Showing posts with label jawatengah. Show all posts
Showing posts with label jawatengah. Show all posts

Wednesday, February 03, 2010

untukmu Ceto, seribu tahun lagi




Saya datang lagi…. Bisik saya dalam hati. Rasanya sudah lama sekali. ketika terakhir kali saya ada disini. Semua masih sama ……..Dan (saya rasa) akan tetap sama untuk seribu tahun lamanya. Semoga…




(trip tour de Solo, setelah lebaran 23 September 2009 lalu, bareng suami tercinta dan si Malih) selengkapnya mengenai candi Ceto disini)

Terletak di ketinggian 1400 mdpl di lereng barat Gunung Lawu, Candi yang dibangun sekitar enam abad silam di akhir masa kejayaan Majapahit dibangun memanjang dari barat ke timur, terus keatas dan mengarah ke puncak gunung Lawu. Dulu ketika ditemukan, bangunan ini hanya berupa reruntuhan batu dalam empat belas dataran bertingkat namun pemugaran yang dilakukan hanya pada sembilan tingkatan berundak saja.

Terakhir, pemugaran yang dilakukan pada akhir tahun 70-an mengubah banyak struktur asli candi dan menuai kritik oleh pakar arkeologi karena dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru itu diantaranya gapura megah yang ada di muka candi, bangunan kayu tempat pertapaan, tambahan patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus  dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Malah untuk semakin meningkatkan suasana keagaamaan Hindu disini, Bupati Karanganyar menempatkan arca Dewi Saraswati di bagian timur kompleks candi. Hingga saat ini candi ini masih digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu dan tempat pertapaan bagi kalangan penganut Kejawen.

Saturday, August 12, 2006

Merbabu : Episode dua jam? Dua jaaaam???


 


*Edisi posting ulang J, dalam rangka mengumpulkan tulisan yang tercerai-berai entah dimana. kali ini adalah perjalanan ke Merbabu 16-17 Juli 2005, bareng Ika, Joe, Age, dan Haris*


 



Apa yang terjadi ?


 


[delapan belas jam kemudian]


 



Pagi-pagi. Diatas ketinggian 1600 mdpl. Di basecamp dukuh Tritis. Di kediaman Pak Amat.


 


[ketua RW setempat. Rumahnya bener-bener berupa tipologi rumah jawa. Adeeeeem sekali. Dengan jendela yang kecil-kecil. Dan lantai semen. Kami menempati rumah yang sebenarnya dipakai untuk menyimpan satu set gamelan. Berseberangan dengan kumpulan gamelan ini, tergelar tikar tempat kami tidur semalam]


 


Aku masih bergelung didalam sleeping bag. Masih ngantuk euuy!


 


Sambil mengguncang-guncangkan kakiku *yang terjulur jauh melewati tikar* Age membuka salam :


 


"Kata Pak Amat. Kalo ada yang nyasar, yaa.. nyampenya ya di Tritis ini!"


 


Dengan nikmatnya ia menghirup teh panas dan mengigit gula batu. Pada waktu yang bersamaan, Haris sedang menikmati rokoknya. Sementara Ika sudah menghilang *hunting foto*.


 


"Haiyyaaaa!!!" aku terlompat.


 


Pantesaaaan. Kemaren, kok lamaaaa banget. Lebih dari 7 jam turun. Maksud hati pengen turun via selo. Apa daya? Kami melambung terlalu jauh.*Sudah takdir kali ya, dari kemaren kerjaannya ngiderin Merbabu!*


 


Walau sepanjang jalan turun, Gunung Merapi, New Selo, dan menara pemancarnya jelas banget terlihat dari punggungan Merbabu. Tapi jalur terus 'membuang' ke kanan. Jauh lebih jelas daripada jalur yang kekiri. For sure, jalurnya panjaaaaaaaannng sekali. Beberapa kali pindah punggungan.


 


[sobbing]


 


Akhirnya, kerlip lampu penduduk mulai terlihat. Age yang berjalan didepan berteriak histeris.


 


"lampu! Lampu!!!"


 


Yeee.. semua juga tau!


 


Haris yang berjalan tertatih-tatih di belakangnya *catat: lutut kanan, bekas cedera waktu masih muda. Makluuumm veteran. Pletaaaak!!! Aduh Ris.Ampuuun!!* Dengan tongkat kayu di tangan kanan dan kiri. Ia mengucap syukur sambil menangkupkan kedua belah tangannya.


 


"Si buta dari goa hantu aja tongkatnya cuma satu. Kalo saya? Tongkatnya ada duaaaaaaa"


bener-bener jaka sembung deh ….nggak nyambuuuuung!


 


Berdua mereka mendiskusikan, lampu mana yang paling terang. Ada 3 lampu neon yang terang banget. Dengan asumsi itu, sudah dipastikan. Tanda-tanda kehidupan sudah nampak. Desa terdekat sudah ditangan.


 


Ika, aku dan Joe yang berbaris dibelakangnya, berperan sebagai pengamat.*Kita lihat saja drama di depan ini. Endingnya seperti apa.Hehehehe.*


 


Tiba-tiba, Age dan Haris berseru-seru. Nadanya penuh dengan kekecewaan. Kehampaan dan keputus-asaan. "Lho? Kok hilang? Mana lampunya? Manaaaaaa?!!!"


 


Karena tiba-tiba gelap. Lampu rujukan tidak lagi terlihat. Dan selama hampir 2 jam berikutnya, mereka berdua diam membisu. Hingga akhirnya, menyadari kebodohan masing-masing. Hehehe...lampunya dimatiin orang toh! Pantes!


 


[end of lamunan]


 


"Ries!" kata Joe. "Udah di tunggu di depan, tuh! Kita foto bareng sama keluarga Pak Amat yaaa?"


 


Aku tersenyum. Menyusul Joe, Ika, Haris dan Age yang sudah siap bergaya. Bersama Pak Amat, Bu Amat, Mas Budi + anak Istri. Berikut tetangga kanan, kiri depan dan belakang. Kami berbaris di teras depan. Dan nyengir bareng :


 


" Saaay Cheeeeesee!!!!"



 


 


Serpong,


29 Juli 2005


 


[sore itu juga, perjalanan kami teruskan ke gn. Merapi. Naik dan turun via Selo. Haris, pamit untuk pulang kembali ke Jakarta. Kami berempat lanjuuut! Walau status Merapi yang masih waspada, tapi berdasar info di basecamp Selo, masih aman untuk didaki. Selama pendakian naik dan ketika kami turun keesokan harinya, sama sekali tidak berjumpa dengan pendaki lain. Pasar Bubrah yang biasanya ramai. kini sepi. Hanya kami]


 


foto-foto?   Merbabu Sore Itu


 

Friday, August 11, 2006

Candi Ceto di dalam pelukan Gunung Lawu




 


(spin off jjs ke gn Lawu bersama temen-temen milis indobackpacker; Nefran, Dotten, Evy, Dian, Edy dan Dudy. Begitu turun *dan sebelum balik ke Jakarta*


saya dan Nefran lanjut mengunjungi Candi Ceto dan Sukuh, 23 Mei 2005)


 


mau ngintip catatan perjalanannya? silakan lanjut ke sini:


Candi Ceto Episode : UFO-kah itu?


 


 


 

Merbabu Sore Itu




Tiba di puncak.


Sayang, kabut menutup pandang. Padahal, kalau cuaca cerah, kami bisa memandang *eye to eye* dengan Merapi. But it's OK. No problemo. Paling tidak sudah memuaskan rasa ingin tahu kami akan puncak sejati Merbabu. Sejam lamanya kami ada disana. Dan kemudian turun. Rencananya, akan turun melalui jalur Selo.


"Turun .... mmmmm... paling 2 jam!" kata Joe santai.


Ika menoleh. "Dulu, kamu lari ya?"


Tajam *setajam silet* "Daypack?"


aku, Age dan Haris ikut-ikutan menatapnya dengan tajam. Nggak muuunggkiiiinnnnn !!!!! nggak percayaaaaa!!!!! Sangsiii!!!


Apa yang terjadi ?


[delapan belas jam kemudian]


 huehehehe... iyaa.. serius.. jadi delapan belas jaaaam..mau tau lanjutannya? Monggooo silakaaan, nyambung kesini : Merbabu ? Dua Jam? Dua jaaaaam ?  (bareng Joe, Ika, Age dan Haris .. tahun kemaren 16-17 Juli 2005 … where are u guys?)

 
;