Friday, April 11, 2008

“Pasti deh kayak dulu. Banyak calo-nya. Banyak yang ngerokok. Dan laki-laki semua. Sebel! “

“Cepet kan, Buuuu!” tiba-tiba saja bapak tua si tukang parkir itu sudah ada disamping saya.

“Iya…yaa”  saya nyengir.

Gara-gara ada pemutihan kemaren nih Bu. Mangkanya nggak ada calo. Biayanya 80 ribu aja kan? Nggak kayak dulu. Bisa sampe 270 ribu!” sambung bapak yang sudah beruban itu *deu.. curhat*

“Ehhhmm.. 85 ribu, Pak” sambung saya lagi *si perfeksionis ini gatal pengen bicara *

Ini sudah kedua kalinya saya perpanjang SIM saya. Lima tahun lalu saya pernah hadir disini. Sepanjang yang saya ingat, hanyalah penderitaan yang tiada berkesudahan. Sebut saja, mulai dari puluhan calo yang mengikuti mulai dari pintu masuk hingga loket pendaftaran, ruang tunggu yang pekat dengan kabut asap rokok , pusat informasi yang entah ada dimana serta biaya siluman yang bisa membuat pingsan tujuh hari tujuh malam.

Sehari sebelumnya, saya sempat mengeluh kepada suami. *curhat tepatnya*

“Pasti deh kayak dulu. Banyak calo-nya. Banyak yang ngerokok. Dan laki-laki semua. Sebel! “

Si bawel ini ngomel panjang pendek. Pendek kata, saya ngerasa nggak nyaman untuk pergi sendiri kesana. Tapi apa boleh buat. Maka, pergilah saya pagi itu menuju Jalan Daan Mogot. Melintas jalan yang padat. Bersamaan dengan orang-orang yang akan berangkat kerja dan sekolah.

Dan dua jam kemudian saya baru tiba di lokasi.

Mangkel.

Pertama, sudah pasti kemacetan di jalan. Kedua, karena kantor pelayanan SIM ini tidak ada dalam peta. ditambah dua kali saya harus memutar karena salah tebak lokasi, harus berhenti dulu untuk bertanya, dan terlewat karena tidak ada penanda yang jelas.

Begitu turun, si tukang parkir malah menawari pulpen dan pensil. “Buat test ntar, Buuu”

“Laaaah?” Saya udah parno aja ada calo yang mengejar-ngejar saya *hehehe…ge er mode on*

Kurang dari satu jam. Kartu plastik mungil itu sudah ada di tangan saya. Untuk perpanjangan SIM, mereka mengklaim tidak lebih dari 30 menit prosesnya. *Saya lebih lama karena sibuk tanya sana-sini, motret dan jalan-jalan di sekitar gedung utama*

Jadi proses untuk perpanjangan SIM itu adalah sebagai berikut :

  1. Beli form test kesehatan Rp 10,000 *perlihatkan KTP*
  2. Test kesehatan *test mata aja* dapet surat keterangan dokter
  3. ambil form permohonan asuransi *warna kuning* isi
  4. bayar asuransi Rp 15,000 *dapet form warna putih+pink*
  5. bayar form isian untuk perpanjang/ buat SIM, Rp 60,000 *dan isi dengan lengkap*
  6. ngantri di loket 21 *serahkan semua dokumen diatas+SIM lama+fotocopy KTP*
  7. masuk ke loket 23 s.d 28 (pilih sendiri) untuk di foto, tanda tangan+ cap jempol
  8. tunggu di depan loket 39 *ada ruang kaca untuk tunggu* akan dipanggil namanya via speaker
  9. SIM sudah jadi

Jadi untuk perpanjang SIM total jendral biayanya tidak lebih dari Rp 85,000

Ada beberapa hal yang patut dicatat disini. Pemutihan, pengawasan, atau apapun itu bentuknya. Mengarah ke satu muara, perbaikan. Semoga nggak anget-anget tai ayam.

Catatan :

  1. Siapkan alat tulis sendiri *kalo nggak sempet ya beli aja disana. Atau pinjem*
  2. budaya antri sudah diterapkan. Jangan coba-coba nyela kalo nggak pengen ditimpuk dari belakang
  3. petugas jaga di pintu masuk ketat sekali. Jadi yang tidak berkepentingan dilarang masuk gedung. *mungkin untuk menyaring calo yang pengen ikut masuk, kayaknya sekarang alih fungsi jadi penjual pulpen dan pinsil di depan gedung*
  4. kerja petugas di setiap loket amat cekatan, cepat dan efisien. *saluuuut!* nggak ada istilah gaya pegawai yang ngetik satu menit. Ngopi, ngobrol dan ngerokoknya setengah jam.
  5. ada pusat informasi untuk bertanya. Ada papan petunjuk tata cara pengurusan SIM yang dapat diikuti. Ada sign board elektronik untuk panggilan nomor antrian.
  6. Bawa uang pas *walau nggak ada tulisannya di depan loket harus menyetorkan uang pas. Sebaiknya sih siapkan uang pas. Daripada disuruh balik ngantri dari belakang. Di tiap loket kayaknya petugasnya males ngasih duit kembalian. Atau mungkin mereka nggak punya uang kembalian*
  7. Siapkan fotocopy KTP *daripada bolak-balik dari loket, untuk fotocopy dan ngantri lagi*
  8. Ruang tunggunya bersih. Toiletnya juga bersih.
  9. Daerah bebas rokok benar-benar diterapkan disini. Ada ruang kaca tersendiri untuk merokok.
  10. Petugasnya ramah-ramah dan sangat informatif.
  11. perhatikan jarak antar gedung. Loket tes kesehatan letaknya cukup jauh dari gedung utama. Buka dari jam 07.30 pagi *ada di sisi barat kompleks, di sebelah tempat parkir* 
  12. Nggak ada calo *mungkin ada, tapi satu dua aja. Terselubung*
  13. Memang disana sebagian besar laki-laki semua. J pada waktu saya disana, hanya saya sendiri ibu-ibu yang ngurus perpanjangan SIM.  Dapat dipahami karena hampir sebagian ‘sopir’ itu cowok. Nggak ada yang ‘iseng’ karena semua sedang ‘panik’ untuk test praktek atau ujian SIM.
  14. Untuk perpanjangan SIM tidak ada test uji kecakapan mengemudi. Prosesnya seperti sudah saya jelaskan diatas. *tapi apabila masa berlaku SIM sudah expired lebih dari 12 bulan. Harus mengikuti ujian teori lagi*
  15. oiya, catat juga kalau lokasi kantor pelayanan SIM Daan Mogot itu letaknya di km 11. *kalo naek busway, turun di halte taman kota* kalau dari arah Jakarta, letaknya sebelum terminal Kalideres. Tapi kalau dari arah Kota Tangerang, letaknya sesudah terminal Kalideres.
  16. plang penunjuk bahwa itu Kantor Pelayanan SIM, kecil sekali. Hati-hati terlewat.

Dan akhirnya,

“Komisinya dong, Buuu!” katanya lagi sambil menadahkan tangan.”Kan tadi sudah saya bantuin” 

 “Ah Bapaaaaak!” *Cuma nunjukin arah gedungnya doang. Semburku dalam hati*

“teh kotak aja ya? Mauuu?”

“Ahaha.. ya mau dong Bu. Mumpung saya lagi haus nih”

Dan berpindahlah barang itu. Nggak apa-apa. Saya lebih rela.

Sembari meninggalkan lapangan parkir. Si petugas melambaikan tangan dan berkata:

“Sampe ketemu lagi lima tahun mendatang ya Buuuuu!”

“halah!” *saya nyengir* mudah-mudahan lima tahun ke depan, pelayanan di tempat ini masih sebaik hari ini dan diikuti dengan kantor pelayanan publik lainnya. Semoga.



Pengen liat SIM-nya? Niiih….*bangga beneeeeerrrrr* Mumpung lima tahunan. Kan harus kereeeeeeen…..!

Serpong, 11 april 2008 ; 09.40 (mpus pippy lagi bobo’ di sebelah monitor)

Mumpung lima tahunan. Kan harus kereeeeeeen…..!

Alkisah, setelah jepretan pertama.

“Saya lihat preview-nya ya Pak?” tanya saya. Penuh harap.

”Mumpung lima tahunan. Kan harus kereeeeeeen…..!” tambah saya *makin menjadi-jadi *

Si petugas tersenyum simpul. Geli.

“Tapi setelah tandatangan ya Bu”

Betul. Minggu lalu saya ada di Kantor Pelayanan SIM yang ada di Daan Mogot. Di salah satu ruang tempat kami diambil foto, sidik jari dan tanda tangannya.

“Kalo kacamatanya dilepas gimana Bu?” kali ini si petugas yang mengusulkan. “Soalnya kacamatanya mantul” *maksudnya memantulkan cahaya. Fotonya jadi jelek banget*

“Wah.. betul juga Pak.” Sahut saya dari balik bahunya.

Maka dipotretlah sekali lagi. Kali ini saya sengaja memasang tampang cengiran ala Tigor. Tigor ini teman saya. Untuk urusan pose di depan kamera. Nggak ada duanya deh.

Selesai dipotret. Pos selanjutnya adalah menunggu di depan loket 39 *kalo nggak salah* untuk ngambil SIM yang udah jadi. Lima menit kemudian. Melalui pengeras suara, nama saya –dan nama lima orang lainnya- dipanggil bersamaan. SIM-nya sudah dicetak. Sudah jadi.

Daaan..

Wah..wah…. cengiran saya… lebar sekali ternyata…. Hahaha…


Apa kabar kantor pelayanan SIM kita hari ini? selengkapnya...

(pagi di Serpong, 08.59 dikisahkan kembali 2 april 2008)

 

Wednesday, April 09, 2008

antara kucing dan komitmen

Apa kabar ketiga anak mpus Mboy?

Ahhhh… mereka baik-baik saja. Realtime-nya ketika kisah ini ditulis, ketiga ‘setan’ kecil itu sedang tebar-tebar pesona, berlompatan dengan keempat kakinya, kejar-kejaran dan main petak umpet di sekitar saya. whaduuuuh…

Mari saya perkenalkan. Namanya MIMIN, KIKI dan KOKO. Si Hitam ini saya beri nama Mimin. *Ah.. kalian pasti ingat komik si hitam MIMIN  itu kan?*

Sedang si kembar bercorak tabby ini, saya beri nama KIKI dan KOKO. *inget si chipmunks dalam kisah si Donald Bebek?* Membedakannya gampang sekali. KIKI berhidung merah jambu sedang KOKO berhidung hitam.

Dulu, hidung saya masih sibuk mengendus-endus belakang sofa. Rupanya salah satu tersangka itu, puppy di belakang sofa. *Arrrrghhh!!!!* Dan salah dua tersangka, ternyata tidak dapat menahan hasratnya untuk pipis dan ngompol di salah satu bantal sofa… *aaaargggh… menjitak kepala sendiri* Sambil mengomel panjang pendek saya bersihkan area tersebut. *sigh!*

Tapi saya percaya, bahwa kebiasaan bisa dibangun dan disiplin bisa ditegakkan di muka bumi ini. *hihihi.. maaab…terlalu bersemangat sih*

Dan seperti halnya bayi kucing yang tinggal di rumah ini, kebiasaan makan dan pup dan pip *maksud saya, buang air besar dan kecil * selalu saya ajarkan sejak dini. Kira-kira begitu mereka berumur satu bulan kebiasaan ini dapat dipraktekkan. Karena biasanya pada saat itu, bayi kucing sudah mulai berani keluar dari tempat mereka dulu di lahirkan. Sudah berani lepas dari induknya dan mulai bermain.

Maka, hari berikutnya saya susun rencana. Untuk terus memata-matai mereka. Mengikuti kemana mereka pergi. Jika ada tanda-tanda hendak puppy. Ahaaaa…! ‘setan’ kecil ini akan saya angkat dan pindahkan ke taman kering yang ada di belakang. Sudah ada senjata sekop kecil yang siap menyendok dan membuangnya ke kapling kosong yang ada di belakang rumah

Lah.. belum sempat saya kerjakan. Sudah mereka lakukan sendiri tuh. Kok bisa ya?

Jadi begini ceritanya. Begitu pagi, pintu belakang pasti saya buka lebar-lebar.  Mpus Mboy dan Mpus Pippy yang sudah bangun sejak subuh pasti mengikuti saya ke belakang untuk makan pagi.

Tak disangka tak diduga. Ketiga mpus kecil ini berlarian mengikuti induknya. (red : mpus Mboy). Dan kemudian mencari spotnya masing-masing dan …. Aaaaaaaah…! Dengan wajah lega melepas hajat.

Mungkin sudah naluri.

Saya sih dengan senang hati, tinggal menyisir halaman belakang, dan menyekop ‘tanda mata’ yang ditinggalkan mpus kecil ini. Dan tetap bersabar. Hingga nanti mereka bisa melompat keluar masuk melalui jendela depan yang saya buka 24 jam itu.

Bagaimana dengan makan?

Sama. Persis seperti kita. Untuk makan dan minum pun harus belajar. Maka, disamping piring induknya saya letakkan satu piring plastik besar untuk mereka bertiga. Harapan saya, mereka dapat mencontoh ibunya yang sedang makan.

Namanya juga anak-anak. Masih belepotan kalau makan. Kadang-kadang ada nasi yang nempel di kepala mereka. Makanan yang tumpah di sana-sini. Bahkan, keempat kaki yang masuk ke dalam piring .. halah!

Yang lebih menggemaskan sih waktu mereka belajar minum. Kadang-kadang hidungnya tercelup di mangkuk berisi susu atau air putih. Bersin-bersin sebentar. Dan mogok minum.

Kalau sudah begini. Jangan pernah ragu untuk terus nongkrong di sebelahnya. Mengoleskan setitik air ke bibirnya. Dan kalau dia sudah menjilat-jilat tanda suka. Aah.. pekerjaan menjadi dua kali lebih mudah. Sorongkan mangkuk minum itu ke dekatnya. Lama-kelamaan, ia tahu kok. Kucing juga belajar… hehehe….

 

Serpong 9 april 08 10:37

(oprah di metro tv. Sean penn dan into the wild de movie)

Bagi saya, memelihara kucing itu adalah sebuah komitmen. Begitu saya memutuskan untuk hidup berdampingan dengan makhluk berbulu ini, saat itu juga saya siap dengan segala konsekuensinya. Dibalik keceriaan saya bermain dengan mereka dan tergelak dengan tingkah polah mereka yang menggemaskan.

Ada satu kewajiban untuk memberikan makanan yang sehat dan teratur. Membuang kotorannya. Memberikan kasih sayang. Dan merawatnya ketika sakit. Mengajaknya bicara. Serta memberikan kebebasan dan ruang yang luas untuk bermain. Saya rela kok ....I really do…!

Thursday, April 03, 2008

daripada kebawa mimpi (episode : I believe I can fly)

waktu: 07.30 pagi
hari dan tanggal : Minggu, 27 Januari 2008
kegiatan : lagi jalan-jalan pagi
lokasi : tepi Danau Talaga Bodas, garut Jawa Barat

 
“Foto sambil loncat yuuuk
s!” jerit Deasy bersemangat. *maklummm.. masih pagi*

 “Badan gendut gini Deas?” Lirikku setengah tak percaya. Sumpah. Seumur-umur. Belum pernah tuh foto lompat kayak gitu.

 “Don’t worry Mbak. “ Sahutnya penuh arti. ”FYI aja ya, badan segede Ovie aja bisa. Apalagi kita”  Nyengir. *maaf lho Vieee…. Itu Deasy yang bilang lhoooo *

Mari kita lihat hasilnya. Nggak ada yang sukses tuh. Dari semua yang foto bareng –Suwasti, Deasy, Novi,Tinoy dan Chipi- hanya Chipi seorang yang BISA dan nggak pernah kehabisan gaya. Ada lompat gaya Naruto. Melompat gaya mompa ban sepeda. Lompat dengan gaya bertapa. Dan gaya lain yang tak terpikir oleh kami semua.

“Kok bisa?” “Gimana caranya, Puts?”

Dan Chipi hanya nyegir seribu basa. *emang diem aja yang bisa seribu basa*

(dan kemudian kami semua kembali ke Jakarta. Kembali dengan aktifitasnya masing-masing)


dua bulan kemudian ……..

waktu: 16.30 sore
hari dan tanggal  : Minggu, 23 Maret 2008
kegiatan : baru turun gunung
lokasi : di kebun teh Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan

 

“Foto sambil loncat yuk!” bisikku pada Suwasti. Dalam perjalanan turun dari Kampung 4 menuju villa yang ada di bawah sana. *berharap nemu angkot yang bisa bawa kami turun sampe basecamp*

Dan gayung pun bersambut. Suwasti terima dengan bahagia. “Sambil nggendong kerir Ries?” tanyanya penuh harap.

Halah!

Aku nyengir. Dan menyitir ucapan Dotten dua hari lalu di Dinding Lemari “Dari pada kebawa mimpi? Hahahaha…..”

Dan inilah dia. Dua ibu-ibu yang berlulumpatan di kebun teh. Walau kaki masih pegel-pegel, Walau belum sempet makan siang *kecuali sepiring pempek pemberian teman baru kami tadi *

Kami tetap bersemangat. Lihat aja hasilnya. Bener kan?


Serpong 3 april 08; 14:29 siang (si mpus lagi bobo siyang semua)

Monday, March 31, 2008

Hafalan Shalat Delisa

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Tere-Liye

Iya deh.. saya ngaku. Saya itu orang yang paling cengeng sedunia. Membaca buku ini saja saya bersimbah air mata. Sedih.

Saya acungi 24 jempol saking semangatnya *jempol kedua tangan dan kaki saya plus kelima ekor kucing saya * Jempol untuk penulisnya. Kok bisa ya membuat sebuah tulisan yang bisa mengharu birukan hati seseorang? Tulisannya mengalir. Konflik dibangun di beberapa tempat. *dan tangisan muncul di setiap ada kesempatan * Dan endingnya tidak terlalu memaksakan.

Dan yang penting membuat saya berpikir ulang dan melihat kembali kepada diri sendiri. Betapa seringnya saya shalat dengan terburu-buru. Mepet ketika waktunya hampir usai. Betapa seringnya pikiran saya berkelana ketika bacaan itu saya lafalkan. Ah……..

Serpong 31 Maret 08  10:06

 

 

Masih ingat tsunami di Aceh akhir 2004 lalu?

Tokoh utama kisah ini bernama Alisa Delisa. bocah Lhok Nga berusia 6 tahun yang tinggal bersama ibunya –yg ia panggil Ummi- serta ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra (12 tahun). Ayah mereka -Abi Usman- bekerja di Kapal Tanker dan pulang setiap 3 bulan sekali, Dalam bayangan saya, ia gadis cilik penggemar warna biru. Berambut keriting, bermata hijau, kulit putih kemerahan dan hobi main bola. Cerdas, lincah, banyak tanya dan menggemaskan orang-orang di sekitarnya.

Sulit benar menghafal bacaan shalatnya. “In-na sha-la-ti, wa-nu-su-ki, wa-ma….wa-ma….wa-ma….” Delisa kesulitan melanjutkan hafalan bacaan shalatnya. Matanya terpejam.Tangannya menjawil-jawil rambut keritingnya. “Wa-ma…Waaaa-, waaa, wa-ma…”

“Waaaaa ma-cet nih ye!” Aisyah yang sedang bermain gundu dengan Zahra tertawa kecil. Menyahut begitu saja.

Uh! Delisa berusaha keras menghafalnya. Bukan hanya ujian hafalan oleh Bu Nur minggu depan. Tapi juga karena iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi-nya. Sama seperti kakaknya Fatimah. Sama seperti kedua kakak kembarnya. Aisyah dan Zahra. Waktu mereka kecil.

Walau pada akhirnya toh mereka melakukan ibadah hanya karena Allah semata. Tapi di mata kanak-kanak Delisa. Kalung itu kereeeeen sekali….!!!! 

 

Dan ketika pagi 26 Desember 2004 itu. Delisa sedang maju di muka kelas. Ujian hafalan shalat yang dinanti-nanti. Ummi menunggu di luar kelas. Tadi sebelum berangkat, ketiga kakaknya tersenyum-senyum mengantar kepergian adik dan Umminya.

 Delisa akan khusuk.

 “Allahu Akbar”

 Tiba di penghujung kalimat itu. Bagai dipukul tenaga raksasa. Air yang tersedot ke dalam rekahan tanah tadi kembali mendesak keluar. Mendesis mengerikan. Bergemuruh menakutkan.

 Ujung air menghantam tembok sekolah. Ibu guru Nur berteriak panik. Delisa ingin khusuk. Delisa ingin satu.

 “Rab-ba-na-la-kal-ham-du…” tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. Delisa mengap-mengap.

 

Enam hari kemudian, Prajurit Smith dari Militer Amerika Serikat-lah yang menemukan Delisa tersangkut semak belukar berbunga putih empat kilometer dari sekolahnya. Dengan seluruh tubuh penuh luka, kaki koyak bernanah, kelaparan, kepanasan, kedinginan, Delisa setengah tidak sadarkan diri. Segera ia diterbangkan dengan helikopter super puma menuju Kapal Induk John F.Kennedy. Tak ada yang menemani. Hanya Delisa seorang.

 
Ia tak tahu bahwa ummi-nya hilang entah kemana. Kedua kakak kembarnya ditemukan mati berpelukan. Kakak tertuanya dikubur tiga hari setelah bencana. Rumahnya rata dengan tanah. Lapangan bola tempat ia biasa bermain rata. Sekolahnya hanya tinggal pondasi tiang bendera.

 Abi-nya masih nun jauh di tengah lautan Kanada. Ia benar-benar sendirian. dan yang lebih mengerikan lagi, ia tak tahu bahwa ketika ia sadar nanti.

 Ia benar-benar LUPA bacaan shalatnya.

 Sama sekali.

 

Yang saya kagum. Si penulis begitu detail menggambarkan Lhok Nga sebelum dan sesudah bencana tanpa timbul kesan mengurui dan membosankan. Serta tokoh-tokoh lain di sekitar Delisa. Ada Teuku Umam, teman sepak bola-nya, Tiur si anak yatim yang mengajarnya naik sepeda, Ustadz Rahman, guru mengajinya. Koh Acan, si penjual emas, Sahabat barunya , Suster Sophi, prajurit Smith dan boss-nya pak Ahmed yang ‘galak’ itu dan Kak Ubai, sukarelawan PMI.

 
Trus, gimana dong kelanjutannya?

Baca sendiri deeeeh….dijamin, paling tidak, mata kalian ikutan sembab seperti saya saat ini. Hiks!


tambahan : seandainya buku ini dibikin filmnya. aaaah.. *berkhayal tingkat tinggi*


Saturday, March 29, 2008

duty : play, play and play :)




Do u know why I’m so happy these day?
let me introduce my three little assistance:

name: MIMIN, KIKI n KOKO
age: 2 month
duty: play, play and play

 
see?

 
(Serpong 28 april 08; 12:33)

Friday, March 28, 2008

bahkan ketika kami pergi pun, dempo akan selalu ada disini




Gunung Dempo ada di Sumatera Selatan. Tujuh jam perjalanan darat dari Palembang. Gunung tertinggi di bumi Sriwijaya itu memiliki ketinggian sekitar 3159 meter diatas muka laut.

Tiga malam di gunung. Tanpa kami sadari, semua shelter kami sambangi. Pos satu di malam pertama. Pelataran pada malam kedua. Dan terakhir, kami bermukim di pos dua.

 Kisah selanjutnya cukup mendebarkan. Mulai dari jalur yang licin dan pijakan yang setinggi paha dan kepala. Angin yang menderu-deru semalaman. Puncak Marapi yang selalu tertutup kabut dan kemudian baru kami tahu mengapa tidak ada pendaki lain yang berani menginap di pos satu atau pos dua.

Nah lo?

 
Trip dempo 19-25 maret 2008 bareng Joko, Suwasti dan Dotten

Thursday, March 06, 2008

tiga jagoan mpus mboy




Hari ini tepat dua minggu sejak kelahiran anak-anaknya mpus Mboy. Tiga jagoan kecil yang kerjanya tidur-minum susu-tidur-maen-tidurlagi-nyusu lagi…. Aaaah…!

Matanya sudah terbuka sejak seminggu lalu. Kedua telinga mereka masih mungil. Dan gigi belumlah tumbuh dengan sempurna. Belum berani keluar dari tempat mereka bermukim selama ini. Jadi masih bermain dan bermanja dengan ibunya disana.

Ibunya sih stand by 24 jam. Eh.. nggak juga .. kadang-kadang ditinggal dugem kalo malem. *huh*  padahal disini kan banyak mpus mondar-mandir numpang makan. Ada mpus pippy juga yang kadang-kadang iseng pengen tahu.  Uh.. dasar!

Sekedar me-refresh berita tempo hari. Ada satu bayi yang berbulu hitam denganlarik putih di moncong hingga hidung serta keempat kakinya seperti memakai kaos kaki. Sedangkan dua bayi lainnya, sepertinya sih kembar .. warnanya tabby, loreng-loreng hitam coklat dan iseng beraaaaat! Alamat emaknya pusing tujuh keliling…….

Ketiga bayi mungil ini belum punya nama. Ada usul?

 
Serpong 6 maret 2008 17.24 (si pippy lagi manja hari ini. Maunya di pangku. Kan susaaaah.. onlen dengan satu tangan)

moga bunda disayang allah

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:tere-liye

Baru selesai dibaca tadi pagi. Duh.. ternyata ada ya buku yang bisa membuat orang yang  membacanya hingga berurai airmata seperti ini?


Padahal buku ini nggak sengaja saya lihat di salah satu rak di toko buku. Nggak sengaja.

 

“baaaa…Maaaaa…..” Melati menggerung pelan. Ia mengkal. Ia sebal. Ia frustasi. Ia tidak mengerti. Gelap. Kosong. Hitam.  Lengang. Jika kalian bisa melihat setengahnya saja apa yang sedang dirasakan oleh melati, itu sudah cukup membuat kalian sesak.

 

Pernah ngebayangin nggak, gimana rasanya kalau kamu terlahir buta dan tuli? Tidak ada ‘pintu’ untuk melihat dan tak punya ‘ruang’ untuk mendengar.

Kamu ingin tahu. Kamu ingin belajar. Tapi kamu nggak bisa apa-apa. Maka yang terjadi hanyalah rasa marah, frustasi dan rasa sedih yang tak berkesudahan.

tokoh utama buku ini adalah melati ; si anak buta tuli berumur 6 tahun yang kelakuannya bak anak yang sulit diatur, piring di lempar, guci dipecahkan, dan tak tahu bagaimana caranya menggunakan sendok.

Kemudian ada lagi tokoh yang bernama Karang, pemuda yang diminta bantuan untuk menolong melati, yang sebenarnya sedang bergelut dengan kemelutnya sendiri.

Terus, berhasil nggak ya dia? Gimana endingnya? Baca sendiri deh…. Hehehe….

Lebih jauh mengenai penulis buku ini, nama aslinya Darwis kelahiran tahun 1979 alumni FEUI. tere-liye itu dalam bahasa India berarti untuk-mu : selengkapnya ......


serpong kamis 6 maret 08 pagi. Lagi sebel. Ada yg mau ngantor besok. Padahal. Besok kan libuuuur! Huuuuu….!

-duduk di ruang depan. Dengan TV yang masih menyala, sambil sarapan roti bakar dan minum kopi. Nunggu cucian selesai dan rencananya mau nyegat tukang sayur yang sebentar lagi lewat di depan rumah-

Wednesday, March 05, 2008

ayat-ayat cinta, buku atau filmnya?

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Habiburrahman El Shirazy

Mungkin ini satu-satunya yang bisa membuat telinga saya berdenging terus setiap hari.

Gara-gara nongkrong seharian di depan TV dan menjadi saksi promosi gencar si produser mulai talk show, review film, gossip selebs, ditambah video klip soundtrack filmnya yang diputar disetiap ada kesempatan.

Padahal de movie-nya sendiri baru nongol akhir bulan lalu.

Penasaran dan tanya om google. Luar biasa, ada 814,000 entry hanya untuk penelusuran ayat-ayat cinta

Terlepas dari segala bentuk kontroversi mana yang menarik antara buku atau filmnya. Saya sadar betul, tak ada yang seratus persen dapat memuaskan semua pihak.


Salut untuk Hanung Bramantyo sang sutradara. Apalagi jika menyimak kisah di balik pembuatan filmnya. Wajar jika telunjuk ini tak jadi ditudingkan kepada filmnya.

Maka menyerahlah saya. Hari ini, pergi ke toko buku dan beli

Tuesday, March 04, 2008

Oh No … saya kecanduan lupis :)

Masih inget jajanan pasar yang namanya lupis?

Dulu waktu kecil saya sering ikut ibu pergi ke pasar. Sebenarnya saya nggak begitu suka ke pasar.

Di mata kanak-kanak saya, pasar itu adalah tempat terakhir yang ingin saya kunjungi. Tempatnya suram, gelap, pengap dan becek.


Tapi karena saya di iming-iming jajanan pasar. Maka.. boleh laaaah … karena persis di pintu keluar, sudah berjajar tukang mbok-mbok dengan jajanan pasarnya.

Dan kalian tahu? Diantara ribuan jenis jajanan itu. Ada yang bentuknya segitiga, berwarna hijau. terbuat dari ketan dan berselimut parutan kelapa. Dan kemudian dikucuri cairan gula merah yang kental dan haruuuuummmm ….Hmmm…  

Dan sudah dua minggu ini. Setiap pukul satu siang. Pasti lewat depan rumah. Si penjual lupis yang membawa box hijau dagangan di belakang motor. Sembari berteriak-teriak 

“Piiiiis…. luuuuuupisssssssss.. piiiiisss… luuuupiiiiiiisssss”

Whaduuuuh…… slurp… slurp!

 

16.03

Catatan: kali ini lupisnya berbentuk bundar setebal 3 cm.  Harga satuannya 1000 rupiah dan boleh request cairan gula merah lebih banyaaaak..ambooy..

 

Arisan? Ugh!

Ada empat tipe ibu-ibu yang arisan di komplek dimana saya tinggal saat ini.

Tipe pertama
adalah tipe ibu-ibu radio FM yang sejak ia datang hingga acara selesai tak kunjung henti bicara. Selalu saja ada topik hangat yang ditampilkan. Mengeluh tentang biaya sekolah anak-anak. Cerita mengenai suami yang kerjanya ini dan itu hingga kegiatan nengok mertua minggu lalu dikabarkan pula.


Tipe yang kedua adalah tipe ibu-ibu oportunis dan selalu jeli mengamati peluang. Yang datang tepat waktu dan pulang juga selalu tepat waktu. Sudah siap membawa selebaran flyer, dagangan dan cemilan juga usaha sampingan sebagai agen tunggal travel kendaraan. Dan selalu menganggap ibu yang duduk di sebelahnya adalah sebagai pelanggan potensialnya.

 

Tipe yang ketiga adalah tipe ibu-ibu idealis. Mungkin dulunya adalah mantan aktifis kali ya?  ibu-ibu bertipe ini selalu menginginkan perubahan baru yang sifatnya cepat, padat dan instant. Misalnya saja : Ide untuk membuat pos kesehatan, ide membersihkan got setiap minggu bahkan ide kursus kilat memandikan mayat. *halah! Ini bapak2nya aja kali ye*

 

dan terakhir tipe ke empat adalah tipe ibu-ibu pendiam yang duduknya selalu dipojokkan yang diam-diam berharap agar arisan cepat usai dan selalu berdoa agar kali ini gilirannya mendapat arisan.

Dan saya termasuk didalamnya.

Sebenarnya saya bukan termasuk tipe ibu-ibu gaul yang suka ngumpul. Saya nggak suka keramaian.  Apalagi arisan.

Ah… Setiap bentuk tawaran arisan, entah itu berupa uang, barang atau apapun wujudnya. Pasti saya tolak mentah-mentah.  Bulan lalu, saya masih bisa berkelit. Andai saja saya tidak didatangi oleh tetangga sebelah. Dan menawarkan diri untuk menalangi dulu uang iuran arisan.

Diam-diam saya berpikir keras. Keesokan harinya saya berubah pikiran. Nggak ada salahnya saya coba. Minimal saya mendapat updater berita bulanan di komplek ini hehehe… Suami saya menyemangati saya dan mendorong untuk rajin mengikuti kegiatan seperti ini.

“sosialisasi aja. Nggak usah setiap kali dateng. Kalo nggak mau ya nggak usah dateng. “

Bener juga.

Maka sore itu, duduklah saya dengan manisnya. Mengamati ibu-ibu disekitar. Cengar-cengir dan ngobrol sekadarnya. Dan berharap agar kali ini nama sayalah yang muncul sebagai pemenang arisan.

Puncak acaranya tentu saja acara undian pemenang arisan. Peraturannya sudah jelas. Bila namanya muncul tapi yang bersangkutan tidak hadir secara life saat itu, maka gulungan kertas itu kembali masuk ke dalam gelas dan mulai di kocok lagi dari awal.

Maka ketika ada satu nama disebut dan orangnya nggak nongol.

“alhamdulillaaaaaaaaaah……. !!!!!” seru lega ibu-ibu yang duduk di samping kanan dan kiri saya. 

Yaolooooo…. Ternyata nggak cuma saya seorang. 



Serpong 4 maret 2008 14.31 (kemaren nggak dapet menang arisan. Ini kutipan ibu bijak yang rumahnya berjarak dua rumah dari tempat kami : ”Kalo diarep-arep biasanya malah ndak dapet tuh,mbaaaak!” “hiyaaaaaaaaaa….” balas saya dengan gemas)

Saturday, March 01, 2008

Kucing yang bernama Pippy

Sebenarnya kucing di rumah ini hanya mpus mboy seorang eh.. seekor ding :)  dan bila ada kucing lain yang ingin tinggal disini. Semua kami –saya dan suami- serahnya kepada mboy untuk mengaudisinya. 

Ada beberapa yang lama tinggal disini. Tapi ada juga yang seumur hidupnya nggak akan pernah di terima
di rumah ini. Mpus Pak RT contohnya. (kisah selengkapnya .....)

(foto ini diambil pada hari ke 15)

Saya lupa kapan ia nongol di rumah ini. Yang jelas sekitar akhir tahun lalu. Miau-miau di bawah kolong mobil. Mungkin ia lapar. Maka, saya bawakan sisa makanan mpus Mboy dari dapur.

Astaga. Mengerikan!

Luka bakar memanjang dari leher, badan hingga kaki kirinya.  Melepuh. Seperti tersiram air atau minyak panas. Jujur. Aku marah sekali.  Tega sekali orang yang melakukan ini padanya.


Hari kedua. Rupanya ia merasa nyaman tinggal disini. Kini ia mulai berani masuk ke ruang depan. Memang, jendela kamar depan sengaja kami buka 24 jam untuk lalulintas Mboy di rumah ini.
Ia tidur di kasur mpus dan tidur seharian. Si Mboy sepertinya iba melihat Pippy. Ia pun tak berani mengganggu.

Dan mulai saat itulah, tanpa kami sadari,  ia menjadi warga rumah ini.

Yang dilakukannya siang dan malam hanyalah tidur. Dengan telaten lukanya ia jilati setiap ada kesempatan. Bulunya rontok. Matanya sayu. Miaunya pun nyaris tak terdengar.  Saya ragu. Suami saya ragu.

“Kucing ini bisa mati karena infeksi”


Teman-teman kami yang mampir ke rumah menatapnya dengan sedih.

“Tega betul orang yang melakukan ini”

 

Tapi tahukah kalian apa yang terjadi sebulan kemudian?

Luka-lukanya sembuh total. Bulunya mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Mulai terlihat tingkah iseng dan konyolnya. Ah.. kami semua jatuh cinta padamu mpus…!

 

Catatan : waktu itu saya bantu dengan mengoleskan salep untuk luka bakarnya. Tapi rupanya tidak begitu banyak membantu. Menurut saya justru air liurnyalah yang mengobati dan mempercepat proses penyembuhan luka-lukanya.


Serpong 1 maret 08, 17.16 (hari sabtu yg cerah, nunggu suami pulang kantor, mpus pippy lagi keluar maen, mpus mboy lagi ngelonin anak2nya)

ini waktunya makan bung!

kucing-kucing  yang tinggal di  rumah  kami, kami  biasakan makan tiga kali sehari.  Pagi pukul enam, siang jam dua belas  dan terakhir pukul enam sore.

 
Anehnya justru ketika waktu bulan puasa. Rupanya mereka ikutan sahur dan buka bersama.  Saya nggak tahu apa sebabnya. Pernah sekali waktu saya beri makan siang di bulan puasa. Mereka nggak doyan tuh!

 
Pagi hari adalah waktu yang paling sibuk. Ketika saya panik menyiapkan sarapan dan suami yang mondar-mandir *yang untuk kesekian kalinya lupa meletakkan hp, kunci motor dan dompetnya. Sigh!* Kucing-kucing ini sok sibuk pula. Turut berlari-lari kecil dan mondar mandir di antara kulkas di ruang tengah dan dapur. Peraturannya cukup jelas. Mereka baru dapat jatah sarapan, jika suami saya sudah berangkat ke kantor.

Piring Mpus Pippy adalah piring ceper melamin warna pink. Sedangkan piring mpus mboy adalah mangkuk kecil aluminium. Setiap kali makan piringnya selalu saya letakkan berdampingan.

Pippy adalah tipe kucing yang makannya amat sangat cepat. Blup! Blup! Blup… habislah sudah. Sedang mboy justru kebalikannya. Dulu, mpus Pippy suka gemas melihat perilaku mboy ini. Pippy memang bossy. Dipelototin sebentar, maka menyingkirlah Mboy dari depan piringnya.

Kalau sudah begitu, biasanya saya sentil telinga Pippy.  Dan omelan tentunya

“Nggak boleh ambil makanan mpus laen ya puuus. Kalo ada sisa, boleh kamu makan”

dan “Uuuurf!”

seru Pippy kesal.


Lama-kelamaan Pippy tahu juga. Jadi jika Mboy belum selesai makan. Dia akan setia menunggu hingga Mboy kenyang, bosan dan kemudian meninggalkan piringnya. Baru setelah itu ia dapat menghabiskan sisanya.

Ada kalanya waktu makan begitu tenang dan damai. Kalau sudah begini, enggan saya meninggalkan mereka. Saya ambil kursi dan duduk mengamati tingkah mereka berdua. Tapi ada kalanya suasana makan berubah menjadi huru-hara.  Mpus Mboy paling nggak suka dipelototin Pippy kalo lagi makan. Kalo sudah begitu. Mereka cakar-cakaran di samping piring masing-masing.  Dengan rasa marah salah satu dari mereka pergi meninggalkan ruangan.

Yang paling damai justru ketika sore hari. Pukul enam biasanya waktu saya mulai masak untuk makan malam. Kadang-kadang mpus Pippy. Lain hari Mpus Mboy. Duduk di dekat kaki saya dan menemani saya memotong sayuran.

Dengan memperhatikan kebiasaan mereka makan pun, saya jadi tahu. Apakah mereka sedang sakit atau lagi banyak pikiran. Sungguh. Ketika si Mboy mau melahirkan, ia sama sekali tidak mau menyentuh sarapannya. Si Pippy waktu lagi musim kawin. Huh.,. boro-boro mau makan. Inget pacarnya terus siiih…:)

Terus gimana dong kalau kami pergi kemping berhari-hari? Nah…. Untunglah kami punya tetangga yang baik hati.  Yang bisa dititipi kunci rumah dan memberi makan mpus kesayangan kami ini. 

Asyik bukan?

 

Serpong 1 maret 08 (siang yang panas 14.10)

Monday, February 25, 2008

mpus pak RT

Saya nggak akan pernah ngerti, kenapa kucing yang satu ini selalu menjadi public enemy di rumah ini. Padahal tampangnya lucu, berbadan gendut dan selalu cinta damai *bayangin tuh!*

Namanya aslinya sih si Imut. Tapi di rumah ini lebih dikenal dengan nama : mpus pak RT. Kenapa bisa begitu? Nah.. dulu memang saya tidak tahu namanya. Belakangan baru tahu kalau dia adalah kucing peliharaannya pak RT. Yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari tempat kami.

Kebiasaannya tiap pagi adalah datang ke rumah. Mungkin ia masih berharap mendapat sisa sarapan kedua kucing kami di rumah.

Tapi begitu mpus pak RT nongol dari jendela depan, detik itu juga akan disambut dengan meriah oleh kedua mpus penghuni rumah ini. Kadang-kadang ditonjok oleh mpus mboy. Di cakar oleh mpus pippy. Dan kemudian dikejar hingga si Imut melarikan diri melalui jendela. Maklum saja, mpus mboy dan mpus pippy kan satpaaaaam! Hahaha…

Kasihan juga sih sebenarnya. Salah apa coba?

Seminggu yang lalu saya dengar dari informan saya *anaknya pak RT* kalau mpus imut sudah melahirkan. Anaknya ada dua. Perempuan semua. Warnanya persis sama dengan emaknya.

Wah. Perempuan?

“Iya buuuu.. perempuan!”

Kalau yg ini pembicaraan saya dengan bu RT waktu kami sedang sibuk memilih sayuran di tempat abang sayur yang lewat di depan rumah pagi itu.

“whaaduuuh… bisa-bisa komplek kita penuh dengan kucing betina nih!” tambahnya dengan gemas.

Saya dan tukang sayur mengamini. Bu RT pasti mengkhawatirkan populasi kucing yang akan terus meningkat di komplek perumahan ini.

Tapi si kedua satpam itu *masih inget? Si mboy dan Pippy* seolah tak terpengaruh dengan pembicaraan maha penting kami. Mereka dengan manjanya malah bergelayut diantara betis saya. Duh!


Semalam mereka berdua dinasehati oleh suami saya. Peristiwa kejar usir mpus pak RT harus dihentikan. Mpus mboy didudukkan dipangkuan. Mpus Pippy duduk tak jauh dari kami berdua.

“Nggak boleh ngejar mpus pak RT lagi yaaaaa… mpuuuuus” suara suami saya lembut mendayu.

Tiga pasang kuping serius menyimak *hoho.. iya. Termasuk daun telinga saya tentunya*

“miiiaaaaaauu!” jawab si mboy.
“oui ……” jawab si pippy.

“soalnya” lanjutnya lagi.

“Nanti kalian nggak akan bisa bikin KTP. Bikin ktp mpus kan harus sama mpus pak RT” jawabnya santai sambil meninggalkan kami bertiga yang bengong di ruang tamu. Halah!


Serpong 25 feb 08 16.23 (barusan ada info gempa di bengkulu)
 
;