Dan sore itu kedua kakiku menapak alun-alun yang teramat luas itu. Sejauh mata memandang hanyalah rumput gimbal yang menguning di musim kemarau.
Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika berdiri di tengah-tengah lapangan Sikasur dan mengingat kejadian berpuluh tahun silam. Penggalan sejarah yang mungkin hanya tersisa dari beberapa saksi hidup yang mulai hilang satu persatu.
Kini, hanya dinding batu, sisa lapangan terbang dan sebuah jalan tembus yang kini entah ada dimana. Entah dimana mereka berada. Hanya pesannya terdengar sayup diantara desau angin yang turun dari gunung nun jauh disana.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact