Monday, April 24, 2006

a step to Rinjani






"Jalur Torean longsor, nggak yakin deh bisa dilewati saat ini." Itu komentar penduduk dan para porter-porter yang kami tanya sore itu di Sembalun. “Medannya beraaaaaaat!!!”



Apa boleh buat, terpaksa keinginan itu kami pendam dalam-dalam. Berharap ada satu keajaiban. Tentu dengan seizin-Nya kami dapat turun ke sana. Bila tidak, mudah-mudahan suatu waktu, kami akan dipertemukan kembali.



Hati masih ragu sekaligus penasaran. Bukit penyesalan kami lewati. Plawangan sembalun kami habiskan sambil duduk termangu di sore hari. Puncak kami sapa sejak setengah dua subuh dari camp plawangan. Hingga akhirnya kami terdiam di tepi danau sembari menatap pelangi.



Setiap dari kami, diam. Sibuk bercakap dengan dirinya masing-masing,  sibuk meyakinkan hati masing-masing. Sibuk meredakan rindu pada air dan hutan.



Sementara pendaki lainnya, datang dan pergi menuju Senaru. Sisanya melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun.



Dan kami masih di danau. Hingga akhirnya bertemu dengan porter yang baru saja turun dari Senaru dan hendak melanjutkan perjalanan menuju Torean.



"Memang, banyak yang pasang dan longsor akibat hujan waktu lalu. Jalur putus nyambung, tapi masih aman untuk dilewati.”



Wajah dari kami diam-diam melayangkan senyum.  Dan kami saling berpandang-pandangan…..



 Akhirnyaaaaa…….. J



 



(terutama untuk teman seperjalananku kali ini, Joe dan Ivan. Thanks guys! Sekeping bayangan untuk trip Rinjani 11-15 April 2006)



 



Yang pengen tahu rencana awalnya, silakan lihat disini : susur pantai ke ujung kulon ..(luooh?)atau pengen denger theme songnya? hehe... Kembang Padang Ilalang

Friday, April 21, 2006

pendaki superhero vs pendaki kemping ceria


 


“Ini Bang Daniel, bukan?” tanya Joko harap-harap cemas. *kalo ini acara reality show H2C seperti yang ada di sta. TV swasta itu waaah, dijamin kalah jauh deh* HT baru saja dikeluarkan. Frekuensi disesuaikan. Sedikit berharap dan mencoba keberuntungan. Semoga saja, ia sedang ada di ‘udara’ *maap maap deh, bukan burung loooh!*


 


Kecemasan Joko cukup beralasan. Pasalnya, waktu kami naik empat hari yang lalu, Bang Daniel tidak ada di pos 1 Harimau Campo, di tempat biasanya ia mangkal. Menurut warga desa Pinaga yang kami temui sebelum pendakian  “Lagi pulang kampuang!”


 


Tak lama kemudian.


 


“iya. Ini Daniel” suaranya jernih menyejukkan.


 


Kami semua menarik nafas lega. Saat itu hampir menjelang tengah malam. Salah kami juga sih. Terlalu siang turun dari pos Bumi Sarasah.  Heri sedang mengigit-gigit kuku, duduk berhimpitan dengan kerir 100 liternya di tengah semak belukar.


 


Ika masih berdiri dengan gagahnya, walau tadi dengan kerir besar segede kulkas dua pintu, berusaha mencari stringline yang kemaren kami pasang dan terus berjalan nyaris mencapai tepian air terjun yang ada di dekat pos Harimau Campo. Kalau saja tidak segera di kejar oleh Joko.


 


Sedang aku, duduk terdiam, sedikit diatas mereka. Memakai raincoat basah, dan duduk dengan pasrah di kelilingi pacet-pacet yang siap *dan sudah* menghampiri. Waktu turun, mata kananku terus berlinang airmata, berdenyut-denyut tiada henti dan kepala pusing luar biasa hebatnya. Dengan kata lain…. Tewas dengan suksesnya. Nggak bisa apa-apa boow!


 


“Kami hampir mencapai pos nih Bang Daniel. Cuma, kelihatannya terlalu melambung ke kanan .. mendekati air terjun, turun terus……… daaaaannn akhirnya” suara Joko semakin meninggi...


 


” …Guooooooool!”


 


Hihihihi..maaf nih pembaca, waktu itu saya lagi error. Dalam imajinasi saya sih begitu pendengarannya. Tapi sebenarnya, Mbakyu Djoko sedang berkomunikasi dengan Bang Daniel untuk kembali ke jalur yang benar *halah!*


 


Jadi inget kejadian kemaren malem. Waktu kami ngecamp di Pos Pondok Sarasah.


 


“Kagak salah nih Mbakyu? besok summit attack naek serebu meter?” tanyaku dengan takjubnya.


 


Joko nyengir.


 


“SERIBU METER???!!!” ulangku lagi masih dengan nada tidak percaya.


 


Heri menundukkan kepalanya dalam-dalam. Silent mode on dan masih sibuk check body. Apalagi kalo bukan terhadap pacet. Ika sudah rapi jali dan sedang mengupas bawang.  Malam itu kami sudah ngebase di Pos Pondok Sarasah. Melihat itinerary yang sudah kami buat sebelumnya. Whuuahahaahahaa……….. behind schedule semuaaaaa!


 


“Yaaah… gimana lagi. Mengingat, ada yang kepengen berfoto dibawah jam gadang!” jawab Joko sambil menyikut halus perut Heri dan melirik kepada Ika dengan penuh arti.


 


Huuuuuuuuu!!!! Aku tahu nih. Ini konspirasi! Sebenernya yang punya tekad kuat untuk berfoto dibawah jam gadang itu adalah diriku seorang.


 


“Puncak Talamau bukan tujuan utama. Berfoto dibawah jam gadang. Itu yang utama”  lanjut Mbakyu Djoko dengan mantap. Deu! gayanya udah kayak pejabat teras aja nih.


 


Bener juga sih. Setelah mereview perjalanan kami tiga hari terakhir. Jalurnya berat banget. IMHO nih. Kalo diklat, cocoknya emang disini. Dan yang ..ehem.. cukup jelas, managemen waktu kami yang buruk. Lengkaplah sudah.


 



Maka, setelah menimbang dan memutuskan, cukup beralasan juga bagi kami untuk summit attack keesokan harinya, langsung ke puncak. Dari Pos Bumi Sarasah 1865 mdpl ke Puncak Trimartha 2912 mdpl. Busyet daaaah!


 


Maka malam itu, daypack disiapkan berikut kamera dan tripod.  Ini sudah hari ketiga. Dapatkah kami terus menjaga semangat untuk terus maju?  Hehehe.. mengejutkan. Ternyataaaaaaaaa……


 



“Mhuaaannnaa ekspresi looooe?”


 


Seru mbakyu Djoko kepada kami bertiga. Gayanya udah kayak iklan di TV aja deh. Saat itu pukul setengah empat sore. Sesi foto-foto Maaan! Kami berdiri dengan rapi, tertawa bahagia, tepat dibawah kubah kecil yang berdiri solo diatas puncak Gunung Talamau. Thanks god. Walau kabut dan matahari hanya setengah detik nongol dibalik awan.


 


Nggak tahu kaaan kalo tadi kami berempat sempat bertangis-tangisan saking terharunya. *ceileeee.. cengeng bangeeeet*


 


Perjuangannya itu lho. Bro Heri saja nyaris patah semangat dan berniat untuk menuinggu kami di tepian telaga. Sementara aku, letih lesu tak bersemangat sepanjang perjalanan. Padahal kami semua nyaris tanpa beban, udah kagak pake kerir lagi. Tapi rasanya, perjalanan kali ini tiada berkesudahan. Lama banget!


 


Sambil menggelar trangia, sementara para banci foto : catat : Ika, Heri dan Mbakyu Djoko sibuk jeprat jepret disana sini *bencih akuuuh!* Aku ngebut masak teh+kopi hangat, mie+laukkan. Bukannya apa-apa Broer! Laper!!! Ritual makan siang yang tertunda seharusnya sudah sejak tadi kami lakukan.  Target hari itu tidak muluk-muluh deh. Segera turun kembali ke Pos Bumi Sarasah dan ngecamp semalam lagi.


 


Selepas Pos Paninjauan [2575 mdpl] tadi kabut tebal dan angin kencang selalu mengikuti pendakian kami. Padang Siranjano [2764 mdpl] Basecamp Rajawali [2782 mdpl] kami lalui dengan perlahan. Hanya sempat jeprat-jepret sebentar di tepi Talaga Si Untuang Sudah dan Telaga Puti Sangka Bulan. Hmmmm… what a journey …


 


“Ries!.. yuuuuks! Kita jalan lagi.” Kata Joko memecah lamunan. Ika dan Heri sudah siap di depan. Rupanya Bang Daniel yang baik hati itu berinisiatif menjemput kami.  Dibantu tongkat milik mbakyu Djoko, tersaruk-saruk aku melangkah. Lima menit kemudian kami sudah tiba di Pos Harimau Campo.  Senangnya melihat pos yang kering dan terang benderang itu. Warnanya kekuning-kuningan dan hangat sekali. Rupanya genset sudah dinyalakan.


 


Sambil memicingkan mata, aku kembali menoleh pada kegelapan hutan di belakang sana *sumpah, sebenernya kagak bisa ngeliat apa-apa J* Sampai ketemu lagi Talamau. Sungguh… tidak heran, banyak sekali yang penasaran untuk menyapamu !!


 


Sambil menundukkan kepala dan nyengir sendiri aku kembali berucap “ dan hehehehe.. Jam Gadang… I’m comiiiiiing!”


 




 


Tengkyu somad buat :




  • terutama buat R. Joko Sutias, Ika Dewi Kartika dan Heri Supriyanto ... temen seperjalanan kali ini.


  • Para nara sumber yang kami ‘teror’ baik via telpon, sms maupun email ..hehehe..: Mas Hendri, Ronny Kang di Bandung, Tammy, Alex… makasih yaaa!


  • Bang Daniel di pos harimau Campo atas keramahtamahannya dan bantuannya yang tanpa pamrih


  • Tukang ojek yang siap menjemput kami di tengah malam buta, walau sungguh kami tahu, setelah 6 jam hujan, jalanan licin. Masih harus mengangkut kami+kerir yang beratnya segede gaban


  • Warung di pos ds. Pinaga, untuk mie hangat+kopi+teh manis dan tumpangan untuk mandi


  • Temen-temen yang terus memantau kami, Jenny, Bro Kris, Aditya, Joe, Elly, dan temen2 lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!


 


foto-fotonya juga ada disini, monggoooo : mohon jangan goda pacar-pacar saya


ataaau ada juga disini : suatu pagi di depan jam gadang


 


t'shirt terkait  : KKC tshirt [limited edition]

Thursday, April 20, 2006

suatu pagi di depan jam gadang




sebenernya ini obsesi lama ingin berfoto lagi di bawah jam Gadang. Hampir sepuluh tahun yang lalu aku pernah datang kesini, tapi tidak begitu banyak perubahannya. Suasananya masih sama seperti dulu. Masih dingin!! dan pada saat yang bersamaan terasa hangat dan ramah... hmmmm... kapan ya bisa kesana lagi?

*catatan kecil. Bukit Tinggi 3 April 2006*

 schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!

mohon jangan goda pacar-pacar saya




itu adalah judul salah satu tulisan pada surat kabar setempat, yang ditempel pada dinding bilik pondok di Pos Harimau Campo. Pos pertama sebelum pendakian ke Gunung Talamau. Tempat dimana Bang Daniel bermukim beberapa tahun terakhir. Tempat dimana, ia mencatat satu demi satu pendaki yang ingin berkunjung kesana.



Begitu cintanya ia pada Talamau.



Itulah sebabnya... betapa berat rasanya perjalanan kami kesana. Betapa jauhnya.



Tapi derasnya hujan selama perjalanan menuju Bumi Sarasah sempat membuat kami ragu. Tapi pekatnya kabut di Padang Siranjano membuat kami 'lupa'. Tapi dinginnya angin di tepian Telaga Puti Sangga Bulan membuat kami 'lengah'.



"Sungguh Bang Daniel... kami tidak akan menggoda pacar-pacarmu"



*catatan kecil pendakian gn.Talamau 2982 mdpl, , 29 maret-3 april 2006 Pasaman, Sumatera Barat bersama temen-temen dari Klub Kemping Ceria :Joko, Ika dan Heri... I love u all!

schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!


spin offnya sih [hehehe...] please refer to this : suatu pagi di depan jam gadang


Friday, March 17, 2006

Nongol di majalah euy..


Bukaaaan.. bukaaaannn ! Itu bukan foto saya J *plis deh nggak usah sampe tertawa terbahak-bahak gitu ah!* tapi, coba cari majalah Snap edisi Maret ini. Buka halaman 40 s.d.43,  ada satu rubrik  yang berjudul jalan-jalan. And yup! that’s me! Dengan headshot sekecil semut *hehehehe* menceritakan siapa dan apa kegiatan saya akhir-akhir ini. Tentu saja yang tidak ketinggalan adalah sebagian foto-foto perjalanannya.



Akhir Januari lalu, saya dihubungi oleh redaktur Majalah Snap *yang ternyata silent milister salah satu milis yang saya ikuti* demi membaca catatan perjalanan berikut mengintip foto-foto yang saya posting saat itu *kalo nggak salah terakhir posting mengenai trip ke gunung karang itu deh*



Kebetulan majalah yang termasuk keluarga besar Gramedia dan masih ‘bayi’ ini membutuhkan info seputar kegiatan yang berkaitan dengan alam dan lokasinya tepat ada di bumi  Indonesia yang tercentaaaah inih. *atau udah kena deadline mas Pram? ….Pletaaaak! [dijitak mode : on]*


Dari hasil obrol-obrol kemaren *yang sayangnya kami batal minum2 kopi J* majalah ini masih terbit setiap dua bulan sekali. Next! Rencananya bahkan akan menjadi majalah bulanan. Mereka optimis, dengan jaringan distribusi mereka miliki, dan kekhususan mereka atas dunia fotografi, bisa bertahan. *hopely*



Sempet nggak pe de, karena saya hanya si otodidak yang rajin dan nekad jeprat-jepret disana-sini J. Untunglah *entah apakah ini berkah atau bencana buat si redaktur J* proses pemilihan foto dipegang oleh para ahlinya. Mereka punya member of board yang bertugas menyeleksi foto mana yang layak terbit. Saya sih kebagian mbantu bikin tulisan en mbongkar-bongkar file di rumah.



Setelah proses yang cukup panjang dan rumit selama satu bulan terakhir hingga akhirnya ada satu email yang masuk :


 “OK, Ries! Bungkuuuuusss!”


 Hahahaha.. it’s a party timeeee!


 


 [Serpong, Kamis 16 maret 2006; 14.51]


 Rasa terimakasih yang setinggi-tingginya saya tujukan buat :




  • Mas Farid dan Pram from Snap : “Makasih ya untuk supportnya.  Untuk telpon2, sms dan email2nya. Ditunggu ngopi barengnya J
  • Temen-temen segambreng waktu trip ke *Lawu, Karang, Semeru, en Merbabu* :”I love you all, I really really enjoying the time and share the moment together!”
  • My partner in crime, Joe : “ Makasih ya Joe .... ‘membukakan’ jalan bahwa banyak tempat cantik yang layak untuk dikunjungi”
  • Mercyanie ‘Anie’ Hadi : “Thanks ya, atas keramahtamahannya waktu kemaren sempet sidak ke Gramed”
  • Hendit Irmawan Jati , waktu aku bingung harus nulis apa: “Really! I mean it.”
  • Para ‘guru’ motretku yang baik Jenny, Ika, Joko dan Nefran : “Sorry guys, dengan sengaja atau tidak aku ‘curi’ ilmunya J waktu kita jeje es dan hunting foto bareng”
  • Kritikus foto sejatiku, Wildanto Nusantara, Bobbie Adiyanto & Haris Respati ”You’re the best maan!”
  • My Brother and my online buddy, Kris ‘Kaihan’ Hartanto untuk berbagi ‘mimpi’ yang sama :”I really miss my online buddyL
  • Temen-temen MP yang selalu mampir, Ambar, Irfan, Deni, Suzz, Aya, dll : “luv commetnya, kalian memang komentator sejati deh J
  • Dan tentunya teman-teman dan sahabat yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu disini. Tengkyu ya!

 Yang pengen liat picnya, monggo nyambung ke sini : nyanyian di ketinggian

nyanyian di ketinggian




selengkapnya pls check'em out

nongol dimajalah euy

Wednesday, March 08, 2006

jika 'beruang' sedang mencari madu





letihnya kami ketika melewati leuit-leuit yang penuh dengan padi, ketika kaki ini menghampiri danau Ageung, ketika kami berjalan melintas sawah tadah hujan, merendam kaki sambil menyusuri sungai Cijagra, mengintip rumah lebah di Leuwibadak, mendaki bukit diantara terik matahari...dan ketika menapakkan kaki pada batas maya antara baduy luar dan dalam...

terbayar sudah ketika kami berteduh di rumah ladang pak Naldi, dijamu kopi dan makan siang dengan pepes sarang lebah.... hmmmm....tidak ada yang lebih mengharukan selain meresapi indahnya persahabatan dengan mereka


[catatan perjalanan 4-5 Maret 06 bareng Ika, Deni, Deni Dotten dan Widya]
awalnya? check'em out

trip beruang mencari madu

Friday, March 03, 2006

Sajak senyap di pusat primata Schmutzer







aku mendapat pengalaman yang baru

disana ada orang utan besar sekali

……



Pernahkah kamu bayangkan, satu orang buta dan satu orang tuli. Berjalan bergandengan. Menjadi ‘mata’ bagi satu dan menjadi ‘telinga’ bagi yang lainnya?

Saya sudah, dan nyaris menitikkan air mata. Tulisan diatas adalah sepenggal puisi yang mereka tulis sore itu. Kami semua sedang duduk di pendopo yang ada di komplek pusat primata schmutzer, Ragunan. Ada sepuluh teman tunanetra dan sepuluh teman tunarungu. Mereka didampingi oleh para relawan yang sigap membantu mereka.

Mulanya, undangan ini datang dari teman relawan *yang herannya, justru saya kenal waktu nonton film bareng “the rain” di TIM awal januari lalu* Adalah sekelompok anak muda yang tergabung dalam Bravo-Penca [barisan volunteer Penyandang Cacat] yang memiliki beberapa program untuk langsung mengajak mereka merasakan pengalaman yang mungkin dianggap biasa oleh orang-orang kebanyakan. Seperti piknik ini misalnya. Program selanjutnya adalah mengajak mereka untuk berkunjung ke museum dan mungkin kemping bersama.

Just, wonder... mungkin nggak ya mereka diajak naek gunung? seorang tuna netra, seorang yang tuna rungu atau bahkan seorang tuna daksa.

Selama ini, yang mungkin saja jarang kita sadari .............. how lucky we are............



[catatan perjalanan Ragunan 26 Februari 2006 bersama Joko, kami berdua mendapat kesempatan berinteraksi dan merekam kegiatan mereka] ikutan motret di Ragunan


Thursday, March 02, 2006

Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "Thompson berkata : Tepatnyaaaaa"

From: "Ariesnawaty" Date: Wed Feb 2, 2005 9:16 am Subject: Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "Thompson berkata : Tepatnyaaaaa"
ariesnawaty Offline Send Email
foto lainnya (atas seijin Bleem) :
http://pg.photos.yahoo.com/ph/stormix_jungle
Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 – 23 Januari 2005 episode : “Thompson
berkata : Tepatnyaaaaa”
“Missster!!! Foto dong!” *idih! Kagak salah tuh. Masak dipanggil
mister. Tapi demi profesionalisme *betul nggak brother Kris dan brother
Yanto?* Aku foto juga deh makhluk itu.
Eh.. masih belum nyambung ya? Makhluk mungil yang lucu itu ternyata ABG
setempat yang lagi JeJe eS bareng temen-temen sekampungnya. Sedang
memakai masker belerang yang berwarna hijau untuk perawatan wajah akibat
jerawat yang mulai muncul pada masa pubernya.
Sambil berdecak kagum atas prestasinya. Aku mengedarkan pandang. Kawah
Gn. Pulosari ini sangat indah. *sekaligus was-was .. * inget literatur
yang dikirim Ika dan sempet aku baca sebelum pendakian.
(terjemahin sendiri yaaa….. A solfatara filed occurs in the summit
crater of G. Pulosari and the steam is escaping in this area at
temperatures up to 121°C. A small amount of sulphur is being sublimated.
Low flow, acid springs are also present with temperatures of 93 - 95 °C.
However one spring in this crater is 25°C. An increase in activity at
the crater was reported in 1939 when the maximum temperature found was
93°C. Slightly acid, warm springs (51°C maximum) emerge from the NW and
SW fluks of the volcano)
Luas kawah kurang lebih sebesar lapangan bola. Kawah sedikit menanjak ke
arah timur dan terus dihadang tebing tinggi punggungan gunung. Nun jauh
diatasnya, terlihat satu titik kecil menara pemancar. Itulah puncaknya!!
*satu dua detik hilang dari peredaran. Duh… tinggi sekali ya?*
Tak berapa lama, Kris dan Yanto menyusul. Ida sudah sedari tadi
nongkrong di atas batu. Mengamati para ABG yang sedang memasak nasi
dengan memanfaatkan panas air belerang yang ngebul di sela-sela batu di
kawah. Yang lain meremas isi mie instant, mengikatnya di satu sisi.
Memasang tali rafia, dan mulailah acara memancing supermie di atas air
belerang.
Setelah selesai sesi foto-foto dan wawancara. Kami kembali ke markas
besar. Makan siaaangg!!
Yanto sudah mengeluarkan satu set alat masaknya. Menjerang air. Dengan
dibantu Kris, mereka mulai menyiapkan minuman hangat bagi kami semua.
Bekal nasi plus telor ceplok serta bonus garam+cabe merah dibagikan.
Makan siang kami ditutup dengan …. Semangka! Hue..hue… masih inget kan?
Faisal dengan semangatnya, selalu menawarkan kami untuk membelah
semangka. Dengan golok di tangan, lengkaplah sudah makan siang kami kali
ini. Sebelah semangka di simpan untuk di puncak nanti.
Jam 14.30
Aku, Ika dan Ida bergantian sholat di dataran kecil di dekat aliran air
di sisi kanan pondok. Berwudhu. Merasakan air yang sedikit asam.
Jam 15.00
Lanjuuutttt!!!
Jalur Tidak seseram yang aku bayangkan *walau ternyata .. tetep aja
serem* Maklum, tadi imajinasi berkembang dengan pesatnya. Demi melihat
tebing tinggi dan menara pemancar, aku kira .. jalurnya merambah tebing
di sisi timur kawah. Rupanya, setelah melompati aliran air. Kami
berbelok ke sebelah kanan kawah, ke arah selatan. Dan langsung di hajar
jalur licin, akar pohon, plus batu dengan kemiringan hampir 80 derajat.
Uh, harus ekstra hati-hati. Tangan dan kaki semua digunakan untuk
memanjat. Mencari pijakan aman.
Rasanya tidak habis=habisnya, terus menanjak, sama sekali tidak ada
bonus. Di kira-kanan jalur tertutup rapat oleh pepohonan. Kadang-kadang
aja sih ada bonus….. bonus liat kawah dan pemandangan di sela-sela
pohon!!!! he..he…
Jam 17.00
Aku, Ika dan Yanto ada di barisan terakhir. (kemudian ditambah dengan
Kris) Sayup-sayup terdegar obrolan di atas sana. Apalagi ditambah dengan
terang langit yang sudah terlihat jelas. Dan rimbun pohon yang sudah
mulai terbuka.
Kami bertiga, menebak-nebak buah manggis. “Puncak nih! Puncak!” kata
Yanto.
Aku udah senyum-senyum aja sendiri. Berharap. Cepet juga ya? *yang
biasanya selalu malem kalo nyampe puncak. Atau kadang-kadang sering
nggak nyampe dan ngecamp di jalan* Kami tiba. Di suatu tempat datar.
Terbuka. Kurang lebih 2 x 2 meter luasnya. “Yang bener aja. Mana menara
pemancarnya? Mana bisa buat ngecamp!”
Protes! Proteeeeesss!!!
Ika cuma bisa manyun sambil berkata : “Kalo gitu, anda kurang beruntung!
Hi..hi…” Faisal, Ida dan Heri masih nongkrong dan nunggu disana cuma
nyengir. Kris menambahkan dengan gaya ala Thompson (dengan P) “tepatnya
: kurang beruntung”
Faisal dan Toto pergi dahulu untuk booking tempat di puncak. “Nggak jauh
kok. Cuma turun sedikit, terus naek lagi dikiiiittt” Dari sini, kami
sudah melihat batu km dengan percabangan. Ke kiri : ke puncak Manik. Ke
kanan : jalur turun via seketi.
Rupanya kami tiba di puncak bayangan. Dan langit cerah sekali. Kami
dapat memandang Gn. Aseupan, matahari di barat, sebagian punggungan gn.
Pulosari. Pemukiman penduduk di bawah sana. Serta …….. lauuutttt!!!!!
Uhhhhh!!! Indahnya. Tempat terbuka dan sempit ini menampung kami
berenam. Berdesak-desakan. Diantara kamera-kamera yang sudah
dikeluarkan. Memandang laut, pulau, matahari yang sebentar lagi akan
tengggelam. Kadang-kadang awan dan kabut berarak menutup pandang. No
problemo! Kami sabar menanti kok.
Jam 17.15
Kami mulai bergerak. Kami ambil yang ke arah kiri. Jalur cukup jelas.
Mungkin karena banyak orang yang sering yang lewat dari sini. Sementara
jalur ke kanan, sedikit tertutup semak dan bambu. Jalur kembali gelap
dan rimbun oleh pepohonan. Jalur sempit dan rawan longsor. Turun
sejenak, untuk kemudian naik kembali. Beberapa kali terjadi.
Jam 17.30
Cuma 15 menit. Rupanya sudah tiba di gigiran puncak. Melewati gundukkan.
Sedikit berbelok ke kanan. Di kiri, tebing curam berikut kawah terlihat
jelas nun jauh di bawah sana. Puncak Manik, Gn. Pulosari sendiri berupa
dataran sempit memanjang dari selatan ke utara. Hampir semua tempat
dapat dipakai buat ngecamp. Di ujung utara, ada menara sensor dan
pemancar gempa. Kami ngecamp tidak jauh dari menara. Beberapa tempat
sudah ada tenda kelompok lain.
Jam 17.45
Selesai pasang tenda. Berjejer 3 tenda. Sementara yang lain masih
berbenah. Aku dan Ika sudah mencari posisi di ujung puncak untuk
mengabadikan sunset. Tripod sudah di gelar. Membawa air dan cemilan.
Kami berdua ngobrol sambil menunggu matahari. Langit sudah mulai
kemerahan. Tak lama kemudian, Ida, Kris dan Yanto datang menyusul.
Kini, praktis ada 5 orang yang berdiri berjajar menanti moment. Dengan
kamera di tangan masing-masing dan pandangan tak lepas ke arah barat.
Layak dinantikan. Cuaca mulai berubah. Kabut mulai datang beriring
menutup pandangan.
“waaaaaaaa…..” penonton kecewa.
Lamaaaaaa banget, sampe akhirnya matahari sedikit mengintip dari balik
awan. Momen sepersekian detik. Suasana cukup tegang. Kami semua menahan
nafas. *yaaa.. serius amat sih bacanya… nafasnya nggak ditahan
terus-terusan donk* Begitu matahari muncul. Bergantian suara roller
shutter disana sini. Hingga tiba-tiba …. ada suara nyaring membelah
kesunyian.
“krek …. Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……………..!”
“apaan sih?”
(kira-kira bunyi apa ya? Kok semuanya menoleh ke arah yang sama. Kalo
ada yang buang gas .. maap ..maap nih … *sebagai orang yang malang
melintang di dunia persilatan* kayaknya bukan begitu deh suaranya …
besok deeeh.. besok lanjutannya…..)

Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "profesional dalam bekerja"

From: "Ariesnawaty" Date: Tue Feb 1, 2005 9:29 am Subject: Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "profesional dalam bekerja"
ariesnawaty Offline Send Email
http://photos.yahoo.com/ariesnawaty
Tantangannya ternyata disambut Faisal. Demi sebuah semangka, ia rela
menukar daypack (yg rencananya mau dipake besok) menjadi backpack.
Sukses dengan Semangka, kini Ika yang tergerak hatinya untuk membeli
mangga. Dan kemudian menatap Faisal dalam-dalam.
Faisal hanya menarik nafas panjang : “iya deeh… gue bawa.”
Briefing singkat di tempat Faisal. Berikut hadirnya temen Faisal sebagai
bintang tamu yang menjajakan sepatu. Maklum deket pabrik. Adaaaa aja
barang reject yang jatuh-jatuhnya murah punya. *sales style, kota style*
Mobil carteran sudah di beritahu. Kapiten Ika putuskan : “besok kita
berangkat jam 5 subuh!”
Semua bebenah. Mandi. Istirahat. Sementara Faisal dan Toto bermain
badminton. Bermain ganda dengan tetangga sebelah “kunjungan
persahabataaaan!!!” serunya riang.
di bangku supporter, nampak duo Yanto dan Kris yang sedang serius
diskusi mengenai profesionalisme. *beraat euy!!* kesimpulan diskusi
panjang mereka adalah : “Walaupun dia tukang sapu. Menyapulah dengan
professional!”
Sementara diujung lain, beberapa penghuni kos sedang berkumpul di sektar
sumur, cuci baju!!!
Sabtu 22 Januari 2005
Jam setengah enam sudah siap di dalam angkot carteran. Dengan mata
setengah terkantuk. Dilepas pandangan seekor kucing yang menoleh dari
kanan ke kiri mengamati kepergian kami.
Sejam kemudian kami sudah mencapai kota Pandeglang. Dan terus
dilanjutkan kearah Labuan. Di daerah Mengger (sebelum Labuan) kami
berbelok ke arah ds. Cilentung.
Jam 8 pagi
Tiba di ds. Cilentung. Rencana mau sarapan di warteg langganan urung
karena tutup. Akhirnya nangkring di rumah yang ada warung rokok yang
berada tepat di depan warteg. Bernego sebentar. Hasilnya didapat
beberapa mangkok mie panas dan kopi hangat. Sarapan dulu aaaahh…
Desa ini tidak terlalu besar. Beberapa rumah dan beberapa warung.
Selebihnya sawah dan jalan aspal yang membelah desa. Dengan view
Pulosari di kejauhan sana. Pucak samar tertutup kabut. Uh! Serem …
Karena masih suasana hari raya. Warung pada tutup. Berikut pos lapor.
Jadi, kami nggak bayar retribusi. Aku dan Ika, sempet ke rumah tetangga
untuk memesan nasi plus lauknya. Ngobrol sebentar dengan ibu yang baik
hati menyediakan nasi untuk kami.
Jam 09.00
Berdoa bersama serta berfoto keluarga *huhuy .. teteeeeepp!* Kami
berdelapan (tiga lainnya menyusul nanti malam) berjalan kaki menuju
entry pendakian. Melalui jalur aspal sempit cukup untuk 2 mobil *bila
berusaha keras* berpapasan. Jaraknya kurang dari lima menit naek ojek
lah. Selama perjalanan ini, kami disuguhi pemandangan Gunung Pulosari
yang puncaknya sedikit tertutup kabut.
Gentar! Itu yang selalu aku rasakan setiap melihat puncak gunung.
Bisakah aku datang berkunjung? Kupandangi Ida, Heri, Faisal dan Totok
yang sudah melaju di tanjakan depan. Sementara Kris sudah nyungsep di
sawah di sisi kiri jalan. Apalagi kalau bukan untuk menjepret gunung
Pulosari. Sementara Ika …..
“Priiiiiiiiiiittttttt!!!!!!!!!!!”
Semua menoleh kearah suara. Berusaha menginterpretasikan arti suara
sempritan berikut. Sawah = suara burung. Suara sempritan? Tidak match.
Sempritan = polantas nah .. itu baru match. *Tapi ada polisi di jalan
aspal kecil ini?* Yang udah duluan nun jauh disana, panik. Menghentikan
langkah dan menoleh kebelakang.
Kapiten Ika nyengir. Memegang sempritan orange. “Sori Maaaan… Cuman
ngetest. Biar jij tau posisi kalian”
Setelah melewati sawah dan hutan bambu akhirnya kami tiba juga di
kawasan permukiman penduduk. Rumah penduduk di sisi kanan dan kiri jalur
jalan. Di sebelah warung ternyata merupakan jalur naik. Entry nya berupa
plang bertuliskan curug putri, kawah dan puncak manik. Nyelip diantara
dua rumah penduduk. Sedikit menanjak. Kami ber hos hos berjalan melewati
rimbunnya kebun. Jalan setapak berupa tanah dan bebatuan. Tidak begitu
curam. Nggak ada yang bawa altimeter. Tapi berdasarkan informasi kami
start naik dari ketinggian 150 meter. Lima menit perjalanan sebelum tiba
di Curuq Putri, kami temui sebuah pondok yang cukup besar. Jalan setapak
yang kami lalui membelah melewati pos tersebut. Melompati parit yang ada
di sisi kiri depan pondok. Sudah terdengar deru air terjun. Sedikit
menanjak dan kami tiba di Curuq Putri.
Jam 10.30
Ada sebuah pondok yang cukup besar. Tepat di depan aliran air terjun.
Air nya jernih sekali. Suasana sedikit mendung. Sedikit keatas, ada
sebuah bak penampungan air yang dibeton. Sedikit menanjak ke atas. Air
terjun setinggi kurang lebih 10 meter mengalir dengan derasnya. Rupanya
untuk menghindari pemakaian air untuk mandi. Penduduk setempat memberi
pagar kayu. Plang bertuliskan …………………….. sengaja dipasang. Air tersebut
dimanfaatkan penduduk di desa Cilentung untuk keperluan air minum.
Wajar.
Aku dan Ika dan Heri tiba terlebih dahulu. Sementara kami jeprat-jepret
di sekitar air terjun. Heri sudah nangkring di salah satu aliran Air.
Merendam kepala dan mencuci muka. Suegeeeerrr!!!!
Lumayan lama sih kami disana. Faisal, Toto dan Heri malah sudah
berjuntai kaki duduk di atas atap bak beton. Sementara portergrapher
lainnya *catat juga ya.. portergrapher .. bukannya fotographer
..he..he..* tak habis-habisnya mengabadikan moment Curuq Putri diantara
mendung dan sinar matahari yang kadang muncul menyelinap di sela-sela
daun.
Jam 12.00 siang!
Sebenernya dari setengah jam yang lalu kami semua sudah bersiap untuk
melanjutkan perjalanan. Tapi hujan turun. Tidak begitu besar. Tapi
lumayan. Memakai raincoat. Tapi masih berat rasanya untuk melanjutkan
perjalanan. Mau makan siang? Uh ! Masih kenyang euy….
Hingga hujan benar-benar berhenti. Melepas raincoat. Dan kini kami mulai
pendakian menuju kawah. Jalur jelas terlihat dari depan pondok.
Melompati parit aliran air terjun. Dan langsung menanjak. Karena habis
hujan. Kami harus hati-hati melewati jalur yang cukup licin. Melewati
akar pohon dan sesekali bebatuan.
Jalan terus. Naik terus. Sesekali kami temukan bonus berupa tanah datar.
Lumayan untuk sejenak menarik nafas panjang. Jalur sangat jelas. Sering
kami temui ladang dan sawah tadah hujan milik penduduk.
Jam 13.30
Begitu aku tiba, Faisal dan Heri sudah menunggu di pondok pertama yang
kami jumpai. Pondok kecil. Tanpa atap. Hanya rangkanya saja. Mereka
berdua sedang leyeh-leyeh dan menganyam mata *tidur maksudnya*.
Dari pondok ini, sudah terlihat sepotong kawah berwarna putih, dengan
asap belerang (yang juga berwarna putih) ngebul bergerak-gerak ditiup
angin. Nun jauh disana, beberapa kelompok ABG sedang berpiknik diseputar
kawah .
Meletakkan keril. Dan segera menyusul Ika yang sudah terlebih dahulu
berada di kawah sedang mengatur barisan anak-anak ABG.. apalagi kalau
bukan untuk difoto. Nggak mau kalah, aku segera menghampiri Ika. *ehmm
lumayaaann .. mudah-mudahan ikut kefoto* tapi ternyata tidak semudah itu
saudara-saudara. Sesosok makhluk menghadangku. Tubuhnya kecil. Wajahnya
berwarna hijau lumut.
*Alien? Emang ada UFO disini?* otakku berpikir keras. Hijau = Alien …….
match!!!!! Huaaaaaaa ……..
Apa yang terjadi kemudian? Lagi-lagi …. harus sabar menanti. Jawaban ..
sudah pasti ada pada catper berikut.

Subject: Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "misteri frame yang tertinggal"

From: "Ariesnawaty" Date: Mon Jan 31, 2005 9:34 am Subject: Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "misteri frame yang tertinggal"
ariesnawaty Offline Send Email
http://photos.yahoo.com/ariesnawaty
Jum’at 21 Januari 2005
KAMPUNG RAMBUTAN
Janjian jam 13.30, begitu aku dateng udah ada Ida. Yang langsung
ngeloyor pergi gara-gara mau ke toilet. Heri yang udah stand by dari
tadi, ternyata nunggu di mushola. Kenalan dulu dan ngobrol sebentar. Tak
lama kemudian Jenny dan Ika datang bersamaan.
“lho? Kok nggak bawa kerir Jen?”
“aku nggak bisa ikut.”
Sambil mengangsurkan tenda kepada Ika dan frame tenda kepadaku.
Memberikan satu kantong logistik kepada Ida dan nyengir kepada Heri.
Kris baru datang. Bengong mengamati pembicaraan yang terjadi antara aku,
Jenny dan Ika. Mendadak pucat wajahnya. Tangannya bergetar. Suaranya
tercekat. Kami semua yang hadir disana jelas bertanya-tanya. Kalo ada
penampakan, ini masih siang bolong, Maaaan!
“Whaduuuh… lupa bawa frame! Tendanya sih bawa. Tapi framenya!
Frame-nyaaaaaaa!” teriaknya sendu.
Matanya mulai berkaca-kaca. Mau balik ke Ciledug. Hiks! Jauh! Bisa tujuh
hari tujuh malam. Itupun setelah melewati tujuh gunung dan tujuh lembah!
*.. he..he… peace Kris! Peace!!*
Jenny segera berunding dengan Ika. Kebetulan, tenda Ika masih ada di
kost-nya Jenny. Tenda Kris dikeluarkan. Rencananya, langsung dibawa
Jenny untuk ditukar dengan tenda Ika. Tak lama kemudian Ika dan Jenny
pergi. Berpapasan sejenak dengan Joko yang sengaja datang untuk
melepaskan kepergian kami (dan mengembalikan kompor trangia milik Ika).
Begitulah. Pada saat yang bersamaan Yanto sudah dalam perjalanan menuju
Serang.
Jam setengah tiga sore.
Baru masuk bis. Diiringi lambaian tangan selamat jalan dari Jenny dan
Mbakyu Djoko. Kami berlima berangkat dari Kampung Rambutan. Aku, Ika,
Ida, Kris dan Heri, duduk dalam satu row. Apalagi yang dilakukan kalau
bukan menghentikan semua pedagang yang lewat.
“gua pengen ngemil nih!” kata Ika. (catatan : masih mengunyah tahu
goreng dan sedang menawar kedondong sementara kacang goreng dan botol
aqua masih nyelip di punggungan kursi depan) Heri langsung terlelap.
Begitu juga Kris. Sementara kami bertiga, sibuk merencanakan trip
berikut. Hua..ha..haa…
Resminya sih jam setengah tiga meninggalkan kampung Rambutan. Tapi
bertambah ½ jam gara-gara ngetem di belokan. Jam 3 baru meluncur.
Sementara Yanto sudah tiba di terminal serang. Sedang makan dan
leyeh-leyeh di mesjid.
TERMINAL SERANG
Hanya satu setengah jam, bis transit sejenak di Terminal Serang. Posisi
turun kami sedikit aneh. Melintang di tengah jalan. Diantara angkot dan
orang-orang yang berlalu lalang. Estafet menurunkan kerir dan berjalan
menuju mesjid. Harapanku sih segera berjumpa dengan Yanto yang
legendaris itu … he..he.. *pletaaaaakkk…. !!! catatan : disambit sandal
jepit*
Faisal pun rencananya bakal menjemput kami di terminal. Janji-jani
tinggal janji, bulan madu hanya mimpi…. Yang ada cuma sms singkat *
yaaa.. namanya juga short message*
“naek L300 aja sampe Gorda. Ongkos 2000 per orang. Yanto udah disini”
Setelah aku menuntaskan panggilan alam dan Ika beredar di sekitar
terminal. Kami naek L 300 yang ada di terminal (bus luar kota dan dalem
kota jadi satu) menuju Balaraja.
Nggak perlu ngetem karena penumpang sudah cukup banyak. Keril diikat dan
diletakkan diatas atap. Heri duduk di depan. Aku, Ika dan Ida menempati
kursi belakang. Kris? Kris? *panic style*
Rupanya dengan rambut berkibar-kibar sedang bergelantung santai di pintu
mobil. Menjadi asisten tak resmi dari kernet L 300. Setengah jam
perjalanan dari sana, kami turun di prapatan Gorda.
KOS FAISAL
Menurunkan keril. Dan diserbu puluhan tukang ojek (berikut motor
masing-masing) yang memang mangkal di prapatan. Ika sudah nangkring di
seberang jalan. Foto-foto. Sedang kami berempat merapatkan barisan,
nyaris ciut nyalinya diserbu tukang ojek.
“Gih telpon Faisal!” kata Ida (mata siaga ; kaki, posisi kuda-kuda)
(Kris posisi menelpon)
“Bilangin! Kami minta di rescue!” kataku menambahkan (mata juga siaga;
pengen naek ojeg)
(kris tetap menelpon)
Tak berapa lama, muncul rombongan (aduh saking banyaknya) dari seberang
jalan. Menghampiri kami. Berhubung aku belum kenal satupun dari mereka.
Maka di perempatan jalan itu terjadi perkenalan antara kami.
Menebak-nebak, mana yang namanya Faisal, mana yang namanya Yanto … mana
yang namanyaToto … saking gembiranya, semua kusalami *termasuk tukang
ojek*
Faisal dengan rambut kiwil-kiwil diikat kecil-kecil. Toto dengan rambut
gimbal yang diikat kebelakang dan Yanto dengan cengiran selebar monitor
17 inchi menyambut kami semua.
Jam 5 sore
Sudah ada di kos-kosannya Faisal. Buat temen-temen yang dulu rajin
nonton filem Melrose Place, pasti nggak kaget lagi bila melihat suasana
hunian tempat tinggal Faisal. Setelah di rescue dari tukang ojek. Kami
memasuki jalan setapak. Keluar masuk daerah hunian yang padat. Melompati
pagar. Melewati halaman orang dan beberapa jemuran.
Kamar Faisal ada di lantai dua. Berukuran 3 x 4 m2. Gedung dengan bentuk
huruf U ini uniknya, memiliki satu lapangan bulutangkis dan satu sumur
pada inner court Melrose Place mereka. Mengaku sebagai Rangga *Rangga?
Rangga-nya AADC? gubraaaakk* Faisal sering beredar berkeliling
menyambangi penghuni kos lainnya.
“nganggu cewek mulu!”
“Kalo nggak kita ngangguin. Mereka yang nggangguin kitaaaaa” Sekarang
Adit yang menjawab. *adit? Aditnya Eiffel I’m In love??? * Rupanya Iyat
alias Ridho Hidayatullah menjawab.
Aku, Ika dan Ida ditempatkan pada kamar Faisal. Sementara Ia sendiri,
mengungsi ke kamar sebelah (yaah .. beberapa kamar deh jaraknya) bersama
Kris, Heri dan Yanto.
Hujan rintik sore itu tidak menyurutkan semangat kami semua. Malah
suasananya syahdu sekali.
Malamnya. Kami dinner pecel lele di warteg depan. Belanja tambahan
logistik di Alfa Mart Gorda. Dalam perjalanan pulang, Yanto punya ide
gila untuk membawa sebuah semangka berdiameter 40 cm ke puncak.
Syaratnya cuma satu :
“asal bukan gue yang bawa!”
Beranikah kami menerima tantangan Yanto? Jawabannya ada pada catper
berikutnya.

Wednesday, March 01, 2006

Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "kami adalah"

From: "Ariesnawaty" Date: Fri Jan 28, 2005 10:36 am Subject: Gn.Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "kami adalah"
ariesnawaty Offline Send Email
Sebagian foto, dimana lagi kalo bukan di….
http://photos.yahoo.com/ariesnawaty
Tokoh kali ini :
Ida Farida : tau info jalan-jalan ke Pulosari justru dari Jenny. Selama
ini lebih memilih menjadi silent milister dan solo trekker. Dalam
pendakian ini ia memiliki nama kesayangan “si gembul”. Akibat resah
karena masalah berat badan, dibawanya pula teh kepala jenggot untuk diet
ketatnya. Walaupun paling muda diantara kami semua. Pengalamannya jauh
melewati batas para sesepuh (yang rata-rata baru berumur 17 lewat
sedikit itu lho!) Adapun sesepuh itu diantaranya adalah ……….
Sudaryanto : juga tau info jalan-jalan ini dari Jenny. Hari pertama
langsung meluncur ke terminal Serang. Karena lebih cepet kalo nyegat bus
dari Kebon Jeruk (catatan : kos di daerah Kebon Jeruk). Tampilan sih
boleh pake daypack tapi kenyataan tidak seindah yang dibayangkan.
Bebannya justru jauh lebih berat dari backpack!! Tampilan lain? Sudah
jelas, betisnya selalu menjadi object menarik untuk di jepret oleh ….
Ika Dewi Kartika : dengan camdig baru kesayangan berikut jabatan mulia
selaku kapiten untuk perjalanan kali ini. Tak ketinggalan, dengan baju
dan kerudung kuning summit attacknya ia berujar dengan mantap :
“Ngejreng, Ries! Yang penting ngejreng. Biar keliataaaaaaan!!”
Kris Hartanto : komentarnya cuma satu waktu aku ajukan proposal peserta
tambahan: “Saya tidak keberatan soal peserta bertambah. Kita kan mau
cari teman banyak...Ingatlah: satu musuh terlalu banyak, seribu teman
terlalu sedikit, (sering jadi moto HC'ers) sepuluh pacar pasti kurang
banyak..he..he..heee! Sister Aris mau dimasakin apa? Saya baru punya
satu menu. (Mushrom Risotto With Smoked Beef)”
Mochamad Faisal Ilyas : temennya Mbakyu Djoko. Karena posisi kost dan
kantor ada di GORDA (catatan :lumayan deket dengan target pendakian)
secara alami sudah didaulat untuk menjadi informan dalam perjalanan kali
ini. Karena belum kenal seluruh anggota pendakian (kecuali Kris waktu ke
Semeru lebaran kemaren) mengeluh pendek kepada Joko ketika tahu bahwa
Joko batal ikut. Berikut petikan obrolan mereka.
Faisal : “Kalo si Boss batal ikut. Bakal nggak enak dong.”
Joko : “Kalo nggak enak. Kasih sama kucing aja.” (catatan : bener-bener
nggak nyambung)
Heri Supriyanto : bener-bener belum kenal siapa-siapa. Ketemu langsung
dengan member team di terminal kampung rambutan. Selama ini perkenalan
dan persiapan logistik di lakukan jarak jauh via telpon dan email.
Mengaku ini pendakian perdana. Tapi kalo jalan selalu paling depan.
Dan menyesali nasib (seperti yang diucapkan kepada Kris dan diulang
kembali kepada saya, demi keorisinalan bukti sejarah) “Kenapaaaa yaa..
baru ketemu kalian sekarang? Kenapa nggak dari dulu?” *deu .. kayak di
lagu-lagu deh!*
Toto Bahruddin : temennya Faisal (sekaligus temennya Joko) leader
sekaligus sweaper yang care habis kepada anggotanya. Ayah dari seorang
putri bernama Edelweis ini dengan rambut gimbal dan logat Banten-nya
yang kental punya motto keren : “lewat lima meter dari rumah, saya
adalah seorang bujangan.” Hua…ha..ha..ha…
Ridho Hidayatullah alias Iyat, Rudy dan Agus : Tiga temen Faisal yang
jam 11 malem beryuhuu .. yuhuuu… di puncak memanggil Faisal. (catatan :
mereka bertiga nyusul. Berangkat jam 7 malem dari Cilentung. Karena
banyak yang ngecamp di puncak. Bingung. Pengen cepet, nekad ambil jalur
tengah yang super serem itu.)
Dan saya sendiri, Ariesnawaty …..
Kami adalah sebuah kesebelasan yang bertekad sehidup semati mencapai
puncak Ki Manik, nama puncak Gunung Pulosari, pada tanggal 21 – 23
Januari lalu.
(Ical batal ikut, karena udah janji dengan Hanief untuk pergi ke Gn.
Talaga Bodas, Jenny juga batal pas detik2 terakhir, Ibeth lagi berduka
masalah Aceh, Suwasti & Rifi juga batal berduka karena Jakarta lagi
banjir, Joko batal ngikut karena mertua dateng, Budi urung karena harus
ke Surabaya, Anie nggak dapet ijin dari doi, Elly harus ke Bandung,
Haris, belum dapet exit permit, Joe ada acara keluarga di Solo )
AWALNYA
“Emang di Serang ada gunung?”
Hampir seluruh peserta pendakian (baik yang diajak untuk ikutan,
terancam ikut, coba-coba bertanya dan ternyata ikut serta yang tidak
ikut karena mendadak batal ikutan) mengajukan pertanyaan yang sama.
“Itulah diaaaa…. Pada nggak tau kan?” jawabku pasrah “ Sama dong!”
“Huaaaa…!!!” (catatan : penonton kecewa)
Wong aku juga belum pernah kesana. Denger namanya juga baru. Kalo nggak
di tawarin Mbakyu Djoko yang baru aja dari sana. Mana pernah tau tentang
Pulosari. Sebenernya tawaran untuk datang kesana sudah datang sejak
akhir tahun lalu. Selalu menjadi plan B gara-gara sering melirik
propinsi tetangga. Nggak taunya, di deket-deket Jakarta ada juga toh.
Duh kupernya!
“Ada air terjunnya!” Kata Joko.
Telinga Ika langsung tegak mendengarnya …. hmmm .. *catatan : Ika yang
hobbynya maen air*
“Juga ada kawahnya Ries! Sebenernya kemaren nggak ada rencana mau
kesana. Cuma pake sandal jepit dan kantong keresek. Ditawarin Faisal
buat nerus sampe kawah. Males, nggak bawa kamera masalahnya”
Penasaran. Berminggu-minggu japri. Bertukar data dan informasi diantara
kami. Itinerary segera di susun Jenny yang dulu pernah kesana. Ika dan
Joko menambahkan bumbu-bumbu mengenai object menarik yang bakal kami
temui disana.
Gunung Pulosari (1346 mdpl) terletak di kabupaten Pandeglang, Propinsi
Banten. Lokasinya sekitar 120 km ke arah barat Jakarta. Gunung ini
diapit oleh gunung Aseupan (1174 mdpl) di utara dan Gunung Karang (1778
mdpl) yang terletak di arah timur laut Pulosari.
Apalagi, banyak sekali situs-situs bersejarah yang nggak kalah
menariknya di sekitar kaki Gn. Pulosari. Kompleks megalitik di Batu
Goong, arca di Tenjo (Sanghyangdengdek) hingga dolmen di
Baturanjang.(Info lengkapnya, ntar baca aja di akhir catper ya)
Uh ….nggak kuku deh!
To be continued.

OEDJOENG KOELON 9 - 13 Februari 2005Episode : "tali tambang (rupanya) hanya sebagai syarat

a riesnawaty <ariesnawaty@...> wrote:OEDJOENG KOELON 9 - 13 Februari 2005Episode : "tali tambang (rupanya) hanya sebagai syarat"http://photos.yahoo.com/ariesnawatyhttp://asia.pg.photos.yahoo.com/ph/ewing_eyo/my_photosEalaaaah... ternyata pantai sedikit menurun menuju muara. Wajar mereka nggakkeliatan. Mereka sudah ada di seberang. Dan mulai terlihat muara sungaiCikeusik yang luas itu .. huu.. serem..." Anda hendak menyeberang ? " imaginary friendku bertanya. "Enggak deh ...terimakasih!!!" "Buaya ..buaya ..buaya .." " enggak makasih .. saya pilihpak aya saja! He..he.."Kulempar daypack. Dengan pakaian basah karena keringat, sepatu, kaos kakiyang basah pula oleh air. Aku langsung merebahkan diri keatas pasir yanghangat itu. Terlentang, mengatur nafas dan memandang kerlip bintang dilangit. Lega karena sudah tiba. Yang aku inginkan saat ini adalah langsungngecamp!Joe menyeberang kembali. Kemudian duduk disampingku."Ries, nyebrang sekarang yuk. Mumpung belum begitu dalem airnya." (catatan :karena pasang)Dalam gelap, kami berdua menyeberang. Air sudah sebatas pinggang. Di atassana nampak siluet Erwin dan Pak Nahri. Begitu aku tiba, langsung disambutdengan Coca Cola (nyebut merek lagi deh ..) yang rencananya baru akan kamibuka entar pas udah di Peucang. Tapi gpp deh, yang ini patut dirayakan kok.Kembali aku teruskan tidur diatas pasir. Sambil memandang bintang. SedangKris belum juga nampak."udaaah .. jemput aja!"Kami mengutus perwakilan (Joe dan Pak Nahri) untuk menjemput Kris. Sedangaku dan Erwin mengarahkan lampu senter untuk memandu Kris."Itu dia!!" Samar-samar terlihat sinar head lamp milik Kris. Rasanya lamasekali, hingga akhirnya mereka bertiga tiba."Sis Ar. Ada roti nggak?' Kata pertama Kris." Saya lapeeerr!!!""Roti ... Roti ..." ujarku ala penjaja roti."Minum ... Minum dulu Kris!" tawar Erwin.Sambil berurai air mata dan mengunyah roti *hebat euy... bisa barengan*,Kris mulai curhat." nggak tau kenapa, saya capek banget. Yang tadi kepikir cuma ngejar sis arsbiar dapet roti. Udah nyoba ngejar kalian, lari ... jalan... lari .. jalanlagi. Tapi nggak terkejar. Begitu udah gelap dan jauh, menyerah deh. Udahnggak ada hiburan lagi. Patokannya cuma jalan terus dan lampu senter aja"Malam itu kami ngecamp di Cikeusik. Ada satu tempat datar sedikit terlindungdi arah utara. Di dekatnya ada satu sumber air *tadah hujan, kelihatannya*berupa satu drum yang tertanam di dasar pasir. Tidak direkomendasikan buatminum. Kalau mandi pun ..he..he.. lebih baik dalam gelap saja.Dasar, adaaaaaa aja yang kelebihan energi! Malam-malam .. Joe masih ajabersemangat mengajak buat mancing. Kami membuat api unggun di tepi pantaidan memasak ikan plus kepiting panggang .. hmmmm....Day 3 (fri 11.02.05)Bayangin aja, baru start jam 11 siang. Habiiisss.. hujan gerimis, bikinmales buat nerusin perjalanan. Hari apa ya sekarang? Tanyaku dalam hati.Disini, waktu, hari, mengalir begitu saja. Tanpa berita, tanpa gossip!*He..he....* sama sekali nggak ketemu manusia.Baru tahu juga kalo tidak jauh dari sini ada lapangan terbuka (miriplapangan golf), padang buat binatang leyeh-leyeh sambil ngerumput. View-nyabagus sekali dan bisa buat ngecamp.Begitu hujan reda, kami mulai melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menujuCibunar. Lokasinya persis ada di kaki Gunung Payung. Dari sana, berbelok kearah utara, memotong hutan dan akan tiba di Cidaun. Entry point bila inginmenyeberang menuju Pulau Peucang.Masih menyusur pantai. Pantainya lebar sekali *selebar lapangan bola kali*Putih, bersih. Sesekali kami berkejaran dengan kepiting. Plus dikejar ombak.Jauh disana, nampak jelas Gunung Payung. Langit masih mendung. Lumayan radaadem. Kulit nggak begitu perih karena terbakar matahari.Jam dua siang, tiba-tiba Erwin dan Joe berhenti. Idih... pake rem dong! Akuyang hanya selisih lima langkah dari mereka jelas bertanya-tanya . Ada apaya? Kalo mau makan siang, bukan begini caranya. Bilang dong .. bilaaangg!!Terhalang tubuh mereka berdua, begitu aku sudah berdiri di samping mereka,baru deh terlihat muara sungai Citandahan. Dan alirannya deras sekali *40 kmper jam deh kayaknya.. kuenceng banget sih!* Di hulu, langit jauh lebihgelap. Mungkin hujan disana. Debit air pasti tinggi. Sementara, ombak disisi selatan kami begitu besar dan tinggi.Mau nekad menyeberang? Anda akan langsung dihajar aliran sungai. Digulungombak dan langsung bye ..bye... dibawa ke laut selatan.Tak lama kemudian Kris sudah datang menyusul dari belakang, Demi melihatkami yang sedang bengong di tepi sungai, nyengir dan berkata :"Gue udah lari ... jalan. Lari lagi ..jalan lagi. Pokoknya hari ini kagakmau ketinggalan lagi. Tau gini, mendingan gue nyantai deh!"Sementara Pak Nahri pergi ke mata air dekat situ untuk menambah persediaanair. Kami berempat berunding. Mau nyebrang? Hi ..hi...Takuuuuuutttt!!! Mananggak bawa tali. Apalagi dengan keril segede gaban isi kamera *modal euy!Masalahnya* Pak Nahri tadi udah wanti-wanti, berdasarkan pengalaman,biasanya ia memilih untuk ngecamp dan menunggu air surut.Mau ngecamp disini? Wah ... sedangkan kami harus ngejar ke Peucang sesegeramungkin. Kalo nambah sehari lagi? Alamat bisa telat balik ke Jakarta.Sedangkan logistik kami mulai menipis. *Sebenernya yang lebih parah, cocacola untuk dirayakan di Peucang udah di buka kemaren.*(mulailah ... imajinasi-imajinasi ala cast away berkembang liar diantarakami. Nambah ngecamp sehari lagi? Sudah dipastikan bakal molor dari skedul.Mau balik lagi? Uh .. pantang!!! Apa kata dunia .. *he..he.. malu dong!*Jadi? Besok deeh .. lanjutannya ..)--

UK 9-13 Feb 05 Episode : "pulang dong .. pulang ... !!"

From: "Ariesnawaty, Aries" Date: Fri Mar 18, 2005 9:10 am Subject: UK 9-13 Feb 05 Episode : "pulang dong .. pulang ... !!"
ariesnawaty Offline Send Email
http://photos.yahoo.com/ariesnawaty <http://photos.yahoo.com/ariesnawaty>
http://asia.pg.photos.yahoo.com/ph/ewing_eyo/my_photos
<http://asia.pg.photos.yahoo.com/ph/ewing_eyo/my_photos>
Tiba-tiba. Pak Nahri menari-nari gembira. Idih.. nggak salah tuh? Kalo mau
ngadain pertunjukan gratis .. mbok ya liat-liat waktu gitu. Kami kan lagi
dirundung duka.
"Ada yang dateeeeeengg!!!" teriak Pak Nahri di sela-sela tariannya. Ia pun
bergegas mengangkut kerir dan stand by di tepi pantai. Sebuah boat melaju
dari Peucang. Apalagi kalau bukan untuk menjemput kami. Bayaran? Urusan
belakang. Yang penting, nyampe Peucang dulu.
"Sekarang?" tanyaku pada Joe. "Kita berangkat sekarang? Nggak makan dulu?
Nanggung nih!"
"Buruan deh Ries. Ombaknya mulai gede. Anginnya juga. Mendung dan hujan
pula. ntar nggak bisa nyebrang lagi"
Kris yang sedang berjongkok dihadapanku. Dengan wajan di tangan, urung
menyantap masakan hanya menarik nafas panjang dan berkata :
"Be Te!!!"
Aku bergegas packing. Mengangkut semua yang bisa diangkut. Kami berlari-lari
menuju boat yang sudah tiba di tepi pantai. Kerir, panci, kompor, wajan,
sepatu, raincoat, kamera. Kami lanjutkan makan siang kami diatas boat. Nasi
goreng bercampur air laut dan air hujan. Hmmmmm.....
jam 5 Sore di Peucang.
Tadi sudah lapor petugas. Lagi-lagi kabar duka. Ternyata pagi tadi kami
sempet ditungguin petugas yang mau balik lagi ke sumur dengan kapal. Karena
nggak ada yang nongol, ditinggal deh. Hiks! Terdampar lagi ..... nggak ada
kepastian kapal yang bakal lewat. Mau nebeng pengunjung Peucang lainnya?
Lagi sepi. Tragedi Tsunami dan info laut barat yang heboh itu, membatalkan
semua bookingan yang ada. Mau nebeng perahu nelayan, rata-rata mereka baru
pergi melaut. Kagak tau kapan baliknya.
" Seminggu lagi kali' baru balik!"
"huaaaaaaa"
"Terdampar, waktu molor, atau logistik yang semakin menipis, bukan masalah
Sister. Tapi .. kehabisan rokok!!! Itu bencana!!!" Keluh Kris *dying for
cigarette*
Kami nggak bisa ngecamp disini. Harus nyewa salah satu cottage yang ada
disini. Iya deehh...!!! Kami ngambil kelas yang paliiiiiinnnggg murah. Salah
satu kamar di barak panjang tidak jauh dari kantor resort. Diantara rusa
yang sedang merumput, monyet-monyet yang ramai mengincar barang bawaan kami
dan seekor biawak yang dengan cuek jalan-jalan di sekitar jemuran di samping
barak.
Dan jemuran itu sendiri? Jangan tanya. Sudah penuh berkibaran kaos, celana,
slyer, matras, dan .. rupa-rupa underwear! He..he...
Untuk menghibur diri, sore itu kami habiskan untuk jalan-jalan dan
berenang-renang di pantai Peucang. Sedikit terhibur dengan pantainya yang
bersih, putih berikut air laut yang jernih dan tenang. Kami berenang hingga
matahari terbenam. Uh .. asyiknyaaaa.... Dunia milik sendiri nih..yang laen
pada ngontrak! Ha..ha...
Day 5 (Sun 13.02.05)
Pagi-pagi sudah ada petugas yang memberitahu bahwa kami sudah ditunggu
perahu nelayan yang mau balik ke Sumur. Rupanya, sudah ada yang pulang dari
melaut. Wah, gossip rupanya sudah beredar dengan cepat. Kami bergegas mandi,
sarapan dan packing.
Akhirnyaaaaaa...... dapat juga tumpangan. Jam 11 pagi kami meninggalkan
Pulau Peucang. Langit cerah sekali. Laut berombak kecil-kecil. Nun jauh
disana, nampak siluet gunung Anak Krakatau. Selama diperjalanan kami dijamu
minum susu, pisang rebus dan ikan bakar... *kombinasi yang cukup aneh*.
Perjalanan kemarin, meninggalkan kesan mendalam buat kami. Semua sibuk
dengan pikiran masing-masing.
" Kapan ya bisa balik lagi kesini...."
Tatapan mataku bertumbuk dengan Kris ........ kami berdua nyengir ....
"secepatnya Sis!"
Serpong, 18 Maret 2005
(kami tiba di Sumur, empat jam kemudian. Carter mobil ke Labuan. Lanjut ke
Serang .... dan baru nyampe Jakarta jam 11 malem)
Versi singkatnya :
Trekking 5 hari 4 malam jalur darat via Tamanjaya
Pos :
Tamanjaya - Tanjung Lame (camp 1) - Karang Ranjang - Cibandawoh - Cikeusik
(camp 2) - Citandahan - Cibunar - Cijengkol (camp 3) - Cidaun - Peucang (
camp 4) - Sumur
Biaya :
Bis Primajasa Jakarta - Merak @ Rp 12000
L 300 Cilegon Labuan @ Rp 8000
Angkot di Labuan (jauh dekat) @ Rp 1000
L 300 Labuan - Tamanjaya @ Rp 15000
Bea masuk TNUK (via Tamanjaya) @ Rp 2000 (krn form habis, kagak
pake asuransi)
Porter (@ Tamanjaya) @ Rp 20000/ hari
Boat dari Cidaon ke Peucang total Rp 50000
Sampan dr perahu ke pantai Sumur total Rp 15000
Penginapan di Peucang total Rp 150000/ kamar
Nebeng perahu nelayan total Rp 200000
Breakfast nasi uduk total Rp 20000
Lunch di Sumur total Rp 15000
Souvenir Tshirt UK di Peucang @ Rp 50000
Buku tentang UK @ Rp 35000
Pin UK @ Rp 15000
Souvenir Ukiran Badak (mungil) di Tamanjaya@ Rp 5000
Day 1 (wed 09.02.05)
16.00 desa Tamanjaya. Ada kantor resort TNUK Tamanjaya. (ngelewatin jalan
raya 1 mobil, sawah di kanan kiri) kalo mau menghemat waktu dan tenaga. Naek
ojek aja atau carter kendaraan sampe ujung aspal.
17.00 ds. Ujung Jaya (memotong desa. Lewat jalan tanah)
19.00 ds. Legon Pakis (nunggu magrib lewat di beranda rumah penduduk,
dijamu air putih dan ditungguin sama seekor kucing hitam yang lagi
..krrrrrrr) jalur awal ngelewatin tugu selamat datang TNUK dan langsung
dihajar untuk nerabas hutan dan nyebrang sungai. Rencana mau ngecamp di
Tanjung Lame
20.10 Ngecamp di Prepet (camp 1) lokasi sebelum Tanjung Lame
Day 2 (thu 10.02.05)
08.30 Prepet, ngelewatin muara sebatas pinggang, setelah itu masuk hutan
bakau. Memotong jalur tertipis antara laut utara dan laut selatan di pulau
Jawa. Jarak tempuh sekitar 40 menit.
10.30 Karang Ranjang ada bangunan permanen pos resort. Bisa buat ngecamp
dan numpang nginep. Sumber air berupa sumur yang jernih airnya.
14.00 start jalan lagi. Jalur jelas. Sedikit terbuka. Masuk hutan pakis dan
daun pandan duri. Memotong tanjung dan tiba di :
16.10 Cibandawoh, berupa pantai luas yang pasirnya putih kemerahan,
berikut ombak laut selatan yang cukup besar. Banyak bertemu dengan peziarah
yang baru balik dari Sanghyang Sirah.
19.30 Cikeusik (Camp 2) muara sungainya cukup lebar. Ada tempat buat
ngecamp. Sumber air berupa drum yang tertanam di pasir. (mungkin ada sumber
air, mungkin juga tadah hujan) tidak direkomendasikan buat minum.
Ada lapangan terbuka (mirip lap golf) padang ngerumput binatang. view bagus
dan bisa buat ngecamp.
Day 3 (fri 11.02.05)
11.00 start dari Cikeusik.
14.00 Citandahan. Muara sungai cukup lebar. Air sebatas dada. Bisa
diseberangi, tentunya dengan mempertimbangkan kecepatan dan arus sungai. Ada
mata air yang jernih airnya.
15.00 baru bisa nyebrang. Setelah itu, jalur naik sekitar 5 meter.
Melipir tebing. Tebing berupa lapangan rumput luas. Kemudian berbelok ke
utara dan langsung masuk hutan rapat.
18.00 Cijengkol Camp 3 (lokasi camp persis di sebelah sungai Cijengkol
Catatan : air hanya sebatas betis)
Day 4 (Sat 12.02.05)
09.30 Start dari Cijengkol. Trekking hutan tropis. Banyak melewati
sungai. Jalur air dan tanah becek. Jalur hewan banyak. Silang menyilang.
Jalur relatif datar.
11.30 tiba di padang penggembalaan banteng di Cidaon. Padang luas tempat
banteng merumput. Ada menara pengamat 4 dek.
12.30 start lagi
12.45 tiba di tepi pantai Cidaon. Ada bendera putih yang bisa dikibarkan
untuk memanggil boat dari Pulau Peucang. Nunggu perahu. Sejam kemudian baru
boat dateng.
14.00 tiba di pulau Peucang, base buat pengunjung yang datang via jalur
laut. Pulau dengan pasir pantai yang putih dan air yang jernih. Banyak
kijang, monyet dan biawak. Ada fasilitas penginapan.
14.30 sudah ada di kantor resort peucang dan nginep di cottage.
Day 5 (Sun 13.02.05)
08.00 perahu nelayan mampir
11.00 start dari p. peucang
15.00 tiba di Sumur
Special tengs!
Buat temen-temen seperjalananku kali ini : Joe, Erwin dan Kris ..... "Kalian
temen jalan yang enak buat diajak ngobrol, makan bareng, nenda bareng,
berenang bareng, ha ha hi hi bareng ...
Terimakasih atas kesempatan yang diberikan ke gw buat bawa daypack
*Seumur-umur .. baru kali ini bisa ngedaypack!" *catatan : biasanya ...
keril segede gaban*
Glenn Salmon : Nggak pelit info dan rajin memonitor. peta kontur plus data
UK yang super amat lengkap. "Kapan-kapan posting juga dong tulisan loe ke
milis. Share buat temen-temen yang laen. Gw liat, tulisan loe amat sangat
deskriptif dan detail. "
Aip ( di Labuan) : yang rumahnya dipake buat rehat en numpang mandi.
Pinjaman motornya. Juga info tambahan mengenai UK plus bantuannya sampe
jauh-jauh nganter kami ke Serang.
Desi Nuha : "chat loe ama Kris di cc ke gw, Des .... terims banget buat
infonya. Especially ... Cikeusik yang terkenal itu ..he..he..."
Mbakyu Djoko, Jenny, Ika *yang sedang ada urusan keluarga* dan temen-temen
laen waktu ketemuan di Mc D tgl 3 Feb lalu. Juga buat monitoringnya selama
kami di perjalanan.
Dik Santia, yang mau nunggu bareng di Terminal Kampung Rambutan. "Papandayan
nya .. cerita duonk!"
Siswo : yang berbaik hati dan mau meluangkan waktu buat ngedit film UK kami.
"Sori ..Wo, banyak adegan ngeceng-nya ..he..he.."
Pak Nahri : porter kami dari Tamanjaya. Yang super pendiam. Dan hobby jalan
tanpa sepatu.
Kapal nelayan + crew : yang berbaik hati mengangkut kami dari Pulau Peucang
ke Sumur... dan...
Untuk rumput basah, pohon, aliran air, deru ombak, panas mentari, api
unggun, pohon yang meranggas, daun yang berguguran, kicau burung, banteng
yang sedang merumput ..... Semua..
Yang menemani kami selama disana..........
[Non-text portions of this message have been removed]
 
;