Suami saya nggak pernah suka makan tomat. Saya sebaliknya. Pada prinsipnya, segala jenis buah dan sayur, saya suka. Entah itu dimakan mentah-mentah, dibelah dan dijadikan lalapan, dijadikan komponen sayur sup, tumis-tumisan. Apalagi disulap menjadi jus pun, saya nggak pernah menolak.
Wujudnya pun rupa-rupa. kadang-kadang diselipkan menjadi irisan tomat diantara timun lalapan. Tiba-tiba muncul diantara lilitan mie goreng. atau nongol diantara wortel dan kol yang ada di dalam sup yang hangat itu.
Makan malam itu sukses. Suami saya melahap tumisan
Ah, kejayaan ini harus diulang kembali nih. Sahut saya dalam hati. Besok pagi mbikin nasi goreng tapi dengan bumbu tomat kayak gini aaaah.
“gimana nasi gorengnya? Enak?” tanya saya keg e er-an.
“woooo… enak banget hanyyyyy”
“itu bumbunya pake tomat lhoooooo” Ah.. serasa jadi koki terhebat di dunia
Mendadak ia berhenti makan. Dalam hati saya. Duh Gusti…di rewind please. Di undo doooong. Atau apa sajalah. Tarik kembali ucapan saya barusan. Itu sudah setengah piring ia habiskan.
“hany.. sudah berkali-kali saya bilang, kalo saya nggak suka makan tomat” dan benar. Ia langsung mogok makan.
Saya nyengir. Untung saya sudah punya back up plan. Dua potong roti panggang beroles susu, keju dan potongan buah strawberry. Pelan-pelan saya sodorkan kehadapannya.
Serpong 6 juni 08 11:28 (mpus2 lagi bobo di kolong mobil. Adem kali ya) lebih dekat dengan si tomat silakan lihat disini. ilustrasinya juga 'dipinjam' dari sini : http://id.wikipedia.org/wiki/Tomat

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact