Showing posts with label jawatimur. Show all posts
Showing posts with label jawatimur. Show all posts

Saturday, October 13, 2007

argopuro dan kabar dari jakarta

teman-teman, ini kejadian waktu  kami ada di sikasur. waktu itu sudah hari ke tiga kami di argopuro.

Minggu 19 agustus 07

Aku kena sariawan. Ada delapan titik. Menyiksa sekali deh. Mungkin karena kurang makan buah. Mungkin juga karena kurang vitamin.  Atau karena panas dalam.  Mungkin juga karena aku bukan dokter. Hei! Serius amat bacanya :)

Yang jelas, bibirku juga pecah-pecah. Jangankan untuk nyengir. Mau ngomong aja rasanya pengen nabok orang karena perihnya. 

Hari itu aku bersumpah :
kalau bisa dapet abothyl (catatan : obat sariawan, obat tetes, warna ungu tua, umumnya ditakuti para penderita sariawan :) akan kuobati sariawan ini.

“saya punya mbak”  Cahyo menyahut entah darimana.

Damn! Kepiting rebus! kecoak busuk! Sejuta topan badai!  Aku ciut. Nggak berani.

 

Siang

Akhirnya pos Sikasur sepi juga.  Kini pondok kami kuasai :D. Tetangga sudah mengepak barang dan turun menuju Baderan. Aku bangun siang.  Yang lain juga begitu. Semalam, aku, Joko dan Wangsa tidur berhimpitan bersama dua remaja rempakem itu diantara : trangia, beberapa kantong logistik, kerir, sepatu dan jemuran pakaian basah kami.

Ah, siapa bilang tidur di dalam pondok lebih hangat. Tidurku tak nyenyak karena dingin. Lihat saja, pos ini tak lagi berpintu dan dinding utara hilang sebagian. Aku kerap terbangun karena ‘teman-teman kecil’  (baca : tikus) ingin mencicipi isi kantong logistik yang ada di sampingku. Yang seharusnya dilakukan adalah : memasang tenda di dalam pos. itu baru benar.

Dan Joko pun membangun tenda tepat di depan pos. “kenapa mas?” Tanya Wangsa.  “tuh!”  Joko menunjukku yang sedang bengong di depan tenda.

Siang itu, Joko turun tangan untuk masak. Aku sih jadi pengawas aja. Sambil comot sini comot sana. Hehe… Yang lain,  sejauh yang bisa kupantau dari dinding pondok yang terbuka : turun ke sungai, mandi, cuci piring dan motret.

Mas Gimo malah menjemur seluruh isi kerirnya. Basah.  Dedy  mengikuti. Menu hari itu adalah sayur lodeh, lembaran tipis daging beef burger yang digoreng matang dan kepingan emping goreng.  Lezat betul kelihatannya. Makan pagi sekaligus siang. Di pondok di tengah lapangan seluas ini. Dan aku menelan ludah.

Dan tiba-tiba.

 “Kuuuuuuuur…kuuuuuuurrr! Ayo makaaan!”

Suara kelontengan panci yang dipukul Joko dengan sendok.  Sialan! Kami disamakan dengan ayam. Hahaha….

Sedetik kemudian kami berkumpul di dalam pondok. Memegang piring dan sendok masing-masing. Menunggu dituang jatah lodeh dengan adilnya.

 Setelah makan, dan bebenah. Aku masuk ke dalam tenda dan tidur. Yang lain satu persatu menyusul.  Mas Gimo, Dedy dan Wangsa menggelar matras dan tidur di luar menantang langit. Sepi di ketinggian 2100 meter ini. Hanya terdengar bunyi angin dan tarikan nafas kami yang bersahut-sahutan.  Tidur dulu yaaaak…!

ini obrolanku dengan chipi dan cahyo pagi tadi
 
Ada apa semalam Puts?”  tanyaku pada Chipi “Apa kamu sakit?”

“Nggak mbak.”

“tapi Mas Gimo"

"beban Mas Gimo berat banget” kata Chipi.

Jadi begini ceritanya, sejak meninggalkan pos mata air 1. Mas Gimo selalu ada di belakang, karena beban berat maka jalannya pelan sekali.

“Nyampe alun-alun kecil jam berapa?”“jam tiga mbak”

padahal perjalanan dari alun-alun kecil hingga sikasur normalnya hanya 2-3 jam saja.

“Kenapa lama sekali?”  balasku gemas.“nunggu mas Gimo" sudah malam ketika mereka ada di Jambangan. Gelap. Hujan. Lelah dan ngantuk.  Mereka putuskan untuk menginap semalam. Besok pagi baru menyusul ke Sikasur.

“terima pesan berantai kami?” “Terima mbak”  ini  Cahyo yang menyahut. Tapi pesanku tak berbalas. Aku tahu, selain kami, tidak ada lagi pendaki yang naik menuju Sikasur.

Ingin sekali mengabarkankan status mereka saat itu, Chipi dan Cahyo mencoba keberuntungan. Dan menelpon kami yang ada di Sikasur. Tumben dapat sinyal.

“HP mbak aries nggak aktif”“Iya. Mati. Nggak ada sinyal sih”

“Hp mas Joko juga”“idem. Dimatiin. “

“Nggak tau no hp mas Dedy. Juga Wangsa” “oh”  

akhirnya  Chipi  menghubungi Nani –pacar Wangsa- yang ada di Jakarta.“Hmmmmm….” Firasatku mulai tidak enak. 

Sebagai orang yang sudah makan asam garam, Mas Gimo dengan bijak berpendapat. “Hati-hati untuk kasih kabar ke Jakartapoinnya sih. Pikir dulu sebelum bertindak. Cara orang menanggapi sebuah berita, apalagi dengan kondisi jauh disana, bisa berbeda-beda lho. Aku setuju dengan Mas Gimo.

“Mas Gimo memang begitu Hany.” “Begitu gimana?” 

dalam kesempatan yang berbeda, ini pembicaraanku dengan Joko. Mas Gimo itu selalu packing paling akhir. Kalau masih ada barang di luar. Pasti dia angkut.  Nggak peduli seberat apapun.

Iya. Tapi umur nggak bisa ditipu Joko”.

Mungkin bukan jamannya lagi mas Gimo membawa beban seberat itu.


Aku kecewa pada diriku sendiri. Kenapa aku jadi nggak peduli dengan rekan seperjalananku ya? Biasanya aku selalu rajin memeriksa beban kerir teman-teman. Aku juga kecewa dengan Joko. Kok kelihatannya dia nggak peduli dengan sahabatnya itu. Bentuk persahabatan yang tidak aku pahami.  Semoga saja aku salah.

Pagi itu juga kubongkar kerir Mas Gimo. Logistik kelompok kubagi tiga.  Untuk mas Gimo, untuk Wangsa dan Dedy. Sederhana saja, agar Mas Gimo tidak tertinggal lagi. Alasan yang lain : bila terpisah lagi. Minimal, team depan pun lengkap logistiknya. :) ah, tak kenyang rasanya, jika teringat semalam hanya makan mie kuah dan nasi dingin sisa makan siang.

Pelajaran hari itu (jangan pernah bosen untuk ngingetin): sebelum berangkat, catat nomor HP masing-masing. Bawa HT minimal 2 buah.  Beban kerir merata. Usahakan selalu berjalan bersama. Atau kalau tidak, menunggu di tiap pos. baru jalan lagi.

-ars-
begitu deh kejadiannya waktu itu. Maaf ya kalau merepotkan temen-temen di jakarta (dan Batam), temen-temen yang masih ada di semeru , juga makasih temen2 yang masih stand by di proboliggo. padahal kami tahu, kalian pasti masih capek beraats

Tuesday, September 04, 2007

dan lembah itu bernama lembah pembantaian




Dan sore itu kedua kakiku menapak alun-alun yang teramat luas itu. Sejauh mata memandang hanyalah rumput gimbal yang menguning di musim kemarau. 

Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika berdiri di tengah-tengah lapangan Sikasur dan mengingat kejadian berpuluh tahun silam. Penggalan sejarah yang mungkin hanya tersisa dari beberapa saksi hidup yang mulai hilang satu persatu.

Kini, hanya dinding batu, sisa lapangan terbang dan sebuah jalan tembus yang kini entah ada dimana.  Entah dimana mereka berada. Hanya pesannya terdengar sayup diantara desau angin yang turun dari gunung nun jauh disana.

argopuro, 3088 mdpl, 15-25 Agustus 2007 bersama orang terkasih dan tersayang : joko, chipi, cahyo, wangsa, dedy dan mas gimo

Wednesday, August 30, 2006

Arjuno... misteri jalur Purwosari



(masih dalam rangka re-posting catper yang tersebar entah kemana, Masih dengan kamera FM10 kesayangan. Memperingati trip bareng ibu-ibu PKK J dua tahun silam dengan Ika dan Jenny, 11-13 September 2004)


 


Tokoh petualangan kali ini:


 


IKA, Kali ini cewek yang hobbynya memakai kacamata hitam ala Jacky Kennedy itu, membawa dua kamera pocket berisi film berwarna dan hitam putih. Sempat mengacaukan satu toko film di Lawang, karena memborong segala macam merek film. Argumennya : “Eksperimen Ries! Eksperimeeeeenn!!!” Dan tanpa ragu-ragu ia akan mengusulkan penjual sayur dan beras untuk berfoto bersama. Yang paling membahagiakan adalah bila melihat dia sudah memakai kostum baju merah, kerudung kuning berikut tas pinggangnya dalam setiap pendakian. Cuma satu kata : Ika sekali deh!


 


JENNY, jangan heran kalo dari keril kecil karimorr ‘Doraemon’ nya bisa muncul berbagai barang ajaib. Mulai dari tenda, trangia, bahkan 4 liter air sudah tersedia disana, bermacam-macam snack dan permen pedas. Lengkaaaap! Cewek berkaca mata minus ini, selalu berpakaian hitam-hitam ala Permadi. Super kalem dan super sabar diantara kami bertiga. Ketika kami (terutama saya..he..he..) lelah amat sangat ketika tiba di camp. Dengan sigap, ibu yang satu ini sudah siap dengan trangia dan bertanya : “Aries, mau minum apa? Ika, mau minum apa?” Dengan kamera, handycam dan GPS ditangan…. hmmmmmmm …. Rasanya menyejukkan hati kalau kami bertanya : “sudah ketinggian berapa, Jen?”


 


Dan saya sendiri, Ariesnawaty ……………….


 


pagi jam 07.00 di pasar Lawang. Kami bertiga sedang berdiri di depan kios beras & minyak tanah. Cari info plus bertanya dimana kami bisa beli spirtus. Sebagian besar pembicaraan dilakukan dalam bahasa jawa kromo inggil, tapi untuk memudahkan kalian para pembaca, berikut ini terjemahan bebasnya.


 


Penjual beras: “Mau kemana nih?” (dengan gaya preman-nya ia bertanya, matanya menatap kami dengan tajam)


 


Jenny : “Rencananya kami mau ke gunung Arjuno Bu” (sambil berdiri di depan tumpukan beras, memilih-milih beras)


 


temen penjual beras : “Mau kemana sih Mbak-mbak ini?” (Temennya penjual beras yang kebetulan baru datang, berdiri di samping penjual beras, rasa ingin tahunya begitu tinggi sehingga dihentikan aktifitasnya hanya untuk berdiri disamping penjual beras)


 


Penjual beras : “tuh mau kesana!” (si penjual beras kemudian menunjuk ke arah utara, pandangan mereka berdua manyaput arah puncak gunung Arjuno)


 


Tanpa kami sadari, kepalaku dan kepala Ika menoleh, mengikuti arah pandangan mata mereka. Busyeeettttt!!! Tinggi amat! Puncaknya ada nun jauh disana. Berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Aku dan Ika berpandangan. Dalam bahasa telepati kami


 


Aries : “Ika, kalau arah mau pulang ke Jakarta kemana ya?”


Ika :” Jangan khawatir Madam Aries…, pelan-pelan kita pasti bisa kesana”


(Sedikit melegakan, tapi tidak cukup untuk menenangkan hati… he..he….)


 




awalnya :


Ketika mencari info jalur, beberapa teman sudah mengingatkan kami untuk berhati-hati karena jalurnya tidak aman buat pendaki. Ada beberapa jalur menuju puncak Arjuna, yaitu dari arah Tretes, dari Lawang atau dari Batu – Selecta.


Tidak sengaja kami melirik situs tetangga. Ternyata ada satu jalur yang bernama Jalur Purwosari. Jalur ini ternyata merupakan jalur peziarah. Banyak sekali situs-situs dan candi peninggalan kerajaan Majapahit. Tertarik dengan jalur ini, kami mulai mencari informasi lebih lanjut. Dan cukup melegakan karena seorang teman kami yang tahun lalu kesana merekomendasikan bahwa jalur ini AMAN sekali.


 


Untuk menuju kesana, kami naik kendaraan dari Surabaya menuju Malang. Sebelum mencapai Malang, kami turun di Pasar Purwosari. Dari sana kami lanjutkan dengan angkutan desa warna kuning menuju Desa Tambak Watu. Desa Tambak Watu ini merupakan entry point menuju Puncak Arjuna.


 


Berikut informasi pos, ketinggian (yang mungkin masih harus di kalibrasi dulu ya..) dan waktu perjalanan santaiiiiiiii :


·          Desa Tambak Watu (839 m dpl) - Hutan Pinus (1000 m dpl) 1 jam 30 menit


·          Hutan pinus – Gua Antaboga (1088 m dpl) 1 jam 30 menit


·          Gua Antaboga – (pertigaan) Punden Eyang Madrem (1320 m dpl) 45 menit


·          (pertigaan) Punden Eyang Madrem – Petilasan Eyang Abiyasa (1379 m dpl) 30 menit


·          Petilasan Eyang Abiyasa – Situs Eyang Sakri (1404 mdpl) 15 menit


·          Situs Eyang Sakri – Situs Eyang Semar (1725 m dpl) 1 jam 45 menit


·          Situs Eyang Semar – Wahyu Makutarama (1816 m dpl) 30 menit


·          Wahyu Makutarama – Puncak Sepilar (1917 mdpl) 15 menit


·          Puncak Sepilar – Candi Manunggale Suci (2289 m dpl) 1 jam 30 menit


·          Candi Manunggale Suci - Cemoro Sewu (2799 m dpl) 4.5 jam


(dalam perjalanan kepuncak akan bertemu dengan pertemuan jalur Purwosari dan Lawang)


·          Cemoro Sewu – Puncak Arjuna (3329 m dpl) 2 jam


 


Biaya : (ini data per sept 2004 lhooo…J)


·          Carter angkot dari Terminal Purwosari – Tambak Watu Rp 35.000


·          Sarapan di pasar Lawang+mbungkus nasi en lauk untuk bertiga Rp 29.000


·          Penginapan di Lawang (untuk bertiga) Rp 75.000


·          Spiritus di Pasar Lawang (lupa! Yg 1 literan kali ya..) Rp 6.500


 


foto-foto ? kesini aja yaaa.. arjuno .. dalam hitam dan putih

Saturday, August 12, 2006

Raung episode : Nyasar!!!

(diceritakan ulang, peristiwanya terjadi 5-7 Mei 2005 lalu.. pengalaman tak terlupakan bersama Jenny, Ika, Kris, dan Heri ...)

Minggu lalu, seperti biasa kalo ketemu dengan harpitnas.... Kami berlima [saya, Ika, Jenny, Kris dan Heri] penasaran pengen berkunjung ke Raung... Yang lokasinya ..jauh..uh...uh... di ujung pulau Jawa. Rencana, sebenarnya sudah disusun jauh hari sebelumnya. Sekaligus agenda tambahan, pengen dateng ke acara mantenannya Masnur di Malang pas tgl 8 Mei lalu. Maka.... Inilah, secuplik kisah perjalanan kami.

“D’oh!” *Homer simpson style* batinku. “Nyasar!!!”

Sendirian. Sisa air hanya tinggal dua tegukan lagi, plus sebatang coklat di dalam tas berikut keril segede kulkas yang rasanya bertambah berat saja.

situasi : dalam perjalanan turun. Karena ngebut..but..but… lari, jalan cepat, gedubrak* hihihi..yang ini jatuh* dan lari lagi. Hal ini berlangsung terus sejak Pos Pondok Angin. Walhasil, kami semua berjalan terpisah satu sama lain

Hari itu sudah mulai gelap. Baru sadar. Kayaknya, kemaren nggak lewat sini deh. Emang, sejak 5 menit yang lalu, aku juga sudah merasa aneh. Dari hutan pinus yang rapat, lho kok malah menjadi kebun? Malah tadi sempet lewat rumah ladang penduduk dan sekarang justru bertemu dengan jalan umum berbatu. Yang aku yakin sekali kalau diterusin…. Pasti bakal nyambung ke base camp pendakian gn. Raung di pesanggrahan, ds. Sumber Wringin.

Mengapa tidak diteruskan saja saudara-saudara ? *tanya penonton* sabaar… sabar ….itu karena tak lain dan tak bukan, kagak tau arahnya euy! He..he.. Yang aku tahu hanya belok kanan atau kiri…hi..hi…

“huuuaaaaaaaaaaaaaa!!!”

Kompas nggak megang, sempritan hanya tinggal kenangan… mau tanya orang? Nggak ada sama sekali. “Jangan panik” batinku. Hanya ada satu jalan.

Balik arah !!!

Begitu aku berbalik, “Uh ! tanjakan lagi, Maan!” Ini dia yang bikin males. Sementara baju sudah dari tadi basah oleh keringat. Pelan-pelan aku berjalan. Seekor anjing *yang demi Tuhan, entah dari mana datangnya* Tiba-tiba muncul. Menyapaku singkat “guk!” dan berlari membuka jalan. Melewati lagi ladang. Melewati lagi hutan pinus yang gundul akibat baru dibuka oleh penduduk.

Hingga tiba di rumah ladang. Syukur deh.. ternyata ada seorang ibu yang baik hati. Beginilah nasib akibat tidak bisa berbahasa setempat [catatan : bahasa jawa]. Komunikasi antara kami berdua [dan seekor anjing tadi, yang ternyata milik si ibu] kami lakukan dengan bahasa masing-masing.

Untuk memudahkan pembaca, lagi-lagi terpaksa saya terjemahkan bebas sesuai interpretasi saya pada saat catper ini ditulis.

saya *panic style* : “ Ibu .. tau nggak, biasanya kalo mau ndaki …startnya dari mana ?” [setelah itu aku menyesali diri, ini pertanyaan bodoh! …]

Ibu *bingung style* : @#^%&(*)*()*&^^&%^&!q#

It’s me again *sekarang lebih terkendali* :“ Ibu .. boleh saya minta air? “

Ibu *nyengir*& : “@#^%&(*)*()*&^^&%^&!q#” [dan mengambil botol airku. Mengisinya penuh-penuh]

saya *ikut-ikutan nyengir* :“Kalo ketemu dengan orang seperti saya [ehem.. ehem….] tolong bilangin kalo saya balik lagi “ [dan tetap sangsi, apa perlu saya menulis surat wasiat?]

Ibu *dan murung* : “@#^%&(*)*()*&^^&%^&!q#”

saya *bingung* : “Artinya bu?”

Ibu *tetap murung* : “@#^%& nggak takut?” [sambil menunjuk-nunjuk kearah sana]

saya *lha? Bisa bahasa Indonesia toh?* : “Maksudnya, apa nggak takut jalan sendirian?” memandang sekeliling, memang sudah mulai remang-remang. Si ibu mengangguk dengan semangat.

saya lagi *turut semangat* :” Yaaa.. takuuuut! .. tapi, saya jalan aja deh. Mumpung masih sedikit terang. Mungkin saya udah ditunggu temen-temen nih Bu.”

Ibu *tetap murung* : “@#^%& tidur disini aja”

saya *berusaha untuk tidak murung dan tetap nyengir* :”Makasih ya Buuu. Tapi, saya udah janji. Pulang bareng sama temen-temen”

Aku pun meneruskan perjalanan. Beneran, masuk ke hutan pinus lagi. Dan bertambah gelap. Uh! Hajar terus. Nggak sampai 15 menit, aku sudah tiba kembali di jalur semula. Meletakkan keril dan membongkarnya untuk mengambil senter. Tiba-tiba, ada suara derap sepatu orang berlari mendekat. Dengan headlamp di kepala, siapa lagi kalau bukan Kris.

Kejadiannya begitu singkatnya.

saya : “Kris? Lagi nyari siapa?” *padahal, sungguh mati! Aku sih udah ke ge er –an. Pasti lagi nyari aku*

Kris [nyaris pingsan] : “Yaaa .. ampuuuuunnn!” *dan berbalik arah; berlari kembali ke arah semula*

Saya [bingung mode on] :”Lho ? Kok lari ? Idiiih…. Apa dia takut ya?”

Sayup-sayup aku dengar Kris berteriak …”Wooooiii..! Udah ketemuuuu!!!”

Setelah itu. Kejadian terlalu cepat untuk dicatat disini. Kris mengangkut kerilku. Aku udah nggak sabar pengen cerita. Dengan kejam Kris hanya menyahut sambil menepuk-nepuk bahuku.

“Laen kali, kalo mau nyasar, berdua dong… jangan sendiriaaaan”

Ika dan Heri menyambut kami berdua. Kemudian kami berempat berpelukan ala teletubbies *catatan: sedang Jenny menunggu kami di batas pinus*

Happy ending? Not so faaaaast!

Jenny [tampang cool]: “Tadi ketemu Ika nggak sih? Bukannya kalian jalan bareng?”

saya [tampang lega, karena udah nyampe]: “enggak tuh. Nggak ketemu siapa-siapa. “

Jenny [wajahnya memucat] : “Lho ? kalo gitu .. yang tadi siapa dong?”

Semua memasang telinga… *he..he… iyalah … telinganya masih lengkap kok*

Menghentikan aktifitas masing-masing dan tekun mendengarkan tanya jawab antara aku dan Jenny. Beginilah ceritanya.

Versi Jenny :

Dalam perjalanan turun. Setelah pertigaan gn. Suket - Raung. Kami mulai jalan. Heri dan Ika duluan. Trus gw nyusul. Aries, dan Kris masih di pos. [ngemil] Ditengah perjalanan, Aries menyusul. Gw membuka jalan. Biar dia duluan aja. Dia bilang. "Jen... duluan yaaa? hati-hati!"

Beberapa puluh meter setelah Aries melewati gw, gw lihat dia berhenti di depan sebuah pohon besar. Mendadak ada orang muncul dari situ. Perkiraan gw sih, orang itu adalah Ika. Terus mereka berdua terlibat pembicaraan seru. Kemudian, mereka berdua berjalan bersama-sama. Gw berusaha nyusul,tapi nggak kekejar.

Versi aries :

Setelah kenyang *menghabiskan satu jungle juice dan sekantong kacang bali* Dari pertigaan gn. Suket – Raung aku pamit kepada Kris. Mau duluan dan jalan pelan-pelan. Nggak berapa lama, aku ketemu Jenny. Dengan isyarat, dia persilakan aku buat maju duluan. Setelah itu aku jalan ngebut sambil bernyanyi-nyanyi riang [mengikuti lagu dalam walkman]. Nggak ada perasaan aneh sedikitpun, kecuali sedikit malu akibat pech control yang kurang baik .[he..he..] Dari situ aku jalan terus. *sampe nyasar tadi ..hi..hi…*. Sama sekali nggak ketemu Ika.

Pertanyaanya -daftar dibawah ini muncul setelah kami melewati perenungan yang cukup mendalam-

[1] Siapakah yang dilihat Jenny ?
[2] apakah aku bener-bener ngelewatin Jenny ?
[3] apakah  Jenny yang aku lewati tadi?
[4] apakah itu Jenny?
[5] apakah itu aku?

[6] apakah itu Ika?

Akibatnya bisa ditebak, begitu mendengar penuturan kami berdua, wajah yang lain pucat satu demi satu. *dan saling melirik kaki masing-masing …. Huaaa…napak ke tanah nggak yaaa?*

Happy ending? Yup! Sekarang boleh dibilang begitu. Magrib itu kami semua sudah duduk dengan manis dalam bak belakang pick up yang menjemput kami. Senangnya, sebentar lagi akan tiba di base camp pendakian Raung di Pesanggrahan.

Setiap akibat, mungkin ada sebabnya *atau sebaliknya ya?* Setiap dari kami, menyimpan beribu pertanyaan didalam benak masing-masing. Setiap dari kami berdialog pula dengan dirinya masing-masing.

Tentu, ada seribu pelajaran yang bisa dipetik…hmmmmmm………………..

Serpong, 16 Mei 2005

Tambahan :

(1)    Base camp pendakian gn. Raung. Silakan kontak sekretariat Kelompok Pemandu Wisata Gunung Raung [Pesanggrahan]

Attn : Bapak Solikhin/ Ibu Parman
Kecamatan Sumber Wringin
Jl. Gunung Raung No. 45
Bondowoso 68287
telp [62-332] 321 287- 321 305

(2)    biaya pemandu sifatnya borongan, untuk sekali antar tarif @ Rp 150.000; souvenir di Pesanggrahan : tshirt rp35.000, stiker rp1500, badge rp5000 dapat dicarikan pick up maupun carteran kendaraan to bondowoso, surabaya, atau malang.

(3)    Buat temen2 yg hp-nya selalu out of area setiap trekking ke gunung, jangan khawatir... Dari bawah sampe puncak, selalu ada sinyal!

 Foto-foto selengkapnya silakan diteruskan kesini : with Raung uh I'd love to dancin with the sun....

 

Friday, August 11, 2006

Arjuna dalam hitam dan putih




pagi jam 07.00 di pasar Lawang. Kami bertiga sedang berdiri di depan kios beras & minyak tanah. Cari info plus bertanya dimana kami bisa beli spirtus. Sebagian besar pembicaraan dilakukan dalam bahasa jawa kromo inggil, tapi untuk memudahkan kalian para pembaca, berikut ini terjemahan bebasnya.


Penjual beras: “Mau kemana nih?” (dengan gaya preman-nya ia bertanya, matanya menatap kami dengan tajam)


Jenny : “Rencananya kami mau ke gunung Arjuno Bu” (sambil berdiri di depan tumpukan beras, memilih-milih beras)


temen penjual beras : “Mau kemana sih Mbak-mbak ini?” (Temennya penjual beras yang kebetulan baru datang, berdiri di samping penjual beras, rasa ingin tahunya begitu tinggi sehingga dihentikan aktifitasnya hanya untuk berdiri disamping penjual beras)


Penjual beras : “tuh mau kesana!” (si penjual beras kemudian menunjuk ke arah utara, pandangan mereka berdua manyaput arah puncak gunung Arjuno)


Tanpa kami sadari, kepalaku dan kepala Ika menoleh, mengikuti arah pandangan mata mereka. Busyeeettttt!!! Tinggi amat! Puncaknya ada nun jauh disana. Berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Aku dan Ika berpandangan. Dalam bahasa telepati kami


Aries : “Ika, kalau arah mau pulang ke Jakarta kemana ya?”


Ika :” Jangan khawatir Madam Aries…, pelan-pelan kita pasti bisa kesana”


(Sedikit melegakan, tapi tidak cukup untuk menenangkan hati… he..he….)


(masih dalam rangka re-posting catper yang tersebar entah kemana, Masih dengan kamera FM10 kesayangan. Memperingati trip bareng ibu-ibu PKK J dua tahun silam dengan Ika dan Jenny, 11-13 September 2004)


Info lengkap silakan lanjut ke :


Arjuno misteri jalur Purwosari

 
;