Monday, November 30, 2009

antara lampu dan pelanggaran HAM

sore itu di ruang depan. Sambil memandang sepetak halaman depan. Ini obrolan saya dengan suami tersayang.

"Apa? Wajib pake lampu taman? Harus seragam pula?" dengus saya, huh aturan yang aneh.

“Udah ketetapan dari pak RT, Hany. Udah kesepakatan bersama" kayak anggota DPR aja.

“Kalau nggak mau gimana?" saya, masih ngeyel.

"Hus! Udah ah... Ikutin aja. Nggak enak sama warga yang lain" kemudian dia ngeloyor pergi.

Hari gini harus seragam? Saya bener-bener nggak setuju. Sejelek-jeleknya rumah, saya nggak ingin disamakan dengan orang lain.

Karena setiap orang itu unik bukan? Lihat aja rumah di ujung jalan itu, pagarnya dicat ungu. Atau rumah nomor 35, langsung berubah hijau warna cat dindingnya.

Saya rasa sih, pasti ada beberapa orang yang nggak sreg dengan lampu jelek ini :D tapi tak kuasa untuk berkata TIDAK. Maaf pak RT, lampunya sih sebenernya nggak jelek-jelek amat. Tapi saya udah terlanjur sebel.

Dan saya pun manyun di pojokan.

Berhari-hari selalu saya pasang tampang PROTES BERAT jika masalah lampu ini disinggung lagi olehnya. Bersama kelima kucing saya, nyaris kami membuat spanduk untuk demo.

Tapi tanpa sepengetahuan saya, rupanya sudah ia setorkan iuran la
mpu ini pada pak RT. Tinggal tunggu waktu pasang lampunya saja.

Uh…rasanya tak berdaya.

disela-sela kegiatan saya mencuci baju, meyiram tanaman dan mengepel lantai. Ide-ide anarkis saya muncul  seperti :

1.    Pura-pura tidak ada dirumah jika nanti ada orang yang datang untuk pasang lampu

2.    Memotong kabelnya kalau sudah terlanjur dipasang

3.    Menggergaji batang besi penopang lampu 

4.    Secara ajaib bohlam lampu  hilang dari tempatnya

5.    dan pura-pura tidak tahu kalau ditanya …(haha!)

Ah.. ide barusan tidak akan menyelesaikan masalah. Batin saya bergelut. Intinya bukan itu. Protes saya ini harus saya sampaikan kepada khalayak ramai.

Seminggu kemudian.

Lampu taman itu sudah dipasang. Dan sudah menyala seperti lampu-lampu taman di rumah tetangga kami yang lain. Apa saya pasrah dan menerima kenyataan ini? Hohooo…. Anda salah besar.

Ada yang beda kali ini.

Cahaya lampu kami warnanya kuning hangat. Satu-satunya lampu yang terangnya seperti itu. Warna kuning di tengah-tengah kepungan lampu taman tetangga yang sinarnya putih menyilaukan.

Haha… rasakan pak RT! Ini bentuk protes saya!!!

BTR, 25 November 2009 ; 22:02 *lagi nunggu yayangnya pulang kopdar, hanya ada Ucup n Pippy di rumah

Wednesday, November 11, 2009

Masa Orientasi Kucing (MOK)

Sebelum pindah rumah, saya sempat tanya kepada teman-teman di mailing list Indonesian Cat Rescue (ICR) dan milis Pecinta Kucing mengenai tips jika si meong ikut pindah rumah.

Terutama kucing stray –istilah ini mungkin lebih dikenal dengan sebutan kucing kampung, kucing jalanan atau kucing liar- yang nggak biasa dikurung di rumah apalagi di dalam kandang. Saya tanyakan juga apa tipsnya agar si mpus nggak stress dan malah hilang ketika kami semua pindah ke tempat yang baru.

Saya senang karena banyak yang menanggapi. Saran mereka cukup beragam lho. Mbak Dini salah satunya. Mbak dini ini dari milis ICR (Indonesian cat rescue) bercerita, si Tiger kucing jantannya, sempat kabur di minggu pertama dan pulang ke rumah yang lama.

 “Untung masih satu komplek. Jadi gampang nyarinya” Mbak Dini ini baru saja pindah 4 bulan lalu. Kucingnya ada 7 ekor.

“Tapi setelah sebulan dia sudah nyaman dan ngga pernah keluar rumah lagi.” Tambahnya lagi.

Atau saran dari mbak Lala Lavita dari milis Pecinta Kucing, Pamannya meninggal dunia karena sakit dan kucingnya, -kucing kampung- tak ada yang merawat.

“Karena kasihan, kucing yang saya beri nama Kipli itu, akhirnya saya bawa pulang ke rumah saya.”

Ini tipsnya :
1.    Minggu pertama : dikurung di sebuah ruangan dalam rumah, bisa dalam kamar atau halaman belakang yang tertutup (jangan ada celah untuk kabur), ada naungan untuk berteduh, makan minum di tempat tersebut, dan biarkan mereka BAB & BAK disana.
2.    Minggu kedua : kucing baru dikeluarkan dari ruangan tersebut, namun masih dalam lingkungan dalam rumah
3.    minggu ketiga : baru boleh berkeliaran diluar rumah, biasanya mereka mulai hafal dengan bau dan letak rumah, jadi kalaupun kelayapan keluar rumah, mereka pasti balik lagi kok dan tidak nyasar...
 
Tapi yang sedikit nyentrik justru saran dari mbak Lucky.  Mbak Lucky yang tergabung dalam milis Pecinta Kucing ini punya pengalaman yang sama dengan saya. Pindah rumah.

Jadi sebelum semua barang masuk ke dalam rumah baru, kucing-kucingnya ia lepaskan dulu didalam rumah. Mereka biarkan kucing jantan untuk menandai area dan mengendus-endus isi rumah.

“Baru deh…. Semua barang kami masukkan”

“oooo..”

“Tapi ada satu tradisi yang biasa kami lakukan untuk membuat kucing baru merasa hommy”

“Caranya?”

“Caranya adalah dengan memutarnya di bawah kaki meja sebanyak 7 kali” oh ya? Saya baru dengar tuh.

“Memang agak unik sih. Tapi biasanya manjur loh..” bisa saya bayangkan mbak Lucky tersenyum senang. Dan tambahnya kemudian,
 
“Oiya, biasanya dua minggu pertama, si meong masih berasa asing di rumahnya yang baru. Jadi harus sering dibelai dan diajak main ya…...Semoga pada betah di rumah yg baru..  “

“Hahaha.. siaaaap mbak Lucky!”

Kalau mbak Agil lain lagi. Tipsnya adalah dengan menyibukkan si meong dengan mengolesi seluruh kaki depannya dengan mentega. 

“Lakukan sekitar 3 hari terus menerus.” Sahutnya dengan yakin.

“Nanti kalau ada yang berusaha untuk celingukan cari jalan pulang, olesi lagi mentega lebih banyak. Itu resep nenek.” 

Wah.. saya bisa bayangkan Pippy lupa makan gara-gara seharian sibuk menjilati kakinya. 

Terlepas benar atau tidak, menurut saya sih layak untuk diuji. Penasaran juga saya dibuatnya.

“Semoga berhasil ya, mbak”  Lanjutnya. Ho oh!
 
Nah.. di tengah kesibukan saya membenahi barang-barang untuk pindah. Ibu saya telpon dan bilang :
“Pindah nanti.. nggak usah bawa kucing banyak-banyak. Satu atau dua ekor aja cukuuuup” huuuuuuu… ibu yang sangat saya cintai ini. Dari dulu memang nggak pernah setuju kalau saya pelihara kucing. Huhuuuu….

Tapi ayah saya kemudian bilang, “papa.. udah 18 kali lho pindah rumah” *secara dia veteran sering pindah rumah * dia juga rupanya sepakat dengan ibu saya. Dan membagi sedikit tips cara cepat merapikan rumah dalam waktu 3 bulan. Kwak..kwaaaaw…

Hati saya makin tak menentu. Bahkan sambil mengangkat kardus-kardus berisi buku. Benak saya sibuk membuat rencana detail untuk kucing-kucing ini nanti. Ada satu tips menarik nih dari Mbak Endah dari milis ICR. Yang menyahuti kegundahan hati saya.

Saya dan mungkin ribuan orang diluar sana –hehehe.. terlalu lebay ya- bisa jadi terlalu fokus ketika hari pindah.  Dan luput mengenai persiapan mereka sebelum pindah.

Ini tipsnya, “Jauh-jauh hari sebelum pindah, mpus-mpus itu diungsikan dulu. Bisa dititipkan di tempat penitipan atau di rumah teman”

Karena biasanya kucing itu punya feeling yang tajam tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Atau jika ada 'kesibukan' yang lain dari biasanya. Dan itu membuat mereka kabur dari rumah dan menunggu situasi kembali aman seperti semula. Dan akibatnya, malah pada ketinggalan nggak ikut pindah.

Hiks! Jadi ingat Mimin yang dua minggu sebelum kami pindah, pergi entah kemana.

“Dan perihal outdoor yang nggak biasa dikurung, mau nggak mau, nggak ada cara lain deh kayaknya selain memaksa mereka 'dipenjara' dulu.”

“Duh.. saya jadi raja tega dong ya?”

“Iya.., pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah terima nasib. Ngamuk sih... memang, pastinya stress, tapi setidaknya mereka aman dan nggak hilang”

“Hiks!”

Moga-moga pada keangkut semua ya...ntar deh kalo nemu artikelnya dimana, diupdate lagi.” Iya mbak Endah. Makasih lho.

Tapi kayaknya yang paling mendekati kenyataan sih sarannya dari mbak Okti. Dia bilang kucing outdoor, kalau dibawa pindah jangan langsung dilepas, paling tidak dikurung beberapa hari dulu.

Sediakan makanan. Karena makanan merupakan faktor yang sangat menentukan. Kucing tergantung dari makanan yang kita berikan. Lambat laun kucing juga akan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. kalau itu sudah dipenuhi, nggak usah khawatir kalau kucing-kucing tidak akan kembali, kecuali kalau mereka ditangkap orang lain.

Waaah.. mbak  Okti.. semoga nggak kejadian deh kayak gitu.

eniwey…makasih ya semua… berkat saran dari teman-teman semua, masa orientasi kucing kami sudah berhasil kami laksanakan. Sekarang sudah menginjak minggu kedua. Dan kucing-kucing kami sudah bebas bermain seperti di rumah yang dulu.

(cerita berikutnya : MOK tahap dua episode Joni Hilang!)

-lagi mati lampu, 19:29 ...pippy lagi nongkrong deket jendela-
 

Friday, November 06, 2009

rumah itu bernomor tigapuluh dua




yup! besok tepat seminggu kami tinggal disini. Setelah berminggu-minggu mengepak, mengelompokkan dan memilah-milah barang, stress mengenai pembagian tugas dengan suami, menyimpan logistik untuk berminggu-minggu, membetulkan keran air dan lampu serta membujuk kucing-kucing di rumah agar mau ikut pindah. Akhirnya kami pindah juga.......

Ke rumah mungil tipe 36/72 di salah satu komplek pemukiman yang ada di Bekasi. Masih gersang karena baru dibuka oleh developer. Tapi saya lihat tetangga kiri kanan sudah menanam pohon mangga di depan rumahnya.. ah... sabar.... sabaaar....

bekasi timur, 6 november 2009; 16.00
-yang sedang rindu dengan keteduhan pohon, untung hari ini mendung, dan mpus-mpus lagi bobo ciyang semua-

Thursday, November 05, 2009

lost in time square




barangkali Ucup -belang putih kuning- bobby -putih- dan kunyit -kuning garfield- adalah tiga kucing jantan yang sempat dipertemukan oleh takdir. Ucup dan Bobby dilahirkan Mboy di kapling kosong  belakang rumah, diantara bedeng-bedeng tukang yang sedang mengerjakan rumah. Sedang Kunyit, saya temukan miau-miau crying for help di got taman depan rumah. umur mereka baru sebulan saat itu.

Ketika saya letakkan Kunyit diantara Ucup dan Bobby yang sedang menyusu, Mboy tak merasa terganggu dengan tambahan satu ekor anak lagi. Malah kasih sayang yang ia berikan sama besarnya seperti yang ia berikan pada Ucup dan Bobby.

Beberapa kali mereka –mboy dan anak-anak- pindah rumah. Tapi akhirnya kembali lagi ke rumah ini. Lalu kemudian Bobby hilang. Raib lenyap entah kemana. hanya tinggal Ucup dan Kunyit. Kedua bocah ini menjalin persahabatan. Main bareng, tidur bareng, dan tetap bermanja-manja pada Mboy seorang … eh .. seekor. 

Tapi kemudian virus itu datang lagi. Hanya 2 hari Kunyit bertahan dan kemudian mati.

Kami menguburnya di taman depan. Dan dua hari pula Ucup berkeliling rumah mencari Kunyit. Sahabat tersayangnya. Sedih saya melihatnya, tapi ini cerita lama. 

(edisi nostalgia  6 November 2009; 11.03)

Friday, October 23, 2009

Nero, pemuda dari bukit seberang

Pagi itu saya tiba di Tanakita, di Situgunung, Sukabumi. Tanakita ini adalah salah satu campsite yang dikelola oleh Rakata Adventure , salah satu operator yang ada di Jakarta. Saya disambut Nero yang mendengking manja dan kemudian duduk di dekat kaki saya. 

“Kenapa Nero?” Saya berjongkok dan mengelus kepalanya. Kemudian ia berjalan dan memamerkan sesuatu. Jalannya pincang. Salah satu kaki depannya bengkak.

“Astagaaaa.. Neroooo”  pengen nangis rasanya.

Begitu saya tanya teman-teman yang ada disini, mereka bilang Nero dipukul penduduk yang ada di kampung tak jauh dari campsite. Sedang jadi tertuduh raibnya kambing peliharaan mereka.

Kami semua tak percaya. Kang Isep -yang sekarang merawat Nero- saja bilang, pernah suatu hari Nero dikurung bersama ayam peliharaannya. Tidak terjadi apa-apa tuh. Biasa-biasa aja.  Jangankan kambing, ayam saja dia sayang kok. Padahal bagi orang yang belum kenal perawakannya cukup menyeramkan. Anjing jantan, besar, kekar dan hitam. Ini sudah kartu mati deh. Nggak bisa diganggu gugat lagi.

Ngomongin hitam, saya jadi ingat beberapa bulan lalu. Waktu kami semua ada di Tanakita.  Sedang meeting dan duduk di teras bangunan utama. Seperti biasa Nero mengambil posisi di tengah-tengah kami. Bayangin aja. Badan sebesar itu memaksakan diri ingin eksis di tengah-tengah kami.

Bori –ini salah satu teman saya- menggoda Nero “Mana si Nero ya. Kok nggak keliatan?” sambil mengendus-endus mencari Nero. Dan Nero merajuk dibuatnya. Hahaha… habis kamu bulunya hitam sih. Ya nggak keliatan walau ada di tempat terang. Hahaha..

Kalau begitu Nero itu suka bergaul, dong? Iya. Ini kata Nganga. Kata Nganga –teman saya yang lain, fyi juga nih, Nganga ini semacam godfathernya Nero. -

 “Penyakitnya nih.” ucapnya kesal.

“Penyakit apaan?” masih binun mode on.


“Kalo ngeliat cewek, pasti didatengin dan mulai caper deh” (caper=cari perhatian)

“ooooh..” geli.

“Dipanggil-panggil juga nggak didengerin. Huh!”

Ah Neroooo… Maka, jadilah kami berdua duduk dan bergossip tentang Nero. Yang diomongin sih lagi duduk diantara para wanita-wanita itu. Gerombolan tamu yang sedang ngobrol di pojokan sana. Sebagian sih bubar jalan karena takut pada Nero. Tapi sisanya baik-baik aja tuh.

Mendengar cerita Nganga, Saya baru tahu kalo Nero itu jenis Labrador Retriever .Dia termasuk salah satu ras terpopuler di dunia. Mereka tenang, tidak agresif dan tidak suka merusak. Sangat ramah sehingga cocok dijadikan anjing rumah, termasuk sebagai teman bermain anak-anak segala umur.

Nero juga bukan tipe anjing yang haus akan daerah kekuasaan. Pernah ia main jauh. Ke salah satu villa yang ada di kampung sebelah. Nah, di villa itu ada satu anjing gede yang tinggal disana. Maksud hati mengajak anjing itu main. Eh.. Nero malah ditampolnya. Maka larilah Nero pulang dan mengadu. Hingga hari ini, dia tak mau main lagi kesana. Kapok katanya! Hihihi…

Dan yang menarik dari Nero. Dia amat suka bermain air. Apalagi berenang.

“Serius?” saya tak percaya.

“Pernah nih. Karena penasaran, waktu main ke danau  Nero sengaja diajak naik perahu. Di tengah danau, kita cemplungin deh ke danau.”

“terus?”

“Bisa tuh. Langsung berenang”

Hebat! Nah mengenai hobinya main air ada lagi satu kisahnya. Waktu itu tangki air di Tanakita belum sempat ditinggikan, jadi masih bisa dijangkau oleh Nero.Nah suatu ketika hari sedang terik-teriknya disana. Dan Nero tertangkap basah sedang asyik berendam. Sudah tentu Nero diusir keluar. Dan omelan orang-orang disini karena harus kerja bakti menguras tangki. Hahaha…..

Tapi kayaknya siang ini Nero nggak bisa ikut main di sungai ya? Menemani tamu-tamu ini bermain tubing disana.  Kasihan Nero. Cepat sembuh ya!

Kisah di tanakita 16-17 sept 2009 lalu
-Tapi waktu saya turun ke sungai, ketemu Nero yang mendengking sedih. Ia sedang dipapah salah satu crew Rakata dan dilarang keras masuk ke sungai. Wong kakinya lagi sakit begituuuuu…! Ah.. Nero…Nerooo….

Mimin kamu ada dimana? hiks!

Sudah hari kelima. Dan Mimin belum juga pulang. Terakhir kali saya lihat dia malam minggu lalu. Ketika kami –saya dan suami- baru tiba di rumah.

Saya lihat Mimin sudah makan dan sedang tidur di sofa ruang tamu. Hari itu memang saya titipkan semua kucing pada Mbak Nia –orang yang biasa datang dan membantu saya jika cukup lama kami pergi meninggalkan rumah-


Mimin juga tidak muncul keesokan harinya. Ketika pukul setengah tujuh pagi saya membuatkan sarapan untuk mereka. Tidak biasanya ia melewatkan waktu makannya.

Apa ada yang menculik Mimin ya? Setahu saya, kucing hitam ini tidak begitu jinak pada orang asing. Dia juga bukan tipe kucing yang suka berlama-lama dipeluk dan digendong.  Lalu kalau tidak diculik, apa dia kabur dari rumah ya?

Padahal menjelang kepindahan kami ke Bekasi dan disela-sela hiruk pikuk saya mengemasi barang-barang di rumah, semua kucing ini juga tak luput dari masa sosialisasi mengenai pindah rumah  saya nggak peduli apakah mereka mengerti bahasa manusia. Tapi dengan intonasi yang lemah lembut dan ekspresif. saya rasa sih mereka mengerti  .

Seperti pagi ini misalnya. Kebetulan si Koko sedang beraksi dan bergelayut di betis saya. Sambil saya gendong berkeliling rumah, lalu kami ‘bercakap-cakap’.

“Koko, minggu depan kita pindah rumah lho”

“Miaau ?

“Koko nggak usah khawatir. Koko pasti ikut kok. Semua mpus pasti ngikuuuut!!!”

“Miaaaau!” -pasti artinya Horeeeeee!!! Hehehe-

“Kopernya mpus Koko sudah siap belum?”

“hihihihihi!!!” –kalau yang ini, suami saya. Kebetulan dia lewat di belakang kami.-

Baju bulunya jangan lupa dibawa ya …mpuuuuuuzzzz” -sambil ngeloyor pergi-

“huahahahaha…!!!” –laaah? Ada yang tertawa terpingkal-pingkal nih  -

Tidak hanya Koko. Semua kucing di rumah ini juga mendapat perlakuan yang sama. Pippy saya ingatkan untuk tidak lupa membawa kardus kesayangannya. Joni dengan selimut tidurnya. Malih dengan shampoo anti ketombenya.

Semua saya ingatkan. Dan saya selalu bilang kalau mereka semua pasti ikut pindah ke rumah yang baru. Saya awasi juga jadual main mereka setiap harinya. Terutama Joni, Kiki dan Mboy yang hobinya main keluar.

Tapi Mimin? Hiks! Kamu ada dimana mpooooez?

Ah, kalau itu Kiki atau Mboy, saya tidak sekhawatir ini. Pernah berhari-hari mereka meninggalkan rumah atau sering melewatkan waktu sarapan karena malamnya terlalu jauh bermain dan kemudian datang tergopoh-gopoh karena ketiduran di luar sana. Saya sih tenang-tenang saja. Mereka berdua memang hobi main. Dan pasti survive diluar sana.

Tapi tidak dengan Mimin. Mimin itu kucing yang selalu on time pulang ke rumah. Paling disiplin kalau sudah berurusan dengan makan. Tidak heran kalau sekarang perawakannya hampir menyamai Pippy –maaf ya Pippy rekormu sebagai kucing tergendut di rumah ini, hampir di pecahkan oleh Mimin-

Mimin juga kucing yang paling manja pada Pippy. Walau kadang-kadang jika Pippy lagi PMS dan ingin 'bunuh orang'  maka sedetik kemudian sudah ditampolnya Mimin dengan cakar miaunya. Hebatnya, Mimin tak pernah merasa sakit hati. Dia akan kembali menggelayut di depan Pippy, dan minta dijilat kupingnya.

Ah.. Mimin yang manis.

Hingga hari ini, saya sudah berkali-kali mencari Mimin. Bahkan hingga ke blok sebelah yang saya curigai tempat Mimin bermain. Membonceng motor suami saya ketika ia pulang kantorpun sudah saya lakukan. Dan berkeliling komplek sambil berseru-seru memanggil Mimin –sudah tentu dibumbui pandangan ‘kasiandehloe’ dari tetangga yang kami lewati-, tetap saja Mimin tak kami temukan.

Oh Mimin.. Mimiiiiiin…  

Serpong 23 Oktober 2009, 15.17, Joni lagi ‘pingsan’ dan tidur terlentang di depan pintu..hihihi.. capek begadang ya mPus?

-saya yang lagi sedih, andaikan Mimin membaca postingan ini. Hiks! Mimin.. pulang yaaa.. kamu nggak akan ditinggal. Kamu pasti ikutan pindah kok- atau andaikan si penculik Mimin membaca postingan ini, please..please deh, kembalikan Mimin kepada kami. Huhuhu…

Monday, October 12, 2009

taman nan asri itu bernama Taman Sari




“Mbak…!”  panggilnya. Di kamar depan, Cecep duduk bersimpuh memunggungi pintu. Berkutat dengan komputernya.  Disamping, ada Ivana yang memandang saya penuh harap. Mereka ingin saya melihat sesuatu. Malam itu di salah satu rumah, di utara kota Jogja.


“Ada apa Cep?” Saya baru selesai mandi. Dan saya yakin ia pun sebenarnya sedang diburu waktu. Jam tujuh nanti ada janji dengan teman-temannya dan kemudian ia akan pulang ke rumah ayahnya di Gunung Kidul.

Saya duduk diantara mereka. Tiga kepala serius menghadap monitor. Slide show foto rupanya. “Tadi kami kesana.” “Ooooo…” “Sayang kalian mbatalin acara ke tamansari sore tadi. Padahal kalo iya. Bisa dapet moment bagus nih.”

Ihiks! Betul juga. Fotonya bagus Cep. Modelnya juga keren -sambil melirik Ivana - Terus terang, dari dulu kalau mampir ke Jogja, saya kok nggak pernah tertarik untuk mampir ke Tamansari.

“Maaf ya Cep. Tadi kami batalkan acara kesini. Gara-gara sebel waktu ke Borobudur tadi siang. Rame banget kayak cendol. Jadi kupikir, sama aja dengan Tamansari.  Maklum toh. Soalnya lagi liburan. Pasti banyak turisnya”

Masih sambil menyesali diri melihat hasil jepretan Cecep. Saya bertanya-tanya, apa saya masih bisa kesini lagi? Cecep mengangkat bahu. Nyengir dan segera berlalu ke belakang. Mandi.

Jogja, 24 September 2009
(tapi ternyata keesokan harinya, pagi-pagi sekali dalam perjalanan kami kembali ke Jakarta, kami sempat mampir kesini. Penasaran  makasih ya Cep. Untuk inspirasinya. Juga untuk tumpangan penginapannya. So sorry about the door. Maaf yaaa… ;ditulis di  Serpong 12 oktober 2009 05.09 sibuk-sibuk packing barang)


info lainnya silakan lihat disini :

taman sari
istana air
taman sari

Saturday, October 10, 2009

Mas gondrong pemuda dari tamansari




Barangkali tampang kami yang sedikit ‘gagap’ menarik perhatiannya. Begitu motor kami hampir putus asa, berderum perlahan mencari tempat parkir.

Ia duduk di dekat pagar dan memperhatikan kami. Memakai tshirt hitam bergambar kamera dengan sebatang rokok terselip ditangan yang tak kunjung dibakarnya.

Sementara itu si Malih –ini nama motor kami- akhirnya kami parkir di dekat pintu masuk. Tempat parkir motor berkanopi yang letaknya persis di depan loket yang belum juga buka. Padahal sudah pukul setengah sembilan pagi.  Hmm…

Ia segera menarik minat saya. Rambutnya panjang, berminyak dan diikat satu. Matanya redup. Mungkin semalam tidak tidur. Ketika saya tanya namanya, ia hanya bilang :”Panggil saya Gondrong”

Melihat gelagatnya, saya sih sudah menduga. Dia pasti salah satu pemandu tempat ini. Saya sebenarnya nggak begitu suka jalan ditemani guide. Entah mengapa. Mungkin saya nggak begitu suka menjelajah ditemani orang lain. Rasanya imajinasi saya tidak bisa berkembang  tapi ternyata saya salah duga.

Kemudian kami diajak menembus pagar tembok. Merunduk melewati lubang setinggi 1,5 meter. Memutar menembus pemukiman di luar pagar tembok tamansari. Sempat berhenti di warung –mas gondrong mau beli rokok- kami turun menuju lorong bawah tanah. Melewati lorong-lorong sempit, meniti atap dan akhirnya tiba di mesjid yang bentuknya aneh sekali.

Karena terlalu asyik memotret, kadang saya tertinggal di belakang. Ia melirik kamera yang saya tenteng. Dan tiba-tiba saja kamera sudah berpindah tangan. “Kamu berdiri disana!” perintahnya. Hihihi… ini pemandu atau satpam sih?

Padahal, saya bukan tipe orang yang pandai bergaya di depan kamera. Sama seperti ribuan ‘tukang potret’ diluar sana ‘yang pandai memotret tapi tidak pandai untuk dipotret. 

Begitu juga suami saya. Kami pasrah saja mengikuti instruksinya. Tanpa saya sadari saya sudah memanjat tembok tinggi dan melompati pagar demi mendapat angle yang menarik. Baru kali ini saya bertemu pemandu yang juga jago motret.

Tidak saya sangka hasilnya akan seindah ini. Ah… saya harus banyak belajar lagi. Maka dengan segala kerendahan hati, tulisan ini saya tujukan untuk Mas Gondrong.
“Potretmu… kereeeennn sekali Mas  !!!!”

tamansari, jogja 25 september 2009 (salah satu kisah edisi trip tour de Solo akhir September lalu, fotonya mau dicetak ukuran besar dan dipasang di dinding rumah ah..

Thursday, September 10, 2009

Pengumuman : dikontrakan rumah di BSD

Rasanya berat meninggalkan rumah ini. Saya sudah terlanjur cinta. Rumah mungil tempat saya, suami dan kedelapan ekor kucing kami berteduh. Rumah mungil yang ada di daerah yang tidak terlalu ramai dan yang masih sejuk udaranya.

Tapi saya lebih cinta kepada belahan jiwa saya. Sedih rasanya melihatnya kelelahan karena harus berangkat pagi dan pulang larut malam. Jadi tahun ini kami berdua memutuskan  pindah rumah. Tentunya ke tempat yang lebih dekat dengan kantor suami. Semoga di tempat kami yang baru nanti juga akan sedamai rumah ini.

Rumah ini ada di Nusaloka, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Akses dekat sekali dengan jalan tol Bintaro-TB Simatupang. Jika dengan kendaraan umum, banyak moda transportasi yang dapat digunakan. Bus trans bsd dan kereta api contohnya.

Luas bangunan 36 meter persegi dan luas tanahnya 72 meter persegi.  Letaknya persis di depan taman lingkungan.

Dua kamar dan satu kamar mandi. Satu dapur, carport untuk parkir mobil. dan taman mungil yang ada di depan dan belakang rumah.

Furnished. Sudah tersedia lemari pakaian, rak buku, rak pembatas ruang, dan kitchen set serta meja makan kecil di dapur.









Kawasan aman karena hanya ada satu portal masuk dengan penjagaan ketat.


Tidak jauh dari Indomaret, dokter 24 jam, rumah makan padang, ayam kremes, bubur ayam dan bakso… hmmm…nyam..nyam….

Jadi, bagi yang berminat silakan hubungi saya, rumah ini kami sewakan. Cocok deh buat pasangan baru atau keluarga kecil yang ingin mandiri.

makasih yaaa....

serpong, 10 september 2009; 12;23

Saturday, September 05, 2009

si mimin dan bendera merah putih

Dan ketika pintu depan saya buka. Mendadak saya ingin menangis dibuatnya. Tampak tiang bendera kami melintang di halaman. Benderanya tergeletak di lantai carport. Ya Tuhaaaan! Cobaan apa lagi yang kau berikan pada kami? Huhuhuhu…

Oh.. tidak hanya itu saudara-saudara. Cobaan itu diperindah dengan mpus Mimin yang sedang bermain perang-perangan dengan mpus Koko. Dengan ekor bergoyang-goyang, bersembunyi di dalam lipatan bendera. Menunggu kesempatan menangkap Koko yang sedang mandi kucing.

“Mimiiiiiin!” duh!

Dan Mimin pergi sambil mengomel. Kesenangannya pagi itu musnahlah sudah. Sambil menoleh kanan-kiri saya betulkan kembali tiang bendera itu. Mengikatnya kuat-kuat pada pagar depan rumah kami. Saya mengadu pada suami yang sedang mendorong motornya keluar pagar.

“Untung nggak ketahuan pak RT. Bisa diomelin deh kita semua”

“Hahaha…” gelak suami saya “ Mimin lagi main perang kemerdekaan ya?”

“huh!”

Dibalik tragedi Mimin yang sedang berlatih perang kemerdekaan itu, perayaan 17 agustus bulan lalu selalu menyisakan kisah menarik buat kami. Ketika jalan di depan rumah dipercantik dengan umbul-umbul dan untaian bendera kertas merah putih silang menyilang. Saya sudah siapkan buluh bambu lalu bendera yang sudah dicuci-setrika-wangi dikeluarkan dari lemari. Kemudia dengan hati-hati saya ikat pada pagar rumah.

Tapi ada satu hal yang saya lupa. Pagar depan juga dipakai oleh mpus Koko, Ucup dan Mimin untuk bermain dan berlalu lalang. Iseng aja. Dari ujung kiri, ke ujung kanan. Dari tembok tetangga di sebelah kanan, meniti pagar dan hup! Melompat ke pagar tetangga di sebelah kiri rumah kami.

Saya kira hidup kami akan damai sentosa hingga akhir seperti dalam dongeng-dongeng itu lho  Ah..

Keesokan harinya. Pagi-pagi setelah urusan rumah selesai, saya pergi ke pasar. Belanja. Dan tak lama kemudian ketika saya kembali dan membuka pagar rumah.

Hmmm… ada yang aneh disini. Kenapa rumah terasa lengang? Kenapa tidak ada kucing yang melompat keluar dari jendela dan menyambut saya seperti biasa?

Mata saya berkeliling menyelidik. Dan ketika tiba pada bendera kesayangan kami. “Huaaaaaaaa…!” belanjaan di kiri dan kanan tangan terlepas dari pegangan. Bendera kami sudah berubah menjadi putih merah. Ihiks!

Kembali saya ingin menangis dibuatnya. Pasti Mimin deh tersangka utamanya. Mimin itu tipe kucing yang selalu ingin tahu. Saya curiga dia bermain-main lagi di pagar depan rumah, menarik benderanya dan hup! Putus deh ikatannya. Nggak heran sekarang sudah berubah warna.
“Duuuuh..! Mimiiiiin..Mimiiiiiin!”

Serpong 5 september 2009 20.02 (yang diomongin lagi maen ke rumah di ujung jalan)

Brondong next door itu bernama Anggy Giriawan

Dan mata saya menangkapnya. Anak ABG kurus kering bermata sayu. Memakai sandal jepit dan jaket tipis dengan bordir Consina di dada kiri. Entah bagaimana, bagai tersihir, saya pasrahkan si hitam manis –nama kamera saya- padanya.

Sore itu matahari sedang bersiap untuk tenggelam. Sayang rasanya kami lewati. Sayang juga kalau moment itu tidak kami abadikan, dengan kami-kami ini sebagai latar depannya. Ah..ini penyakit narsis tingkat tinggi rupanya. 

Lalu Emma sibuk memberi pengarahan kepada si jangkung, dan Suwasti mematut-matut kameranya pada si gempal. Tapi Anggy nampak nyaman dengan si hitam manis saya. Saya tak perlu berkomentar lagi. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Sabtu 8 agustus 2009, 17.15
Alhamdulillah, kami tiba di puncak. Daerah terbuka dan semak belukar disana-sini. Dataran tak terlalu luas namun dengan kelegaan sejauh mata memandang. Dan bangunan mungil bekas tower diatasnya. Menaranya sudah hilang. Hanya bangunan tembok berbentuk kubus bercat putih penuh graffiti. Tanpa daun pintu. Menjadi tempat bernaung anak-anak ABG itu. Yang tawa dan candanya jauh terdengar puluhan meter sebelum kami menjejakkan kaki di puncak itu. Yang kemudian kami tahu adalah anak-anak ABG dari  Cikajang. Jalur yang muncul dari arah barat.

Syukurlah, tidak sepi-sepi amat. Minimal kami ada teman disini. Menurunkan kerir dan dengan sukacita kami menjelajah di sekitar puncak di ketinggian 2821 meter.  Mematut-matut diri dengan langit yang sudah kemerahan.

Anggy naik dari Cikajang. Dia memang tinggal disana. Dari pertanyaan yang saya ajukan padanya, ia dan teman-teman mainnya memang sengaja datang kesini. Sayang tak membawa kamera. Seperti halnya pemuda desa setempat. Hanya dengan modal peralatan seadanya. Sarung, selimut, plastik terpal untuk alas tidur, panci emak di rumah, beras sekantung besar, dan kayu bakar yang saya tak tahu mereka dapat darimana. Memilih Cikuray untuk dikunjungi. Minggu depan libur panjang 17-an. Mungkin mereka berpikiran sama seperti kami. Minggu depan pasti penuh sekali dengan pendaki.

Dan malam itu kami memasang tenda  sedikit dibawah puncak, terlindung oleh semak-semak. Berganti pakaian. Memakai jaket tebal. Menyesap kopi hangat dan mulai menyantap makan malam kami. Malam itu cerah sekali. Terang bulan dan bintang di sekitar. Tiga ratus enam puluh derajat. Indahnya.

Minggu 9 agustus 2009, 06.00
Sudah terlambat sebenarnya jika ingin menantikan fajar. Semalam tubuh ini lelah luar biasa. Namun dengan perut terisi dalam tenda yang hangat, terobati sudah. Pagi itu saya keluar tenda. Menyerukan nama Suwasti dan Emma. Menyuruh mereka bangun. Saya bergegas kembali keatas. Anak-anak ABG itu sudah bangun rupanya.

“Pagiiiiiii!”

“Pagiiii Teeeeh” (catatan : teteh; bahasa sunda artinya kakak perempuan)

“Gimana tidurnya semalem? Kayaknya subuh-subuh sudah pada bangun ya?”

“Nggak bisa tidur Teh. Kedinginan”

Saya melongok sebentar ke bangunan itu. Iya. Pastinya. Berlindung di tempat terbuka. Diatas lantai dingin hanya beralas plastik. Tapi saya percaya, tubuh-tubuh mereka sudah terbiasa. Saya melirik Anggy. Tak seperti ketujuh temannya yang tak henti-hentinya berbicara. Ia berbeda, Tak lama kemudian Suwasti dan Emma datang bergabung. Kami merayakan pagi disini. Diatas awan.

Satu jam kemudian
Kami kembali ke tenda. Sarapan dan bersiap untuk turun. Rencana turun bersama mereka melalui Cikajang kami amini untuk dicoba lain kali saja. Kami sudah terlanjur berjanji dengan tukang ojek yang akan menjemput kami di pemancar TV sore nanti. Kami turun di jalur yang sama dengan jalur naik kami kemarin.

Dan Anggy turun menghampiri tenda. Ia pamit. Perlahan dan tanpa ekspresi berkata pada saya,

“Kalau boleh, minta foto untuk dipasang di facebook.”

“Lho? Kamu punya facebook?” Emma takjub. Segera dicatat alamatnya.

Saya nyengir “Saya nggak punya facebook, Nggy.  tapi saya janji, saya akan kirim cd isi foto-foto kalian”

Dan saya mengiringi langkahnya kembali ke atas. Misi saya kali ini, saya ingin memotretnya di puncak gunung. Sebagai ucapan terimakasih atas bantuannya kemarin sore. Dan setelah itu, mereka turun melalui jalur Cikajang.

Sayang saya nggak sempat ngobrol banyak dengannya. Melihat hasil jepretannya, saya yakin ia pernah belajar fotografi. Punya kamera, atau dia memang punya bakat terpendam. Ini diskusi kami bertiga. Hasil jepretannya bagus sekali. Angle yang dia ambil juga tidak biasa.

Kemudian kami melanjutkan sarapan. Sebentar lagi kami akan packing dan mulai turun. Kembali ke peradaban. Ah... belum turun pun saya sudah terlanjur rindu ingin kembali lagi kesini.

Foto-foto selengkapnya : cikuray ... anthem of the broken hearted

Serpong 5 september 2009; 15:45
(ntar malem sahurber KKC di rumahnya wangsa)

Thursday, September 03, 2009

satu (untuk) Indonesia




Pada suatu hari yang cerah, di lamandau, kebayoran baru, Jakarta pertengahan bulan lalu.
Mr. B : “gue nggak suka biker”
Saya : “kenapa?”
Mr. B : “berisik!”
Saya : *nyengir*

Memang berisik. Apalagi kalau sudah ngumpul. Tapi ada satu yang belum dilakukannya. Dia kan belum pernah ngumpul sama bro-bro yang badannya kayak beruang itu kan? Siap-siap aja sakit perut karena nggak kuat menahan tawa.  Tapi yang saya tidak suka adalah jam karetnya. Ampuuuuun deh. Janji jam 7 pagi. Baru ngumpul jam 10 siang. Apalagi kalau sudah dalam rombongan besar. Ihiks!

Itu sebabnya di hari kedua, kami memilih untuk pulang terlebih dahulu. Padahal saya ingin sekali mampir ke Kampung Naga. Mungkin belum berjodoh aja.

(touring Merdeka MiLYS 2009, 15-17 Agustus 2009 Gn. Galunggung & Kampung Naga, Tasikmalaya; Jadi boncenger ngikutin suami yang gabung di salah satu klub motor scorpio. Kayaknya sih lebih dari 60 motor yang ngumpul di Tasikmalaya hari itu. Beberapa teman dari Bandung, dari Garut dan dari Tasikmalaya turut datang merapat.  Menanam pohon di sekitar Gunung Galunggung dan berkunjung ke Kampung Naga menyalurkan bantuan minyak tanah. Selengkapnya mengenai  Mailing List Yamaha Scorpio

 
;