ilustrasi di’pinjem’ dari sini : www.motoxoutlet.com
Semalam kami ada di Ciledug. Kami, saya dan suami, dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Jalur dua arah macet. Mobil-mobil bergerak lambat. Motor meliuk ke kanan dan kekiri mencari celah. Untuk ukuran jam sebelas malam rasanya terlalu berlebihan.
Awalnya saya bingung. kenapa banyak orang berkerumun di depan sana?
Perlahan motor kami melintas. Seperti gerakan slow motion mata saya melirik jalur sebelah.
Ada satu motor yang diparkir dengan arah yang aneh sekali *mungkin sudah ditegakkan seseorang* ada satu orang yang tersenyum panik dan berusaha mengatur jalan. Beberapa orang menonton dari sisi jalan. Beberapa motor berhenti *untuk menonton* dan penumpang mobil yang lewat , melongok dari jendela masing-masing.
Pengen tau.
Termasuk saya.
“Ya Allaaaaah..!! Kenapa diem aja? Kenapa nggak ditolong sih?”
Saya hanya bisa berucap.
Tak jauh dari motor itu, ada seorang pemuda tergeletak. Wajahnya tertekuk aneh menengadah keatas, badannya terlentang, kedua tangan terbuka disamping kepala dan darah tergenang diatas aspal.
Saya masih terus menoleh. Dan tak sengaja menatap wajahnya.
Mendadak perut saya mual.
Saya palingkan wajah. Motor kami terus bergerak. Kini pandangan saya beralih ke pengemudi motor yang ada di samping kanan kami. Ia juga melihat kejadian. Ia menoleh dan menatap saya. Sepertinya ia bisa membaca pikiran. Dan kemudian bilang :
“Mati!”
Dan kemudian menambah kecepatan motornya.
Meninggalkan kami.
Serpong, jumat siang 4 juli 2008
Ini sering jadi obrolan kami berdua. Kenapa ya, masih banyak orang yang ogah memakai helm. Terutama di tangerang sekitar *secara kami sering mblusuk-mblusuk sampe ke pedalaman* apa susahnya sih tinggal pake helm doang. Kan itu buat keamanan mereka sendiri.
Sedih rasanya.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact