Wednesday, January 13, 2010

tour de Madura episode Percaya tidak, ternyata ada hotel dormy di SPBU

Hari keenam Minggu, 3 Januari 2010, pukul 22.00 wib (di Ciasem, Pamanukan. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta)

Dalam gelap, tahu-tahu saya sudah tergeletak di tengah jalan. Di sebelah, suami saya terguling meringis menahan sakit. Si Malih –ini nama motor kami- juga terbalik di hadapan.

Kami duduk dan menatap sorot lampu truk tronton yang berdecit tepat di depan hidung kami. Untunglah motor yang dikemudikan Hasim, Hendrix, Lulu dan Fajar cepat bermanuver menghindari kami.  Dan kemudian merapat di sekeliling dan bergerak cepat memblokir jalan melindungi kami.

Kami bertiga bagai penyanyi yang sedang disorot dengan lampu ribuan watt. Lalulintas terhenti saat itu juga.

Bagai ribuan slide foto yang bergantian di pelupuk mata saya. Berganti-ganti seperti di film-film itu lho. Selasa lalu di Pamanukan, hujan-hujanan mencari penginapan. hari kamis tertawa riang foto-foto di jembatan Suramadu lalu berlompatan di pantai Lombang. dan Kemarin, saya keluar masuk pabrik kerupuk di Magetan yang akhirnya kami terkantuk-kantuk menuju kamar diantara ABG Salatiga yang sedang tipsi.

Jangan-jangan ini akhir dari hidup saya….hiks! Ini kisah perjalanan touring akhir tahun kami ke Madura dua minggu lalu. 29 Desember 2009 – 3 Januari 2010

Hari pertama Selasa, 29 desember 2009; Percaya tidak, ternyata ada hotel dormy di SPBU

Karena lelah, suami saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu SPBU. Kami baru menginjak Pamanukan saat itu. Lulu pun mengikuti dari belakang.  Saya sih sudah ‘pingsan’ sedari tadi.  sepatu dan baju basah, kedinginan, dan saya terkantuk-kantuk membonceng di belakang.

Saya tidak mau nginap di hotel kuda laut lagi. Bukannya saya manja. Tapi beberapa kali menginap dengan cara seperti ini, bukan membuat tubuh saya segar keesokan harinya.  Saya ingat beberapa bulan lalu. Dalam perjalanan pulang kembali dari Jogja. Tidur di mushola sebuah SPBU di Cileunyi, Bandung, Dan saya tidak bisa tidur. Padahal sebelumnya saya ngantuk sekali.

Tapi malam ini memang luar biasa. Baru berangkat dari rumah di Bekasi pukul 5 sore. Dan hujan berember-ember segera menyambut kami. Percuma menunggu hujan dan berharap untuk berhenti. Walau sudah memakai jaket rangkap dan raincoat. Sepatu dan pakaian basah hingga ke dalam. Kalau sudah begini, saya berharap bisa menunda perjalanan hingga esok pagi.

Sekilas baru pukul sepuluh malam. Maka si Malih, ini nama motor kami, dan si Rohman, ini juga nama motornya Lulu, sebenarnya sih namanya Rodman , perlahan masuk SPBU mencari tempat istirahat.

TERSEDIA DI SPBU KAMI, KAMAR/RUANG, MENGINAP ATAU TRANSIT, FULL AC KAMAR MANDI DI DALAM, AIR PANAS, BERSIH NYAMAN MURAH, HANYA 30 RIBU/ ORANG, SPBU 34-41222 SPBU HIKMAH PUTRA JL. RAYA SUKASARI KM 4, PAMANUKAN  0260-551199

Aiiiiiih.. air panas? Ada air panas? ..hahaha… Baru kali ini saya temukan SPBU sekaligus penginapan. Tepat disaat dibutuhkan. Kedinginan, kehujanan, basah. Nggak ada yang lebih menyenangkan selain mandi air panas dan tidur di tempat yang hangat.

Maka target malam itu, 300 km lagi menuju Tegal seolah terlupakan. Digantikan oleh sebuah kasur yang empuk dan setumpuk pakaian kering. 

To be continued

(Next : "geng' motor itu namanya SADIS)

Tuesday, January 12, 2010

(tips dari) saya seorang boncenger

Trip panjang membonceng dengan motor ke Madura akhir tahun lalu, mengingatkan saya untuk membagi tips bagi teman-teman. Ini tips saya selaku boncenger

Jangan lupa bawa Ipod atau yang sejenisnya. Kemaren saya sempet update ipod saya. Dengan 4136 lagu, shuffle mode. perjalanan saya tidak membosannya. Mulai dari lagu dangdut, rock, slow.. semua ada… Gaaaan!

bawa sepatu cadangan, percayalah, sering hujan turun dengan hebatnya dan kadang-kadang kalau dalam rombongan besar, sang road captain ‘lupa’ untuk berhenti. Maka sepatu pun basah karena luput dari perhatian. Oiya jangan lupa kalau lagi break panjang untuk makan siang, sepatu yang basah boleh lah dijemur di samping si pio.

bawa peta, sebagai navigator perlu juga di bawa. Siap selalu membaca petunjuk dan rambu jalan. Kadang-kadang, saya yang sotoy ini, ikut juga memberi rambu dan tanda bagi pengendara di belakang kami.

HP yang punya koneksi internet unlimited, lumayan untuk hilangkan Bete karena harus nunggu. Seperti di bengkel, @ break point, atau kalau lagi sowan ke klub lain. Bisa juga untuk update status dan mencari informasi tambahan mengenai daerah yang akan kita kunjungi.

Syal tebal. Terutama malam hari. Walau membonceng di belakang, tapi jika motor melaju dengan kecepatan 60-80 kpj, tetap saja terasa dingin. Syal ini saya pakai untuk menutup celah antara jaket dan helm. Oiya, kalau mau lebih afdol, selain jaket, pakai juga raincoat+celananya. Dijamin badan tetap hangat dan stamina tidak cepat turun.

Celana kain. Jeans memang keren. Tapi saya nggak mau lagi memakai jeans ketika touring. Selain berat, bahannya yang tebal membuat paha bagian bawah gatal-gatal karena lembab.

Rajin-rajin pergi ke toko outdoor deh. Disana sering dijual celana trekking yang bahannya ringan, kuat, dan gampang dicuci. Kemaren waktu transit di Lasem, pernah saya cuci dan dikeringkan dengan kipas angin semalaman atau kalau masih setengah kering, pakai saja. Toh nantinya akan kering sendiri di jalan. 

Peralatan lenong; hehe.. ini istilah saya saja untuk seperangkat alat make up yang diperlukan selama perjalanan. Tapi sering diprotes suami karena dinilai tidak perlu-perlu amat.

Sebaliknya, bagi saya amat penting. Bedak talk contohnya, untuk mengantisipasi gatal-gatal akibat lembab tadi. Sunscreen yang wajib dipakai ketika akan beraktifitas, deodorant biar badan nggak bau dan juga lipgloss agar bibir nggak pecah-pecah. 

obat-obatan pribadi. Jangan lupa bawa obat tetes mata, lotion anti pegal, lotion anti nyamuk, obat pusing dan obat tidur (perlu untuk orang yang susah tidur), obat diare (siapa tahu nggak cocok makanannya), obat luka, dan ponstan. Misal, karena terkilir, jatuh, atau sakit gigi  karena si pain  killer membantu sekali sampai kita ketemu dokter atau tukang urut.

Jarum dan benang. Nggak makan tempat kan? Bisa diselipkan di peralatan lenong anda. Memang sih, udah banyak toko 24 jam. Alfamart atau indomart sepanjang jalan. Tapi seperti biasa, mereka dibutuhkan pada saat yang selalu tidak tepat. Kalau dicari, nggak ada. Kalau nggak dicari, ternyata ada.

Kacamata hitam. Sarung tangan, slyer penutup hidung dan kaos kaki cadangan. Biasakan ganti satu kali sehari. Nggak mau kan, kakinya bau gara-gara jamur?



Pakaian ganti. Nah, untuk trip jarak jauh seperti ini saya biasanya membawa :
  1. membawa 2 celana panjang kain (satu di pakai, satu untuk pulang)
  2. tshirt tipis secukupnya (misal untuk 6 hari perjalanan, saya biasanya bawa 6 pcs)
  3. satu set pakaian tidur (tshirt dan celana pendek) celana pendek ini bisa dipakai untuk emergency. Misal. Semua celana kain kotor/ basah. Triknya celana pendek di tambah dengan celana raincoat. Sudah bisa tuh dipakai untuk perjalanan. 
  4. Underwear secukupnya. Saya biasanya bawa panty liner. Daripada side a side b? hihihihi… Dulu pernah coba pakai cd disposable. Tapi ternyata nggak cocok.

Handuk+perlengkapan mandi. Semua dipack dalam satu tas kecil. 
  1. Sikat gigi lipat+odol kecil
  2. Sabun sekaligus shampoo, ada kok, saya dapet dari adik saya. sabun yang bisa dipakai untuk shampoo juga
  3. Handuk. Saya nggak pernah lagi bawa-bawa handuk. Selain volumenya besar, juga rawan lembab karena tidak pernah ada kesempatan untuk menjemurnya. Cari deh kanebo atau yang sejenisnya. Yang agak lebar dan halus permukaannya. Nah, bisa digunakan sebagai handuk tuh. Cara pakainya sih.. hehehe.. sama seperti kalau kita mau ngelap body mobil ..hahaha…
Body protector, banyak kok dijual di toko-toko perlengkapan motor. Pelindung siku dan lutut. Karena kedua tempat ini sangat riskan jika terjadi benturan. Ini baru saya sadari setelah jatuh dari motor di Pamanukan kemarin.

Jangan lupa untuk selalu minum. Tanpa kita sadari, tahu-tahu sudah dehidrasi. Kekurangan cairan dalam tubuh.

Jadi, sebelum itu terjadi rajin-rajinlah minum. Di side bag si malih – ini nama motor kami- ada kantung di depan dan belakang yang bisa saya selipkan botol minum, peta atau malah tempat kacamata.

Permen dan cemilan ringan. Permen bisa jadi selingan juga lho biar nggak ngantuk. Terutama untuk pengemudi. Sering jadi asisten untuk membuka bungkus permen dan menyuapinya dari belakang. Permen asem, pedes, kopi bisa dicoba.

Charger. Semua charger. HP, ipod. Begitu ada kesempatan segera charger peralatan elektronik anda. untungnya di setiap rumah makan, break point di SPBU dan penginapan, selalu ada tempat untuk ngecharge. Oiya, jangan lupa bawa konektor T. biar nggak berebut dengan biker lainnya .

Jam tangan+itinerary+buku catatan. Buat saya, jauh lebih menyenangkan jika bisa tahu sedang ada dimana saat ini. Saya juga juga jadi time keeper perjalanan. Kapan berangkat, sudah berapa lama, berapa kilometer jarak antar kota dan kapan harus berhenti. Biasanya sih sinyal untuk berhenti datang dari perut yang keroncongan atau pinggul yang mulai pegal

Kalau sudah mulai pegal. Coba deh jurus ini. Dalam posisi membonceng, gerak-gerakkan pergelangan kaki ke depan dan ke belakang. Lakukan beberapa set. Begitu juga dengan punggung. Lakukan gerakan duduk siaga dan duduk santai. (duduk siaga itu seperti duduk dengan posisi tegap, agar tulang belakang lurus) oiya pindahkan juga titik berat badan. Bergantian duduk di pinggul kanan atau di pinggul kiri. Perhatikan juga kalau si rider tidak terlalu nge gass, kita bisa ubah posisi dengan duduk bersandar di box belakang.. uenaaak tenaaaaan broooo!

Jangan sia-siakan waktu istirahat. Biasanya waktu kami berhenti seperti isi bensin dan ke toilet di SPBU, sholat di mesjid atau berhenti di tepi jalan. Saya lebih suka berjalan bolak-balik untuk melemaskan kaki dan badan. Ini yang saya lihat sering dilupakan oleh para biker karena umumnya mereka hanya ingin duduk, ngobrol atau rebahan dan tidur.

Segera berhenti cukup lama ketika waktu makan siang. Selain memang waktunya cukup panjang, ini juga trik untuk mensiasati matahari yang sedang lucu-lucunya.

Pernah kemaren, karena tanggung, suami saya terus melarikan si malih. Padahal sudah pukul dua siang. Kelopak mata saya perih karena sunburn. Padahal saya sudah memakai kacamata hitam dan helm full tertutup. Jadi begitu kami berhenti di salah satu rumah makan, saya buru-buru mengompresnya dengan saputangan yang saya basahi dengan air. Nggak lagi-lagi deh kejadian seperti ini lagi. Saya protes berat!

Gimana kalo ngantuk? (tengkyu sis Melly, ini saya tambahin tips dan dalam list) kalo ngantuk, biasanya saya beritahu sopir di depan aka suami yang lagi sibuk mengendarai pionya  bahwa saya ngantuk dan pengen bobo bentar. Nggak tidur beneran sih, karena saya tidak terbiasa tidur seperti itu.

Mungkin tepatnya tidur setengah siaga kali ya. Memberitahukan partner ini perlu lho. Biar dia juga bisa berjaga-jaga seandainya pegangan tangan kita yang sedang melingkar di perutnya mulai melemah.  Pernah tahun lalu, karena memaksakan diri berjalan lewat tengah malam, saya nyaris jatuh dari motor karena tertidur di jalan. Ini berbahaya.  Saya memang tidak pernah setuju kalau ada yang bilang jalan malam hari lebih baik daripada siang hari. Jadi kalau sudah begini memang segera berhenti dan cepat cari penginapan.

Paketkan barang yang sudah tidak dipakai. Seperti pakaian kotor misalnya. Sebelum perjalanan kembali pulang, barang itu sudah saya paketkan. Lumayan, si malih jadi tidak terlalu berat dan bisa diisi oleh-oleh juga ..hehehe…..

Dan kamera. Buat saya menarik sekali mengamati kota-kota dan desa-desa kecil yang kami lewati. Saya sudah bisa menilai mana kota yang penduduknya terlihat makmur, kumuh, miskin.  Sering saya berpikir, alangkah tenangnya hidup di kota kecil seperti ini. Mau usul pada suami ah… untuk masa pensiun nanti.

Jadi, kalau ada yang bilang, jadi boncenger itu membosankan. Aaah…Itu salah besar. asyik-asyik aja tuh!

Friday, January 08, 2010

selasar sepi di sambilangan, madura




Pelan-pelan saya naik. Redup di dalam dan sedikit pengap. Namun lama kelamaan mata saya mulai menangkap detail railing tangga, dek balkon dan jendela. Lalu saya dibuat kagum olehnya. Masih sempat mereka membuat ornamen besi tempa serumit ini. Kalau dipikir, siapa juga yang sempat melihatnya. Paling-paling petugas menara ini. Itu juga dulu, waktu mereka harus sering bolak-balik naik turun setiap hari untuk menyalakan lampu. Tapi saya bisa bayangkan, si meneer wong londo ini seratus tahun lalu. Di tengah suasana syahdu menjelang matahari terbenam. Duduk di dek dengan secangkir teh hangat di tangan. Dan memberi salam bagi kapal-kapal yang lewat……

potongan kecil saya untuk mercusuar @ Pantai Sambilangan, Bangkalan, Madura, 31 Desember 2009; terletak sekitar 7 km di sebelah selatan dari kota Bangkalan. Mercusuarnya masih beroperasi  hingga hari ini. Memberi tanda bagi kapal-kapal yang lewat di selat Madura.

Wednesday, January 06, 2010

Let's grow old together... beginning with today

Let's grow old together... beginning with today.

Let's work slowly with each other
and build a relationship
that we can both enjoy being a part of.

Let's share love
and understand that neither of us is perfect;
we are both subject to human frailties.

Let's hold each other close
and whisper though the night--
pledging our love,
honoring our commitment.

Let's encourage each other
to pursue our dreams,
even when we're weary from trying.

Let's expect the best
that we both have to give
 and still love when we fall
short of our expectations.

Let's be friends and respect
each other's individual personality
and give one another room to grow.

Let's be candid with each other
and point out strengths and weaknesses.

Let's understand
each other's personal philosophy,
even if we don't agree.

Let's lie awake long into the night
sharing our innermost secrets.

Let's be friends as well as lovers.

Let's laugh at time
and plan with each other
and wonder how we ever got along
without this love we've found.

Let's never take for granted
these moments that we've shared,
But always be reminded
of how intensely we have learned to live,
how completely we have learned to love.

Let's grow old together...
and look back on life and smile.

-dipinjem dari janji-nya Braxton Brown and Peggy Smith, pics by david mario ardana @pantai sembilangan, bangkalan, 31 desember 2009-

Tuesday, December 15, 2009

Joni hilang!

Baru seminggu kami tinggal disini……Hiks! Joni hilang.

Padahal dia sudah lulus MOK – artinya
- Masa Orientasi Kucing … thanks to Cahyo untuk istilah barunya  - Malah prosesnya jauh lebih cepat dari yang saya duga. Di hari keempat, Joni dan Pippy sudah bisa saya lepas main keluar rumah. Koko, Malih dan Ucup juga menyusul di hari berikutnya.

Mereka sudah bisa main sesuka hati deh. Koko dan Joni loncat tembok ke blok belakang dan bisa balik kembali ke rumah. Malih pergi main ke tanah kosong di ujung blok dan kembali dengan selamat. Hebat kan? 

Nah, Sabtu pagi lalu saya gelisah karena Joni nggak pulang untuk sarapan. Ini diluar kebiasaan Joni. Padahal, malamnya dia sempat tidur di kasur Joni di sudut kamar kami. Tapi kemudian bangun dan mengikuti suami saya yang keluar mengunci motor dan pintu pagar.

Apa Joni kejauhan main hingga nggak tahu jalan pulang? Atau mengikuti kucing garong ke kampung belakang ? Apa dia mencari jalan pulang ke rumah kami yang lama? Itu kan jauh sekaliiiii…. Apa Joni bisa
? Atau …. Apa ada orang yang menculik Joni ya? Huhuhuhu…

Berhari-hari kami keliling komplek. Hingga ke kampung sekitar yang radiusnya lebih dari 5 km. Melongok rumah dan kapling kosong. Bahkan mengendus hingga kolong got. Sambil berlinang airmata saya memanggil-manggil Joni di setiap tempat yang saya curigai akan menjadi tempat persinggahannya.

Berkali-kali salah lihat kucing. Dan kecewa karena itu bukan Joni. Oh…saya sedih sekali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kami berdua jalan kaki mengelilingi komplek tempat kami tinggal. Suami saya malah sudah mengadakan sayembara. –kepada satpam dan tukang sampah di komplek perumahan kami- ada hadiah deeeh kalau bisa menemukan Joni.

Tetangga kanan kiri turut prihatin. “oh.. pasti pulang kok!” kata Kakek sebelah rumah.  “Paling ngejar (kucing) cewek” lanjutnya lagi.

Yang paling kehilangan justru anak-anak tetangga. “Joni hilang ya Tante?” Joni sudah jadi idola mereka semua. Kucing-kucing kami yang lain sudah saya kerahkan untuk mencari Joni.

“Pippy… kalau ketemu Joni.. suruh dia pulang yaaaa”
“urff.. urf…”

Hari keempat saya sudah mulai pasrah dan mengikhlaskan kepergian Joni. Rasanya sulit berharap Joni akan kembali pulang. Belum lagi waktu hujan deras kemarin. Joni lagi ngapain ya? Sambil menangis saya bertanya-tanya. Semoga Joni bisa cari tempat untuk berteduh. Apalagi waktu saya lihat kucing liar mengorek-ngorek tempat sampah. Hiks!

Apa Joni juga sedang mencari makan seperti itu? Somewhere out there… ada kucing hitam yang miau-miau merindukan saya, sedang mencari saya. Dan disini.. saya juga miau-miau ..-ehm.. versi manusia tentunya- mencari Joni.

Malamnya… Sudah tengah malam dan kami sudah terlelap sedari tadi. Kami kelelahan mencari Joni. Tapi kok barusan ada yang menggaruk-garuk pintu kamar. Biasanya sih Koko atau Malih ingin masuk dan tidur di kamar atau Joni waktu dia masih ada disini. Jadi dengan mata setengah terpejam saya buka pintu.

“auuuuu..auuuuuu”

Aah.. rasanya saya kenal dengkingan manja itu. Kucing itu menggelayut manja pada saya. Astagaaaa… Badannya kurus, Luka-luka disana sini dan bulunya nampak layu. Tapi matanya bersinar gembira.

“Joniiii? Ini Joni bukaaan?” aaaaah… saya bangunkan suami saya.

“Ini bukan mimpi kan?”

huhuuuuy!!!! Joni is baaaack…!!!! Tuuuh kaaaan…. Joni pasti tahu jalan pulang.

 Joniiii..Joniiiii!!!! Dan kami bertiga melompat-lompat gembira.  

BTR ini kisah 14 Nov 09 lalu. Menurut kami berdua, Joni itu termasuk kucing yang cerdas. Udah keliatan sejak ia kecil. Coba deh baca kisah Joni waktu ia masih kecil dulu. Disini.
tangga monyet untuk mpus Joni

Wednesday, December 02, 2009

the power of emak-emak

Pagi-pagi sekali, sudah ada tetangga yang datang. Kebetulan, suami saya yang buka pintu.

“Ada bu Joko?”

Wah, tumben nyari saya. Ibu yang tinggal di ujung jalan itu menyorongkan kertas. Saya penasaran.

Rupanya itu petisi dari ibu-ibu di RT kami yang menolak keras tambahan iuran RT untuk bulan depan. Nama saya ada di urutan nomor satu


Iuran rutin RT ditarik bendahara RT tiap bulannya. Kisarannya 50 ribu rupiah. Iuran ini sudah termasuk biaya kebersihan, dan keamanan.

Nah, rupanya bulan depan (lagi-lagi) pak RT -dan bapak-bapak ‘pemalas’ itu - punya ide cemerlang, untuk kerja bakti membersihkan got dan membersihkan  ilalang di rumah-rumah kosong yang belum ditempati, tanpa harus mengeluarkan tenaga dan keringat.


Yup! Yaitu dengan menambah iuran 50 ribu rupiah lagi dan mengupah orang untuk mengerjakannya.

“Lha..iyalah..! dari pada saya sakit pinggang” dalih suami saya.

Hehehe… dasar!

Sebenarnya saya nggak masalah kok mengeluarkan biaya sebesar itu. Saya kan tergabung dalam Ikatan Istri Sayang Suami. Hihihihi…

Toh uang itu akan dipotong dari anggaran bulanan yang diberikan suami untuk saya.  dengan catatan saya harus pandai-pandai mengatur uang belanja. Kalau nggak mau tekor  ketika akhir bulan tiba.


Tapi sebagai sesama ‘menteri keuangan’ saya mengerti betul kegelisahan emak-emak ini.  Maka kali ini saya dukung penuh petisinya. lagipula suami saya perlu berolahraga sekali-sekali. Biar pipinya nggak terlalu chubby seperti saat ini.

Jadi tanpa ragu, langsung saya bubuhkan tanda tangan saya disana. Dan tetangga saya berlalu dengan senang.

Go emak-emak… Go!!!!


Tumben kali ini saya akur dengan tingkah ibu-ibu di RT ini.

BTR, 27 November 2009 (hari raya idul adha. Lagi nyuci baju, semua mpus pada molooooor ..termasuk si chubby yang lagi libur kantor )

Tuesday, December 01, 2009

di tempat kami ada poskamling DUGEM lho

“Whaaaat? Pos kamling?”

Ini kejadian sebulan sebelum kami pindah kesini. 

Waktu kami datang menengok rumah, Pak RT datang menyodorkan proposal. Lagi-lagi ini ide Pak RT kami tercinta. 

Proposal untuk membangun poskamling di ujung jalan. Juga daftar saweran dengan nama suami saya salah satunya.

“Untuk apa pak RT?” sahut saya bengis. (hihihi.. sebel sih)
 
“Kan udah ada satpam komplek?” kata saya, si warga yang nggak gaul dan individualis itu 

“Yaaah.. untuk bapak-bapaknya nongkrong lah buuuuu…” sahutnya dengan logat Bataknya yang kental itu. Dan kemudian meneruskan obrolan dengan suami saya. (catat: suami saya dan pak RT ini satu kantor beda divisi) dan for the sake of ‘nggak enak hati’ dia setujui proposalnya. Uh..! pantes.

“gggggrrrrrrhhh!!!” keluh saya dalam hati. (chicken mode on)

Dulu waktu kami pilih rumah ini, sengaja kami cari rumah yang agak di ujung jalan. Biar nggak terlalu ramai. 

Ada juga sepetak tanah kosong persis di ujungnya. Kata si developer, itu akan dijadikan taman kecil atau median jalan. 

Agenda tak resmi saya, sepetak tanah kosong itu sih.. untuk tempat mpus main dan puppy.. hihihi..

Maka musnahlah angan-angan saya. Saya sudah terlanjur memilih rumah no 32 ini.

Saya yakin ini bukan murni idenya. Pasti ini ide kolektif dari bapak-bapak RT kami yang hobinya gaul. Dan betul juga. Begitu kami pindah kesini, saya nyaris pingsan melihatnya.

Pos permanen, dengan dinding bercat oranye ngejreng, lantai keramik tinggi 30 cm, atap asbes miring 30 derajat. Oh.. jangan lupa, ada untaian lampu kelap-kelip yang nyala waktu malam hari. Satu kandang burung perkutut milik pak RT. Satu keran air+pompa di sudut yang lain. Dan satu lagi…..

Ada tulisan POS BHINNEKA TUNGGAL IKA di temboknya.

Kali ini saya benar-benar pingsan!


BTR 1 Des 09 (saya yang lagi ‘pingsan’ )

Monday, November 30, 2009

antara lampu dan pelanggaran HAM

sore itu di ruang depan. Sambil memandang sepetak halaman depan. Ini obrolan saya dengan suami tersayang.

"Apa? Wajib pake lampu taman? Harus seragam pula?" dengus saya, huh aturan yang aneh.

“Udah ketetapan dari pak RT, Hany. Udah kesepakatan bersama" kayak anggota DPR aja.

“Kalau nggak mau gimana?" saya, masih ngeyel.

"Hus! Udah ah... Ikutin aja. Nggak enak sama warga yang lain" kemudian dia ngeloyor pergi.

Hari gini harus seragam? Saya bener-bener nggak setuju. Sejelek-jeleknya rumah, saya nggak ingin disamakan dengan orang lain.

Karena setiap orang itu unik bukan? Lihat aja rumah di ujung jalan itu, pagarnya dicat ungu. Atau rumah nomor 35, langsung berubah hijau warna cat dindingnya.

Saya rasa sih, pasti ada beberapa orang yang nggak sreg dengan lampu jelek ini :D tapi tak kuasa untuk berkata TIDAK. Maaf pak RT, lampunya sih sebenernya nggak jelek-jelek amat. Tapi saya udah terlanjur sebel.

Dan saya pun manyun di pojokan.

Berhari-hari selalu saya pasang tampang PROTES BERAT jika masalah lampu ini disinggung lagi olehnya. Bersama kelima kucing saya, nyaris kami membuat spanduk untuk demo.

Tapi tanpa sepengetahuan saya, rupanya sudah ia setorkan iuran la
mpu ini pada pak RT. Tinggal tunggu waktu pasang lampunya saja.

Uh…rasanya tak berdaya.

disela-sela kegiatan saya mencuci baju, meyiram tanaman dan mengepel lantai. Ide-ide anarkis saya muncul  seperti :

1.    Pura-pura tidak ada dirumah jika nanti ada orang yang datang untuk pasang lampu

2.    Memotong kabelnya kalau sudah terlanjur dipasang

3.    Menggergaji batang besi penopang lampu 

4.    Secara ajaib bohlam lampu  hilang dari tempatnya

5.    dan pura-pura tidak tahu kalau ditanya …(haha!)

Ah.. ide barusan tidak akan menyelesaikan masalah. Batin saya bergelut. Intinya bukan itu. Protes saya ini harus saya sampaikan kepada khalayak ramai.

Seminggu kemudian.

Lampu taman itu sudah dipasang. Dan sudah menyala seperti lampu-lampu taman di rumah tetangga kami yang lain. Apa saya pasrah dan menerima kenyataan ini? Hohooo…. Anda salah besar.

Ada yang beda kali ini.

Cahaya lampu kami warnanya kuning hangat. Satu-satunya lampu yang terangnya seperti itu. Warna kuning di tengah-tengah kepungan lampu taman tetangga yang sinarnya putih menyilaukan.

Haha… rasakan pak RT! Ini bentuk protes saya!!!

BTR, 25 November 2009 ; 22:02 *lagi nunggu yayangnya pulang kopdar, hanya ada Ucup n Pippy di rumah

Wednesday, November 11, 2009

Masa Orientasi Kucing (MOK)

Sebelum pindah rumah, saya sempat tanya kepada teman-teman di mailing list Indonesian Cat Rescue (ICR) dan milis Pecinta Kucing mengenai tips jika si meong ikut pindah rumah.

Terutama kucing stray –istilah ini mungkin lebih dikenal dengan sebutan kucing kampung, kucing jalanan atau kucing liar- yang nggak biasa dikurung di rumah apalagi di dalam kandang. Saya tanyakan juga apa tipsnya agar si mpus nggak stress dan malah hilang ketika kami semua pindah ke tempat yang baru.

Saya senang karena banyak yang menanggapi. Saran mereka cukup beragam lho. Mbak Dini salah satunya. Mbak dini ini dari milis ICR (Indonesian cat rescue) bercerita, si Tiger kucing jantannya, sempat kabur di minggu pertama dan pulang ke rumah yang lama.

 “Untung masih satu komplek. Jadi gampang nyarinya” Mbak Dini ini baru saja pindah 4 bulan lalu. Kucingnya ada 7 ekor.

“Tapi setelah sebulan dia sudah nyaman dan ngga pernah keluar rumah lagi.” Tambahnya lagi.

Atau saran dari mbak Lala Lavita dari milis Pecinta Kucing, Pamannya meninggal dunia karena sakit dan kucingnya, -kucing kampung- tak ada yang merawat.

“Karena kasihan, kucing yang saya beri nama Kipli itu, akhirnya saya bawa pulang ke rumah saya.”

Ini tipsnya :
1.    Minggu pertama : dikurung di sebuah ruangan dalam rumah, bisa dalam kamar atau halaman belakang yang tertutup (jangan ada celah untuk kabur), ada naungan untuk berteduh, makan minum di tempat tersebut, dan biarkan mereka BAB & BAK disana.
2.    Minggu kedua : kucing baru dikeluarkan dari ruangan tersebut, namun masih dalam lingkungan dalam rumah
3.    minggu ketiga : baru boleh berkeliaran diluar rumah, biasanya mereka mulai hafal dengan bau dan letak rumah, jadi kalaupun kelayapan keluar rumah, mereka pasti balik lagi kok dan tidak nyasar...
 
Tapi yang sedikit nyentrik justru saran dari mbak Lucky.  Mbak Lucky yang tergabung dalam milis Pecinta Kucing ini punya pengalaman yang sama dengan saya. Pindah rumah.

Jadi sebelum semua barang masuk ke dalam rumah baru, kucing-kucingnya ia lepaskan dulu didalam rumah. Mereka biarkan kucing jantan untuk menandai area dan mengendus-endus isi rumah.

“Baru deh…. Semua barang kami masukkan”

“oooo..”

“Tapi ada satu tradisi yang biasa kami lakukan untuk membuat kucing baru merasa hommy”

“Caranya?”

“Caranya adalah dengan memutarnya di bawah kaki meja sebanyak 7 kali” oh ya? Saya baru dengar tuh.

“Memang agak unik sih. Tapi biasanya manjur loh..” bisa saya bayangkan mbak Lucky tersenyum senang. Dan tambahnya kemudian,
 
“Oiya, biasanya dua minggu pertama, si meong masih berasa asing di rumahnya yang baru. Jadi harus sering dibelai dan diajak main ya…...Semoga pada betah di rumah yg baru..  “

“Hahaha.. siaaaap mbak Lucky!”

Kalau mbak Agil lain lagi. Tipsnya adalah dengan menyibukkan si meong dengan mengolesi seluruh kaki depannya dengan mentega. 

“Lakukan sekitar 3 hari terus menerus.” Sahutnya dengan yakin.

“Nanti kalau ada yang berusaha untuk celingukan cari jalan pulang, olesi lagi mentega lebih banyak. Itu resep nenek.” 

Wah.. saya bisa bayangkan Pippy lupa makan gara-gara seharian sibuk menjilati kakinya. 

Terlepas benar atau tidak, menurut saya sih layak untuk diuji. Penasaran juga saya dibuatnya.

“Semoga berhasil ya, mbak”  Lanjutnya. Ho oh!
 
Nah.. di tengah kesibukan saya membenahi barang-barang untuk pindah. Ibu saya telpon dan bilang :
“Pindah nanti.. nggak usah bawa kucing banyak-banyak. Satu atau dua ekor aja cukuuuup” huuuuuuu… ibu yang sangat saya cintai ini. Dari dulu memang nggak pernah setuju kalau saya pelihara kucing. Huhuuuu….

Tapi ayah saya kemudian bilang, “papa.. udah 18 kali lho pindah rumah” *secara dia veteran sering pindah rumah * dia juga rupanya sepakat dengan ibu saya. Dan membagi sedikit tips cara cepat merapikan rumah dalam waktu 3 bulan. Kwak..kwaaaaw…

Hati saya makin tak menentu. Bahkan sambil mengangkat kardus-kardus berisi buku. Benak saya sibuk membuat rencana detail untuk kucing-kucing ini nanti. Ada satu tips menarik nih dari Mbak Endah dari milis ICR. Yang menyahuti kegundahan hati saya.

Saya dan mungkin ribuan orang diluar sana –hehehe.. terlalu lebay ya- bisa jadi terlalu fokus ketika hari pindah.  Dan luput mengenai persiapan mereka sebelum pindah.

Ini tipsnya, “Jauh-jauh hari sebelum pindah, mpus-mpus itu diungsikan dulu. Bisa dititipkan di tempat penitipan atau di rumah teman”

Karena biasanya kucing itu punya feeling yang tajam tentang apa yang sedang terjadi di rumah. Atau jika ada 'kesibukan' yang lain dari biasanya. Dan itu membuat mereka kabur dari rumah dan menunggu situasi kembali aman seperti semula. Dan akibatnya, malah pada ketinggalan nggak ikut pindah.

Hiks! Jadi ingat Mimin yang dua minggu sebelum kami pindah, pergi entah kemana.

“Dan perihal outdoor yang nggak biasa dikurung, mau nggak mau, nggak ada cara lain deh kayaknya selain memaksa mereka 'dipenjara' dulu.”

“Duh.. saya jadi raja tega dong ya?”

“Iya.., pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah terima nasib. Ngamuk sih... memang, pastinya stress, tapi setidaknya mereka aman dan nggak hilang”

“Hiks!”

Moga-moga pada keangkut semua ya...ntar deh kalo nemu artikelnya dimana, diupdate lagi.” Iya mbak Endah. Makasih lho.

Tapi kayaknya yang paling mendekati kenyataan sih sarannya dari mbak Okti. Dia bilang kucing outdoor, kalau dibawa pindah jangan langsung dilepas, paling tidak dikurung beberapa hari dulu.

Sediakan makanan. Karena makanan merupakan faktor yang sangat menentukan. Kucing tergantung dari makanan yang kita berikan. Lambat laun kucing juga akan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. kalau itu sudah dipenuhi, nggak usah khawatir kalau kucing-kucing tidak akan kembali, kecuali kalau mereka ditangkap orang lain.

Waaah.. mbak  Okti.. semoga nggak kejadian deh kayak gitu.

eniwey…makasih ya semua… berkat saran dari teman-teman semua, masa orientasi kucing kami sudah berhasil kami laksanakan. Sekarang sudah menginjak minggu kedua. Dan kucing-kucing kami sudah bebas bermain seperti di rumah yang dulu.

(cerita berikutnya : MOK tahap dua episode Joni Hilang!)

-lagi mati lampu, 19:29 ...pippy lagi nongkrong deket jendela-
 

Friday, November 06, 2009

rumah itu bernomor tigapuluh dua




yup! besok tepat seminggu kami tinggal disini. Setelah berminggu-minggu mengepak, mengelompokkan dan memilah-milah barang, stress mengenai pembagian tugas dengan suami, menyimpan logistik untuk berminggu-minggu, membetulkan keran air dan lampu serta membujuk kucing-kucing di rumah agar mau ikut pindah. Akhirnya kami pindah juga.......

Ke rumah mungil tipe 36/72 di salah satu komplek pemukiman yang ada di Bekasi. Masih gersang karena baru dibuka oleh developer. Tapi saya lihat tetangga kiri kanan sudah menanam pohon mangga di depan rumahnya.. ah... sabar.... sabaaar....

bekasi timur, 6 november 2009; 16.00
-yang sedang rindu dengan keteduhan pohon, untung hari ini mendung, dan mpus-mpus lagi bobo ciyang semua-

Thursday, November 05, 2009

lost in time square




barangkali Ucup -belang putih kuning- bobby -putih- dan kunyit -kuning garfield- adalah tiga kucing jantan yang sempat dipertemukan oleh takdir. Ucup dan Bobby dilahirkan Mboy di kapling kosong  belakang rumah, diantara bedeng-bedeng tukang yang sedang mengerjakan rumah. Sedang Kunyit, saya temukan miau-miau crying for help di got taman depan rumah. umur mereka baru sebulan saat itu.

Ketika saya letakkan Kunyit diantara Ucup dan Bobby yang sedang menyusu, Mboy tak merasa terganggu dengan tambahan satu ekor anak lagi. Malah kasih sayang yang ia berikan sama besarnya seperti yang ia berikan pada Ucup dan Bobby.

Beberapa kali mereka –mboy dan anak-anak- pindah rumah. Tapi akhirnya kembali lagi ke rumah ini. Lalu kemudian Bobby hilang. Raib lenyap entah kemana. hanya tinggal Ucup dan Kunyit. Kedua bocah ini menjalin persahabatan. Main bareng, tidur bareng, dan tetap bermanja-manja pada Mboy seorang … eh .. seekor. 

Tapi kemudian virus itu datang lagi. Hanya 2 hari Kunyit bertahan dan kemudian mati.

Kami menguburnya di taman depan. Dan dua hari pula Ucup berkeliling rumah mencari Kunyit. Sahabat tersayangnya. Sedih saya melihatnya, tapi ini cerita lama. 

(edisi nostalgia  6 November 2009; 11.03)

 
;