Thursday, November 05, 2009

lost in time square




barangkali Ucup -belang putih kuning- bobby -putih- dan kunyit -kuning garfield- adalah tiga kucing jantan yang sempat dipertemukan oleh takdir. Ucup dan Bobby dilahirkan Mboy di kapling kosong  belakang rumah, diantara bedeng-bedeng tukang yang sedang mengerjakan rumah. Sedang Kunyit, saya temukan miau-miau crying for help di got taman depan rumah. umur mereka baru sebulan saat itu.

Ketika saya letakkan Kunyit diantara Ucup dan Bobby yang sedang menyusu, Mboy tak merasa terganggu dengan tambahan satu ekor anak lagi. Malah kasih sayang yang ia berikan sama besarnya seperti yang ia berikan pada Ucup dan Bobby.

Beberapa kali mereka –mboy dan anak-anak- pindah rumah. Tapi akhirnya kembali lagi ke rumah ini. Lalu kemudian Bobby hilang. Raib lenyap entah kemana. hanya tinggal Ucup dan Kunyit. Kedua bocah ini menjalin persahabatan. Main bareng, tidur bareng, dan tetap bermanja-manja pada Mboy seorang … eh .. seekor. 

Tapi kemudian virus itu datang lagi. Hanya 2 hari Kunyit bertahan dan kemudian mati.

Kami menguburnya di taman depan. Dan dua hari pula Ucup berkeliling rumah mencari Kunyit. Sahabat tersayangnya. Sedih saya melihatnya, tapi ini cerita lama. 

(edisi nostalgia  6 November 2009; 11.03)

Friday, October 23, 2009

Nero, pemuda dari bukit seberang

Pagi itu saya tiba di Tanakita, di Situgunung, Sukabumi. Tanakita ini adalah salah satu campsite yang dikelola oleh Rakata Adventure , salah satu operator yang ada di Jakarta. Saya disambut Nero yang mendengking manja dan kemudian duduk di dekat kaki saya. 

“Kenapa Nero?” Saya berjongkok dan mengelus kepalanya. Kemudian ia berjalan dan memamerkan sesuatu. Jalannya pincang. Salah satu kaki depannya bengkak.

“Astagaaaa.. Neroooo”  pengen nangis rasanya.

Begitu saya tanya teman-teman yang ada disini, mereka bilang Nero dipukul penduduk yang ada di kampung tak jauh dari campsite. Sedang jadi tertuduh raibnya kambing peliharaan mereka.

Kami semua tak percaya. Kang Isep -yang sekarang merawat Nero- saja bilang, pernah suatu hari Nero dikurung bersama ayam peliharaannya. Tidak terjadi apa-apa tuh. Biasa-biasa aja.  Jangankan kambing, ayam saja dia sayang kok. Padahal bagi orang yang belum kenal perawakannya cukup menyeramkan. Anjing jantan, besar, kekar dan hitam. Ini sudah kartu mati deh. Nggak bisa diganggu gugat lagi.

Ngomongin hitam, saya jadi ingat beberapa bulan lalu. Waktu kami semua ada di Tanakita.  Sedang meeting dan duduk di teras bangunan utama. Seperti biasa Nero mengambil posisi di tengah-tengah kami. Bayangin aja. Badan sebesar itu memaksakan diri ingin eksis di tengah-tengah kami.

Bori –ini salah satu teman saya- menggoda Nero “Mana si Nero ya. Kok nggak keliatan?” sambil mengendus-endus mencari Nero. Dan Nero merajuk dibuatnya. Hahaha… habis kamu bulunya hitam sih. Ya nggak keliatan walau ada di tempat terang. Hahaha..

Kalau begitu Nero itu suka bergaul, dong? Iya. Ini kata Nganga. Kata Nganga –teman saya yang lain, fyi juga nih, Nganga ini semacam godfathernya Nero. -

 “Penyakitnya nih.” ucapnya kesal.

“Penyakit apaan?” masih binun mode on.


“Kalo ngeliat cewek, pasti didatengin dan mulai caper deh” (caper=cari perhatian)

“ooooh..” geli.

“Dipanggil-panggil juga nggak didengerin. Huh!”

Ah Neroooo… Maka, jadilah kami berdua duduk dan bergossip tentang Nero. Yang diomongin sih lagi duduk diantara para wanita-wanita itu. Gerombolan tamu yang sedang ngobrol di pojokan sana. Sebagian sih bubar jalan karena takut pada Nero. Tapi sisanya baik-baik aja tuh.

Mendengar cerita Nganga, Saya baru tahu kalo Nero itu jenis Labrador Retriever .Dia termasuk salah satu ras terpopuler di dunia. Mereka tenang, tidak agresif dan tidak suka merusak. Sangat ramah sehingga cocok dijadikan anjing rumah, termasuk sebagai teman bermain anak-anak segala umur.

Nero juga bukan tipe anjing yang haus akan daerah kekuasaan. Pernah ia main jauh. Ke salah satu villa yang ada di kampung sebelah. Nah, di villa itu ada satu anjing gede yang tinggal disana. Maksud hati mengajak anjing itu main. Eh.. Nero malah ditampolnya. Maka larilah Nero pulang dan mengadu. Hingga hari ini, dia tak mau main lagi kesana. Kapok katanya! Hihihi…

Dan yang menarik dari Nero. Dia amat suka bermain air. Apalagi berenang.

“Serius?” saya tak percaya.

“Pernah nih. Karena penasaran, waktu main ke danau  Nero sengaja diajak naik perahu. Di tengah danau, kita cemplungin deh ke danau.”

“terus?”

“Bisa tuh. Langsung berenang”

Hebat! Nah mengenai hobinya main air ada lagi satu kisahnya. Waktu itu tangki air di Tanakita belum sempat ditinggikan, jadi masih bisa dijangkau oleh Nero.Nah suatu ketika hari sedang terik-teriknya disana. Dan Nero tertangkap basah sedang asyik berendam. Sudah tentu Nero diusir keluar. Dan omelan orang-orang disini karena harus kerja bakti menguras tangki. Hahaha…..

Tapi kayaknya siang ini Nero nggak bisa ikut main di sungai ya? Menemani tamu-tamu ini bermain tubing disana.  Kasihan Nero. Cepat sembuh ya!

Kisah di tanakita 16-17 sept 2009 lalu
-Tapi waktu saya turun ke sungai, ketemu Nero yang mendengking sedih. Ia sedang dipapah salah satu crew Rakata dan dilarang keras masuk ke sungai. Wong kakinya lagi sakit begituuuuu…! Ah.. Nero…Nerooo….

Mimin kamu ada dimana? hiks!

Sudah hari kelima. Dan Mimin belum juga pulang. Terakhir kali saya lihat dia malam minggu lalu. Ketika kami –saya dan suami- baru tiba di rumah.

Saya lihat Mimin sudah makan dan sedang tidur di sofa ruang tamu. Hari itu memang saya titipkan semua kucing pada Mbak Nia –orang yang biasa datang dan membantu saya jika cukup lama kami pergi meninggalkan rumah-


Mimin juga tidak muncul keesokan harinya. Ketika pukul setengah tujuh pagi saya membuatkan sarapan untuk mereka. Tidak biasanya ia melewatkan waktu makannya.

Apa ada yang menculik Mimin ya? Setahu saya, kucing hitam ini tidak begitu jinak pada orang asing. Dia juga bukan tipe kucing yang suka berlama-lama dipeluk dan digendong.  Lalu kalau tidak diculik, apa dia kabur dari rumah ya?

Padahal menjelang kepindahan kami ke Bekasi dan disela-sela hiruk pikuk saya mengemasi barang-barang di rumah, semua kucing ini juga tak luput dari masa sosialisasi mengenai pindah rumah  saya nggak peduli apakah mereka mengerti bahasa manusia. Tapi dengan intonasi yang lemah lembut dan ekspresif. saya rasa sih mereka mengerti  .

Seperti pagi ini misalnya. Kebetulan si Koko sedang beraksi dan bergelayut di betis saya. Sambil saya gendong berkeliling rumah, lalu kami ‘bercakap-cakap’.

“Koko, minggu depan kita pindah rumah lho”

“Miaau ?

“Koko nggak usah khawatir. Koko pasti ikut kok. Semua mpus pasti ngikuuuut!!!”

“Miaaaau!” -pasti artinya Horeeeeee!!! Hehehe-

“Kopernya mpus Koko sudah siap belum?”

“hihihihihi!!!” –kalau yang ini, suami saya. Kebetulan dia lewat di belakang kami.-

Baju bulunya jangan lupa dibawa ya …mpuuuuuuzzzz” -sambil ngeloyor pergi-

“huahahahaha…!!!” –laaah? Ada yang tertawa terpingkal-pingkal nih  -

Tidak hanya Koko. Semua kucing di rumah ini juga mendapat perlakuan yang sama. Pippy saya ingatkan untuk tidak lupa membawa kardus kesayangannya. Joni dengan selimut tidurnya. Malih dengan shampoo anti ketombenya.

Semua saya ingatkan. Dan saya selalu bilang kalau mereka semua pasti ikut pindah ke rumah yang baru. Saya awasi juga jadual main mereka setiap harinya. Terutama Joni, Kiki dan Mboy yang hobinya main keluar.

Tapi Mimin? Hiks! Kamu ada dimana mpooooez?

Ah, kalau itu Kiki atau Mboy, saya tidak sekhawatir ini. Pernah berhari-hari mereka meninggalkan rumah atau sering melewatkan waktu sarapan karena malamnya terlalu jauh bermain dan kemudian datang tergopoh-gopoh karena ketiduran di luar sana. Saya sih tenang-tenang saja. Mereka berdua memang hobi main. Dan pasti survive diluar sana.

Tapi tidak dengan Mimin. Mimin itu kucing yang selalu on time pulang ke rumah. Paling disiplin kalau sudah berurusan dengan makan. Tidak heran kalau sekarang perawakannya hampir menyamai Pippy –maaf ya Pippy rekormu sebagai kucing tergendut di rumah ini, hampir di pecahkan oleh Mimin-

Mimin juga kucing yang paling manja pada Pippy. Walau kadang-kadang jika Pippy lagi PMS dan ingin 'bunuh orang'  maka sedetik kemudian sudah ditampolnya Mimin dengan cakar miaunya. Hebatnya, Mimin tak pernah merasa sakit hati. Dia akan kembali menggelayut di depan Pippy, dan minta dijilat kupingnya.

Ah.. Mimin yang manis.

Hingga hari ini, saya sudah berkali-kali mencari Mimin. Bahkan hingga ke blok sebelah yang saya curigai tempat Mimin bermain. Membonceng motor suami saya ketika ia pulang kantorpun sudah saya lakukan. Dan berkeliling komplek sambil berseru-seru memanggil Mimin –sudah tentu dibumbui pandangan ‘kasiandehloe’ dari tetangga yang kami lewati-, tetap saja Mimin tak kami temukan.

Oh Mimin.. Mimiiiiiin…  

Serpong 23 Oktober 2009, 15.17, Joni lagi ‘pingsan’ dan tidur terlentang di depan pintu..hihihi.. capek begadang ya mPus?

-saya yang lagi sedih, andaikan Mimin membaca postingan ini. Hiks! Mimin.. pulang yaaa.. kamu nggak akan ditinggal. Kamu pasti ikutan pindah kok- atau andaikan si penculik Mimin membaca postingan ini, please..please deh, kembalikan Mimin kepada kami. Huhuhu…

Monday, October 12, 2009

taman nan asri itu bernama Taman Sari




“Mbak…!”  panggilnya. Di kamar depan, Cecep duduk bersimpuh memunggungi pintu. Berkutat dengan komputernya.  Disamping, ada Ivana yang memandang saya penuh harap. Mereka ingin saya melihat sesuatu. Malam itu di salah satu rumah, di utara kota Jogja.


“Ada apa Cep?” Saya baru selesai mandi. Dan saya yakin ia pun sebenarnya sedang diburu waktu. Jam tujuh nanti ada janji dengan teman-temannya dan kemudian ia akan pulang ke rumah ayahnya di Gunung Kidul.

Saya duduk diantara mereka. Tiga kepala serius menghadap monitor. Slide show foto rupanya. “Tadi kami kesana.” “Ooooo…” “Sayang kalian mbatalin acara ke tamansari sore tadi. Padahal kalo iya. Bisa dapet moment bagus nih.”

Ihiks! Betul juga. Fotonya bagus Cep. Modelnya juga keren -sambil melirik Ivana - Terus terang, dari dulu kalau mampir ke Jogja, saya kok nggak pernah tertarik untuk mampir ke Tamansari.

“Maaf ya Cep. Tadi kami batalkan acara kesini. Gara-gara sebel waktu ke Borobudur tadi siang. Rame banget kayak cendol. Jadi kupikir, sama aja dengan Tamansari.  Maklum toh. Soalnya lagi liburan. Pasti banyak turisnya”

Masih sambil menyesali diri melihat hasil jepretan Cecep. Saya bertanya-tanya, apa saya masih bisa kesini lagi? Cecep mengangkat bahu. Nyengir dan segera berlalu ke belakang. Mandi.

Jogja, 24 September 2009
(tapi ternyata keesokan harinya, pagi-pagi sekali dalam perjalanan kami kembali ke Jakarta, kami sempat mampir kesini. Penasaran  makasih ya Cep. Untuk inspirasinya. Juga untuk tumpangan penginapannya. So sorry about the door. Maaf yaaa… ;ditulis di  Serpong 12 oktober 2009 05.09 sibuk-sibuk packing barang)


info lainnya silakan lihat disini :

taman sari
istana air
taman sari

Saturday, October 10, 2009

Mas gondrong pemuda dari tamansari




Barangkali tampang kami yang sedikit ‘gagap’ menarik perhatiannya. Begitu motor kami hampir putus asa, berderum perlahan mencari tempat parkir.

Ia duduk di dekat pagar dan memperhatikan kami. Memakai tshirt hitam bergambar kamera dengan sebatang rokok terselip ditangan yang tak kunjung dibakarnya.

Sementara itu si Malih –ini nama motor kami- akhirnya kami parkir di dekat pintu masuk. Tempat parkir motor berkanopi yang letaknya persis di depan loket yang belum juga buka. Padahal sudah pukul setengah sembilan pagi.  Hmm…

Ia segera menarik minat saya. Rambutnya panjang, berminyak dan diikat satu. Matanya redup. Mungkin semalam tidak tidur. Ketika saya tanya namanya, ia hanya bilang :”Panggil saya Gondrong”

Melihat gelagatnya, saya sih sudah menduga. Dia pasti salah satu pemandu tempat ini. Saya sebenarnya nggak begitu suka jalan ditemani guide. Entah mengapa. Mungkin saya nggak begitu suka menjelajah ditemani orang lain. Rasanya imajinasi saya tidak bisa berkembang  tapi ternyata saya salah duga.

Kemudian kami diajak menembus pagar tembok. Merunduk melewati lubang setinggi 1,5 meter. Memutar menembus pemukiman di luar pagar tembok tamansari. Sempat berhenti di warung –mas gondrong mau beli rokok- kami turun menuju lorong bawah tanah. Melewati lorong-lorong sempit, meniti atap dan akhirnya tiba di mesjid yang bentuknya aneh sekali.

Karena terlalu asyik memotret, kadang saya tertinggal di belakang. Ia melirik kamera yang saya tenteng. Dan tiba-tiba saja kamera sudah berpindah tangan. “Kamu berdiri disana!” perintahnya. Hihihi… ini pemandu atau satpam sih?

Padahal, saya bukan tipe orang yang pandai bergaya di depan kamera. Sama seperti ribuan ‘tukang potret’ diluar sana ‘yang pandai memotret tapi tidak pandai untuk dipotret. 

Begitu juga suami saya. Kami pasrah saja mengikuti instruksinya. Tanpa saya sadari saya sudah memanjat tembok tinggi dan melompati pagar demi mendapat angle yang menarik. Baru kali ini saya bertemu pemandu yang juga jago motret.

Tidak saya sangka hasilnya akan seindah ini. Ah… saya harus banyak belajar lagi. Maka dengan segala kerendahan hati, tulisan ini saya tujukan untuk Mas Gondrong.
“Potretmu… kereeeennn sekali Mas  !!!!”

tamansari, jogja 25 september 2009 (salah satu kisah edisi trip tour de Solo akhir September lalu, fotonya mau dicetak ukuran besar dan dipasang di dinding rumah ah..

Thursday, September 10, 2009

Pengumuman : dikontrakan rumah di BSD

Rasanya berat meninggalkan rumah ini. Saya sudah terlanjur cinta. Rumah mungil tempat saya, suami dan kedelapan ekor kucing kami berteduh. Rumah mungil yang ada di daerah yang tidak terlalu ramai dan yang masih sejuk udaranya.

Tapi saya lebih cinta kepada belahan jiwa saya. Sedih rasanya melihatnya kelelahan karena harus berangkat pagi dan pulang larut malam. Jadi tahun ini kami berdua memutuskan  pindah rumah. Tentunya ke tempat yang lebih dekat dengan kantor suami. Semoga di tempat kami yang baru nanti juga akan sedamai rumah ini.

Rumah ini ada di Nusaloka, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Akses dekat sekali dengan jalan tol Bintaro-TB Simatupang. Jika dengan kendaraan umum, banyak moda transportasi yang dapat digunakan. Bus trans bsd dan kereta api contohnya.

Luas bangunan 36 meter persegi dan luas tanahnya 72 meter persegi.  Letaknya persis di depan taman lingkungan.

Dua kamar dan satu kamar mandi. Satu dapur, carport untuk parkir mobil. dan taman mungil yang ada di depan dan belakang rumah.

Furnished. Sudah tersedia lemari pakaian, rak buku, rak pembatas ruang, dan kitchen set serta meja makan kecil di dapur.









Kawasan aman karena hanya ada satu portal masuk dengan penjagaan ketat.


Tidak jauh dari Indomaret, dokter 24 jam, rumah makan padang, ayam kremes, bubur ayam dan bakso… hmmm…nyam..nyam….

Jadi, bagi yang berminat silakan hubungi saya, rumah ini kami sewakan. Cocok deh buat pasangan baru atau keluarga kecil yang ingin mandiri.

makasih yaaa....

serpong, 10 september 2009; 12;23

Saturday, September 05, 2009

si mimin dan bendera merah putih

Dan ketika pintu depan saya buka. Mendadak saya ingin menangis dibuatnya. Tampak tiang bendera kami melintang di halaman. Benderanya tergeletak di lantai carport. Ya Tuhaaaan! Cobaan apa lagi yang kau berikan pada kami? Huhuhuhu…

Oh.. tidak hanya itu saudara-saudara. Cobaan itu diperindah dengan mpus Mimin yang sedang bermain perang-perangan dengan mpus Koko. Dengan ekor bergoyang-goyang, bersembunyi di dalam lipatan bendera. Menunggu kesempatan menangkap Koko yang sedang mandi kucing.

“Mimiiiiiin!” duh!

Dan Mimin pergi sambil mengomel. Kesenangannya pagi itu musnahlah sudah. Sambil menoleh kanan-kiri saya betulkan kembali tiang bendera itu. Mengikatnya kuat-kuat pada pagar depan rumah kami. Saya mengadu pada suami yang sedang mendorong motornya keluar pagar.

“Untung nggak ketahuan pak RT. Bisa diomelin deh kita semua”

“Hahaha…” gelak suami saya “ Mimin lagi main perang kemerdekaan ya?”

“huh!”

Dibalik tragedi Mimin yang sedang berlatih perang kemerdekaan itu, perayaan 17 agustus bulan lalu selalu menyisakan kisah menarik buat kami. Ketika jalan di depan rumah dipercantik dengan umbul-umbul dan untaian bendera kertas merah putih silang menyilang. Saya sudah siapkan buluh bambu lalu bendera yang sudah dicuci-setrika-wangi dikeluarkan dari lemari. Kemudia dengan hati-hati saya ikat pada pagar rumah.

Tapi ada satu hal yang saya lupa. Pagar depan juga dipakai oleh mpus Koko, Ucup dan Mimin untuk bermain dan berlalu lalang. Iseng aja. Dari ujung kiri, ke ujung kanan. Dari tembok tetangga di sebelah kanan, meniti pagar dan hup! Melompat ke pagar tetangga di sebelah kiri rumah kami.

Saya kira hidup kami akan damai sentosa hingga akhir seperti dalam dongeng-dongeng itu lho  Ah..

Keesokan harinya. Pagi-pagi setelah urusan rumah selesai, saya pergi ke pasar. Belanja. Dan tak lama kemudian ketika saya kembali dan membuka pagar rumah.

Hmmm… ada yang aneh disini. Kenapa rumah terasa lengang? Kenapa tidak ada kucing yang melompat keluar dari jendela dan menyambut saya seperti biasa?

Mata saya berkeliling menyelidik. Dan ketika tiba pada bendera kesayangan kami. “Huaaaaaaaa…!” belanjaan di kiri dan kanan tangan terlepas dari pegangan. Bendera kami sudah berubah menjadi putih merah. Ihiks!

Kembali saya ingin menangis dibuatnya. Pasti Mimin deh tersangka utamanya. Mimin itu tipe kucing yang selalu ingin tahu. Saya curiga dia bermain-main lagi di pagar depan rumah, menarik benderanya dan hup! Putus deh ikatannya. Nggak heran sekarang sudah berubah warna.
“Duuuuh..! Mimiiiiin..Mimiiiiiin!”

Serpong 5 september 2009 20.02 (yang diomongin lagi maen ke rumah di ujung jalan)

Brondong next door itu bernama Anggy Giriawan

Dan mata saya menangkapnya. Anak ABG kurus kering bermata sayu. Memakai sandal jepit dan jaket tipis dengan bordir Consina di dada kiri. Entah bagaimana, bagai tersihir, saya pasrahkan si hitam manis –nama kamera saya- padanya.

Sore itu matahari sedang bersiap untuk tenggelam. Sayang rasanya kami lewati. Sayang juga kalau moment itu tidak kami abadikan, dengan kami-kami ini sebagai latar depannya. Ah..ini penyakit narsis tingkat tinggi rupanya. 

Lalu Emma sibuk memberi pengarahan kepada si jangkung, dan Suwasti mematut-matut kameranya pada si gempal. Tapi Anggy nampak nyaman dengan si hitam manis saya. Saya tak perlu berkomentar lagi. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Sabtu 8 agustus 2009, 17.15
Alhamdulillah, kami tiba di puncak. Daerah terbuka dan semak belukar disana-sini. Dataran tak terlalu luas namun dengan kelegaan sejauh mata memandang. Dan bangunan mungil bekas tower diatasnya. Menaranya sudah hilang. Hanya bangunan tembok berbentuk kubus bercat putih penuh graffiti. Tanpa daun pintu. Menjadi tempat bernaung anak-anak ABG itu. Yang tawa dan candanya jauh terdengar puluhan meter sebelum kami menjejakkan kaki di puncak itu. Yang kemudian kami tahu adalah anak-anak ABG dari  Cikajang. Jalur yang muncul dari arah barat.

Syukurlah, tidak sepi-sepi amat. Minimal kami ada teman disini. Menurunkan kerir dan dengan sukacita kami menjelajah di sekitar puncak di ketinggian 2821 meter.  Mematut-matut diri dengan langit yang sudah kemerahan.

Anggy naik dari Cikajang. Dia memang tinggal disana. Dari pertanyaan yang saya ajukan padanya, ia dan teman-teman mainnya memang sengaja datang kesini. Sayang tak membawa kamera. Seperti halnya pemuda desa setempat. Hanya dengan modal peralatan seadanya. Sarung, selimut, plastik terpal untuk alas tidur, panci emak di rumah, beras sekantung besar, dan kayu bakar yang saya tak tahu mereka dapat darimana. Memilih Cikuray untuk dikunjungi. Minggu depan libur panjang 17-an. Mungkin mereka berpikiran sama seperti kami. Minggu depan pasti penuh sekali dengan pendaki.

Dan malam itu kami memasang tenda  sedikit dibawah puncak, terlindung oleh semak-semak. Berganti pakaian. Memakai jaket tebal. Menyesap kopi hangat dan mulai menyantap makan malam kami. Malam itu cerah sekali. Terang bulan dan bintang di sekitar. Tiga ratus enam puluh derajat. Indahnya.

Minggu 9 agustus 2009, 06.00
Sudah terlambat sebenarnya jika ingin menantikan fajar. Semalam tubuh ini lelah luar biasa. Namun dengan perut terisi dalam tenda yang hangat, terobati sudah. Pagi itu saya keluar tenda. Menyerukan nama Suwasti dan Emma. Menyuruh mereka bangun. Saya bergegas kembali keatas. Anak-anak ABG itu sudah bangun rupanya.

“Pagiiiiiii!”

“Pagiiii Teeeeh” (catatan : teteh; bahasa sunda artinya kakak perempuan)

“Gimana tidurnya semalem? Kayaknya subuh-subuh sudah pada bangun ya?”

“Nggak bisa tidur Teh. Kedinginan”

Saya melongok sebentar ke bangunan itu. Iya. Pastinya. Berlindung di tempat terbuka. Diatas lantai dingin hanya beralas plastik. Tapi saya percaya, tubuh-tubuh mereka sudah terbiasa. Saya melirik Anggy. Tak seperti ketujuh temannya yang tak henti-hentinya berbicara. Ia berbeda, Tak lama kemudian Suwasti dan Emma datang bergabung. Kami merayakan pagi disini. Diatas awan.

Satu jam kemudian
Kami kembali ke tenda. Sarapan dan bersiap untuk turun. Rencana turun bersama mereka melalui Cikajang kami amini untuk dicoba lain kali saja. Kami sudah terlanjur berjanji dengan tukang ojek yang akan menjemput kami di pemancar TV sore nanti. Kami turun di jalur yang sama dengan jalur naik kami kemarin.

Dan Anggy turun menghampiri tenda. Ia pamit. Perlahan dan tanpa ekspresi berkata pada saya,

“Kalau boleh, minta foto untuk dipasang di facebook.”

“Lho? Kamu punya facebook?” Emma takjub. Segera dicatat alamatnya.

Saya nyengir “Saya nggak punya facebook, Nggy.  tapi saya janji, saya akan kirim cd isi foto-foto kalian”

Dan saya mengiringi langkahnya kembali ke atas. Misi saya kali ini, saya ingin memotretnya di puncak gunung. Sebagai ucapan terimakasih atas bantuannya kemarin sore. Dan setelah itu, mereka turun melalui jalur Cikajang.

Sayang saya nggak sempat ngobrol banyak dengannya. Melihat hasil jepretannya, saya yakin ia pernah belajar fotografi. Punya kamera, atau dia memang punya bakat terpendam. Ini diskusi kami bertiga. Hasil jepretannya bagus sekali. Angle yang dia ambil juga tidak biasa.

Kemudian kami melanjutkan sarapan. Sebentar lagi kami akan packing dan mulai turun. Kembali ke peradaban. Ah... belum turun pun saya sudah terlanjur rindu ingin kembali lagi kesini.

Foto-foto selengkapnya : cikuray ... anthem of the broken hearted

Serpong 5 september 2009; 15:45
(ntar malem sahurber KKC di rumahnya wangsa)

Thursday, September 03, 2009

satu (untuk) Indonesia




Pada suatu hari yang cerah, di lamandau, kebayoran baru, Jakarta pertengahan bulan lalu.
Mr. B : “gue nggak suka biker”
Saya : “kenapa?”
Mr. B : “berisik!”
Saya : *nyengir*

Memang berisik. Apalagi kalau sudah ngumpul. Tapi ada satu yang belum dilakukannya. Dia kan belum pernah ngumpul sama bro-bro yang badannya kayak beruang itu kan? Siap-siap aja sakit perut karena nggak kuat menahan tawa.  Tapi yang saya tidak suka adalah jam karetnya. Ampuuuuun deh. Janji jam 7 pagi. Baru ngumpul jam 10 siang. Apalagi kalau sudah dalam rombongan besar. Ihiks!

Itu sebabnya di hari kedua, kami memilih untuk pulang terlebih dahulu. Padahal saya ingin sekali mampir ke Kampung Naga. Mungkin belum berjodoh aja.

(touring Merdeka MiLYS 2009, 15-17 Agustus 2009 Gn. Galunggung & Kampung Naga, Tasikmalaya; Jadi boncenger ngikutin suami yang gabung di salah satu klub motor scorpio. Kayaknya sih lebih dari 60 motor yang ngumpul di Tasikmalaya hari itu. Beberapa teman dari Bandung, dari Garut dan dari Tasikmalaya turut datang merapat.  Menanam pohon di sekitar Gunung Galunggung dan berkunjung ke Kampung Naga menyalurkan bantuan minyak tanah. Selengkapnya mengenai  Mailing List Yamaha Scorpio

Tuesday, August 25, 2009

telur dadar with love

Apa menu buka puasa kami hari ini?

Hanya telur. Tapi tetap saja dibuat dengan penuh cinta. 

Sejengkel-jengkelnya saya, tetap saja saya membuatnya dengan sepenuh hati.

Ini dia namanya telur dadar with luuuuuv. Kocokan telurnya saya tambah dengan irisan bawang, daun bawang, sedikit parutan keju, garam dan merica secukupnya.

Lalu kenapa bisa begitu?

Nah, ini semua gara-gara tadi subuh waktu kami sahur. Suami saya kok nggak berselera makan. Padahal sejak pukul setengah empat saya sudah berkutat di dapur. Ingin menyiapkan nasi goreng ala chef hany yang terkenal itu. Lengkap dengan garnishnya yang cukup menggoda. Wortel, tomat dan buncis yang nyes nyes itu.

“Maaf ya Hany”

“huh! Gpp!”

“banyak ranjaunya” maksudnya cabe dan bawang merah.

“huh! Alasan!”

Padahal sejak hari pertama puasa sudah saya kerahkan seluruh daya upaya untuk menyiapkan ‘soto ayam cak Hany’ yang terkenal itu. Waktu berbuka di hari kedua, tangan saya sigap meracik cumi ungkep mentega yang hmmmm.. yummy, rasanya luar biasa. Di hari ketiga, ayam goreng berbumbu renyah ditambah dengan tumis brokoli yang manis asin begitu.

Huh.. saya kecewa. Dan di hari keempat bulan puasa ini saya (minta ijin untuk) mogok masak. 

Interogasi pun dimulai. Ternyata dikantornya, setiap waktu buka puasa. Ia dan teman-teman satu divisinya menyulap salah satu ruang meeting menjadi tempat mereka buka puasa. Membeli cemilan dua kantong plastik penuh. Membeli berjenis-jenis minuman segar. Dan mulai mengunyah hingga perut kekenyangan. Hmm.. pantes…

Ya sudah, demi menjaga mutu kualitas dan kemampuan memasak saya kali ini. Saya break dulu. Biarlah telur dadar cinta ini sebagai wakilnya. Tapi kalian pasti bertanya-tanya, “Gimana caranya?”

Ini sih gara-gara rajin jalan-jalan di supermarket dan nemu obralan barang-barang produk Jepang.

Hah? Jepang? Wah, saya jadi penasaran.

Sambil melihat-lihat dan mengaduk-aduk barang. Saya jadi berpikir. Kok kepikiran ya untuk membuat produk seperti ini?

Satu hal yang saya kagumi dari orang-orang Jepang ini adalah mereka itu amat sangat detail. Hingga yang saya anggap remeh temeh pun tetap mereka pikirkan . Hingga yang sekecil-kecilnya. 

Contohnya ya cetakan telor ceplok seperti ini. Yang lainnya? Hmmm… coba saya ingat-ingat. Ada saringan teh berbentuk bandul hati. Cetakan nasi kepal berbentuk rumah, mobil, ikan atau panda. *ini cocok juga untuk membujuk anak kecil supaya mau makan*

jaring untuk menyimpan pakaian, cup untuk mengikat kabel, rupa-rupa tuperware plastic untuk menyimpan makanan hingga pencetak es berbentuk bulat seperti kelereng. atau berbentuk tabung mungil sehingga bisa dimasukkan ke dalam botol minuman plastik kita. Bayangin, minum frestea dingin. Dengan es batu di dalamnya.

Widiiiih..

Dan coba saja perhatikan rumah mereka. Rapi, mungil dan multifungsi. Tatami bisa menjadi alas tidur. Lemari geser yang menyerupai dinding. Halaman rumah yang bahkan hingga ke ujung sudutnya sudah diperhitungkan dengan matang. Selalu rapi dan bersih. Dan orangnya nggak bisa diem. Inget kan banyak yang usianya tua hingga ratusan tahun?

Resepnya hanya satu. Gaya hidup sehat dan nggak stress. Artinya hingga setua itu, tubuh dan pikiran terus bergerak. Nggak pernah ada satupun waktu luang.

Walau sebenarnya saya juga ngeri. Etos kerja mereka gila-gilaan.  Saya sering dengar berita banyak yang bunuh diri karena di PHK atau karena tidak masuk universitas favorit.

Ah… saya sih lebih memilih melahap telur dadar with love ini deh. Bareng suami tercinta tentunya hehehehe…
 
Selamat berbuka puasa teman-teman :D
Serpong 24 agustus 2009 ; 19.49 (tumben mpus KIKI ada di rumah)
 

Monday, August 24, 2009

cikuray .. anthem of the broken hearted




Seingat saya, terakhir kali ke Cikuray sudah lebih dari 5 tahun lalu. Tapi rasa sendu itu tetaplah sama. Saya nggak tahu kenapa. Tapi begitu mencapai puncak dan memandang matahari yang bersiap untuk tenggelam. Rasanya saya tahu. Rasa sendu yang saya rasakan sejak tadi, mendadak hilang bersama redupnya matahari.  Mungkin perjalanan ini memang sudah ditakdirkan begitu dan saya nggak perlu bertanya lagi. Karena ada saatnya bertemu sama halnya dengan saat berpisah. Ini nyanyian saya untukNya.

Cikuray, 2821 mdpl 8-9 august 2009 along with my dearest sista 
Emma K.N.  and Suwasti and this trip also was inspired by Anthem For The Broken from Slank, peace bro!! turun dari Cikuray ternyata ada penangkapan "Noordin M. Top" ihiks! Nggak nonton TV :(

Bis AC ekonomi Jakarta-Garut @Rp 35,000; angkot 06 Garut-Cilawu (turun di Dayeuhmanggung) @Rp 4,000, ojek Dayeuhmanggung-pemancar @ Rp 30,000; bungkus nasi @ terminal Guntur, Garut @ Rp 10,000; jalur dari pemancar hingga puncak cukup jelas nyaris tanpa bonus dan terus menanjak, waktu tempuh antara 7-8 jam. Sulit mencari air, jadi disarankan bawa air yang banyak ya. Jika banyak pendaki, tidak banyak lokasi untuk ngecamp di sekitar puncak

Tuesday, June 09, 2009

koko dan ucup




ini dia kalo Koko dan Ucup lagi bobo siang. Koko -warna tabby, mata cokelat dan hidung merah tua- adalah kakak Ucup generasi kedua. Umurnya sudah satu tahun empat bulan. Sedangkan Ucup -warna putih dan merah- baru saja menginjak umur 9 bulan. Keduanya sama-sama kucing cowok yang amat cupu dan paling manja di rumah ini. Tadi siang, Koko datang bergabung. Melihat Ucup yang tidurnya nyenyak. Tak tahan dia untuk segera bergelung disamping Ucup.


serpong 9 juni 2009, 15.43

Monday, June 01, 2009

ketika jangkrik bernyanyi untuk Abah Iwan

Jujur. Saya iri pada serombongan jangkrik yang entah ngumpet dimana. Yang suaranya ramai ber-krik-krik-krik. … menimpali petikan gitar Abah Iwan malam itu. Menurut saya, malam itu Abah tidak bernyanyi untuk kami. Seratus lima puluh orang yang duduk diatas bangku kayu. Yang menggigil kedinginan tapi enggan untuk pergi.

Tapi ia menyanyi untuk beberapa bibit pohon cemara yang ia bawa. Untuk bintang-bintang yang entah bagaimana nampak riang di malam yang cerah itu. Dan juga menyanyi untuk pohon-pohon yang ada disana. Yang dalam imajinasi saya, sedang merunduk dan menyentuh bahu Abah melalui lengan rantingnya.

Malam itu, adalah malam puncak bagi seluruh peserta Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) batch II Pertamina. Kebetulan saya dikontrak untuk merekam kegiatan mereka selama seminggu penuh. Tiga hari pertama di dispsi AU, Halim, Jakarta dan tiga malam berikutnya di Tanakita , di Situgunung, Sukabumi.

Saya sampai ‘lupa’ kalau malam itu harus bekerja  dan hanya duduk di sayap kanan barisan depan. Dengan kamera tergantung di belakang, kedua tangan di saku jaket dan kaki membeku karena hanya memakai sandal.  Benar-benar lupa. Saya tersihir oleh senandung dan petikan gitarnya.

Katanya, setiap kali ia pergi ke suatu tempat, selalu saja ada yang meledak-ledak dan ingin ia bagikan. Semacam catatan perjalanan. Semacam curhat pribadi. Dan dengan lagu itu ia sampaikan.

Saya seperti mendapat insight. Bener juga. Saya bisa rasakan itu. Semacam kegelisahan yang ingin segera saya keluarkan. Bedanya saya lebih suka menulis atau saya lebih suka menjepretnya dalam bentuk gambar.  Tentang pohon, tentang hujan dan tentang kucing 

Paling tidak saya ingin seperti dia. Dapat membaginya kepada orang-orang (minimal yang ada) disekitar saya.  Melalui blog ini salah satunya.

Dan malam semakin larut. Melati dari Jayagiri segera disusul dengan lagu Akar, kemudian Burung Camar dan tiba-tiba saja, saya sudah ikut bergumam bersama penonton menyanyikan Mentari. *aih…ingat jaman ospek dulu*

Ah… yang saya ingat, seusai acara, dengan noraknya saya menghampiri Abah Iwan.

“Abah, boleh foto bersama?”

hahaha…. Dan dengan hangat ia memberikan senyuman yang meneduhkan itu ke hadapan kamera. Dan maaf Aki .. saya catut nama Aki agar bisa kenalan dengan Abah Iwan

Tanakita, 3 Mei 2009

Selengkapnya mengenai Abah Iwan
catatan seorang”sahabat” tentang Iwan Abdul Rachman
kegiatannya saat ini
Lagu-lagunya ada disini

and my fave song is :
Seribu mil lebih sedepa
 
;