Showing posts with label baduy. Show all posts
Showing posts with label baduy. Show all posts

Wednesday, May 27, 2009

pagi itu di kampung Cibeo




Lalu saya duduk bersimpuh di lantai dapur yang hangat itu. Mengupas bawang merah, mengiris timun, mengiris petai dan mengocok telur untuk sarapan. Ditemani Saba (4 tahun) dan Salman (2 tahun) bocah laki-laki putera bungsu pak Aldi yang memandang tingkah laku saya dengan penuh minat.

Cengiran terlebar yang saya miliki, saya persembahkan bagi kedua bocah yang duduk di hadapan.  Sambil meracik bumbu, saya berusaha keras mendendangkan "lupa lupa ingat" milik grup Band Kuburan yang lagi naik daun itu pada mereka

Di tengah rasa putus asa *karena saya tak kunjung hapal syairnya * Suwasti, Emma dan Susan datang bergabung. Mereka sudah selesai berkemas dan berdandan rupanya. Maka dengan ini  dapur umum dinyatakan resmi dibuka. Kedua tungku sudah menyala-nyala. Salah satunya sedang menjerang air rupanya. Emma menggoreng dendeng ikan dan telur dadar. Susan menyiapkan kopi hangat bagi semua. Dan terakhir, saya membantu Suwasti  membuat nasi goreng ala chef Suwasti yang terkenal ituuuuh…

Dan inilah kami, duduk berkumpul bersama keluarga Pak Aldi, dan beberapa tamu yang hadir.  Melahap nasi goreng beralas daun pisang sembari menyesap kopi yang hangat.

Pagi itu di kampung Cibeo, Baduy dalam.  




Saturday, July 19, 2008

dua belas tahun lalu ada di Baduy… ya ampuuun.. udah lama banget ya?

Pernah denger mitos ini nggak. Kalo angkatan genap cocoknya jalan bareng dengan angkatan genap juga. Hmmm.. bingung ya? Begini. Jaman saya kuliah dulu. Saya pernah denger mitos ini. Jadi misalnya : angkatan 90 -setelah ditilik-tilik- ternyata temen-temen maennya ada di angkatan 88, angkatan 92 atau angkatan 94.

Ini foto saya dua belas tahun lalu. Ya ampuuun.. udah lama banget ya? Bisa dilihat foto keluarga yang kami buat ini. Jangan salah kira, ini foto yang kami buat ketika dalam perjalanan pulang menuju Ciboleger. Lengkap dengan ayam jago yang lagi lewat.

Ah.. coba perhatikan kostumnya deh. Itu waktu jamannya kemeja flannel lagi jadi primadona. Tshirt bergambar tigger dan topi-topi yang culun. Aaaaah…

Waktu itu ada 16 orang yang pergi. Dua orang dari angkatan 90; empat orang dari angkatan 92 dan sisanya 10 orang dari angkatan 94. Tuh.. bisa dilihat kan? Walo beda angkatan.. yaaah.. kami sih temen maen.

Dan saat itu adalah kali kedua saya berkunjung kesana. Kami menginap di Cikertawarna. Seinget saya, rasanya dulu perjalanan ini begitu lama. Selain jalan menuju Ciboleger yang rusak parah. Ditambah pula perjalanan dari Bandung menuju Rangkasbitung via bus yang harus muter-muter dulu melalui Bogor, Jakarta dan Serang. Total trip 4 hari perjalanan deh.

Bagi saya, trip waktu itu menyenangkan sekali. Walau sebelumnya sempat ragu ikut akibat trauma. Trip sebelumnya buat saya tidak begitu sukses. Tapi nanti akan saya ceritakan deh kenapa sebabnya.



Serpong, 25 juni 08 (baru sempet di posting hari ini 18 juli 2008 16:30 semua mpus lagi pada ngumpul nunggu makan malem)

Thursday, July 17, 2008

I MISS U HANY

ini sebuah epilog :

“I miss u hany!” katanya. Pelan sekali ia ucapkan. Di tengah deru motornya dan riuh kendaraan di sekitar kami.

“I miss u too.. ”senyumku mengembang. Kudekap ia dari belakang. Penatku akibat terhimpit selama dua jam di dalam kereta ekonomi lenyap seketika.

Di sore yang redup itu, antara Sudimara menuju Serpong.

Serpong, 15 juni 2008 *waktu pulang dari rangkasbitung; hany = honey. madu. gula-gula. manis. panggilan sayangnya untukku*

kisah sebelumnya : mijooon...mijooon

Wednesday, July 16, 2008

trip baduy 14-15 Juni 2008 episode : “MIJOOOOON…MIJOOOOON*

*maksudnya mizone (minuman berenergi yang katanya bisa menggantikan ion tubuh itu lho) oiya kisah sebelumnya bisa dibaca disini yaaaa.... WHO SCRATCHES AT THE BLUE SKY

CIBOLEGER
Tempat kami ngebase disini semacam hall memanjang dengan dinding tembok semester ditambah kawat ayam hingga plafon.

Di tengah-tengah ruangan ada meja dan kursi panjang untuk duduk. Di sisi lain ada toko souvenir, warung nasi dan agak ke bawah sana ada jajaran kamar mandi dan toilet.  Cukup bersih kok. Lumayan buat menumpang mandi. Kami makan siang sejenak. Minum kopi dan es teh manis. Segerrrrrr…!!!

Dan ketika kami pamit hendak pulang. Teman baduy kami bilang :

 “nggak bisa kasih apa2.. hanya ini”

Ah.. kami terharu. Satu kantong plastik kecil berisi gula aren. aku tak bisa berkata-kata lagi. Kesederhanaan mereka membungkamkan hatiku. Nggak nyangka aja. Dapet hadiah ini. Hari ini juga mereka akan kembali ke Cibeo.

TERMINAL CIBOLEGER
Terminal Ciboleger ini hanya beberapa puluh langkah dari warung tadi.

Berupa lapangan luas persegi empat. Di keempat sisinya terdapat lapak-lapak tempat berjualan souvenir khas baduy.

Tepat di tengah lapangan ada satu tugu selamat datang di Ciboleger.

Pasti kalian akan ingat. Soalnya tugu ini ada patung satu keluarga besar bapak, ibu dan dua anak. *mungkin sekalian kampanye program KB*

Nah, di salah satu sisi lapangan ini ada jalan semen berupa trap tangga menuju atas. *itu arah datang kami barusan* menuju baduy.  Dan disana sudah berjajar kendaraan elf menuju Rangkasbitung. Oiya, jangan lupa elf disini maksimum hanya ada sampai jam 15.00 sore.

Sopir angkot yang kemaren janji untuk datang menjemput kami, ternyata ingkar janji.  Taufan sudah sebel aja. Bolak-balik sopir itu ditelpon tapi nggak diangkat.  

Nggak cuma kamu, Fan.  Aku juga sebel.  Pertama, karena ingkar janji.  Kedua, karena udah terlanjur di tambah tips Rp 25,000 kemaren. grrrrrrrh! Terlalu! *ini yang namanya nggak ikhlas kali ya? *

Tapi nggak apa-apa kok. Daripada harus mencarter lagi Rp 175,000 mendingan naek elf yang ongkosnya Rp 15,000 per orang. Betul nggak?

MENUJU RANGKASBITUNG
Perjalanan dari Ciboleger menuju Rangkasbitung hanya sekitar 1 jam. Walau jalan Berkelok-kelok dan menurun, tetapi pasti. Jauh lebih cepat sih, mungkin karena jalannya sudah nggak rusak seperti dulu. Aspalnya sudah mulus.

Jam tiga sore, Elf yang kami tumpangi berhenti tepat di Stasiun Kereta Rangkasbitung. Bukan dari pintu depan stat. sih. Tapi dari belakang. Jadi kami harus berlari-lari menyeberang jajaran rel kereta api dulu.  

Kereta yang menuju JaKarta baru saja berangkat. Pas banget begitu aku menjejakkan kaki ke tanah.  

Tapi masih ada kereta terakhir yang menuju Jakarta. Hanya, kali ini tujuan akhirnya hanya sampai stasion Tanah Abang. Kereta pukul 15.58 sore. *kalo nggak salah*

 Ada satu rombongan lagi yang bersama kami di dalam elf ini. Sama-sama menginap di Cibeo semalam. Dari Jakarta, ber delapan. Sama-sama ngantri beli tiket kereta api. Dan sama-sama berhimpitan menumpang kereta ekonomi yang penuh ini menuju Jakarta.

catatan : Aku salah kira. Aku pikir, karena trayeknya Rangkas-Jakarta. Seharusnya kereta kosong dari Rangkas. Betul nggak? Tapi ternyata buuuuu….. kok penuh. Ngisi penumpang dari mana yak?

aku bersyukur bisa dapet tempat duduk. Taufan dan Sondang malah harus berdiri terus sampe stasiun Cisauk. Aku duduk menghadap lorong. Posisi siaga. Duduk di seperempat kursi. *bayangin tuh!* Bangku untuk berdua, diisi bertiga atau malah berempat.*berempat kalo anak-anak yaa.. percaya aja diboongin * Aku berusaha menciutkan tubuh. Sambil memegang kendi labu milik Taufan. *remember?*

Namanya juga kereta terakhir. Setiap stasiun, pasti nambah penumpang. Yang penting… terangkuuuuuuut!!!!!

“Mijoooooon.. mijooooooon” (maksudnya mizone )

“Assalamualaikuuuuuum” (yang mencari sumbangan)

“bukunyaaa.. bukunyaaa…. TTS ? TTS? (untuk mengabaikan orang yang duduk di sebelahmu)

“kopi panas..kopi panas” (yang bener aja mas? Hari yang gerah iniiiih?)

“jepitan rambut, asesoris.. jepitaaaan" (dan displaynya yang segede papan triplek itu menempel di hidungku)

“Duh Biyuuuuuuuung”

Aku pasrah.


-selesai- Serpong 25 juni 2008 10:16 (gara-gara nggak bisa onlen. Yang penting, ditulis duluuu)

catatan :

Kereta ekonomi Jakarta Kota – Rangkasbitung 2,5 jam @Rp 4,000
Angkot ke terminal bus Mandala Rangkas
elf  trayek Rangkasbitung-Parigi (turun di Simpang Koranji)  2 jam @ 25,000
ojek menuju Nanggerang 15 menit @ 15,000 (kalo jalan kaki kurang lebih sekitar. 2,5 jam)
trekking menuju Cibeo 1,5 jam

cibeo – ciboleger (short cut, tidak melalui jalur Gajeboh) 3 jam
elf  trayek Ciboleger – sta. kereta Rangkasbitung  1,5 jam @15,000
kereta ekonomi Rangkasbitung – Jakarta Kota @ Rp 4,000

baju kurung putih/ hitam made in baduy dalem : Rp 80,000
Selendang panjang made in baduy dalem : Rp 50,000
tas koja  *ukuran variatif* Rp 30,000- 50,000
tas koja kecil Rp 30,000
gelang  *tergantung bahannya*Rp 2,000-Rp 5,000
madu *satu botol* Rp 15,000-25,000

perlu diingat :
kereta terakhir dari Rangkas menuju Jakarta jam 16.00 sore. Hanya sampai Stat. Tanah Abang
minum kopi di warung Pa Hanna Nanggerang (untuk 6 orang) Rp 6,000
makan siang di Ciboleger (untuk 8 orang) Rp 53,000


next story : i miss u hany

Tuesday, July 15, 2008

WHO SCRATCHES AT THE BLUE SKY

kisah sebelumnya : TOUR_DE KAMPOENG Huh...Kejaaaaaaaam....
dan foto-foto ada disini

Ah. Senangnya hatiku. Akhirnya kami tiba juga di batas hutan. Itu artinya kami sudah memasuki baduy luar.

Sepanjang mata memandang, hanyalah bukit-bukit penuh dengan ladang. Beberapa rumah kebun nampak disana.

Dari titik ini pula, kami dapat mengamati jalur tetangga di bawah sana. Jalur Cibeo-Ciboleger via Gajeboh yang meniti lembah. Wah.. panjang juga ternyata.
 
Sudah pukul sebelas siang rupanya.  Kami nggak lupa dong untuk foto lulumpatan sejenak. Nggak disangka, teman-teman baduy  kami juga turut berlulumpatan. Aih…

Namanya juga banci foto. Nggak puas-puas pengen motret dan dipotret. Dan mungkin karena bosan. Sondang akhirnya bilang :

“aku duluan yah. Biar sampe Ciboleger, bisa ngopi-ngopi duluan. Kalian kalo mau motret..motret aja.”

 
Sondang berlari dengan cepat. *bujuug.. nggak gitu-gitu amat kaleee* Diikuti Aya. Kami masih menjepret beberapa frame. Kemudian Taufan dan Hanum berjalan menyusul Sondang. berikutnya Suwasti, aku dan ketiga teman baduy kami menyusul.

 
Nah.. disinilah awal rasa lelahku menyergap. Bajuku sudah basah oleh keringat. Sementara Suwasti yang berjalan di depanku mempercepat langkahnya.
 
“Sondaaaaang…!!!’

“Sondaaaaaang…!!!

 Teriak Suwasti. 

Jalannya semakin cepat. Mungkin ia khawatir Sondang salah arah dan nyasar. Mulanya sih aku masih bisa mengikutinya. *yang jalurnya terus menanjak tiada henti itu* tapi lama-lama ya tidak kuat juga.  Suwasti yang ngebut jalan tanpa beban itu, sudah menghilang di kelokan jalan.

Semangatku menurun. Mana nih temen-temenku kok pada ngabur semuaaah? I feel so lonely.

 Kok mereka buru-buru amat sih jalannya? Apa mereka nggak inget ada salah satu temen yang manis ini *hihihi..* masih jalan *tepatnya tertinggal* di belakang? Kalo terjadi apa-apa sama dirikuh .. *deuuu.. segitunyaaa* gimana coba?

 Beberapa kali aku berhenti. Lelahnya luar biasa. Mungkin karena kepanasan. Dehidrasi. Minum sebentar dan pelan-pelan melanjutkan perjalanan.

 Hingga kemudian sadar dan menoleh ke belakang. Ketiga teman baduy kami, tetap setia berjalan di belakangku. Piye toh? Kok malah ada disini? Bukannya didepan nunjukkin jalan?

 Lima menit kemudian.

 Orang baduy pertama *ini sesi tebak-tebakan* : “kalo kita ditanya berapa lama nyampe Ciboleger, berapa hari coba jawabannya?”
 
Aku *dengan bodohnya menjawab* : “hmmmm…. satu hari?”

Orang baduy dua : “salah!”

 Aku *super binun* : “lah? Apa dong?’

Orang baduy  *senyum mengembang* : “seminggu”

 Aku *tambah binun* : “kok bisa?”

Orang baduy  *penuh kemenangan* : “ini kan hari minggu… seeee….minggu… seharian.. hari minggu… kalo berangkatnya hari senen.. ya jawabannya sih seseneeeen nyampe ciboleger atuuuuh”

 “huahahahahaha…”

 Kami cekikikan.

 Ah. Perjalanan ini jadi tak sesunyi yang aku kira. Kami berempat terus melanjutkan perjalanan dengan ceriiiiiiaaaaaaaaah...!

Rasa sedihku tak lama. Sesaat kemudian, aku bertemu lagi dengan Suwasti yang sesekali masih berteriak memanggil Sondang.

Eh.. ketemu danau. Nggak nyangka kaaan.. ada danau disini.

 Nah, sesuai perjanjian sebelumnya, kami akan beristirahat dan ngopi-ngopi di tepi danau.

Sondang, Aya, Taufan dan Hanum sudah ada disana rupanya, sedang mengamati anak-anak baduy luar yang sedang salto, berjumpalitan dan nyebur mandi di danau.

 “wah.. jadi pengen berenang-renang nih” khayalku. Tapi serem ah. Danaunya mungkin dalem. *aku yang hanya bisa berenang di kolam renang setinggi 1,5 meteran *

 
Dan aku duduk di shelter dadakan yang ada disana. di dekat Taufan dan Hanum yang sedang membongkar backpack. Mini trangia milik Taufan dikeluarkan. Air mulai dijerang.

Taufan kepada Suwasti : “Tapi Jeng… Mana kopinya?”

Suwasti kepada Taufan *nyengir mode on* : “ ketinggalan di rumah pak Sardi”

 Sondang ‘pingsan’ seketika  *catat: si penggemar berat kopi*

But the show must go on right?  Bukan apa-apa bung. Ini masalah harga diri. Trangia terlanjur di gelar. Backpack terlanjur dibongkar.

Maka Hanum berkeliling mencari kopi dan segala sesuatu yang berbau kopi.

Dan lima menit kemudian, terkumpulah barang bukti.

Satu sachet kopi, dua permen kopiko, dan satu batang cokelat. Semua diracik Taufan. Rencananya mau mbikin karamel kopi kali ya?

 Tau’ deh. Gimana rasanya. Aku nggak berani minum. *maaf ya .. Faaaan..*


Hanya setengah jam kami berhenti disana. Untuk minum kopi, ngemil snack, makan buah *Hanum yang mbawa* dan foto-foto di depan danau. Mencoba menfoto anak-anak yang sedang mandi itu. Tapi nggak berhasil. Nggak direstui barangkali.

 Dan tepat jam 12 siang, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini, formasi lengkap jalan beriringan menuju Ciboleger. 

 Bener kan… nggak lama. Jam setengah satu siang, kami sudah nongkrong di warung nasi yang ada di Ciboleger. Oh iya, beberapa menit sebelum nyampe sini, kami bertemu pertigaan. Pertemuan jalur Gajeboh yang menuju Ciboleger.


aaaah...

kisah selanjutnya bisa diintip disini : mijooooon....mijoooon

*serpong 15 juli 2008; 15 29 (judul catper ini diikutip dari larik puisi yang berjudul : Sonet X ; Sapardi Djoko Damono)

Thursday, July 10, 2008

TOUR DE KAMPOENG *Huh...! Kejaaam*

kisah yang lalu : episode : MAKAN SIRIH BARENG (it’s very-very dangerous. Do not try this at home)

pagi itu disela-sela acara tour de kampung.

Saya *si anak manja ituh * : “Tapi Swas.. aku pengen pipis nih”

Suwasti *dengan tampang sebal* : “Ya pipis ajah disini”

Huh kejam! Dia sih enak. Udah pup di seberang kali. Diantara semak belukar pula.

Lah diriku? Yang ditinggalkannya merana sendirian di seberang kali. Mengamati ibu-ibu mencuci pakaian, remaja putri yang mencuci piring gelas. Dan bocah kecil yang mengambil air dalam batang bambu.

Kemudian ekor mataku melihat gadis remaja yang baru datang. Menarik sedikit kainnya. Dan duduk berjongkok di tengah aliran sungai.
 
Suwasti *lagih* : “kayak gitu tuh”

Aku nyengir.

Seperti penjelasan Suwasti kemudian. *sekarang kami sudah gencatan senjata* untuk urusan MCK, mereka menganut sistem zoning, pembagian wilayah. Untuk para lelaki, MCK mereka ada  di sekitar jembatan, nah …cewek sedikit di hilir.  Nggak boleh pake bahan kimia. Jadi, nggak ada sabun, odol and the gank.

Gelasnya pun dari buluh bambu. Piring dan mangkuk yang mereka pakai dari keramik. Antik banget. Jangan-jangan ada peninggalan kaisar Ming disini. *wondering*

Pakaian mereka hanya ada dua warna. Putih dan hitam.  Pakaian untuk kaum pria  *termasuk anak-anak kecil-nya ya* pasti memakai ikat kepala berwarna putih. Baju kurung lengan panjang jahitan tangan. Warnanya hitam, putih atau kombinasi keduanya -putih dengan lengan hitam- wah.. trendy juga.

Bawahannya nggak dijahit seperti celana, tapi berupa kain hitam bergaris yang disarungkan diatas lutut. Lengkap dengan golok baduy yang tersampir di pinggang masing-masing.  Sayang nggak bisa dipotret.













Nah.. sekarang mengenai para wanita. Bentuk dan warna bajunya sama, baju kurung hasil jahitan tangan yang amat rapi. Dikombinasikan dengan kain kain hitam panjang. Untuk ibu-ibu dan gadis remaja rambutnya biasanya digelung. Pake make up pula. Cantik sekali. *saya nggak tau mereka pake make up apa. Soalnya, tiap dideketin pasti mereka ngumpet, atau malu-malu kuciang gitu deh*

Dan baik laki-laki dan perempuan menambah asesories gelang dan kalung manik-manik berwarna warni. Kereeeen…!

Orientasi rumahnya juga searah *kalo  nggak salah utara selatan yaa.. kalo salah maaab* ada jalan utama, ada jalan sekunder. Jalan selebar 1-2 meter yang diberi paving potongan batu alam.

Di ujung kampung, ada tanah luas yang kusebut alun-alun.

Bentuknya persegi panjang, persis kayak lapangan bola. Di sisi terpendeknya terdapat rumah puun kampung cibeo.

Di sisi terpanjang  alun-alun ini, berderet beberapa rumah tinggal.

Salah satunya milik jaro. *tangan kanannya pu'un* dan jauh diseberang rumah pu'un di ujung lapangan ini, ada tempat menumbuk padi dan bale pertemuan. Bangunan beratap tanpa dinding. Aku dan Suwasti sempet lihat ibu-ibu numbuk padi pagi itu. Dan tak jauh dibelakangnya mengalir sungai yang tadi kami datangi itu.


“akhirnya datang juga!”

Seru Sondang dan Hanum bersamaan. *kayak acara di TV itu lho* sementara di dapur, Taufan sedang sibuk memasak nasi goreng untuk kami semua. Oh. Ada tambahan bubur kacang hijau pula. Wheeeeh.. syedaaaap…!


Kami sarapan tak sendiri. Pasti ada deh, satu atau dua orang baduy yang datang berkunjung dan menemani. Juga anak-anak kecil yang ‘diteror’ Hanum untuk makan bubur kacang hijau.

“Program perbaikan gizi, mbak”

Buktinya mereka doyan tuh.

Setuju Hanum!

Sayang kami harus segera pulang. Kalo nggak mau ketinggalan kereta.

Pagi-pagi sekali kami harus mulai bergerak meninggalkan kampung Cibeo.  Jalur pulang kami tidaklah sama dengan kemarin. Kali ini kami menuju Ciboleger. Sebenernya Ciboleger ini adalah pintu masuk resmi bila ingin berkunjung ke kawasan Baduy.

Pak Sardi melepas kepergian kami.  Ada dua orang yang ingin menemani kami hingga Ciboleger. Ada satu bapak juga yang pengen ikut.

“Pengen jalan-jalan aja katanya”  jawab Suwasti ketika aku tanya kenapa.

Kami berlima berjalan  meninggalkan rumah pak Sardi. Menjemput Taufan di rumah tetangga. Lah? Mbawa apa dia? Di kerir 45 liternya sudah menggantung dua tempat air yang terbuat dari labu. Bentuknya jadi seperti bebek gitu deh. Warnanya abu-abu kehitaman. Dan ketika aku pegang.

“Duh.. fragile banget sih Faaan!”

Aku ragu kendi itu akan bertahan hingga Jakarta. *dan berharap pecah di jalan.. huehehe…maab paaak.. ampuuun*

*and you know what? Akibatnya aku dikutuk untuk terus memangku kendi itu sepanjang perjalanan dari Rangkas menuju Jakarta. Terus waspada mode on sepanjang jalan.  Takut pecah boooo! Duduk berhimpitan diantara penumpang lain dan pedagang asongan yang terus-menerus lewat di dalam kereta. Hiks! Dunia memang kejaaaaaaaam…*

Nah.. kembali ke perjalanan menuju Ciboleger. Jam setengah sembilan tepatnya kami baru melangkah meninggalkan Cibeo. Mulanya melewati jembatan bambu. Dan dimulailah petualangan never ending tanjakan yang terkenal itu. 

Daypack Suwasti dibawakan oleh salah satu penduduk Baduy yang menemani kami hari itu.

“sok luuuu”

“katanya pendakiiiih”

“halaaah.. pake malu-malu segalaaaa”

Itu kata-kata bijak kami pagi itu padanya.


Dan Suwasti tersenyum malu.  Sebenarnya, kami berlima yang baik hati dan tidak sombong ini   tahu kalo bahu kiri Suwasti sempat cidera waktu maen sepeda awal bulan lalu. 



Nggak pengen dong, cideranya bertambah parah. Apalagi kemaren kaki kanannya sempat terkilir pula. Waaah.. banyak amat sih bu?

Formasi barisan, tetap seperti kemarin. Di depan teman baduy kami sebagai penunjuk jalan. Taufan, Hanum, Sondang, Aya, Suwasti dan aku beriringan di belakang.

Jalur yang kami lalui ini tidak melalui Gajeboh yang harus naik turun bukit dan menuruni lembah yang panjang itu.  Tapi memotong jalan.

Mendaki sedikit dan tetap berada di pucuk-pucuk bukit *hihihi.. susah juga nih istilahnya* dan masuk ke hutan lindung.

Untuk menyusur gigiran pasir. Sayang nggak bisa motret. Padahal hutannya indah sekali.  Katanya, ntar di ujung hutan. Udah bisa motret. Udah masuk baduy luar.

Aku *pengen tahu* : “udah bisa motret belum, Kang?”

“Belum”


Sempet ketemu monyet. *dari jarak jauh tentunya* melihat jebakan burung *bentuknya batang bambu yang dipasang vertikal dengan tali layangan -seperti kerekan tiang bendera- kemudian dipasang jaring diujungnya dan secara berkala di periksa. Siapa tahu, ada yang terjerat*. Juga tangga bambu untuk memetik buah aren. Berupa satu batang bambu yang di beri tukikan setiap 30 cm untuk pijakan kaki. Nah. Batang itu diikatkan di pohon aren. Dan.. voila.. jadi deh.. tangga buat naek ke atas.

Aku *lagi-lagi iseng tanya* : “udah bisa motret belum?”

“Beluuuuuuum”  kali ini beberapa orang turut menjerit.

Aku nyengir lagi.


Catatan : foto ilustrasi yang digunakan dalam catper ini adalah foto-foto selama di baduy luar. Pada dasarnya gambaran yang diberikan kurang lebih sama antara baduy luar dan baduy dalam.


selanjutnya episode : who scrathes at the blue sky

Tuesday, July 08, 2008

episode : MAKAN SIRIH BARENG (it’s very-very dangerous. Do not try this at home :D)

lanjutan kisah trip baduy 14-15 juni lalu. kisah sebelumnya :kereta tiba pukul berapa?

 

 

Nggak lama kemudian, kami sudah tiba di Cibeo. Jam setengah enam sore saat itu.  

 

 

kami duduk di salah satu beranda rumah penduduk Cibeo.  Sementara Suwasti terlihat tertawa bahagia berjumpa dengan teman-teman baduy-nya.  Aku duduk dan menyerap energi yang ada.

 

 

*ah.. istilahnya terlalu keren kali ya* Maksudku, dalam situasi seperti ini, aku lebih suka diam. Merasakan denyut nadi kampung ini. Apalagi menjelang pergantian hari. Suasana magrib menjelang malam.

 

 

Hmm… gimana njelasinnya yah. Begini contohnya : momen seperti mendengar gaung riuh orang yang mengobrol, ketipak kaki anak-anak yang berjalan kesana kemari. Ibu-ibu yang baru pulang dari mandi di sungai.

 

 

Dan kemudian …. *suara tangan dijentikkan.. J* Tiba-tiba sepi. Tiba-tiba gelap. Dan suara jangkrik mulai mengambil alih. Semua orang masuk ke rumah masing-masing.

 

 

Satu jam kemudian.

 

 

“yaaah… tereliminasi deh dia”

 

 

Hanum bergegas beranjak dari duduknya. Dan keluar rumah. Meludah. Sementara aku, Sondang, Suwasti, Aya  dan Pak Sardi *orang Cibeo, yang rumahnya kami inapi* terkekeh-kekeh karena geli.

 

 

Oiya. Ada juga beberapa penduduk Cibeo yang duduk di hadapan kami. The smiling face salah satunya. *ini sih, nama baru pemberian Sondang buat salah satu penduduk Cibeo yang hobinya selalu tersenyum itu. Keren aja. Seperti punya nama Indian*

 

 

Dalam ruangan yang hanya diterangi lampu minyak. Aku nyaris menjerit melihat rupa teman-temanku yang nyengir dengan gigi dan lidah bersimbah warna merah darah.

 

 

*ehm.. termasuk aku sih sebenernya. Tapi kan nggak mungkin toh pinjem kaca hanya untuk ngeliat tampangku saat itu.. J ini pernyataan penting nggak seeh?*

 

 

Oh.. belum nyambung yah? Ini lho. Kami lagi adu nyali makan daun sirih.

 

 

 Yang meraciknya sih pak Sardi. Jadi, daun sirih di oles dengan kapur *sudah dibuat seperti pasta* di taburi gambir *sudah berbentuk powder padat batangan. warnanya orange* dan diberi potongan pinang.

 

 

Pada prinsipnya sih, sama seperti ritual nenek-nenek kita dulu makan sirih. Jadi kami terapkan aja disini. Sambil nyirih dan sambil ngegossip tentunya. Huehehehe…..sambil bersosialita getuuuuh…

 

 

Setelah mandi di pancuran *ada tempat private di seberang jembatan* Semula sih pengen mandi di sungai. Tapi ternyata rame beneeeeer… ada 50 anak sma yang juga bermalam disini. Doh!

 

 

Kami mulai memasak. Malam itu, master cheef kami *jeng Suwasti* menggelar menu andalannya : tumis cumi asin cabe hijau, sayur sop lengkap, tempe goreng tepung dan tentunya nasi hangat mengepul dari hasil panen sawah Pak Sardi.

 

 

Sekitar pukul 10 kami sudah berbaris rapi tidur di rumah pak Sardi. Tipologi rumah baduy, didalamnya hanya ada 2 ruangan. Satu ruang utama, dan satu ruang kecil tempat tungku kayu untuk memasak. Biasanya sih, mereka tidur disini. Karena ruangannya relatif hangat akibat bara api yang ditinggalkan bekas masak.

 

 

Aku, suwasti, Aya, Sondang dan Hanum menggelar sleeping bag dan sarung bag masing-masing. Taufan menginap di rumah lain yang ada di ujung kampung, dekat alun–alun cibeo *nggak inget dimana. Masuk ke salah satu gang kayaknya*

 

Malam itu kami tertidur pulas.. las.. lassss… hanya sekali aku terbangun jam tiga subuh. Itu karena menggigil kedinginan. *buru-buru pake jaket* eh.. satu lagi ding. Gara-gara suwasti yang tidur disampingku rupanya mimpi jadi pemain silat.

 

 

 

Akibatnya, ketika pagi hari, tubuhku yang sekseh ini sudah ditemukan pasrah terlentang  seperti cicak-cicak  di dinding  J

 

 

Kasian amat ya jadi cicak. Terus gimana selanjutnya? Besok deeh..

 

serpong 8 juli 08 (udah masaak..)


kisah selanjutnya silakan klik aja disini : TOUR De KAMPOENG Huh...kejaaam

Friday, July 04, 2008

kereta tiba pukul berapa? (ke baduy via nanggerang)

Kisah sebelumnya : ya tuhaaaan... salah keretaaa...

Kereta tiba di Stasiun Rangkasbitung pukul 10.30 pagi. Di dekat stasiun itu ada pasar dan terminal angkot. Jadi kalo ingin nambah perbekalan bisa dibeli disini.

Oiya, ada pasar modernnya juga lho. Ada beberapa warung makan. Dan ada warung soto yang enak sekali. Murah meriah. Semangkuk soto, satu piring nasi, plus asessories tempe goreng, tambahan perkedel jagung dan es teh manis hanya seharga Rp 10,000 saja. *lupa.. 10 rb atau 15 rb yah?* gampang ditemukan. Lihat aja kalo ada tempat makan yang ramai pembelinya. Nah, itu dia.

 Suwasti dan Hanum pergi ke pasar. Suwasti pengen masak di Cibeo nanti. Sebenernya sih, kami nggak pengen merepotkan tuan rumah. Kalo kami numpang masak disana, kan sekalian masak untuk tuan rumah dan keluarga. Sekaligus untuk menjamu tamu yang pasti datang berkunjung. Pasti semua hepi.

 Sondang masih merasa kenyang. Aku, Taufan dan Aya. pilih makan dong.

 Dasar turis, pasti ada aja yang tahu kalo kami mau ke Baduy. Setiap lima menit pasti ada utusan yang dikirim calo atau sopir untuk datang dan bertanya.

 “mau carter nggak?”

 Duh. 

 Tapi orangnya sopan-sopan kok. Nggak kayak calo di terminal bus.

 Entah gimana ceritanya, mungkin karena kekenyangan. Atau mungkin kami sudah terlalu males untuk pergi ke terminal. Atau rayuan maut calo angkot yang membuat kami setuju.  Harga sewa 175 ribu langsung menuju Simpang Koranji.

 Sekitar jam dua belas kami berangkat. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan terus naik. Hampir sepertiganya rusak berat. dan satu setengah jam kemudian baru kami tiba di persimpangan Koranji.

 Sang sopir stress berat. ternyata dia belum pernah jalan sejauh ini dan melewati jalanan rusak pula. Dia minta tambahan. Kami beri, tapi dengan syarat besok harus siap menjemput kami di Ciboleger.  Dia bilang OK. Besok jam satu siang sudah ada di Ciboleger.


Persimpangan Koranji ini hanya nama tempat aja. Karena disini ada belokan jalan menuju daerah Nanggerang, salah satu entry point menuju kampung Baduy dalem.

 Belokannya sama seperti belokan biasa. Seperti belokan menuju ke salah satu kampung. Aku nggak yakin deh bakal inget kalo kesini lagi.

 Ojek-ojek mulai datang mendekat. Mereka minta Rp 25,000 per orang.

 Suwasti nyaris pingsan. Awal tahun lalu aja masih Rp 8,000 ongkosnya. Apa karena BBM naik ya? Mungkin juga,  disini bensin harganya Rp 7,000 perliter.  

 Walau belum sepakat dengan harga sewa. Mereka sih udah pede memanggul daypack kami *daypack.. dipanggul .. hehehe* dan meletakkannya di motor masing-masing.

 Taufan sang negosiator.  Sepakat Rp 15,000 per orang untuk mencapai Nanggerang. Ah.. daripada jalan kaki melintas jalan makadam, naik turun bukit selama sejam.  Aku sih memilih naik ojek.

 “Wastiiiiii!!!” jerit ibu Hanna.

 Yang punya warung persis di belakang pintu gerbang masuk wilayah baduy. Maklum, Suwasti kan selebritis disini *buuuk!!!! Aku ditimpuk pisang oleh suwasti dan aku melotot memandang Suwasti. Emang monyet?*

 Kami ngopi-ngopi sebentar, menumpang sholat. Dan mulai berjalan pelan menuju Cibeo.

 Jam 3 sore deh kayaknya baru jalan. Sempet gerimis turun. Tapi berhenti begitu kami memutuskan untuk mulai jalan. *hehe.. hebat nggak tuh*

 Rasanya ini perjalanan tersulit bagiku. Udah 3 bulan ini nggak pernah jalan lagi. Dan nggak pernah olahraga. Beban daypack-ku ada sekitar 10 kilo beratnya. dus sepatu running shoes yang gigitan sol sepatunya amat sangat diragukan.

“gedebuuuuuk”

 Korban pertama. Hihihi…

 Taufan dan Hanum memimpin di depan. Sondang, Aya, Suwasti dan aku di belakang. Ah.. aku jadi sweaper aja dalihku…. Hehehe…aku juga pengen motret tentunya.

  Penunjuk jalannya sudah tentu ibu Suwasti yang manis itu. Kami keluar masuk kampung.

 Melewati leuit-leuit. *leuit = lumbung padi*  Melatih keseimbangan di titian tiga batang bambu.

 Naik turun bukit. Yang tanahnya licin. Yang berbatu-batu. Yang tanjakannya never ending story dan yang turunannya licin bak perosotan di TK sebelah.

 Menyeberang sungai dan melatih ilmu meringankan tubuh masing-masing. Kami melompat dari satu batu ke batu yang lain.

Kayaknya juga, ini lagi musim mbangun rumah deh. Atau renovasi rumah. Hampir di setiap kampung, selalu aja ada penduduk yang lagi gotong royong membangun rumah.

 “Cantik ya, Jeng” kata Taufan kepadaku. *Stop press. Bukan aku yang dimaksud yah.* tapi gadis-gadis baduy luar yang diam-diam mengintip dari balik pintu. Atau yang sedang duduk-duduk di beranda rumah memperhatikan kami.

 “Arah jam tiga, Fan” jawabku mengamini.

 Aaah.. tau ajaaah… Secara kami * aku, Taufan dan Suwasti.* adalah para tukang potret keliling.  Pasti mata nanar kesana kemari mencari object jepretan.


Tiap kami berhenti di salah satu kampung. Tentulah amat sangat dan impossible sekali untuk berjalan diam-diam tanpa diketahui.

Anak-anak akan muncul dari balik pintu. Ibu-ibu akan segera menutup pintu. *kok kebalik? Hehehe* Bapak-bapaknya akan bertanya : dari mana mau kemana.

 Masuk kampung lagi. Lewat jembatan lagi. Hingga kami tiba di sebuah jembatan bambu yang besar dan panjang.

*Wah..  Konstruksi bambunya kereeeeeen sekali lho!!*


Kata Suwasti, ini batas baduy luar dan baduy dalam.  Maka kami menyimpan semua kamera. Tugasnya, hanya sampai disini.


Nah.. apa kami bisa tiba di Cibeo sebelum gelap? Nantikan kisah selanjutnya yah. Next on : makan sirih bareng

Serpong 4 juli 08 (ultah mpus Joni yang ke 3 bulan) Oiya, futu-futunya udah diupload kok. Ada disini siapa yang menggores di langit biru

Thursday, July 03, 2008

YA TUHAAAAN…, SALAH KERETA …. :( (sebuah episode trip baduy 14-15 juni 08)

Kereta baru saja meninggalkan stasiun Sudimara. Sambil menempelkan HP di telinga kiri dan berusaha memasang kuda-kuda agar kaki lebih stabil.

Ini kisah sedihku di sabtu pagi, teman

Saya *super pede walo nggak dapet tempat duduk* :“Buuuuu…! Aku udah di dalem kereta nih. Kamu ada di gerbong sebelah manaaaaaah?”

 Suwasti *suaranya kresek-kresek, keliatannya sih so far away* : “lah? masih di kebayoran ”

(masih) saya *yang kini panik berat* : “Ya tuhaaaan, salah keretaaaaa…

 
Seluruh penumpang yang ada di gerbong, menatapku dengan penuh rasa iba. Beberapa menepuk-nepuk pundakku.  Pedagang asongan yang lewat berhenti sejenak untuk menyatakan duka cita. *halah!*

Saya *menoleh ke kanan dan bertanya, seorang bapak yang juga sedang berjuang mempertahankan keseimbangan* : “Tapi ini betul kan mau ke Rangkas?”

Si bapak : “iya”

Saya *masih histeris tak percaya* : “kok bisa salah kereta?”

Si bapak *dengan pandangan kasian deh loooo* : “ini yang patas .. diiik. Di belakang, masih ada yang lungsum”

catatan : patas dan lungsum hanya istilah saja. Tampilan keretanya sebelas dua belas. Keduanya sama-sama kereta ekonomi. Sama-sama penuh sesak. Dan sama-sama bertiket Rp 4,000 sekali jalan.

Sejuta topan badai.

Maka turunlah aku di stasiun berikut. Duduk manis menanti kereta berikut.

Dan akhirnya, pertemuan mengharukan itu terjadi sudah.

Aku masuk. Suwasti berdiri merentangkan tangannya. Menyisakan tempat di sisi kanannya. Aku nyengir tanda lega.

Di sebelah kanan Suwasti duduk Hanum dan Taufan. Di sisi kirinya ada Sondang yang sedang mbaca buku. *eh.. Taufan juga lagi baca buku kok* Sedang Aya, duduk di seberang kami. Bengong. Bawaan mereka, daypack, tas kain dan kerir 45 literan diletakkan didepan kaki masing-masing.

Kursi yang ada di gerbong ini memanjang di sisi samping gerbong. Jadi, duduknya hadap-hadapan. Sementara yang nggak kebagian tempat duduk. Hanya ada 2 pilihan. Berdiri sampe Stat. Rangkas *yang tentunya akan dihindari oleh semua orang yang berakal sehat*

Atau duduk bersimpuh saja di lantai gerbong. *dengan resiko harus bergeser dari tempat semula, merubah posisi, dan memandang dengan sebal terhadap para asongan, pengemis, pengamen –dan mungkin juga pencopet- yang dengan semangatnya mondar-mandir selama durasi 2,5 jam tersebut, tanpa henti.

Sabtu itu, kami berencana pergi menuju Cibeo. Salah satu kampung yang ada di baduy dalam yang berada di Kanekes, Ciboleger, Rangkasbitung.

Kami mau silaturahmi. Sebenernya sih Suwasti yang mau silaturahmi. Kami hanya penggembira aja 

*ah.. enggak juga. Kayaknya setiap peserta punya alasan tersendiri kok buat mampir kesana, seperti aku misalnya. Tapi entar aja yah, aku certain di kisah berikut*.

 Total trip kali ini ada enam orang. Aku kenal Suwasti dan Taufan. Pernah beberapa kali jalan bareng. Tapi Hanum, Sondang dan Aya, baru kukenal di kereta.

 Tadi sudah diceritakan, karena tinggalku di Serpong. Maka, aku nyegat dari stasiun terdekat. Sebenarnya sih bisa aja kalau mau menumpang bis dari Jakarta. Tapi, waktu tempuhnya jauh lebih lama.

 *Catatan : stasiun Sudimara atau stat. Serpong, kalau Sta. Rawabuntu terlalu kecil. Jangan ambil resiko, karena kereta nggak tentu mampir disini*

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta dari Stasiun JakartaKota yang berangkat pukul 07.50 pagi. Harga tiketnya (per juni 2008) Rp 4,000 per orang. Kereta penuh sesak. Dan baru sedikit lega ketika berhenti di stat. Parung Panjang. Jangan ditanya berapa stasiun yang kami lewati. Namanya juga kereta ekonomi. Pasti berhenti di setiap stasiun.

 Ya udah. Ceritanya segitu dulu. Nanti diteruskan lagi deh….

 *seluruh ilustrasi foto pada catper ini diambil di stasiun kereta api Serpong, Tangerang.

 
;