Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Thursday, July 24, 2008

(dari Balada si Roy hingga) the journey from Jakarta to Himalaya

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:gola gong
Malam itu kami –saya dan joko- ada di Kober, Depok. Nganterin David ke kontrakan tempat tinggal Dotten dan Iman saat ini.  joko tertarik dengan game yang sedang dimainkan Iman pada kompie-nya. Sementara  David langsung terlibat pembicaraan seru dengan Dotten.

Saya yang duduk tak jauh dari mereka berdua, menimpali sesekali. Buku yang tadi tergeletak di meja Iman menarik minat saya. Penulisnya Gola Gong. Masih inget kan? Penulis kisah Balada Si Roy yang pernah saya baca dulu. Sudah lama sekali rasanya dan saya nggak pernah baca bukunya lagi.

Seperti kebiasaan saya, baca sekilas secara acak. Judulnya The Journey : from Jakarta to Himalaya. Tapi kemudian malah bergerak hingga halaman pertama, disusul halaman kedua. Seru juga…

Saya *mupeng pengen mbaca* : “Maan… udah selesai kamu baca?”
Iman *sempat ragu*: “udah”
Saya *nggak tau malu hihihi* : “Pinjem yak?”
Iman *histeris*: “Tapi balikin yaaa”
Saya *tambah agresif* : “Ya iiyyaaaaaalaaah…masa ya iyaaaaaa… doooon”
Iman *jadi curhat*: “Soalnya banyak yang minjem, nggak pernah balikin”
Saya *janji pramuka* : “pasti aku balikin maaaaan!”

Soal pinjam meminjam buku itu memang sensitif sekali deh. Saya bisa merasakan kegusarannya. Lha wong saya juga paling sebel kalo ada orang pinjem buku tapi nggak dikembalikan. Kadang-kadang, itu buku lama yang nggak dicetak ulang lagi. Sebel kan?

Ah… saya memang bawel kalau sudah berurusan dengan buku.  

Nah.. kembali ke soal buku. Buku ini mengisahkan catatan perjalanan Asia-nya medio 1991-1992 lalu. Sembilan bulan nge-backpack menyusur Malaysia, menyeberang ke Thailand, melintas Laos, Bangladesh, India, Pakistan dan Nepal.  Budget mepet nggak menyurutkan ia untuk terus berjalan ke arah matahari tenggelam. 

Saya jadi ikut merasakan chaosnya jalanan di Dhaka. Berendam di sungai Gangga. Nebeng mobil menuju Golden Triangle yang kaya akan opium itu. Merasakan euphoria penonton film India di bioskop-bioskop mereka. Terperangah melihat Kathmandu. Menyepi di Pokhara dan tiap hari naik ke atap untuk duduk menikmati puncak salju Annapura atau sakit pinggang akibat ingin merasakan camel safari di Rajasthan. Termasuk nyaris dijebak oleh lelaki homo di Pakistan. Duh!

Membaca buku ini saya melihat seorang Gola Gong yang sekarang. Yang semakin religius dan jauh lebih dekat dengan keluarga dan rumah. Bisa kangen rumah juga. Bisa homesick juga. Tidak menggelegak seperti si Roy. Mungkin juga karena masa itu adalah masa muda yang masih penuh dengan ‘amarah’ dan jiwa yang tak ingin terikat akan sesuatu.

Lagi-lagi ini khayalan tingkat tinggi. Andai Balada si Roy di buat mini seri tv., pasti seru juga ya. Kalau saya jadi tim casting, mungkin saya akan memanggi Januarisman *idol 2008* untuk ikutan casting. Kayaknya dia cocok deh jadi tokoh si Roy.


Serpong 24 juli 2008 10:03 *tapi akhirnya bukunya bisa dipinjem juga  baca santai on off selesai dalam 2 hari*

Catatan :
model mpus koko n mpus Joni
mengenai gola gong : keluarga pengarang  atau disini gola gong  
lha? Balada si Roy ada e-booknya juga : balada si roy

Monday, March 31, 2008

Hafalan Shalat Delisa

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Tere-Liye

Iya deh.. saya ngaku. Saya itu orang yang paling cengeng sedunia. Membaca buku ini saja saya bersimbah air mata. Sedih.

Saya acungi 24 jempol saking semangatnya *jempol kedua tangan dan kaki saya plus kelima ekor kucing saya * Jempol untuk penulisnya. Kok bisa ya membuat sebuah tulisan yang bisa mengharu birukan hati seseorang? Tulisannya mengalir. Konflik dibangun di beberapa tempat. *dan tangisan muncul di setiap ada kesempatan * Dan endingnya tidak terlalu memaksakan.

Dan yang penting membuat saya berpikir ulang dan melihat kembali kepada diri sendiri. Betapa seringnya saya shalat dengan terburu-buru. Mepet ketika waktunya hampir usai. Betapa seringnya pikiran saya berkelana ketika bacaan itu saya lafalkan. Ah……..

Serpong 31 Maret 08  10:06

 

 

Masih ingat tsunami di Aceh akhir 2004 lalu?

Tokoh utama kisah ini bernama Alisa Delisa. bocah Lhok Nga berusia 6 tahun yang tinggal bersama ibunya –yg ia panggil Ummi- serta ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra (12 tahun). Ayah mereka -Abi Usman- bekerja di Kapal Tanker dan pulang setiap 3 bulan sekali, Dalam bayangan saya, ia gadis cilik penggemar warna biru. Berambut keriting, bermata hijau, kulit putih kemerahan dan hobi main bola. Cerdas, lincah, banyak tanya dan menggemaskan orang-orang di sekitarnya.

Sulit benar menghafal bacaan shalatnya. “In-na sha-la-ti, wa-nu-su-ki, wa-ma….wa-ma….wa-ma….” Delisa kesulitan melanjutkan hafalan bacaan shalatnya. Matanya terpejam.Tangannya menjawil-jawil rambut keritingnya. “Wa-ma…Waaaa-, waaa, wa-ma…”

“Waaaaa ma-cet nih ye!” Aisyah yang sedang bermain gundu dengan Zahra tertawa kecil. Menyahut begitu saja.

Uh! Delisa berusaha keras menghafalnya. Bukan hanya ujian hafalan oleh Bu Nur minggu depan. Tapi juga karena iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi-nya. Sama seperti kakaknya Fatimah. Sama seperti kedua kakak kembarnya. Aisyah dan Zahra. Waktu mereka kecil.

Walau pada akhirnya toh mereka melakukan ibadah hanya karena Allah semata. Tapi di mata kanak-kanak Delisa. Kalung itu kereeeeen sekali….!!!! 

 

Dan ketika pagi 26 Desember 2004 itu. Delisa sedang maju di muka kelas. Ujian hafalan shalat yang dinanti-nanti. Ummi menunggu di luar kelas. Tadi sebelum berangkat, ketiga kakaknya tersenyum-senyum mengantar kepergian adik dan Umminya.

 Delisa akan khusuk.

 “Allahu Akbar”

 Tiba di penghujung kalimat itu. Bagai dipukul tenaga raksasa. Air yang tersedot ke dalam rekahan tanah tadi kembali mendesak keluar. Mendesis mengerikan. Bergemuruh menakutkan.

 Ujung air menghantam tembok sekolah. Ibu guru Nur berteriak panik. Delisa ingin khusuk. Delisa ingin satu.

 “Rab-ba-na-la-kal-ham-du…” tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. Delisa mengap-mengap.

 

Enam hari kemudian, Prajurit Smith dari Militer Amerika Serikat-lah yang menemukan Delisa tersangkut semak belukar berbunga putih empat kilometer dari sekolahnya. Dengan seluruh tubuh penuh luka, kaki koyak bernanah, kelaparan, kepanasan, kedinginan, Delisa setengah tidak sadarkan diri. Segera ia diterbangkan dengan helikopter super puma menuju Kapal Induk John F.Kennedy. Tak ada yang menemani. Hanya Delisa seorang.

 
Ia tak tahu bahwa ummi-nya hilang entah kemana. Kedua kakak kembarnya ditemukan mati berpelukan. Kakak tertuanya dikubur tiga hari setelah bencana. Rumahnya rata dengan tanah. Lapangan bola tempat ia biasa bermain rata. Sekolahnya hanya tinggal pondasi tiang bendera.

 Abi-nya masih nun jauh di tengah lautan Kanada. Ia benar-benar sendirian. dan yang lebih mengerikan lagi, ia tak tahu bahwa ketika ia sadar nanti.

 Ia benar-benar LUPA bacaan shalatnya.

 Sama sekali.

 

Yang saya kagum. Si penulis begitu detail menggambarkan Lhok Nga sebelum dan sesudah bencana tanpa timbul kesan mengurui dan membosankan. Serta tokoh-tokoh lain di sekitar Delisa. Ada Teuku Umam, teman sepak bola-nya, Tiur si anak yatim yang mengajarnya naik sepeda, Ustadz Rahman, guru mengajinya. Koh Acan, si penjual emas, Sahabat barunya , Suster Sophi, prajurit Smith dan boss-nya pak Ahmed yang ‘galak’ itu dan Kak Ubai, sukarelawan PMI.

 
Trus, gimana dong kelanjutannya?

Baca sendiri deeeeh….dijamin, paling tidak, mata kalian ikutan sembab seperti saya saat ini. Hiks!


tambahan : seandainya buku ini dibikin filmnya. aaaah.. *berkhayal tingkat tinggi*


Thursday, March 06, 2008

moga bunda disayang allah

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:tere-liye

Baru selesai dibaca tadi pagi. Duh.. ternyata ada ya buku yang bisa membuat orang yang  membacanya hingga berurai airmata seperti ini?


Padahal buku ini nggak sengaja saya lihat di salah satu rak di toko buku. Nggak sengaja.

 

“baaaa…Maaaaa…..” Melati menggerung pelan. Ia mengkal. Ia sebal. Ia frustasi. Ia tidak mengerti. Gelap. Kosong. Hitam.  Lengang. Jika kalian bisa melihat setengahnya saja apa yang sedang dirasakan oleh melati, itu sudah cukup membuat kalian sesak.

 

Pernah ngebayangin nggak, gimana rasanya kalau kamu terlahir buta dan tuli? Tidak ada ‘pintu’ untuk melihat dan tak punya ‘ruang’ untuk mendengar.

Kamu ingin tahu. Kamu ingin belajar. Tapi kamu nggak bisa apa-apa. Maka yang terjadi hanyalah rasa marah, frustasi dan rasa sedih yang tak berkesudahan.

tokoh utama buku ini adalah melati ; si anak buta tuli berumur 6 tahun yang kelakuannya bak anak yang sulit diatur, piring di lempar, guci dipecahkan, dan tak tahu bagaimana caranya menggunakan sendok.

Kemudian ada lagi tokoh yang bernama Karang, pemuda yang diminta bantuan untuk menolong melati, yang sebenarnya sedang bergelut dengan kemelutnya sendiri.

Terus, berhasil nggak ya dia? Gimana endingnya? Baca sendiri deh…. Hehehe….

Lebih jauh mengenai penulis buku ini, nama aslinya Darwis kelahiran tahun 1979 alumni FEUI. tere-liye itu dalam bahasa India berarti untuk-mu : selengkapnya ......


serpong kamis 6 maret 08 pagi. Lagi sebel. Ada yg mau ngantor besok. Padahal. Besok kan libuuuur! Huuuuu….!

-duduk di ruang depan. Dengan TV yang masih menyala, sambil sarapan roti bakar dan minum kopi. Nunggu cucian selesai dan rencananya mau nyegat tukang sayur yang sebentar lagi lewat di depan rumah-

Wednesday, March 05, 2008

ayat-ayat cinta, buku atau filmnya?

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Habiburrahman El Shirazy

Mungkin ini satu-satunya yang bisa membuat telinga saya berdenging terus setiap hari.

Gara-gara nongkrong seharian di depan TV dan menjadi saksi promosi gencar si produser mulai talk show, review film, gossip selebs, ditambah video klip soundtrack filmnya yang diputar disetiap ada kesempatan.

Padahal de movie-nya sendiri baru nongol akhir bulan lalu.

Penasaran dan tanya om google. Luar biasa, ada 814,000 entry hanya untuk penelusuran ayat-ayat cinta

Terlepas dari segala bentuk kontroversi mana yang menarik antara buku atau filmnya. Saya sadar betul, tak ada yang seratus persen dapat memuaskan semua pihak.


Salut untuk Hanung Bramantyo sang sutradara. Apalagi jika menyimak kisah di balik pembuatan filmnya. Wajar jika telunjuk ini tak jadi ditudingkan kepada filmnya.

Maka menyerahlah saya. Hari ini, pergi ke toko buku dan beli

Wednesday, November 21, 2007

24 wajah billy

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Daniel Keyes

Mungkin saya sendiri akan merasa takut luar biasa ketika setiap kali bangun tidur, saya tidak ingat apa yang telah saya lakukan dalam beberapa hari ini. Saya sudah memakai baju yang berbeda, saya ada di tempat yang sama sekali asing, atau ada di depan orang yang tidak saya kenal. Ada beberapa bagian dari hidup saya yang tidak saya ingat sama sekali.

Betapa mengerikan!

Buku ini baru selesai saya baca tadi pagi. Sudah berhari-hari ini. On off saya baca. Sambil makan bubur ayam, sewaktu ngantri di bank, Di depan tv *pas lagi iklan*, ketika nungguin tukang sayur lewat depan rumah, ada di dalam tas sewaktu nonton pameran foto, saya buka waktu nungguin si mpus makan malam, sewaktu saya puppy di toilet dan terakhir ketika tadi sarapan roti panggang dan minum kopi di halaman belakang.

Sebenarnya buku ini sudah saya beli maret tahun lalu. Tapi baru sempat saya baca sekarang. Saya lupa atas rekomendasi siapa. Mungkin dari salah seorang teman. Saya tertarik karena ini kisah nyata.

Saya juga tertarik karena ini mengenai multiple personality disorder. Orang dengan kepribadian majemuk. Setelah Sybill  *yang ditulis Flora Rhieta Schreiber mengenai kisah nyata seorang gadis dengan 16 kepribadian* yang pernah saya baca tujuh tahun lalu, kisah Billy ini jauh lebih menyentuh hati dan jauh lebih rumit.

Billy memiliki 24 kepribadian. Diantaranya terdapat Arthur, 22 tahun, pria Inggris yang cerdas tapi tanpa emosi; Ragen Vadascovinich, 23 tahun, lelaki kasar berkebangsaan Yugoslavia; Danny, 14, anak yang selalu ketakutan; David, 8, bocah si penahan rasa sakit; Christene, 3, gadis cilik kesayangan Ragen atau Adalana, 19, seorang wanita lesbian yang pemalu, kesepian, dan introvert.

Ia tertangkap karena kasus perampokan dan pemerkosaan di kampus Ohio State University. Kasus ini menggemparkan masyarakat Amerika, setidaknya di negara bagian Ohio, pada akhir tahun 1970-an. Ditambah tajamnya pena dan media massa pada saat itu, cukup mengganggu upaya pemulihannya.

Saya salut kepadanya. Saya bersimpati. Seorang Billy Milligan harus melewati masa kecilnya yang kelam. Dan ketika ia tak kuasa menanggung beban, membuatnya menjadi bagian-bagian pribadi lainnya yang dapat mewakilkan apa yang tidak dapat ia lakukan.

Saya ‘tak sabar’ membaca masa-masa selama bertahun-tahun ia di penjara. Selama ia keluar masuk rumah sakit. Terutama pergulatannya untuk ‘menyatukan’ keduapuluh empat kepribadiannya yang lain.

Ah, saya jadi penasaran, dan mulai mengamati orang-orang di sekitar saya. Mungkin banyak orang seperti ini. Atau jangan-jangan saya sendiri orangnya

 Serpong 21 november 2007 15:32 (hari yang panaaaaas, si empus lagi bobo di kolong mobil)

Sunday, June 04, 2006

Gadis Cilik di Jendela

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Tetsuko Kuroyanagi

 


Akhir Mei lalu, gara-gara iseng  nungguin film X-men 3 yang masih setengah jam lagi diputer di twenty-one, aku mampir ke toko buku Gunung Agung di Bintaro Plaza. Aku kira ini buku ditujukan buat anak-anak. Yeee…ternyata salah besar jek! Begitu baca previewnya hmmm…. Buku ini keren sekali! J



Dan yang kukira ini fiksi biasa, salah lagi deh, rupanya ini kisah nyata toh! Ditulis oleh ‘gadis cilik di jendela’ itu sendiri, Tetsuko ‘Totto’ Kuroyanagi. Buku ini selesai dan diterbitkan di Tokyo hampir 23 tahun yang lalu dan menjadi sejarah di dunia penerbitan Jepang, karena terjual 4,5 juta buku dalam setahun. Luar biasa.



Begitu aku mulai membaca buku ini, efeknya membuatku tidak sabar untuk segera membuka lembaran berikutnya. Bener-bener bikin lupa akan sekitar deh!



Ringan dan mengalir begitu saja. Betapa polosnya seorang gadis cilik yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Aku bisa membayangkan betapa ‘sulit’nya bagi seorang anak kecil bila ia berkembang pada lingkungan yang tidak tepat. Beruntunglah ia memiliki orang tua (terutama ibunya), sekolah dan lingkungan yang amat memahami dan membantunya untuk berkembang menjadi diri sendiri.



Aku kagum pada tokoh kepala sekolah yang begitu disayanginya. Ini perkenalan pertamanya dengan kepala sekolah, ketika si kecil Totto akan masuk ke kelas satu di sekolahnya yang baru.



“Setelah itu Totto-chan benar-benar kehabisan cerita. Dia berpikir keras. Tapi tak bisa menemukan bahan cerita lain. Hai ini membuatnya merasa agak sedih. Untungnya, tepat ketika itu kepala sekolah berdiri, lalu meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan sambil berkata :”Nah, sekarang kau  murid sekolah ini.”



Pada saat itu Totto chan merasa dia telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan sampai berjam-jam seperti kepala sekolah, Lebih dari itu, kepala sekolah sama sekali tidak menguap atau tampak bosan.”




Aku juga menaruh hormat kepada tokoh-tokoh lain di sekitar Totto yang membantunya untuk belajar tentang betapa besarnya arti persahabatan. Teman sekelasnya yang menderita polio, anjing gembala jermannya, guru tari euritmiknya, dirigen orkestra tempat ayahnya bekerja hingga tukang kebun di sekolahnya.



Uh! Aku iri sekali pada Totto-chan. Sayang sekolahku dulu tidak seperti itu. Can you imagine? Setiap pagi kamu bisa memulai pelajaran apa saja yang kamu sukai. Duduk pada bangku yang berbeda setiap harinya. Pelajaran jalan-jalan setelah makan siang, atau berenang bersama di tengah hari yang terik. Makan siang bersama (pesan dari Kepala sekolah, membawa bekal sesuatu dari gunung dan sesuatu dari laut, maksudnya harus ada ikan berikut sayurnya)  Melompat-lompat dan berlari-lari dengan kaki telanjang dengan diiringi piano. Belajar memasak, kemping bersama di aula, tes keberanian di kuil dekat sekolah…..  dan yang pasti… kelasmu berupa gerbong kereta api.



Wuuui…. Imajinasimu bisa terbang kemana-mana!!!



Hehehe…tunggu apalagi? Buruan cari bukunya!



(Ibu guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama perjalanan berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.


Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?


Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.


Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.)


(kalo yang barusan ...saya kutip dari resensi bukunya J)


 


 
;