Thursday, July 03, 2008

YA TUHAAAAN…, SALAH KERETA …. :( (sebuah episode trip baduy 14-15 juni 08)

Kereta baru saja meninggalkan stasiun Sudimara. Sambil menempelkan HP di telinga kiri dan berusaha memasang kuda-kuda agar kaki lebih stabil.

Ini kisah sedihku di sabtu pagi, teman

Saya *super pede walo nggak dapet tempat duduk* :“Buuuuu…! Aku udah di dalem kereta nih. Kamu ada di gerbong sebelah manaaaaaah?”

 Suwasti *suaranya kresek-kresek, keliatannya sih so far away* : “lah? masih di kebayoran ”

(masih) saya *yang kini panik berat* : “Ya tuhaaaan, salah keretaaaaa…

 
Seluruh penumpang yang ada di gerbong, menatapku dengan penuh rasa iba. Beberapa menepuk-nepuk pundakku.  Pedagang asongan yang lewat berhenti sejenak untuk menyatakan duka cita. *halah!*

Saya *menoleh ke kanan dan bertanya, seorang bapak yang juga sedang berjuang mempertahankan keseimbangan* : “Tapi ini betul kan mau ke Rangkas?”

Si bapak : “iya”

Saya *masih histeris tak percaya* : “kok bisa salah kereta?”

Si bapak *dengan pandangan kasian deh loooo* : “ini yang patas .. diiik. Di belakang, masih ada yang lungsum”

catatan : patas dan lungsum hanya istilah saja. Tampilan keretanya sebelas dua belas. Keduanya sama-sama kereta ekonomi. Sama-sama penuh sesak. Dan sama-sama bertiket Rp 4,000 sekali jalan.

Sejuta topan badai.

Maka turunlah aku di stasiun berikut. Duduk manis menanti kereta berikut.

Dan akhirnya, pertemuan mengharukan itu terjadi sudah.

Aku masuk. Suwasti berdiri merentangkan tangannya. Menyisakan tempat di sisi kanannya. Aku nyengir tanda lega.

Di sebelah kanan Suwasti duduk Hanum dan Taufan. Di sisi kirinya ada Sondang yang sedang mbaca buku. *eh.. Taufan juga lagi baca buku kok* Sedang Aya, duduk di seberang kami. Bengong. Bawaan mereka, daypack, tas kain dan kerir 45 literan diletakkan didepan kaki masing-masing.

Kursi yang ada di gerbong ini memanjang di sisi samping gerbong. Jadi, duduknya hadap-hadapan. Sementara yang nggak kebagian tempat duduk. Hanya ada 2 pilihan. Berdiri sampe Stat. Rangkas *yang tentunya akan dihindari oleh semua orang yang berakal sehat*

Atau duduk bersimpuh saja di lantai gerbong. *dengan resiko harus bergeser dari tempat semula, merubah posisi, dan memandang dengan sebal terhadap para asongan, pengemis, pengamen –dan mungkin juga pencopet- yang dengan semangatnya mondar-mandir selama durasi 2,5 jam tersebut, tanpa henti.

Sabtu itu, kami berencana pergi menuju Cibeo. Salah satu kampung yang ada di baduy dalam yang berada di Kanekes, Ciboleger, Rangkasbitung.

Kami mau silaturahmi. Sebenernya sih Suwasti yang mau silaturahmi. Kami hanya penggembira aja 

*ah.. enggak juga. Kayaknya setiap peserta punya alasan tersendiri kok buat mampir kesana, seperti aku misalnya. Tapi entar aja yah, aku certain di kisah berikut*.

 Total trip kali ini ada enam orang. Aku kenal Suwasti dan Taufan. Pernah beberapa kali jalan bareng. Tapi Hanum, Sondang dan Aya, baru kukenal di kereta.

 Tadi sudah diceritakan, karena tinggalku di Serpong. Maka, aku nyegat dari stasiun terdekat. Sebenarnya sih bisa aja kalau mau menumpang bis dari Jakarta. Tapi, waktu tempuhnya jauh lebih lama.

 *Catatan : stasiun Sudimara atau stat. Serpong, kalau Sta. Rawabuntu terlalu kecil. Jangan ambil resiko, karena kereta nggak tentu mampir disini*

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta dari Stasiun JakartaKota yang berangkat pukul 07.50 pagi. Harga tiketnya (per juni 2008) Rp 4,000 per orang. Kereta penuh sesak. Dan baru sedikit lega ketika berhenti di stat. Parung Panjang. Jangan ditanya berapa stasiun yang kami lewati. Namanya juga kereta ekonomi. Pasti berhenti di setiap stasiun.

 Ya udah. Ceritanya segitu dulu. Nanti diteruskan lagi deh….

 *seluruh ilustrasi foto pada catper ini diambil di stasiun kereta api Serpong, Tangerang.

Wednesday, July 02, 2008

siapa yang menggores di langit biru ?




Ah.. kalau saja ada yang bertanya, siapa yang menggores di langit biru* terus terang, saya nggak tahu. Tapi siang itu,diam-diam saya mencuri pandang dan menatap langit.  Ada warna biru disana.

Ada rasa perih disana.


Ciboleger 15 juni 2008

(makasih buat teman-teman saya yang manis ituuuh : Suwasti Dewi Anitasari, Taufan Hidayat, Fitri Hanum, Irena Sondang Sidabutar dan Soraya Rusli… “kapan kita lulumpatan dan makan sirih bareng lagi di Cibeo …)

 

*dikutip dari puisi sdd, sonnet X

selengkapnya mengenai baduy :

wikipedia : orang kanekes
studi ethnografibaduy



dan setahun kemudian pagi itu di kampung Cibeo

Thursday, June 12, 2008

from mboy with luuuuuuuv !

Gaya tidur saya itu selalu waspada mode on. *mungkin cocoknya jadi hansip kali yaaaa.. *Ada bunyi kresek dikit aja, pasti bangun. Apalagi bunyi dhuuuueeeer!

 Tadi pagi-pagi buta -sekitar jam dua subuh kayaknya- saya terbangun.. Biasanya sih, gara-gara mpus pippy *yang kadang-kadang terjebak dan tidur di kamar kami* menggaruk pintu kamar, kehausan dan ingin keluar.

 
Tapi kadang-kadang juga si Mboy yang baru pulang dugem. Datang dari kapling belakang rumah dan minta dibukakan pintu. *itu kalau saya bangun. Kalo enggak sih, biasanya si Mboy memutar naik ke atap rumah tetangga dan turun melalui tembok pagar depan*

 
Nah, tadi pagi itu, semua mpus ada di luar kamar. Saya dengar ada bunyi gludak-gluduk. Kaki-kaki mungil yang berlari-lari kecil kesana kemari. Kayak maen bola. *padahal euro 2008 aja baru dua hari yang lalu* Saya sih maklum. Yaaah.. namanya juga binatang malem. Yang tidur di siang hari dan bermain di malam hari. Pengen join sih. Ahahaha.. tapi masih ngantuk.

 
Tapi kok ada suara cit cit cuit? Nggak mungkin dong team bola mereka bertambah satu makhluk mungil ini. Whaduuuh… pasti ini ulahnya si Mboy.

Siapa lagi kucing di dunia ini yang hobinya mbawa oleh-oleh si mister micky mouse. Tapi.. duh.. suaranya memilukan sekali. Cuit-cuit tanda panik karena tak bisa membebaskan diri.

*maaf ya mr. Micky. Bukannya saya nggak mau nolong. Tapi.. ih.. saya geli ngeliat tikus*

 Maka, saya tepuk-tepuk punggung suami saya yang tidur di sebelah *ya iyalah.. masa ya iya dong*  entah dia dengar atau tidak. Yang penting, aspirasi saya tersalurkan.

 

“Besok pagi. Kamu duluan aja deh yang keluar kamar. Kayaknya kita kedatangan tamu nih

Dia ber ah uh nggak jelas. Mungkin sebel karena dalam mimpinya ada commercial break yang lewat *nyengir* Dan kemudian saya tidur sambil menutup kuping dengan bantal.

 Dan benar rupanya. Begitu pagi datang menjelang dan pintu kamar dibuka. Si mister Micky telah tewas. Tergeletak di depan pintu kamar kami. *hmm.. sepertinya ada yang berencana menyerahkan upetinya kepada kami berdua*. Terdengar teriakan sebal dari suami saya.

 
“Mbooooooy!”

 
Huh.. terpaksa deh. Sepagian itu saya sibuk bersih-bersih. Termasuk keenam kucing bandel di rumah ini.

 Kejadian kayak gini pernah juga terjadi sekitar seminggu yang lalu. Udah malem. Selepas magrib. Tiba-tiba si mboy menerobos masuk rumah. Menggotong tikus malang itu. Dan langsung nge-base di halaman belakang rumah kami yang kecil itu.

Ketiga anak mpus Mboy datang mengikuti. Dapat oleh-oleh nih dari emak Mboy.  Mpus Pippy dan anaknya, mpus Joni, pun datang mendekat *pengen tahu*.

 Saya segera menutup pintu dan hanya berani memandang dengan ngeri dari balik jendela kamar. Sibuk menyusun rencana. Bagaimana ya caranya membubarkan massa yang ada di belakang dan menyuruh Mboy membawa barang buktinya kembali ke luar rumah.

 
Rupanya tikus itu belum mati. sempat terlepas dari gigitan Mboy. Dan kini bersembunyi di sela-sela batang bambu. Si Mboy malah tiduran kucing tak jauh dari sana. Kelihatannya ia ingin memberi kesempatan anak-anaknya untuk menjajal kemampuan mengolah cakar miaunya.

 
Mpus Mimin nampak tertarik. Namun sayang, cakar miaunya yang besar itu tak mampu mencapai tikus yang menggigil ketakutan di balik rumpun bambu. Mpus KIKI dan KOKO hanya berani mengamati dari radius 1 meter dari TKP.

 Mpus Pippy duduk tak jauh dari mpus Mboy. Mungkin katanya *ah… kita-kita yang sudah ibu-ibu ini. Sebaiknya menjadi pengamat saja yaah* dan mpus Joni? Aaah.. si bungsu itu hanya tertarik mengejar-ngejar ekor mpus KIKI yang bergerak kian kemari.

 
Saya kasihan melihat mister micky ini.

 
Entah dari mana, tiba-tiba muncul keberanian saya. Sambil memegang gagang sapu. Saya menyerbu ke belakang. Membubarkan massa. Dan menyuruh mboy *yang sedang menggotong-gotong micky.* untuk segera cabut *tepatnya sih meng-hus-hus!  mboy*

 

Duuuh.. itu hari ter horor dalam hidup saya.

 

Serpong 11  juni 2008 15.44 ( si mimindan joni  lagi bobo di kasur  mpus kesayangannya)

Friday, June 06, 2008

Duh Gusti…di rewind please. Di undo doooong....

Suami saya nggak pernah suka makan tomat. Saya sebaliknya. Pada prinsipnya, segala jenis buah dan sayur, saya suka. Entah itu dimakan mentah-mentah, dibelah dan dijadikan lalapan, dijadikan komponen sayur sup, tumis-tumisan. Apalagi disulap menjadi jus pun, saya nggak pernah menolak.

 Padahal sudah berbagai cara saya kerahkan untuk menghadirkan si tomat merah merekah nan segar itu. Hampir di setiap kesempatan  si tomat itu selalu ada di meja makan.

Wujudnya pun rupa-rupa. kadang-kadang diselipkan menjadi irisan tomat diantara timun lalapan. Tiba-tiba muncul diantara lilitan mie goreng. atau nongol diantara wortel dan kol yang ada di dalam sup yang hangat itu.

 Lain waktu, saya seakan tak peduli dan memakan tomat itu dengan ekspresi -duhinitomatenakdansegerbangetlhoooooo- dan berharap ia tergiur untuk ikut mencicipi. Atau kadang-kadang secara provokatif saya letakkan potongan tomat itu di piringnya. dan dengan tampang galak berkata :

 “Nggak mau tahu! Habiskan!*

 Dan tetap saja tomat cantik itu disisihkannya di ujung piring. Saya kehabisan akal.

 Hingga kemarin saya ngintip, postingan temen ngempie saya. Waaah… boleh juga nih. Nggak sama persis sih. Telurnya saya ganti dengan tempe. Dia nggak bakal tahu, karena tomatnya saya haluskan bersama bumbu-bumbu yang lain.

Makan malam itu sukses. Suami saya melahap tumisan tempe itu sampai habis. Saya nggak terlalu expert sih kalo urusan masak. Tapi dapet nilai ‘memuaskan’ dari sang suami. Cukup membuat hidung saya kembang kempis.

Ah, kejayaan ini harus diulang kembali nih. Sahut saya dalam hati. Besok pagi mbikin nasi goreng tapi dengan bumbu tomat kayak gini aaaah.

“gimana nasi gorengnya? Enak?” tanya saya keg e er-an.

“woooo… enak banget hanyyyyy”

“itu bumbunya pake tomat lhoooooo” Ah.. serasa jadi koki terhebat di dunia

Mendadak ia berhenti makan. Dalam hati saya. Duh Gusti…di rewind please. Di undo doooong. Atau apa sajalah. Tarik kembali ucapan saya barusan. Itu sudah setengah piring ia habiskan.

“hany.. sudah berkali-kali saya bilang, kalo saya nggak suka makan tomat” dan benar. Ia langsung mogok makan.

Saya nyengir. Untung saya sudah punya back up plan. Dua potong roti panggang beroles susu, keju dan potongan buah strawberry. Pelan-pelan saya sodorkan kehadapannya.

 Tamat sudah nasi goreng saus tomat ciptaan saya.


Serpong 6 juni 08 11:28 (mpus2 lagi bobo di kolong mobil. Adem kali ya) lebih dekat dengan si tomat silakan lihat disini. ilustrasinya juga 'dipinjam' dari sini : http://id.wikipedia.org/wiki/Tomat

Friday, May 30, 2008

Koko hilang (lagi)!

Saya sudah punya firasat buruk ketika tukang sayur itu berlalu dari depan pintu pagar rumah. Pasti deh mereka *ketiga anak mpus Mboy MIMIN-KIKI-KOKO* lupa untuk pulang. Keasyikan bermain sih. Dan nongkrong di rak bawah gerobak sayur.

Ini juga yang saya heran. Kok dibiarkan saja oleh si abang sayur. *Oiya, si abang sayur ini juga penyayang kucing.  Sekaligus supplier saya untuk urusan stok makanan kucing *

 Kalo si Mboy sih saya nggak pernah khawatir. Diluar kebiasaannya untuk  mengejar-ngejar gerobak tukang sayur, motor bebek penjual ayam dan mengemis pada mbak-mbak yang sedang nyuapin anak asuhnya. Saya yakin, ia pasti tahu jalan pulang.

Tapi mereka?

 Benar juga. Ketika mendekati waktu makan siang. KOKO tak nampak batang hidungnya walau sudah saya panggil dan cari di tempat biasanya ia tidur siang.

 Sebenernya saya nggak perlu khawatir. Biasanya sih, balik lagi. Paling-paling, dia ketiduran dan lupa jam makannya. Dan biasanya pula ketika bangun –dan dengan perut keroncongan- miau-miau masuk ke dalam rumah dan melahap jatah makan siangnya.

 Tapi tidak siang itu.

 Sebenarnya ini bukan pertama kalinya KOKO menghilang. Pernah satu waktu ia sempat menghilang 1x24 jam. Pas ditemukan, rupanya ia lagi seneng maen di rumah tetangga yang ada di ujung jalan. Iya deh. Itu rumahnya orang kaya ya ... . Rumahnya lebih bagus dari disini ya, Mpus?

 Ia baru mau pulang setelah saya jemput. Walau hati sedikit mangkel karena si KOKO pura-pura nggak kenal saya. Huh!

Pernah juga, suatu ketika saya merasa lelah luar biasa.  Itu lho. Me-rescue KOKO dari kapling kosong yang ada di belakang rumah. (kisahnya mengharukan ..hehehe...selengkapnya sih liat sini aja...) 

Dalam satu hari saya harus bolak-balik ke belakang untuk menyelamatkannya. Pertama sih masih saya jemput.

Kali kedua. Walau sudah saya peringatkan dengan keras. Dengan isengnya ia justru menghempaskan diri jatuh ke tengah alang-alang yang ada di kapling belakang rumah. Dan setelah bosan bermain, miau-miau minta di jemput. 

 Dan semalam. Ketika ia melewatkan kembali makan malamnya. Panik mulai menyerang saya. Mosok sih, tiap hari kamis kehilangan kucing. Dendam saya terhadap sindikat penculik kucing kian bertambah.  (selengkapnya.......)

 
Saya telpon suami.

 “KOKO hilang!”

“udah dicari?”

“everywhereeeeee!!!!”

“ntar juga pulaaaang”

“kalo gitu. Pas pulang. Jangan dulu masuk rumah. Anter keliling komplek yaaa…”

 Komplek ini sudah dua putaran kami lewati. Semua kucing *yang lagi mandi kucing, yang sedang mengasah cakar miau, yang sedang tergeletak tidur, yang sedang mbongkar bak sampah* kami perhatikan.

Siapa tahu, KOKO salah satunya. Kucing iseng yang tidak tahu jalan pulang.

 “pasti terbawa sama tukang sayur ya” ratap saya sendu.

“sudahlah hany”

“dan nggak tau jalan pulang. Huuuuhuuuu!”

“…..

 Tapi, kalo dipikir-pikir. Saya yakin si KOKO pasti mampu bertahan di luar sana. Bukankah sudah belajar teknik survival dari ibunya?  (pernah diceritakan sebelumnya lho. Selengkapnya baca disini deh)

 Ehmmm... Siapa tahu juga sekarang KOKO jadi asisten tukang sayur. Mbantu-bantu jualan keliling komplek setiap harinya. Ah, dengan pikiran seperti itu hati saya mulai sedikit lega.

 Malam sudah larut. Sudah jam 10 malem. Sudah empat belas jam KOKO menghilang.  Tiba-tiba.

 “Hany..Hany” suami saya yang baru selesai shalat isya memanggil dari kamar sebelah.

 Ya olooooo… saya lihat si KOKO sedang dipeluknya. KOKO baru pulang. Tampangnya lelah dan badannya kotor sekali. Dan yang jelas, miau-miau kelaparan. 

Ah KOKO……kusentil halus telinganya. Jangan ngilang lagi aaah!

 
Serpong 29 mei 2008 11;46 (Hari ini sih. Si anak hilang lagi bobo’ di kasur mpus yang ada di kamar sebelah. Waaah.. lelah sekali keliatannya. )

Wednesday, May 28, 2008

Rupanya, beras ini sudah ada yang punya.

 “Whaduh… “ butiran beras itu memenuhi panci rice cooker mungil saya. Ah… tenaga saya tak kuat menahan beratnya karung beras 10 kiloan itu. Ya sudah. Maka saya tuang sebagian beras itu ke dalam mangkuk aluminium bertutup. Dan saya simpan di lemari atas dapur. “Besok, kalo mau masak.. pake beras ini dulu deh” hibur saya.

 Hari kedua. Hari ketiga. Lewat sudah. Dan saya lupa. Kalaupun ingat. Nasi sudah terlanjur dimasak.

 hingga hari Sabtu lalu seseorang mengetuk pintu pagar rumah. Laki-laki setengah baya, ia membawa kantung beras. Mengucap salam.

 “Subhanallah” Mendadak saya ingat mangkuk beras itu. “Tunggu sebentar ya Pak” saya bergegas menuju dapur.


Siang itu, sambil menuang isi mangkuk ke dalam kantung berasnya. Saya tak henti mengucap syukur.

 Rupanya, beras ini sudah ada yang punya ya….

 

Serpong 28 mei 2008 ; 09.42 (hari yang cerah, jemuran kering nih)

Tuesday, May 27, 2008

tidur berjamaah

sering,

karena lelahnya
kami tertidur


berjamaah
seperti ini. :D


serpong, 27 mei 2008




yang fana adalah waktu. kita abadi




Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

          “Tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

 

(yang fana adalah waktu, Sapardi Djoko Damono,1978)

 

Jika melintas kawasan alam sutera menuju bintaro.  Pasti akan melewati masjid ini. Tiap kali saya lewat. Saya selalu teringat puisi itu. Andai diberi kesempatan untuk kenal dengan arsiteknya. Akan banyak pertanyaan untuknya. Gayanya sederhana tapi agung. Rencana lama pengen motret bangunan ini. Baru kesampaian minggu lalu. Walau lantai semi basement dan lansekapnya belum rampung dikerjakan. Bangunan ini rupanya sudah digunakan sejak akhir tahun lalu. Sayang, catnya sudah memudar di sana-sini dan retak rambut pada dindingnya. Oh…

 
Serpong 27 mei 2008; 16.22

 masjid Raya Nur Asmaa Ulhusna  jalan Bhayangkara Raya Kelurahan Paku Alam, Serpong Utara, Tangerang. Telp 021-98357271/ 98683913 email ppmasjidas@alam-sutera.com

ketika kucing kecil itu tak pulang malam ini

Ketika mpus Jojon melewatkan makan siangnya. Maka, tahulah saya. Mpus Jojon nggak pulang ke rumah. 

 Here’s fact about mpus jojon and joni. Dua kucing mungil anak mpus pippy. Umurnya baru satu setengah bulan. Sudah punya piring mpus sendiri dan sudah bisa keluar masuk lewat jendela depan.

 Jarak terjauh yang berani mereka tempuh hanyalah sampai pagar depan. Dan kalo keluar maen bareng kakak-kakaknya *mpus mimin-kiki-koko* paling banter ke halaman rumah tetangga sebelah. That’s it.

Tapi siang itu ia tak pulang. Hanya Joni seorang .. eh.. seekor yang miau-miau di sekitar betis saya.

Hingga serak suara saya memanggil namanya. Menyisir halaman dan rumah di sekitar komplek ini. Nggak ketemu juga. Dan ibunya, si Pippy, pasti pengang telinganya karena saya omeli seharian.

 “Ah .. mpus.. kamu kemanaaa!” seru saya sendu.

Saya curiga  ada sindikat penculik anak kucing di komplek ini. 

di tengah kepasrahan saya. saya hanya mampu berucap, Ah.. Jojon. Semoga di tempat yang baru, kamu mendapat kasih sayang yang sama besarnya dengan rumah ini ya mpus…


Serpong 27 mei 2008 ;09.56

pada akhirnya saya sadar. Anak kucing itu rentan. Ada saatnya saya merasa tak berdaya ketika anak-anak kucing itu menderita sakit. Dan kemudian mati. ada lagi saatnya saat marah luar biasa. Sekaligus sedih. Ketika kucing itu menghilang dan tak kembali lagi.

Monday, May 05, 2008

mpus pippy yang sering 'lupa diri' ;)




Pippy itu kucing rumahan. Nggak suka maen ke luar. *kecuali kalo dia mau pup n pis tentunyah* kalo lagi bosen, paling banter hanya nongkrong di pintu depan. Dan kalo udah bobo siyang. Biasanya suka lupa diri. Tuh.. lidahnya menjulur seperti gukguk. *ada yang lupa kodratnya ..hihihi* setelah diamati, rupanya mpus Pippy nggak punya gigi depan. Tapi walau si Pippy ompong, kamu tetap salah satu mpus yang kami sayang kok Pip…

Serpong 5 mei 08 ; 10:06 (yang diomongin lagi ‘pingsan’)

Tuesday, April 29, 2008

Apa kamu mau mpus KOKO jadi gelandangan?

“Apa kamu mau mpus KOKO jadi gelandangan?” omel saya berang.

Mpus Mboy duduk tegak di dekat kaki saya. Saat itu saya sedang marah. Sambil mencuci piring, sesekali saya menoleh ke samping. Mpus mboy menegakkan salah satu telinganya. Matanya yang bak bulan sabit itu menengadah ke atas. Memandang saya. Penuh rasa bersalah.


Saat itu sudah gelap. Adzan magrib baru saja usai. Hanya ada saya dan Mpus Mboy di belakang. Sementara itu, tidak jauh dari situ, KOKO dengan lahapnya menghabiskan jatah makan malamnya.

Ini pasti gara-gara survival lesson-nya mpus Mboy tempo hari. (selengkapnya ada disini ….)

“Kami semua tahu Mboy, kalau kamu bisa naek pager belakang!” lanjut saya lagi.

Tapi anak-anakmu belum tentuuuuuuh” kali ini suara saya jauh lebih lunak.

Lho? Ada apa dengan si Mboy? Dengan KOKO?

Begini ceritanya. Kisah ini bermula ketika acara ritual makan malam mereka baru saja digelar. Sementara makanan saya siapkan, ekor mata saya masih dapat melirik bahwa ketiga kucing mungil ini meniru polah induknya tadi pagi.

Pagi tadi mpus Mboy melompat hingga batas tembok setinggi 1,5 meter. Bertumpu pada om gajah *patung batu ganesha* dan naik hingga tembok.

Kadang-kadang hanya duduk diam memandang kapling kosong yang ada di belakang rumah. tapi lebih sering sih berjalan mundur dan naik memanjat teralis besi yang ada diatas tembok. Dan kemudian.. hup! Melompat hingga atap tetangga sebelah.

Dan tadi ketiga unyil ini –MIMIN, KIKI dan KOKO- dengan semangat nan membara ikut melompat naik meniru induknya.

Benar dugaan saya. Ketika piring makanan saya letakkan. Hanya mpus KOKO yang tak ada di tempat. Sayup-sayup terdengar miau-miau kecil tanda panik dari balik tembok.

Semenit. Dua menit. Saya tunggu. Semoga ia menemukan jalan kembali ke rumah. Sebel, karena si Mboy lebih memilih piring makanannya dibanding mencari anaknya. Lagi-lagi saya yang harus turun tangan. Huh!

Saya bergegas berganti pakaian, memakai sandal. Mengunci pintu. Dan berjalan hampir satu blok jauhnya. Suasana di luar sepi. Pasti semua orang sudah masuk ke dalam rumah. Matahari sudah tenggelam. Cahayanya remang-remang.

Saya berdiri di tepian kapling kosong itu. Jauh dibelakang warna kuning cahaya lampu belakang rumah saya menembus jajaran bambu.


Nyaris surut semangat saya. Membayangkan harus mengarungi lautan ilalang setinggi betis. Membayangkan binatang melata yang mungkin menghuni tempat ini.  Dan juga makhluk-makhlus halus lainnya yang sedang nongkrong disini. *ini magrib. Remember? *

Lima menit kemudian.

Dalam keremangan malam. Sambil menggendong KOKO, saya berjalan terpincang-pincang menuju rumah. Sendal saya hilang satu. Waktu tadi terjeblos parit di ujung kapling kosong itu. Untung tadi sudah gelap. Jadi nggak harus membalas dan menjawab tatapan heran ibu-ibu yang melihat saya hanya memakai sebelah sandal ..hihihihi..

Ah… . demi si KOKO. 

Saya penasaran. Apakah kucing punya kemampuan orientasi seperti halnya anjing ya? Apa mereka bisa mencari jalan kembali ke rumah?

 

Serpong 29 April 2008, 15:26 (si KOKO yang bandel ini lagi tidur nyenyak di samping saya)

Wednesday, April 23, 2008

teknik survival ala mpus mboy

Pagi itu saya melihat potongan kepala ayam mentah di keset depan pintu kamar mandi. Kepala ayam gitu lho. Bukan sesuatu yang saya harapkan nongol di pagi buta seperti ini 

Saya curiga si Mboy pelakunya.
 Karena dia satu-satunya kucing di rumah ini yang hobinya dugem dan ngeluyur tiap malem.

Heran juga. Darimana ia bisa dapet potongan kepala ayam seperti ini? Dagingnya begitu segar., bersih dan cutting-nya begitu rapi.

 Tanpa diduga misteri itu akhirnya terjawab sudah. Esoknya, saya melihat si Mboy berlari-lari kecil mengejar ibu penjual ayam yang lewat di depan rumah. Penjual ayam keliling dengan motor bebek plus box isi ayam segar yang ada di boncengan.

 Pasti si mboy berdoa dengan kerasnya. Semoga ada orang yang beli. Karena kalo enggak. Nggak mungkin dong dia dapet bagian. Ini suatu anugerah. Bonus kepala ayam dari si ibu penjual ayam.

 Ternyata kepala ayam yang nganggur di depan kamar mandi itu ia dedikasikan khusus bagi ketiga anaknya. MIMIN-KIKI-dan KOKO (selengkapnya....) Dan saya terlanjur malu mengira itu untuk saya

 Tapi rasa itu tidak bertahan lama. Dua hari kemudian rasa Ge Er saya mendadak berubah menjadi jeritan penuh rasa sebal.

Kali ini yang dibawa *siapa lagi kalo bukan* si mister micky mouse. Masih pingsan. Di bolak-balik. Dan dipersembahkan kepada anak-anaknya. Si Mimin  terlihat tertarik. Tapi tidak dengan si kembar KIKI-KOKO.

 “Duh mboy! Jorok banget sih kamu!”

 Kali berikutnya. Hanya tinggal kepala tikus yang malang itu. Ditinggalkan di halaman depan. Horor banget nggak sih memungut mayat hasil mutilasi itu dan membuangnya ke bak sampah.

*film tali perawan pocong aja kalah *

 Tapi lama kelamaan. Saya mulai sadar. Mungkin ini adalah salah satu cara untuk mengajar teknik-teknik dasar survival bagi ketiga anaknya. *nggak hanya digunung aja dong yaaaa…di komplek ini perlu juga latihan dasar seperti itu*

 Halah!

 Serpong 23 april 08 (12:19 yang lagi latihan survival udah pada makan siang semua J udah mandi kucing dan sekarang lagi bobo’ siyang)

sepotong ayam dari mpus mboy

Malam itu. Giliran mpus mboy menemani kami makan malam di belakang rumah.

Ketika bonus potongan ayam itu diberikan padanya. Alih-alih dimakan tapi justru digigit dengan hati-hati  dan duduk menghadap pintu, minta dibukakan. Kemudian ia mengeong-ngeong dengan suara yang khas sekali.


“Kenapa dia, hany?” tanya suami saya heran. (hany : panggilan sayang suami untuk saya )

 “Oh… lagi manggil anak-anaknya tuh” jawab saya sok tau.

Saya hapal betul nada miau mpus yang satu ini. Agak susah juga mendeskripsikannya dalam bentuk tulisan. Hmmm…. sedikit tebal warna suaranya. Mengeong pendek-pendek tapi sering sekali.

 “Lho? Untuk apa?”

 Sambil membuka pintu saya nyengir dan mengajaknya mengikuti mpus mboy.

 Di ruang depan, ketiga anak kucing itu sedang bermain petak umpet. Biasalaaah, namanya juga anak-anak. Si Mimin ngumpet di balik bantal sofa. Ketahuan sama Kiki. Mimin melompat tinggi. Kiki juga begitu. Ber high fi di udara.  Si Mimin kabuuuuur! Kiki mengejar Mimin. Koko *yang sedang mandi kucing di kursi kayu* lari membantu Kiki. Dan mengejar Mimin hingga belakang tv. Aaaah….

 Dan semua kegiatan itu mendadak terhenti demi mendengar miau mamie mboy. Kemudian mereka berlari-lari mendekat dan bergelayut manja di seputar ibunya.

Mpus mboy duduk dan meletakkan potongan ayam itu di lantai. Mendorong-dorong anaknya untuk makan.

 “Aaah… so sweeeeet!” kami berdua mendesah.

 Kalau pada akhirnya si mboy juga yang menyantap ayam itu. Itu bukan soal.


Yang menakjubkan bagi kami adalah kok ada ya induk kucing yang nggak egois dan lebih memilih memberikan makanannya untuk anaknya.

 Ajaib!

 Serpong 23 april 08 ; 10:23 (hari yang cerah, lagi jemur bantal guling di luar)

Friday, April 11, 2008

Ketika Mpus Pippy melahirkan

Tanggal empat kemarin, akhirnya, Pippy melahirkan juga. Padahal sudah sejak akhir bulan lalu saya tunggu-tunggu.

Sejak pukul sebelas malam, urf.. urf-nya Pippy sudah mulai terdengar. Ketubannya pun pecah di dekat saya.

Maka, begitu pintu lemari pakaian saya buka. Pippy segera masuk ke dalamnya. Heran deh…. Itu juga tempat mpus Mboy melahirkan si mimin, kiki dan koko dulu.

Saya dan suami menunggui Pippy. Kami rela tidak segera tidur. Selain pengen nemenin Pippy, mungkin juga karena penasaran. Seperti apa ya rupa bayi mpusnya nanti?

“Pasti ada yang bulunya seperti mpus Pippy.“ saya berkhayal.

“ Uuuuurrrrrf….!” Jerit Pippy. *mungkin dia bilang.  Penting nggak seeeeh?*

“Tarik nafasnya Piiii…” sahut suami saya. Prihatin. *dia ingat kisah di film-film itu barangkali*

 “Urf!”

Hingga pukul 12 malam dan hari pun mulai berganti. Belum juga nampak tanda-tanda bayi mungil itu nongol. Saya sudah mulai rebahan karena pegal dan ngantuk. Sementara suami masih asyik bermain PS. *Ugh!*

Tapi limabelas menit kemudian.

“Oui!”  sayup ada suara miau kecil di balik tubuh Pippy.


Kontan saya bangkit. Kami saling berpandangan. *maksudnya saya dan suami bukan sama mpus Pippy hehehe..* Dan berlomba-lomba duduk di depan lemari.

Aaaaah…. Rupanya Mpus Pippy sudah melahirkan. dan tak lama kemudian anak berikutnya pun menyusul.

Nah, ini dia. Mari saya perkenalkan kedua anak Mpus Pippy. Warna bulunya hitam. Dada dan keempat kakinya berwarna putih. *seperti sedang pake kaos kaki* dari moncong hingga ujung hidungnya berwarna putih. Ada totol-totol hitam pula. *kok kayak badut yah?*

Sayang tebakan saya salah. Nggak satupun yang mirip Pippy.

Saya curiga, si Zorro yang nampang di sebelah ini adalah ayah biologisnya.


 

Serpong 11 april 08 ; 15:42

 
;