Tuesday, November 15, 2011

ow..ow..Koko ketahuan!

Awalnya saya tak pernah menaruh curiga kenapa pintu kulkas selalu terbuka lebar. “Ah.. pasti lupa lagi” siapa lagi kalau bukan suami saya. Sifat yang satu itu memang sudah keterlaluan deh. Mulai dari lupa nyimpen dompet, kunci motor hingga sarung tangan. Tapi sampai lupa menutup pintu kulkas. Aduuuuh…!

Dan awalnya saya tak pernah ambil pusing jika si Asih –ini orang yang biasanya saya minta untuk memberi makan kucing kalau kami sedang pergi jauh- melapor jika ia lupa menutup wadah tempat ikan. Dan sebagai akibatnya, seluruh persediaan ikan cue, ludes seketika. Ya sutra lah ya. Mau dibilang apa. Walau saya harus merongok kocek lebih dalam lagi. Apa lagi, ya tentu saja, untuk beli ikan lagi.

Saya beli ikan cue setiap lima hari sekali. Dan sekali beli biasanya sekaligus sepuluh keranjang. Bagi yang belum tahu, ikan cue itu adalah ikan laut (salem/layang) yang dimasak dengan cara dipindang/ diasap dan dikemas dalam anyaman keranjang bambu berbentuk persegi panjang. Isi dalam satu keranjang cukup bervariasi. Bisa satu, dua atau tiga ekor ikan. Harganya juga bervariasi. Untuk saat ini harganya sekitar Rp 3,000-3500/keranjang.

Lalu, ikan cue persediaan mereka ini saya simpan dalam kulkas. Agar lebih awet tentunya. Apalagi kalau masa-masa paceklik.

Biasanya pas musim libur lebaran yang para pedagangnya mudik semua. 

Atau ketika kami –saya dan suami- pergi jauh berhari-hari. Maka, stock management ikan cue harus diperhitungkan seketat mungkin. 

BIasanya saya beli lebih dari 10 keranjang. Dan sebagian besar, langsung masuk freezer untuk dibekukan.

Tapi kemudian kejadian seperti ini terulang lagi. Waktu itu, saya sedang keluar kota untuk sehari dua hari. Jadi, saya titipkan saja kucing-kucing di rumah pada suami tercinta. Untuk memberi makan mereka pagi sebelum berangkat ke kantor dan malam ketika dia pulang ke rumah.

“Hany.. si mpus lagi pesta pora tuh”

“WHAT?”

“itu, wadah ikannya dibongkar mpus”

“Kok bisa?”

“Kayaknya saya lupa nyimpen wadahnya ke dalam kulkas”

“Appppaaaaahhhh?” 


*mata melotot, jantung rasanya mau copot dan zoom in zoom out ala sinetron* dan saya pingsan dengan suksesnya.

Dan edisi pintu kulkas ini terus terjadi. Sampai ingin rasanya saya ganjal dengan galon air. Dan membuat pengumuman agar tidak lupa untuk menutup pintu kulkas.  Tapi saya tidak pernah mengaitkan kejadian pintu kulkas ini dengan kucing-kucing penghuni rumah ini. 

Hingga suatu hari dengan mata kepala sendiri, saya saksikan si Koko. Menyelipkan kedua cakarmiaunya ke celah pintu dan dengan gerakan yang konsisten,  bergantian seperti menggaruk-garuk pintu. Dan voila! Terbukalah pintunya.

Ow..ow.. Koko ketahuan!!!

 

BTR, 09.51, 15 November 2011 (yang lagi diomongin, sedang maen ke blok belakang)

Thursday, November 10, 2011

dari tele lalu turun ke sipiso-piso


dapet kursi di row no. 2

Ada yang bilang, kalau Sipiso-piso itu artinya air yang mengalir tajam seperti mata pisau. Air yang mengalir dari dataran tinggi Karo menuju Danau Toba. Dilingkungi oleh perdu yang teduh dan tebing-tebing nan cantik. 

Melihat tingginya yang 120 meter itu, rasanya pantas saja ia menyandang gelar itu. Sayang waktu itu cuaca tak mendukung. Langit datar dan mendung. Jalur licin dan harus hati-hati turun hingga dasar air terjun. Tapi buat saya yang newbie ini, bukan masalah besar lah ya.  

Yang saya permasalahkan adalah ketika melihat Gedung Restoran Panorama Sipiso-piso Tongging. Posisinya ada diujung pelataran sebelum turun menuju air terjun. Gedung ini diresmikan oleh mentri Bulog Bustanul Arifin sekitar akhir tahun 1990-an.  

Sayang sekarang gedungnya tak terawat. Kosong dan kotor sangat. Padahal kalau warung-warung muslim yang ada di jalan masuk itu dipindah kesini (dibuat semacam foodcourt) atau toko-toko souvenir dikumpulkan disini dan oiya.. satu lagi, mushola yang tak terawat yang ada di dekat pintu masuk juga dipindah kesini.

Ah… pasti asyik sekali. 

hipnotis Joni aaaaah!

Saya                      :               lihat mata sayaaaa.... *corbusie style*
Joni                        :               #1HKN...N#*6KCM.....
saya                       :               joni tidak boleh (pulang) ke rumah yang lama

                                                 Ini rumah joni yang barrrrruuuuuu... *masih ala corbusie style*

suami saya          :               hany... Hany.....
Saya                      :               apaaaaaah?! *terganggu konsentrasi*
Suami saya         :               si joni tidur tuh!

Aaaarrrrrrggghhhh!!!!!

 

22 Juni 2011 (yeah.. its true…this is my fb status 4 months ago)

Tuesday, November 08, 2011

kalau pensiun nanti, saya ingin tinggal di tongging




Tak ada perahu yang ke Tongging. “Sudah lama (jalur penyeberangannya) tutup” kata orang-orang di pelabuhan Tigaraja di Prapat. Oh padahal saya ingin sekali kesana. Kalau dilihat dari peta sih, memang  masih jauh. Desa Tongging ada di ujung utara Danau Toba.

Tapi kali ini kami, saya dan Ika-she is my partner in crime for this trip- memilih memulainya dari Pulau Samosir, untuk memutar hampir setengah pulau menuju Pangururan. Dari sana baru kami menyeberang melewati jembatan (Terusan Tano Panggol) menuju daratan. Berpindah moda angkutan hingga kami tiba di Merek, kota yang paling dekat dengan tongging. Dan lima belas menit kemudian kami sudah menginjakkan kaki di desa Tongging.

Suasanyanya sepi dan gloomy. Terasa dingin, penuh kabut dan angin. Mungkin karena dataran tinggi dan musim hujan telah dulu datang disini. Kalau terus begini, rasanya saya ingin menghabiskan masa tua saya disini. Berjaket tebal, duduk di tepi danau, ditemani kucing dan secangkir kopi.

Perfecto!

Tongging, 10-11 September 2011

di kabanjahe, aksi seribu celana dalam batal !




Tuh kan, pasti gara-gara tulisan aksi seribu celana dalam itu kan? Hahaha… 

Nggak hanya kalian. Saya juga begitu. Itu headline koran sore yang menemani kami, saya dan Ika, ngopi sembari menunggu angkutan menuju Kutacane. Disini di warung kopi Simpang Empat Kabanjahe.

Sore itu, setelah puas melihat air terjun Sipiso-piso di Tongging, kami teruskan lagi perjalanan kami. Kali ini Kutacane, tujuannya. 

Setelah tanya sana-sini. Dari sini kami naik bentor menuju pertigaan Merek-Sidikalang. Tidak terlalu lama, hanya 15 menit perjalanan.  Setelah tiba di Merek, kami lanjutkan lagi dengan L300 menuju Kabanjahe. Ongkosnya hanya Rp 4,000 per orang, dan  empat puluh lima menit kemudian kami sudah tiba di Terminal Kabanjahe.

Karena tidak ada angkutan langsung menuju Kutacane, jadi kami harus mencegatnya di Simpang Empat. Katanya disana ada angkutan trayek Brastagi-Kutacane yang lewat. Jadi dari depan terminal, kami naik angkot (@ 2000/orang) dan turun di Simpang Empat.

Nah, di Simpang empat ini ada sebuah warung kopi, persis di perempatan jalan. Warung kopi yang merangkap juga sebagai ruang tunggu bagi penumpang-penumpang transit seperti kami ini. Tujuannya bermacam-macam. Kutacane salah satunya. Disana juga terdapat travel. Ini istilah untuk biro jasa yang mengatur siapa, berapa dan kapan penumpang bisa berangkat.

Tidak serumit di kota besar lah ya. Kami hanya perlu bertemu dengan petugasnya, yang sumpah mati, awalnya saya kira preman setempat :p, dan bilang kemana tujuan kami. Dia hanya berkata : “Kakak percayakan saja pada saya. Nanti saya atur”

Setelah bergelas-gelas  kopi, dua potong donat. Membaca selembar koran, dan ngobrol dengan Bapak yang berasal dari dataran tinggi Karo, jam tujuh malam angkutan itu tiba.

Dan benar, preman bertampang rambo namun berhati rinto itu sudah mengatur sedemikian rupa. Sungguh saya terharu dibuatnya. Barang-barang kami sudah dipacking dengan manis diatas atap mobil. Dan kami dapat duduk di depan. Dalam gelap malam, jalan berlubang, dan hujan rintik-rintik, kami lanjutkan lagi perjalanan kami.

Lima jam perjalanan menuju Kutacane. *Sigh*

 

Kabanjahe 11 september 2011

 

*ngomong-ngomong. Apa isi berita koran sore itu ya? Hahaha.. sudah lupa tuh. 

Thursday, November 03, 2011

Apa hubungan Si Gale-gale, Makam Raja Sidabutar, Museum Batak dengan belanja souvenir ?




Kalau datang ke Samosir, tapi waktunya terbatas sekali. Sepertinya cara ini bisa digunakan deh. Berangkatlah dari pelabuhan Tigaraja, Prapat. Disana, tiap satu jam pasti ada kapal yang menyeberang.  Tiketnya Rp 7,000/ orang (per 2011). Pastikan juga bahwa kapalnya akan merapat di Tomok . Karena, kalau tidak, kalian akan terbawa hingga TukTuk, yang jaraknya sekitar 10 km dari Tomok.

Begitu turun dari kapal. Kalian sudah disambut dengan toko-toko souvenir di kanan kiri jalan. Penuh sangat hingga ujung jalan. *ibu-ibu pasti suka nih* Tidak seperti pedagang souvenir di tempat lain, disini mereka masih cukup sopan. Kalau kita tidak tertarik, atau harganya tidak cocok ya sudah, tidak apa-apa. Mereka tidak memaksa.

Dan kalau jalan itu diikuti, ada tiga lokasi sekaligus yang bisa dikunjungi. Seperti : (1) Si Gale-Gale (2) makam Raja Sidabutar (3)Museum Batak, yang letaknya persis di ujung jalan tersebut.

Nah, kalau waktunya cukup, masih bisa lah carter ojek hingga Ambarita. Disana ada situs batu kursi Siallagan.  Atau keliling-keliling di daerah Tuktuk. Tapi Tuktuk itu seperti Kuta, di Bali. Itu tempatnya turis asing. Penuh dengan cafee, rental sepeda, money changer dan resto.   Mungkin juga karena semua hotel dan penginapan berkumpul disana.

Tapi kalau tidak, ya pulanglah kembali ke Prapat. Berangkat dari pelabuhan Tomok, kapalnya masih ada hingga magrib. Atau kalau kebetulan kalian berada di TukTuk, tunggu saja di dermaga yang ada. Disana rata-rata setiap hotel punya dermaga sendiri. Kadang-kadang, kapal juga mampir kesana. Tapi waktunya, nggak janji lah yaaa…

Jadi apa hubungan Si Gale-gale, Makam Raja Sidabutar, Museum Batak dengan belanja souvenir ? Ya. Nggak ada sih. Kecuali habis isi dompet saya gara-gara melihat ulos-ulos cantik dan kalender batak yang unik itu.. hehehe…

 Samosir,  September 2011

Wednesday, November 02, 2011

apa kabar Meulaboh hari ini?




Ketika Ika, ini teman seperjalanan saya,  berkata :”Saya mau ke Meulaboh, mau lihat bekas tsunami.”  Saya sih, setuju saja. Saya juga ingin tahu kota seperti apa sih Meulaboh itu. Secara, saya juga belum pernah ke sana. 

Dengan bentor –becak motor- sewaan, seharian kami berkeliling kota yang ada di tepi pantai ini.  Panas sudah pasti. Namanya juga di tepi pantai. Apalagi sore sebelumnya kami baru saja turun dari Takengon, sebuah kota yang terletak di daerah pegunungan.

Meulaboh sudah banyak berbenah diri. Hampir tak nampak kehancuran akibat tsunami tujuh tahun lalu. Walau saat ini pusat keramaiannya telah pindah sekitar 2-4 kilometer dari garis pantai. 

Tak banyak yang kami temui  ketika kami tuntaskan misi mencari sisa-sisa tsunami. Hanya ada lapangan kosong penuh semak-semak berikut sisa-sisa pondasi bangunan.  Namun ada satu yang tak berubah (yaitu) ketika kami melihat papan kayu bertuliskan : KUBURAN MASSAL.

Rasanya masih sama.

Tetap  saja menyesakkan dada. 

 

Meulaboh, Kamis 14 September 2011

Tuesday, November 01, 2011

belum 'haji' kalau belum ke km.0




Bagi para biker, mencapai titik nol kilometer di kota sabang, pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam, bagaikan pergi ke Mekah. Belum dianggap ‘haji’ kalau belum pergi kesana.  

Setelah lebaran lalu, suami saya bersama teman-teman klub motornya di Mailing List Yamaha Scorpio pergi kesana. Biasanya saya selalu mbonceng kemanapun mereka pergi. Tapi kali ini, saya dan beberapa teman, mencegat mereka di Medan.  dan singkat kata, dari sana barulah kami membonceng hingga Sabang.

Karena baru H+3 lebaran Idul Fitri, baik dari Pelabuhan Ulee Lheue maupun Pelabuhan Balohan di pulau Weh, penuh sangat dengan orang yang ingin menyeberang. Yang biasanya ada dua kali penyeberangan, kali ini ada tiga kali penyeberangan. Tiketnya Rp 17,000 untuk penumpang ekonomi atau tiket driver+kendaraan motor gol II Rp 21,000. 

Uniknya, kendaraan bermotor yang ingin menyeberang, sudah ada yang mengantri dari semalam. Yang tidak masuk quota, harus gigit jari karena menunggu antrian berikut. Yang bisa jadi baru berangkat keesokan harinya.  Bisa juga sih pakai kapal cepat. Tapi selain harga tiketnya lumayan, motor kan  nggak bisa ikut? 

Karena keterbatasan waktu pula, team motor ini hanya sempat mampir ke tugu GPS kilometer O di sisi barat-utara pulau ini. Sekitar 45 menit perjalanan dari Pelabuhan Balohan. Sayang banget, padahal banyak sekali tempat yang 'wajib' dikunjungi di pulau ini seperti pantai ibong, pulau rubiah atau danau aneuk laot *sigh* 

Tapi.. paling tidak, saya nggak penasaran lagi. Memang harus kesini lagi sepertinya. Bukan sebagai anak motor.. tapi sebagai anak pantai lah yaaa….. hahaha..!

Faktanya : monumen ini sebenarnya bukan titik paling barat dari Indonesia. Pulau Rondo adalah pulau yang terletak paling barat, tapi karena sulitnya mencapai pulau ini, maka monumen di bangun di tempat ini. 

Sabang, Trip to KM.0 (4-5 Sept 2011)

yang lain mengenai Milys goes to Atjeh juga ada disini eko probo : milys jelajah bumi andalas

Monday, October 31, 2011

saya rasa kucing bertasbih dengan caranya sendiri

Kemarin sore, saya dan suami menemui teman kami yang datang dari jauh. Kebetulan saat itu dia sedang menginap di rumah tantenya di daerah Jatiasih.  

Ngobrol kesana kemari, akhirnya obrolan kami berujung pada Gege. Gege ini kucing peliharaan si tante sekeluarga. Kucingnya mirip seperti Koko. Cowok juga. Tapi yang ini lebih manis.


Kata si tante, Gege ditemukan –atau Gege yang menemukan si Tante ya? hmm.. I believe so - ketika dia menjemput anak bungsunya pulang sekolah. Tanpa diduga, kucing kecil ini mengikuti si bungsu, tak seberapa jauh dari belakang. Karena merasa diikuti, anak bungsunya berhenti. Ketika ia menoleh, ternyata kucingnya juga berhenti. Lalu dia kembali berjalan. Lho? Kucingnya juga berjalan kembali. Begitu terus berkali-kali. Seperti mengajaknya bermain-main. Ah… lalu jatuh cintalah mereka padanya. “Padahal seumur hidup, saya sama sekali tidak pernah pelihara binatang.” lanjut si Tante.

Sepertinya ia paham akan diadopsi. Anak kucing itu berlari dengan riang gembira dan melompat masuk ke dalam mobil mereka. Dan pulanglah mereka ke rumah, tentu dengan tambahan warga berkaki empat ini.

Nah, masih ulah si Gege, kemarin ketika Tante sholat magrib. Seperti biasa, Gege  menungguinya. Dan seperti biasa pula, seusai sholat, si tante mulai membaca doa dan berzikir. 

Tapi tiba-tiba,  si Gege menarik tasbih –yang letaknya tak jauh dari situ- dengan tangannya. “Kaki depannya” koreksi si Om.  “Hehe.. iya. Dengan kaki  kanannya” lanjut Tante tersipu-sipu. Lalu, tasbih itu digigitnya. Dan menggeser butir-butir tasbih itu satu demi satu.  Seolah-olah sedang berzikir. Kata si Tante dengan nada masih tak percaya.

Saya yang mendengar kisahnya, sampai detik ini masih diliputi dengan rasa takjub. Satu lagi saya diperlihatkan kebesaran Allah. Baru kali ini saya mendengar kisah kucing berzikir dengan tasbih. 

Kalau kucing yang menunggui orang yang sedang sholat, itu sudah banyak saya dengar. Si Mio, kucingnya Choky salah satunya. Juga si Pippy. Kucing saya yang badannya gendut, gayanya yang bossy sekali dan hobinya yang suka mem-bully kucing-kucing yang lain. Hmm… Koko dan Malih, jangan bersedih ya. Kalian harus mendengar lagunya SM*SH kalau begitu. 

Kalau saya sholat, entah dari mana, tiba-tiba saja si Pippy sudah muncul dan langsung nongkrong di sejadah saya. Rasanya dia punya semacam radar yang cukup sensitif deh. 

Kadang-kadang duduk dengan tenang. Tapi lebih sering sambil mandi kucing –nah Pips.. kamu sendiri nggak khusyu dong hehehe..- gantian saya berusaha memejamkan mata agar konsentrasi saya tak terganggu. Dan disetiap saya sujud. Pippy langsung menempelkan kepalanya ke kepala saya. Doa sujud saya, beriringan dengan suara miau-maiunya. Lalu dia akan terus nongkrong disitu, hingga sholat saya selesai.

Setelah itu, dia pergi entah kemana. Mungkin ada urusan lagi yang lebih penting. –Seperti melanjutkan tidur siang, misalnya- Uh.. Pippy

Tapi yang seperti itu sih masih bisa saya tolerir. Tak seperti kisah yang satu ini. Ini kejadian ketika Koko dan kedua saudaranya, Kiki dan Mimin masih kecil. 

Waktu itu saya mau sholat dzuhur. Baru saja baca surat Al Fatihah. Lalu dari pintu kamar masuklah ketiga kucing kecil yang bandelnya kayak setan ini.  *gemas*

Dengan polosnya, mereka berlari dan berkejar-kejaran disekitar saya. Saya mulai tidak konsen. Saya pejamkan mata, maksudnya agar saya bisa khusyu dan mengabaikan gangguan kecil ini.

Tapi tidak begitu kenyataanya saudara-saudara.

Mereka bermain kejar-kejaran, saya bisa atasi itu. Tapi ketika akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah pola permainan. Dari kejar-kejaran menjadi main petak umpet, dan bersembunyi di dalam mukena, diantara kedua kaki saya.

Haiyaaaaah!!!! Dasar kuciaaaaang…. Batal deh sholatnya.

 

BTR, 31 Oktober 2011, 20:19 (nunggu my hubby pulang kantor, dan si gendut, - si Pippy maksudnya- sedang nongkrong di atas pagar)

Saturday, October 29, 2011

antara pippy dan termometer

a German animal expert, dr. Hans Precht, discovered that it is possible to get an accurate idea of room temperature just by looking at a way a cat sleeps.the chart, based on his study of more than four hundred positions, allows you to use your pet as a living thermometer. It thus shows that cats have an extraordinary sensitivity to tiny changes in the surrounding temperature.




dia bilang, dengan melihat posisi tidur si meong, kita bisa mengetahui berapa besar suhu ruangan.
Hmmm...lalu bagaimana dengan yang ini? 

(note : ini pippy yang sedang tidur siang)



Friday, October 28, 2011

pintu kucing

Dari dulu, saya tak pernah mengurung kucing dalam kandang. Jangankan kucing, burung peliharaan ayah saya pun sering saya lepas dari sangkarnya. Hahaha.. sorry, pah! *nyengir*

Nggak tega aja. Kasihan.  Mereka kan perlu bergerak bebas, kesana kemari sesuai kreasi dan keinginan hati masing-masing lah ya.

Nah, berawal dari hal itulah, begitu kami memutuskan untuk pindah rumah (lagi), hal pertama yang saya lakukan adalah menyuruh tukang untuk membuat pintu kucing.


Masih ingat dengan pintu Joni ketika kami tinggal di BSD dulu? Ya, selain pintu Joni, saya memang harus berkorban dinding rumah penuh dengan tapak cakar miau mereka. Karena dari jendela yang saya buka 24 jam-lah satu-satunya akses mereka untuk keluar masuk rumah.

Lalu, ketika kami pindah ke Bekasi, atas bantuan tukang saya yang fungkeh dan cerdas itu, kami berhasil  menemukan satu disain yang tepat untuk pintu kucing kami. 

Caranya bagian bawah pintu, dilubangi dengan gergaji. Lubangnya tidak terlalu besar, disesuaikan dengan ukuran si meong. Sekitar 20x15 cm lah. 

Lalu daun pintunya dibuat dari potongan tripleks, ukurannya agak kecil dari lubang tadi. Lalu dengan dua kait bajak laut, pada sisi lubang bagian atas, pintu itu kami kaitkan. Itu dilakukan agar dapat didorong dari dua arah. Dan sebagai sentuhan terakhir, daun pintu diberi cat warna coklat. Kontras dengan pintu kami yang berwarna putih. 

Saking senangnya saya dengan pintu ini, akhirnya saya minta di buatkan lagi. Selain pintu depan, saya minta dibuatkan di pintu kamar dan pintu belakang. Kalau pintu depan dan belakang, sudah jelas untuk lalulintas mereka.  

Tapi di pintu kamar, itu karena saya tak ingin diganggu tengah malam, hanya untuk membuka pintu karena Koko menggaruk-garuk pintu ingin tidur di kaki selimut saya. 

Atau subuh, karena tepat sebelum alarm berbunyi, Pippy akan masuk kamar, dan langsung tengkurap di punggung suami saya. Buat apa coba? Kalau bukan menteror kami berdua agar segera bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.   

Tapi ternyata pintu seperti itu ada juga kelemahannya. Jadi karena begitu mudah di akses oleh siapapun –maksudnya segala jenis makhluk yang bertubuh mungil- kadang-kadang, pintu itu dipakai juga oleh tikus yang mondar mandir masuk karena ingin tahu. 

Lalu? Kemana semua kucing-kucing? Huh.. dasar sial. Semua kucing di rumah ini hanya makan gaji buta. Sempat saya lihat ada tikus yang terjebak di hadapan Koko. Tahu apa yang terjadi? Koko hanya melengos tanda tak minat. Aduuuuh.. sebel deh.

Maka, untuk pintu kucing kali ini, suami saya berpesan, pintunya hanya satu saja. Dan dibuat seperti pintu-pintu di film-film itu lho. Jadi letaknya agak tinggi. 

Nah.. sekarang, yang bekerja keras tak hanya tukang di rumah ini, tapi juga tukang teralis yang pusing tujuh keliling menerjemahkan sketsa pintu kucing yang saya buat. Spesifikasinya jelas, pertama, pintunya tidak boleh terlalu berat dan yang kedua, dia harus dapat dorong dari kedua arah. 

Maka, inilah hasilnya. Di pintu teralis, disebelah kiri bawah, dibuat sebuah lubang lengkap dengan daun pintunya. Engselnya di bagian atas, agar dapat didorong dua arah. Lalu di pintu kayu, dilubangi juga dengan ukuran 20x20 cm. 

Dan keempat sisi dalamnya diampelas hingga halus, tentu agar bulu dan si meong sendiri tak cedera tersangkut kayu. Lalu untuk mempermanis, saya tambahkan sebuah frame di sisi sebaliknya. Jadi kalau dari dalam rumah, kita akan melihat sebuah frame dipasang di pintu. (terinspirasi dari film friends. Bedanya mereka gunakan frame itu untuk viewfinder pintu) dan satu papan pengumuman.

CATS ONLY!

Hahaha…

Bagi saya, ini pintu tersukses dari pintu kucing yang pernah saya buat sebelumnya. Bahkan saking suksesnya. Ini spot paling asyik untuk nongkrong. Mungkin karena angin-nya siar siur dari sini alias adem. 

Kalau saya pulang ke rumah, yang pertama kali nongol dari pintu ini pasti si Malih. Secara dia yang paling sering tidur dekat pintu. 

Pernah suatu kali saya lihat Pippy tak dapat keluar rumah. Itu tak lain dan tak bukan karena si Malih tidur melintang di depan pintu.

Tapi, kalau Pippy sedang iseng.  Dia sanggup duduk berjam-jam di balik pintu kucing. Dan semua kucing yang baru pulang main dan masuk lewat pintu ini, akan ditampol dengan indahnya dengan cakar miau pippy yang besar itu.

Jangankan mereka, kucing garong yang kadang-kadang lewat dan nongol karena ingin tahu, juga tak luput dari tampolan Pippy. Pippy mintu ini, akan ditampol dengan indahnya dengan cakar miau pippy yang besar itu. Emang satpam di rumah ini deh. Kostumnya saja sudah cocok ya Pips? 

 

BTR 28 oktober 2011, 19.50 akhirnya hujan juga.. selamat hari sumpah pemuda. Merdeka!!!

note :

tahukah kalian bahwa sir Isaac Newton terkenal bukan saja karena penemuan hukum gravitasi, tetapi juga penemuan pintu khusus kucing yang biasa terdapat pada pintu rumah (cat flap).

Thursday, October 27, 2011

LAMPULO : kapai di ateueh rumoh





Kapai ureueng meulaot nyoe jipeuek
ateueh rumoh nyoe le geulumbang
tsunami bak 26 Desember 2004.
Kapai nyoe jeuet keu tanda nyang
peunteng pakriban keuh dahsyat
musibah tsunami nyan
Beureukat kapai nyoe 59 ureung
seulamat watee kejadian nyan.

Kapal nelayan ini dihempas
gelombang tshunami pada
tangggal 26 Desember 2004
hingga tersangkut
di rumah ini.
Kapal ini menjadi bukti
penting betapa dahsyatnya
musibah tsunami tersebut.
Berkat kapal ini 59 orang
terselamatkan pada kejadian
itu.

this fishing boat is located
here after being carried by the
force of the tsunami on
26 December 2004.
The boat's current position is a
very real symbol of the mighty
force of the tsunami wave.
the boat saved 59 people in
this incident.


disalin dari plakat yang terletak di kapal apung ini.
plakat ini dirancang oleh tim .......(?)
atas bantuan Recovery Aceh Nias Trust Fund

(trip to atjeh 4 sept 2011)

Tuesday, October 25, 2011

siulakhosa itu berarti ......




Bagai merapal mantera, saya terus berucap Siulakhosa..siulakhosa..siulakhosa.. Tak seperti tempat lain di Samosir ini. Kata itu sulit sekali saya ingat. Baru kemudian dari tukang ojek yang mengantar kami, saya tahu artinya. Siulakhosa dalam  batak toba bermakna berhenti sejenak untuk menarik nafas. Konon dalam perjalanan pulang, penduduk Samosir yang tinggal di perbukitan ini selalu berhenti disini. Apalagi kalau bukan untuk menarik nafas sejenak. dan memandang dataran Tomok dan Tuk-tuk hingga kota Prapat yang ada di seberang danau. 

Pantas saja. Ini tempat tertinggi untuk memandang sekitar. Karena letaknya ada di sebuah bukit di pulau Samosir. Dengan ojek, kami butuh waktu kurang lebih dua jam untuk mencapai tempat ini. Tapi tak hanya itu, kami pun diantar melihat pemandangan hingga desa Tanjungan, berkunjung ke air terjun, mendengar batu berbisik, hingga danau Aek Natonang. Tak cukup sehari untuk berkeliling di tempat ini. Banyak sekali tempat-tempat menarik. *sigh*

Mungkin lain kali harus kesini lagi ya.

  

kata wiki tentang samosir

hatiku tertinggal di baiturrahman




Saya ingat, tepat sebulan setelah Tsunami. Di sela-sela kegiatan kami waktu itu, tak diduga, kami ditawarkan untuk sholat subuh di tempat ini.Hanya berdua dengan teman perempuan saya yang dari Jogja, sesama relawan.  

Kami  masuk dari pintu utama. Ada jam besar disana. Dinding putihnya sedikit kotor dan menara selatan terlihat retakan. Halamannya sudah bersih dari puing. Tapi daerah di samping kanan, kiri, depan dan belakang mesjid masih penuh dengan tumpukan kayu, seng, tembok dan perabot rumah. 

Tapi anehnya. Mesjid ini terasa agung seolah tak tersentuh hiruk pikuk di luar akibat bencana. Kami sholat tahiyattul masjid dan sholat subuh disana. Dan yang paling saya ingat. Banyak burung yang terbang mondar-mandir di langit-langit mesjid. 

Dan ketika kemarin saya kembali kesana. Rasanya masih tetap sama. Masih terasa agung dan membuat saya ingin terus kembali dan kembali lagi. Hanya sayang, burungnya sudah tak ada lagi disana. Mungkin dulu, korban tsunami juga yang sedang mengungsi kesana.

hmm.. baru saya sadari. Rasanya sih begitu.

Bandaaceh, 4 September 2011 (ditulis hari ini, oktober 25 2011, 10:20)  

Friday, October 21, 2011

Dear all, I’m wearing hijab now

Saya? Pakai kerudung? Ah.. sepertinya bukan saya banget deh. Saya yang sholatnya masih bolong-bolong. Saya yang amat gemar bercelana pendek, saya yang tergila-gila dengan kolam renang dan saya yang selalu ngumpet kalau diajak ibu-ibu pergi ke pengajian. Saya tahu itu wajib, tapi saya ‘menutup’ mata dan telinga. Selalu saya tunda-tunda. Saya sibuk dengan dunia. 

Lalu tiba-tiba saja sebulan lalu saya memakai kerudung. Banyak yang bilang, saya berkerudung karena baru pulang dari Aceh. Tidak salah juga sih, pencetusnya memang dari Aceh. Tapi sebenarnya sudah dimulai sejak berminggu-minggu sebelumnya. Ada dua alasan yang agak cupu juga kalau dipikir-pikir. 

Pertama, karena adik perempuan saya.  Awal ramadhan lalu adik saya mulai memakai kerudung. Ah, saat itu hati saya dilanda rasa iri. Tapi jujur, saya memang tidak punya keberanian.  

Lalu entah mengapa juga pada saat itu saya ingin sekali menamatkan bacaan Al Quran saya. –yang  nggak pernah khatam - mulai membuka kembali buku-buku tentang agama, jadi senang  menonton ceramah di tv, dan memperhatikan orang-orang yang memakai kerudung. Cantik juga.  Saya seperti diingatkan kembali keinginan di hati kecil saya sejak awal saya menikah dulu. Saya akan memakai kerudung. 

Kemudian ada alasan yang kedua, yaitu karena Saipul Jamil. Lho? Bang Ipul? 

Saya ingat. Siang itu di tv ada berita kecelakaan di tol Cipularang. Mobil yang dikemudikan bang Ipul, terbalik di km 97. Virginia –istrinya- tewas seketika. Apa karena istrinya bang Ipul penyebabnya? Ya, dia penyebabnya. Saya juga iri kepadanya. Banyak yang bilang, kalau meninggal di usia muda itu tandanya Allah sangat sayang padanya. Itu bukan berarti saya ingin mati muda ya  tapi yang menarik perhatian saya adalah Virginia ini berhijab setelah ia menikah dengan bang Ipul. 

Lalu tiba-tiba hati saya dilanda ketakutan. Ya Tuhan. Saya tidak mau mati dalam keadaan seperti ini. Saya belum siap. Dan berkelebatlah beberapa teman yang meninggal di usia muda. Rifi, karena kanker,  lalu melly karena kecelakaan sepeda motor. 

Saat itu kepala saya rasanya ditampar. Saya nggak mau mati dalam keadaan seperti ini. 

Saya ingat betul waktu itu. Pagi hari ketika tiba di banda Aceh, untuk alasan sopan santun karena saya datang di daerah yang menggunakan syariat Islam, pashmina yang sering saya bawa, saya sampirkan di kepala menjadi kerudung. Lalu yang awalnya saya gunakan sekedarnya berubah menjadi sebenarnya. Dan satu-satunya manset (kaos tangan hingga pangkal lengan) yang saya bawa –kadang-kadang saya pakai, karena takut lengan hitam terbakar matahari- menjadi pelengkap kostum saya selama berkeliling Aceh. Ya tentu saja, karena semua pakaian yang saya bawa, berlengan pendek.

Sungguh, tak seorang pun yang menyuruh saya. Tidak suami saya, tidak juga ibu atau ayah saya. Bahkan adik saya pun tak mengeluarkan sepatah katapun. Pun teman-teman di lingkungan terdekat saya. Ika –ini teman seperjalanan saya waktu itu- hanya berucap Alhamdulillah ketika sekilas saya bilang, mulai sekarang saya akan memakai kerudung. Suami saya malah berkaca-kaca ketika saya minta ijin untuk memakai kerudung. Dia tahu kalau saya keras kepala 

Maka terhitung sejak tanggal 4 September 2011. Akan saya ingat sebagai salah satu momen penting dalam hidup saya. Ini lompatan terbesar saya. Dan saya senang karena saya tak pernah ragu untuk melakukannya. Hanya ada satu yang saya sesali. Kenapa tidak saya lakukan dari dulu. 

Semoga dengan dua alasan ‘tak penting’ itu, akan selalu mengingatkan saya agar saya tetap istiqomah. Dan saya selalu berdoa bagi teman-teman yang lain yang belum berhijab, semoga hidayah segera datang. Karena saya yakin bahwa sebenarnya hati mereka telah berniat. Seperti saya dulu. Semoga saya bisa menjaga amanah ini.  Dan menjadi pembuka jalan bagi saya untuk mendekatkan diri pada Allah. Saya mulai belajar lagi dari nol. Seperti hari yang fitri ini, saya akan mulai lembaran yang baru. 

Saya akan restart lagi dari awal. 

Amin..

BTR, 21 Oktober 2011, 09.41 (foto diatas diambil tadi pagi, sebelum yayangku berangkat ke kantor)

Thursday, October 20, 2011

tjong a fie mansion




Setiap mampir ke kota Medan, ada dua tempat yang selalu dan selalu saya datangi. Yang pertama pasar tradisional dan yang kedua, jalan A. Yani di daerah kesawan. 

Kalau yang pertama, biasanya untuk alasan nostalgia (haha.. bukan yang itu, bukan jumpa fans sama copet-copet yang ada disana ya) dan yang kedua karena saya cinta banget dengan bangunan tua. Nah, disini banyak sekali bangunan bersejarah. 

Sebut saja kantor Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij, Gedung South East Asia Bank, Gedung PT. London Sumatera Tbk., Gedung Bank Modern (dulunya kantor perwakilan Stork), Gedung Jakarta Lloyd (dulunya kantor perusahaan pelayaran The Netherlands Shipping Company dan sempat menjadi kantor Rotterdam's Lloyd), Gedung PT. London Sumatera (dulu kantor Harrison & Crossfield) , Cafe Tip Top (masih beroperasi hingga kini dari zaman kolonial) dan rumah Tjong a fie.

Untuk yang terakhir, sungguh mati, saya penasaran dibuatnya. Ada rumah tinggal di tengah-tengah pusat kota seperti ini. Masih ditempati pula. 

Lalu kemarin, ketika lewat disana ternyata rumah ini dibuka untuk umum. Oh.. ternyata sudah dari tahun 2009 lalu. Sudah ada yayasan yang mengelola bangunan ini agar tetap terjaga kelestariannya.  Dan.. baiklah.. I'm comiiiiiiing!!!!

medan, 3 september 2011

info terkait :
Tjong_A_Fie
 
;