Thursday, April 23, 2009

Bulu Matamu: Padang Ilalang




Bulu matamu: padang ilalang.
Di tengahnya: sebuah sendang.

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

Bulu matamu: padang ilalang.

Joko Pinurbo (1989)

puisi nan cantik ini saya pinjam dari : Joko Pinurbo ; ribuan puisi lainnya juga dapat dilihat disini : Celanasenjajokpin

tour de galunggung 10 April 2009 with my hubby, MJ with our dearest friends : Kukuh and Riam

Wednesday, April 22, 2009

namanya juga setan keder...hihihi....

“jangan-jangan, kita lagi diputerin sama setan keder nih” keluh Kukuh. Hihihihi… aku dan Joko, suamiku, tak dapat menahan tawa.

Barangkali dia sudah lelah dan bete. Sama Kuh! Aku juga begitu. Rasanya tujuan kami masih jauuuuuuh sekali. Mana jalannya tidak rata pula. Dan berlubang di sana-sini. Menjadi boncenger dan duduk manis dibelakang, bukanlah suatu posisi yang menyenangkan saat itu. Pegel bangeeet ooooooi…!

Apalagi motor kami penuh dengan beban. Box belakang dan kiri-kanan penuh dengan perlengkapan. Nah, apalagi kalau sudah menanjak. Kami berdua bahkan sudah membungkuk ala pemain motoGP. Berharap agar motor tidak terjungkal ke belakang.

Mana sempat saya motret. Walau tangan ini gatal rasanya ingin menjepret. Tapi sungguh, alam bumi priangan ini indah sekali. Sejauh mata memandang, bentangan sawah yang menghijau. Kelokan sungai di lembah sana. Tebing yang rimbun dengan pepohonan dan kadang *kalau beruntung* curahan air terjun di kelokan jalan. Bagaimana nggak indah?

“Coba deh perhatikan, setelah turunan (curam) ketemu dengan tanjakan (curam). Pasti ketemu rumah yang sama. Ada bengkelnya. Ada warungnya pula. persis sama, catnya putih!”

Hihihihi… dia frustasi. Sebagai forrijjder, aib besar bila salah jalan  Dia pinjam peta yang kubawa. Ditelusurinya lagi jalan yang kami tempuh barusan. Riam, teman seperjalanan kami yang lain, mengikutinya. “Gue nggak siap!” curhatnya. “Nggak nyangka bakal ketemu tanjakan dan turunan seperti ini”

Beberapa menit yang lalu, kami baru tiba di Bungbulang. Jauh di selatan kabupaten Garut. Seharusnya tadi, begitu melipir Gunung Papandayan kami berbelok ke utara, menuju Arjuna baru ke Santosa dan bukannya malah terus ke selatan dan mengitari gunung Kancana. Ke Cisewu dan baru ke utara menuju Pangalengan. So, here we are. In the middle of nowhere. Berhenti sejenak di salah satu warung yang buka.


“Huaaaaa!!!!”  Kukuh tak dapat menahan kekesalannya.

“yah, kalo nggak gitu, mana kita tahu tempat ini, Kuh” hiburku “Namanya juga petualangan” cieee.. hiburan ala si bolang.hihihi...

Kamis 9 april 2009 “‘the election day”

Jadi inget dua hari lalu. Kamis siang setelah nyontreng. Kami berempat berangkat dari meeting point di salah satu pom bensin di Cibubur Junction.  Jalanan masih sepi. Mungkin masih sibuk di TPS masing-masing. Mungkin juga karena ini hari libur nasional. Dan yang curi start untuk liburan sudah berangkat sejak tadi malam.

Alih-alih lewat puncak, kami pilih lewat Jonggol. Kukuh dan scorpio setannya (pssst… itu nama  motornya ya ) memimpin di depan. me, my hubby and si Malih, ini nama motor kesayangan kami, ada tengah, Sedang bro Riam dan si buluk (haiiyyyyaaah..) merapat di belakang.

(serius amat mbacanyaaa.. bersambuuuuuung yaaa)
sebagian kisahnya ada disini bulu matamu padang ilalang

Ada yang ingin kusampaikan… (maka dengarkanlah)

Saya ingin di hipnotis. Seperti yang saya lihat di acara talkshow-nya Oprah itu lho. Ada yang pernah nonton kan? Nah, saya dihipnotis lalu direkam di video kamera. Biar nanti waktu sadar, saya tahu dan paham, apa sih yang selama ini mengganggu benak saya.

Tapi ongkos ke psikiater nggak murah ya? Apa biayanya bisa direimburse ke asuransi?  Hmm… atau saya minta tolong si Romy aja yah? (hihihi.. sok kenaaal) minta dihipnotis sama Romy Raphael. Itu lho, magician yang sedang kondang itu. Tapi tanpa di’permalu’kan di depan umum ya. Hasil obrolan kami teteeeeup kami simpan. Off the record!!

Saya percaya bahwa mimpi juga sebagai salah satu bentuk penyaluran alam bawah sadar. Itu cara dia berkomunikasi dengan alam sadar saya. Sebagian besar memang tak dapat saya ingat ketika saya bangun. Sekeras apapun saya usahakan . Tapi ada beberapa yang begitu membekas dan saya ingat. Termasuk pagi ini. Memang sudah banyak hilang detailnya. Dan urut-urutan ceritanya. Tapi, hei… emangnya ini film? Mimpi saya nggak pernah runut dan jauh dari logika kok.

Nah, Mumpung masih inget, saya tulis aja mimpi saya semalam. Buat catatan aja, rekaman. Mungkin suatu hari saya akan paham kenapa.

Dalam mimpi saya, kami –saya dan seorang teman- berpapasan dengan seseorang di masa lalu saya. Wajahnya, perawakannya, dan senyumnya masih sama seperti terakhir kali saya melihatnya. Bajunya warna oranye. Anehnya, dia sedang memanggul pikulan. Berat sekali.

Ia tunjukkan tangan dan kakinya yang melepuh. Mungkin karena pekerjaannya yang sekarang ini.  “(rasanya sekarang) jauh lebih lega. Ini semacam penebusan buat saya” katanya. Saya iri.  Saya diam. Justru teman saya yang kelihatannya senang berjumpa dan tak henti mengajaknya bicara.

Tapi walau begitu, pertemuan kami rasanya aneh sekali. Tanpa kata-kata kami seperti sedang saling mengirim sinyal “aku menyesal“"aku minta maaf”  dan I don’t know what to say” Aku masih memandang sayang kepadanya. Sekaligus sedih, sekaligus menyesal dan bilang “selamat ulang tahun ya. Tanggal 20 kemarin kan?” sambil mengulurkan tangan memberi selamat.

Dan kemudian mereka terus bercakap. Aneh. Sepertinya saya menganggu mereka berdua. Maka saya pamit meninggalkan mereka di belakang.

Itu saja sih ceritanya. Endingnya memang sedih. Tapi begitu saya bangun dan mulai ritual pagi. Sikat gigi, cuci muka, menyapa kucing-kucing saya satu persatu. Dan kemudian menjerang air, membuat kopi dan menyiapkan semangkuk mie rebus untuk suami tercinta.  Kepala saya tak henti memeras otak. Dan bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa?

Rasanya saya mulai tahu. Ini semacam ucapan perpisahan saya untuknya. Semacam ucapan bahwa pelan-pelan saya mulai melepaskannya. Dan mengucapkan selamat tinggal. Sebuah kerelaan. Bahwa hidup memang terus ke depan. dan saya serahkan ia pada dirinya sendiri. Saya bukan siapa-siapa lagi baginya.


Serpong 07.06 21 April 2009 (sambil denger lagu ‘kecewa’nya BCL. Ditemani mpus Pippy, di ruang musim panas kami <---ruang tamu yang memang lagi disinar matahari pagi. mungkin ntar siang googling tafsir mimpi aaah…
ilustrasi dipinjem dari sini : www.cactusmountain.com

Friday, April 17, 2009

listriiiiiiik!!!!!!

Kalau saya perhatikan, tiap pertengahan bulan pasti ada satu petugas PLN maaf saya lupa tanya namanya- yang rajin keliling mencatat meteran listrik rumah di komplek kami. 

Kadang-kadang saya kasihan juga melihatnya. Orangnya sudah tua. Kadang hari hujan, kadang matahari terik sekali. Sambil mendorong motor bututnya, berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain.

Sering yang punya rumah tidak tahu kalau dia datang. Atau tak bisa dicatat karena si pemilik tak ada di rumah. Kalau sudah begini, tangannya akan terjulur dan –berharap- dapat menjepret meteran listrik dengan kamera digital yang dibawanya.

Nah, tadi dia datang dan membawa kartu meteran PLN yang baru.
“Dipasang ya, Bu” katanya sambil mengaitkan kartu  itu di box meteran listrik rumah kami.

 “Soalnya kalo nggak dipasang, saya bisa diomelin bu!”
“oooo”

Setelah dipasang lalu ia potret angka kwh listrik rumah kami.

“suka di sidak” lanjutnya lagi. (sidak : inspeksi mendadak)
“Ya bagus dong, Pak”

Kemudian ia pamit keluar dan mendorong pintu gerbang.

“Bapak sudah tau, sistem prabayar PLN? Yang pake voucher itu lho pak” sahut saya sambil mengantarnya ke depan.

“Tau bu”
“Wah, kerja Bapak lebih mudah dong ya. Nanti bapak nggak perlu repot tiap bulan datang  untuk catat”
“Lah.. nanti saya nggak ada kerjaan dong Bu”

Duh. Saya salah ngomong yak?

“ehmmm… nanti kan bapak naik jabatan. Jadi boss…” hehehe.. saya ngeles kayak bajaj.

Sambil mendorong motornya, dan pindah ke rumah sebelah ia berdoa.“amiiiiin.. mudah-mudahan, Bu”

Ah…dilema, desah saya dalam hati. Sambil mengunci pintu pagar, sayup-sayup masih saya dengar suaranya mengetuk pagar tetangga.

“listriiiiik!”

Serpong 17 april 2009 20.50

Sekilas tentang listrik prabayar : http://www.antara.co.id/arc/2008/1/17/pln-luncurkan-listrik-prabayar/

Sedang testimoninya ada disini : http://lovefiez.multiply.com/journal/item/19 dan http://katroboy.wordpress.com/2008/10/31/listrik-prabayar-dari-pln/

Friday, April 03, 2009

Imuuuut.....! Please deeeeh!!

Masih inget si Imut kan? Itu lho kucing Pak RT tetangga sebelah rumah kami.

Nah, akhir-akhir ini dia benar-benar menguji kesabaran dan ketabahan saya. Sejak yang bersangkutan

*caila.. gaya
nya udah kayak pejabat aja* nggak di kasih makan lagi sama bu RT. Kerjaannya tiap hari kelayapan ke rumah-rumah tetangga. Termasuk rumah saya. Apalagi disini ada mangkuk mpus yang stand by 24 jam penuh.

Tapi kan itu untuk kucing di rumah ini. Mpus Imuuuuut! Yang notabene gaya makannya seperti putri keraton. Jatah makan pagi aja, bisa dimakan dalam 2 atau 3 kali kesempatan. termasuk si Pippy, yang jam 10 pagi sudah duduk manis menghadap lemari hitam, minta jatah cemilan sehatnya 

Saya kan harus berhitung. Mana si Imut rakus sekali. Whaduh, kalau dibiarkan terus, uang belanja bulanan bisa tekor deh.

Padahal Imut tahu betul, kehadirannya disini, tak di restui. Si Mimin contohnya. Setiap kepala imut nongol di pintu pagar, tanpa ampun langsung di kejarnya.

Dan saya lelah sekali karena harus mengubah kebiasaan di rumah ini. Setiap kali kucing-kucing selesai makan, mangkuk sisanya harus saya simpan agar tidak di makan imut. Kan kasihan, si Koko atau Kiki nggak bisa makan lagi.

Yang ajaib sih begitu jam makan tiba. Entah darimana, kok si Imut tau aja. Dia sudah nongkrong di pintu belakang, berharap dapat jatah makan.

Ah.. sebenarnya saya kasihan. Tapi kata suami saya, nggak boleh dibiasakan. Nanti, dia akan terus makan disini. Saya juga nggak mau. Apalagi kalau ingat, betapa mudahnya bu RT menghentikan jatah makannya si Imut.

“Herannya lagi Bu. Sejak saya nggak pernah kasih makan lagi, si Imut bisa keliling sendiri kok cari makanan” kata Bu RT,  waktu pagi-pagi kami ngobrol sambil belanja di tukang sayur yang lewat.

“oh.. begitu ya Bu” sahut saya hambar.

Iya, dan cari makannya di rumah saya, Buuuuu. Please deh! Jerit saya dalam hati.

Oh… kalau saya tidak ingat bahwa dulu saya pernah berhutang budi pada Bu RT, pasti sudah saya buat permohonan tertulis rangkap tiga. Meminta dengan sangat agar dia menjaga kelakuan kucingnya itu.

Arrrgh!.. saya memang pengecut… tok..tok..tok..petoooooook….

Serpong, 3 Apri 2009; 09.04 (tau deh.. mpus-mpus pada kemanah)

Menurut saya, punya hewan peliharaan di rumah itu juga suatu komitmen. Mereka juga berhak mendapat makanan, perlindungan dan kasih sayang. Dan bukan berarti begitu mereka bosan atau tak sanggup memberi makan, lalu dicuekin begitu aja.  Ihiks! Malang benar nasibmu Imuuuut!

Wednesday, April 01, 2009

walau matamu seperti buto ijo, dan tampangmu kayak cakil, aku tetap cinta kamu Joni

Joni itu kucing yang cerdas. Saya tahu itu. Dari kecilnya aja, saya nggak pernah kerepotan mengajarinya untuk pup dan pis di luar, menyuruhnya naik tangga Joni, ketika ia nyemplung ke kapling belakang atau duduk manis saat makan tiba dan bahkan menggaruk-garuk pintu karena ingin masuk kamar.

Semua kode yang ia berikan, saya pahami. Semua miaunya saya mengerti. 

Kadang saya nggak habis pikir, Joni itu kucing atau anjing sih? Kok ekornya kerap bergoyang jika saya panggil namanya. Barangkali dia tahu kalau namanya Joni. Dan dia juga tahu kalau saya sedang sedih. Entah dari mana, tiba-tiba dia datang menemani. Dia juga tahu kalau saya sedang sakit. Datang dan tidur di ujung kasur, menunggui saya.

Dan sayalah yang akan menangis jika ia sakit. Pernah suatu malam, ia tak mampu bergerak. Terlentang di lantai. Hanya ekornya saja yang bergerak lemah waktu saya panggil namanya. Pernah berhari-hari  nggak nafsu makan. Badannya lemas, bulunya kusam. Saat itu yang saya ingat hanyalah :

“Kamu nggak boleh menyerah mpus. Kita berdua tidak akan menyerah”

Rasanya cukup saya melihat kematian mpus Ndut, Mpus Tommy, Uci dan Kunyit di rumah ini.

Tapi kali ini, saya sedih luar biasa. Tak sanggup lagi membendung air mata. Jum’at malam itu, seperti biasa, setelah makan malam, Joni nongkrong di kolong si biru. Entah darimana, tiba-tiba sudah terdengar suara kucing yang heboh bertengkar dan masuk ke dalam rumah.

Yang saya ingat, saya keluar kamar dan mengejar si kucing garong hingga keluar rumah. Sayang tidak terkejar. Pintu pagar sudah di gembok pula. Sudah lama si garong ini mengincar Kiki. Tapi yang saya temukan di rumah hanya tetesan darah. Duh!

Tidak ada Kiki. Hanya ada Joni yang meringkuk di atas box laundry dekat kamar mandi. Nafasnya pendek-pendek. Mulutnya mengaga, karena tak dapat bernafas dari hidung. Hidungnya tersumbat karena terus menerus mengeluarkan darah. Mata kanannya bengkak, selaput matanya tergores. Dagunya luka. Dan yang paling parah, rahangnya bergeser ke kiri.

 Oh Joniiiii…..

Saya benci si kucing garong itu. Mungkin karena Joni sudah di steril, jadi dia kalah telak dari si kucing garong. Joni itu kucing rumahan.

Tiga hari pertama, tak ada satupun makanan yang nyangkut di lambungnya.  Kalau tidak saya paksa minum susu dan bubur bayi yang saya campur dengan obat. Kerjanya hanya tidur. Bulunya kusam. Matanya tak bercahaya. Saya khawatir dia sudah nggak punya semangat untuk hidup lagi.

Hari berikutnya, dia sudah mau turun dari tempat tidurnya. Ikut datang ke dapur belakang ketika waktu makan tiba. Joni sudah mulai mau makan. Walau masih mengecap dari telapak tangan saya. Dan satu lagi, Joni jadi manja sekali. Kalau malam, dia pasti tidur melingkar dekat lengan kanan saya dan tak terbangun hingga pagi hari.

Dan kemudian  luka-lukanya mulai mengering. Rajin saya bersihkan biar nggak infeksi. Bulunya juga saya lap setiap hari. Tapi mata kanannya masih keruh dan bengkak. Kelopak matanya masih sulit ditutup. Rahangnya bergeser kekiri. Gigi taringnya tidak sejajar lagi.

“Mungkin joni harus pake kawat gigi, Hany” kata suami saya.

“huhuhuhuhu..!” masih aja dia bercanda. Ini kan situasi genting.

Mungkin dia akan cacat seumur hidup. Tapi walau matamu seperti buto ijo, dan tampangmu seperti cakil. Aku tetap cinta kamu Joni.

Serpong, 1 april 2009, 14:44 (sekarang, sudah 15 hari setelah kejadian itu. Walau badannya sedikit kurus, matanya cacat dan tampangnya seperti cakil, Joni sudah sehat kok, foto diatas, foto sebelum kejadian)

Luv u my lil bro..!




Namanya Oki Imam Dipraja. Dia adik bungsu saya. Nama Dipraja diambil dari nama kakek kami almarhum.  Akhir maret lalu, umurnya tepat 23 tahun. Selisih sehari dengan hari ulang tahun saya. Ya. Kami memang berdekatan. Sama-sama berbintang aries. Sama-sama shio macan. Dan sama-sama keras kepala

“Kapan mau nikah Ki?”
“Kalau udah jadi Kapten” *maksudnya, kalo pangkatnya udah kapten*

Lulusan akmil 2007 lalu. Sekarang dinas di Armed 10, Bogor. Pangkatnya letda (letnan dua) dan menjabat sebagai Danton (komandan Pleton) yang membawahi sekitar 30 orang anak buah. Hmmm…..ada di piramida paling bawah, karir militernya masih panjang.

“kegiatan sekarang ngapain Ki?”
 “Tenis. Berkebun. Tanam jamur. Lumayan kalo dijual”

Jadi tentara di masa tenang ini memang butuh improvisasi. Setelah dipotong sana-sini gaji bersih tak sampai 1,2 juta perbulan. Padahal masih butuh pulsa buat telpon yayang dan mama di Cimahi. *yup! Dia memang anak mami*

Kemarin, karena kangen, diantar suami, saya sidak ke tempatnya. Setahun ini dia nggak bisa pergi kemana-mana. Bahkan untuk pulang ke rumah orang tua kami di Cimahi. Tinggal di barak, karena tiga bulan terakhir, rumah dinasnya dipinjam atlet taekwondo yang sedang latihan.

“Pengen makan apa Ki?”

Ini bentuk rasa sayang saya padanya. Ngerayain ultah bareng.  Maka di siang yang panas itu, kami beriringan menuju Bogor kota. 

“Pengen makan Mc D mbak. Udah lama nggak makan McD”

Luv u my lil bro..!

Serpong 1 april 2009, 13.13

dilarang buang kucing disini

Masih inget si Malih? Anak kucing yang dibuang orang dan ditinggalkan orang di depan rumah kami minggu lalu?

Nah, kemarin waktu saya selesai belanja di abang sayur yang lewat depan rumah. Abim dan sepupunya, Aceng, anak tetangga yang semula ikut ibunya belanja sayur, akhirnya datang dan main ke rumah.

Rupanya mereka senang melihat ada kucing kecil berbulu gondrong (baca: si malih) yang lagi berjemur panas pagi di lengan sofa dekat jendela depan.

“ih.. ada kucing angora” kata Abim.
“kucing darimana sih tante?” tanya Aceng.

Sambil meletakkan belanjaan di kulkas dan membawa ikan mentah untuk dibersihkan di dapur, maka berkisahlah saya mengenai kucing kecil malang yang kami temukan di depan rumah.

Tiba-tiba Aceng bilang.

“itu kan kucing yang kak Anggi dan kak Billa bawa kemaren. Mereka kok yang naruh kucing itu di depan rumah tante” *Anggi dan Billa itu kakak perempuan mereka*

Saya diam dan balik bertanya.

“lho? Kalo gitu apa maksudnya?” dan mulailah mulut saya yang bawel ini tak dapat dihentikan. Saya esmosi saudara-saudara.

“it’s not fair!” *for me maksudnya* “Kalo Anggi dan Billa yang nemuin kucing, ya mereka dong yang pelihara. Itu nggak bertanggung jawab namanya. Jadi kalo bosen, dan nggak mau pelihara, semua kucing ditaruh di depan rumah tante? Begitu?” Nada suara saya mulai tinggi.

Aceng terdiam. Memang untuk ukuran bocah, saya lihat dia jauh lebih dewasa dari usianya. Sedang Abim, seakan tak peduli. Dia lebih asyik bermain dan mengejar kucing-kucing saya yang lain.

Setelah itu, saya tinggalkan saja mereka di ruang tamu. Saya pergi ke belakang untuk mengolah ikan yang baru dibeli tadi.

Saya masih kesel tauuuuu. Mungkin sudah waktunya saya pasang pengumuman : dilarang buang kucing disini.


Tapi lama-lama, saya jadi malu sendiri. Untuk apa marah-marah sama mereka berdua. Toh, mereka nggak salah apa-apa. Cuma kebetulan aja ‘ketiban sial’ akibat pagi ini datang ke rumah dan membocorkan rahasia perihal asal muasal kucing kecil ini.

Tiba-tiba sayup-sayup saya dengar kedua anak itu pamit.

“pulang dulu ya Tanteeee”

Saya buru-buru keluar dan mengantar mereka hingga pagar depan. Saya nggak marah lagi. Sambil nyengir saya bilang.

“iyaaaaa… makasih ya udah mampiiiiir”

Hahaha.. duuuh.. dasar. Ibu-ibu ganjen.. hahaha…

*serpong, 16 maret 2009; 19.39*

Tuesday, March 31, 2009

Steril itu pilihan

Steril itu pilihan. Itu kata saya lho. Ah… mungkin saya sedang cari pembenaran  Tapi, sungguh. Ketika jumlah kucing peliharaanmu mulai bertambah dari waktu ke waktu, dan kamu mulai  kerepotan, mulai kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka satu persatu. Hmmm… menurut saya sih, sudah waktunya.


Buat saya, untuk ambil langkah itu, diperlukan kemauan untuk membuka pikiran. Open mind. Berani mencoba menerima perubahan. Masih ingat program pemerintah era Soeharto? Program KB itu lho. Dulu untuk menghimbau orang untuk ber-KB rasanya susahnya luar biasa. Betul nggak? Tapi lihat sekarang.

Atauuuuuu….. yang baru-baru ini deh. Program pemerintah untuk beralih dari minyak tanah ke gas? Whaduuuuh.. kok ya rasanya susah mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Padahal itu membuat hidup jauh lebih mudah. Memang butuh waktu sih.


Ngomongin hidup lebih mudah, saya jadi ingat ibu saya. Dulu ia nggak mau pakai mesin cuci.”Cucian nggak bersih!” katanya. Mendingan cara tradisional. Rendam, sikat dan bilas. Tapi saya, si manusia keren era millennium ini , keturunan satu generasi dibawahnya, lebih suka pakai mesin cuci.

Alasannya sederhana, karena cepat dan praktis.  Walau pada kenyataannya, sekarang ibu saya masih menggunakan kombinasi keduanya. Mesin cuci dan cuci ala tradisional itu. Saya mau bilang apa. Namanya juga pilihan. Ya nggak? Terserah masing-masing deh.


Kembali ke persoalan steril. Teman saya nggak setuju waktu saya cerita akan mensteril semua kucing peliharaan saya. Katanya, saya menentang mother nature. Mengebiri hak asasi binatang untuk bereproduksi. Tidak berperikekucingan. Dan semua kata-kata mutiara lainnya. Semua saya telan dengan cengiran.

Argumen saya, dianggap tak masuk akal. Ingin menekan populasi kucing? “Huh.. mulia sekali anda.  katanya. Padahal, apa dia mau pelihara tiga ekor anak kucing sekaligus? Apa dia mau pelihara delapan kucing sekaligus?  Atau dia mau mengadopsi setiap anak kucing yang berkeliaran di jalan?

Yang menyedihkan sih, komentar ayah saya. Alkisah, bulan lalu saya pulang ke rumah. Waktu itu saya pamer foto-foto kucing saya di rumah. Begitu ia melihat  foto si mpus pasca operasi steril, mendadak ia kehilangan gairah untuk meneruskannya. Dan bilang “pantes aja. Barangkali kamu kena karma. Belum bisa punya anak karena kucing-kucingmu disteril semua”

“Wuuuuuihhhh… deeeeeeepp!” sahut saya dalam hati. Tapi lagi-lagi si anak bengal ini penasaran. Suara hati harus disampaikan toh. Maka, kembalilah teori-teori mengenai kucing yang terus bertambah.

Tidak berhasil.

Maka, “apa setiap anak kucing yang lahir harus dibuang?”
“ya.. pilih kucing cowok dong”
“dan yang cewek dibuang?”
“eeee……”
ayolah Paaa…. Open mind sedikit deh. *hihihi.. ni anak sotoy banget ya*
“ya enggak… “
“terus?”

Ayah saya diam. Dan kalau dia sudah diam. That’s it. End of conversation. Tapi saya diam aja. Mungkin dia sedang mikir. Sekali lagi. Memang butuh waktu. Sama seperti ibu saya dan mesin cucinya.  Tapi saya nggak tahu dengan teman saya yang satu ini. Padahal, dia juga pelihara seekor kucing lho.

 “Ya dibuang aja, Ries!”
“Lah? Apa dasarnya?”
“Toh ada teori survival. Siapa yang bertahan, dia yang akan terus hidup.”
“Dengan membuang kucing di pasar?”
“Iya”
“aku nggak tega”

Bukannya sama aja. Terori survival yang saya maksud adalah dengan menekan populasinya. Populasi yang cukup laaaah. Supaya jumlah orang yang mau pelihara kucing dan jumlah makanan yang tersedia bagi  mereka tetap seimbang. *ceileeeee… tingkat tinggi nih*

Dengan mensteril kucingku, aku nggak perlu repot mencari orang untuk adopsi kucing, atau repot-repot harus membuang kucing ke pasar kan? Atau gini aja deh. Sebagai manusia yang berakal, aku mewakili kucingku untuk mengambil keputusan untuk mereka. Demi kesejahteraan mereka *analogi yang rada maksa sih sebenernya*

“pokoknya kamu orang yang kejam, Ries”
“maksud lo?”
“tidak berperikekucingan”

Ah.. sutra lah… buat saya, steril itu pilihan. Mana tega saya membuang anak kucing yang baru lahir. Lebih baik saya steril saja induknya. Populasi kucing di rumah tetap tidak bertambah. Dan konsentrasi saya tentu bisa full untuk kucing-kucing tersayang.

Saya harap, orang juga mulai berpikir begitu. Kasihan kan ngeliat anak kucing yang dibuang di pasar, atau di jalan yang meong-meong kelaparan? Kasihan juga kan ngeliat banyak kucing tua yang sakit di tepi jalan karena nggak mampu mencari makan. Atau kucing yang mati karena ditabrak mobil di tengah jalan?


Apa kamu tega?


Serpong 30 maret 2009; 14.16 (sebenernya topic tentang steril kucing ini udah mengendap sejak setahun lalu. Baru bisa ditulis hari ini deh)

Wednesday, March 25, 2009

antara suami, ulang tahun dan tabung gas

“Hany”

“Ya?”

“Sudah saya putuskan.”

“Apa?”

“Uang beli gas tadi. Nanti saya ganti. Jadinya, hany tetep bisa ngerayain ulang tahun”

“Hiks!”

“Emang kamu punya uang?”

“Yaaah.. ada-lah.”

“Bukan dari ngutang kan?”

“Ya bukan lah. Ini uang jajan saya. (uang beli makan dan bensin).”

“Hiks! Makasih ya. Aku kira, nggak jadi ngerayain ulang tahun.”

“dadaaah..”

“daaah”

Klik! .. tuuuuuut….tuuuuuut…


Serpong 24 maret 09 13.31

(tadi beli gas untuk masak di dapur. Satu tabung Rp 78,000, pake uang terakhir yang ada di dompet. Makluuum.. akhir bulan *nyengir mode on*)




Monday, March 16, 2009

tau aja kalau namanya malih!

Namanya Malih. Intonasi pengucapan namanya seperti nama orang betawi asli. Maliiiiiiiiih!  kira-kira umurnya sih baru sebulan. Bulunya halus dan panjang. Warnanya seperti mpus Pippy, kombinasi hitam putih. Matanya abu-abu dan hidungnya sedikit pesek.

Persis seminggu yang lalu, ketika kami baru tiba di rumah. Tepat ketika saya sedang membuka pintu pagar, ia ada di depan rumah. Walau ekor mata saya masih sempat menangkap Anggi dan Billa -anak tetangga sebelah- yang tiba-tiba berhenti main di taman depan dan masuk kedalam rumahnya. Saat itu konsentrasi saya penuh pada kucing malang ini. Tampak lemas dan tak berdaya.

“Mana emakmu Mpuuuus?”

Kasihan sekaligus  kesal karena lagi-lagi, pasti ada orang yang membuang anak kucing di depan rumah. Tega sekali. Dan ia pasti tahu, mana tega saya biarkan kucing kecil ini sendirian.

Tanpa saya sempat meminta persetujuannya, suami saya bilang,

 “ yah sudah, ambil aja Hany, anggap aja pengganti si kunyit”

hiks! Terharu. Mungkin suami saya melihat mata saya dan mata si malih yang melihatnya dengan pandangan ala mpus in the boots seperti di film shrek itu lho. Hihihihi…..Uh, I really luv my hubby… ai lop yu loooooh…..  Maka, nama Malih pun kami berikan padanya.

Hari itu juga, kami mandikan kucing kecil ini. Takjub aja. Udah lama kami nggak punya kucing kecil. Rasanya, ritualnya punya mpus kecil terulang kembali deh. Mengajari makan dan minum sendiri, mengajarinya pup dan pis di luar rumah, pengawasan ketat kekita dia mulai main
keluar rumah, mengajarinya lompat naik dan turun dari jendela depan, selalu periksa kolong mobil kalau kami akan keluarkan si biru, termasuk merescue-nya kalau dia naek atap rumah dan nggak bisa turun lagi



Duh, setelah dimandikan baru ketahuan kalau badannya kuruuuuuuuuuus sekali. Dan kutunya, yaolooooo… ada satu kampung kaleeeeee. Banyak banget. Dan operasi pemusnahan kutu-pun digelar saat itu juga. Gemes deh. Dan setelah bulunya kering dan disisir rapi, si Mali pun mulai belajar makan dan minum susu dari mangkuk merah (pinjamam) milik mpus Kiki.

Hari pertama, si mali masih susah minum susu. Untuk makanannya, sengaja saya belikan whiskas for kitten, masih harus disuapin. Dan seharian hanya ngumpet di bawah meja printer. Pup-nya masih di pojokan kulkas. Masih dimusuhin sama mpus-mpus yang lain.

Hari kedua, mulai tahu kalau pagi hari saya buka pintu belakang, dia akan lari kesana dan pup atau pis dengan leganya. Hihihi..mulai bisa makan sendiri di mangkuk birunya. Sekarang mau nongkrong di sofa ruang tamu. Walau masih ngumpet di balik bantal sofa. Masih belum mau diajak main. *umpan kertas yang saya ikat di lidi, terus digoyang-goyang gitu lho* mpus Ucup sudah mulai ‘memandang penuh minat’ –maksudnya udah ngeh.. “ih.. ada kucing kecil ini toh.- Dan saya udah tau, dimana aja tempat persembunyiannya. Di kolong meja printer, di balik bantal sofa, di dekat mesin cuci, atau di rak lemari buku.

Hari ketiga, si malih secara mengejutkan, ikutan ngumpul ke ruang belakang. Ketika waktu makan mpus-mpus tiba. Walau mangkuknya kadang-kadang di dorong Ucup, hidungnya ditampol  Pippy. atau badannya disergap  Joni. Dia memang tabah. Pup dan pis tetap di halaman belakang. Dia udah tauuuu… masih susah minum nih. Saya udah siapin dot –dari bekas tempat tetes mata- harus dipaksa minum. “ntar dehidrasi lho mpuuuuus”

Hari keempat, mulai berani ke halaman depan. Ngumpet di belakang pot bunga. Dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Keluar rumah lagi. Dan masuk lagi ke dalam. Di kejar Ucup. Dan ngumpet lagi masuk ke balik bantal sofa. Juga udah mau main pancingan kertas yang saya buat dua hari sebelumnya.Kasian juga. Nggak punya temen seumuran. Sama seperti Ucup dulu ketika melewati masa kecilnya. Sendiriaaaaan…

Si Malih ini juga suka miau-miau –yah.. miau-miau skala kucing kecil laaaah- saat waktunya makan tiba. Oiya, sebagai catatan ya. Dari delapan ekor kucing yang tinggal di rumah ini. Hanya Ucup seorang. Eh.. seekor. Yang suaranya super cempreng dan nyaring. Yang lain mah, diem-diem aja. Tenang-tenang aja. Makan dengan tenang. Berbaris dengan tenang. Tapi kalau ucup. Hah! Kalah deh, penyanyi tenor sekalipun.

Hari kelima, udah tau kalau namanya Malih. Nih, kalau saya panggil. Pasti deh.. sekonyong-konyong dia muncul. Ngikutin terus kemana saya pergi. *nah loh.. calon centeng baru nih* ngejar-ngejar sapu atau lap pel setiap saya bersihkan rumah di pagi hari. Badannya mulai berisi. Kalau dipegang, tulang belakangnya sudah tidak terasa tajam lagi. Mungkin dia sudah mulai mengumpulkan lemak di balik mantel bulunya itu kali ya. Perutnya bunciiiiiit deeeh. Tergila-gila dengan makan siangnya. Sedikit demi sedikit, menu makannya sudah saya samakan dengan kucing lainnya. Ikan cue dan sedikit nasi. *atau kalau lagi akhir bulan, ikan cue dan banyak nasi.. hihihihi..maap ya puuuus..uang belanjanya tinggal sedikiiiit*

Hari keenam, dia udah bisa asah cakar miau di spot-spot tertentu. Yah.. tempat mpus Pippy n Joni biasa mengasah kukunya. Posisi tidurnya sudah mulai free style. *terlentang, terbalik, meringkuk, dan sumpah.. kadang-kadang saya melihat senyumnya tersungging di bibirnya. Halah!  Dan ini yang saya seneng. Udah mau minum sendiri dari mangkuk minum bersama yang ada di dekat mesin cuci. Good.. good…!

Lho? Mana si Malih?
Maliiiiiih…! Maliiiiiiiiiiiih…!
Ih.. nongol dia.
Tau aja kalo namanya Malih..

Serpong, 16 maret 2009; 16.06 (kemaren ada badai. Ada tiang listrik n pohon tumbang di jalan ciater)

Wednesday, February 25, 2009

mpus 'cupu'

masih inget KOKO kan? Nah, bulan ini kucing jantan yang super manja ini umurnya genap satu tahun lho.

Masih hobi miau-miau sambil menggigit lembut tumit kaki saya jika ada yang ingin ia sampaikan. contoh :
  1. saya pengen digendong
  2. saya lapar mau makan
  3. saya pamit mau maen ke halaman belakang
  4. saya mau curhat

Hmmm yang terakhir ini agak sulit. Soalnya kalau saya tanya dengan bahasa manusia, jawabannya sudah tentu hanya meow-meow manja.

Bicara soal cari perhatian. Ada satu lagi kebiasaannya yang kalau diperhatikan, lucu juga sih.

Begini ceritanya.

tiap pagi biasanya saya membuka pintu pagar dan mengantar suami yang akan pergi ke kantor. rupanya, para asisten kecil saya ini turut berhamburan keluar rumah. Ceritanya sih, nganter with styleeeee......

Ada yang sibuk mandi kucing, ada yang sedang maen petak umpet, ada yang melompat ingin menangkap belalang dan -ini yang paling spesial- ada yang sedang makan rumput. hahaha...

Nah, kalau si KOKO, pasti lagi nongkrong di tembok pagar dan  jalan mondar-mandir diatasnya.

Dan begitu saya menutup pintu pagar, Hap! Kaki depannya pasti mencolek-colek rambut saya.

hwaduuuuuh!!! dasar mpus iseng!

lalu, kenapa namanya jadi mpus Cupu? nah, itu ada kisahnya lagi.

Begini. Di komplek kami, ada kucing garong yang badannya super kekar, bermata garang, dan berbulu belang hitam putih. Sebenarnya yang diincarnya di rumah ini hanya mpus Kiki seorang.. eh.. seekor ding. Kiki memang kucing cewek yang manis.

Entah kenapa, hari itu mood-nya lagi nggak bagus. Mau ngapelin Kiki, kok malah Koko yang nongol.


Kontan Koko dikejar dan ditampolnya.

Koko yang malang. Dia menciut ketakutan dan lari ke dalam rumah meminta pertolongan. dan siapa lagi yang dicari kalau bukan saya. Yang maju.membawa sapu dan meng-hus-hus kucing garong itu.

Ah.. dasar..

Kucing cowok kok cupu sekali sih, mpus!

serpong, 25 februari 2009, 13.05 wib (foto diatas adalah foto KIKI dan KOKO, Kiki yang berhidung pink, sedang Koko yang berhidung hitam..tam..tammm)
 
;