Wah… saya ragu meninggalkan rumah. Meninggalkan kucing-kucing saya. Berpisah seminggu lamanya dengan cintakuh … *my hubby off course
Atau mengejar kucing garong yang sering mengganggu Kiki? Menggendong Koko yang selalu manja ingin diperhatikan? Dan meninggalkan momen mengamati si Malih yang sedang tumbuh besar? *catatan: Kiki, Koko dan Malih itu tiga dari delapan ekor kucing yang menghuni rumah ini yaaa…*
Tapi yang sering membuat saya sebal adalah ketika saya pulang, keadaan rumah pasti bak kapal pecah. Saya tahu, suami saya sudah mati-matian berusaha menjaga kerapian rumah kami. Tapi selalu saja ada cucian kotor menumpuk di box, dan kadang ia lupa untuk menyapu lantai di kamar atau mencuci piring bekas ia makan. Ah…
Tapi melihat puncak acaranya ada kehadiran
Yups! Take me on board! Hahaha…..
Ketika saya telpon suami untuk minta ijin. Laaaah.. dia malah bilang :
“Pergi aja Hany. Nggak usah pusing soal rumah. Rumah dan mpus biar saya yang urus” katanya dengan bangga.
“beuuuu!” *saya manyun dot kom. *masih mikir cucian numpuk itu lho
“Sebenarnya saya iri, Hany” lanjutnya lagi.
“luwoh? Kok iri?”
“ini kan kerjaan yang kamu suka sebenarnya.”
“suka gimana?”
“Iya. Bisa motret sekaligus jalan-jalan”
Ah.. bener juga. Lagipula, saya udah kangen pengen naik gunung dan susur sungai. Saya jadi inget saran
“iya, berat. Tapi bukan berarti harus tinggalkan area nyaman yang sudah ada, nggak ada yang salah dengan comfort zone. Hanya… mungkin areanya sekarang dibuat sedikit lebih luas dari sebelumnya.”
Hmmm.. betul juga. *wondering mode on dan siap-siap packing untuk seminggu*
Serpong, 13 mei 2009

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact