Tuesday, December 07, 2010
pangrango edisi mengantar susan
Thursday, June 03, 2010
jangan panggil aku wanita perkasa lagi!
Monday, May 10, 2010
reuni @ kandang badak
Dan salah satu hal yang membuat saya bahagia ketika jalan-jalan adalah ketemu lagi dengan temen-temen lama. Masih lanjutan kisah akhir bulan lalu Semua foto dijepret dengan kameranya Emma. Permios ya Maaaak.. :D minjem futuna. Ada jenny, Nita, Joan, Emma, dwi dan Ucup Sayang jeng Suwaztih batal ngikut, padahal bisa reuni-an dan foto-foto ala fesbuk nih.
10 mei 2010, 14.11 BTR yang mendung.. hmm.. tumben
Saturday, May 01, 2010
pangrango, I love u but it’s not so easy*
Ketika itu sepanjang jalur naik dan turun nggak seramai biasanya, mungkin karena musim pendakian baru dibuka. Sepanjang jalur dan pos yang kami lewati, bersih nyaris tanpa sampah. Hmmm…mudah-mudahan akan selalu begitu. Tapi dari semua itu yang paling menyenangkan buat saya adalah disana ketemu teman-teman lama yang kebetulan ngecamp bareng di Kandang Badak. Ah.. jadi reunian deh.. Dan ini sebagian rekamannya. Thanks ya… Mudah-mudahan besok bisa jalan bareng lagi.…
Kisah yang lalu juga ada disini dan disini Siapa tahu ada yang pengen lihat juga.. ;) *yang sepenggal liriknya saya kutip untuk judul album ini, dan yang isinya memenuhi benak saya sepanjang jalan. when you love someone
Friday, July 18, 2008
di pangrango.. kami bercakap sepanjang malam
suku kata yang gosok-menggosok dan membara.
“Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan
menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain
putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!”
Baiklah, kami pun bercakap sepanjang malam: “ Tetapi begitu
cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai beter-
bangan dan menyesakkan udara dan …”
sajak, 1 sapardi djoko damono 1973
Serpong, 18 juli 2008
-sebuah perjalanan panjang menuju Pangrango 12-13 juli 2008, thanks to : Suwasti Dewi Anitasari, Kris Hartanto n Taufan Hidayat juga temen-temen yang kebetulan naek bareng : Enoy, Bongkeng, Heni dan Mbak Utari plus Abah dan Wahyu-
Tuesday, November 21, 2006
Pangrango ......Lembah Kasih, lembah Mandalawangi
(reposting catper waktu ke gn. Pangrango, 1-2 Oktober 2005)
Cerita ini dimulai sejak awal tahun lalu. Kronologisnya mari sama-sama kita lihat catatan berikut :
April 2004
"Pangrango, Ries?"
Tanya Ika. Kami baru saja turun dari Gede. Lagi nangkring di pertigaan Cibodas dan sedang menunggu bis buat lanjut kembali ke
September 2004
Via telpon Ika berkata "Batal!!!!" dan aku pun terjatuh dari kursi " Jalurnya lagi direhab, Ries" tambahnya pula. Dan kami pun beralih ke Plan B.
Tahun ini, begitu buku catatan harian Gie beredar, puisinya dibaca dimana-mana, begitu filmnya mulai di putar di bioskop kesayangan masing-masing. Begitu soundtrack film nya beredar di setiap stasiun radio, cd bajakan, dan mendengarnya di setiap perjalananku pulang ngantor. Hmmmm....Akhirnya,
September 2005
"Udah didaftarin, mudah-mudahan kali ini kita jadi ke Pangrango, Ries" Ujar Ika lembut. *tumbeeeeeennn feminin. Ika gitu lhoo..*
Dan inilah kami *setelah mengundang beberapa bintang tamu* bertujuh : saya, Ika, Suwasti, Joe, Kris, Glenn dan Pak Narto bergabung dan berbagi pengalaman dan kisah-kisah seru behind the scene, dan salah satunya adalah ini, dengan bangga saya persembahkan.
"Tahaaaaaaannnn!!!!" jerit Suwasti.
Jalannya tersendat dan kemudian terhenti *Freeze mode on* Kakinya membentuk kuda-kuda. Tangannya kanannya terangkat tinggi di udara *dan mengucap motto : sekali di udara tetap di udara* J Dengan kerir 45 liter yang nampak manis di punggungnya ditambah dengan kerudung putih dan t'shirt berwarna orange jeruk yang sangat fashionable. Saat itu, Suwasti nampak kereeeeeeen sekali.
Kami bingung dong. Pak Narto yang berjalan didepan, menoleh ke belakang dengan rasa khawatir yang amat sangat tinggi. Ika yang ada di belakang Suwasti, hampir saja menimpanya. Aku menjulurkan leher, melihatnya melewati bahu Ika. Sementara Joe yang ada dibelakangku berbisik-bisik dan bertanya. Glenn dan Kris, masih di belakang sedang memotret apaaa aja yang bisa di potret.
Suasana mendadak hening. Air perlahan mengalir, burung pun berhenti berkicau. Matahari tertutup awan. Bahkan angin semilir yang rencananya akan lewat, menunda dulu maksudnya. hingga ......... momen yang dinanti pun tiba :
"Duuuuuuuuuuuuuuuutttttt"
Gubraaaaaaaks!
Kami yang berjalan beriringan dibelakangnya menyelamatkan diri masing-masing.
"Ambil jaraaaaaaakkk!" huahahahaha.
Sore itu cerah sekali. Kami sedang dalam perjalanan turun kembali menuju Cibodas. Setelah semalam ngecamp di pos Kandang Badak dan bertekad untuk summit attack ke Puncak Pangrango sepagi mungkin J Jalur Cibodas ramai sekali dengan pendaki yang naik maupun turun baik dari gn. Gede maupun gn. Pangrango Umumnya pada bermalam di pos Kandang Badak.
Jalur menuju Pangrango relatif bersih, dan bener-bener rapat oleh vegetasi. Senangnya, merasakan kehangatan matahari di sela-sela daun pakis, menghirup semerbak harum pohon dan tanah basah sekaligus mengintip gn. Gede diantara ranting pepohonan. Setelah puncak, kami segera berlari-lari turun menuju lembah Mandalawangi.
Walau rencana untuk ngecamp dan bermalam minggu di lembah Mandalawangi hanya tinggal kenangan. *Mungkin lain kali .... Selalu ada next time
I wish, duduk di sebelah Gie dan mendengar suaranya diantara hembusan angin. .......Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi.. kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin ..........................
Serpong, 10 Oktober 2005
[begitu turun gunung kemarin, ada berita bom bali. Turut berduka; sekalian met shaum buat temen-temen, ibadah nih, ayooooo.. semangaaat!]
foto silakan lihat album berikut : into the darkness of mt. Pangrango
theme song ..hihihi.. kesini aja yah : Donna-donna

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact