Thursday, September 11, 2008

ketika mpus makan siang

Kucing di rumah saya hapal betul kapan mereka harus makan. Seperti :

   1. Jam setengah tujuh pagi *setelah suami saya berangkat ke kantor*
   2. jam dua belas siang *ini waktu makan siang saya juga* dan
   3. jam setengah enam sore *ketika saya mulai masak untuk makan malam*

 Sepertinya, saya nggak perlu pasang jam dinding di rumah deh  Cukup mereka aja yang jadi ‘reminder’ di rumah ini. Kadang-kadang kalau saya malas bangun pagi, si Pippy sudah datang membangunkan kami. meloncat ke atas tempat tidur, menginjak perut suami saya dan miau-miau di sekitar kuping saya. Aduuuh.. ringtone-nya kok miau-miau?

Kalau bukan Pippy yang membangunkan kami, pastilah mpus Koko dan mpus Joni,  yang sedang bermain kejar-kejaran berkeliling rumah, termasuk melompat ke atas kasur kami. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya segera bangun dan pergi ke ruang belakang. Tempat mereka biasa makan.

Tapi tidak sesederhana itu. Perjalanan dari kamar tidur menuju dapur tidaklah mudah. Mulai dari mengambil nasi dari rice cooker yang ada di dekat kulkas. Mengambil ikan mpus* dan kemudian ke dapur yang ada di belakang.

Kaki saya pasti digelayuti oleh keenam ekor kucing ini. Kadang-kadang terjadi perkelahian ringan antar kucing. Yah, wajar saja jika si  Pippy nggak terima di colek oleh mpus Mboy. Ditampol deh!

Atau mpus Joni yang menjerit-jerit jengkel, karena di saat genting seperti ini *iya. Mau makan kan saat genting buat mpus Joni* mpus Pippy malah sibuk menjilat-jilat kupingnya. Duuuh.. bisa nanti nggak sih mandi kucingnya?

Entah bagaimana mulanya, sementara saya meracik makanan untuk mereka, ke enam kucing ini selalu duduk rapi berjajar di lantai di dekat kaki saya.

Mungkin juga karena dulu saya sedikit keras terhadap kucing yang berani naik ke atas meja pantry. Biasanya saya semprotka sedikit percikan air kepada mpus yang bandel. Dan mereka pun tahu, tak boleh naik ke atas meja .

Saya sengaja membeli mangkuk plastik warna-warni. Mangkuk biru muda untuk Mboy dan Pippy. Mangkuk hijau muda untuk Joni dan Mimin dan mangkuk warna merah jambu untuk Kiki dan Koko.

Ah.. lucu juga. Sambil mengaduk nasi dan ikan. Saya menoleh ke bawah. Pippy, Mimin, Kiki, Koko dan Mboy pasti sedang duduk dengan kepala tengadah menghadap saya dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

 Si Mimin pasti bergelayut manja ke pada Pippy. Heran deh, padahal Pippy kan bukan ibunya. Sedang si Kiki, memang sedikit rewel miau-miau tak sabar menunggu mangkuknya. Koko yang tidak sabaran, kadang-kadang sih suka naik juga ke atas pantry. Tapi begitu terdengar bunyi keran air dinyalakan. Tanpa disuruh dua kali, ia pasti turun ke bawah.

Nah, dimana Joni? Ah. Kucing kecil ini duduk manis di antara kaki saya. Alih-alih mengikuti kehebohan kakak-kakaknya menanti makanan. Ia malah duduk diam tanpa suara. Duduk menghadap ke lima kucing lainnya. Seolah-olah menjadi pengawal saya. Dan jika ada salah satu datang mendekat, langsung ditampolnya dengan cakar miaunya itu. Kok bisa begitu ya? Ah.. joni .. joni.

Dan begitu mereka sudah makan. Barulah saya bisa duduk tenang. Bahagia sekali lho rasanya melihat mereka makan dengan lahap. Jadi pengen ikutan makan juga ..hehehe..

si mpus dalam bentuk gambar mangkuk plastik untuk mpus Joni

Serpong 11 september 2008, 19.57 (lagi nungguin yayang pulang kantor nih)

Catatan : *ini istilah saya saja. Nama sebenarnya sih Ikan Cue. Ikan yang sudah mengalami proses pematangan dan disimpan ke dalam keranjang bamboo berbentuk persegi panjang. Ikannya bisa bermacam-macam, ikan kembung, ikan layar atau ikan tongkol. Tergantung persediaan di pasar.

mangkuk plastik untuk mpus Joni




Dimana Joni? Ah. Kucing kecil ini duduk manis di antara kaki saya. Alih-alih mengikuti kehebohan kakak-kakaknya menanti makanan. Ia malah duduk diam tanpa suara. Duduk menghadap ke lima kucing lainnya. Seolah-olah menjadi pengawal saya. Dan jika ada salah satu datang mendekat, langsung ditampolnya dengan cakar miaunya itu. Kok bisa begitu ya? Ah.. joni .. joni.

selengkapnya : ketika mpus makan siang

Tuesday, September 09, 2008

katakan yang sebenarnya



Siapa sih yang tidak kenal dengan dewiq Lagu ciptaannya laris manis bak kacang goreng. Kemaren, waktu kemping ke kawah Gunung Galunggung. Lagu ini pula yang terus berdenging di kepala. Kalo melihat liriknya sih. Lagu ini tentang curhatan seseorang karena di gantungin terus sama pasangannya. Tapi buat saya, hmmm… lagu ini seperti bentuk hubungan cinta dan benci dengan danau ini…

Lamat-lamat saya masih mendengar alunannya…

Jika kau butuh katakan butuh….Jika kau cinta katakan cinta…

Aiiiiih!

Foto-fotonya ada disini ; Galunggung, katakan padaku yang sebenarnya kau mau

Serpong 9 september 2008 ; 19.43 tadi hujan disini. Suasananya agak redup jadinya.


Katakan Yang SebenarnyaIndo top 40DewiqUnduh

emmaku menulis on Sep 9, '08
benci dan cinta pada danau galunggung kenapa....terlalu indah untuk dibenci ah...xixixiixi

ariesnawaty menulis on Sep 10, '08
aaaaah....

Friday, September 05, 2008

galunggung, katakan padaku yang sebenarnya kau mau




“Ada yang aneh dengan danau ini, Win”
“Apa mbak?”
“Danaunnya terlalu tenang.” “Mencurigakan”

Dan kemudian hening, mengikuti denyut nadi sang danau yang pendiam itu. Dibalik rupamu yang murung dan sendu itu, kami sepakat, tempat ini adalah salah satu tempat terindah yang pernah kami lihat. Dan pada suatu hari nanti, kami pasti kembali.

Galunggung, 30-31 Agustus 2008


Catatan : judul dipetik dari lirik lagu katakan sebenarnya by Dewiq. (satu lagu yang terngiang terus sepanjang perjalanan hari itu)

Makasih juga buat temen-temen kempingku kali ini : nice trip guys!

Thursday, August 28, 2008

Ketika arisan itu sudah melanggar HAM


 Sabtu lalu adalah putaran terakhir arisan ibu-ibu di komplek ini. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Setiap arisan, saya adalah tipe ibu-ibu yang selalu duduk di pojokan dan berharap agar arisan ini cepat usai. Sudah bisa ditebak. Angka kehadiran saya dalam setahun ini, tidak menyentuh angka  25%.  Tapi bagi saya, ini sudah rekor tertinggi.

Sementara ibu bendahara mengumpulkan uang arisan dan menentukan siapa yang mendapatkannya. Saya memilih cemilan dan jeruk. Yang jauh  lebih menarik minat saya. Sambil cengar-cengir kepada ibu-ibu yang duduk di hadapan dan sesekali menanggapi obrolan ibu yang duduk di sebelah saya.

Agenda berikutnya adalah memilih ketua arisan untuk periode mendatang serta membahas sisa uang kas yang masih banyak itu. *wah.. asyik nih*

Sambil menyesap jeruk yang manis itu, saya berpikir. Sebenarnya saya sudah punya niat, periode mendatang, absen dulu ah, ikutan arisan. Saya punya alasan tersendiri. Selain menurut saya nggak terlalu banyak manfaatnya, saya lebih suka menabung dibanding mengumpulkan uang dengan cara seperti ini. Untuk alasan sosialisasi? Ah..kalian tahu sendiri saya orangnya kurang gaul.

Hingga tiba-tiba lamunan saya terpecah karena ibu yang baru diangkat menjadi ketua arisan bersabda dalam pidato pembukaannya :

“Ibu-ibuuuu… sekalian. Saya sudah ngobrol dengan Pak RT nih. Tahun depan, semua W-A-J-I-B ikut arisan. Sudah tugas ibu-ibu sekalian untuk mengajak tetangganya yang kali ini nggak ikutan arisan. Untuk bergabung tahun depan.”

Nah lo! Mati kutu deh saya.

Ingin rasanya saya mengadu ke komnas HAM *seperti artis-artis di TV itu lho * lha? ini kan sudah melanggar hak azasi. Terlepas dari niat baiknya untuk mempererat tali silaturahmi antar warga. Kok caranya nggak endah surendah begitu deh.

Saya curiga :
  1. dia sengaja mencatut nama pak RT demi memuluskan niat sucinya ini
  2. dia yang salah menafsirkan perintah pak RT
  3. gaya kepemimpinan pak RT sekarang adalah dengan tangan besi

Ditengah pikiran saya yang gundah gulana itu dan di tengah rencana saya untuk segera desersi dari kumpulan ibu-ibu ini. Tiba-tiba ada satu ibu mengusulkan. :

“Ibu-ibuuuuu…. Sisa uang kas kita masih banyak nih. Bagaimana kalo duitnya kita pake untuk outbond. Khusus ibu-ibu ajaaaaa….”

Tanpa pikir dua kali saya maju dan menyodorkan jempol kepada mereka.

“setodjoooooooooo!!!!”

Hihihi.. bodo ah!

Serpong 28 agustus 2008 15.52 (gara-gara hujan gede, empus-empus pada ngumpul)
ilustrasi foto dipinjam dari sini :http://tiartiar.files.wordpress.com/

Bendera oh bendera

Bukannya tidak nasionalis, tapi ini murni keteledoran saya.  Hingga H-1 menjelang peringatan hari kemerdekaan minggu lalu, belum juga terpasang bendera satu tiang di halaman rumah. Rasanya memang saya punya bendera merah putih. Somewhere

Kami tak punya tiang bendera yang bercat merah putih itu. Rumah mungil kami tak mungkin menampung tiang sepanjang  itu. *sifat perfeksionis saya sedang berharap ada tiang bendera fiber atau aluminium yang portable sehingga bisa di lipat dan disimpan di dalam lemari*

Hingga bisik-bisik tetangga pun merebak. Terutama yang dihembuskan oleh salah satu tetangga yang memang sedang bersemangat untuk memeriahkan peringatan 17 agustus di lingkungan kami.

Yaelah, kenapa nggak langsung bicara kepada saya?

hihi.. mana saya tahu. Jika saya tak diberitahu oleh tetangga yang lain. Toh saya memang sudah mendapat predikat sebagai ibu-ibu yang kurang gaul diantara ibu-ibu di komplek ini.  egois memang, tapi begitulah adanya.

Kisah ini sudah tentu saya teruskan kepada suami tercinta. Di sela-sela acara makan malam kami yang romantis itu. *hehe.. memang suasananya senyap sekali. Kucing-kucing kami sedang bermain keluar rumah.* dan nasehatnya cukup singkat padat merayap :

” Acuhkan, aja Hany. Nggak usah diambil hati!”

Iya sih.

Tapi memang saya akui, Lingkungan kami bertambah meriah karenanya. Dengan bentangan bendera merah putih kecil-kecil yang kait mengait diantara rumah-rumah dan jalan. Umbul-umbul merah putih di setiap kelokan jalan. Berikut hiasan botol air berwarna-warni diantaranya.

Dan demi ketentraman bersama. Akhirnya saya menuruti juga untuk memasang bendera. Saya malah mendatanginya (catat: si penghembus bisik-bisik tetangga) meminta tiang bambu untuk bendera di rumah kami. Tiang bambu pun di berikan. Suami saya memasangnya keesokan harinya. Tepat pada tanggal 17 Agustus.

Ah… memang indah melihat si merah putih berkibar.

Singkat kata, karena kami, -saya dan suami-  sudah terlanjur membuat janji, kami tak dapat hadir dalam kegiatan di komplek.  Selain itu saya memang tidak suka keramaian. Pasti berisik sekali hari itu.

Hingga di suatu pagi yang cerah, ketika saya sedang menjemur pakaian. Tetangga *si penghembus bisik-bisik tetangga itu* datang menghampiri saya.

“Mbak Aries. Kemaren acara 17-annya meriah sekali lho” *lapornya*

“Wah.. syukur deh kalo gitu” *oh yeeeah?*

“Sayang mbak Aries nggak datang. “ *basi*
 
“Ya Maaf. Saya udah keburu bikin janji sama temen-temen” *well, sebenernya nggak perlu saya jelaskan padanya*

"Oiya. Kemaren pas 17-an. Saya dan ibu-ibu yang lain baru sadar setelah melihat benderanya mbak Aries” *oho! Jadi ini toh maksudnya*

“Ada apa dengan bendera saya?*dan dengan bodohnya saya bertanya*

“kok masangnya tinggi sekali ya? Memang, tiangnya nggak dipotong ya?”

GUBRAAAAAKKKS!

wah..wah.. ada yang lebih perfeksionis dari saya rupanya. Saya merasa ‘terhina’ sekali.*nyengir mode on*

 
Serpong, 26 agustus 2008 19.08 (lagi nunggu yayangnya pulang kantor nih)

Tuesday, August 12, 2008

moment of brotherhood, bogor 2-3 agustus 2008


salah satu perlengkapan yang 'wajib' hukumnya.

gaya juga ...

inget film "Wild Hogs" nggak? empat sahabat dari Cincinnati yang sedang dilanda krisis middle-aged dan bener-bener bosen dengan kehidupan sehari-hari mereka. Saya sih nggak akan membahas filmnya ya tapi yang singgung disini adalah setting yang diambil film itu. Walau dibungkus komedi. Tapi saya bisa menangkap pesannya kok. brotherhoodnya itu lho. disamping style para biker, motor yang ditungganginya... dan cewek-cewek biker tentunya.

Nah.. minggu lalu, ada acara kenduri nasional motor scorpio yang diadakan di Bogor. Saya sudah jelas bukan anak motor. Saya kebetulan hanya sebagai boncengers yang nebeng suami saya yang hadir disana bersama teman-teman MILYS mailing list Yamaha Scorpio.

Acara dua hari itu diselenggarakan di GOR Pajajaran Bogor. Dibuka oleh walikota Bogor. Dan dimeriahkan para rider dari seluruh penjuru. Suasananya hangat sekali. Terasa sekali rasa persaudaraannya. Ada temen-temen yang datang dari Aceh, Medan, Pekanbaru, Lampung, Jogja, Semarang.

ah... saya jadi inget film itu lagi...


*serpong 12 agustus 2008, 15:27*

Thursday, July 31, 2008

kisah si kolor ijo (de comics)




Saya punya lingkaran sendiri untuk temen-temen ngobrol. Deketnya udah kayak keluarga aja deh. Kadang-kadang ketawa haha hihi rame-rame. Kadang-kadang ‘musuhan’.Sebel. Marahan. Tapi baikan lagi.

kami masih telpon-telponan, chatting dan. sms-an. Kadang-kadang saling berkunjung ke rumah, atau mendadak ngumpul karena ada yang ditodong ultah atau malah kemping dan naek gunung bareng. Tapi yang paling sering sih… ngobrol one liner melalui email.

Ngobrol OOT biasanya. Nggak jelas kesana kemari. Kadang, dalam sehari inbox penuh dengan email-email nggak jelas itu. Malah sering muncul spin off-nya. Dari satu subjek sering berkembang menjadi beberapa subject (yang tentunya masih tetap berada di jalur OOT)

Tapi herannya kok selalu dirindukan hihihihi….Soalnya kalo lagi bete, itu obat yang paling mujarab bagi kami untuk kembali ceria.Seperti kisah ini misalnya.


Serpong. 31 juli 2008, 12:38 (dari email-email itu. Saya rangkum dalam bentuk komik :D)


Salam manis selalu untuk kaliaaan : Chipi, kris, winda, wangsa, nani, dwi,novi, dotten, joko, deasy, tinoy, bongkeng, vera, enoy, heri, suwasti, taufan, cahyo, ical

Thursday, July 24, 2008

(dari Balada si Roy hingga) the journey from Jakarta to Himalaya

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:gola gong
Malam itu kami –saya dan joko- ada di Kober, Depok. Nganterin David ke kontrakan tempat tinggal Dotten dan Iman saat ini.  joko tertarik dengan game yang sedang dimainkan Iman pada kompie-nya. Sementara  David langsung terlibat pembicaraan seru dengan Dotten.

Saya yang duduk tak jauh dari mereka berdua, menimpali sesekali. Buku yang tadi tergeletak di meja Iman menarik minat saya. Penulisnya Gola Gong. Masih inget kan? Penulis kisah Balada Si Roy yang pernah saya baca dulu. Sudah lama sekali rasanya dan saya nggak pernah baca bukunya lagi.

Seperti kebiasaan saya, baca sekilas secara acak. Judulnya The Journey : from Jakarta to Himalaya. Tapi kemudian malah bergerak hingga halaman pertama, disusul halaman kedua. Seru juga…

Saya *mupeng pengen mbaca* : “Maan… udah selesai kamu baca?”
Iman *sempat ragu*: “udah”
Saya *nggak tau malu hihihi* : “Pinjem yak?”
Iman *histeris*: “Tapi balikin yaaa”
Saya *tambah agresif* : “Ya iiyyaaaaaalaaah…masa ya iyaaaaaa… doooon”
Iman *jadi curhat*: “Soalnya banyak yang minjem, nggak pernah balikin”
Saya *janji pramuka* : “pasti aku balikin maaaaan!”

Soal pinjam meminjam buku itu memang sensitif sekali deh. Saya bisa merasakan kegusarannya. Lha wong saya juga paling sebel kalo ada orang pinjem buku tapi nggak dikembalikan. Kadang-kadang, itu buku lama yang nggak dicetak ulang lagi. Sebel kan?

Ah… saya memang bawel kalau sudah berurusan dengan buku.  

Nah.. kembali ke soal buku. Buku ini mengisahkan catatan perjalanan Asia-nya medio 1991-1992 lalu. Sembilan bulan nge-backpack menyusur Malaysia, menyeberang ke Thailand, melintas Laos, Bangladesh, India, Pakistan dan Nepal.  Budget mepet nggak menyurutkan ia untuk terus berjalan ke arah matahari tenggelam. 

Saya jadi ikut merasakan chaosnya jalanan di Dhaka. Berendam di sungai Gangga. Nebeng mobil menuju Golden Triangle yang kaya akan opium itu. Merasakan euphoria penonton film India di bioskop-bioskop mereka. Terperangah melihat Kathmandu. Menyepi di Pokhara dan tiap hari naik ke atap untuk duduk menikmati puncak salju Annapura atau sakit pinggang akibat ingin merasakan camel safari di Rajasthan. Termasuk nyaris dijebak oleh lelaki homo di Pakistan. Duh!

Membaca buku ini saya melihat seorang Gola Gong yang sekarang. Yang semakin religius dan jauh lebih dekat dengan keluarga dan rumah. Bisa kangen rumah juga. Bisa homesick juga. Tidak menggelegak seperti si Roy. Mungkin juga karena masa itu adalah masa muda yang masih penuh dengan ‘amarah’ dan jiwa yang tak ingin terikat akan sesuatu.

Lagi-lagi ini khayalan tingkat tinggi. Andai Balada si Roy di buat mini seri tv., pasti seru juga ya. Kalau saya jadi tim casting, mungkin saya akan memanggi Januarisman *idol 2008* untuk ikutan casting. Kayaknya dia cocok deh jadi tokoh si Roy.


Serpong 24 juli 2008 10:03 *tapi akhirnya bukunya bisa dipinjem juga  baca santai on off selesai dalam 2 hari*

Catatan :
model mpus koko n mpus Joni
mengenai gola gong : keluarga pengarang  atau disini gola gong  
lha? Balada si Roy ada e-booknya juga : balada si roy

Monday, July 21, 2008

pippy yang lagi sebel setengah mati

Pantes aja Pippy sebel setengah mati kepada Mboy. Bayangin aja. Ketiga anak Mboy –MIMIN KIKI KOKO- yang hari ini genap berumur lima bulan masih aja menyusu kepada Pippy.

For your information ya. Si Joni aja yang notabene anak kandung si Pippy nggak sibuk-sibuk amat harus nyusu. Dia sih ngerasa udah gede. Hanya kadang-kadang aja kalo manjanya lagi dateng. Miau-miau minta jatah susu kepada induknya.

Jadi kalau Mboy mampir untuk makan siang, cakar miau Pippy yang segede tampah itu akan melayang langsung ke wajah mpus Mboy. Atau kalo lagi iseng. Buntut si Mboy ia colek-colek dari atas meja. Mboy sih cinta damai. Ia nggak berani membalas Pippy. Mungkin juga karena merasa bersalah kali ya. Meninggalkan ketiga anaknya di rumah untuk diasuh Pippy.

Tapi sebenernya salah siapa sih? Kucing umur lima bulan itu kan seharusnya udah disapih dari induknya. Badannya aja sudah hampir sebesar ibunya. Lihat aja kalau mereka bergelayut manja kepada Mboy dan pengen minum susu. Pasti diusir dan didorong jauh-jauh.

Mungkin juga MIMIN-KIKI-KOKO kehilangan figur ibu yang dulunya biasa mengajak mereka berpetualang hingga ujung blok sebelah sana. Latihan survival, menangkap tikus dan capung, memanjat pohon dan mengejar-ngejar ibu-ibu penjual ayam untuk mengemis kepala ayam tentunya.

Eh.. tapi ngomong-ngomong, seneng nggak ya punya ibu kedua di rumah ini? Pippy itu memang kucing rumahan. Nggak pernah main jauh-jauh dari rumah. Beda dengan si Mboy yang hobinya dugem dan berpetualang sepanjang hari.  Apalagi Pippy itu paling rajin mandi kucing dan membersihkan kuping ketiga kucing ABG ini. Sering kali saya temukan mereka berlima tidur berdampingan dengan damai di bawah jendela kamar depan.

Asyik kali yaaa….


Serpong, 21 Juli 2008 12:21 (sebentar lagi makan siyang rame2)

Saturday, July 19, 2008

dua belas tahun lalu ada di Baduy… ya ampuuun.. udah lama banget ya?

Pernah denger mitos ini nggak. Kalo angkatan genap cocoknya jalan bareng dengan angkatan genap juga. Hmmm.. bingung ya? Begini. Jaman saya kuliah dulu. Saya pernah denger mitos ini. Jadi misalnya : angkatan 90 -setelah ditilik-tilik- ternyata temen-temen maennya ada di angkatan 88, angkatan 92 atau angkatan 94.

Ini foto saya dua belas tahun lalu. Ya ampuuun.. udah lama banget ya? Bisa dilihat foto keluarga yang kami buat ini. Jangan salah kira, ini foto yang kami buat ketika dalam perjalanan pulang menuju Ciboleger. Lengkap dengan ayam jago yang lagi lewat.

Ah.. coba perhatikan kostumnya deh. Itu waktu jamannya kemeja flannel lagi jadi primadona. Tshirt bergambar tigger dan topi-topi yang culun. Aaaaah…

Waktu itu ada 16 orang yang pergi. Dua orang dari angkatan 90; empat orang dari angkatan 92 dan sisanya 10 orang dari angkatan 94. Tuh.. bisa dilihat kan? Walo beda angkatan.. yaaah.. kami sih temen maen.

Dan saat itu adalah kali kedua saya berkunjung kesana. Kami menginap di Cikertawarna. Seinget saya, rasanya dulu perjalanan ini begitu lama. Selain jalan menuju Ciboleger yang rusak parah. Ditambah pula perjalanan dari Bandung menuju Rangkasbitung via bus yang harus muter-muter dulu melalui Bogor, Jakarta dan Serang. Total trip 4 hari perjalanan deh.

Bagi saya, trip waktu itu menyenangkan sekali. Walau sebelumnya sempat ragu ikut akibat trauma. Trip sebelumnya buat saya tidak begitu sukses. Tapi nanti akan saya ceritakan deh kenapa sebabnya.



Serpong, 25 juni 08 (baru sempet di posting hari ini 18 juli 2008 16:30 semua mpus lagi pada ngumpul nunggu makan malem)

Friday, July 18, 2008

di pangrango.. kami bercakap sepanjang malam




Begitulah, kami bercakap sepanjang malam: berdiang pada
    suku kata yang gosok-menggosok dan membara.
    “Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan
    menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain
    putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!”
Baiklah, kami pun bercakap sepanjang malam: “ Tetapi begitu
cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai beter-
bangan dan menyesakkan udara dan …”

sajak, 1 sapardi djoko damono 1973


Serpong, 18 juli 2008

-sebuah perjalanan panjang menuju Pangrango 12-13 juli 2008, thanks to : Suwasti Dewi Anitasari, Kris Hartanto n Taufan Hidayat juga temen-temen yang kebetulan naek bareng : Enoy, Bongkeng, Heni dan Mbak Utari plus Abah dan Wahyu-

Thursday, July 17, 2008

Kado untuk Joni

Masih inget si Imut? Kucing pak RT yang selalu jadi public enemy di rumah ini? Hmmm… kalo belum, coba deh segarkan kembali ingatan kalian disini. (mpus pak RT)

Gara-gara kucing itulah, saya jadi kenal dengan Anggi.  Putri sulung pak RT yang sekarang baru saja naik ke kelas empat SD.

kini ia menjadi salah satu sahabat kecil saya di komplek ini. Ngobrol di depan pagar rumah atau saling berkunjung ke rumah masing-masing *yang hanya berjarak dua rumah sadja*

Seringnya sih, kalau pagi sebelum ia berangkat sekolah, bersama adik laki-lakinya yang berumur empat tahun, berpegang di pagar depan dan menempelkan hidungnya disana.

“Tanteee….. boleh maen sama empus?”
“hahaha.. yaoloooo.. tentu sajaaaaa”

Dan dimulailah perburuan mpus untuk digendong dan disayang-sayang. disela-sela rutinitas pagi saya –minumkopi, nyucibaju, nonton tv dan beres-beres rumah- kami sering bertukar kabar mengenai tingkah mpus masing-masing.

Tanya jawab ringan lah. seperti : “Tante.. apa sih, ciri-cirinya kalo kucing itu sakit?’ atau “Tante.. gimana caranya motong kuku kucing ya?’ Nah.. si tante yang fungkeh ini, tentunya akan pontang-panting setengah mati mencari info.

Kadang-kadang, jika saya harus pergi satu-dua hari dari rumah. Saya titipkan kunci rumah dan mpus-mpus ini kepadanya. Dengan uang jajan atau oleh-oleh tentunya. Minimal, ada orang yang membantu memberi makan dan mengajak kucing bermain. Walau pada kenyataannya, saya juga merepotkan bu RT yang rupanya membantu Anggi memberi makan ke enam kucing di rumah ini

Suatu hari di tengah obrolan kami saya nggak sengaja cerita kalau besok adalah hari ulang tahun mpus Joni. Ultah ke tiga bulan sih. Nah, yang tidak saya duga. Keesokan malamnya, saya temukan gulungan kertas berpita merah, ada di halaman rumah.

Selamat hari
Ke-3 bulannya
JONI & JOJON

salam
dari
Anggita Rahayu


Terharu saya. Ihiks!

Serpong, 9 juli 2008 19.10 (saya yang lagi terharu )

I MISS U HANY

ini sebuah epilog :

“I miss u hany!” katanya. Pelan sekali ia ucapkan. Di tengah deru motornya dan riuh kendaraan di sekitar kami.

“I miss u too.. ”senyumku mengembang. Kudekap ia dari belakang. Penatku akibat terhimpit selama dua jam di dalam kereta ekonomi lenyap seketika.

Di sore yang redup itu, antara Sudimara menuju Serpong.

Serpong, 15 juni 2008 *waktu pulang dari rangkasbitung; hany = honey. madu. gula-gula. manis. panggilan sayangnya untukku*

kisah sebelumnya : mijooon...mijooon

Wednesday, July 16, 2008

trip baduy 14-15 Juni 2008 episode : “MIJOOOOON…MIJOOOOON*

*maksudnya mizone (minuman berenergi yang katanya bisa menggantikan ion tubuh itu lho) oiya kisah sebelumnya bisa dibaca disini yaaaa.... WHO SCRATCHES AT THE BLUE SKY

CIBOLEGER
Tempat kami ngebase disini semacam hall memanjang dengan dinding tembok semester ditambah kawat ayam hingga plafon.

Di tengah-tengah ruangan ada meja dan kursi panjang untuk duduk. Di sisi lain ada toko souvenir, warung nasi dan agak ke bawah sana ada jajaran kamar mandi dan toilet.  Cukup bersih kok. Lumayan buat menumpang mandi. Kami makan siang sejenak. Minum kopi dan es teh manis. Segerrrrrr…!!!

Dan ketika kami pamit hendak pulang. Teman baduy kami bilang :

 “nggak bisa kasih apa2.. hanya ini”

Ah.. kami terharu. Satu kantong plastik kecil berisi gula aren. aku tak bisa berkata-kata lagi. Kesederhanaan mereka membungkamkan hatiku. Nggak nyangka aja. Dapet hadiah ini. Hari ini juga mereka akan kembali ke Cibeo.

TERMINAL CIBOLEGER
Terminal Ciboleger ini hanya beberapa puluh langkah dari warung tadi.

Berupa lapangan luas persegi empat. Di keempat sisinya terdapat lapak-lapak tempat berjualan souvenir khas baduy.

Tepat di tengah lapangan ada satu tugu selamat datang di Ciboleger.

Pasti kalian akan ingat. Soalnya tugu ini ada patung satu keluarga besar bapak, ibu dan dua anak. *mungkin sekalian kampanye program KB*

Nah, di salah satu sisi lapangan ini ada jalan semen berupa trap tangga menuju atas. *itu arah datang kami barusan* menuju baduy.  Dan disana sudah berjajar kendaraan elf menuju Rangkasbitung. Oiya, jangan lupa elf disini maksimum hanya ada sampai jam 15.00 sore.

Sopir angkot yang kemaren janji untuk datang menjemput kami, ternyata ingkar janji.  Taufan sudah sebel aja. Bolak-balik sopir itu ditelpon tapi nggak diangkat.  

Nggak cuma kamu, Fan.  Aku juga sebel.  Pertama, karena ingkar janji.  Kedua, karena udah terlanjur di tambah tips Rp 25,000 kemaren. grrrrrrrh! Terlalu! *ini yang namanya nggak ikhlas kali ya? *

Tapi nggak apa-apa kok. Daripada harus mencarter lagi Rp 175,000 mendingan naek elf yang ongkosnya Rp 15,000 per orang. Betul nggak?

MENUJU RANGKASBITUNG
Perjalanan dari Ciboleger menuju Rangkasbitung hanya sekitar 1 jam. Walau jalan Berkelok-kelok dan menurun, tetapi pasti. Jauh lebih cepat sih, mungkin karena jalannya sudah nggak rusak seperti dulu. Aspalnya sudah mulus.

Jam tiga sore, Elf yang kami tumpangi berhenti tepat di Stasiun Kereta Rangkasbitung. Bukan dari pintu depan stat. sih. Tapi dari belakang. Jadi kami harus berlari-lari menyeberang jajaran rel kereta api dulu.  

Kereta yang menuju JaKarta baru saja berangkat. Pas banget begitu aku menjejakkan kaki ke tanah.  

Tapi masih ada kereta terakhir yang menuju Jakarta. Hanya, kali ini tujuan akhirnya hanya sampai stasion Tanah Abang. Kereta pukul 15.58 sore. *kalo nggak salah*

 Ada satu rombongan lagi yang bersama kami di dalam elf ini. Sama-sama menginap di Cibeo semalam. Dari Jakarta, ber delapan. Sama-sama ngantri beli tiket kereta api. Dan sama-sama berhimpitan menumpang kereta ekonomi yang penuh ini menuju Jakarta.

catatan : Aku salah kira. Aku pikir, karena trayeknya Rangkas-Jakarta. Seharusnya kereta kosong dari Rangkas. Betul nggak? Tapi ternyata buuuuu….. kok penuh. Ngisi penumpang dari mana yak?

aku bersyukur bisa dapet tempat duduk. Taufan dan Sondang malah harus berdiri terus sampe stasiun Cisauk. Aku duduk menghadap lorong. Posisi siaga. Duduk di seperempat kursi. *bayangin tuh!* Bangku untuk berdua, diisi bertiga atau malah berempat.*berempat kalo anak-anak yaa.. percaya aja diboongin * Aku berusaha menciutkan tubuh. Sambil memegang kendi labu milik Taufan. *remember?*

Namanya juga kereta terakhir. Setiap stasiun, pasti nambah penumpang. Yang penting… terangkuuuuuuut!!!!!

“Mijoooooon.. mijooooooon” (maksudnya mizone )

“Assalamualaikuuuuuum” (yang mencari sumbangan)

“bukunyaaa.. bukunyaaa…. TTS ? TTS? (untuk mengabaikan orang yang duduk di sebelahmu)

“kopi panas..kopi panas” (yang bener aja mas? Hari yang gerah iniiiih?)

“jepitan rambut, asesoris.. jepitaaaan" (dan displaynya yang segede papan triplek itu menempel di hidungku)

“Duh Biyuuuuuuuung”

Aku pasrah.


-selesai- Serpong 25 juni 2008 10:16 (gara-gara nggak bisa onlen. Yang penting, ditulis duluuu)

catatan :

Kereta ekonomi Jakarta Kota – Rangkasbitung 2,5 jam @Rp 4,000
Angkot ke terminal bus Mandala Rangkas
elf  trayek Rangkasbitung-Parigi (turun di Simpang Koranji)  2 jam @ 25,000
ojek menuju Nanggerang 15 menit @ 15,000 (kalo jalan kaki kurang lebih sekitar. 2,5 jam)
trekking menuju Cibeo 1,5 jam

cibeo – ciboleger (short cut, tidak melalui jalur Gajeboh) 3 jam
elf  trayek Ciboleger – sta. kereta Rangkasbitung  1,5 jam @15,000
kereta ekonomi Rangkasbitung – Jakarta Kota @ Rp 4,000

baju kurung putih/ hitam made in baduy dalem : Rp 80,000
Selendang panjang made in baduy dalem : Rp 50,000
tas koja  *ukuran variatif* Rp 30,000- 50,000
tas koja kecil Rp 30,000
gelang  *tergantung bahannya*Rp 2,000-Rp 5,000
madu *satu botol* Rp 15,000-25,000

perlu diingat :
kereta terakhir dari Rangkas menuju Jakarta jam 16.00 sore. Hanya sampai Stat. Tanah Abang
minum kopi di warung Pa Hanna Nanggerang (untuk 6 orang) Rp 6,000
makan siang di Ciboleger (untuk 8 orang) Rp 53,000


next story : i miss u hany

Tuesday, July 15, 2008

Toekang photo tempoe doeloe (see u on the other side) *ozzy osbourne

Minggu lalu saya lagi sibuk-sibuknya men-scan semua foto-foto lama milik ibu saya.

Kerja santai sih. setelah semua urusan rumah beres.

Sambil membolak-balik foto diatas mesin scan dan mengeditnya satu persatu.

Saya jadi sering bertanya-tanya, kisah apa ya yang terjadi di balik foto itu.

Tentu saya punya nara sumber. Ibu saya misalnya. Tapi kebanyakan ia lupa.

Gara-gara pengen tahu lagi. Foto itu saya bolak-balik.  Kan biasanya di balik foto, orang sering menulis nama tempat, tanggal atau apapun sebagai pengingat.

Nah ini beberapa yang berhasil saya temukan. Ada yang dibalik foto itu ditulis lokasi, bulan-tanggal-tahun. Kadang-kadang malah seperti surat, karena rupanya foto itu dikirim menjadi kartupos..




Tapi yang baru saya tahu adalah, ada stempel dari si tukang cetak foto. Seperti ini misalnya. Dicap di belakang foto.  hmmm… kira-kira masih ada nggak ya studio fotonya saat ini?


serpong; Jumat 27 juni 2008 16:32
 
;