Sementara Ical sibuk memasak nasi, Joko berbisik kepadaku.
“Kemaren, memang sengaja saya biarkan Ical yang masak“ kata Joko pelan-pelan sambil mengeluarkan dua kantong plastik besar dari daypacknya.
“tapi tidak kali ini.” Dan Joko mulai nyengir. “Khusus malam ini. Saya sendiri yang akan turun tangan.”
Aku dan Ical memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu. Adit melongok dari tenda depan. Sementara itu Joko membongkar bungkusan yang amat sangat berharga. Kami saling berpandangan dan menahan nafas.
“Semur Jengkol…!!!” dan cengiran Joko bertambah lebar.
“Huahahahaha….!!! Mantaaaaaap…mantaaap!!!!” aku dan Ical ber Hi Fi!
Satu kantong berisi jengkol setengah rebus, dan satu kantong berikut berisi bumbu yang sudah diblender Joko jauh-jauh hari sebelumnya. Dan kini ia sudah siap memanaskan wajan dengan mentega. Siap mengolahnya menjadi hidangan yang slurp ….lezaaaaat……!
Saat itu sudah jauh dari malam. Kami baru mencapai alun-alun Suryakencana pukul 7 malam. Dingiiiin! Angin menderu-deru. Ical memilih tempat (persis) di tengah lapangan. Harapannya, ketika bangun keesokan hari, kami akan melihat puncak gede dan gumuruh dengan indahnya J
Sore tadi, kami melewati gua jepang yang ada di puncak gumuruh. Kami diam didekat makam Raden haji suryakancana dan menyaksikan matahari tenggelam dari puncak Gede dihadapan.
Dan memandang
(sepotong daun untuk Joko, Ical dan Adit… thanks guys! … Gumuruh 2929 mdpl, 24-26 Juni 2006)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact