dapet kursi di row no. 2


Saya : lihat mata sayaaaa.... *corbusie style*
Joni : #1HKN...N#*6KCM.....
saya : joni tidak boleh (pulang) ke rumah yang lama
Ini rumah joni yang barrrrruuuuuu... *masih ala corbusie style*
suami saya : hany... Hany.....
Saya : apaaaaaah?! *terganggu konsentrasi*
Suami saya : si joni tidur tuh!
Aaaarrrrrrggghhhh!!!!!
22 Juni 2011 (yeah.. its true…this is my fb status 4 months ago)

Tak ada perahu yang ke Tongging. “Sudah lama (jalur penyeberangannya) tutup” kata orang-orang di pelabuhan Tigaraja di Prapat. Oh padahal saya ingin sekali kesana. Kalau dilihat dari peta sih, memang masih jauh. Desa Tongging ada di ujung utara Danau Toba.
Tapi kali ini kami, saya dan Ika-she is my partner in crime for this trip- memilih memulainya dari Pulau Samosir, untuk memutar hampir setengah pulau menuju Pangururan. Dari sana baru kami menyeberang melewati jembatan (Terusan Tano Panggol) menuju daratan. Berpindah moda angkutan hingga kami tiba di Merek, kota yang paling dekat dengan tongging. Dan lima belas menit kemudian kami sudah menginjakkan kaki di desa Tongging.
Suasanyanya sepi dan gloomy. Terasa dingin, penuh kabut dan angin. Mungkin karena dataran tinggi dan musim hujan telah dulu datang disini. Kalau terus begini, rasanya saya ingin menghabiskan masa tua saya disini. Berjaket tebal, duduk di tepi danau, ditemani kucing dan secangkir kopi.
Perfecto!
Tongging, 10-11 September 2011

Tuh kan, pasti gara-gara tulisan aksi seribu celana dalam itu kan? Hahaha…
Nggak hanya kalian. Saya juga begitu. Itu headline koran sore yang menemani kami, saya dan Ika, ngopi sembari menunggu angkutan menuju Kutacane. Disini di warung kopi Simpang Empat Kabanjahe.
Sore itu, setelah puas melihat air terjun Sipiso-piso di Tongging, kami teruskan lagi perjalanan kami. Kali ini Kutacane, tujuannya.
Setelah tanya sana-sini. Dari sini kami naik bentor menuju pertigaan Merek-Sidikalang. Tidak terlalu lama, hanya 15 menit perjalanan. Setelah tiba di Merek, kami lanjutkan lagi dengan L300 menuju Kabanjahe. Ongkosnya hanya Rp 4,000 per orang, dan empat puluh lima menit kemudian kami sudah tiba di Terminal Kabanjahe.
Karena tidak ada angkutan langsung menuju Kutacane, jadi kami harus mencegatnya di Simpang Empat. Katanya disana ada angkutan trayek Brastagi-Kutacane yang lewat. Jadi dari depan terminal, kami naik angkot (@ 2000/orang) dan turun di Simpang Empat.
Nah, di Simpang empat ini ada sebuah warung kopi, persis di perempatan jalan. Warung kopi yang merangkap juga sebagai ruang tunggu bagi penumpang-penumpang transit seperti kami ini. Tujuannya bermacam-macam. Kutacane salah satunya. Disana juga terdapat travel. Ini istilah untuk biro jasa yang mengatur siapa, berapa dan kapan penumpang bisa berangkat.
Tidak serumit di kota besar lah ya. Kami hanya perlu bertemu dengan petugasnya, yang sumpah mati, awalnya saya kira preman setempat :p, dan bilang kemana tujuan kami. Dia hanya berkata : “Kakak percayakan saja pada saya. Nanti saya atur”
Setelah bergelas-gelas kopi, dua potong donat. Membaca selembar koran, dan ngobrol dengan Bapak yang berasal dari dataran tinggi Karo, jam tujuh malam angkutan itu tiba.
Dan benar, preman bertampang rambo namun berhati rinto itu sudah mengatur sedemikian rupa. Sungguh saya terharu dibuatnya. Barang-barang kami sudah dipacking dengan manis diatas atap mobil. Dan kami dapat duduk di depan. Dalam gelap malam, jalan berlubang, dan hujan rintik-rintik, kami lanjutkan lagi perjalanan kami.
Lima jam perjalanan menuju Kutacane. *Sigh*
Kabanjahe 11 september 2011
*ngomong-ngomong. Apa isi berita koran sore itu ya? Hahaha.. sudah lupa tuh.

Kalau datang ke Samosir, tapi waktunya terbatas sekali. Sepertinya cara ini bisa digunakan deh. Berangkatlah dari pelabuhan Tigaraja, Prapat. Disana, tiap satu jam pasti ada kapal yang menyeberang. Tiketnya Rp 7,000/ orang (per 2011). Pastikan juga bahwa kapalnya akan merapat di Tomok . Karena, kalau tidak, kalian akan terbawa hingga TukTuk, yang jaraknya sekitar 10 km dari Tomok.
Begitu turun dari kapal. Kalian sudah disambut dengan toko-toko souvenir di kanan kiri jalan. Penuh sangat hingga ujung jalan. *ibu-ibu pasti suka nih* Tidak seperti pedagang souvenir di tempat lain, disini mereka masih cukup sopan. Kalau kita tidak tertarik, atau harganya tidak cocok ya sudah, tidak apa-apa. Mereka tidak memaksa.
Dan kalau jalan itu diikuti, ada tiga lokasi sekaligus yang bisa dikunjungi. Seperti : (1) Si Gale-Gale (2) makam Raja Sidabutar (3)Museum Batak, yang letaknya persis di ujung jalan tersebut.
Nah, kalau waktunya cukup, masih bisa lah carter ojek hingga Ambarita. Disana ada situs batu kursi Siallagan. Atau keliling-keliling di daerah Tuktuk. Tapi Tuktuk itu seperti Kuta, di Bali. Itu tempatnya turis asing. Penuh dengan cafee, rental sepeda, money changer dan resto. Mungkin juga karena semua hotel dan penginapan berkumpul disana.
Tapi kalau tidak, ya pulanglah kembali ke Prapat. Berangkat dari pelabuhan Tomok, kapalnya masih ada hingga magrib. Atau kalau kebetulan kalian berada di TukTuk, tunggu saja di dermaga yang ada. Disana rata-rata setiap hotel punya dermaga sendiri. Kadang-kadang, kapal juga mampir kesana. Tapi waktunya, nggak janji lah yaaa…
Jadi apa hubungan Si Gale-gale, Makam Raja Sidabutar, Museum Batak dengan belanja souvenir ? Ya. Nggak ada sih. Kecuali habis isi dompet saya gara-gara melihat ulos-ulos cantik dan kalender batak yang unik itu.. hehehe…

Ketika Ika, ini teman seperjalanan saya, berkata :”Saya mau ke Meulaboh, mau lihat bekas tsunami.” Saya sih, setuju saja. Saya juga ingin tahu kota seperti apa sih Meulaboh itu. Secara, saya juga belum pernah ke sana.
Dengan bentor –becak motor- sewaan, seharian kami berkeliling kota yang ada di tepi pantai ini. Panas sudah pasti. Namanya juga di tepi pantai. Apalagi sore sebelumnya kami baru saja turun dari Takengon, sebuah kota yang terletak di daerah pegunungan.
Meulaboh sudah banyak berbenah diri. Hampir tak nampak kehancuran akibat tsunami tujuh tahun lalu. Walau saat ini pusat keramaiannya telah pindah sekitar 2-4 kilometer dari garis pantai.
Tak banyak yang kami temui ketika kami tuntaskan misi mencari sisa-sisa tsunami. Hanya ada lapangan kosong penuh semak-semak berikut sisa-sisa pondasi bangunan. Namun ada satu yang tak berubah (yaitu) ketika kami melihat papan kayu bertuliskan : KUBURAN MASSAL.
Rasanya masih sama.
Tetap saja menyesakkan dada.
Meulaboh, Kamis 14 September 2011


Kemarin sore, saya dan suami menemui teman kami yang datang dari jauh. Kebetulan saat itu dia sedang menginap di rumah tantenya di daerah Jatiasih.
Ngobrol kesana kemari, akhirnya obrolan kami berujung pada Gege. Gege ini kucing peliharaan si tante sekeluarga. Kucingnya mirip seperti Koko. Cowok juga. Tapi yang ini lebih manis.
Kata si tante, Gege ditemukan –atau Gege yang menemukan si Tante ya? hmm.. I believe so - ketika dia menjemput anak bungsunya pulang sekolah. Tanpa diduga, kucing kecil ini mengikuti si bungsu, tak seberapa jauh dari belakang. Karena merasa diikuti, anak bungsunya berhenti. Ketika ia menoleh, ternyata kucingnya juga berhenti. Lalu dia kembali berjalan. Lho? Kucingnya juga berjalan kembali. Begitu terus berkali-kali. Seperti mengajaknya bermain-main. Ah… lalu jatuh cintalah mereka padanya. “Padahal seumur hidup, saya sama sekali tidak pernah pelihara binatang.” lanjut si Tante.

Sepertinya ia paham akan diadopsi. Anak kucing itu berlari dengan riang gembira dan melompat masuk ke dalam mobil mereka. Dan pulanglah mereka ke rumah, tentu dengan tambahan warga berkaki empat ini.
Nah, masih ulah si Gege, kemarin ketika Tante sholat magrib. Seperti biasa, Gege menungguinya. Dan seperti biasa pula, seusai sholat, si tante mulai membaca doa dan berzikir.
Tapi tiba-tiba, si Gege menarik tasbih –yang letaknya tak jauh dari situ- dengan tangannya. “Kaki depannya” koreksi si Om. “Hehe.. iya. Dengan kaki kanannya” lanjut Tante tersipu-sipu. Lalu, tasbih itu digigitnya. Dan menggeser butir-butir tasbih itu satu demi satu. Seolah-olah sedang berzikir. Kata si Tante dengan nada masih tak percaya.

Saya yang mendengar kisahnya, sampai detik ini masih diliputi dengan rasa takjub. Satu lagi saya diperlihatkan kebesaran Allah. Baru kali ini saya mendengar kisah kucing berzikir dengan tasbih.
Kalau kucing yang menunggui orang yang sedang sholat, itu sudah banyak saya dengar. Si Mio, kucingnya Choky salah satunya. Juga si Pippy. Kucing saya yang badannya gendut, gayanya yang bossy sekali dan hobinya yang suka mem-bully kucing-kucing yang lain. Hmm… Koko dan Malih, jangan bersedih ya. Kalian harus mendengar lagunya SM*SH kalau begitu.
Kalau saya sholat, entah dari mana, tiba-tiba saja si Pippy sudah muncul dan langsung nongkrong di sejadah saya. Rasanya dia punya semacam radar yang cukup sensitif deh.
Kadang-kadang duduk dengan tenang. Tapi lebih sering sambil mandi kucing –nah Pips.. kamu sendiri nggak khusyu dong hehehe..- gantian saya berusaha memejamkan mata agar konsentrasi saya tak terganggu. Dan disetiap saya sujud. Pippy langsung menempelkan kepalanya ke kepala saya. Doa sujud saya, beriringan dengan suara miau-maiunya. Lalu dia akan terus nongkrong disitu, hingga sholat saya selesai.
Setelah itu, dia pergi entah kemana. Mungkin ada urusan lagi yang lebih penting. –Seperti melanjutkan tidur siang, misalnya- Uh.. Pippy

Tapi yang seperti itu sih masih bisa saya tolerir. Tak seperti kisah yang satu ini. Ini kejadian ketika Koko dan kedua saudaranya, Kiki dan Mimin masih kecil.
Waktu itu saya mau sholat dzuhur. Baru saja baca surat Al Fatihah. Lalu dari pintu kamar masuklah ketiga kucing kecil yang bandelnya kayak setan ini. *gemas*
Dengan polosnya, mereka berlari dan berkejar-kejaran disekitar saya. Saya mulai tidak konsen. Saya pejamkan mata, maksudnya agar saya bisa khusyu dan mengabaikan gangguan kecil ini.
Tapi tidak begitu kenyataanya saudara-saudara.
Mereka bermain kejar-kejaran, saya bisa atasi itu. Tapi ketika akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah pola permainan. Dari kejar-kejaran menjadi main petak umpet, dan bersembunyi di dalam mukena, diantara kedua kaki saya.
Haiyaaaaah!!!! Dasar kuciaaaaang…. Batal deh sholatnya.
BTR, 31 Oktober 2011, 20:19 (nunggu my hubby pulang kantor, dan si gendut, - si Pippy maksudnya- sedang nongkrong di atas pagar)
a German animal expert, dr. Hans Precht, discovered that it is possible to get an accurate idea of room temperature just by looking at a way a cat sleeps.the chart, based on his study of more than four hundred positions, allows you to use your pet as a living thermometer. It thus shows that cats have an extraordinary sensitivity to tiny changes in the surrounding temperature.
Dari dulu, saya tak pernah mengurung kucing dalam kandang. Jangankan kucing, burung peliharaan ayah saya pun sering saya lepas dari sangkarnya. Hahaha.. sorry, pah! *nyengir*
Nggak tega aja. Kasihan. Mereka kan perlu bergerak bebas, kesana kemari sesuai kreasi dan keinginan hati masing-masing lah ya.
Nah, berawal dari hal itulah, begitu kami memutuskan untuk pindah rumah (lagi), hal pertama yang saya lakukan adalah menyuruh tukang untuk membuat pintu kucing.
Masih ingat dengan pintu Joni ketika kami tinggal di BSD dulu? Ya, selain pintu Joni, saya memang harus berkorban dinding rumah penuh dengan tapak cakar miau mereka. Karena dari jendela yang saya buka 24 jam-lah satu-satunya akses mereka untuk keluar masuk rumah.

Lalu, ketika kami pindah ke Bekasi, atas bantuan tukang saya yang fungkeh dan cerdas itu, kami berhasil menemukan satu disain yang tepat untuk pintu kucing kami.
Caranya bagian bawah pintu, dilubangi dengan gergaji. Lubangnya tidak terlalu besar, disesuaikan dengan ukuran si meong. Sekitar 20x15 cm lah.
Lalu daun pintunya dibuat dari potongan tripleks, ukurannya agak kecil dari lubang tadi. Lalu dengan dua kait bajak laut, pada sisi lubang bagian atas, pintu itu kami kaitkan. Itu dilakukan agar dapat didorong dari dua arah. Dan sebagai sentuhan terakhir, daun pintu diberi cat warna coklat. Kontras dengan pintu kami yang berwarna putih.
Saking senangnya saya dengan pintu ini, akhirnya saya minta di buatkan lagi. Selain pintu depan, saya minta dibuatkan di pintu kamar dan pintu belakang. Kalau pintu depan dan belakang, sudah jelas untuk lalulintas mereka.
Tapi di pintu kamar, itu karena saya tak ingin diganggu tengah malam, hanya untuk membuka pintu karena Koko menggaruk-garuk pintu ingin tidur di kaki selimut saya.
Atau subuh, karena tepat sebelum alarm berbunyi, Pippy akan masuk kamar, dan langsung tengkurap di punggung suami saya. Buat apa coba? Kalau bukan menteror kami berdua agar segera bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Tapi ternyata pintu seperti itu ada juga kelemahannya. Jadi karena begitu mudah di akses oleh siapapun –maksudnya segala jenis makhluk yang bertubuh mungil- kadang-kadang, pintu itu dipakai juga oleh tikus yang mondar mandir masuk karena ingin tahu.
Lalu? Kemana semua kucing-kucing? Huh.. dasar sial. Semua kucing di rumah ini hanya makan gaji buta. Sempat saya lihat ada tikus yang terjebak di hadapan Koko. Tahu apa yang terjadi? Koko hanya melengos tanda tak minat. Aduuuuh.. sebel deh.

Maka, untuk pintu kucing kali ini, suami saya berpesan, pintunya hanya satu saja. Dan dibuat seperti pintu-pintu di film-film itu lho. Jadi letaknya agak tinggi.
Nah.. sekarang, yang bekerja keras tak hanya tukang di rumah ini, tapi juga tukang teralis yang pusing tujuh keliling menerjemahkan sketsa pintu kucing yang saya buat. Spesifikasinya jelas, pertama, pintunya tidak boleh terlalu berat dan yang kedua, dia harus dapat dorong dari kedua arah.
Maka, inilah hasilnya. Di pintu teralis, disebelah kiri bawah, dibuat sebuah lubang lengkap dengan daun pintunya. Engselnya di bagian atas, agar dapat didorong dua arah. Lalu di pintu kayu, dilubangi juga dengan ukuran 20x20 cm.
Dan keempat sisi dalamnya diampelas hingga halus, tentu agar bulu dan si meong sendiri tak cedera tersangkut kayu. Lalu untuk mempermanis, saya tambahkan sebuah frame di sisi sebaliknya. Jadi kalau dari dalam rumah, kita akan melihat sebuah frame dipasang di pintu. (terinspirasi dari film friends. Bedanya mereka gunakan frame itu untuk viewfinder pintu) dan satu papan pengumuman.
CATS ONLY!
Hahaha…

Pernah suatu kali saya lihat Pippy tak dapat keluar rumah. Itu tak lain dan tak bukan karena si Malih tidur melintang di depan pintu.
Tapi, kalau Pippy sedang iseng. Dia sanggup duduk berjam-jam di balik pintu kucing. Dan semua kucing yang baru pulang main dan masuk lewat pintu ini, akan ditampol dengan indahnya dengan cakar miau pippy yang besar itu.
Jangankan mereka, kucing garong yang kadang-kadang lewat dan nongol karena ingin tahu, juga tak luput dari tampolan Pippy. Pippy mintu ini, akan ditampol dengan indahnya dengan cakar miau pippy yang besar itu. Emang satpam di rumah ini deh. Kostumnya saja sudah cocok ya Pips?BTR 28 oktober 2011, 19.50 akhirnya hujan juga.. selamat hari sumpah pemuda. Merdeka!!!
note :
tahukah kalian bahwa sir Isaac Newton terkenal bukan saja karena penemuan hukum gravitasi, tetapi juga penemuan pintu khusus kucing yang biasa terdapat pada pintu rumah (cat flap).






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact