Showing posts with label lampung. Show all posts
Showing posts with label lampung. Show all posts

Saturday, December 02, 2006

dan pemuda 'ganteng' itu bernama......Bleem!


Namanya Sudaryanto tapi lebih sering dipanggil Bleem (deeuu… jauh banget yak! J), dan seperti kebiasaan saya jika bertemu teman baru, saya nggak hanya sekedar bertukar nomor HP tapi juga sekaligus menanyakan nama lengkapnya. *Ibarat kata, jika tak kenal maka tak sayang ..(cieeeee)* Dan sebagai sesama pemilik nama dengan satu suku kata tentunya saya ingat sekali dengan jejaka yang satu ini..hehehe.


 


Itu terjadi awal tahun 2005, pada suatu malam di warung pecel ayam yang ada di tepi jalan yang tidak begitu ramai di pinggiran kota Serang. Ketika kami beramai-ramai dinner dan berbelanja untuk keperluan pendakian ke gn. Pulosari keesokan harinya. *cerita tentang gn. Pulosari? hmmm...itu juga seru, tapi nanti ya.. dalam kesempatan lain akan saya upload juga*


 


Setelah itu, perjumpaan hanya sesekali terjadi, kadang bertukar telpon atau email. Terakhir, pertengahan tahun lalu, ia menghubungi saya karena penasaran dengan Gunung Rajabasa di Lampung. Sebisa mungkin saya bantu memberikan keterangan deskriptif mengenai info how to get there. Hingga akhirnya kemaren saya ngintip foto-fotonya ketika selepas lebaran lalu datang kesana. *silakan buka aja disini 1281 (Rajabasa) itu diperjuangkan *


 


melalui Blognya, berikut petikan obrolan singkat saya dengan Bleem :


 



Aries     “Beda jalur deh kayaknya “


 


Bleem   “Ternyata memang beda jalur Ries, dan bodohnya kok apa2 yg kami temuin di pas - pasin sama catetanmu, dengan mantap "ORIENTASI KE KIRI, JANGAN RAGU-RAGU DENGAN TANJAKAN'. Namun pas pulang belum habis bingungnya secara udah mulai gelap dengan heran ktemu sama gubuk di tengah kebun kelapa, trus aliran sungai dan sampailah di dusun sumur kumbang :D **ini baru jalur yg bener :P”


 


Aries     “Oooooo….” *maklum Bleeem, ibu-ibu sih..hehehe..jadi catatannya kayak catatan belanjaan*


 


Bleem   “Setelah diskusi dengan para pemuka PA RAJABASA ( kami ktemu pas pulangnya.) jalur yg kami lalui adalah jalur yg tdk biasanya.... jalur tengah yg terkenal curam dan terjwuauhhhh :D”


 


Aries     “hahahaha..” *dalem hati*



 


Well, Bleem. Senengnya ndenger kalian baik-baik aja disana. Pengalaman seru tuh, hingga kalian bisa bertemu ular berwarna biru *segede lengan orang dewasa*, kijang warna putih di waktu maghrib dan sebuah lolongan di belakang tenda tepat di tengah malam J  kalian memang pemberani …*dan aku? J barangkali aku akan ambil jurus langkah seribu*


 


Info jalur silakan diintip disini : Duh Rajabasa... :) dan disini Sekilas ingpoh! Data per 28 - 30 Januari 2006  *thanks Bleem udah dipajang disana J Sebagian foto juga bisa dilihat disini Chronicles of Rajabasa - the nyamuk, the semut and the pacet!


Kapan kita jalan bareng lagi Bleem?


(Simi Valey, California 1 Des 2006 1:24 pm)

Tuesday, November 21, 2006

Duh Rajabasa ... :)


 


  



(Sebagian foto silakan lihat disini the Chronicles of Rajabasa - the nyamuk, the semut and the pacet!)


 


Gunung Rajabasa 1281mdpl [4,203feet]; terletak di Lampung, Sumatra, Indonesia; Latitude: 5.78°S  5°47'0"S  Longitude: 105.625°E 105°37'30"E


 


Tipe gunung strato; masih ada aktifitas Fumarol. Aktifitas erupsinya tidak diketahui, tapi terakhir dilaporkan ada pada bulan april 1863 dan mei 1892. Vegetasi dan hutannya sangat variatif dan cukup 'perawan' karena letaknya hampir berada di tepi pantai. 


 


Menuju kesana :


Banyak sekali angkutan menuju kesana. Dari Jakarta dapat ditempuh dengan bus yang berangkat dari terminal Kampung Rambutan atau terminal lainnya yang menuju pelabuhan Merak di Banten [ac ekonomi Rp 20.000] kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan kapal ferry [bisnis dewasa Rp 10.000 atau ekonomi Rp.7700] yang selama 2 jam menyeberang menuju pelabuhan Bakauheni di Lampung. Selepas Pelabuhan Bakaheuni tinggal naik angkot dari terminal yang ada di depan pelabuhan, angkot berwarna kuning [Rp 10.000] tujuan Kalianda dan turun di daerah Sukamandi, persis berhenti di depan pintu gerbang desa menuju desa Sumur Kumbang. Alternatif lain adalah naik angkutan umum dan turun di depan kantor Pemda Lampung Selatan baru dilanjutkan dengan ojek menuju ds. Sumur Kumbang. Lama perjalanan sekitar 30 menit. Setelah itu langsung disambung dengan ojek [Rp 10.000] tujuan Kampung Sumur Kumbang dengan total waktu tempuh sekitar 15 menit.


 


Perlu diketahui di Kampung Sumur Kumbang ini banyak sekali komunitas penduduk bersuku Sunda. Bila perlu, di kampung ini pula dapat meminta bantuan kepala dusun untuk mencari penunjuk jalan.  


 


 


Info jalur :


Total waktu pendakian sekitar 6-8 jam perjalanan. Ada sekitar 6 pos hingga ke Puncak. Di puncak ada jalur turun menuju kawah yang sudah menjadi danau. Cukup banyak tempat buat ngecamp selama jalur pendakian. Bekal air sebaiknya dipersiapkan sebelum naik. Masih banyak sumber air sebelum pos 1, setelah itu, tidak ditemukan sumber air. Tetapi yang harus diperhatikan adalah pacet, karena Rajabasa sendiri terkenal sebagai ‘gudang pacet’. Jalurnya sendiri cukup aman dan jelas mengikuti satu punggungan gunung. (Menurut penduduk setempat, bila ingin turun ke danau, waktu tempuh dari puncak sekitar 0.5 – 1 jam perjalanan,red)


 


Info lainnya :


Danau tersebut menjadi tujuan utama bagi penduduk lokal maupun orang yang khusus datang untuk berziarah. disana ada yang disebut ‘batu cukup’ ; konon sebanyak apapun orang berdiri diatasnya, akan selalu cukup. Kalau beruntung, orang yang datang dapat menemukan batu kabah. Mengenai ukuran sendiri kurang jelas, ada yang bilang seukuran 1x2 meter. Apakah batu tersebut dapat mengarah ke arah kiblat atau berasal dari Kabah? *masih jadi misteri*


Ada satu pantangan/ pamali yang dipercaya oleh penduduk Sumur Kumbang disana, apabila hendak membuat api unggun agar tidak mematahkan ranting dengan tangan, tetapi harus ditebas dengan pisau.


Kebanyakan kendaraan umum tidak beroperasi lagi setelah gelap. Pastikan kembali ke kota sebelum gelap.


Informasi lain mengatakan bahwa untuk menuju Gunung Rajabasa dapat ditempuh dari desa terakhir yaitu dari desa Cugung. Waktu tempuh hingga ke puncak sekitar 5-6 jam perjalanan. *but, not corfirmed yet*


Berikut info detail dan amat sangat deskriptif tentang jalur. Soale, kemaren, bener-bener miss-oriented. Minim info dan nekad nggak bawa peta. Nggak sempet nyatet utara selatan [walo kompas ada di tangan] karena sibuk ‘siaga satu’ terhadap pacet. Jadi, sorry, orientasinya hanya ada  dua, yaitu : belok kanan atau kiri J


 


/1/


Dari prapatan tukang ojek, yang lokasinya ada dibawah pohon besar di tengah ds. Sumur Kumbang, ada jalan batu menuju kampung terakhir. Nggak begitu jauh sih, paling sekitar 200-300 meter nanjak. Kalo mau menghemat tenaga, sebaiknya pake ojek saja. Per orang hanya Rp 2000. Nanti akan diturunkan di percabangan jalan. Ke kiri berupa jalan batu yang terus ke atas ke arah kampung dan jalur setapak tanah yang berbelok sedikit ke arah kanan menuju kebun penduduk.


 


Jalan tanah tersebut dibatasi oleh pagar kebun penduduk disisi kanan dan halaman belakang rumah berikut kandang ternak di sisi kiri jalur. Jalan relatif datar sekitar 0 s.d. 15deg. Jangan tergoda untuk terus naik keatas, karena daerah kebun ini banyak sekali percabangan dan melambung terus untuk berpindah punggungan. Banyak sekali percabangan, begitu bertemu dengan percabangan, terus orientasi ke kanan.


 


/2/


Tidak lama kemudian bergabung jalan setapak yang datang dari bawah, jangan ragu, orientasi terus ke atas. Setelah pertemuan jalur ini, tak lama kemudian di sisi kanan jalur akan kita temui gerbang kecil dan jalan setapak yang telah diperkeras dengan semen menuju makam Ki Hj. Mas Mansyur. Konon ini adalah tempat moksa-nya Ki Hj. Mas Mansyur.


 


Jalan kemudian sedikit menurun, dan kemudian naik kembali. Begitu bertemu dengan percabangan, ada satu yang naik keatas menuju kebun dan satu lagi kearah kanan, ambil yang ke arah kanan. Jalan masih berupa jalur tanah dan batu. Hati-hati karena licin sekali. Tidak berapa lama kemudian akan ditemui tembok bekas bangunan yang sudah berlumut karena tuanya. Tidak jauh dari situ juga akan ditemui bekas runtuhan tembok bangunan yang sudah berlumut dan satu buah rumah ladang yang kosong.  Berikut akan ditemui bongkahan batu besar bekas muntahan letusan gunung[?] Kemudian jalur mengitari tepian bukit berupa kebun kelapa, jalan sedikit menurun dan kemudian melewati aliran air.  


 


/3/


Setelah melewati kebun kelapa ini, jalur masih relatif datar, tidak jauh dari situ akan kita temui percabangan yang cukup jelas. Satu lurus ke depan, dan satu lagi sedikit berbelok ke kiri, ambil yang kiri.  Setelah itu sekitar 5 menit berjalan, mulai ditemui rumah ladang milik penduduk ada di sebelah kiri jalur.  Rumah bilik sederhana dengan bale-bale depan, lumayan untuk beristirahat.  Namun perlu diwaspadai, karena begitu kita duduk, barisan pacet siap menyerbu, dan puluhan nyamuk siap menempel pada kaki dan tangan yang terbuka. Bahkan, meski sudah memakai celana lapangan yang cukup tebal, sungut nyamuk itu masih dapat menembusnya.



 


Setelah rumah ladang tersebut, masih kita lewati kebun kopi, duren dan cokelat di sepanjang jalan. Terus naik. Jalan terus berorientasi ke kanan. Tidak jauh dari persimpangan jalan tersebut, ada sebuah rumah kebun dengan pancuran air yang terus mengalir di belakang rumahnya, rumah tersebut milik Pak Adjat, kami sempat mampir untuk beristirahat, Kebetulan keluarga Adjat  sedang berada di kebun. Bila sedang berada disana dengan senang hati mereka akan menjamu para tamunya dengan segelas teh dan kopi hangat.



 


/4/


Selepas rumah Bapak adjat ini, jalan sedikit melipir punggungan kearah kanan, kemudian naik sedikit keatas. Setelah itu akan kita temui barisan beberapa pohon kelapa, jangan terjebak untuk terus naik keatas, karena kami sempat naik cukup jauh, jalur jelas sekali. Katanya memang ada jalur ke puncak dari situ, tapi setelah kami coba lewati, alias sempet nyasar kesana, lama-lama jalur makin tidak jelas. Dan hilang di salah satu kebun yang ada disitu. Jadi, begitu menemukan jajaran beberapa pohon kelapa [kalau dipetakan, hampir membentuk lingkaran] dan sebuah pohon pinang, itulah tandanya bahwa kita harus berbelok turun. Ada jalur ke bawah. Ikuti terus jalur tersebut, melewati jalan sempit penuh batu dan licin karena lumut. Jalur terus mengarah kebawah, tidak lama kemudian akan kita temui aliran air, tidak begitu besar. Setelah menyeberangi aliran tersebut, akan kita temui beberapa bongkahan batu yang cukup besar. Orientasi masih terus turun kebawah. Kemudian sedikit naik dan bertemu kembali dengan pancuran air, dan jalur kembali turun kebawah. Kelihatannya mulai berpindah punggungan. Tak lama kemudian akan kita temui rumah ladang tepat di sisi kiri jalur.  Setelah melewati rumah ladang tersebut,  jalur akan sedikit naik, dan akan kita temui lagi aliran air dan sebuah pancuran dari bambu. Kami kemudian melewati aliran air tersebut, sedikit menapak naik, Pos 1. akan ditemui satu dataran cukup untuk ngecamp 2-3 tenda. Ada papan tripleks bercat merah cukup besar yang terpasang pada bantang pohon dan bertuliskan himbauan untuk menjaga kebersihan.


 



/5/


Setelah pos 1, jalur terus naik dan cukup jelas, namun di beberapa tempat sebelum pos 2, banyak sekali jalur yang on off tertutup rumput setinggi kepala. Orientasi terus keatas dan tidak berpindah punggungan. Sejam kemudian, masih kita temui ladang cengkeh. Beberapa rumpun bambu. Setelah itu, mulai memasuki pintu rimba.



 


/6/


Pos 2 sendiri berupa dataran yang cukup buat ngecamp 2 tenda. Masih ada papan tripleks bercat merah yang berisi tulisan yang sama. Jalur jelas. Tapi sepanjang jalur hingga puncak, penuh dengan pacet. Dan benar-benar tertutup rapat oleh vegetasi. 



 


/7/


Tepat sebelum pos 3 jalur berbelok kekiri, ada satu dataran cukup untuk beristirahat dan cukup 2 tenda untuk ngecamp. Masih banyak pacet, dan nyamuknya cukup ganas. Dari situ jalur naik keatas.


 



/8/


Kira2 satu jam kemudian akan kita temui pos 4 yang tepat berada di tengah pepohonan tinggi dan rapat. Banyak tempat buat ngecamp, walau tanah sedikit miring. Setelah melewati pos 4 dan terus berjalan menuju pos 5, orientasi terus bergerak ke arah kiri. Kemudian menuruni lembah, untuk kemudian naik kembali hingga pos 5. jurang di sisi kanan dan kiri. Hati-hati, karena jalurnya tipis sekali. Tanah mudah runtuh. Beberapa kali kami harus meloncati portal kayu yang licin. Sepanjang jalur keatas, banyak tanda panah menuju puncak dari aluminium yang dipasang pada batang pohon.



 


/9/


Begitu tiba di pos 5. Ada semacam gerbang dari batang kayu yang dipasang beberapa papan nama. Cukup untuk beristirahat sejenak. Jarak ke puncak tidak begitu jauh. Dan mulai terbuka sehingga puncak bisa terlihat dari sini. Mungkin sekitar 10-20 meter naik ke atas.  Melewati portal, sedikit ke arah kanan, ikuti jalur naik keatas. Hingga, tibalah kami di puncak.


 




/10/


Puncak gn. Rajabasa ini tidak terlalu luas. Berupa dataran rumput memanjang, cukup untuk dipasang 3 tenda berurutan. Dengan dua sisi pandangan lepas kearah pantai. Di sisi lainnya rimbun dengan pepohonan, ada satu batu yang di semen dan bertuliskan [tidak jelas], namun di dekatnya ada jalur turun yang cukup curam kebawah menuju danau tektonik gn. Rajabasa.


 



/11/


tentang Danau. Menurut penduduk setempat, sekitar 0.5 – 1 jam perjalanan turun. Konon danau tersebut menjadi tujuan bagi penduduk lokal maupun orang yang khusus datang untuk berziarah. disana ada yang disebut batu cukup, konon, sebanyak apapun orang berdiri diatasnya, akan selalu cukup. Kalau beruntung, orang yg datang dapat menemukan batu kabah. Mengenai ukuran sendiri kurang jelas, ada yang bilang seukuran 1x2 meter. Apakah batu tersebut dapat mengarah ke arah kiblat atau berasal dari Kabah? Wallahualam.

Wednesday, July 26, 2006

Sebesi... at the end of the day....




“kukuruyuuuuuuuuuukkk… guk!”


Luwoooh? Kok nggak nyambung yah? Mataku mencari-cari asal suara yang aneh itu.  Siang itu, kami lagi numpang istirahat dan makan siang di salah satu rumah penduduk di kampung Danau. Kampung terakhir sebelum puncak gunung Sebesi.  Rencana lama pengen kesana, menuntaskan rangkaian je je es di sekitar Lampung, baru sekarang kesampean.


(silakan nyambung ke The Tanggamus Code  atau    the Chronicles of Rajabasa, the nyamuk, the semut and the pacet )


Joe sibuk membagi sisa-sisa remah makan siang kami. Seekor ayam dan seekor anjing sedang berebut dengan damainya ..*piye toooh..berebut kok damai? J*


Pagi tadi kami berangkat dari tepi pantai, diantar oleh penduduk setempat, Basri namanya.  “ Berapa lama ya?” Tanyaku penasaran. “ Empat jaaam, tanpa beban!” jawabnya mantap. Aku dan Joe berpandang-pandangan.  


Gubraaaaaksss! Lama banget ya?


Bener juga, ternyata jalannya jauuuuuuuh sekali. Mengejutkan karena kami melewati hamparan sawah, tepat berada di tengah pulau. Nggak keliatan dari pantai karena tertutup pohon kelapa. Mengitari hampir tiga perempat lingkaran pulau, melewati kebun cengkeh dan kebun kelapa yang tak habis-habisnya selama tiga jam pertama.


Jalur baru sedikit naik hingga kampung Danau, untuk kemudian terus naik menerabas vegetasi karena jalur sudah on off akibat jarang orang yang naik.


Dan sejam kemudiaaaaan……. *hiks! Hiks!* Kami tiba di suatu tempat yang rapat dengan pepohonan dan lumut. Ada satu tugu triangulasi miring dan rebah diatas tanah.


“Ini puncaknya?” tanyaku penasaran. Sebesi sendiri memiliki tiga puncak, dan kami ada disalah satu puncaknya.


“ya…” sahut Joe dengan senyum lega …*karena kali ini tak sekor pacet pun kami jumpai…….hihihihihi*


 


(Gn. Sebesi 844 mdpl lampung Selatan,  7-9 Juli 2006; special thanks untuk Joe,  partner jalan kali ini, untuk keluarga besar Chandra di p. Sebesi, untukmbakyu Djoko yang selalu pantau dari jauh  dan Bleem… waktu ngobrol2 di Sukabumi awal Juli lalu)


 


Sunday, June 04, 2006

The Tanggamus Code




“Ayo Ries… lanjuuuuutttt!!!”


Joe emang ogah duduk. Pacet bow! Anak itu emang paling geli dengan makhluk mungil yang berjenis pacet. Buktinya? *please refer our trip to Rajabasa a couple month ago* the Chronicles of Rajabasa - the nyamuk, the semut and the pacet!


Anyway, sejak kami turun dari puncak jam 10 pagi tadi, yang dilakukannya hanyalah berdiri dengan manis di tempat yang menurutnya aman tentrem gemah ripah lohjinawi dan sibuk check body. Rela menggendong keril daripada nanti harus menanggung beban ditumpangi segambreng pacet yang pasti akan nebeng hingga basecamp J


“Huuuuuuuu!!!!” Mulutku masih mengunyah makanan. Ini break ala militer kali yeeee? Baru ngunyah udah disuruh jalan lagi? Kan capeeek! Ini lutut dan pergelangan kaki, udah mulai gemeteran lagi kayak dulu. (hiks! … umur… I realize…hiks!)


“Ups… bentar!“ kataku, sambil menarik celana kiri. Kok parno aja, ada yang bergerak di betis. Sementara itu Joe amat sangat gemas dan penasaran datang mendekat.


Begitu terbuka…….. DHUEEEEEEER!!! Bagai disamber geledek kami berdua berteriak histeris.


Delapan ekor pacet nan mungil sedang ngerumpi dibetis kiri *sambil ngisep darah tentunya* gileeee… ngumpul gitu loh!


Dan Joe.. pingsan dengan suksesnya…. J


 (trip to gunung TANGGAMUS, 2101,5 mdpl, desa Tanggamus, kabupaten Tanggamus, Lampung. 25 - 28 may 2006)

Sunday, February 05, 2006

the Chronicles of Rajabasa - the nyamuk, the semut and the pacet!


yup! betul, namanya Lily. Sahabat kecil keluarga pak Adjat. Waktu foto ini diambil, saya sedang mengikuti Bu Adjat yang sedang memasak. Dan Lily? hahaha.. duduk di dekat perapian dan serius mengamati saya yang sibuk mengambil potretnya.

"Udah seminggu terakhir ini nggak ada yang naik...!" Hampir semua orang bilang begitu, mulai dari penduduk yang kami temui di desa terakhir, petani yang sedang meladang hingga ibu-ibu yang sedang turun mengangkut kayu bakar. Semua berucap hal yang sama.



Hmmmmmm.... no wonder, wajar aja.. karena akhirnya kami sempet nyasar di kebun penduduk, bertemu dengan jalur yang on off karena sudah tertutup semak belukar dan yang lebih mengharukan adalah puluhan pacet yang siap datang menyerbu setiap kami berhenti untuk istirahat. what a journey ...



info selengkapnya bisa dilihat disini Duh...Rajabasa...:) atau disini Sekilas Ingpoh!

 
;