Tuesday, March 31, 2009

Steril itu pilihan

Steril itu pilihan. Itu kata saya lho. Ah… mungkin saya sedang cari pembenaran  Tapi, sungguh. Ketika jumlah kucing peliharaanmu mulai bertambah dari waktu ke waktu, dan kamu mulai  kerepotan, mulai kehilangan waktu untuk memperhatikan mereka satu persatu. Hmmm… menurut saya sih, sudah waktunya.


Buat saya, untuk ambil langkah itu, diperlukan kemauan untuk membuka pikiran. Open mind. Berani mencoba menerima perubahan. Masih ingat program pemerintah era Soeharto? Program KB itu lho. Dulu untuk menghimbau orang untuk ber-KB rasanya susahnya luar biasa. Betul nggak? Tapi lihat sekarang.

Atauuuuuu….. yang baru-baru ini deh. Program pemerintah untuk beralih dari minyak tanah ke gas? Whaduuuuh.. kok ya rasanya susah mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Padahal itu membuat hidup jauh lebih mudah. Memang butuh waktu sih.


Ngomongin hidup lebih mudah, saya jadi ingat ibu saya. Dulu ia nggak mau pakai mesin cuci.”Cucian nggak bersih!” katanya. Mendingan cara tradisional. Rendam, sikat dan bilas. Tapi saya, si manusia keren era millennium ini , keturunan satu generasi dibawahnya, lebih suka pakai mesin cuci.

Alasannya sederhana, karena cepat dan praktis.  Walau pada kenyataannya, sekarang ibu saya masih menggunakan kombinasi keduanya. Mesin cuci dan cuci ala tradisional itu. Saya mau bilang apa. Namanya juga pilihan. Ya nggak? Terserah masing-masing deh.


Kembali ke persoalan steril. Teman saya nggak setuju waktu saya cerita akan mensteril semua kucing peliharaan saya. Katanya, saya menentang mother nature. Mengebiri hak asasi binatang untuk bereproduksi. Tidak berperikekucingan. Dan semua kata-kata mutiara lainnya. Semua saya telan dengan cengiran.

Argumen saya, dianggap tak masuk akal. Ingin menekan populasi kucing? “Huh.. mulia sekali anda.  katanya. Padahal, apa dia mau pelihara tiga ekor anak kucing sekaligus? Apa dia mau pelihara delapan kucing sekaligus?  Atau dia mau mengadopsi setiap anak kucing yang berkeliaran di jalan?

Yang menyedihkan sih, komentar ayah saya. Alkisah, bulan lalu saya pulang ke rumah. Waktu itu saya pamer foto-foto kucing saya di rumah. Begitu ia melihat  foto si mpus pasca operasi steril, mendadak ia kehilangan gairah untuk meneruskannya. Dan bilang “pantes aja. Barangkali kamu kena karma. Belum bisa punya anak karena kucing-kucingmu disteril semua”

“Wuuuuuihhhh… deeeeeeepp!” sahut saya dalam hati. Tapi lagi-lagi si anak bengal ini penasaran. Suara hati harus disampaikan toh. Maka, kembalilah teori-teori mengenai kucing yang terus bertambah.

Tidak berhasil.

Maka, “apa setiap anak kucing yang lahir harus dibuang?”
“ya.. pilih kucing cowok dong”
“dan yang cewek dibuang?”
“eeee……”
ayolah Paaa…. Open mind sedikit deh. *hihihi.. ni anak sotoy banget ya*
“ya enggak… “
“terus?”

Ayah saya diam. Dan kalau dia sudah diam. That’s it. End of conversation. Tapi saya diam aja. Mungkin dia sedang mikir. Sekali lagi. Memang butuh waktu. Sama seperti ibu saya dan mesin cucinya.  Tapi saya nggak tahu dengan teman saya yang satu ini. Padahal, dia juga pelihara seekor kucing lho.

 “Ya dibuang aja, Ries!”
“Lah? Apa dasarnya?”
“Toh ada teori survival. Siapa yang bertahan, dia yang akan terus hidup.”
“Dengan membuang kucing di pasar?”
“Iya”
“aku nggak tega”

Bukannya sama aja. Terori survival yang saya maksud adalah dengan menekan populasinya. Populasi yang cukup laaaah. Supaya jumlah orang yang mau pelihara kucing dan jumlah makanan yang tersedia bagi  mereka tetap seimbang. *ceileeeee… tingkat tinggi nih*

Dengan mensteril kucingku, aku nggak perlu repot mencari orang untuk adopsi kucing, atau repot-repot harus membuang kucing ke pasar kan? Atau gini aja deh. Sebagai manusia yang berakal, aku mewakili kucingku untuk mengambil keputusan untuk mereka. Demi kesejahteraan mereka *analogi yang rada maksa sih sebenernya*

“pokoknya kamu orang yang kejam, Ries”
“maksud lo?”
“tidak berperikekucingan”

Ah.. sutra lah… buat saya, steril itu pilihan. Mana tega saya membuang anak kucing yang baru lahir. Lebih baik saya steril saja induknya. Populasi kucing di rumah tetap tidak bertambah. Dan konsentrasi saya tentu bisa full untuk kucing-kucing tersayang.

Saya harap, orang juga mulai berpikir begitu. Kasihan kan ngeliat anak kucing yang dibuang di pasar, atau di jalan yang meong-meong kelaparan? Kasihan juga kan ngeliat banyak kucing tua yang sakit di tepi jalan karena nggak mampu mencari makan. Atau kucing yang mati karena ditabrak mobil di tengah jalan?


Apa kamu tega?


Serpong 30 maret 2009; 14.16 (sebenernya topic tentang steril kucing ini udah mengendap sejak setahun lalu. Baru bisa ditulis hari ini deh)

Wednesday, March 25, 2009

antara suami, ulang tahun dan tabung gas

“Hany”

“Ya?”

“Sudah saya putuskan.”

“Apa?”

“Uang beli gas tadi. Nanti saya ganti. Jadinya, hany tetep bisa ngerayain ulang tahun”

“Hiks!”

“Emang kamu punya uang?”

“Yaaah.. ada-lah.”

“Bukan dari ngutang kan?”

“Ya bukan lah. Ini uang jajan saya. (uang beli makan dan bensin).”

“Hiks! Makasih ya. Aku kira, nggak jadi ngerayain ulang tahun.”

“dadaaah..”

“daaah”

Klik! .. tuuuuuut….tuuuuuut…


Serpong 24 maret 09 13.31

(tadi beli gas untuk masak di dapur. Satu tabung Rp 78,000, pake uang terakhir yang ada di dompet. Makluuum.. akhir bulan *nyengir mode on*)




Monday, March 16, 2009

tau aja kalau namanya malih!

Namanya Malih. Intonasi pengucapan namanya seperti nama orang betawi asli. Maliiiiiiiiih!  kira-kira umurnya sih baru sebulan. Bulunya halus dan panjang. Warnanya seperti mpus Pippy, kombinasi hitam putih. Matanya abu-abu dan hidungnya sedikit pesek.

Persis seminggu yang lalu, ketika kami baru tiba di rumah. Tepat ketika saya sedang membuka pintu pagar, ia ada di depan rumah. Walau ekor mata saya masih sempat menangkap Anggi dan Billa -anak tetangga sebelah- yang tiba-tiba berhenti main di taman depan dan masuk kedalam rumahnya. Saat itu konsentrasi saya penuh pada kucing malang ini. Tampak lemas dan tak berdaya.

“Mana emakmu Mpuuuus?”

Kasihan sekaligus  kesal karena lagi-lagi, pasti ada orang yang membuang anak kucing di depan rumah. Tega sekali. Dan ia pasti tahu, mana tega saya biarkan kucing kecil ini sendirian.

Tanpa saya sempat meminta persetujuannya, suami saya bilang,

 “ yah sudah, ambil aja Hany, anggap aja pengganti si kunyit”

hiks! Terharu. Mungkin suami saya melihat mata saya dan mata si malih yang melihatnya dengan pandangan ala mpus in the boots seperti di film shrek itu lho. Hihihihi…..Uh, I really luv my hubby… ai lop yu loooooh…..  Maka, nama Malih pun kami berikan padanya.

Hari itu juga, kami mandikan kucing kecil ini. Takjub aja. Udah lama kami nggak punya kucing kecil. Rasanya, ritualnya punya mpus kecil terulang kembali deh. Mengajari makan dan minum sendiri, mengajarinya pup dan pis di luar rumah, pengawasan ketat kekita dia mulai main
keluar rumah, mengajarinya lompat naik dan turun dari jendela depan, selalu periksa kolong mobil kalau kami akan keluarkan si biru, termasuk merescue-nya kalau dia naek atap rumah dan nggak bisa turun lagi



Duh, setelah dimandikan baru ketahuan kalau badannya kuruuuuuuuuuus sekali. Dan kutunya, yaolooooo… ada satu kampung kaleeeeee. Banyak banget. Dan operasi pemusnahan kutu-pun digelar saat itu juga. Gemes deh. Dan setelah bulunya kering dan disisir rapi, si Mali pun mulai belajar makan dan minum susu dari mangkuk merah (pinjamam) milik mpus Kiki.

Hari pertama, si mali masih susah minum susu. Untuk makanannya, sengaja saya belikan whiskas for kitten, masih harus disuapin. Dan seharian hanya ngumpet di bawah meja printer. Pup-nya masih di pojokan kulkas. Masih dimusuhin sama mpus-mpus yang lain.

Hari kedua, mulai tahu kalau pagi hari saya buka pintu belakang, dia akan lari kesana dan pup atau pis dengan leganya. Hihihi..mulai bisa makan sendiri di mangkuk birunya. Sekarang mau nongkrong di sofa ruang tamu. Walau masih ngumpet di balik bantal sofa. Masih belum mau diajak main. *umpan kertas yang saya ikat di lidi, terus digoyang-goyang gitu lho* mpus Ucup sudah mulai ‘memandang penuh minat’ –maksudnya udah ngeh.. “ih.. ada kucing kecil ini toh.- Dan saya udah tau, dimana aja tempat persembunyiannya. Di kolong meja printer, di balik bantal sofa, di dekat mesin cuci, atau di rak lemari buku.

Hari ketiga, si malih secara mengejutkan, ikutan ngumpul ke ruang belakang. Ketika waktu makan mpus-mpus tiba. Walau mangkuknya kadang-kadang di dorong Ucup, hidungnya ditampol  Pippy. atau badannya disergap  Joni. Dia memang tabah. Pup dan pis tetap di halaman belakang. Dia udah tauuuu… masih susah minum nih. Saya udah siapin dot –dari bekas tempat tetes mata- harus dipaksa minum. “ntar dehidrasi lho mpuuuuus”

Hari keempat, mulai berani ke halaman depan. Ngumpet di belakang pot bunga. Dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Keluar rumah lagi. Dan masuk lagi ke dalam. Di kejar Ucup. Dan ngumpet lagi masuk ke balik bantal sofa. Juga udah mau main pancingan kertas yang saya buat dua hari sebelumnya.Kasian juga. Nggak punya temen seumuran. Sama seperti Ucup dulu ketika melewati masa kecilnya. Sendiriaaaaan…

Si Malih ini juga suka miau-miau –yah.. miau-miau skala kucing kecil laaaah- saat waktunya makan tiba. Oiya, sebagai catatan ya. Dari delapan ekor kucing yang tinggal di rumah ini. Hanya Ucup seorang. Eh.. seekor. Yang suaranya super cempreng dan nyaring. Yang lain mah, diem-diem aja. Tenang-tenang aja. Makan dengan tenang. Berbaris dengan tenang. Tapi kalau ucup. Hah! Kalah deh, penyanyi tenor sekalipun.

Hari kelima, udah tau kalau namanya Malih. Nih, kalau saya panggil. Pasti deh.. sekonyong-konyong dia muncul. Ngikutin terus kemana saya pergi. *nah loh.. calon centeng baru nih* ngejar-ngejar sapu atau lap pel setiap saya bersihkan rumah di pagi hari. Badannya mulai berisi. Kalau dipegang, tulang belakangnya sudah tidak terasa tajam lagi. Mungkin dia sudah mulai mengumpulkan lemak di balik mantel bulunya itu kali ya. Perutnya bunciiiiiit deeeh. Tergila-gila dengan makan siangnya. Sedikit demi sedikit, menu makannya sudah saya samakan dengan kucing lainnya. Ikan cue dan sedikit nasi. *atau kalau lagi akhir bulan, ikan cue dan banyak nasi.. hihihihi..maap ya puuuus..uang belanjanya tinggal sedikiiiit*

Hari keenam, dia udah bisa asah cakar miau di spot-spot tertentu. Yah.. tempat mpus Pippy n Joni biasa mengasah kukunya. Posisi tidurnya sudah mulai free style. *terlentang, terbalik, meringkuk, dan sumpah.. kadang-kadang saya melihat senyumnya tersungging di bibirnya. Halah!  Dan ini yang saya seneng. Udah mau minum sendiri dari mangkuk minum bersama yang ada di dekat mesin cuci. Good.. good…!

Lho? Mana si Malih?
Maliiiiiih…! Maliiiiiiiiiiiih…!
Ih.. nongol dia.
Tau aja kalo namanya Malih..

Serpong, 16 maret 2009; 16.06 (kemaren ada badai. Ada tiang listrik n pohon tumbang di jalan ciater)

Wednesday, February 25, 2009

mpus 'cupu'

masih inget KOKO kan? Nah, bulan ini kucing jantan yang super manja ini umurnya genap satu tahun lho.

Masih hobi miau-miau sambil menggigit lembut tumit kaki saya jika ada yang ingin ia sampaikan. contoh :
  1. saya pengen digendong
  2. saya lapar mau makan
  3. saya pamit mau maen ke halaman belakang
  4. saya mau curhat

Hmmm yang terakhir ini agak sulit. Soalnya kalau saya tanya dengan bahasa manusia, jawabannya sudah tentu hanya meow-meow manja.

Bicara soal cari perhatian. Ada satu lagi kebiasaannya yang kalau diperhatikan, lucu juga sih.

Begini ceritanya.

tiap pagi biasanya saya membuka pintu pagar dan mengantar suami yang akan pergi ke kantor. rupanya, para asisten kecil saya ini turut berhamburan keluar rumah. Ceritanya sih, nganter with styleeeee......

Ada yang sibuk mandi kucing, ada yang sedang maen petak umpet, ada yang melompat ingin menangkap belalang dan -ini yang paling spesial- ada yang sedang makan rumput. hahaha...

Nah, kalau si KOKO, pasti lagi nongkrong di tembok pagar dan  jalan mondar-mandir diatasnya.

Dan begitu saya menutup pintu pagar, Hap! Kaki depannya pasti mencolek-colek rambut saya.

hwaduuuuuh!!! dasar mpus iseng!

lalu, kenapa namanya jadi mpus Cupu? nah, itu ada kisahnya lagi.

Begini. Di komplek kami, ada kucing garong yang badannya super kekar, bermata garang, dan berbulu belang hitam putih. Sebenarnya yang diincarnya di rumah ini hanya mpus Kiki seorang.. eh.. seekor ding. Kiki memang kucing cewek yang manis.

Entah kenapa, hari itu mood-nya lagi nggak bagus. Mau ngapelin Kiki, kok malah Koko yang nongol.


Kontan Koko dikejar dan ditampolnya.

Koko yang malang. Dia menciut ketakutan dan lari ke dalam rumah meminta pertolongan. dan siapa lagi yang dicari kalau bukan saya. Yang maju.membawa sapu dan meng-hus-hus kucing garong itu.

Ah.. dasar..

Kucing cowok kok cupu sekali sih, mpus!

serpong, 25 februari 2009, 13.05 wib (foto diatas adalah foto KIKI dan KOKO, Kiki yang berhidung pink, sedang Koko yang berhidung hitam..tam..tammm)

saya masih sebel sama si pencuri helm itu

"helm saya hilang, hany" katanya ketika saya membuka pintu pagar untuknya.

"diambil orang?" tebak saya. Kalo dia lupa meletakkan helm, saya sih nggak perlu kaget lagi

"iya"
"dimana?"
"di mesjid"
"di daerah mana?"
"di deket ambasador"

hmmmm.. ya sudah. Di rumah masih ada helm cadangan. Tapi saya ngeri membayangkan ia harus menempuh jalan sejauh itu menuju rumah.

TANPA HELM !

Saya menyumpahi orang yang mencuri helmnya.

"Tapi saya nggak mau mendoakan yang buruk untuknya" katanya sambil mengunci motornya.

"lho? kenapa?" saya nggak habis pikir.

"mudah-mudahan helmnya dipakai. Biar dia nggak kenapa-kenapa kalau naek motor di jalan" ia tersenyum.

"iya, semoga helm curiannya melindungi otaknya yang ketinggalan di rumah itu"
tukas saya cepat, sambil mengikutinya masuk ke dalam rumah saya  bersungut-sungut.

Saya masih sebel sama si pencuri helm itu.

serpong, 25 feb 2009 10.51 (hari yang cerah di serpong)

Thursday, January 22, 2009

ampun DJ... suami saya lupa akut !

Sepertinya nggak ada yang bisa mengalahkan suami saya deh untuk yang satu ini. Yaitu : LUPA MENYIMPAN KUNCI MOTOR.

Pagi setiap akan berangkat ke kantor, nggak sekalipun ia pergi dalam keadaan aman dan tentram. jadi gemes saya dibuatnya.
 
“Kunci motor saya dimana ya Hany?”

Dan mondar-mandir di dalam rumah.  Yang kena berkah, siapa lagi kalau bukan saya seorang. Ikut sibuk mengaduk-ngaduk dan mencari di setiap tempat yang saya curigai.

“Coba diinget-inget lagi. Tadi waktu buka gembok motor, terus kemana?”

“Kalo saya tau, nggak mungkin tanya doooong”

Mulai deh, debat kusir tak berkesudahan. Uh!

Padahal sistemnya sudah saya buat sedemikian rupa. Di lemari hitam dekat ruang tamu, sudah saya siapkan keranjang kecil untuk semua perkakasnya. Mulai dari sarung tangan, dompet, HP dan kunci motor tentunya. Jadi, kalo pulang kantor, tinggal di cemplungin aja ke keranjang itu. Simpel kan?

Nggak hanya itu. Sistem itu sudah saya lengkapi pula dengan sistem monitoring yang super ketat. Nih, saya beritahu ya. Ketika dia masuk rumah, pasti saya ikuti dan selalu saya awasi, apa dia sudah menyimpannya di dalam keranjang.
Tapi nggak setiap malam saya bisa berperan sebagai satpam kan?

Dan hari demi hari pun berganti. Kesibukan mencari kunci motor tak pernah terlewatkan. Kadang sih, saya diamkan aja kalau dia mulai sibuk mondar-mandir dan mencari kunci. Atau saya pura-pura sibuk di belakang. Hehehe…

Pernah juga dia mulai panik berat, karena terancam telat masuk kantor karena kunci motor nggak ketemu.

Kadang-kadang, kuncinya saya temukan di atas kursi, diatas tv, di meja dapur. Yang paling parah, setelah jungkir balik nyari kunci motor, ternyata barangnya ada di dalam saku bajunya sendiri. Aduuuuuuh…!

Pernah suatu hari saking kesalnya, hingga depan pagar rumah pun masih saya omeli  dia dengan nada dua oktaf.

“Disiplin dooooong. Setiap pulang kantor, kunci motor langsung di cemplungin ketempatnya. Kan capek kalo tiap pagi harus begini terus.”

Sebelnya, suami saya hanya nyengir. Sambil memundurkan motor dan keluar dari pintu pagar dia berbisik :

“Nanti, pasang paku di lemari. Khusus untuk nggantung kunci motor”

Ah, saya nggak jadi marah. Dan langsung terdiam. Kenapa nggak dari dulu terpikir oleh saya ya? Hihi…

Nah, apakah penyakit lupa akutnya mendadak sembuh sesudahnya?

Tentu tidak saudara-saudara. Paku itu tetap saja menjadi hiasan di lemari hitam kami.  Dan kunci motornya, selalu saja, secara ajaib menghilang setiap pagi. Kadang-kadang aja sih, kalo dia inget, pulang kantor, kunci motornya digantung disana. Tapi selebihnya, seperti biasa. Lupa!

Nah, kalau sudah begitu. Kembali lagi deh, omelan saya setiap pagi karena ikut sibuk mencari kunci motor. Dan kalau sudah begitu, sambil tersenyum suami saya selalu berkata :

“saya mungkin pelupa, Hany. Tapi saya nggak mungkin lupa sama istri saya yang cantik ini”

Uh! Gombal! Nggak jadi marah deh…

Serpong 21 januari 2009, 22.08 (ini juga lagi nunggu yayangnya pulang, ditemenin Joni, Pippy dan Koko yang pada pengsaaaaaan semuaaaaa)  

Wednesday, January 21, 2009

a lone biker




sekarang saya tahu rasanya jadi boncenger :) ngikutin suami yang touring bareng klub motornya : mailing list yamaha scorpio -MiLYS- akhir tahun lalu. Trip ke Bali 27 des - 4 januari 2009

Wednesday, November 26, 2008

Dan kuburan itu bertabur bunga kamboja

Kemarin, saya masih melihatnya bermain-main di sekitar taman di depan rumah. Tampang kucing kecil itu kumal sekali. Umurnya tak lebih dari dua bulan. Dua  warna. Mirip mpus Imut *kucing milik pak RT*

Entah darimana dia muncul. Sepertinya sih dari gang sebelah. Waktu pagi itu seusai belanja sayur, saya melihat anak lelaki ‘sepertinya’ hendak menangkap kucing kecil ini. Bisa jadi ia datang kesini karena godaan ikan segar yang dibawa tukang sayur yang mangkal di dekat taman. Atau juga, seperti yang sering saya alami, orang meninggalkannya di depan pagar rumah saya.

Diantara kesibukan saya, mencucibaju-menjemur-dan-menyetrika pakaian hari itu. Masih saya lihat tingkah polah kucing kecil ini. Kadang ia merengek mengikuti Kiki, ingin ikut masuk ke dalam rumah. Atau memandang penuh harap agar diajak bermain oleh mpus Kunyit dan mpus Ucup.

Dan kemudian melahap sisa makan mpus yang saya sengaja saya berikan untuknya. Mengeong rakus karena lapar dan kemudian tidur terlentang di dekat pagar karena kekenyangan.

Ketika malam menjelang, masih saya amati ia berjalan dan bermain sendirian di rumah sebelah. Hingga miau-miaunya yang nyaring mulai terdengar sayup dari telinga saya. Ah, kalau besok ia mampir lagi ke rumah, mungkin sudah takdir kami berdua *saya dan kucing kecil itu maksudnya* untuk hidup together forever.. sudah pasti  ia akan menjadi bagian keluarga besar kucing di rumah ini.

Tapi pagi, tubuhnya ditemukan tergeletak di trotoar rumah sebelah. Ah.. sedihnya.

Serpong 26 november 2008, 13.16 hari ini mendung dan berangin.

*pemakamannya dihadiri oleh anak-anak tempat saya tinggal. Di bawah pohon. Di taman depan. Selamat jalan ya Mpus. Mungkin sekarang ia sedang berlari-lari di padang rumput. Di surge sana *

Friday, November 21, 2008

apa kaitan antara pohon, senam taichi dan taman kota ya?

Pernah lihat pohon menteng? pohon bintaro? Beringin Sabre, Meranti, pohon sosis afrika?  Nggak perlu jauh-jauh ke Kebun Raya Bogor. Main-mainlah ke Serpong. Di kawasan tempat saya tinggal saat ini, ada satu tempat yang namanya TAMAN KOTA. Paru-parunya kota BSD. Luasnya sekitar 2,5 Ha.

Yang saya suka disini adalah.. pohonnya banyak sekali.  ada sekitar 60 jenis tanaman dalam 2500 pohon. tempatnya cozy sekali. Ada tempat bermain anak, tempat makan, toilet umum, bangku untuk duduk, dan yang pasti, ada jogging tracknya. Whaaaah….sambil lari sambil lihat-lihat pohon!! *uh...I love it*

Nah, kalau bicara mengenai kegiatan, tempat ini nggak pernah sepi. Contohnya saja : Senam Taichi (seminggu tiga kali) dan senam aerobic (seminggu dua kali) digelar rutin setiap minggunya.

Kemarin pagi, setelah sekian lama akhirnya bisa juga ikutan senam Taichi di taman kota. ini pertama kalinya saya ikut. Akibat telat datang, saya berdiri di barisan belakang  dan dengan gerakan kikuk mengikuti gerakan instruktur. 

“hitungan pertama, tarik nafas mbak. Hitungan kedua, dikeluarkan”  Bapak  bersahaja yang ada di samping kanan memandu saya. *Nyengir* Rasanya, saya peserta termuda hari ini. Di sekeliling saya, oma opa yang umurnya rata-rata sudah berumur diatas 60 tahun, nampak serius mengikuti gerakan yang dicontohkan.

"menggapai rembulaaaaaaaan"
"mendorong ombaaaaaaaaak"

aih.. asyik juga.

Selama kurang lebih satu jam. Akhirnya senam ini selesai sudah. Kami semua bertepuk tangan. *ah.. inget waktu TK* Tshirt saya basah oleh keringat.  Duh! menguras tenaga juga rupanya. Rasanya seperti baru selesai jogging 5 kilometer jauhnya Salut deh dengan komunitas mereka. Walau sudah sepuh, semangat dan staminanya jauh melebihi saya.

Gara-gara senam ini, saya kok jadi berkhayal. Andai tempat seperti ini dibangun lebih banyak lagi. Nggak usah membuat taman seluas monas, senanyan atau menteng. Cukuplah taman kecil di setiap daerah pemukiman.

Saya jarang melihat taman yang benar-benar ‘hidup’ dan dapat berinteraksi langsung dengan warganya seperti tempat ini. Taman kota sekaligus tempat rekreasi, tempat olahraga, kegiatan warga, pendidikan dan paru-paru dan resapan kota. Apa mungkin karena jarang dibangun pemerintah setempat, dan mungkin juga karena mereka  lebih tertarik membangun mall daripada taman.

Tiba-tiba.

“ibu-ibuuuu… bapak-bapaaaak… Sabtu besok , jangan lupa kaosnya dipake yaaa"

(kaos = t shirt seragam)

“iyaaaaa” *deuuu.. kompak ni yeee*

“ biar nggak hilaaang” tersipu-sipu.

 “acaranya, senam pagi bersama, berkunjung ke taman bunga, beli oleh-oleh roti unyil di bogor, dan karaokean sampe puwaaaaas”

“yahooooo!!!” seruan riang terdengar disana-sini.

yaelah, rupanya mau jalan-jalan ke puncak. Sambil tersenyum geli, saya  meninggalkan kerumunan dan meneruskan jalan pagi saya. Apalagi kalau bukan menyapa pohon-pohon yang ada disana. Hmmmm….

Serpong, 21 Nopember 2008 ; 15.34

Info terkait silakan lihat disini :
http://www.bsdcity.com/thecity_csr.aspx)
http://www.serpong.org/2007/12/16/taman-kota-bsd-oase-diakhir-pekan-bersama-keluarga/

hap! lalu ditangkaaaap....

Di tengah kekalutan saya akibat jumlah kucing yang terus bertambah di rumah ini, dulu saya pernah berharap,  agar  Koko hilang saja.

Mungkin nyasar atau diculik orang. Yang penting, jumlah kucing di rumah ini berkurang satu. Bagi saya, Koko kecil tampangnya jelek sekali. Dibanding saudara kandungnya, si manis Kiki yang manja  atau si hitam Mimin yang rajin berkebun.

Tapi anehnya, walau sudah hilang berkali-kali, seperti :

1.    Lupa pulang karena betah bermain di rumah besar yang ada di ujung jalan
2.    ikut naik gerobak tukang sayur dan nggak tau jalan pulang
3.    tak terhitung jumlahnya, melompat tembok turun ke kapling belakang dan tak bisa naik kembali.

Kucing ini tetap saja bisa pulang ke rumah. Well, karena pulang sendiri atau saya rescue juga karena nggak tega. Ternyata saya masih sayang dengan kucing ‘jelek’ ini

Kalau ingat itu, rasanya berdosa sekali. Ah.. Maafkan kelakuan saya, Koko.


Hari ini Koko genap berumur sembilan bulan.  Di usianya yang belum setahun ini, sudah tak terlihat lagi wajah kanak-kanaknya. Raut wajahnya sudah melebar nyaris seperti beruang. Badannya mulai memanjang dan berotot. Maklumlah, cowok. 

Tapi dibanding Kiki yang suka bermain jauh, Koko justru lebih betah tinggal di rumah. Bener-bener kucing rumahan deh.

Yang tak pernah berubah adalah kebiasaanya tidur tengkurap dan kelakuannya setiap malam tidur bergelung di dekat saya. Dan kalau manjanya tiba, miau-miau berkeliling rumah mencari saya. menggigit pelan-pelan tumit kaki saya. Dan Hap! Lalu ditangkaaaaap .. hahaha….!


(serpong, 21 Nopember 2008 09.28; yang diomongin, lagi bobo di kamar )

moral of the story is : kalo suka jangan sampai terlalu suka. kalo benci , jangan terlalu benci. kalo kata vety vera mah.. "yang sedang-sedang sajaaaah .." hahaha...

Friday, November 14, 2008

si gendut Pippy

“si gendut lagi ngapain?” tanya suami saya siang itu. Siang hari memang kebiasaanya untuk telpon ke rumah.

“Tau tuh kemana. Tadi sih lagi jaga pos di jendela depan” jawab saya.

Gendut itu nama kesayangan untuk Pippy. Rasanya dulu tubuhnya tidak segendut ini deh. Mungkin sejak disetril pertengahan juni lalu, nafsu makan (dan tidurnya ) gila-gilaan apalagi ditambah dengan jarang olahraga. (stop press : jalan kaki keliling taman depan bareng saya dan suami)















Selain tubuhnya yang sekarang gendut, sifatnya yang bossy juga tetap nggak berubah. Ibarat dunia mafia di Italia sana, si Pippy ini boleh dibilang godmothernya rumah ini. Nggak ada yang berani melawan, termasuk suami saya pun ‘segan’ dibuatnya.

Kalau pagi pintu kamar saya buka,  Pippy langsung masuk membawa pasukannya *kadang-kadang si Joni dan Koko* duduk di perut suami saya dan miau-miau bernada cempreng tepat di telinga. Membangunkan kami  dengan nada lima oktaf dan menuntut sarapan tepat pada waktunya. *yaelah mpuuus, kalo mau demo sekalian aja bawa spanduk *

Kemarin pagi ketika saya belanja di abang sayur yang lewat di depan rumah, Pippy yang biasanya ikut mengawal saya berbelanja, tiba-tiba sudah ada di ujung jalan. Mendekati anak kucing ABG yang dengan tampang bloon datang bergabung. Akhir ceritanya sudah dapat ditebak, si ABG lari tunggang langgang dikejarnya tanpa ampun. Duh Pippy…!!!

Sebenarnya edisi kejar-kejaran itu tidak cukup hanya sampai disitu saja. Kalau isengnya lagi kumat, semua kucing yang ada di rumah ini, dikejarnya hingga kehabisan nafas. Walau sebenarnya kalau sudah ditangkap, biasanya dengan semangat ia jilati muka dan kuping mereka satu persatu.
Oh… dikejar untuk disuruh mandi kucing rupanya.  Ini  rupanya yang dikangenin suami saya. Pernah suatu pagi sebelum ia berangkat ke kantor, melapor dengan takjub kepada saya :

“hany, semua mpus diuberin si Pippy” lah, baru tahu dia. (diuberin=dikejar)











Namun nggak selamanya si Pippy galak bin jutek kok. Kalau lagi manja, kerjaannya mengikuti saya kemana pun saya pergi. Biasanya sih dia ingin digendong dan di elus-elus punggungnya. Ah, kalau sudah begini sih, nggak ada lagi yang dapat saya perbuat selain mengangkatnya dan menggendongnya berkeliling rumah. Tapi Pippy, nggak bisa lama-lama ya. Badanmu beraaaaaat sekali.

Nah, bicara mengenai pos jaga. Pos jaga favoritnya adalah lengan sofa yang ada di dekat jendela depan. Kalau sudah begitu, bisa berjam-jam ia betah nongkrong disana, sambil mengawasi jalan dan kucing-kucing yang lewat di depan rumah. Mungkin juga karena adem kali ya, secara dekat dengan jendela yang anginnya smiring aduhai begitu.

Saya sih seneng-seneng aja. Punya kucing sekaligus satpam. Pantas saja, sekarang nggak pernah ada kucing iseng yang tak dikenal mampir ke rumah. Baru menginjakkan kaki di pintu pagar saja, langsung diburu oleh Pippy. Mana ada yang berani kalau begitu.

Tapi kalau urusan tidur, Nah, nah…. kalau sudah waktunya tidur siang, tak seekor kucing pun yang boleh tidur di kursi kayu dekat kulkas. Haram hukumnya.  Tapi  Pip, kalau dengan posisi terlentang seperti itu …ah, rasanya segala citra diri sebagai kucing yang patut disegani, patut dipertanyakan deh.


Serpong 13 nov 2009 , 10:03 (pagi yang cueeeeraaaaaaah…..si mimin lagi bobo deket monitor)

Tuesday, November 04, 2008

Jangan ditendang dooooong!!!

Saya maklum, tidak semua orang suka dengan binatang. dan saya juga nggak mungkin berharap bahwa mereka juga harus suka. Tapi bukan berarti boleh di lempar dengan batu, kaaaan?

Nggak tau kenapa, saya kok selalu bertemu dengan tipe orang seperti ini ya ?

Minggu lalu contohnya, ketika saya dan suami jalan-jalan sambil bergandengan tangan dan mengobrol dengan mesra *tersipu-sipu* hingga blok sebelah.

Jangan kaget lho, seperti biasa, kucing-kucing peliharaan kami pasti akan turut serta mengikuti dari belakang. Memang nggak bisa rapi sih barisannya Beberapa nyangkut di pagar rumah tetangga. Sisanya berlari mendahului kami dan bergulingan di aspal jalan. Bukan mau demo tapi mencuri perhatian.

Mendadak obrolan kami terhenti. Jantung saya rasanya mau copot. Dari sebuah rumah yang baru saja kami lewati, ada seorang kakek bergegas keluar, mengambil batu dan dengan entengnya menyambit kucing.

KUCING KAMI.

Kucing kesayangan kami yang sedang berlari-lari kecil mengikuti kami.

Arrrrggggghhhh!!!!

Saya marah besar. Kalau nggak ingat yang saya hadapi itu orang tua. Sudah saya jitak kepalanya, saya jewer kupingnya sambil mengaduh minta ampun dan tidak akan saya lepas jika ia belum berlutut minta maaf kepada kucing yang sudah ia sambit itu.

Salah siapa coba?

Saya kira cukuplah, sampai disitu saja. saya salah sangka.  Esok paginya,  ada dua anak kakak beradik yang sedang main di jalan depan rumah kami.

Sementara si adik riang gembira ingin menangkap dan memeluk kucing-kucing saya *yang memang suka overacting bergulingan di jalan depan rumah sambil menghangatkan tubuh* si kakak tanpa pikir panjang mengambil posisi siaga dengan kaki kanan menendang salah seekor kucing yang sedang bengong tak jauh dari mereka.

Saya murka seketika.  Dengan wajah sangar dan mata mendelik ala tokoh antagonis dalam sinetron-sinetron itu *mungkin ada bakat terpendam* Saya omeli dia habis-habisan.

“Jangan ditendang dooooong!!! Kalau mau dipegang, ya di ambil dengan tangan. Kalau kamu takut sama kucing, ya jangan ditendang. Pergi aja.” *maksud saya. Kamu yang pergi jauh-jauh dari sini.*

Bodo Ah! Terpaksa reputasi ibu-ibu ramah baik hati namun tidak sombong ini saya sudahi sampai disini.

Padahal tukang bubur ayam yang lewat setiap pukul enam pagi, pasti membagi sedikit cemilan suwir ayam jika ada kucing yang datang mengemis padanya.

Padahal, tukang sayur yang lewat setiap pukul setengah delapan, pasti membagi potongan sisa isi perut ikan dan potongan ayam mentah jika ada kucing yang meong-meong dekat gerobaknya.

Ah.. saya nggak habis pikir.

Dan ketika nenek-nenek yang tinggal tak jauh dari rumah saya sambil lalu berkata. *Sebenarnya sih kami sedang ngobrol OOT –out of topic- kesana kemari. Saya lupa gimana awalnya. yah.. namanya juga OOT hihihi*

“Saya nggak suka sama kucing. Dan saya nggak suka dengan semua binatang”

Segera saya berbalik untuk pulang. Detik itu juga saya tahu. Bendera perang sudah dikibarkan.

Serpong, 4 Nop3mber 2008, 14.03 (mendung, lagi ditemenin mpus Pippy n Joni yang lagi bobok ciyang)

 
;