperikekucingan. Dan semua kata-kata mutiara lainnya. Semua saya telan dengan cengiran.

Argumen saya, dianggap tak masuk akal. Ingin menekan populasi kucing? “Huh.. mulia sekali anda. ” katanya. Padahal, apa dia mau pelihara tiga ekor anak kucing sekaligus? Apa dia mau pelihara delapan kucing sekaligus?  Atau dia mau mengadopsi setiap anak kucing yang berkeliaran di jalan?

Yang menyedihkan sih, komentar ayah saya. Alkisah, bulan lalu saya pulang ke rumah. Waktu itu saya pamer foto-foto kucing saya di rumah. Begitu ia melihat  foto si mpus pasca operasi steril, mendadak ia kehilangan gairah untuk meneruskannya. Dan bilang “pantes aja. Barangkali kamu kena karma. Belum bisa punya anak karena kucing-kucingmu disteril semua”

“Wuuuuuihhhh… deeeeeeepp!” sahut saya dalam hati. Tapi lagi-lagi si anak bengal ini penasaran. Suara hati harus disampaikan toh. Maka, kembalilah teori-teori mengenai kucing yang terus bertambah.

Tidak berhasil.

Maka, “apa setiap anak kucing yang lahir harus dibuang?”
“ya.. pilih kucing cowok dong”
“dan yang cewek dibuang?”
“eeee……”
“ayolah Paaa…. Open mind sedikit deh. *hihihi.. ni anak sotoy banget ya*
“ya enggak… “
“terus?”

Ayah saya diam. Dan kalau dia sudah diam. That’s it. End of conversation. Tapi saya diam aja. Mungkin dia sedang mikir. Sekali lagi. Memang butuh waktu. Sama seperti ibu saya dan mesin cucinya.  Tapi saya nggak tahu dengan teman saya yang satu ini. Padahal, dia juga pelihara seekor kucing lho.

 “Ya dibuang aja, Ries!”
“Lah? Apa dasarnya?”
“Toh ada teori survival. Siapa yang bertahan, dia yang akan terus hidup.”
“Dengan membuang kucing di pasar?”
“Iya”
“aku nggak tega”

Bukannya sama aja. Terori survival yang saya maksud adalah dengan menekan populasinya. Populasi yang cukup laaaah. Supaya jumlah orang yang mau pelihara kucing dan jumlah makanan yang tersedia bagi  mereka tetap seimbang. *ceileeeee… tingkat tinggi nih*

Dengan mensteril kucingku, aku nggak perlu repot mencari orang untuk adopsi kucing, atau repot-repot harus membuang kucing ke pasar kan? Atau gini aja deh. Sebagai manusia yang berakal, aku mewakili kucingku untuk mengambil keputusan untuk mereka. Demi kesejahteraan mereka *analogi yang rada maksa sih sebenernya* “

“pokoknya kamu orang yang kejam, Ries”
“maksud lo?”
“tidak berperikekucingan”

Ah.. sutra lah… buat saya, steril itu pilihan. Mana tega saya membuang anak kucing yang baru lahir. Lebih baik saya steril saja induknya. Populasi kucing di rumah tetap tidak bertambah. Dan konsentrasi saya tentu bisa full untuk kucing-kucing tersayang.

Saya harap, orang juga mulai berpikir begitu. Kasihan kan ngeliat anak kucing yang dibuang di pasar, atau di jalan yang meong-meong kelaparan? Kasihan juga kan ngeliat banyak kucing tua yang sakit di tepi jalan karena nggak mampu mencari makan. Atau kucing yang mati karena ditabrak mobil di tengah jalan?


Apa kamu tega?


Serpong 30 maret 2009; 14.16 (sebenernya topic tentang steril kucing ini udah mengendap sejak setahun lalu. Baru bisa ditulis hari ini deh)

Monday, March 16, 2009

tau aja kalau namanya malih!

Namanya Malih. Intonasi pengucapan namanya seperti nama orang betawi asli. Maliiiiiiiiih!  kira-kira umurnya sih baru sebulan. Bulunya halus dan panjang. Warnanya seperti mpus Pippy, kombinasi hitam putih. Matanya abu-abu dan hidungnya sedikit pesek.

Persis seminggu yang lalu, ketika kami baru tiba di rumah. Tepat ketika saya sedang membuka pintu pagar, ia ada di depan rumah. Walau ekor mata saya masih sempat menangkap Anggi dan Billa -anak tetangga sebelah- yang tiba-tiba berhenti main di taman depan dan masuk kedalam rumahnya. Saat itu konsentrasi saya penuh pada kucing malang ini. Tampak lemas dan tak berdaya.

“Mana emakmu Mpuuuus?”

Kasihan sekaligus  kesal karena lagi-lagi, pasti ada orang yang membuang anak kucing di depan rumah. Tega sekali. Dan ia pasti tahu, mana tega saya biarkan kucing kecil ini sendirian.

Tanpa saya sempat meminta persetujuannya, suami saya bilang,

 “ yah sudah, ambil aja Hany, anggap aja pengganti si kunyit”

hiks! Terharu. Mungkin suami saya melihat mata saya dan mata si malih yang melihatnya dengan pandangan ala mpus in the boots seperti di film shrek itu lho. Hihihihi…..Uh, I really luv my hubby… ai lop yu loooooh…..  Maka, nama Malih pun kami berikan padanya.

Hari itu juga, kami mandikan kucing kecil ini. Takjub aja. Udah lama kami nggak punya kucing kecil. Rasanya, ritualnya punya mpus kecil terulang kembali deh. Mengajari makan dan minum sendiri, mengajarinya pup dan pis di luar rumah, pengawasan ketat kekita dia mulai main
keluar rumah, mengajarinya lompat naik dan turun dari jendela depan, selalu periksa kolong mobil kalau kami akan keluarkan si biru, termasuk merescue-nya kalau dia naek atap rumah dan nggak bisa turun lagi



Duh, setelah dimandikan baru ketahuan kalau badannya kuruuuuuuuuuus sekali. Dan kutunya, yaolooooo… ada satu kampung kaleeeeee. Banyak banget. Dan operasi pemusnahan kutu-pun digelar saat itu juga. Gemes deh. Dan setelah bulunya kering dan disisir rapi, si Mali pun mulai belajar makan dan minum susu dari mangkuk merah (pinjamam) milik mpus Kiki.

Hari pertama, si mali masih susah minum susu. Untuk makanannya, sengaja saya belikan whiskas for kitten, masih harus disuapin. Dan seharian hanya ngumpet di bawah meja printer. Pup-nya masih di pojokan kulkas. Masih dimusuhin sama mpus-mpus yang lain.

Hari kedua, mulai tahu kalau pagi hari saya buka pintu belakang, dia akan lari kesana dan pup atau pis dengan leganya. Hihihi..mulai bisa makan sendiri di mangkuk birunya. Sekarang mau nongkrong di sofa ruang tamu. Walau masih ngumpet di balik bantal sofa. Masih belum mau diajak main. *umpan kertas yang saya ikat di lidi, terus digoyang-goyang gitu lho* mpus Ucup sudah mulai ‘memandang penuh minat’ –maksudnya udah ngeh.. “ih.. ada kucing kecil ini toh.- Dan saya udah tau, dimana aja tempat persembunyiannya. Di kolong meja printer, di balik bantal sofa, di dekat mesin cuci, atau di rak lemari buku.

Hari ketiga, si malih secara mengejutkan, ikutan ngumpul ke ruang belakang. Ketika waktu makan mpus-mpus tiba. Walau mangkuknya kadang-kadang di dorong Ucup, hidungnya ditampol  Pippy. atau badannya disergap  Joni. Dia memang tabah. Pup dan pis tetap di halaman belakang. Dia udah tauuuu… masih susah minum nih. Saya udah siapin dot –dari bekas tempat tetes mata- harus dipaksa minum. “ntar dehidrasi lho mpuuuuus”

Hari keempat, mulai berani ke halaman depan. Ngumpet di belakang pot bunga. Dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Keluar rumah lagi. Dan masuk lagi ke dalam. Di kejar Ucup. Dan ngumpet lagi masuk ke balik bantal sofa. Juga udah mau main pancingan kertas yang saya buat dua hari sebelumnya.Kasian juga. Nggak punya temen seumuran. Sama seperti Ucup dulu ketika melewati masa kecilnya. Sendiriaaaaan…

Si Malih ini juga suka miau-miau –yah.. miau-miau skala kucing kecil laaaah- saat waktunya makan tiba. Oiya, sebagai catatan ya. Dari delapan ekor kucing yang tinggal di rumah ini. Hanya Ucup seorang. Eh.. seekor. Yang suaranya super cempreng dan nyaring. Yang lain mah, diem-diem aja. Tenang-tenang aja. Makan dengan tenang. Berbaris dengan tenang. Tapi kalau ucup. Hah! Kalah deh, penyanyi tenor sekalipun.

Hari kelima, udah tau kalau namanya Malih. Nih, kalau saya panggil. Pasti deh.. sekonyong-konyong dia muncul. Ngikutin terus kemana saya pergi. *nah loh.. calon centeng baru nih* ngejar-ngejar sapu atau lap pel setiap saya bersihkan rumah di pagi hari. Badannya mulai berisi. Kalau dipegang, tulang belakangnya sudah tidak terasa tajam lagi. Mungkin dia sudah mulai mengumpulkan lemak di balik mantel bulunya itu kali ya. Perutnya bunciiiiiit deeeh. Tergila-gila dengan makan siangnya. Sedikit demi sedikit, menu makannya sudah saya samakan dengan kucing lainnya. Ikan cue dan sedikit nasi. *atau kalau lagi akhir bulan, ikan cue dan banyak nasi.. hihihihi..maap ya puuuus..uang belanjanya tinggal sedikiiiit*

Hari keenam, dia udah bisa asah cakar miau di spot-spot tertentu. Yah.. tempat mpus Pippy n Joni biasa mengasah kukunya. Posisi tidurnya sudah mulai free style. *terlentang, terbalik, meringkuk, dan sumpah.. kadang-kadang saya melihat senyumnya tersungging di bibirnya. Halah!  Dan ini yang saya seneng. Udah mau minum sendiri dari mangkuk minum bersama yang ada di dekat mesin cuci. Good.. good…!

Lho? Mana si Malih?
Maliiiiiih…! Maliiiiiiiiiiiih…!
Ih.. nongol dia.
Tau aja kalo namanya Malih..

Serpong, 16 maret 2009; 16.06 (kemaren ada badai. Ada tiang listrik n pohon tumbang di jalan ciater)
 
;