Friday, July 04, 2008

Untuk keseribu kalinya : pake helm-muuuu!!!!

ilustrasi di’pinjem’ dari sini : www.motoxoutlet.com

 Semalam kami ada di Ciledug. Kami, saya dan suami,  dalam perjalanan pulang menuju rumah. 

Jalur dua arah macet. Mobil-mobil bergerak lambat. Motor meliuk ke kanan dan kekiri mencari celah. Untuk ukuran jam sebelas malam rasanya terlalu berlebihan. 

 
Awalnya saya bingung. kenapa banyak orang berkerumun di depan sana?

 
Perlahan motor kami melintas. Seperti gerakan slow motion mata saya melirik jalur sebelah.

 
Ada satu motor yang diparkir dengan arah yang aneh sekali *mungkin sudah ditegakkan seseorang* ada satu orang yang tersenyum panik dan berusaha mengatur jalan.  Beberapa orang menonton dari sisi jalan.  Beberapa motor berhenti *untuk menonton* dan penumpang mobil yang lewat , melongok dari jendela masing-masing.

Pengen tau.

Termasuk saya.

 
“Ya  Allaaaaah..!! Kenapa diem aja? Kenapa nggak ditolong sih?”

 
Saya hanya bisa berucap.

Tak jauh dari motor itu, ada seorang pemuda tergeletak. Wajahnya tertekuk aneh menengadah keatas, badannya terlentang, kedua tangan terbuka disamping kepala dan darah tergenang diatas aspal.

Saya masih terus menoleh.  Dan tak sengaja menatap wajahnya.

Mendadak perut saya mual.

 Saya palingkan wajah. Motor kami terus bergerak. Kini pandangan saya beralih ke pengemudi motor yang ada di samping kanan kami. Ia juga melihat kejadian. Ia menoleh dan menatap saya. Sepertinya ia bisa membaca pikiran. Dan kemudian bilang :

 “Mati!”

 Dan kemudian menambah kecepatan motornya.

Meninggalkan kami.

 

Serpong, jumat  siang 4 juli 2008

 
Ini sering jadi obrolan kami berdua. Kenapa ya, masih banyak orang yang ogah memakai helm. Terutama di tangerang sekitar *secara kami sering mblusuk-mblusuk sampe ke pedalaman* apa susahnya sih tinggal pake helm doang. Kan itu buat keamanan mereka sendiri.

  Sedih rasanya.

kereta tiba pukul berapa? (ke baduy via nanggerang)

Kisah sebelumnya : ya tuhaaaan... salah keretaaa...

Kereta tiba di Stasiun Rangkasbitung pukul 10.30 pagi. Di dekat stasiun itu ada pasar dan terminal angkot. Jadi kalo ingin nambah perbekalan bisa dibeli disini.

Oiya, ada pasar modernnya juga lho. Ada beberapa warung makan. Dan ada warung soto yang enak sekali. Murah meriah. Semangkuk soto, satu piring nasi, plus asessories tempe goreng, tambahan perkedel jagung dan es teh manis hanya seharga Rp 10,000 saja. *lupa.. 10 rb atau 15 rb yah?* gampang ditemukan. Lihat aja kalo ada tempat makan yang ramai pembelinya. Nah, itu dia.

 Suwasti dan Hanum pergi ke pasar. Suwasti pengen masak di Cibeo nanti. Sebenernya sih, kami nggak pengen merepotkan tuan rumah. Kalo kami numpang masak disana, kan sekalian masak untuk tuan rumah dan keluarga. Sekaligus untuk menjamu tamu yang pasti datang berkunjung. Pasti semua hepi.

 Sondang masih merasa kenyang. Aku, Taufan dan Aya. pilih makan dong.

 Dasar turis, pasti ada aja yang tahu kalo kami mau ke Baduy. Setiap lima menit pasti ada utusan yang dikirim calo atau sopir untuk datang dan bertanya.

 “mau carter nggak?”

 Duh. 

 Tapi orangnya sopan-sopan kok. Nggak kayak calo di terminal bus.

 Entah gimana ceritanya, mungkin karena kekenyangan. Atau mungkin kami sudah terlalu males untuk pergi ke terminal. Atau rayuan maut calo angkot yang membuat kami setuju.  Harga sewa 175 ribu langsung menuju Simpang Koranji.

 Sekitar jam dua belas kami berangkat. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan terus naik. Hampir sepertiganya rusak berat. dan satu setengah jam kemudian baru kami tiba di persimpangan Koranji.

 Sang sopir stress berat. ternyata dia belum pernah jalan sejauh ini dan melewati jalanan rusak pula. Dia minta tambahan. Kami beri, tapi dengan syarat besok harus siap menjemput kami di Ciboleger.  Dia bilang OK. Besok jam satu siang sudah ada di Ciboleger.


Persimpangan Koranji ini hanya nama tempat aja. Karena disini ada belokan jalan menuju daerah Nanggerang, salah satu entry point menuju kampung Baduy dalem.

 Belokannya sama seperti belokan biasa. Seperti belokan menuju ke salah satu kampung. Aku nggak yakin deh bakal inget kalo kesini lagi.

 Ojek-ojek mulai datang mendekat. Mereka minta Rp 25,000 per orang.

 Suwasti nyaris pingsan. Awal tahun lalu aja masih Rp 8,000 ongkosnya. Apa karena BBM naik ya? Mungkin juga,  disini bensin harganya Rp 7,000 perliter.  

 Walau belum sepakat dengan harga sewa. Mereka sih udah pede memanggul daypack kami *daypack.. dipanggul .. hehehe* dan meletakkannya di motor masing-masing.

 Taufan sang negosiator.  Sepakat Rp 15,000 per orang untuk mencapai Nanggerang. Ah.. daripada jalan kaki melintas jalan makadam, naik turun bukit selama sejam.  Aku sih memilih naik ojek.

 “Wastiiiiii!!!” jerit ibu Hanna.

 Yang punya warung persis di belakang pintu gerbang masuk wilayah baduy. Maklum, Suwasti kan selebritis disini *buuuk!!!! Aku ditimpuk pisang oleh suwasti dan aku melotot memandang Suwasti. Emang monyet?*

 Kami ngopi-ngopi sebentar, menumpang sholat. Dan mulai berjalan pelan menuju Cibeo.

 Jam 3 sore deh kayaknya baru jalan. Sempet gerimis turun. Tapi berhenti begitu kami memutuskan untuk mulai jalan. *hehe.. hebat nggak tuh*

 Rasanya ini perjalanan tersulit bagiku. Udah 3 bulan ini nggak pernah jalan lagi. Dan nggak pernah olahraga. Beban daypack-ku ada sekitar 10 kilo beratnya. dus sepatu running shoes yang gigitan sol sepatunya amat sangat diragukan.

“gedebuuuuuk”

 Korban pertama. Hihihi…

 Taufan dan Hanum memimpin di depan. Sondang, Aya, Suwasti dan aku di belakang. Ah.. aku jadi sweaper aja dalihku…. Hehehe…aku juga pengen motret tentunya.

  Penunjuk jalannya sudah tentu ibu Suwasti yang manis itu. Kami keluar masuk kampung.

 Melewati leuit-leuit. *leuit = lumbung padi*  Melatih keseimbangan di titian tiga batang bambu.

 Naik turun bukit. Yang tanahnya licin. Yang berbatu-batu. Yang tanjakannya never ending story dan yang turunannya licin bak perosotan di TK sebelah.

 Menyeberang sungai dan melatih ilmu meringankan tubuh masing-masing. Kami melompat dari satu batu ke batu yang lain.

Kayaknya juga, ini lagi musim mbangun rumah deh. Atau renovasi rumah. Hampir di setiap kampung, selalu aja ada penduduk yang lagi gotong royong membangun rumah.

 “Cantik ya, Jeng” kata Taufan kepadaku. *Stop press. Bukan aku yang dimaksud yah.* tapi gadis-gadis baduy luar yang diam-diam mengintip dari balik pintu. Atau yang sedang duduk-duduk di beranda rumah memperhatikan kami.

 “Arah jam tiga, Fan” jawabku mengamini.

 Aaah.. tau ajaaah… Secara kami * aku, Taufan dan Suwasti.* adalah para tukang potret keliling.  Pasti mata nanar kesana kemari mencari object jepretan.


Tiap kami berhenti di salah satu kampung. Tentulah amat sangat dan impossible sekali untuk berjalan diam-diam tanpa diketahui.

Anak-anak akan muncul dari balik pintu. Ibu-ibu akan segera menutup pintu. *kok kebalik? Hehehe* Bapak-bapaknya akan bertanya : dari mana mau kemana.

 Masuk kampung lagi. Lewat jembatan lagi. Hingga kami tiba di sebuah jembatan bambu yang besar dan panjang.

*Wah..  Konstruksi bambunya kereeeeeen sekali lho!!*


Kata Suwasti, ini batas baduy luar dan baduy dalam.  Maka kami menyimpan semua kamera. Tugasnya, hanya sampai disini.


Nah.. apa kami bisa tiba di Cibeo sebelum gelap? Nantikan kisah selanjutnya yah. Next on : makan sirih bareng

Serpong 4 juli 08 (ultah mpus Joni yang ke 3 bulan) Oiya, futu-futunya udah diupload kok. Ada disini siapa yang menggores di langit biru

Thursday, July 03, 2008

YA TUHAAAAN…, SALAH KERETA …. :( (sebuah episode trip baduy 14-15 juni 08)

Kereta baru saja meninggalkan stasiun Sudimara. Sambil menempelkan HP di telinga kiri dan berusaha memasang kuda-kuda agar kaki lebih stabil.

Ini kisah sedihku di sabtu pagi, teman

Saya *super pede walo nggak dapet tempat duduk* :“Buuuuu…! Aku udah di dalem kereta nih. Kamu ada di gerbong sebelah manaaaaaah?”

 Suwasti *suaranya kresek-kresek, keliatannya sih so far away* : “lah? masih di kebayoran ”

(masih) saya *yang kini panik berat* : “Ya tuhaaaan, salah keretaaaaa… ”

 
Seluruh penumpang yang ada di gerbong, menatapku dengan penuh rasa iba. Beberapa menepuk-nepuk pundakku.  Pedagang asongan yang lewat berhenti sejenak untuk menyatakan duka cita. *halah!*

Saya *menoleh ke kanan dan bertanya, seorang bapak yang juga sedang berjuang mempertahankan keseimbangan* : “Tapi ini betul kan mau ke Rangkas?”

Si bapak : “iya”

Saya *masih histeris tak percaya* : “kok bisa salah kereta?”

Si bapak *dengan pandangan kasian deh loooo* : “ini yang patas .. diiik. Di belakang, masih ada yang lungsum”

catatan : patas dan lungsum hanya istilah saja. Tampilan keretanya sebelas dua belas. Keduanya sama-sama kereta ekonomi. Sama-sama penuh sesak. Dan sama-sama bertiket Rp 4,000 sekali jalan.

Sejuta topan badai.

Maka turunlah aku di stasiun berikut. Duduk manis menanti kereta berikut.

Dan akhirnya, pertemuan mengharukan itu terjadi sudah.

Aku masuk. Suwasti berdiri merentangkan tangannya. Menyisakan tempat di sisi kanannya. Aku nyengir tanda lega.

Di sebelah kanan Suwasti duduk Hanum dan Taufan. Di sisi kirinya ada Sondang yang sedang mbaca buku. *eh.. Taufan juga lagi baca buku kok* Sedang Aya, duduk di seberang kami. Bengong. Bawaan mereka, daypack, tas kain dan kerir 45 literan diletakkan didepan kaki masing-masing.

Kursi yang ada di gerbong ini memanjang di sisi samping gerbong. Jadi, duduknya hadap-hadapan. Sementara yang nggak kebagian tempat duduk. Hanya ada 2 pilihan. Berdiri sampe Stat. Rangkas *yang tentunya akan dihindari oleh semua orang yang berakal sehat*

Atau duduk bersimpuh saja di lantai gerbong. *dengan resiko harus bergeser dari tempat semula, merubah posisi, dan memandang dengan sebal terhadap para asongan, pengemis, pengamen –dan mungkin juga pencopet- yang dengan semangatnya mondar-mandir selama durasi 2,5 jam tersebut, tanpa henti.

Sabtu itu, kami berencana pergi menuju Cibeo. Salah satu kampung yang ada di baduy dalam yang berada di Kanekes, Ciboleger, Rangkasbitung.

Kami mau silaturahmi. Sebenernya sih Suwasti yang mau silaturahmi. Kami hanya penggembira aja 

*ah.. enggak juga. Kayaknya setiap peserta punya alasan tersendiri kok buat mampir kesana, seperti aku misalnya. Tapi entar aja yah, aku certain di kisah berikut*.

 Total trip kali ini ada enam orang. Aku kenal Suwasti dan Taufan. Pernah beberapa kali jalan bareng. Tapi Hanum, Sondang dan Aya, baru kukenal di kereta.

 Tadi sudah diceritakan, karena tinggalku di Serpong. Maka, aku nyegat dari stasiun terdekat. Sebenarnya sih bisa aja kalau mau menumpang bis dari Jakarta. Tapi, waktu tempuhnya jauh lebih lama.

 *Catatan : stasiun Sudimara atau stat. Serpong, kalau Sta. Rawabuntu terlalu kecil. Jangan ambil resiko, karena kereta nggak tentu mampir disini*

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta dari Stasiun JakartaKota yang berangkat pukul 07.50 pagi. Harga tiketnya (per juni 2008) Rp 4,000 per orang. Kereta penuh sesak. Dan baru sedikit lega ketika berhenti di stat. Parung Panjang. Jangan ditanya berapa stasiun yang kami lewati. Namanya juga kereta ekonomi. Pasti berhenti di setiap stasiun.

 Ya udah. Ceritanya segitu dulu. Nanti diteruskan lagi deh….

 *seluruh ilustrasi foto pada catper ini diambil di stasiun kereta api Serpong, Tangerang.

Wednesday, July 02, 2008

siapa yang menggores di langit biru ?




Ah.. kalau saja ada yang bertanya, siapa yang menggores di langit biru* terus terang, saya nggak tahu. Tapi siang itu,diam-diam saya mencuri pandang dan menatap langit.  Ada warna biru disana.

Ada rasa perih disana.


Ciboleger 15 juni 2008

(makasih buat teman-teman saya yang manis ituuuh : Suwasti Dewi Anitasari, Taufan Hidayat, Fitri Hanum, Irena Sondang Sidabutar dan Soraya Rusli… “kapan kita lulumpatan dan makan sirih bareng lagi di Cibeo …”)

 

*dikutip dari puisi sdd, sonnet X

selengkapnya mengenai baduy :

wikipedia : orang kanekes
studi ethnografibaduy



dan setahun kemudian pagi itu di kampung Cibeo

Thursday, June 12, 2008

from mboy with luuuuuuuv !

Gaya tidur saya itu selalu waspada mode on. *mungkin cocoknya jadi hansip kali yaaaa.. *Ada bunyi kresek dikit aja, pasti bangun. Apalagi bunyi dhuuuueeeer!

 Tadi pagi-pagi buta -sekitar jam dua subuh kayaknya- saya terbangun.. Biasanya sih, gara-gara mpus pippy *yang kadang-kadang terjebak dan tidur di kamar kami* menggaruk pintu kamar, kehausan dan ingin keluar.

 
Tapi kadang-kadang juga si Mboy yang baru pulang dugem. Datang dari kapling belakang rumah dan minta dibukakan pintu. *itu kalau saya bangun. Kalo enggak sih, biasanya si Mboy memutar naik ke atap rumah tetangga dan turun melalui tembok pagar depan*

 
Nah, tadi pagi itu, semua mpus ada di luar kamar. Saya dengar ada bunyi gludak-gluduk. Kaki-kaki mungil yang berlari-lari kecil kesana kemari. Kayak maen bola. *padahal euro 2008 aja baru dua hari yang lalu* Saya sih maklum. Yaaah.. namanya juga binatang malem. Yang tidur di siang hari dan bermain di malam hari. Pengen join sih. Ahahaha.. tapi masih ngantuk.

 
Tapi kok ada suara cit cit cuit? Nggak mungkin dong team bola mereka bertambah satu makhluk mungil ini. Whaduuuh… pasti ini ulahnya si Mboy.

Siapa lagi kucing di dunia ini yang hobinya mbawa oleh-oleh si mister micky mouse. Tapi.. duh.. suaranya memilukan sekali. Cuit-cuit tanda panik karena tak bisa membebaskan diri.

*maaf ya mr. Micky. Bukannya saya nggak mau nolong. Tapi.. ih.. saya geli ngeliat tikus*

 Maka, saya tepuk-tepuk punggung suami saya yang tidur di sebelah *ya iyalah.. masa ya iya dong*  entah dia dengar atau tidak. Yang penting, aspirasi saya tersalurkan.

 

“Besok pagi. Kamu duluan aja deh yang keluar kamar. Kayaknya kita kedatangan tamu nih”

Dia ber ah uh nggak jelas. Mungkin sebel karena dalam mimpinya ada commercial break yang lewat *nyengir* Dan kemudian saya tidur sambil menutup kuping dengan bantal.

 Dan benar rupanya. Begitu pagi datang menjelang dan pintu kamar dibuka. Si mister Micky telah tewas. Tergeletak di depan pintu kamar kami. *hmm.. sepertinya ada yang berencana menyerahkan upetinya kepada kami berdua*. Terdengar teriakan sebal dari suami saya.

 
“Mbooooooy!”

 
Huh.. terpaksa deh. Sepagian itu saya sibuk bersih-bersih. Termasuk keenam kucing bandel di rumah ini.

 Kejadian kayak gini pernah juga terjadi sekitar seminggu yang lalu. Udah malem. Selepas magrib. Tiba-tiba si mboy menerobos masuk rumah. Menggotong tikus malang itu. Dan langsung nge-base di halaman belakang rumah kami yang kecil itu.

Ketiga anak mpus Mboy datang mengikuti. Dapat oleh-oleh nih dari emak Mboy.  Mpus Pippy dan anaknya, mpus Joni, pun datang mendekat *pengen tahu*.

 Saya segera menutup pintu dan hanya berani memandang dengan ngeri dari balik jendela kamar. Sibuk menyusun rencana. Bagaimana ya caranya membubarkan massa yang ada di belakang dan menyuruh Mboy membawa barang buktinya kembali ke luar rumah.

 
Rupanya tikus itu belum mati. sempat terlepas dari gigitan Mboy. Dan kini bersembunyi di sela-sela batang bambu. Si Mboy malah tiduran kucing tak jauh dari sana. Kelihatannya ia ingin memberi kesempatan anak-anaknya untuk menjajal kemampuan mengolah cakar miaunya.

 
Mpus Mimin nampak tertarik. Namun sayang, cakar miaunya yang besar itu tak mampu mencapai tikus yang menggigil ketakutan di balik rumpun bambu. Mpus KIKI dan KOKO hanya berani mengamati dari radius 1 meter dari TKP.

 Mpus Pippy duduk tak jauh dari mpus Mboy. Mungkin katanya *ah… kita-kita yang sudah ibu-ibu ini. Sebaiknya menjadi pengamat saja yaah* dan mpus Joni? Aaah.. si bungsu itu hanya tertarik mengejar-ngejar ekor mpus KIKI yang bergerak kian kemari.

 
Saya kasihan melihat mister micky ini.

 
Entah dari mana, tiba-tiba muncul keberanian saya. Sambil memegang gagang sapu. Saya menyerbu ke belakang. Membubarkan massa. Dan menyuruh mboy *yang sedang menggotong-gotong micky.* untuk segera cabut *tepatnya sih meng-hus-hus!  mboy*

 

Duuuh.. itu hari ter horor dalam hidup saya.

 

Serpong 11  juni 2008 15.44 ( si mimindan joni  lagi bobo di kasur  mpus kesayangannya)

Friday, June 06, 2008

Duh Gusti…di rewind please. Di undo doooong....

Suami saya nggak pernah suka makan tomat. Saya sebaliknya. Pada prinsipnya, segala jenis buah dan sayur, saya suka. Entah itu dimakan mentah-mentah, dibelah dan dijadikan lalapan, dijadikan komponen sayur sup, tumis-tumisan. Apalagi disulap menjadi jus pun, saya nggak pernah menolak.

 Padahal sudah berbagai cara saya kerahkan untuk menghadirkan si tomat merah merekah nan segar itu. Hampir di setiap kesempatan  si tomat itu selalu ada di meja makan.

Wujudnya pun rupa-rupa. kadang-kadang diselipkan menjadi irisan tomat diantara timun lalapan. Tiba-tiba muncul diantara lilitan mie goreng. atau nongol diantara wortel dan kol yang ada di dalam sup yang hangat itu.

 Lain waktu, saya seakan tak peduli dan memakan tomat itu dengan ekspresi -duhinitomatenakdansegerbangetlhoooooo- dan berharap ia tergiur untuk ikut mencicipi. Atau kadang-kadang secara provokatif saya letakkan potongan tomat itu di piringnya. dan dengan tampang galak berkata :

 “Nggak mau tahu! Habiskan!*

 Dan tetap saja tomat cantik itu disisihkannya di ujung piring. Saya kehabisan akal.

 Hingga kemarin saya ngintip, postingan temen ngempie saya. Waaah… boleh juga nih. Nggak sama persis sih. Telurnya saya ganti dengan tempe. Dia nggak bakal tahu, karena tomatnya saya haluskan bersama bumbu-bumbu yang lain.

Makan malam itu sukses. Suami saya melahap tumisan tempe itu sampai habis. Saya nggak terlalu expert sih kalo urusan masak. Tapi dapet nilai ‘memuaskan’ dari sang suami. Cukup membuat hidung saya kembang kempis.

Ah, kejayaan ini harus diulang kembali nih. Sahut saya dalam hati. Besok pagi mbikin nasi goreng tapi dengan bumbu tomat kayak gini aaaah.

“gimana nasi gorengnya? Enak?” tanya saya keg e er-an.

“woooo… enak banget hanyyyyy”

“itu bumbunya pake tomat lhoooooo” Ah.. serasa jadi koki terhebat di dunia

Mendadak ia berhenti makan. Dalam hati saya. Duh Gusti…di rewind please. Di undo doooong. Atau apa sajalah. Tarik kembali ucapan saya barusan. Itu sudah setengah piring ia habiskan.

“hany.. sudah berkali-kali saya bilang, kalo saya nggak suka makan tomat” dan benar. Ia langsung mogok makan.

Saya nyengir. Untung saya sudah punya back up plan. Dua potong roti panggang beroles susu, keju dan potongan buah strawberry. Pelan-pelan saya sodorkan kehadapannya.

 Tamat sudah nasi goreng saus tomat ciptaan saya.


Serpong 6 juni 08 11:28 (mpus2 lagi bobo di kolong mobil. Adem kali ya) lebih dekat dengan si tomat silakan lihat disini. ilustrasinya juga 'dipinjam' dari sini : http://id.wikipedia.org/wiki/Tomat

Friday, May 30, 2008

Koko hilang (lagi)!

Saya sudah punya firasat buruk ketika tukang sayur itu berlalu dari depan pintu pagar rumah. Pasti deh mereka *ketiga anak mpus Mboy MIMIN-KIKI-KOKO* lupa untuk pulang. Keasyikan bermain sih. Dan nongkrong di rak bawah gerobak sayur.

Ini juga yang saya heran. Kok dibiarkan saja oleh si abang sayur. *Oiya, si abang sayur ini juga penyayang kucing.  Sekaligus supplier saya untuk urusan stok makanan kucing *

 Kalo si Mboy sih saya nggak pernah khawatir. Diluar kebiasaannya untuk  mengejar-ngejar gerobak tukang sayur, motor bebek penjual ayam dan mengemis pada mbak-mbak yang sedang nyuapin anak asuhnya. Saya yakin, ia pasti tahu jalan pulang.

Tapi mereka?

 Benar juga. Ketika mendekati waktu makan siang. KOKO tak nampak batang hidungnya walau sudah saya panggil dan cari di tempat biasanya ia tidur siang.

 Sebenernya saya nggak perlu khawatir. Biasanya sih, balik lagi. Paling-paling, dia ketiduran dan lupa jam makannya. Dan biasanya pula ketika bangun –dan dengan perut keroncongan- miau-miau masuk ke dalam rumah dan melahap jatah makan siangnya.

 Tapi tidak siang itu.

 Sebenarnya ini bukan pertama kalinya KOKO menghilang. Pernah satu waktu ia sempat menghilang 1x24 jam. Pas ditemukan, rupanya ia lagi seneng maen di rumah tetangga yang ada di ujung jalan. Iya deh. Itu rumahnya orang kaya ya ... . Rumahnya lebih bagus dari disini ya, Mpus?

 Ia baru mau pulang setelah saya jemput. Walau hati sedikit mangkel karena si KOKO pura-pura nggak kenal saya. Huh!

Pernah juga, suatu ketika saya merasa lelah luar biasa.  Itu lho. Me-rescue KOKO dari kapling kosong yang ada di belakang rumah. (kisahnya mengharukan ..hehehe...selengkapnya sih liat sini aja...) 

Dalam satu hari saya harus bolak-balik ke belakang untuk menyelamatkannya. Pertama sih masih saya jemput.

Kali kedua. Walau sudah saya peringatkan dengan keras. Dengan isengnya ia justru menghempaskan diri jatuh ke tengah alang-alang yang ada di kapling belakang rumah. Dan setelah bosan bermain, miau-miau minta di jemput. 

 Dan semalam. Ketika ia melewatkan kembali makan malamnya. Panik mulai menyerang saya. Mosok sih, tiap hari kamis kehilangan kucing. Dendam saya terhadap sindikat penculik kucing kian bertambah.  (selengkapnya.......)

 
Saya telpon suami.

 “KOKO hilang!”

“udah dicari?”

“everywhereeeeee!!!!”

“ntar juga pulaaaang”

“kalo gitu. Pas pulang. Jangan dulu masuk rumah. Anter keliling komplek yaaa…”

 Komplek ini sudah dua putaran kami lewati. Semua kucing *yang lagi mandi kucing, yang sedang mengasah cakar miau, yang sedang tergeletak tidur, yang sedang mbongkar bak sampah* kami perhatikan.

Siapa tahu, KOKO salah satunya. Kucing iseng yang tidak tahu jalan pulang.

 “pasti terbawa sama tukang sayur ya” ratap saya sendu.

“sudahlah hany”

“dan nggak tau jalan pulang. Huuuuhuuuu!”

“….. “

 Tapi, kalo dipikir-pikir. Saya yakin si KOKO pasti mampu bertahan di luar sana. Bukankah sudah belajar teknik survival dari ibunya?  (pernah diceritakan sebelumnya lho. Selengkapnya baca disini deh)

 Ehmmm... Siapa tahu juga sekarang KOKO jadi asisten tukang sayur. Mbantu-bantu jualan keliling komplek setiap harinya. Ah, dengan pikiran seperti itu hati saya mulai sedikit lega.

 Malam sudah larut. Sudah jam 10 malem. Sudah empat belas jam KOKO menghilang.  Tiba-tiba.

 “Hany..Hany” suami saya yang baru selesai shalat isya memanggil dari kamar sebelah.

 Ya olooooo… saya lihat si KOKO sedang dipeluknya. KOKO baru pulang. Tampangnya lelah dan badannya kotor sekali. Dan yang jelas, miau-miau kelaparan. 

Ah KOKO……kusentil halus telinganya. Jangan ngilang lagi aaah!

 
Serpong 29 mei 2008 11;46 (Hari ini sih. Si anak hilang lagi bobo’ di kasur mpus yang ada di kamar sebelah. Waaah.. lelah sekali keliatannya. )

Wednesday, May 28, 2008

Rupanya, beras ini sudah ada yang punya.

 “Whaduh… “ butiran beras itu memenuhi panci rice cooker mungil saya. Ah… tenaga saya tak kuat menahan beratnya karung beras 10 kiloan itu. Ya sudah. Maka saya tuang sebagian beras itu ke dalam mangkuk aluminium bertutup. Dan saya simpan di lemari atas dapur. “Besok, kalo mau masak.. pake beras ini dulu deh” hibur saya.

 Hari kedua. Hari ketiga. Lewat sudah. Dan saya lupa. Kalaupun ingat. Nasi sudah terlanjur dimasak.

 hingga hari Sabtu lalu seseorang mengetuk pintu pagar rumah. Laki-laki setengah baya, ia membawa kantung beras. Mengucap salam.

 “Subhanallah” Mendadak saya ingat mangkuk beras itu. “Tunggu sebentar ya Pak” saya bergegas menuju dapur.


Siang itu, sambil menuang isi mangkuk ke dalam kantung berasnya. Saya tak henti mengucap syukur.

 Rupanya, beras ini sudah ada yang punya ya….

 

Serpong 28 mei 2008 ; 09.42 (hari yang cerah, jemuran kering nih)

Tuesday, May 27, 2008

tidur berjamaah

sering,

karena lelahnya
kami tertidur


berjamaah
seperti ini. :D


serpong, 27 mei 2008




yang fana adalah waktu. kita abadi




Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

          “Tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

 

(yang fana adalah waktu, Sapardi Djoko Damono,1978)

 

Jika melintas kawasan alam sutera menuju bintaro.  Pasti akan melewati masjid ini. Tiap kali saya lewat. Saya selalu teringat puisi itu. Andai diberi kesempatan untuk kenal dengan arsiteknya. Akan banyak pertanyaan untuknya. Gayanya sederhana tapi agung. Rencana lama pengen motret bangunan ini. Baru kesampaian minggu lalu. Walau lantai semi basement dan lansekapnya belum rampung dikerjakan. Bangunan ini rupanya sudah digunakan sejak akhir tahun lalu. Sayang, catnya sudah memudar di sana-sini dan retak rambut pada dindingnya. Oh…

 
Serpong 27 mei 2008; 16.22

 masjid Raya Nur Asmaa Ulhusna  jalan Bhayangkara Raya Kelurahan Paku Alam, Serpong Utara, Tangerang. Telp 021-98357271/ 98683913 email ppmasjidas@alam-sutera.com

ketika kucing kecil itu tak pulang malam ini

Ketika mpus Jojon melewatkan makan siangnya. Maka, tahulah saya. Mpus Jojon nggak pulang ke rumah. 

 Here’s fact about mpus jojon and joni. Dua kucing mungil anak mpus pippy. Umurnya baru satu setengah bulan. Sudah punya piring mpus sendiri dan sudah bisa keluar masuk lewat jendela depan.

 Jarak terjauh yang berani mereka tempuh hanyalah sampai pagar depan. Dan kalo keluar maen bareng kakak-kakaknya *mpus mimin-kiki-koko* paling banter ke halaman rumah tetangga sebelah. That’s it.

Tapi siang itu ia tak pulang. Hanya Joni seorang .. eh.. seekor yang miau-miau di sekitar betis saya.

Hingga serak suara saya memanggil namanya. Menyisir halaman dan rumah di sekitar komplek ini. Nggak ketemu juga. Dan ibunya, si Pippy, pasti pengang telinganya karena saya omeli seharian.

 “Ah .. mpus.. kamu kemanaaa!” seru saya sendu.

Saya curiga  ada sindikat penculik anak kucing di komplek ini. 

di tengah kepasrahan saya. saya hanya mampu berucap, Ah.. Jojon. Semoga di tempat yang baru, kamu mendapat kasih sayang yang sama besarnya dengan rumah ini ya mpus…


Serpong 27 mei 2008 ;09.56

pada akhirnya saya sadar. Anak kucing itu rentan. Ada saatnya saya merasa tak berdaya ketika anak-anak kucing itu menderita sakit. Dan kemudian mati. ada lagi saatnya saat marah luar biasa. Sekaligus sedih. Ketika kucing itu menghilang dan tak kembali lagi.

Monday, May 05, 2008

mpus pippy yang sering 'lupa diri' ;)




Pippy itu kucing rumahan. Nggak suka maen ke luar. *kecuali kalo dia mau pup n pis tentunyah* kalo lagi bosen, paling banter hanya nongkrong di pintu depan. Dan kalo udah bobo siyang. Biasanya suka lupa diri. Tuh.. lidahnya menjulur seperti gukguk. *ada yang lupa kodratnya ..hihihi* setelah diamati, rupanya mpus Pippy nggak punya gigi depan. Tapi walau si Pippy ompong, kamu tetap salah satu mpus yang kami sayang kok Pip…

Serpong 5 mei 08 ; 10:06 (yang diomongin lagi ‘pingsan’)

 
;