Monday, March 15, 2010

catper trip lawu via ceto episode : WHAT HAPPEN IN POS 3?

Kisah sebelumnya di: episode bus armada sayur

17.30 WIB Pos 1 Reco Kethek (1715 mdpl)

“Pos 1 !!!“ jerit Emma.

Entah kekuatan darimana, saya ngebut. Semakin mendekati pos, senyum saya semakin mengembang. Ini jauh lebih cepat dari perkiraan kami semula. Kami tidak berhenti lama disini hanya foto-foto sebentar –teteeeeeuppp!!! - lalu kami pun berlalu.

Shelternya ada disisi kiri jalur.
Bentuknya mirip tenda pramuka, tapi yang ini terbuat dari  kayu dan bambu. Lantainya dari tanah tanpa dinding. Atapnya terbuat dari anyaman bambu yang warnanya sudah menghitam karena hujan. Orang harus merunduk untuk masuk dan duduk di dalamnya.

Formasi barisan –dan ini berlaku hingga kami turun- Emma, Joan, saya, Suwasti dan Kris paling belakang. Saya perhatikan Joan dan Kris memang terlahir untuk jadi pendaki. Badan ceking, tinggi tapi tenaganya kuat. Kalau mau, mereka sudah melesat beberapa menit –ehm… maksud saya beberapa jam  - jauh di depan.

Sedang saya, Emma dan Suwasti adalah tipe orang yang harus berjuang keras berlatih untuk menjaga stamina. Badan kami (cenderung) lebar kesamping, tapi sekseh.. hahaha…

Tapi kondisi saya sore itu tidak begitu bagus. Berkali-kali saya berhenti untuk mengelap keringat, minum dan mengatur nafas. Suwasti dan Kris dengan sabar menanti tak jauh dibelakang saya. Perlahan namun pasti kami bergerak terus. Hari mulai gelap. Tanpa diperintah, diam-diam kami mengeluarkan headlamp.

19.00 WIB Pos 2  Brakseng (1915 mdpl)


Jam tujuh malam di pos 2. Hari sudah gelap. Pepohonan tinggi diantara kami terlihat muram dan hitam. Baju saya sudah basah kuyup karena keringat. Lembab sekali disini. Gerah pula. Rasanya saya ingin sekali menendang kerir celaka ini  menggelar tenda, mengganti pakaian, makan dan langsung merebahkan tubuh. Batas ketabahan saya habis sudah.

Jadi saya tanya mereka satu persatu.

“Mau terus sampe pos 3 atau kita berhenti dan nginap malam ini?”

Emma bilang dia masih kuat untuk terus ke pos 3 tapi  kalau mau ngecamp di sini juga nggak apa-apa. Dia nyengir sambil berharap kami ngecamp saja.  Begitu juga Suwasti. Joan apalagi. Hhh.. diplomatis sekali 


“Kris?”
“Sudah malem. Lebih baik kita ngecamp disini.”


Dan kini mereka semua memandang saya.


“Saya capek sekali.” Sahut saya sambil nyengir.
“Kita ngecamp aja ya?” memang itu cita-cita saya dari pos 1 tadi.

Lagipula saya nggak suka jalan di waktu malam hari. Bukankah lebih baik segera istirahat memulihkan tubuh. Besok sih lanjut lagi, masih sekitar 1000 meteran lagi kami naik. Wadau.. masih jauh !! 

Maka kami membongkar bawaan masing-masing. Shelternya serupa seperti pos 1. Hanya letaknya ada di sebelah kanan jalur. Di depan shelter ini ada tempat yang sudah dibuka pendaki sebelumnya. Walau tanahnya tidak begitu rata dan berkali-kali tangan saya tersengat jelatang waktu mendirikan tenda tapi tempatnya cukup untuk membangun 2 tenda. 

Malam itu terang bulan, tapi saya ingin segera tidur. Setelah makan nasi dan lauk yang tadi pagi kami beli, saya menyelusup masuk ke dalam sleeping bag hangat saya. Sayup-sayup masih terdengar Joan dan Emma ngobrol di depan pintu tenda. Tak lama kemudian mereka pun menyusul saya.

Sabtu 27 Februari 2010 jam 06.10 pagi


“Kalau tau begini. Gue nggak akan bawa banyak logistik” protes Joan.

Kami bertiga –saya, emma dan Joan- dengan lugu duduk memperhatikan Kris dan Suwasti yang sedang membongkar logistik mereka. Ada tuna kaleng, cumi-cumi kering, sop sachet, buah-buahan dan rupa-rupa makanan siap saji lainnya. Nampak kontras sekali dengan kami yang hanya memegang bungkus mie instan dan kopi sachet.  Manajemen logistik kami tidak sevariatif mereka.

Saya sih gengsi, lebih baik menyuap roti isi keju dan segelas kopi bekal kami. Tapi akhirnya mengikuti Emma juga menyerbu nasi goreng buatan Kris. Hahaha..
maksud hati sih pengen icip-icip aja. Tapi kok keterusan ya hingga licin tandas. Mungkin tadi Kris cuma basa-basi aja nawarin nasi gorengnya.   Pasti dia nyesel deh. Maaf ya Bro..!!

Jam 08.45 pagi masih di pos 2.

“Siap ya!!!”

Sebelum beranjak dari pos 2, kamera saya dan Emma sudah kami tumpangkan di punggung kerir yang sekarang jadi tripod dadakan. Self timer-nya kami atur untuk 10 detik.  Sambil membidik sasaran, kami saling berbagi, akan berdiri dimana nanti. Lalu kami berdoa semoga hari ini dimudahkan perjalannya. Dilancarkan dan selamat hingga tujuan.

Jalur dari pos 2 ke pos 3 jelas sekali. Sama sekali tidak ada per
cabangan. Hanya saja, jalurnya sudah mulai menanjak. Berganti-ganti sih. Dari landai hingga tanjakan.

Bukan tanjakan setinggi paha yang penuh akar pohon untuk berpegangan. Tapi tanjakan berikut lumutnya. Dan ilalang semak belukar dikanan kirinya. –kemudian juga baru saya sadari, saya tidak memakai baju lengan panjang. Begitu tiba di rumah, sudah baret-baret karena luka tergores ranting pohon, sigh!-

Tanjakannya mulai aduhai sekal
i. Tapi dibanding kemarin sore, pagi ini hati saya terasa ringan. Kami sudah mulai masuk hutan. Tidak begitu rapat dan masih banyak semak belukarnya. Dan langit terlihat biru diantara pucuk pepohonan.

Keren deh!

Jam 10.15 pagi pos 3 Cemoro Dowo (2215 mdpl)


Akhirnya kami tiba di pos 3. Kami mencatatkan sekitar 1,5 jam jarak tempuh dari pos 2 ke pos 3. Dan seingat saya, sepanjang perjalanan tadi ada dua tempat datar yang cukup luas seandainya kemalaman dan harus menggelar tenda.

Pos 3 ini berupa dataran. Pada sayap kiri dataran ini ada shelter sederhana dari kayu dan atap seng. Tanpa dinding. Tapi cukup jika pendaki ingin berteduh ketika hujan. Sedang di sayap kanannya berupa dataran yang dapat digunakan untuk istirahat atau membangun satu atau dua tenda.

Tidak begitu lama kami berhenti disini. Tidak sampai 15 menit. Yaaa.. cukuplah untuk melemaskan kaki, minum susu dan mengunyah buah *pemberian Suwasti*.

Kecepatan kami cukup imbang.  Tidak terlalu lama berhenti dan konstan. Setelah mengisi perut, kami teruskan kembali perjalanan.

Emma dan Joan sudah beberapa puluh langkah di depan. Samar-samar saya mendengar suara orang. Kenapa begitu ramai ya?

Bersambuuuuuung…

-kemaren sore saya terima sms dari Joan.


From: Joan <+62856xxxxxxx)
14.03.2010 ; 16:26


Temans, dapat info dr bang Hendry HC kalo asep, mabk dwi, dan ari, yg sedang naik lawu lewat ceto, menemukan mayat perempuan pake rok di pos 3. Sudah dievakuasi penduduk, dan skrg mrk sudah turun, ga lanjutin pendakian….


next : 

Friday, March 12, 2010

catper trip lawu via ceto episode : BUS ARMADA SAYUR

setengah sebelas siang.

Bus tujuan Tawangmangu yang kami tumpangi hari itu penuh sesak. Wajar karena ini satu-satunya moda transportasi murah meriah hingga Tawangmangu. Isinya kebanyakan sih penduduk lokal. Dan kadang turis lokal seperti kami. Kali ini Emma menjadi bendahara team. Sebelum berangkat tadi kami sudah urunan untuk pengeluaran selama disini. Tiap orang dikutip Rp 6,000 hingga terminal Karangpandan.

Kami duduk agak di belakang. Berhimpitan bersama penumpang lainnya. Ada yang membawa barang keranjang belanjaan dan sayur mayur yang disusun rapi bersama kelima kerir kami. Tapi yang menarik adalah sekarang bus trayek ini sudah dilengkapi dengan TV dan perangkat DVDnya. Siang itu diputar pertunjukan organ tunggal dari kampung terdekat. Cukuplah membuat seluruh penumpang bergoyang.

Satu jam kemudian kami diturunkan tepat di depan pintu masuk terminal Karangpandan. Dari informasi yang kami googling sebelum kami kesini, dari Terminal Karangpandan, kami harus naik angdes menuju pasar Kemuning. Pasar ini adalah pasar di desa Kemuning, desa yang letaknya tak jauh dari Candi Ceto. Sebelum mencapai pasar Kemuning, ada pangkalan ojek yang dapat mengantar hingga candi Ceto. Menurut info, tarifnya Rp 25,000/motor.

Tampang culun kami berlima menarik perhatian salah seorang sopir angdes –angkutan pedesaan- itu. Sopir angdes ini usul untuk langsung carter saja hingga candi Ceto, karena biasanya angkutan ini hanya beroperasi di pagi hari, mengantar orang untuk jual beli di pasar Kemuning.

Tawarannya tak kami tolak. Toh masih masuk budget. Daripada nyambung-, kami sih pilih carter aja. Ongkos Rp 60,000 sekali carter. Lagipula, saya nggak yakin deh bisa naik ojek dengan beban seberat ini mampu melewati tanjakan menuju Candi Ceto yang super aduhai itu.

“Tapi nggak narik penumpang lagi ya?” tawar Kris. Trauma dengan trip di masa lalu yang malah kelamaan di jalan karena si sopir masih menarik penumpang di tengah jalan.

“Iyaa”


“Dianter sampe pintu gerbang candi ya?” tambah saya. –lagi males jalan jauh -

“Iyaaaa…!!!” sopirnya ngambek. Hehehe…

Jam satu siang kendaraan yang kami sewa benar-benar menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang Candi. Hahaha… wong ujung jalannya adalah pintu gerbang candi.

Walau sepanjang jalan mata kami dimanjakan oleh hijaunya kebun teh yang ada di kanan kiri kami, tadi kami sempat juga deg-deg an karena mobil terus menerus menanjak dan berbelok melewati tikungan tajam. Untung sopirnya amat cekatan membawa kendaraannya. 

Dan hujan pun turun.

“Great! “ keluh saya dalam hati.

Sambil membuka payung masing-masing dan membayar tiket masuk ke kawasan Candi Rp 2,500 per orang (Rp 10,000 untuk wisata mancanegara) setelah itu kami masuk ke salah satu warung yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang candi. Ada sate kelinci sebagai menu utamanya.


“Apa? Kelinci?” Emma ragu-ragu. Joan juga sangsi.

“Haruskah kami makan makluk berbulu halus dan berwajah cute itu? “ tampang mereka berdua mendadak seperti kelinci  Oh.. rasanya tidak tega. 


Tapi akhirnya kami santap juga. Hanya Joan yang memesan sate ayam. Kami makan di teras warung –yang sekaligus menjadi rumah tinggal si ibu- Warung ini bangunan terdekat yang ada di depan kompleks candi. Sebenarnya kami tidak perlu khawatir jika datang kemalaman di tempat ini. Disini banyak penginapan. Saya nggak sempat tanya berapa harga sewa permalamnya. Dan disini juga ada beberapa warung makan, tempat parkir mobil dan motor berikut 2 toilet sederhana yang airnya dingin sekali.

15.30 WIB Pos Candi Ceto (1480 mdpl)

“Sekarang sudah jam setengah empat sore” ucap saya sambil menutup doa. Sambil melirik jam tangan “dan kita sudah ada di ketinggian 1500-an” lanjut saya lagi. Sedikit mengeluh –dan melenguh - karena molor lebih dari tiga jam. Seandainya tidak ada yang terlambat tadi, seharusnya kami sudah naik sekitar jam 1 siang tadi.

Kami berdiri tepat di depan pintu gerbang Candi. Ada puluhan anak tangga yang terus naik menuju gapura pertama. Ada sembilan teras–dari sebelas- yang telah direnovasi yang memanjang dari arah barat (tempat kami berdiri) dan terus naik ke arah timur mengarah ke puncak Lawu.

Sore itu cukup cerah. Hujan baru saja berhenti. Dan tempat wisata ini tidak terlalu ramai walau hari itu adalah hari libu
r nasional. Saya menduga karena sesiang tadi tempat ini terus diguyur hujan.


Untuk naik ke gunung Lawu, dari depan kawasan Candi Ceto ini entry pointnya dimulai dari gang pertama di sebelah kiri pintu gerbang Candi.

Ada jalan lebar yang sudah diperkeras dengan semen. Di beberapa titik malah dibuat trap tangga.

Perlahan kami berjalan menyusuri sisi utara pagar tembok kawasan Candi. Sebenarnya ada pintu masuk lagi. Kalau kita masuk ke kawasan candi, di teras keempat, ada beberapa pendopo kayu. Di sisi kirinya ada pintu keluar menuju tempat pemujaan patung Saraswati. Sama saja. Akhirnya jalan setapaknya juga akan bertemu dengan jalur naik kami barusan. Begitu sudah ada sedikit diatas kawasan Candi, jalur semen akan berbelok ke kanan menuju tempat pemujaan patung Dewi Saraswati.

Tapi kami memilih untuk terus lurus. Ada papan penunjuk arah menuju Candi Kethek.  Dari sini jalannya berubah menjadi jalan tanah. Walaupun begitu jalurnya jelas sekali. Kami terus berjalan hingga lima belas menit kemudian kami sudah bertemu dengan sungai. Sungainya sendiri tidak terlalu dalam dan lebar, tipe sungai yang kering ketika musim kemarau tiba. Airnya saat itu (akhir februari 2010) hanya semata kaki tingginya namun jernih sekali. Jalurnya kemudian bersambung di seberang sungai dan terus menanjak ke arah kanan.

Jam 16.00 WIB Candi Kethek

Nah.. lima menit jauhnya dari seberang sungai ini. Kami jumpai sebuah candi. Candi Kethek namanya. Bentuknya menyerupai punden berundak raksasa. Disusun dari tumpukan batu yang ditata mengikuti bentuk kontur tanah. Ada tambahan mahkota raja yang bercat emas di puncak candi ini. Mungkin karena sudah sore dan perjalanan masih jauh saya jadi tidak tertarik menjelajah isi candi ini. Menyesal juga kalau dipikir-pikir. mungkin lain kali deh, khusus datang kesini untuk tour de candi. 

Kami lewat di depan candi ini mengikuti jalan setapak yang terus mengarah ke arah kanan. Kadang kami temui pipa air milik penduduk di sepanjang jalan yang kami lewati. Jalannya jelas sekali tapi licin karena lumut. Dengan beban berat kami memang harus ekstra keras bertahan agar tidak terpeleset dan jatuh. Apalagi jalur sering tertutup rimbun semak belukar di kanan kirinya. Kami harus menyibaknya untuk melihat jalur dengan jelas. Pasti jarang sekali orang lewat sini.

Kami berjalan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa kali masih berjumpa dengan ladang penduduk. Dan ketika mulai masuk hutan pinus pun, pohonnya tidak begitu rapat. Masih ada pohon perdu di kanan kirinya.

Jujur, kali ini saya frustasi ketika melihat jalurnya. Seharusnya saya senang karena jalan setapak ini cukup landai. Tapi kapan sampainya? Hehehe… pos 3 target kami hari ini masih jauh. Tapi kalau dipikir-pikir sih, sebenarnya saya jauh lebih frustasi karena beban bawaan saya yang berat ini. Kerir yang saya pakai kali ini tidak nyaman di pundak saya. Saya menyesal menukarnya di detik terakhir ketika akan berangkat kemarin. Saya jadi tidak dapat menikmati perjalanan sore ini.

sedih deh..curhat lagi deh

Previous story : empat plus satu

Thursday, March 11, 2010

catper trip lawu via ceto episode : EMPAT PLUS SATU

Terminal Tirtonadi, Solo Jum’at 26 Februari 2010 jam 09.30 pagi

Saya marah besar. Tiba-tiba saja Suwasti datang ditemani Kris. Kami berbisik-bisik di sudut warung yang ada di depan pol bus trayek Solo-Tawangmangu. Saat itu Joan sedang mandi dan Emma memandang kami tanpa sempat  mengerti.

“Maaf, Na.” desah Suwasti. Wajahnya lelah sekali. Bus Safari Dharma yang ditumpanginya baru saja merapat. Bus tua yang terengah-engah sejak dari Jakarta dan baru delapan belas jam kemudian tiba disini. Oh, mereka terlambat sekali.

Kris seolah tak mendengar pertengkaran kami. Dia sibuk mengepak kembali kerirnya di pojok warung, tempat saya, Joan dan Emma yang sepanjang pagi ini menanti kedatangan mereka berdua.

“Kenapa Swas?” kejar saya lagi. “Kenapa aku justu tahu dari sms Heri semalam” hihihi.. gaya kami kayak drama di TV aja.  Udara terasa kering, peluh mulai bercucuran padahal saya baru saja menumpang mandi di terminal ini.

“Kita masih satu team kan?” Sambil memandang bus tujuan Tawangmangu yang bolak-balik mengisi penumpang di hadapan kami. Dan berkali-kali menampik ajakan kernet bus untuk segera masuk ke dalam bus.

Saya kecewa sekali. Berbulan-bulan kami merencanakan perjalanan ini. Hingga akhirnya kami berempat siap berangkat. Saya, Suwasti, Joan dan Emma.

“Kris bilang, dia nggak ingin yang lain tahu kalau dia ikut” “Kenapa?” Saya menggeleng-gelengkan kepala. Mendadak kepala terasa pening. Aneh. Tiket bus sudah mereka beli sejak awal bulan lalu, jika mereka mau, ada banyak kesempatan hampir sebulan untuk memberi tahu kami.

Saya tahu Suwasti sedang dekat dengan Kris.  Tapi Kris teman saya juga. Untuk alasan apapun, nggak mungkin kami akan jalan sendiri-sendiri seperti yang dia minta. “Kita akan berangkat bersama-sama dan tentu saja pulang juga bersama-sama”

Tapi tak lama kemudian kemarahan saya reda dengan sendirinya. Sudah terlanjur, ah… malah justru lebih meriah karena ada tambahan satu orang lagi. Sementara Suwasti dan Kris sarapan, saya bergegas mengajak Emma berkeliling terminal. Kami berdua berbelanja nasi dan lauk untuk bekal makan siang dan malam kami nanti.

Saya juga sempat ngobrol dengan seorang pendaki yang juga mau naik ke gunung Lawu melalui jalur  Cemoro Kandang. Dia sedang menunggu teman-temannya dari Jakarta. Hmm.. tumben sepi cetus saya dalam hati. Biasanya harpitnas seperti hari ini, terminal pasti penuh dengan pendaki yang juga berpikiran sama seperti kami.

Dan satu jam kemudian kami naik juga ke salah satu bus tujuan Tawangmangu.
Next : episode bus armada sayur

(to be continued ... tapi kalau mau lihat foto-fotonya ada disini
di lawu kulewati hutan yang kelabu dalam hujan)

Monday, March 08, 2010

di lawu, kulewati hutan yang kelabu dalam hujan




Akhirnya saya kembali lagi kesini. Mungkin ini kutukan. Bahwa saya akan terus datang dan datang lagi. Dalam perjalanan turun, beberapa tahun yang lalu di pos 1 jalur Cemoro Kandang. “Sudah berapa kali kesini? “ seorang bapak bertanya. Tak seorang pun pernah mengajukan pertanyaan ini kepada saya.  Saya belum layak untuk menjawabnya. “Kamu pasti akan kesini lagi” lanjutnya lagi. Saya tertegun. Rasanya jauh disana saya dengar lagi lagu ini;

Februari 26-28 2010, menuju puncak Lawu melalui jalur cantik bernama Ceto. Menyeberangi sungai, mendaki gigiran bukit, melintas padang ilalang dan tenggelam dalam hutan kelabu. Special thanks untuk my hubby atas perijinannya ;) special thanks juga untuk David Mario Ardana atas obrolan n chattingnya untuk info jalur Cetho. Ini kali pertama bagi kami berlima. Terimakasih teman-teman terkasih.
Emma K.N, Dewi Joan Sibarani, Suwasti Dewi Anitasari dan Kris Hartanto. Terimakasih juga untuk puisi cantik: hutan kelabu dalam hujan, Sapardi Djoko Damono, 1968

Thursday, February 11, 2010

kucing juga (suka) olahraga




Rasanya dulu saya pernah baca kalau kucing juga perlu olahraga. Aneh juga. Kucing kok harus olahraga. Tapi kalau dipikir-pikir ya ada betulnya juga. Nggak hanya anjing yang harus diajak jalan setiap pagi dan sore, kucing juga perlu, apalagi ini kucing rumahan. Saya nggak mau kucing-kucing saya obesitas gara-gara kerjanya hanya makan dan tidur  Saya kan pengen juga lihat kucing jantan kami berbodi sekseh dan berdada six pax kayak kucing-kucing garong itu lho.

Sebenarnya sejak kami tinggal di BSD dulu si meong ini rajin ikut olah raga. Saya lupa gimana awalnya. Yang jelas waktu itu kami –saya dan suami- hanya ingin jalan subuh saja di taman lingkungan yang ada di depan rumah. 

Awalnya Pippy lalu Joni .. dan akhirnya semua kucing turut berjalan kaki alias berlari-lari kecil mengikuti kami. Sayang barisannya nggak pernah rapi. Pasukan kami akhirnya tersebar dimana-mana. Ada yang nyangkut di rumah tetangga, ada yang pup dulu dibawah pohon taman, ada yang mogok jalan dan lebih suka menunggu kami selesai satu putaran dan ada juga yang meong-meong melolong panjang minta di rescue. Halah!

Nah, begitu kami pindah ke Bekasi. Kebiasaan itu tak pernah kami tinggalkan. Biasanya –ini kalau kami nggak males dan nggak hujan- seusai sholat subuh, kami berdua pergi ke blok belakang rumah kami. Blok di belakang masih banyak bangunan dan tanah kosong, jadi relatif sepi.

Kelima ekor kucing kami tanpa diperintah lagi sudah berjalan atau berlari-lari kecil mengikuti kami. Yang paling tabah sih Pippy dan Joni. Dengan setia mengikuti kemana kami pergi. Malih sering tergoda untuk terjun ke dalam semak-semak. Atau kalau dia letih, dari posisi lari langsung tidur berguling di tengah jalan.

Ucup kadang-kadang ikut. Itupun kalau subuh-subuh itu dia ada di rumah. Tapi hebatnya, dia tahu aja kalau kami serombongan ini sedang jalan pagi di blok belakang. Tiba-tiba Ucup sudah berlari kencang menyusul kami. Tapi lain lagi dengan Koko si mpus manja dan cupu itu. Duh.. baru jalan sebentar sudah miau-miau minta di gendong. Capek deeeh!


BTR 12 Februari 2010, 10.47

Wednesday, February 10, 2010

KOKO hilang (lagi)

Koko hilang (lagi). Kalau dihitung sejak ia kecil dulu. Ini kali ketiga dia hilang dari rumah. Padahal minggu malam lalu dia masih berlari-lari kecil sambil nyengir gembira (ini menurut saya lho) menyambut kami -saya dan suami- pulang. Waktu itu memang agak larut kami  pulang. Seharian pergi keluar rumah, yang kami inginkan  hanyalah segera mandi dan rebah di kasur! Uh.. lelah sekali.

Maka, sementara saya memberi makan kelima ekor kucing kami. Suami saya mengeluarkan barang-barang dari mobil.

Tapi, esoknya Koko melewatkan sarapannya.

“Mana si Koko?"
 “Ah.. paling lagi asyik main dan lupa pulang” kata suami saya.

Ini diluar kebiasaan Koko batin saya khawatir. Hingga siang berlalu dan kemudian malam, Koko belum juga pulang. Wah, pasti Koko main terlalu jauh nih. Kalau hanya di komplek ini, saya yakin dia bisa pulang. Dia hapal kok jalan pulang. Malam itu hati saya tak tenang, kemana ya? Ini sudah lebih dari 24 jam. Sudah bisa dilaporkan ke polisi. 

Hingga keesokan paginya, ketika semua kucing dan kami selesai sarapan.

“Koko kemana ya?” tanya saya sendu.
“Nanti malem kita cari ya” bujuk suami saya sambil mendorong motornya keluar rumah dan bersiap untuk berangkat kerja.

Saya sedih deh. Kasihan Koko, dia pasti kelaparan. Saya mencoba mengingat-ngingat terakhir kali melihatnya.Lalu wajah saya mendadak tegang.

“Apa dia ikut masuk ke dalam mobil ya?”

dan kami berdua saling berpandangan. Sedetik kemudian saya melompat dan mengambil kunci mobil. Saya lari menuju mobil. Begitu saya buka pintu mobil, ada suara miau-miau lemah namun gembira.

Aduuuh.. itu Koko!!!

Kontan ia melompat ke dalam pelukan saya lalu mengendus-endus wajah saya. dengan nikmatnya. Sepertinya dia ingin mengadu. Tak terkira senangnya saya. Kami pun masuk ke dalam rumah. Setelah itu Koko minum dan makan tanpa henti.  Balas dendam rupanya dia. Dan nggak mau pergi jauh-jauh dari saya. Koko trauma. Koko.. maafkan saya ya.

Moral of the story : kalau kucing kalian hilang, coba periksa mobil deh. Siapa tau si mpus terkunci didalamnya. Apalagi mobil kami itu termasuk tipe mobil sabtu minggu. Yang hanya keluar rumah kalau hari libur tiba  saya nggak bisa bayangkan kalau Koko terkurung selama itu. Padahal hari itu saya bolak-balik keluar rumah untuk menjemur pakaian. Mungkin suaranya sudah serak memanggil saya tapi saya tak mendengarnya. Duh.. rasanya berdosa sekali. Maafkan saya ya Koko.

Gara-gara Koko terkurung di dalam mobil ini saya jadi ingat acara Opray Show di TV beberapa waktu lalu. Saya nggak ingat apa judulnya tapi ini kisah nyata tentang super-MOM. Ibu-ibu super yang harus multitasking dan sempurna. Ya kerja ya ngurus rumah juga. Dia menjadi staf salah satu sekolah tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ah..di musim panas itu, tahun ajaran baru saja dimulai. Maka pagi itu dia sibuk membangunkan si sulung, menyiapkan sarapan, menyiapkan ini itu, menyiapkan si bungsu yang akan dititipkan di tempat penitipan balita, berbagi tugas dengan suaminya yang akan berangkat kerja dan segera berangkat ke sekolah tempatnya kerja.

Ini hari pertama. Hari itu berjalan seperti biasa. Dia amat bersemangat di sekolahnya. Membagikan donat dan kopi yang sempat ia beli sebelum tiba di sekolah. Menyapa semua rekan kerjanya dan sibuk mengerjakan pekerjaan hari itu.

Lalu malapetaka itu terjadi. Ketika salah seorang rekan kerjanya bilang kalau dia melihat anak bungsunya ada di dalam mobil.  Maka berlarilah ia ke halaman parkir.

Sambil menangis ia membuka pintu belakang mobil. Anak bungsunya sudah tewas. Dehidrasi. Hari itu panas sekali.Dia lupa, kalau hari itu tugasnya membawa anak bungsu ke tempat penitipan. Terlalu banyak yang dia pikirkan dan kerjakan. Dia kira ia sempat mengantar si bungsu sebelum berangkat ke kantor. Tapi dia lupa.

Saya nggak ingat juga gimana endingnya. Apa dia masuk penjara karena lalai. Atau pengadilan disana justru membebaskannya karena alasan supermom itu. Suaminya memaafkannya. Dia tahu betul istrinya. Istrinya itu adalah tipe ibu yang amat mengasihi anak-anak mereka.

Tapi yang saya ingat adalah matanya. Iya. Matanya memancarkan rasa penyesalan yang mendalam. dan saya yakin akan terus begitu selama sisa hidupnya. Ini hanya satu kisah.


BTR, 9 Februari 2010*walau setelah itu saya harus kerja bakti membersihkan mobil. Maklumlah, 36 jam terkurung di dalam mobil. Koko ya sudah pasti pup n pis di dalam mobil. Nggak apa-apa kok Koko. Saya nggak marah kok.Seharusnya saya periksa dan periksa lagi ketika akan mengunci pintu mobil. Saya janji, nggak akan terulang lagi!

Friday, February 05, 2010

jadi kribo

(lagi nelpon suami tercinta yang lagi ngantor)

“halo?”

“Iya Hany?”
 “Saya nggak mau ke salon itu lagi”

“Kenapa?”
“rambutnya jadi kribo”

Senyap. Lalu.


“…buhuahahahahaha!!”
“Udah ya. Lagi sebel nih”
“ya deh”

(Klik! Tuuuuut..tuuuuuut….)



Namanya juga baru pindah rumah. Masih perlu orientasi. Ke salon salah satunya. Nggak rutin sih. Tapi saya seneng aja kalau setelah creambath, rambutnya akan di blow catok. Rambutnya jadi lurus gitu lho. Maklumlah, rambut saya kan keriting tak terkendali. Biasanya berhari-hari setelah nyalon, saya seneng banget bisa punya penampilan sedikit beda. Tapi tidak kali ini. Kayaknya tukang salonnya lulusan tahun 80-an deh.

Huh! Harus cari lagi deh..!


BTR, akhir Desember 2009

Wednesday, February 03, 2010

untukmu Ceto, seribu tahun lagi




Saya datang lagi…. Bisik saya dalam hati. Rasanya sudah lama sekali. ketika terakhir kali saya ada disini. Semua masih sama ……..Dan (saya rasa) akan tetap sama untuk seribu tahun lamanya. Semoga…




(trip tour de Solo, setelah lebaran 23 September 2009 lalu, bareng suami tercinta dan si Malih) selengkapnya mengenai candi Ceto disini)

Terletak di ketinggian 1400 mdpl di lereng barat Gunung Lawu, Candi yang dibangun sekitar enam abad silam di akhir masa kejayaan Majapahit dibangun memanjang dari barat ke timur, terus keatas dan mengarah ke puncak gunung Lawu. Dulu ketika ditemukan, bangunan ini hanya berupa reruntuhan batu dalam empat belas dataran bertingkat namun pemugaran yang dilakukan hanya pada sembilan tingkatan berundak saja.

Terakhir, pemugaran yang dilakukan pada akhir tahun 70-an mengubah banyak struktur asli candi dan menuai kritik oleh pakar arkeologi karena dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru itu diantaranya gapura megah yang ada di muka candi, bangunan kayu tempat pertapaan, tambahan patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus  dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Malah untuk semakin meningkatkan suasana keagaamaan Hindu disini, Bupati Karanganyar menempatkan arca Dewi Saraswati di bagian timur kompleks candi. Hingga saat ini candi ini masih digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu dan tempat pertapaan bagi kalangan penganut Kejawen.
 
;